1360 research outputs found
Sort by
Analis faktor yang berpengaruh pada biaya pelaksanaan perkuatan baja pada dinding furnance industri kaca
Proyek konstruksi perkuatan baja pada dinding furnace cukup berpengaruh dalam menunjang keberhasilan dalam membuat suatu produk. Pada proyek perkuatan baja pada dinding furnace industri kaca perhitungan biaya pelaksanaan yang masih kurang referensi dalam hal perhitungan biaya berkaitan dengan pelaksanaan dibandingkan dengan proyek konstruksi lainnya. Tujuan dari penelitian ini dapat mengidentifikasi faktor yang
mempengaruhi biaya pelaksanaan perkuatan baja pada dinding furnace industri kaca. Metode yang digunakan adalah kuesioner, dengan skala pengukuran yang digunakan penelitian ini adalah skala likert. Bentuk pengujian yang digunakan untuk validitas instrumen dilakukan dengan
teknik korelasi. Realibilitas instrumen dilakukan dengan menggunakan metode Alpha Cronbahc’s dengan membuat faktor skor. Hasil analisis mendapatkan 7 (tujuh) faktordari 8 (delapan) kategori yang mempengaruhi biaya pelaksanaan perkuatan baja pada dinding furnace industri kaca yaitu
Area kerja yang sempit dan bersuhu tinggi, area kerja yang terhalang oleh mesin, perubahan desain pada saat pelaksanaan, terjadinya kemiringan pada saat pemasangan batu tahan api, fluktuasi harga material
Master Plan Rantepao, Kota yang Tumbuh di dataran
Dengan ketinggian 1600 m - 2000 m di atas permukaan air laut, Kota Rantepao memiliki 135 gereja dan luas 10,29 km2 (kurang dari 1% dari Toraja Utara) dengan jumlah penduduk 26.307 jiwa atau 11% dari total Toraja Utara. Permasalahan yang terjadi adalah belum terintegrasinya perencanaan yang telah dibuat di RTRW dan RTBL serta pembangunan yang kurang terkoordinasi. Banyak fasilitas komersial, sosial, budaya, dan rekreasi justru berlokasi di luar Kecamatan Rantepao. Tujuan kegiatan ini adalah penyusunan Master Plan kawasan wilayah Kota Rantepao yang dapat dijadikan orientasi kebijakan bagi stakeholder pembangunan perkotaan dalam merealisasikan pengembangan infrastruktur kota yang terintegrasi, yang dapat menciptakan kota layak huni sebagai kota yang tumbuh di dataran tinggi sakral. Master Plan yang dihasilkan juga menjadi buku perencanaan untuk kepentingan promosi kawasan Rantepao dan Toraja Utara
Pemanfaatan dan Pengelolaan Ruang Teruka di Perumahan Tangerang
Ruang terbuka di perumahan berada di bawah pengawasan pemerintah daerah yang disediakan dan dikelola untuk kepentingan publik. Pengembang di sebagian perumahan masih mengelola ruang terbuka hingga sesudah serah terima fasilitas tersebut. Pada kenyataannya, ada indikasi pengaruh sistem pengelolaan ruang terbuka terhadap pemanfaatan ruang. Muncul pertanyaan ‘bagaimana pengaruh pengelolaan terhadap pemanfaatan ruang terbuka di perumahan dan mengapa berpengaruh seperti itu? Metode studi kasus ganda digunakan terhadap tiga kasus perumahan di Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang Selatan. Variabel penelitian terdiri dari jenis dan pemanfaatan ruang, pengelolaan, dan persepsi penghuni terhadap pengelolaan ruang terbuka. Analisis dilakukan secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi ruang terbuka publik di Tangerang lebih dipengaruhi oleh pengelolaan dibandingkan dengan pemanfaatan. Citra perumahan yang dikelola oleh pengembang lebih berkesan nyaman, bersih, dan aman dibanding yang dikelola oleh pemerintah daerah atau komunitas setempat. Kondisi ruang terbuka yang dikelola oleh pemerintah daerah sangat tergantung dari kepedulian dan rasa memiliki penghuni di sekitar ruang terbuka tersebut
