Repository UNSAP (Universitas Sebelas April)
Not a member yet
1145 research outputs found
Sort by
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN GENERATIF (GENERATIVE LEARNING)
Proses belajar mengajar perlu dilakukan secara terencana, jelas, dan terarah pada tujuan tertentu. Guru sebagai ujung tombak dalam dunia pendidikan perlu menciptakan suatu kondisi dan situasi pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat mengaktifkan struktur koqnitif dan membangun struktur-struktur baru dalam rangka mengakomodasi pengetahuan-pengetahuan baru yang terus berkembang. Pembelajaran pada dasarnya merupakan suatu sarana dalam pengembangan kreativitas berpikir siswa guna menggali berbagai kompetensi yang dimilikinya sehingga mereka dapat berkompetisi dalam kehidupannya. Oleh karena itu, diperlukan suatu model pembelajaran yang tepat serta sesuai dengan situasi dan kondisi. Penggunaan model pembelajaran yang tepat menjadi sesuatu yang penting guna mencetak para pembelajar yang handal (fowerful learners) serta dapat membantu siswa belajar dalam mengarungi kehidupan dan menyelami perkembangan zaman yang semakin pesat. Salah satu model pembelajaran yang diperkirakan dapat mengembangkan kreativitas berpikir siswa adalah model pembelajaran generatif (generative learning)
KAJIAN NILAI BUDAYA DAN ASPEK MORALITAS DALAM NOVEL HARISBAYA BERSUAMI 2 RAJA KARYA E. ROKAJAT ASURA
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya kepedulian masyarakat terhadap kebudayaan dan sejarah khususnya novel yang ceritanya asli dari daerah sendiri yang kini semakin terlupakan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai budaya dan aspek moralitas dengan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis teks dan studi dokumen. Peneliti melakukan analisis data dengan menggunakan instrumen berupa instrumen dokumentasi, diketahui bahwa Novel Harisbaya Bersuami 2 Raja Karya E. Rokajat Asura memiliki nilai budaya dan aspek moralitas. Jumlah keseluruhan nilai budaya sebanyak 13 data, sedangkan jumlah keseluruhan nilai aspek moralitas sebanyak 22 data. Novel ini menceritakan kisah cinta Prabu Geusan Ulun dengan Ratu Harisbaya, sehingga mengakibatkan perpecahan antara Kerajaan Sumedang larang dan Cirebon. Hal tersebut sesuai dengan bukti sejarah yang ada termasuk dalam babad Sumedang dan beberapa artikel. Selain itu, novel ini termasuk ke dalam novel sejarah karena memenuhi karakteristik dan diangkat dari kisah nyata, meski terdapat imajinasi pengarang mengenai latar, pengembangan suasana, dan dialog yang sebenarnya tidak terdapat pada bukti sejarah. Berdasarkan hasil analisis data nilai budaya dan aspek moralitas, dapat disimpulkan bahwa nilai budaya dan aspek moralitas yang terkandung dalam Novel tersebut layak untuk dijadikan sebagai bahan pembelajaran apresiasi sastra di SMA
Kecerdasan Spiritual dalam Kepemimpinan
Kompetensi seseorang menjadi faktor penentu keberhasilan pemimpin dalam mengelola organisasi untuk mencapai tujuan. Lingkungan strategis organisasi mengalami perubahan karena itu seorang pemimpin diharapkan melakukan inovasi perilaku kepemimpinan serta memiliki akhlak kepemimpinan tidak hanya berbasis kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional tetapi juga kecerdasan spiritual. Pintu gerbang memiliki inovasi perilaku kepemimpinan dan akhlak kepemimpinan seperti itu manakala sang pemimpin mempunyai kesadaran penamaan, berpikir dan aksi.
