1360 research outputs found
Sort by
POLA SPASIAL PEMANFAATAN JALUR PEJALAN KAKI OLEH KEGIATAN SEKTOR INFORMAL (STUDI KASUS JALUR PEJALAN KAKI JLN. JENDERAL SUDIRMAN S/D DUKUH ATAS)
Jalur pejalan kaki pada sebuah kota adalah bagian yang penting, baik sebagai kelengkapan sebuah kota maupun sebagai tempat orang untuk menuju dari satu tempat ke tempat lainnya. Kenyamanan berjalan kaki merupakan faktor utama yang harus diperhatikan sebagai bentuk pelayanan kepada pejalan kaki. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh keberadaan pedagang kaki lima terhadap kualitas jalur pejalan kaki, dan mengidentifikasi pola dan waktu penyebaran kegiatan sektor informal pada area jalur pejalan kaki. Hasil penelitian menunjukan bahwa di beberapa titik keberadaan kegiatan sektor informal pada jalur pejalan kaki cukup mengganggu kegiatan formal di jalur pejalan kaki. Tetapi keberadaan kegiatan sektor informal di area tersebut juga terjadi dikarenakan adanya faktor yang memicu seperti adanya respon masyarakat terhadap keberadaan mereka dan terjadinya kegiatan jual beli antara pedagang dan pejalan kaki yang sedang melintas
Semiotics Analisys of Betawi Vernacular at Setu Babakan, Jakarta
In traditional societies, it is not too difficult to integrate the style and symbols of a house because they have a common language of the same yet mutually understandable style. However, this can not be applied nowadays with the development of pluralistic cultures encountered by Betawi people. Semiotic enables community to reflect on various related issues in the form of architecture and spatial arrangement. This research was conducted to obtain information that will be used to complement semiotics analytical methods. Field data collection methods are done both visually through recording of buildings and orally through interviewing some of the residents. This research uses semiotics analysis model derived from Ferdinand de Saussure which was adapted by Charles Peirce and used by Charles Jencks. Semiotics discussion on the style of Betawi house at Setu Babakan area consists of four major parts: building orientation, zoning, building typology, and building ornament. The result of this study confirms that there are several changes on the four major parts to support the shift of the village into a cultural village. These changes represent the sign of adaptability of the community to support the preservation and maintenance of Betawi house in this cultural village
ANALISA PENURUNAN RAFT-PILED FOUNDATIONAREA BOGIE WAREHOUSE PROYEK JAKARTA LRT SECTION DEPOT
The foundation of the raft post is the bottom structure of a building that channeled the load from the structure over the soil under it. Carrying capacity of drill pile foundation is influenced by the capacity of the pole tip
and bearing capacity of the pole blanket. The decline in this area can be an immediate decline and a decrease in consolidation. This study aims to analyze the decrease of raft poles and the proportion of load bearing in the bogie area of the Kelapa Gading LRT warehouse depot - Jakarta. From the analysis of the
NSPT test results in the field, the ultimate carrying capacity and the decrease that occurred on the raft poles were obtained. Based on the results of calculation of the ultimate carrying capacity of a single drill pole of 1.1 x 104 kN and the carrying capacity of the group is 1.1 x 108 kN. Calculation of group efficiency with the Feld method is obtained at a value of 0.588. In the calculation of the immediate decline of the pole, a value of 5 cm is obtained and a decrease in consolidation of 7 cm. From the calculation of the proportion of raft pole
load bearing the value of Pr = 6 x 10-6 is obtained, which means that load bearing can be said to be dominated by rafts
METODE PENGUMPULAN DATA RESPONDEN UNTUK PEMERINGKATAN ESTETIKA STRUKTUR BANGUNAN BENTANG LEBAR DI JABOTABEK
Pada dasarnya, nilai estetika pada struktur, terutama struktur bangunan bentang lebar, sudah seharusnya diperhatikan. Hal ini agar tercipta bangunan yang Iconic, dengan tidak melupakan atau mengurangi kualitas struktur, dan keamanan dan keandalan bangunan gedungnya. Dengan menggunakan teori – teori tentang estetika dan struktur bentang lebar, dan teori – teori menurut para ahli, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana hasil temuan riset ini, bagaimana cara penyusunan pemeringkatan estetika struktur bangunan bentang lebar, serta bagaimana metode yang digunakan untuk menilai estetika bangunan bentang lebar
IMPLEMENTASI KEARIFAN LOKAL ARSITEKTUR TRADISIONAL RUMAH REJANG LEBONG PADA BANGUNAN MASJID DI BENGKULU