Pelajaran Berharga dari Kampung Cihuni Terjepit
Fenomena kampung terjepit diantara lahan pengembangan perumahan baru seringkali muncul pada proses pembangunan permukiman di wilayah perkotaan dan/atau pinggiran kota. Penguasaan dan pembebasan lahan milik warga kampung oleh para pengembang, yang tidak diprogram secara baik mengakibatkan terjadinya ruang-ruang hunian tradisional yang terkungkung oleh perumahan-perumahan baru. Kondisi seperti itu dirasakan oleh warga kampung Cihuni terjepit di Tangerang. Pelajaran berharga diperoleh dari kondisi tersebut adalah bagaimana warga kampung Cihuni terjepit mampu bertahan hidup, beradaptasi dengan situasi dan kondisi spatial yang terlimitasi oleh dinding-dinding tinggi pembatas kampung. Penelitian dilakukan bersama-sama dengan mahasiswa dengan metode Participation Action Research (PAR), yang berlangsung selama satu semester. Tujuan dipakainya metode PAR adalah membangun kesadaran warga kampung Cihuni terjepit, memberdayakannya melalui dialog kritis, dan berbagi pengetahuan pragmatis. Dalam cara pandangnya, metodologi PAR menempatkan proses partisipasi warga sebagai obyek sekaligus subyek penelitian. Dengan demikian, diharapkan terjadinya proses transformasi nilai-nilai (baru) dalam korelasi sosial budaya antara warga dengan peneliti, dan sebaliknya. Temuan penelitian ini adalah bahwa fenomena Kampung Cihuni terjepit terjadi akibat berlangsungnya proses pasar bebas dalam hal penguasaan dan pembebasan lahan. Fenomena spatial terjepit tersebut diikuti dengan proses-proses degradasi lingkungan, ekonomi, sosial, dan budaya. Proses-proses degradasi itu mendorong terjadinya despasialisasi ruang-ruang layak huni, termasuk koridor sungai Cisadane
BENTUK FASAD BANGUNAN PENDIDIKAN DI UIN 3 WALISONGO SEMARANG
Bangunan pendidikan UIN Walisongo memiliki karakter Islami. UIN Walisongo merupakan salah satu universitas dengan pendirian fakultas-fakultas yang berlandaskan teori Islam.Yang dimana bangunan - bangunannya harus merepresentasikan Islam itu sendiri. Metode yang digunakan pada penulisan ini adalah metode deskriptif-komparatif. Penerapan penelitian komparatif dalam penulisan ini dengan cara membandingkan beberapa bangunan di UIN Walisongo, yaitu gedung Rektorat, Fakultas Ilmu Tarbiyah, dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Digunakan enam variabel dalam menganalisa keterkaitan hubungannya. Variabel yang digunakan yaitu, ornamen, warna, fasad, dan bukaan. Hasil penelitian menemukan bahwa fasad merupakan penggabunganelemen bukaan utama yang dirancangvertikal.Hasil temuan bukaan terdapatdua jenis, yaitu bukaan jendela yang teratur menurut sumbu-sumbunya dari bawah keatas dan bukaan kaca dengan penutup menggunakan ornamen. Ornamen mengambil bentukdari logo UIN Walisongo yang berupa lengkungan runcing atau portal. Warna fasad menggunakan dominan warna hijau, putih, dan abu-abu
PENCERMINAN KONSEP MODERN IKONIK PADA FASAD ARSITEKTUR BANGUNAN PENDIDIKAN
Persaingan institusi pendidikan saat ini menciptakan adanya kebutuhan akan aktualisasi kepada publik melalui fisik bangunannya. Visi dan misi pada setiap institusi pendidikan sangat beragam yang mana akan menjadi cerminan karakteristik dari masing-masing institusi pendidikan. Salah satu cara untuk mengekspresikan karakteristik tersebut dapat dilakukan melalui rancangan fasad. salah satu pendekatan rancangan fasad yang berkaitan dengan ekspresi atau aktualisasi diri adalah dengan pendekatan modern ikonik.
