Dental Therapist Journal
Not a member yet
    89 research outputs found

    Children\u27s Nutritional Status in terms of Dental Caries in Elementary School Students of GMIT Baumata: Status Gizi Anak Ditinjau dari Karies Gigi pada Siswa SD GMIT Baumata

    No full text
    Nutritional disorders are caused by primary or secondary factors. The primary factor is when a person\u27s food composition is wrong in quantity or quality caused by a lack of food supply, poor food distribution, poverty, ignorance, wrong eating habits and so on. Secondary factors include all factors that cause nutrients not to reach digestive cells such as bad teeth (dental caries). A person with a bad masticatory apparatus will choose food according to the strength of his chewing so that in the end it can lead to malnutrition. The purpose of this study was to determine the nutritional status of children in terms of dental caries in elementary school students at GMIT Baumata. This research method uses the description method, with a population of 100 students. The results showed that the nutritional status of students in the category of very thin 7%, underweight 52%, normal 41%, obese 0%, obese 0%, the condition of dental caries status of students 2 was 38%, 2 was 62% and nutritional status conditions in terms of student dental caries, namely the category of very thin nutrition with caries 2 is 0% while 2 is 7%, underweight nutrition category with caries 2 is 4% while 2 is 48%, normal nutrition category with caries 2 is 34 % while 2 is 7%, obese nutrition category with 2 caries is 0%, 2 is 0% and obesity nutrition category with 2 caries is 0%, 2 is 0%. The conclusion of this study is that the highest nutritional status of children is the category of underweight nutritional status and the highest dental caries condition is 2 or has not reached the national target. The nutritional status of children in terms of dental caries, the highest percentage is thin nutritional status with caries status 2 is 48%. Gangguan gizi disebabkan oleh faktor primer atau sekunder. Faktor primer adalah bila susunan makanan seseorang salah dalam kuantitas atau kualitas yang disebabkan oleh kurangnya penyediaan pangan, kurang baiknya distribusi pangan, kemiskinan, ketidaktahuan, kebiasaan makan yang salah dan sebagainya. Faktor sekunder meliputi semua faktor yang menyebabkan zat-zat gizi tidak sampai di sel-sel pencernaan seperti gigi-geligi yang tidak baik (karies gigi). Seseorang dengan alat pengunyahan yang tidak baik akan memilih makanan sesuai dengan kekuatan kunyahnya sehingga pada akhirnya dapat mengakibatkan malnutrisi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui status gizi anak ditinjau dari karies gigi pada siswa SD GMIT Baumata. Metode penelitian ini menggunakan metode deskripsi, dengan populasi sebanyak 100 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi status gizi siswa kategori sangat kurus 7%, kurus 52%, normal 41%, gemuk 0%, obesitas 0%, kondisi status karies gigi siswa ≥2 adalah 38%, ≤2 adalah 62% dan kondisi status gizi ditinjau dari karies gigi siswa yaitu kategori gizi sangat kurus dengan karies ≥2 adalah 0% sedangkan ≤2 adalah 7%, kategori gizi kurus dengan karies ≥2 adalah 4% sedangkan ≤2 adalah 48%, kategori gizi normal dengan karies ≥2 adalah 34% sedangkan ≤2 adalah 7%, kategori gizi gemuk dengan karies ≥2 adalah 0%, ≤2 adalah 0% dan kategori gizi obesitas dengan karies ≥2 adalah 0%, ≤2 adalah 0%. Kesimpulan penelitian ini yaitu kondisi status gizi anak yang paling besar adalah kategori status gizi kurus dan kondisi karies gigi yang paling besar yaitu ≤2 atau belum mencapai target nasional. Status gizi anak ditinjau dari karies gigi yang paling besar presentasenya adalah status gizi Kurus dengan status karies ≤2 adalah 48%

    Factors Affecting Children\u27s Fear of Milk Tooth Extraction at the Oesapa Health Center, Kupang City: Faktor Yang Mempengaruhi Rasa Takut Anak Terhadap Pencabutan Gigi Susu Di Puskesmas Oesapa Kota Kupang

    No full text
    Fear in children is an instinct that develops according to the child\u27s development process. This feeling arises through observing an unpleasant object that is instinctively avoided in an attempt to protect itself from harm. This study aims to determine the factors that influence children\u27s fear of milk tooth extraction at the Oesapa Kupang Health Center 2016. The method used in this study is a descriptive method. The population in this study were pediatric patients who were going to have their teeth extracted at the Oesapa Health Center with a total of 70 children. The sample in this study amounted to 70 children. The sampling method used is random sampling (Random Sampling). The results showed that the factors that influenced children\u27s fear of milk tooth extraction at the Oesapa Kupang Health Center with the criteria "not afraid" with a percentage of 56%, "normal" 12%, and very afraid 32%. It was concluded that the factors that influenced children\u27s fear of milk tooth extraction at the Oesapa Kupang Health Center were subjective fear and objective fear. Rasa takut pada anak merupakan naluri yang berkembang sesuai proses perkembangan anak. Perasaan ini timbul melalui pengamatan terhadap objek yang tidak menyenanangkan yang secara naluri dihindari dalam usaha melindungi dirinya dari bahaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi rasa takut anak terhadap pencabutan gigi susu Di Puskesmas Oesapa Kupang 2016. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien anak-anak yang akan melakukan pencabutan gigi di Puskesmas Oesapa sejumlah 70 Anak. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 70 anak. Cara pengambilan sampel yang dilakukan adalah penarikan sampel secara acak (Random Sampling). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi rasa takut anak terhadap pencabutan gigi susu di Puskesmas Oesapa Kupang dengan Kriteria “tidak Takut “dengan persentase 56%, “biasa saja” 12%, dan sangat takut 32%. Disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi rasa takut anak terhadap pencabutan gigi susu di Puskesmas Oesapa Kupang adalah rasa takut subyektif dan rasa takut obyektif

