21105 research outputs found
Sort by
North Sumatra Diskominfo Socialization about Analog Switch Off via Facebook to Generation X in Medan City
100 HalamanPenelitian ini berlatar belakang karena adanya sosialisasi yang dilakukan oleh
Diskominfo Sumut tentang Analog Switch Off (ASO) melalui Facebook akun Info
Sumut pada Generasi X. ASO merupakan tranformasi pada peralihan dari siaran
TV analog ke siaran TV digital. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui
sosialisasi Diskominfo Sumut tentang ASO dan hambatan pelaksanaannya melalui
Facebook pada Generasi X di Kota Medan. Metode yang digunakan adalah
metode deskriptif, dengan pendekatan kualitatif. Tujuannya mendeskripsikan
secara mendalam dari hasil observasi yang dilakukan, wawancara dan
dokumentasi pada subjek dan objek penelitian. Proses kegiatan analisis dengan
data, peneliti menggunakan teknik reduksi data, penyajian data dan penarikan
kesimpulan atau verifikasi data untuk menemukan hasil penelitian. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa, sosialisasi unggahan Diskominfo Sumut melalui
Info Sumut mendapatkan respon yang cukup baik. Respon diketahui seberapa
antusias followers dalam peralihan siaran TV digital, dengan memberikan jumlah
likes dan komentar pada setiap unggahan. Ketertarikannya itu menunjukkan
bahwa masyarakat setuju tentang kebijakan peralihan siaran TV digital. Namun
cara melakukan sosialisasinya yang tidak begitu efektif, sehingga hal tersebut
menjadi hambatan pelaksanaannya. Adapun hasil penelitian lainnya menunjukkan
kurangnya anggaran dana, sehingga informasinya tidak konsisten dan kurangnya
perhatian masyarakat pada peralihan siaran digital. This research motivated socialization of Diskominfo Sumut about Analog Switch
Off (ASO) through North Sumatra Info Facebook account to Generation X. The
purpose study, knowing socialization Diskominfo Sumut about ASO and the
obstacles to implementation through Facebook in Generation X in Medan City.
Method used, descriptive qualitative with describing results observations,
interviews and documentation the object research. Results showed, socialization
through uploads Info Sumut get a pretty good response. response likes and
comments on uploads. Community agrees with digital TV broadcast switchover
policy, but socialization method less effective. Addition socialization monotonous
and inconsistent, even though gen x not really understand
Evaluation of Employee Performance at the Medan Johor Subdistrict Office, Medan City (Case Study of Services for Managing Loss of KTP)
75 HalamanMasyarakat masih menganggap kinerja dari instansi pemerintahan belum mampu menciptakan rasa kepuasan yang tinggi dalam pelaayanannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan kinerja pegawai terhadap pelayanan pengurusan kehilangan KTP di Kantor Camat Medan Johor Kota Medan dan faktor penghambat kinerja pegawai dalam pelayanan pengurusan kehilangan KTP dengan mengunakan metode kualitatif yang memiliki informan 8 orang dan pengumpulan data dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini ialah evaluasi kinerja pegawai di Kantor Camat Medan Johor Kota Medan dalam pelayanan pengurusan kehilangan KTP sudah memiliki perubahan yang lebih baik dari tahun – tahun sebelumnya, tetapi ada hal yang harus ditingkatkan lagi kinerja dari para pegawai khususnya pegawai di bagian Tata Pemerintahan yang melakukan pelayanan dengan masyarakat yang melakukan pengurusan kependudukan dan memiliki hambatan dalam hal sarana prasarana, komunikasi dari pegawai terhadap masyarakat, dan respon dari pegawai. People still think performance of government agencies has not been create a high sense of satisfaction in their services. This study using qualitative methods which have 8 informants and data collection by observation, interviews, documentation, and data analysis techniques by data reduction, data presentation, drawing conclusions. The results this study performance of employees at the Medan Johor Sub-District Office service of managing lost ID-card is has changed for the better than in previous years, but there that need to be improved in performance of employees who carry out services, infrastructure, communication from employees to the community, and responses from employees
The Influence of E-TLE Program Socialization on the Level of Driving Discipline People in Medan City
52 HalamanPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari Sosialisasi Program E-TLE terhadap Kedisiplinan Berkendara masyarakat di Kota Medan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey dengan pendekatan kuantitatif, peneliti juga menggunakan purposive sampling dimana penarikan sampel dari