Oleh karena itu perlu adanya panduan perancangan untuk menerapkan konsep modern ikonik pada fasad bangunan pendidikan. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk merumuskan kriteria perancangan fasad bangunan pendidikan dengan pendekatan modern ikonik dengan metode deduksi teori dan studi preseden, sehingga disimpulkan bahwa kriteria tersebut merupakanfasad yang diwujudkan dengan konsep modern ikonik pada fasad bangunan pendidikan, yang semua elemen-elemen fasadnya mendukung fungsi bangunan pendidikan serta memenuhi kriteria dari konsep modern ikonik, yaitu memiliki skala bangunan yang megah; memiliki bentuk yang menarik dengan bentuk yang sederhana, fungsional dan geometris; serta memiliki kekokohan tinggi melalui ekspresi struktur dan material
PENERAPAN PRINSIP KESESUAIAN VISUAL DALAM PERANCANGAN FASAD FAKULTAS PADA UNIVERSITAS DIPONEGORO
Kesesuaian Visual ialah bagaimana detail penampilan bangunan mempengaruhi penafsiran manusia pada suatu tempat. Dalam hal inidapat menampilkan suatu citra atau identitas sebuah kawasan universitas. Keselarasan dan kesatuan tampak bangunan pada suatu universitas dapat menjadi nilai karakter itu sendiri. Penerapan rumusan prinsip kesesuaian visual dapat digunakan dalam menjaga karakter bangunan pada studi kasus di Universitas Diponegoro. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan desain fasad fakultas baru dengan penyesuaian fasad-fasad bangunan Universitas Diponegoro yang sudah ada. Metode penelitian mengambil data primer yang berupa dokumentasi tampak bangunan untuk dianalisa sehingga mendapatkan hasil desain fasad. Hasil penelitian menghasilkan fasad bangunan yang selaras atau sesuai secara visual dengan gaya dan karakter yang ada pada bangunan-bangunan Universitas Diponegoro, sehingga rancangan mendapatkan nilai kontekstual
KOMPARASI KONSEP METAFORA PADA GEDUNG PERPUSTAKAAN DI INDONESIA (OBJEK STUDI: 1. PERPUSTAKAAN NASIONAL RI DI JAKARTA; 2. PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS INDONESIA DI DEPOK; 3. PERPUSTAKAAN SOEMAN DI PEKANBARU)
Pendekatan arsitektur metafora merupakan pendekatan arsitektur yang berawal dari ide menghubungkan arsitektur dengan bahasa. Penerapannya sering digunaka pada bangunan-bangunan publik, salah satunya adalah perpustakaan. Perpustakaan adalah bangunan yang berfungsi sebagai wadah kegiatan yang berhubungan dengan penyimpanan koleksi buku maupun kegiatan membaca, yang kemudian seiring waktu berkembang menjadi ruang publik yang lebih bersifat sosial dan rekreasi. Di Indonesia pendekatan metafora sudah diaplikasikan pada beberapa bangunan perpustakaan, namun kejelasan akan jenis metafora atau digunakan atau tidaknya pendekatan ini belum ada kepastiannya.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuijenis metafora apa yang digunakan pada bangunan perpustakaan yang menjadi objek studi. Metoda penelitian dengan menggunakan metoda kualitatif, dengan cara menjabarkan unsur metafora hasil studi literatur pada elemen perancangan dan hasilnya pada tiga objek studi yang memiliki fungsi yang sama sebagai perpustakaan namun berbeda jenisnya, kemudian membandingkannya melalui matriks sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa unsur yang terkandung dalam pendekatan metafora terdiri dari makna dan wujud, dan disimpulkan juga bahwa jenis metafora pada tiap objek studi memiliki jenis metafora yang berbeda
KOMPARASI KONSEP INTEGRASI FUNGSI PADA BANGUNAN MIXED-USE DI JAKARTA
Bangunan mixed-use adalah salah satu solusi terhadap masalah kemacetan di Jakarta Bangunan ini sedang marak dilakukan pembangunannya. Bangunan ini menampung berbagai fungsi dasar manusia, mulai dari bermukim, bekerja, hingga rekreasi dengan harapan dapat mengurangi mobilitas masyarakat. Fungsi-fungsi tersebut seharusnya dapat berjalan dengan baik. Dengan latar belakang kondisi tersebut, pendekatan integrasi fungsi dapat diterapkan untuk mendorong potensi-potensi lainnya. Tujuan tulisan ini adalah untuk mengulas bagaimana cara penerapan pendekatan integrasi fungsi pada bangunan mixed-use khususnya di Jakarta. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif-komparatif berupa tabel yang membandingkan tiga bangunan mixed-use di Jakarta menggunakan parameter dari empat aspek perancangan yang dikemukakan oleh Kathryn H. Anthony: Site Development: Building Massing and Composition on Site, Site Development: Drop Offs and Parking, dan Site Development: Open Space. Hasil studi menunjukan bahwa hampir keseluruhan aspek tersebut memiliki integrasi fungsi sehingga menjadikan mixed-use bangunan yang efektif dan efisien
IDENTIFIKASI PERINGKAT FAKTOR PENYEBAB KETERLAMBATAN KONSTRUKSI PADA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN JALAN TOL
Konstruksi pada pekerjaan jalan tol merupakan konstruksi yang membutuhkan penyelesaian dengan waktu yang cepat, khususnya apabila konstruksi jalan tol tersebut berada di jalan arteri yang sudah ada. Penelitian ini mengidentifikasi faktor-faktor penyebab keterlambatan pada konstruksi pembangunan jalan tol dan mengetahui peringkat faktor yang dominan pada keterlambatan konstruksi pembangunan jalan tol. Penelitian ini menggunakan kuesioner terhadap 88 responden sebagai alat pengumpulan data. Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah Analisa Data Menggunakan Metode Statistik Deskriptif, Uji Validitas, Uji Reliabilitas, Index Mean, dan Peringkat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Faktor Kesiapan Sumber Daya, yaitu terjadinya sengketa lahan (nilai index mean 4,65) merupakan faktor yang yang paling dominan dari semua faktor – faktor penyebab keterlambatan konstruksi pembangunan jalan tol