UNY Journal Collections (Universitas Negeri Yogyakarta)
Not a member yet
    2796 research outputs found

    GENERASI MILLENIAL DAN ABSURDITAS DEBAT KUSIR VIRTUAL

    No full text
    Head, Alison J. & Eisenberg, Michael B. (2009). “How College Students Seek Information in the Digital Age?” Project of Information Literacy, University of Washington

    KPK: KORBAN BALAS DENDAM POLRI (Analisa Naratif Model Greimas Pada Karakter KPK dan Polri di Majalah Tempo)

    No full text
    Flew, Terry. (2004). “New Media: An Introduction (2nd Edition)”. Oxford, New York: Oxford University Press

    THE NARRATION OF DIGITAL LITERACY MOVEMENT IN INDONESIA

    No full text
    This article aims to analyze the digital literacy movement in Indonesia and its determinant using the narrative approach. Empirical research is carried out with qualitative content analysis methods. The primary data of the study came from 255 online news which contained digital literacy keywords that were detected by Google search engines and published in trusted online media. Secondary data collected from publications of government, private, and civil society organizations related to digital literacy. We use an interactive model and Atlas.ti 8 to analyze research data. The results showed that each actor had a variety of views about the definitions and situations that underlie digital literacy problems. The digital literacy movement narrative in Indonesia can be explained using the logic of the problem - solution - results. Problem narratives tend to be based on data from a variety of data sources on the profile and behavior of internet users, the development of e-commerce, digital security and crime, digital radicalism, basic competencies of digital literacy, national competitiveness, and the online mass media industry. Starting from the problem narrative, the actors proposed the same solution, namely strengthening digital literacy of internet users, although they differed in identifying target groups. The goals of this solution are a reduction in digital crime, an increase in the digital economy, knowledge, digital skills, and digital governance, as well as the birth of practices in the use of information and communication technology that refers to three principles, namely: security principle, economic principles, and social-cultural principle. We identified four actors who acted as victims in the digital literacy movement narrative in Indonesia: society as a whole, religious institutions, state institutions, population, economic commodities, and market participants. The criminal\u27s character includes internet users, legal players, government institutions, and politicians. Meanwhile, heroes are all actors acting in the digital literacy movement in Indonesia. Fours factors contributed to digital literacy movement: public participation, commitment and togetherness, shared goals and interests, and a massive, systematic, and synergistic strategy, movement management, and learning process. We discuss the theoretical and practical implications of these findings. NARASI GERAKAN LITERASI DIGITAL DI INDONESIA Artikel ini bertujuan menganalisis gerakan literasi digital di Indonesia dan determinannya dengan pendekatan naratif. Riset empiris dilaksanakan dengan metode analisis isi kualitatif. Data primer penelitian berasal dari 255 berita online yang mengandung kata kunci literasi digital yang di deteksi mesin pencari Google dan dipublikasikan di media online terpercaya. Data sekunder dikumpulkan dari publikasi organisasi pemerintah, swasta, dan/atau masyarakat sipil yang berhubungan dengan literasi digital. Analisis data penelitian menggunakan model interaktif dengan bantuan software Atlas.ti 8. Hasil penelitian menunjukkan setiap aktor memiliki keragaman pandangan tentang definisi dan situasi yang melatari masalah literasi digital. Alur cerita gerakan literasi digital di Indonesia bisa dijelaskan menggunakan logika masalah - solusi - hasil. Narasi masalah cenderung berbasis data dari beragam sumber data tentang profil dan perilaku pengguna internet, perkembangan e-commerce, keamanan dan kriminalitas digital, radikalisme digital, kompetensi dasar literasi digital, daya saing bangsa, dan industri media massa daring. Bertolak dari narasi masalah, para aktor mengusulkan solusi yang sama, yakni penguatan literasi digital pengguna internet, meski berbeda dalam identifikasi kelompok sasaran. Hasil akhir solusi ini adalah berkurangnya kriminalitas digital, meningkatnya perekonomian digital, pengetahuan, keterampilan digital, dan digital governance, serta melahirkan praktik-praktik penggunaan teknologi informasi dan komunikasi yang mengacu ke tiga prinsip, yakni: prinsip keamanan, prinsip ekonomi, dan prinsip sosio-kultural. Peneliti mengidentifikasi empat aktor yang berperan sebagai korban dalam narasi gerakan literasi digital di Indonesia, yakni: masyarakat secara keseluruhan, institusi agama, institusi negara, populasi penduduk, komoditas ekonomi, dan para pelaku pasar. Para penjahatnya meliputi pengguna internet, para pelaku pasar berbadan hukum, institusi pemerintah, dan oknum para politisi. Sedangkan, pahlawannya adalah semua aktor yang bertindak nyata dalam gerakan literasi digital di Indonesia. gerakan literasi digital dipengaruhi empat faktor yakni: partisipasi publik, komitmen dan kebersamaan, tujuan dan kepentingan bersama, dan strategi yang masif, sistematis, dan sinergis, manajemen gerakan, dan proses pembelajaran. Peneliti implikasi teoretis dan praktis temuan ini