    The Effectiveness of Combination Toothbrushing Techniques on Oral Hygiene Index (PHP-M) in Pre-School Children at Harapan Indah Kindergarten, Pontianak: Efektifitas Teknik Menyikat Gigi Kombinasi Terhadap Indeks Kebersihan Mulut (PHP-M) Pada Anak Pra-Sekolah Di TK Harapan Indah Pontianak

    No full text
    The combination tooth brushing technique is the technique most often taught in dental health education. Given the importance of maintaining dental and oral hygiene for pre-school children, parents play an important role in taking preventive measures, namely by brushing teeth twice a day, in the morning after breakfast and at night before going to bed using a combination technique that is often recommended in dental health education. and mouth. The purpose of this study was to analyze the effectiveness of the combined tooth brushing technique on changes in the oral hygiene index (PHP-M) of pre-school children at Harapan Indah Kindergarten, Pontianak. This research method is a quasi-experimental (quasi-experimental) with the research design used in this study is the One Group Pre-test-Post-test Design. In this design, a pre-test was carried out to determine the initial state of the subject before being treated so that the researcher could find out the condition of the subject being studied before or after being given treatment whose results can be compared or seen changes, with a total of 31 respondents aged 6 years. The test results obtained that the mean/average of the initial PHP-M index before brushing with individual techniques was 46.61 and the mean/average of the final PHP-M index after brushing with individual techniques was 33.12 with a mean difference of 13.49, while the mean/average index of the initial PHP-M before brushing the teeth with the combination technique was 45.74 and the mean/average of the final PHP-M index after brushing the teeth with the combination technique was 19.64 with a mean difference of 26.1, with the probability after brushing teeth with individual and combination techniques is 0.000 because the probability is less than 0.05 then accept Ha, which means there is a significant difference before and after brushing teeth with the combination technique. Based on the research conducted, it is concluded that the combined tooth brushing technique is more effective in reducing the PHP-M index compared to the individual tooth brushing technique. Teknik menyikat gigi kombinasi adalah teknik yang paling sering diajarkan dalam penyuluhan kesehatan gigi. Mengingat begitu pentingnya menjaga kebersihan gigi dan mulut anak pra-sekolah, maka dari itu orang tua berperan penting dalam melakukan tindakan pencegahan yaitu dengan menyikat gigi dua kali sehari, pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur dengan menggunakan teknik kombinasi yang sering dianjurkan dalam penyuluhan kesehatan gigi dan mulut. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis efektifitas teknik menyikat gigi kombinasi terhadap perubahan indeks kebersihan mulut (PHP-M) anak pra sekolah di TK Harapan Indah Pontianak. Metode penelitian ini adalah eksperimental quasi (semu) dengan desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah One Group Pretest-Posttest Design. Pada desain ini dilakukan pre-tes untuk mengetahui keadaan awal subjek sebelum diberi perlakuan sehingga peneliti dapat mengetahui kondisi subjek yang diteliti sebelum atau sesudah diberi perlakuan yang hasilnya dapat dibandingkan atau dilihat perubahannya, dengan jumlah 31 responden yang berumur 6 tahun. Hasil uji diperoleh mean/rata-rata indeks PHP-M awal sebelum menyikat gigi dengan teknik individual adalah 46,61 dan mean/rata-rata indeks PHP-M akhir setelah menyikat gigi dengan teknik individual adalah 33,12 dengan selisih mean 13,49, sedangkan mean/rata-rata indeks PHP-M awal sebelum menyikat gigi dengan teknik kombinasi 45,74 dan mean/rata-rata indeks PHP-M akhir setelah menyikat gigi dengan teknik kombinasi adalah 19,64 dengan selisih mean 26,1, dengan probabilitas setelah menyikat gigi dengan teknik individual dan kombinasi 0,000 karena probabilitasnya lebih kecil dari 0,05 maka menerima Ha yang artinya ada perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah menyikat gigi dengan teknik kombinasi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, maka disimpulkan bahwa teknik menyikat gigi kombinasi lebih efektif dalam menurunkan indeks PHP-M dibandingkan dengan teknik menyikat gigi individual

    Factors Affecting the Occurrence of Tooth Abrasion in the Community in Tambelan Sampit Village RW 05 Pontianak Timur: Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Abrasi Gigi Pada Masyarakat Di Kelurahan Tambelan Sampit RW 05 Pontianak Timur