seluruh populasi dengan menggunakan kriteria tertentu untuk mendapatkan jumlah sampel. Sampel penelitian ini adalah masyarakat yang tinggal di Kota Medan, khususnya di Kecamatan Medan Helvetia. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang disebarkankepada responden yang memenuhi kriteria. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa sosialisasi program E-TLE memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat kedisiplinan berkendara masyarakat di Kota Medan. Penemuan ini menunjukkan bahwa mengoptimalkan sosialisasi program E-TLE secara menyeluruh kepada masyarakat di Kota Medan sangatlah penting,
sehingga terciptanya kedisiplinan berkendara di Kota Medan. This research aims to determine E-TLE Program Socialization Impact on Community Driving Discipline in the City of Medan. The research method used is a survey method with a quantitative approach also Purposive Sampling in which samples are drawn from the entire population using certain criteria to obtain the
number of samples. The sample of this research is people who live in Medan, especially in Medan Helvetia district. Data was collected through questionnaires that were distributed to respondents who met the criteria. The results of this research show that E-TLE program socialization has a significant impact on community driving discipline in the city of medan. This research shows that optimizing E-TLE program socialization to the whole people in Medan is really important, in order to create driving discipline in the city of Medan
Adolescents' Perceptions of Catcalling in Public Spaces (Study of Adolescents at SMA Negeri 3 Medan)
96 HalamanCatcalling merupakan pelecehan secara verbal dan non verbal yang identik dengan sapaan dan candaan bernada seksis. Catcalling dilakukan oleh individu maupun kelompok terhadap individu lain disekitarnya. Tanpa memandang tempat, catcalling terjadi dimana saja bahkan di sekolah sekali pun. Tujuan penelitian untuk mengetahui persepsi siswa/i tentang catcalling, faktor-faktor pemicu terjadinya catcalling dan reaksi siswa/i ketika mengalami catcalling. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan menggunakan teori interaksionisme simbolik George Herbert Mead. Peneliti menggunakan wawancara mendalam dan observasi. Peneliti menetapkan 7 (tujuh) informan dengan teknik snowball. Hasil penelitian menunjukkan dua persepsi, yakni persepsi positif dilihat dari siswa/i yang memandang catcalling sebagai pelecehan
secara verbal dan persepsi negatif dilihat dari siswa/i yang memandang catcalling
sebagai candaan, sehingga rentan menjadi pelaku maupun korban. Catcalling yang terjadi di sekolah disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: faktor internal dan eksternal, faktor ketidaktahuan remaja, dan faktor seragam sekolah yang melanggar aturan. Catcalling is verbal and non-verbal harassment that is synonymous with sexist greetings and jokes. Regardless of place, catcalling occurs anywhere even at school. The purpose of this study is to determine student’s perceptions of catcalling, factors that trigger catcalling, and student’s reactions when experiencing catcalling. This study uses a descriptive qualitative approach and uses george herbert mead's theory of symbolic interactionism. The researcher determined 7 (seven) informants with the snowball sampling. The results study showed two perceptions, students who view catcalling as verbal harassment and students who view catcalling as a joke, so they are vulnerable to becoming perpetrators or victims. Catcalling that occurs at school is caused by several
factors, including; internal and external factors, teenage ignorance factors, and
school uniform factors that violate the rules
The Relationship between Service Quality and Consumer Satisfaction at the Sadis Coffee Cafe in Medan
47 HalamanPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menguji secara empirik apakah ada
hubungan antara kualitas pelayanan dengan kepuasan konsumen di kafe kopi sadis Medan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif. Subjek penelitian adalah pelanggan di Restoran Kopi Sadis yang berjumlah 71 orang dengan menggunakan insidental sampling di susun berdasarkan skala likert. Alat ukur yang digunakan adalah instrumen kualitas pelayanan yang terdiri dari 28 item dengan menujukkan Cronbach’s alpha ,792 dan instrument kepuasan konsumen yang terdiri dari 28 item dengan menujukkan Cronbach’s alpha ,810 yang artinya seluruh instrumen lebih besar dari nilai konstanta yang digunakan, yaitu, 0.7. Analisis data ini menggunakan teknik r Product Moment. Berdasarkan analisis data, diperoleh bahwa hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dinyatakan diterima, yaitu ada hubungan positif antara kualitas pelayanan dengan kepuasan konsumen, artinya makin tinggi kualitas pelayanan maka semakin tinggi pula kepuasan konsumen. Hal ini dibuktikan melalui perhitungan analisis r Product Moment dengan nilai atau koefisen (Rxy) = 0,792 dengan nilai signifikan p sebesar 0,000, dimana p < 0,05 maka hal ini menunjukkan bahwa kualitas pelayanan berkorelasi positif dengan kepuasan konsumen di Kafe Kopi Sadis Medan. Berdasarkan hasil perhitungan mean hipotetik pada variabel kualitas pelayanandengan 4 pilihan jawaban diperoleh sebesar 50. Untuk mean empirik kualitas