    MANAGING INTERCULTURAL INTERACTION AND PREJUDICE OF THE INDONESIAN COMMUNITY: AS AN EFFORT TO PREVENT AND MANAGE SARA CONFLICT

    No full text
    Interaction and conflict have a very close relationship. Besides, can cause conflicts, interactions can also be used to prevent and manage conflict. There are intrigue and prejudice in dynamic social interaction. Therefore, it takes control of that assessment to others, to be honest, and rational. Individually, prejudice can be controlled through one-way and two-way communication within the family. In groups, prejudice control can be done through the establishment of institutions to communicate more transactional. Social institutions can impose sanctions on anyone proven to produce and disseminate prejudices. Moreover, social institutions can also produce and deploy a symbol of harmony through myth or a true story. Interkasi dan konflik memiliki hubungan yang sangat erat. Disamping dapat menyebabkan konflik, interaksi juga dapat digunakan untuk mencegah dan menangani konflik. Ada intrik dan prasangka dalam interaksi sosial yang dinamis. Oleh karena itu, dibutuhkan pengendalian agar penilaian terhadap orang lain menjadi jujur dan rasional. Secara individu, prasangka dapat dikendalikan melalui komunikasi satu dan dua arah dalam keluarga. Secara kelompok, pengendalian prasangka dapat dilakukan melalui pembentukan institusi yang dalam berkomunikasi lebih transaksional. Institusi sosial dapat memberi sanksi pada siapapun yang terbukti memproduksi dan menyebarkan prasangka. Selain itu, institusi sosial juga dapat memproduksi dan menyebarkan simbol kerukunan melalui mitos atau kisah nyata

    Mapping of physics problem-solving skills of senior high school students using PhysProSS-CAT

    No full text
    Evaluation using computerized adaptive tests (CAT) is an alternative to paper-based tests (PBT). This study was aimed at mapping physics problem-solving skills using PhysProSS-CAT on the basis of the item response theory (IRT). The study was conducted inSleman Regency, Yogyakarta, involving 156 students of Grade XI of senior high school. Sampling was done using stratified random sampling technique. The results of the study show that the PhysProSS-CAT is able to accurately measure physics problem-solving skills. Students\u27 competences in physics problem solving can be mapped as 6% of the very high category, 4% of the high category, 36% of the medium category, 36% of the low category, and 18% of the very low category. This shows that the majority of the students\u27 competences in physics problem solving lies within the categories of medium and low

    Evaluasi pelaksanaan standar proses pendidikan pada SMP Negeri di Kabupaten Sleman

    No full text
    Penelitian ini merupakan penelitian evaluasi yang bertujuan untuk mengungkapkan tingkat keefektivan pelaksanaan standar proses pendidikan. Model evaluasi yang digunakan adalah discrepancy evaluation model, Provus. Sampel penelitian ini adalah kepala sekolah dan guru di SMP Negeri Kabupaten Sleman. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan analisis kuantitatif yang dilakukan, diketahui implementasi standar proses pada aspek perencanan pembelajaran, pelaksanaan, penilaian, dan pengawasan termasuk dalam kategori sangat efektif. Lebih lanjut diketahui bahwa implementasi standar di sekolah didukung oleh lingkungan kelas yang kondusif, peserta didik kooperatif, dan peran kepala sekolah. Inovasi media pembelajaran, proses memotivasi peserta didik, perolehan informasi baru tentang materi tambahan, dan pengidentifikasian kemampuan peserta didik merupakan faktor yang menghambat pelaksanaan standar proses. Kata kunci: pelaksanaan standar proses, pendidikan AN EVALUATION OF THE IMPLEMENTATION OF EDUCATION PROCESS STANDARD ON JUNIOR HIGH SCHOOL IN SLEMAN REGENCY Abstract This study is an evaluation research which is aimed at revealing the effectiveness level of the implementation of educational process standard. The evaluation model used in this research was discrepancy evaluation model, Provus. The samples of the research were the principals and teachers in state junior high schools in Sleman Regency. The data were collected using questionnaires, interviews, and documentation. Based on the quantitative analysis which had been conducted, the implementation of process standard on the aspects of planning, implementing, assessing, and supervising the learning process is considered to be very effective. Further, it is also revealed that the implementation of standard at school is supported by the conducive class environment, cooperative students, and the principal\u27s role. Learning media innovation, the process in motivating the learners, the acquisition of new information on additional material, and the identification process of the learners\u27 ability are considered as the inhibiting factors of the implementation of the process standard. Keywords: implementation of process standard, educatio

