Repositori Universitas Malikussaleh
Not a member yet
4877 research outputs found
Sort by
palgiat Artikel"Business Analysis Of Village-Owned Enterprises (Bumdes): A Poverty Reduction Strategy (Case Study Kuala Sub-District, Nagan Raya Regency)
Plagiat Artikel: Factors Affecting Entrepreneurial Intention: An Empirical Study Of Student In Aceh And North Sumatera
Plagiat Artikel" Penilaian Sumber Pencemar Non Logam di Waduk Asin Pusong Kota Lhokseumawe Berdasarkan Analisis Multivaria
Bukti Korespondensi: Business Analysis Of Village-Owned Enterprises (Bumdes): A Poverty Reduction Strategy (Case Study Kuala Sub-District, Nagan Raya Regency)
Model Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan: Bur Telege dan Kearifal Lokal Masyarakat Gayo
Salah satu sumberdaya ekonomi hijau berbasis kehutanan yang berhasil menciptakan ekonomi berkelanjutan dan terjaganya kelestarian hutan adalah pariwisata hutan lindung Bur Telege di Kabupaten Aceh Tengah, Propinsi Aceh. Masyarakat Hakim Bale Bujang yang mendiami kawasan hutan lindung Bur Telege merupakan penjaga kelestarian hutan lintas generasi dan kini melalui inovasi pengembangan pariwisata mereka menikmati kesejahteraan ekonomi berkelanjutan
Bukti Korespondensi: Evaluation of Land Capability and Land Use Direction In the Krueng Peusangan Hilir Sub-watershed, Bireuen Regency
Korespondensi : Seaweed diversity and community structure on the west coast of Aceh, Indonesia
ASEAN: Episentrum Pertumbuhan Dunia
uku ini disusun dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran, keterlibatan, dan kontribusi masyarakat Indonesia
melalui tulisan terkait isu-isu internasional kontemporer. Selain itu, kolaborasi tulisan juga bertujuan agar
masyarakat kembali membaca, merenung, dan memikirkan suatu fenomena serta mencoba mencarikan jalan
keluarnya. Apa jalan keluar yang muncul sangatlah ditentukan oleh sejauh mana bacaan, perhatian, pengalaman, dan
juga kedalaman kontemplasi sang penulis terhadap isu tersebut.
Apa yang disebut sebagai ‘dalam’, tidak semata dilihat dari panjang-pendeknya sebuah tulisan, akan tetapi dari
sejauh mana sang penulis dapat mencermati dan mengelaborasi isu-isu terkait dengan melihatkan segenap potensinya-
-penglihatan, pendengaran, dan hati nurani. Terlepas dari ‘kedalaman relatif’ tersebut, semua kontribusi gagasan dalam
buku mendapatkan apresiasi dan kesempatan yang sama untuk disebarkan kepada masyarakat luas. Kami berpandangan
bahwa semua tulisan yang ada dalam buku ini adalah positif, menarik, dan patut untuk dikembangkan lebih lanjut
dalam berbagai publikasi.
Inisiatif penyusunan buku ini tidak terlepas dari inisiatif sebelumnya, yakni buku yang disusun dalam rangka
menyukseskan presidensi G20. Buku dwi-bahasa (8 jilid, masing-masing 4 jilid) tersebut berjudul Pulih Bersama
Bangkit Perkasa & Recover Together Recover Stronger (Perpusnas Press, 2022), dan diluncurkan di Perpusnas RI, Jl. Medan
Merdeka Selatan, Jakarta (Senin, 13/10/2022). Peluncuran buku dihadiri oleh Kepala Perpusnas RI, Dirjen Informasi dan
Komunikasi Publik Kemenkominfo, para pejabat dari berbagai kementerian dan lembaga serta para penulis.
Selain peluncuran, konten buku tersebut juga didiseminasi melalui International Conference on Indonesia and Global
Affairs (ICIGA) yang berlangsung di beberapa lokasi seperti Gedung BRIN, Gedung ITS Tower, Universitas Paramadina,
Gedung DPRD DKI Jakarta, dan sebuah hotel di Bendungan Hilir, Jakarta: Eightin. Buku juga disebarkan ke berbagai
institusi, salah satunya ke Library of Congress, perpustakaan terbesar di dunia di Washington, D.C.