pelayanan adalah 35,5 dengan SD sebesar 5,244. Hal ini membuktikan bahwa kualitas pelayanan Kafe Kopi Sadis Medan tergolong tinggi. Sedangkan untuk mean hipotetik kepuasan konsumen diperoleh sebesar 47,5 dengan SD sebesar 6,935. Hal ini membuktikan bahwa kepuasan konsumen Kafe Kopi Sadis Medantergolong tinggi. This study aims to find out and test empirically whether there is a relationship between service quality and customer satisfaction at sadist coffee cafes in Medan. The method used in this research is a quantitative method. The research subjects were customers at Sadis Coffee Restaurant, totaling 71 people using insidental sampling arranged according to a Likert scale. The measuring instrument used is the service quality instrument which consists of 28 items showing Cronbach's alpha .792 and the consumer satisfaction instrument which consists of 28 items showing Cronbach's alpha .810 which means that all instruments are greater than the value of the constant used, namely 0.7 . This data analysis uses the r Product Moment technique. Based on data analysis, it was found that the hypothesis proposed in this study was accepted, namely that there was a positive relationship between service quality and customer satisfaction, meaning that the higher the service quality, the higher the customer satisfaction. This is proven through the calculation of r Product Moment analysis with a value or coefficient (Rxy) = 0.792 with a significant p value of 0.000, where p <0.05, this shows that service quality is positively correlated with customer satisfaction at Sadis Coffee Cafe Medan. Based on the results of the calculation of the hypothetical mean on the service quality variable with 4 answer choices, it is obtained at 50. The empirical mean of service quality is 35.5 with an SD of 5.244. This proves that the service quality of Medan Sadis Coffee Cafe is high. Meanwhile, the hypothetical mean of consumer satisfaction is 47.5 with an SD of 6.935. This proves that Sadis Coffee Cafe Medan's customer satisfaction is high
The Analysis of the Impact of Production Process Failure on Product Defect Using the FMEA (Failure Mode Effect and Analysis) Method
46 HalamanPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kecacatan terparah dengan mencari nilai kerusakan terbcsar alau nilai RPN (Risk Priority Number). Analisis moda kegagalan yang terjadi ahan dilakukan dengan metode FMEA (Failure Mode and Effect Anaiysis) dengan melihat tingkat kecacatan dari besarnya nilai Occurrence,Severity, dan Detection. Nilai akan dikatakan besar pada metode ini adalah nilai yang melebihi 100 RPN. Data-Data penelitian ini dikumpulkan melalui wawancara dari para karyawan pabrik. Permasalahan ini akan dituangkan dalam metode FTA (Fauli Tree Analysis) untuk menganalisis akar dari permasalahan yang mengakibatkan terjadinya moda kegagalan tersebut dan hasil pemikiran tersebut akan diluangkan kedalam metode Fishbone untuk mengetahui sebab dan akibat penycbab cacat produk terjadi. Kajian ini menyimpulkan bahwa nilai yang melebihi angka kritis adalah moda kegagalan mengkerut dengan 210 RPN dan moda kegagalan pecah sebesar 252 RPN.Nilai ini merupakan nilai terbesar dan paling prioritas untuk segera diperbaiki. Maka dari itu. hasil penelitian ini berupa saran yang diharapkan dapat mengurangi besarnya tingkat kecacatan produk yang terjadi. This study aimed to analyze the level of the worst defect by looking for the highest damage valuc or RPN (Risk Priority Number) value. The occurred failure mode analysis was carried out using the FMEA (Failure Mode and Effect Analysis) method by noticing the level of defects from the magnitude of the Occurrence, Severity, and Detection values. The value said to be high in this method was a value that exceeded 100 RPN. The research data were collected through interviews with factory employces. This problem was outlincd in the FTA (Fault Tree Analysis) method to analyze the causing problems of the failure mode that occurred. Then, the analysis results used the Fishhone method to determine the causes and effects of the product dcfects cause. This study concluded that the valuc cxcccding the critical number was a shrinkage failure mode of 210 RPN and a rupture failure mode of 252 RPN. This was the highest value and needed to be repaired immediately. Therefore, the results of this study were suggestions that were expected to reduce the occurred level of product defects
The Effect of Providing Deep Breathing Relaxation Techniques on Reducing Stress in Students Facing Semester Exams at MAS Miftahussalam