    Hubungan kompetensi pedagogis dan kompetensi profesional guru PPKn dengan prestasi belajar siswa sekolah menengah

    No full text
    Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kompetensi pedagogis dan kompetensi profesional guru PPKn dengan prestasi belajar siswa di SMA Negeri se-Kota Yogyakarta. Metode penelitian ini adalah korelasional dengan pendekatan kuantitatif. Data penelitian dikumpulkan melalui angket dan dokumentasi. Analisis data untuk pengujian hipotesis menggunakan korelasi product moment sederhana dan regresi berganda. Hasil penelitian membuktikan bahwa: 1) terdapat hubungan positif dan signifikan antara kompetensi pedagogis guru PPKn dengan prestasi belajar PPKn siswa. Kekuatan hubungan menunjukkan arah kekuatan dalam kategori sangat kuat. 2) terdapat hubungan positif dan signifikan antara kompetensi profesional guru PPKn dengan prestasi belajar PPKn siswa. Kekuatan hubungan antara kedua variabel menunjukkan arah dalam kategori sangat kuat. 3) Terdapat hubungan positif dan signifikan kompetensi pedagogis dan kompetensi profesional guru PPKn dengan prestasi belajar siswa. -------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- This research was aimed at explaining the relationship between pedagogical and professional competency among PPKn teachers and students\u27 achievement at SMAN (State-owned Senior High Schools) in Yogyakarta city. It was a correlational study with quantitative approach. Data was analyzed statistically to test the hypotheses using product moment test. The results are follows. 1) there is a positive and significant correlation between teachers\u27 pedagogical competency and students\u27 achievement. 2) there is a positive and significant correlation between teachers\u27 professional competency and students\u27 achievement. 3) there is a positive and significant correlation between teachers\u27 pedagogical and professional competency and students\u27 achievement

    Studi Penelusuran Alumni Teknik Elektronika D3 sebagai Upaya Peningkatan Mutu Penyelenggaraan Program Studi

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana profil lulusan Profi D3 Teknik Elektronika, penilaian alumni mengenai mutu penyelenggaraan program yang ada di Prodi D3 Teknik Elektronika, dan penilaian stakeholders terhadap kompetensi lulusan prodi D3 Teknik Elektronika. Penelitian ini merupakan penelitian penelusuran alumni dengan pendekatan analisis deskriptif kuantitatif.pelaksanaan tracer study dilakukan dengan konsep tahapan survey menurut Schomburg, yaitu tahap 1 pengembangan konsep dan instrumen, tahap 2 pengumpulan data, dan tahap 3 analisa data serta penulisan laporan. Sumber data dalam penelitian ini adalah 55 orang alumni Prodi D3 Teknik Elektronika dan 10 orang pengguna alumni (stakeholders) Metode pengumpulan data dilakukan dengan penyebaran kuesioner kepada alumni dan stakeholders secara langsung dan melalui google doc. Metode analisis data yang dipakai dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif kuantitatif dan evaluatif. Kuesioner penilaian penyelenggaraan prodi D3 Teknik Elektronika oleh alumni dan penilaian kompetensi alumni oleh stakeholders diberikan lima alternatif jawaban, yaitu sangat baik, baik, cukup baik, kurang baik, dan tidak baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata IPK lulusan prodi D3 Teknik Elektronika untuk angkatan 2008 - 2014 adalah 3,27 dan lama masa studi 3 tahun 8 bulan. Sebagian besar masa tunggu alumni dalam mendapatkan pekerjaan ± 3 bulan dan bekerja sebagai karyawan swasta dan teknisi swasta dengan pendapatan 1-3 juta/bulan. Penilaian alumni terhadap layanan administrasi, aspek pembelajaran, pengalaman belajar, dan keterlibatan dalam penelitian dan PPM termasuk dalam kategori baik. Sedangkan penilaian alumni tentang fasilitas perkuliahan tergolong cukup baik. Penilaian stakeholders terhadap alumni dalam hal integritas, keahlian bidang ilmu, kemampuan mengatasi permasalahan, kemampuan berkomunikasi, dan bekerjasama termasuk dalam kategori baik. sedangkan kemampuan alumni dalam berbahasa inggris tergolong cukup baik