Setelah G20, Indonesia menjadi Ketua ASEAN. Inisiatif untuk membuat buku pada event Indonesia sebagai
chairman ASEAN pun muncul. Awalnya, lebih 500 calon penulis bergabung dalam Grup Whatsapp, dari Indonesia dan
negara tetangga. Namun, hingga tenggat waktu, hanya lebih 180 penulis yang berhasil mengirimkan karyanya. Angka
tersebut menurut kami sangat luar biasa, sebab sejauh ini belum ada inisiatif masyarakat sipil untuk menyukseskan
ASEAN yang menerbitkan kumpulan tulisan sebanyak itu. Begitu juga dengan inisiatif sebelumnya, belum ditemukan
adanya inisiatif masyarakat sipil yang mengumpulkan ratusan penulis untuk berkontribusi gagasan dalam satu buku.
Kedua buku tersebut bersifat khas dan menjadi ‘kebaruan’ dalam keterlibatan masyarakat terhadap event internasional
melalui tulisan.
Sebagai inisiator dan editor, kami mencermati tulisan yang ada yang menunjukkan keragaman. Keragaman
tersebut disebabkan oleh sejauh mana keterlibatan penulis dalam isu tersebut, serta sejauh mana pula bacaan, renungan,
dan jam terbang penulis isu-isu ASEAN. Di antara tulisan ada yang tidak banyak diedit, sebab kontennya telah kaya dan
mendalam, akan tetapi yang lainnya ada yang diedit pada judul, pendahuluan, isi, referensi, hingga biodata penulis.
Ada konten yang terlalu sarat informasi, olehnya itu beberapa bagian dipindahkan ke catatan kaki; ada yang dipangkas
karena terlalu panjang, serta ada yang ditulis ulang agar gagasan utamanya dapat ditangkap oleh pembaca. Perbaikan
typo adalah keniscayaan, sebab tak jarang ada tulisan yang disingkat (seperti ‘yg’ diganti yang), serta pembenahan agar
struktur tulisan lebih mantap.
Menjelang finalisasi, kami sempat menghubungi beberapa orang peminat untuk mengirimkan naskahnya. Semata�mata agar kesempatan untuk bergabung dalam ‘kafilah penulis’ ratusan orang ini betul-betul menjelma. Hal itu kami
lakukan sebab hadirnya semangat kebangsaan untuk gotong-royong, yang tercermin dalam sila ketiga Pancasila, yakni
Persatuan Indonesia. Terkadang, kita memang perlu berkompromi sebab ada banyak orang yang berminat akan tetapi
belum sempat menuntaskan tulisannya pada tenggat yang ditentukan. Kesadaran fleksibel seperti ini kami dapatkan
xvi ASEAN Episentrum Pertumbuhan Dunia
setelah melalui serangkaian pengalaman menjadi inisiator, editor, dan ketua tim. Bahwa, kebersamaan itu baik, bahkan
penting. Serta, itu Indonesia banget.
Terkait dengan referensi, pada awalnya panduan penulisan meminta agar tiap penulis mencantumkan referensi.
Ada yang mencantumkannya dengan lengkap, menggunakan reference manager, namun ada yang tidak sempat
mencantumkannya. Untuk buku ilmiah, referensi itu mutlak ada. Namun, untuk buku ‘gagasan masyarakat’--yang
sangat beragam--dibutuhkan sekali lagi kompromi. Olehnya itu, kami tetap memasukkan tulisan yang tanpa referensi
dengan asumsi bahwa tulisan tersebut sangat mungkin adalah gagasan awal, gagasan lepas, gagasan orisinal, atau
gagasan sementara, yang suatu saat nanti dapat dikembangkan dalam berbagai tulisan lainnya. Kami menyadari
bahwa tulisan para pemimpin bangsa, terutama yang di media massa, lebih banyak analisis dan kontemplasi, dan
tidak begitu berpusing dengan referensi. Semangat tersebut kami tetap jaga, namun kami tetap berharap agar seiring
waktu referensi dapat dimasukkan dalam tulisan selanjutnya.
