1360 research outputs found
Sort by
The application of effects doctrine in foreign mergers based on the Indonesian anti monopoly law
Effects doctrine means domestic competition laws are applicable to foreign firms, but also to domestic firms located outside the state’s territory, when their behavior or transactions produce an effect within the domestic territory. This doctrine applies in some countries, and may even be applied in merger control, because the use of this doctrine is aimed at preventing monopolistic practices and unfair business competition by foreign companies through merger. Competition law in Indonesia currently regulates merger control by using single economic doctrine, so it has not been able to optimally prevent foreign merger which has negative impact in the domestic market.
Business Competition Supervisory Authority has the right to control business merger by way of defining merger criteria, notification system, notification conditions, substantive test, time frame, notification result, technical aspects related to the parties required to submit notification, foreign merger and legal challenges.
The enactment of the ASEAN Economic Community (AEC) provides an opportunity to harmonize the control of mergers in the regional area of ASEAN. Therefore, consideration should be given to the steps that must be taken to enforce the effects doctrine in the merger control system, design the technical application, and overcome the obstacles to be faced in its application. In order to generate a complete idea, it is necessary to compare the law on merger control in ASEAN member countries, so as to produce a comprehensive conclusion
LANGGAM ARSITEKTUR MELAYU RIAU PADA BANGUNAN FASILITAS UMUM DI BENGKALIS OBJEK STUDI MUSEUM SULTAN SYARIF KASIM
Langgam menjadi suatu ciri khas tersendiri suatu daerah agar mudah di kenali atau diidentifikasi. Arsitektur Melayu Riaumempunyai langgam tersendiri berupa elemen-elemen penyusun arsitektur melayu Riau. Langgam ini berupa tipologi bangunan, selembayung dan ragam hias. Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui Arsitektur Melayu Riau yang dapat di identifikasi dengan pengaplikasian langgam di dalam tampak bangunan. Metode yang digunakan merupakan metode kualitatif, sumber data diperoleh melalui studi literatur dan objek lapangan, selanjutnya dilakukan analisa dengan cara melihat pengaplikasian langgam pada bangunan fasilitas umum yang dikaikan dengan objek studi yaitu Museum Sultan Syarif Kasim. Dapat disimpulkan bahwa Arsitektur Melayu Riau pada Museum Sultan Syarif Kasim terlihat pada pengaplikasian langgam berupa atap, selembayung dan ornamen. Langgam-langgam atap, selembayung dan ornamen pada museum ini merupakan suatu ciri khas Arsitektur Melayu Riau dengan melaluli langgam tersebut masyarakat awam dapat mengenali tempat museum ini didirikan dengan melihat tampak luar bangunan
KONSEP TATA RUANG CO-WORKING SPACE BAGI PERENCANAAN FASILITAS KEGIATAN MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA
Dewasa ini kegiatan berkumpul, berdiskusi, dan membangun relasi antar mahasiswa tidak hanya terjadi dalam ruangan yang disediakan oleh kampus, hal ini dipengaruhi perubahan pola perilaku mahasiswa yang berkembang seiring zaman. Muncullah konsep baru ruang beraktivitas untuk individu maupun kelompok, dimana setiap orangsaling berkolaborasi bersama orang lain dengan latar belakang yang beragam,konsep ini dikenal dengan nama co-workingspace. Universitas sebagai sebuah perguruan tinggi harus dapat beradaptasi dengan perubahan zaman untuk menghasilkan peluang inovasi dengan menyediakan co-workingspace bagi mahasiswa.Tujuan penulisan paper ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik tata ruang (layout) co-workingspace yang sesuai bagi mahasiswa Universitas Indonesia dengan pendekatan arsitektur perilaku. Metode penulisan komparatif kualitatif dengan membandingkan 3 studi kasus yang diambil secara acak terhadap variabel arsitektur perilaku, yaitu: zonasi, sirkulasi, tata perabot, dan suasana ruangyang berhubungan dengan co-workingspace. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik penataan ruang pada co-workingspace yang ideal adalah pengaturan zonasi secara hirarkis dari yang bersifat publik sampai privat dengan jalur penghubung menembus ruang agar tercipta interaksi antara setiap pemakai ruang dan penataan perabot secara half-open untuk menyediakan ruang kolaborasi yang fleksibel juga untuk berkonsentrasi. Suasana ruang bersifat subjektif tetapi karakteristik orang yang berkegiatan pada co-workingspace umumnya menginginkan suasana yang santai
PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN TERHADAP KINERJA TIM KERJA PROYEK KONSTRUKSI DI DKI JAKARTA
Banyaknya pekerja yang terlibat dalam pembangunan proyek konstruksi menjadikan proses pembangunan menjadi rumit, disamping itu pekerja yang terlibat tidak hanya berasal dari satu daerah atau negara yang sama serta memiliki latar belakang keilmuan yang berbeda. Seorang manajer mempunyai peran yang sangat besar terhadap keberhasilan proyek konstruksi. Pada prakteknya, kepemimpinan seorang manajer proyek tidak selalu dapat diterima oleh para pekerja sehingga menghambat keberhasilan proses manajemen proyek konstruksi. Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh gaya kepemimpinan terhadap keberhasilan proses manajemen proyek konstruksi. Metode studi literatur dipergunakan untuk membangun model konseptual. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei dan mengambil data menggunakan kuesioner untuk mengukur persepsi responden dengan skala likert 1-5. Kuesioner disebarkan pada tim proyek pada perusahaan kontraktor di DKI Jakarta. Setelah dilakukan analisis regresi didapatkan hasil bahwa gaya kepemimpinan memberikan pengaruh positif terhadap keberhasilan proses manajemen proyek konstruksi di DKI Jakarta dengan nilai R square sebesar 0,550. Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan seorang manajer proyek harus ditunjukkan pada semua tahapan proyek konstruksi
The Influence of Art Motif Batik Mega Mendung Cirebon to Fesyen in Jakarta
Development of fashion and fashion is growing very rapidly. Indonesia's population of 242
million is a very large business opportunities in the field of fashion. This market share not only
contested by foreign businessmen, as designers from France, Japan,
Korea and even China. With
increasing competition in the domestic fashion, then the local designers have to work hard to
improve the competitiveness of both the face of the market share within and outside the country.
Diverse effort is made to provide a re
liable characteristic as an attraction by fashion designers in
the country such as administering local elements in works such as weaving, batik, traditional
motifs and others. One effort to give a traditional touch in the design of clothing as well as
prom
oting one motif mega cloudy to improve the competitiveness of fashion in Indonesia as well
as abroad, Melisha Rousellyn along with Menul Teguh Riyanti tried to apply the art of batik
mega cloudy in the work of fashion. One effort to give a traditional touc
h in the design of
clothing as well as promoting one motif mega cloudy cirebon in order to improve the
competitiveness of fashion in Indonesia as well as abroad. Changes batik originally sacred to the
development of contemporary batik into fashion.
Batik
is one of Indonesia's cultural product
Kajian Ruang Terbuka Publik yang Ramah Anak di Kabupaten Batu, Kota Malang
Kota Batu merupakan kota wisata yang paling banyak di kunjungi oleh wisatawan lokal dan wisatawan asing, masih mempertahankan bangunan peninggalan Belanda, Dengan berjalannya waktu terjadi penaatan yang mana dengan menerapkan konsep ruang publik ruang yang ramah anak . Ruang bermain Ramah anak (RBRA) adalah ruang yang dinyatakan sebagai tempat atau wadah yang mengakomodasikan kegiatan bermain anak dengan aman dan nyaman, terlindungi dari kekerasan dan hal hal lain yang membahayakan. Paper ini merupakan suatu penelitian yang dilakukan dengan metodologi diskriptif kualitatif dengan metode pengamatan langsung dengan mengambilan gambar serta melakukan wawancara kepada pengguna serta di analisa .Hasilnya dapat di manfaatkan sebagai sebagai masukan bagi perencara kota serta pemerinta daerah malang dan sekitarnya serta sebagai masukkan bagaimana perencanaan dan pengelolaan suatu ruang terbuka ramah anak yang aman dan nyaman
KARAKTERISTIK KAWASAN PECINAN PANTAI UTARA PULAU JAWA (Studi Kasus : Kawasan Pecinan Lasem, Jawa Tengah)
Kawasan Pecinan hadir di banyak kota di pulau Jawa terutama didaerah sepanjang pantai Utara. Seiring berjalannya waktu kawasan-kawasan ini sudah mulai menghilang, tetapi ‘bekas’ kehadirannya masih terasa kental sekali. Suasana yang khas, diperkuat dengan adanya klenteng sebagai pusat kegiatan keagamaan dan sosial menjadi simbol akan eksistensi kawasan pecinan.