58 HalamanPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian teknik relaksasi deep breathing terhadap penurunan stress pada siswa dalam menghadapi ujian semester di MAS Miftahussalam. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 60 siswa dan sampel yang digunakan sebanyak 20 siswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode eksperimen dengan desain the one-group pretes- posttes.Adapun hipotesis yang diajukan pada penelitian ini adalah ada pengaruh pemberian tehknik relaksasi deep breathing terhadap penurunan stress pada siswa dalam menghadapi ujian akhir semester. Teknik sampling yang digunakan purposive sampling, dimana sampel yang digunakan memiliki kriteria yaitu memiliki tingkat stress yang sama (homogen). Metode pengambilan data dengan menggunakan skala likert. Skala yang digunakanpada screening test yaitu skala depression anxiety stress scale (DASS). Kemudian untuk pre-test post-test digunakan skala student-life stress inventory. Perhitungan nilai rara-rata hipotek dan empirik pre-tes 129,000
dan 123,250, maka tergolong sedang dan nilai rata-rata hipotek dan empirik post tes 129,000 dan 110,600, maka tergolong sedang. Metode analisis data yang digunakan yaitu analisis T-tes for related, berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan diperoleh koefisien perbedaan dengan koefisien T= -26,989 dengan p =
0,00 < 0,050. Berdasarkan hasil ini berarti hipotesis yang diajukan yang berbunyi ada pengaruh pemberian relaksasi deep breathing terhadap penurunan stres diterima.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian teknik relaksasi deep breathing terhadap penurunan stress pada siswa dalam menghadapi ujian semester di MAS Miftahussalam. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 60 siswa dan sampel yang digunakan sebanyak 20 siswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode eksperimen dengan desain the one-group pretes- posttes. Adapun hipotesis yang diajukan pada penelitian ini adalah ada pengaruh pemberian tehknik relaksasi deep breathing terhadap penurunan stress pada siswa dalam menghadapi ujian akhir semester. Teknik sampling yang digunakan purposive sampling, dimana sampel yang digunakan memiliki kriteria yaitu memiliki tingkat stress yang sama (homogen). Metode pengambilan data dengan menggunakan skala likert. Skala yang digunakanpada screening test yaitu skala depression anxiety stress scale (DASS). Kemudian untuk pre-test post-test digunakan skala student-life stress inventory. Perhitungan nilai rara-rata hipotek dan empirik pre-tes 129,000 dan 123,250, maka tergolong sedang dan nilai rata-rata hipotek dan empirik post tes 129,000 dan 110,600,maka tergolong sedang. Metode analisis data yang digunakan yaitu analisis T-tes for related, berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan diperoleh koefisien perbedaan dengan koefisien T= -26,989 dengan p = 0,00 < 0,050. Berdasarkan hasil ini berarti hipotesis yang diajukan yang berbunyi ada pengaruh pemberian relaksasi deep breathing terhadap pPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian teknik relaksasi deep breathing terhadap penurunan stress pada siswa dalam menghadapi ujian semester di MAS Miftahussalam. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 60 siswa dan sampel yang digunakan sebanyak 20 siswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode eksperimen dengan desain the one-group pretes- posttes.Adapun hipotesis yang diajukan pada penelitian ini adalah ada pengaruh pemberian tehknik relaksasi deep breathing terhadap penurunan stress pada siswa dalam menghadapi ujian akhir semester. Teknik sampling yang digunakan purposive sampling, dimana sampel yang digunakan memiliki kriteria yaitu memiliki tingkat stress yang sama (homogen). Metode pengambilan data dengan menggunakan skala likert. Skala yang digunakanpada screening test yaitu skala depression anxiety stress scale (DASS). Kemudian untuk pre-test post-test digunakan skala student-life stress inventory. Perhitungan nilai rara-rata hipotek dan empirik pre-tes 129,000
dan 123,250, maka tergolong sedang dan nilai rata-rata hipotek dan empirik post tes 129,000 dan 110,600, maka tergolong sedang. Metode analisis data yang digunakan yaitu analisis T-tes for related, berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan diperoleh koefisien perbedaan dengan koefisien T= -26,989 dengan p =
0,00 < 0,050. Berdasarkan hasil ini berarti hipotesis yang diajukan yang berbunyi ada pengaruh pemberian relaksasi deep breathing terhadap penurunan stres diterimaenurunan stres diterima. This research purpose to find out the effect of administering deep breathing relaxation techniques on stress reduction in students facing semester exams at Miftahussalam MAS. The population in the study was 60 students and the sample used was 20 students. The method used in this study was an experimental method