 
Etude de la séparation des sels de Ma des acides de Clève 1,6 et 1,7
SCGCDIPLOMES; 20/D16 1962; ; GR-53 796. Consultable sur demande à la Bibliothèque de l'EPFL / Offered in consultation at the EPFL library
The Effect of Metacognitive Teaching and Mathematical Prior Knowledge on Mathematical Logical Thinking Ability and Self-Regulated Learning
This paper reports the findings of a quasi-experiment that aims to investigate the role of metacognitive teaching-learning (MTL) and mathematical prior knowledge (MPK) on students’ mathematical logical thinking ability (MLTA) and self- regulated learning (SRL). The subject of the study was 70 tenth-grade students inSumedang, Indonesia. One experimental group and one control group were used, and the students were grouped into three categories based on their mathematical prior knowledge (high, medium and low). The instruments of this study were a short-answer-MPK test, an essay MLTA test, and a SRL scale. The data were analyzed by using Anova, t-test, Mann-Whitney test, and Kruskal-Wallis test. The study find that compared to conventional learning, MTL gave better influence on students with medium MPK in MLTA and gave an overall better effect on students in SRL. However, for entirely students, the students’ grades of SRL are fairly good, but the students’ grades of MLTA are still low. There is no interaction between learning approaches and MPK on improving MLTA, and there is an interaction between learning approaches and MPK on improving SRL
PERBANDINGAN NILAI KARAKTER DALAM FILM KARTUN UPIN IPIN DAN NUSSA RARRA SEBAGAI REFERENSI BAHAN AJAR BAHASA INDONESIA SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh maraknya film animasi yang ditayangkan di televisi. Masih banyak film animasi menampilkan adegan dan perilaku tokoh yang tidak cocok dengan anak-anak. Aktivitasnya sering di jumpai anak, terpengaruh dengan perilaku buruk dari film animasi. Adapun tujuan penelitian ini yaitu mendeskripsikan karakter tokoh dalam film kartun Upin Ipin dan Nussa Rarra, mendeskripsikan gambaran isi film dalam film kartun Upin Ipin dan Nussa Rarra, mendeskripsikan hasil perbandingan nilai karakter dalam film kartun Upin Ipin dan Nussa Rarra, dan mendeskripsikan skenario pembelajaran pendidikan karakter dari film kartun Upin Ipin dan Nussa Rarra untuk dijadikan sebagai referensi siswa Sekolah Dasar. Nilai-nilai karakter dalam Film Kartun Upin Ipin dan Nussa Rarra di peroleh bahwa relevansi nilai karakter pada film kartun Upin Ipin dan Nussa Rarra, terdapat pada nilai-nilai karakter Religius, Tolong Menolong, Rasa Ingin Tahu yang Tinggi, Peduli Lingkungan, Bekerja Sama, Kerja Keras, Peduli Sosial. Adapun Nilai Didaktis yang muncul yaitu Motivasi Belajar, Peduli Lingkungan. Dari nilai-nilai di atas maka nilai karakter yang sering muncul adalah nilai karakter Religius (93%), Tolong Menolong (92%), Kerja Keras (85%), Peduli Sosial (75%). Film kartun tersebut juga patut di tiru siswa perbuatan baiknya dan mampu merubah perilaku yang tidak baik
MENGAKSELERASI KINERJA OTONOMI DAERAH
Kebijakan desentralisasi di Indonesia melahirkan otonomi daerah. Sejak bergulir UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang dilaksanakan mulai tahun 2001 telah banyak menelorkan berbagai kemajuan di beberapa daerah. Namun demikian, kinerja otonomi daerah secara nasional belum memenuhi harapan beberapa pihak. Rendahnya kinerja otonomi daerah di Indonesia dipicu oleh: (1) masih banyaknya masalah strategis yang menelikung pelaksanaan otonomi daerah mulai dari banyaknya tuntutan pemekaran daerah, banyaknya perundang-undangan yang mereduksi kewenangan daerah, sampai kriminalisasi kebijakan; (2) belum proporsionalnya peran pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/ kota dalam pelaksanaan otonomi daerah. Untuk mengatasi hal tersebut ada beberapa implikasi kebijakan dan program yang wajib dikembangkan oleh pemerintah pusat mulai dari desentralisasi fiskal yang proporsional; memfasilitasi dan memberdayakan Daerah (kepala daerah dan aparatur pemerintah daerah) untuk mengelola anggaran (uang) secara akuntabel dan prudent; membuat sistem monitoring, evaluasi, dan pengawasan serta mengimplementasikannya secara akuntabel dalam pengelolaan keuangan daerah dan kinerja Daerah sehingga manajemen pemerintahan daerah terbebas dari KKN
 
Revitalisasi Forum Musrenbang sebagai Wahana Partisipasi Masyarakat dalam Perencanaan Pembangunan Daerah
Many factors are influencing the effectiveness of regional autonomy imple- mentation. One of such factor is the quality of regional development planning. The ideal planning should be able to articulate the needs and aspirations of community. Another factor for ideal quality is public participation which, in Indonesia, manifested through ‘Musrenbang’ (comittee of regional development planning), bureaucracy structure, and political party. This writing analyzes regional development planning of Sumedang District as the product of Musrenbang policy. It is found that internal and external weaknesses of those policies could be overcome by constructing law and other instruments to guide the mechanism and public participation process in order to ensure the practice of good governance