Masyarakat provinsi Bengkulu mayoritas beragama islam, sehingga jumlah bangunan ibadahnya cukup banyak, hal ini menimbulkan kekhawatiran pada aspek kearifan local setempat, yang tidak lagi di terapkan. sehingga penelitian ini bertujuan untuk melestarikan kearifan local pada bangunan masjid dengan menggunakan metode kualitatif. pembahasan ini menggunakan tiga bangunan masjid yang ada di Bengkulu yaitu masjid jamik, Masjid Baitul Izzah dan Masjid Sultan Abdullah. Hasil pembahasan yang didapat adalah masjid jamik memiliki seluruh aspek yang terapkan pada bangunan yaitu berupa atap, bukaan depan, dan ornament bangunan. Sedangkan masjid Baitul Izzah tidak memenuhi aspek tradisional pada bangunannya, dan Masjid Sultan Abdulan pada bagian atapnya tidak memenuhi aspek tradisional. Tetapi pada bagian depan bangunan dan ornament yang digunakan mampu memenuhi aspek arsitektur tradisional rumah rejang yang menjadi acuan pada penelitian ini
Video Iklan Produk Makanan Halal Promosi Pencitraan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia
Video iklan dengan durasi 60 deti
PERBANDINGAN SPEKTRUM RESPONS DESAIN RSNI 1726:2018 DAN SNI 1726:2012 PADA 17 KOTA BESAR DI INDONESIA
Berdasarkan Peta Gempa Indonesia 2017 dan ASCE 7-16, Rancangan Peraturan Gempa Indonesia
(RSNI) 1726:2018, disusun untuk memperbaharui SNI 1726:2012 yang berlaku saat ini. Dengan
mengambil sampling 17 kota besar yang mewakili seluruh wilayah Indonesia, makalah ini menyajikan
perbandingan Spektrum Respons Desain dari RSNI 1726:2018 dan SNI 1726:2012 untuk memperlihatkan seberapa besar perbedaannya. Fenomena anomali yang terjadi di daerah-daerah rawan gempa, di mana nilai spektrum respons desain untuk perioda pendek di kelas situs Tanah Lunak
(SE) dapat lebih rendah daripada nilai untuk Tanah Sedang (SD) dan Tanah Keras (SC), diperlihatkan
dan dibahas dalam kaitannya dengan penerapan Koefisien Situs Fa menurut RSNI 1726:2018
Rancangan Bangunan Komersial Bank di Perkotaan Berbasis Kearifan Lokal Studi Kasus Bank Bukopin Cirebon dan Bank Jateng Brebes
Rancangan bangunan komersial di wilayah perkotaan sering mengabaikan kearifan lokal, karena dianggap tidak mengekspresikan nilai-nilai bisnis pada bangunan komersial tersebut. Namun demikian, pada kenyataannya ada beberapa bangunan komersial, seperti Bank, yang mencoba menerapkan kearifan lokal pada rancangannya, yang dapat menjadi preseden bagi pengembangan arsitektur di masa datang. Tujuan penelitian ini untuk memahami implementasi kearifan lokal dari arsitektur tradisional pada bangunan-bangunan modern masa kini. Penelitian ini mengunakan metode penelitian kualitatif, dengan metode pengumpulan data melalui observasi lapangan dan wawancara. Analisis data menggunakan metode analisis deskriptif interpretif
Kajian Praktek Penyelenggaraan Lingkungan Hunian Skala Besar dengan Kasiba dan Lisiba di Indonesia
Praktek penyelenggaraan Lingkungan Hunian Skala Besar dengan Kasiba di Indonesia sudah dimulai sejak tahun 2004 dengan merujuk pada PP No 80 Tahun 1999 tentang Kasiba dan Lisiba. Kasiba wajib dilakukan pada Lingkungan Hunian Skala Besar yang sudah terintegrasi dengan Tata Ruang kota. Sementara, pembangunan Lingkungan Hunian Skala Besar di Indonesia belum dilakukan secara terpadu dengan infrastruktur kota. Sehingga menimbulkan banyak persoalan terutama penyediaan infrastruktur yang tidak optimal, sanitasi buruk, dan harga tanah tak terkendali. Pemerintah sesuai amanat UU No.1 tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman mendorong pengembangan permukiman berbasis kawasan. Pemerintah melalui Kementrian PUPR tengah merevisi PP No. 80 tahun 1999 agar lebih efektif, terarah dan berkelanjutan. Pemerintah mengakui banyak kelemahan dalam implementasi penyelenggaraan Lingkungan Hunian Skala Besar dengan Kasiba dan Lisiba terutama pada aspek penyediaan lahan, pengelolaan dan jumlah unit yang terbangun. Lokasi penyelenggaraan Lingkungan Hunian Skala Besar dengan Kasiba dan Lisiba diperkotaan sudah tidak memungkinkan. Kota baru merupakan solusi dari penyelenggaraan Lingkungan Hunian Skala Besar dengan Kasiba dan Lisiba di Indonesia
Keberlanjutan Material Konstruksi pada Pembangunan Rumah Betawi
Masyarakat Betawi pada awalnya bermukim di daerah pesisir dan pedalaman kota Jakarta. Perkampungan Betawi di daerah pedalaman berada diantara kebun buah dengan lahan yang cukup luas. Pembangunan rumah Betawi biasanya dilakukan secara bergotong royong dan menggunakan bahan lokal berasal dari kayu yang tersedia di sekitar rumah. Pada dasarnya rumah Betawi memiliki tiga tipe rumah dengan bentuk yang sederhana. Material konstruksi serta metoda membangun yang digunakan pada saat itu terbukti mengkonsumsi rendah energi melalui penggunaan material yang renewable, dan reuse. Proses modernisasi serta perubahan yang terjadi akibat tuntutan jaman, mengakibatkan hilangnya sebagian besar rumah Betawi. Upaya pemerintah untuk tetap menghadirkan kembali rumah Betawi sebagai representasi dari kearifan lokal dilakukan melalui replika rumah Betawi yang menggunakan material baru. Eksplorasi tentang budaya membangun rumah Betawi yang ramah lingkungan serta nilai-nilai yang mendasari konsep keberlanjutan adalah informasi penting dalam menentukan material yang tepat pada pembangunan rumah Betawi saat ini. Penggunaan bahan konstruksi rumah Betawi asli dapat digantikan dengan alternatif jenis material lainnya yang tetap memperhatikan prinsip-prinsip keberlanjutan