with the one-group pretes- posttes design. The hypothesis proposed in this study is that there is an effect of administering deep breathing relaxation techniques on stress reduction in students in the face of end-of-term exams. A sampling technique is used purposive sampling, where the samples used have a criterion of having the same stress level (homogeneous). A method of retrieving data using a likert scale. The scale used in screening tests is the depression anxiety stress scale (DASS). Then for pre-test and post-test, student-life stress inventory scale is used. Calculation of the average mortgage and empirical pre-test value of 129,000 and 123,250 is moderate and the average post-test value of 129,000 and 110,600 is moderate. The data analysis method used is for related T-test analysis, based on the results of the data analysis performed, the difference coefficient with coefficient T= -26.989 with p = 0.00 × 0.050. Based on this result, the proposed hypothesis states that the effect of deep breathing relaxation on stress reduction is accepted
The Relationship between Peer Social Support and Gender Gender with the Subjective Well-being of Vocational School Students in Cape Morawa
140 HalamanTujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan dukungan
sosial teman sebaya dan jenis kelamin dengan kesejahteraan subjektif siswa
SMK di Tanjung Morawa. Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan
kuantitatif eksplanatif. Sampel sebanyak 192 berdasarkan teknik random
sampling. Menggunakan skala kesejahteraan subjektif dan dukungan sosial
teman sebaya. Hipotesis pertama diketahui bahwa koefisien determinasi (R
square) dukungan sosial teman sebaya yang diperoleh dalam penelitian ini
sebesar 0,932 maka terbukti bahwa ada hubungan yang signifikan dukungan
sosial teman sebaya dengan kesejahteraan subjektif siswa. Hipotesis kedua
diketahui hasil analisis statistik Anava yang ditunjukkan oleh koefisien
perbedaan F sebesar 0.259 dengan p = 0.611 atau p > 0.05, rerata
kesejahteraan subjektif siswa laki-laki adalah sebesar 95.78 dan rerata
kesejahteraan subjektif siswa perempuan sebesar 97.23. Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa baik siswa laki-laki ataupun perempuan tidak
memiliki perbedaan pada kesejahteraan subjektif
Berdasarkan hasil penelitian diharapkan pihak sekolah dapat
meningkatkan kesejahteraan subjektif siswa dengan meningkatkan dukungan
sosil teman sebaya siswa, melalui masuk ke komunitas yang dia inginkan,
memberikan ruang untuk berbicara kepada teman, membuat acara curhat
sekolah dan kegiatan lainnya. Siswa diharapkan dapat meningkatkan
kesejahteraan subjektif dengan cara: ikut terlibat dalam acara curhat sekolah,
mengomunikasikan perasaan-perasaan dan emosi-emosi dalam berbagai
situasi seperti perasaan menyenangkan, mempunyai harapan-harapan yang
positif dalam proses belajar, masuk ke komunitas yang dia inginkan. The aim of this research was to determine the corelations between peer
social support and gender with the subjective well-being of vocational school
students in Tanjung Morawa. This research uses an explanatory quantitative
approach. The sample was 192 based on random sampling technique. Using a
scale of subjective well-being and peer social support. The first hypothesis is
that the coefficient of determination (R square) of peer social support obtained
in this study is 0.932, so it is proven that there is a significant corelation
between peer social support and students' subjective well-being. The second
hypothesis is known from the results of Anava statistical analysis as shown by
the F difference coefficient of 0.259 with p = 0.611 or p > 0.05, the average
subjective well-being of male students is 95.78 and the average subjective wellbeing
of female students is 97.23. Thus it can be concluded that both male and
female students have no differences in subjective well-being
Based on the research results, it is hoped that the school can improve
students' subjective well-being by increasing the social support of students'
peers, by joining the community they want, providing space to talk to friends,
holding school chat events and other activities. Students are expected to be
able to improve subjective well-being by: getting involved in school events,
communicating feelings and emotions in various situations such as feeling
pleasant, having positive hopes in the learning process, entering the
community they want
The Relationship between Teacher Social Support and Self Regulated Learning in Middle School Education Students Raudhatul Jannah
108 HalamanPenelitian bertujuan untuk menguji Hubungan Dukungan Sosial Guru Pada Siswa
SMP Pendidikan Raudhatul Jannah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian
kuantitatif. Pada penelitian ini di ambil 63 Siswa SMP Pendidikan Raudhatul
Jannah kelas 1. Self-regulated learning diukur berdasarkan aspek menurut
Zimmerman (2004), self-regulated learning yaitu metakognisi, motivasi dan
perilaku. Dukungan sosial dalam penelitian ini diukur berdasarkan aspek-aspek
dukungan sosial Canava dan Dolan (dalam Tarmidi dan Rambe, 2013) Dukungan
Emosional, Dukungan Penghargaan, Dukungan Instrumental, Dukungan Informasi,
dan Dukungan Jaringan Sosial. Berdasarkan hasil analisis korelasi product moment,
terdapat hubungan positif antara Dukungan sosial dengan Self regulated learning.