Kawasan Pecinan Lasem merupakan suatu kawasan hunian sekaligus tempat kegiatan sosial untuk mendukung kehidupan penghuninya memiliki karakteristik arsitektur berbeda dengan kawasan lainnya di kota Lasem. Kawasan pecinan di Lasem saat ini berkembang menjadi pusat perdagangan dan industri batik. Permasalahan yang terjadi di kawasan Pecinan Lasem saat ini adalah mulai pudarnya bangunan-bangunan bergaya Cina yang ada karena ditinggalkan penghuninya, atau telah beralih menjadi fungsi baru. Untuk mengetahui karakteristik Pecinan Lasem saat ini dilakukan dengan cara mengidentifikasi elemen-elemen fisik pembentuk kota dengan menggunakan teori dari Hamid Shirvani, yang terdiri dari :
1. Guna lahan (land use)
2. Bentuk dan massa bangunan (building form & massing)
3. Sirkulasi dan perparkiran (circulation & parking)
4. Ruang terbuka (open space)
5. Pedestrian (pedestrian ways)
6. Fasilitas pendukung aktifitas (activity support)
7. Penanda (signage)
8. Preservasi (preservation)
Secara keseluruhan kawasan pecinan Lasem, dilihat dari 8 elemen pembentuk kota tersebut di atas, unsur budaya cina masih terlihat cukup kental pada bangunan-bangunan yang tersisa di kawasan pecinan Lasem ini
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT KENYAMANAN PASAR ANYAR DI KOTA TANGERANG
Pasar Anyar merupakan pasar tradisional terbesar yang berada di kota Tangerang. Pasar anyar memiliki luas 24.680 m2 dan berjumlah 3 lantai yang difungsikan sebagai kios dagang serta kantor pengelola pasar. Penurunan jumlah pengguna pasar baik dari segi pedagang maupun pengunjung cukup signifikan berdasarkan dari data PD Pasar kota Tangerang, sarana dagang aktif berjumlah 671 dari 1.596 pada lantai 1. sedangkan pada lantai 2 sarana dagang aktif berjumlah 117 dari 561. sehingga Penelitian ini perlu dilakukan untuk mecari faktor-faktor yang mempengaruhi kenyamanan pengguna pasar. Batas penelitian berupa kenyamanan fisik dan lingkungan dari segi arsitektural. Sehingga faktor yang dicakup pada penelitian ini berupa faktor pencahayaan, penghawaan, kelembaban, aroma, kebersihan, keindahan, kemudahan dan kerapihan. Metode kuantitatif merupakan metode yang digunakan untuk mengukur tingkat kenyamanan dari beberapa faktor tersebut. Hasil penelitian menyebutkan bahwa faktor aroma memiliki nilai terendah, diikuti oleh faktor penghawaan, keindahan, kebersihan, kerapihan, pencahayaan, kemudahan dan kelembaban. Penghawaan merupakan faktor dasar dari kenyamanan bangunan. Pengahwaan yang baik akan menghilangkan aroma yang tidak sedap. Aroma yang sedap dan penghawaaan yang sejuk dapat membuat pengguna pasar merasa nyaman, serta memiliki mood yang bagus untuk berbelanja dengan durasi yang cukup panjang
Kios Rokok di wilayah Kaki Lima Studi Bentuk Fungsi Antropometri-ergonomi
Pedagang Kaki Lima (PK5) pada saat ini banyak ditemukan disetiap sudut wilayah perkotaan, keberadaan PK5 menempati seperti trotoar, halte bis, kawasan parkir. Kehadiran mereka menjadi dilema antara dibutuhkan oleh masyarakat namun mengurangi keindahan kawasan dimana mereka berjualan, dilema perekonomian kelempok lemah yang seyogyanya diupayakan oleh pemerintah daerah untuk warganya.Pada saat ini jenis PK5 sangat beragam ada warung makan semi permanen, warung jamu, pedagang alat rumah tangga sampai pakaian, kios majalah, kios selular, kios rokok dan banyak lagi lainnya. Kios rokok merupakan salah satu sarana berjualan yang mempunyai bentuk fisik yang sangat unik dan mempunyai nilai fungsi yang lebih sesuai dibanding dengan sarana berdagang yang lainnya;kios rokok merupakan sarana berdagang yang mempunyai ciri fisik khusus yang dapat dimanfaatkan untuk berjualan, penyimpanan, berteduh dan beristirahat bagi pemilik kios. Pada saat ini banyak terdapat kios – bentuk kios, warna yang menjadi elemen promosi dari produk rokok, minuman dan produk-produk lainnya yang sedang ternama. Kios rokok mempunyai rata-rata ukuran fisik bangunan antara 1meter x 1,5 meter untuk lebar dengan tinggi hingga mencapai rata-rata 1.8 – 2 meter,Bentuk fisik kios rokok hampir mirip bangunan tempat tinggal sederhana atau tempat tinggal dengan ukuran kecil dengan ciri seperti rumah panggung, selain sebagai tempat berjualan pedagang kios rokok dapat melakukan aktivitas lain seperti duduk, berdiri dan beristirahat (tidur); fungsi lain dari kios rokok adalah sebagai tempat untuk menyimpan barang konsumsi, juga dapat di gunakan untuk menyimpan sarana penunjang untuk berjualan. Ukuran kios, bentuk kios, fungsi kios berkaitan dengan aktivitas pemilik kios, dalam hal ini ketepatan bentuk dan ukuran dapat ditinjau melalui sebuah keilmuan tentang antropometri dan ergonomi agar diperoleh tingkat kenyamanan beraktivitas dalam berjuala