    Miskonsepsi materi larutan penyangga

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui miskonsepsi materi larutan penyangga, persentase miskonsepsi pada setiap indikator materi larutan penyangga, dan penyebab terjadinya miskonsepsi materi larutan penyangga pada siswa SMA Negeri 2 Mataram. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang melibatkan 80 siswa kelas XI IPA 4 dan XI IPA 5 SMA Negeri 2 Mataram sebagai sampel dalam penelitian yang ditentukan secara purposive sampling. Instrumen yang digunakan untuk menganalisis miskonsepsi larutan penyangga yaitu instrumen multiple choice two tier diagnostic. Instrumen di validasi oleh expert judgment dan validasi empirik oleh 38 siswa kelas XII IPA 2 SMA Negeri 2 Mataram.. Hasil analisis miskonsepsi larutan penyangga menggunakan instrumen two-tier multiple choice diagnostic menunjukkan bahwa terjadi miskonsepi sebesar 47%, memahami konsep sebesar 37%, dan tidak memahami konsep sebesar 16%. Miskonsepsi terbanyak terjadi pada indikator konsep perhitungan pH larutan penyangga pada penambahan sedikit asam atau basa sejumLah 4 soal yaitu dengan rata-rata 64,08%. Miskonsepsi larutan penyangga terjadi karena guru kurang menekankan materi konsep, khususnya pada indikator larutan penyangga pada kehidupan sehari-hari, bahasa buku teks kimia yang terlalu sulit, dan siswa sendiri yang kurang fokus saat proses pembelajaran. Misconceptions on buffer solution Abstract This study aims to determine the misconception on buffer solution, the percentage of misconceptions on each indicator, and the cause of the misconception of the student of SMA Negeri 2 Mataram.This research is a qualitative descriptive study involving 80 students of class XI of physics study (IPA) 4 and XI 5 of SMAN 2 Mataram as samples determined by purposive sampling. The instrument used to analyze the misconceptions of the buffer solution is two-tier instrument diagnostic multiple choice. The instrument is validated by expert judgment and empirical validation by 38 students of class XII physic study (IPA) 2 SMA Negeri 2 Mataram. The results of the data analysis showed that there is 47% misconceptions, 37% understand and as many as 16% do not understand concept. Misconceptions occurred in the calculation of the indicator concept pH buffer solution in the addition of a small amount of acid or base in an average of 64.08%. The misconception of the buffer solution occurred because the teachers did not emphasize the concept of matter, particularly on indicators of the buffer solution in everyday life, the language of chemistry textbooks that are too difficult, and the students themselves are less focused during the learning process

    Pengembangan LKPD mobile learning guided discovery untuk meningkatkan penguasaan kompetensi dasar ekosistem Kurikulum 2013

    No full text
    Penelitian ini bertujuan (1) mengembangkan produk aplikasi LKPD Mobile Learning berbasis Guided Discovery yang layak sebagai bahan ajar dan (2) mengetahui keefektifan penggunaannya terhadap peningkatan penguasaan kompetensi dasar (KD) peserta didik pada pokok bahasan ekosistem dalam kurikulum 2013. Penelitian pengembangan ini merupakan Design and Development Research (D & D R) menurut Ellis dan Levy. Subjek coba penelitian sebanyak 126 peserta didik kelas X dari SMA N 1 Sentolo dan SMA N 1 Temon Kabupaten Kulon Progo. Data dikumpulkan dengan menggunakan instrumen validasi ahli, instrumen tes pengukuran kompetensi pengetahuan, dan lembar observasi penguasaan kompetensi keterampilan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) aplikasi LKPD Mobile Learning berbasis Guided Discovery pada pokok bahasan Ekosistem ditinjau dari penilaian pada aspek kelayakan materi, tampilan, bahasa, dan kehandalan termasuk dalam kategori baik, dan (2) penerapan LKPD Mobile Learning berbasis Guided Discovery pada pokok bahasan Ekosistem dalam proses pembelajaran secara signifikan mampu meningkatkan penguasaan kompetensi dasar peserta didik. Developing guided discovery mobile learning worksheet to improve student\u27s mastery of basic competence in Curriculum 2013 Abstract The aims of this research were (1) to produce Guided Discovery mobile learning worksheet on Ecosystem subject matter, (2) to know the effectiveness on student\u27s Mastery of Basic Competence in Curriculum 2013. This research is Design and Development Research (D & D R) according to Ellis and Levy. Product as the result of this development research was tested to subject of this research, 126 ten grade students of SMA N 1 Sentolo and SMA N 1 Temon, Kulon Progo. Data were collected through validation instrument set, basic competence instrument test, and observation sheet to assest process skill competence. The result of this recearch showed that (1) Guided Discovery mobile learning worksheet on Ecosystem subject matter was appropriate for students based on the contain, interface, language, and reliability and got good catergory rating, and (2) was effective and significant to improve student\u27s mastery of Basic Competence in Curriculum 2013

    0

    full texts

    2,796

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    UNY Journal Collections (Universitas Negeri Yogyakarta)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