Hasil ini dibuktikan dengan koefisien korelasi rxy = 0,570, dengan Signifikan p=
0,000 < 0,05. Koefisien determinan (r2) 0,325 Ini menunjukkan bahwa Dukungan
sosial berdistribusi sebesar 32.50% terhadap Self regulated learning. Hal ini
menunjukkan ada 67,5 % faktor lain yang mempengaruhi Self regulated learning.
Disimpulkan bahwa dukungan sosial guru tergolong sedang dengan nilai mean
hipotetik sebesar 47.500 dan nilai mean empirik 47.963. Self regulated learning
tergolong sedang dengan nilai mean hipotetik sebesar 55 nilai mean empiric 54.031. The aim of this study was to examine the correlation between teacher social support
and students at Raudhatul Jannah Middle School. This research uses quantitative
research methods. In this study, 63 students of Raudhatul Jannah Education Middle
School were taken in class 1. Self-regulated learning is measured based on aspects
according to Zimmerman (2004), self-regulated learning namely metacognition,
motivation and behavior. Social support in this study was measured based on
aspects of social support Canava and Dolan (in Tarmidi and Rambe, 2013)
Emotional Support, Appreciation Support, Instrumental Support, Information
Support, and Social Network Support. Based on the results of the product moment
correlation analysis, there is a positive relationship between social support and
self-regulated learning. This result is evidenced by the correlation coefficient rxy
= 0.570, with a significant p = 0.000 <0.05. The coefficient of determination (r2)
is 0.325. This shows that social support is distributed at 32.50% of self-regulated
learning. This shows that there are 67.5% of other factors that influence selfregulated
learning. It was concluded that teacher social support was moderate with
a hypothetical mean value of 47,500 and an empirical mean value of 47,963. Selfregulated
learning is classified as medium with a mean hypothetical value of 55
with an empirical mean value of 54,031
Peran Kepemimpinan Camat Dalam Meningkatkan Kinerjapegawai (Studi Kasus Di Kantor Kecamatan Medan Denai)
61 HalamanPeran camat adalah menyelenggarakan urusan pemerintahan umum, mengawasi pemeliharaan prasarana dan sarana pelayanan umum, serta mengkoordinasikan penyelenggaraan pemerintahan yang dilaksanakan oleh perangkat daerah di kecamatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran kepemimpinan Camat dalam meningkatkan kinerja pegawainya, serta mengetahui kendala yang dihadapi Camat dalam meningkatkan kinerja pegawai Kantor Kecamatan Medan Denai. Teori peran kepemimpinan yang digunakan untuk menjadi tolak ukur ialah teori Henry Mintzberg (2009), yakni peran interpersonal role, decision making, dan informational role. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa peran kepemimpinan Camat Medan Denai dalam meningkatkan kinerja pegawainya cukup baik. Peran informational role cukup baik. Peran interpersonal role cukup baik. Peran decision making sudah baik. Kendala yang dihadapi Camat Medan Denai adalah masalah masih adanya konflik internal dan kurangnya solidaritas antar pegawai untuk dapat menciptakan lingkungan kerja yang nyaman sehingga pegawai dapat bekerja secara maksimal sesuai dengan apa yang diharapkan. This study to determine the leadership role of the Sub-district Head in improving the performance of his employees, aswell as knowing the obstacles faced by the Sub- district Head in improving the performance of employees. The leadership role theory used is Henry Mintzberg 2009 and uses descriptive research qualitative approach. Data collection techniques through observation, interviews and documentation. The results concluded that the leadership role of the Sub-District Head in improving the performance of employees was not optimal. The informational role is good. The interpersonal role and decision making role are not optimal. The obstacles faced are communication problems between employees