Atas terbitnya buku ini, dari lubuk hati terdalam kami mengucapkan terima kasih kepada semua penulis yang
telah berkontribusi bagi buku ini. Menuangkan gagasan dalam tulisan memang tidak mudah, akan tetapi semua
akan jadi mudah jika kita telah memulai langkah pertama. Kami berharap agar silaturahmi gagasan ini dapat terus
dipertahankan, bahkan ditingkatkan dalam berbagai jenis silaturahmi lainnya untuk sama-sama belajar, bertumbuh,
berkembang, dan berkontribusi bagi Indonesia dan masyarakat dunia. Terkhusus, kami ingin mengucapkan terima kasih
juga kepada keluargaku yang mendukung hingga berbagai inisiatif ini dapat berjalan dengan baik.
Kami berharap semangat untuk bersinergi dan berkontribusi dalam tulisan dapat terus kita jaga, rawat, dan
kembangkan hingga pada tingkat yang bermakna. Semua kita pada saatnya harus mengambil inisiatif untuk menciptakan
sesuatu, at least berkontribusi untuk hadirnya sesuatu. Inisiatif untuk menciptakan yang tidak ada menjadi ada, adalah
salah satu kecerdasan manusia yang tidak dimiliki makhluk lainnya. Tumbuhnya peradaban dunia di Barat atau di
Timur, semata-mata karena ada inisiatif, inovasi, serta kolaborasi masyarakat untuk menciptakan peradaban tersebut.
Pemikir Aljazair Malik Bennabi (1905-1973) menyebut ada tiga faktor kelahiran peradaban, yakni manusia,
tanah, dan waktu. Jika dapat ditambahkan, satu faktor lagi adalah kerja sama atau kolaborasi. Sekumpulan manusia
tidak akan memberikan arti jika tidak ada kerja sama di dalamnya. Kerja sama itulah yang menjadi spirit kita dalam
sila Persatuan Indonesia sebagaimana yang telah diejawantahkan oleh para pemuda pada 1928, kemerdekaan 1945
hingga saat ini. Keberanian para pemuda di masa lalu adalah inspirasi yang patut kita jaga untuk kontribusi kita bagi
bangsa. Bung Karno, Bung Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Pak Natsir dan seterusnya adalah para penulis yang tulisan (serta
aktivisme) mereka berdampak bagi kebangsaan kita.
Pembagian 5 bagian 23 bab semata-mata didasari oleh kecenderungan tulisan. Setelah membaca tulisan masuk
di email [email protected], kami kemudian memetakan tulisan-tulisan tersebut. Bisa jadi ada irisan yang
sama antara satu dan lainnya, sebab terkadang satu tulisan membahas beberapa aspek sekaligus atau karena sifatnya
yang umum jadi dapat dimasukkan di bagian mana yang kita anggap penting. Pembagian siapa di depan dan siapa di
belakang semata-mata karena faktor waktu, yakni siapa yang cepat dibaca itulah yang lebih cepat dimasukkan; tapi
pada beberapa tulisan memang dipertimbangkan mana yang paling pas untuk berada di bagian depan. Siapa yang
depan dan siapa yang di belakang dapat juga dimaknai sebagai satu tulisan pamungkas dari bab tersebut.
Buku ini adalah hasil dari sinergi dan kolaborasi kita semua. Tidak sempurna tentu saja, akan tetapi langkah
pertama telah dijalani. Besar harapan agar langkah selanjutnya dapat semakin baik, berdampak, dan bermakna.
Selamat membaca
Check Turnitin Jurnal Cogent Social Sciences: Strategies for optimizing learning activities during the pandemic and new normal.
This study aimed to investigate the government's and parents' strategies for optimizing learning activities during the pandemic and the new normal in Langsa City, Indonesia, after the COVID-19 pandemic hit the country. Using a structural-functionalist methodology It was assumed that the COVID-19 pandemic triggered change in society as a whole — change in one part would affect other parts — and that in order for education to operate smoothly in society, the government and parents must adapt to the necessary change. To provide empirical data for the study, in-depth interviews were conducted with the head of the educational and cultural office, the head of the religious department, elementary through secondary school teachers, and parents. The government implemented strategies such as school closures and the introduction of online learning, internet quotas for students and teachers, home visits to areas with poor internet signals, and time shifting classes to prevent overcrowding. The government instituted competitions for best school, best teacher, best staff, and best student awards during the new normal in an effort to rekindle students' interest in learning and teachers' participation in class. Nonetheless, the pandemic had a positive effect on students' attitudes toward online learning and parents' attitudes toward their children's education. The study concluded that, in the face of a pandemic, government, teacher, and parent cooperation, as well as the ability to adapt to change, were the keys to the success of children's education under any circumstance