    No full text
    Tooth abrasion is the loss of tooth substance through an abnormal mechanical process. The problem of tooth abrasion is still ignored by the community even though clinical examinations of abrasion cases are still found and seen from the people of Tambelan Sampit RW 05 that most people have tooth abrasion, for this reason this study aims to determine the factors that influence the occurrence of tooth abrasion in the community in the Kelurahan. Tambelan Sampit RW 05 Pontianak Timur which includes brushing technique, frequency of brushing teeth, duration of brushing and toothbrush bristles. This type of research is an explanatory research with an analytical survey method and using a cross sectional approach. This study is to measure the influence between the independent variable and the dependent variable which was carried out by using the Chi-square analysis test. The research subjects were 64 people who were carried out on February 1 to 20, 2017. From the results of the study that the factors that influence the incidence of tooth abrasion are tooth brushing technique (p-value 0.000 <0.05), duration of tooth brushing (p-value 0.001 < 0.05) and toothbrush bristles (p-value 0.000 < 0.05). And the factor that is not related to the incidence of tooth abrasion is the frequency of tooth brushing (p-value 0.646 > 0.05). Based on the results of the study, it can be concluded that tooth abrasion that occurs in the community of Tambelan Sampit Village RW 05 Pontianak Timur is influenced by factors of brushing technique, duration of brushing teeth and toothbrush bristles in the community in Tambelan Sampit Village RW 05 Pontianak Timur and is not influenced by brushing frequency. Abrasi gigi adalah hilangnya substansi gigi melalui proses makanis yang abnormal. Masalah abrasi gigi masih diabaikan oleh masyarakat padahal pemeriksaan klinis kasus abrasi masih banyak ditemukan dan dilihat dari masyarakat Tambelan Sampit RW 05 bahwa sebagian besar masyarakat memiliki abrasi gigi, untuk itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya abrasi gigi pada masyarakat di Kelurahan Tambelan Sampit RW 05 pontianak timur yang meliputi teknik menyikat gigi, frekuensi menyikat gigi, durasi menyikat gigi dan bulu sikat gigi. Jenis penelitian ini adalah penelitian Ekplanatori (Explanatory Research) dengan metode survei analitik dan menggunakan pedekatan cross sectional. Penelitian ini untuk mengukur adanya pengaruh antara variabel bebas dan variabel terikat yang dilakukan dengan uji analisis Chi-square. Subjek penelitian berjumlah 64 orang yang dilaksanakan pada tanggal 1 sampai 20 februari 2017. Dari hasil penelitian bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian abrasi gigi adalah teknik menyikat gigi (p-value 0,000 < 0,05), durasi menyikat gigi (p-value 0,001 < 0,05) dan bulu sikat gigi (p-value 0,000 < 0,05). Dan faktor yang tidak berhubungan dengan kejadian abrasi gigi adalah frekuensi menyikat gigi (p-value 0,646 > 0,05). Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa abrasi gigi yang terjadi di masyarakat Kelurahan Tambelan Sampit RW 05 Pontianak Timur dipengaruhi oleh faktor teknik menyikat gigi, durasi menyikat gigi dan bulu sikat gigi pada masyarakat di Kelurahan Tambelan Sampit RW 05 Pontianak Timur dan tidak dipengaruhi oleh frekuensi menyikat gigi

    Differences in Parental Participation in the Maintenance of Children\u27s Dental Health between Carious and Non-Carious: Perbedaan Partisipasi Orang Tua dalam Pemeliharaan Kesehatan Gigi Anak antara yang Karies dan Tidak Karies

    No full text
    Oral and dental health is a very important concern in health development, one of which is caused by the vulnerability of the school-age group of children from dental health problems. School age is a time to lay a solid foundation for the realization of quality human beings and health is an important factor in determining the quality of human resources. The purpose of this study was to determine the participation of parents in the maintenance of dental health between carious and non-carious children at SDN 40 North Pontianak. This type of research is a case control study, an analytical survey research that concerns how risk factors are studied. The population in this study were all parents of students, grade 1 SDN 40 North Pontianak aged 7 and 8 years who were carious and not carious as many as 78 people. This study used a sample of 60 people divided into 2, namely 30 samples for children with caries and 30 samples for children without caries. The results of this study were obtained from 60 respondents. The p value <0.05 means that there is a significant difference, namely the difference in parental participation between those with and without caries. Children without caries can be said that parental participation in maintaining children\u27s dental health is better than children with caries. The conclusion of this study was that there was a significant difference between parental participation in the maintenance of children\u27s dental health between those with and without caries. Kesehatan gigi dan mulut menjadi perhatian yang sangat penting dalam pembangunan kesehatan yang salah satunya disebabkan oleh rentannya kelompok anak usia sekolah dari gangguan kesehatan gigi. Usia sekolah merupakan masa untuk meletakkan landasan kokoh bagi terwujudnya manusia yang berkualitas dan kesehatan merupakan faktor penting menentukan kualitas sumber daya manusia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui partisipasi orang tua dalam pemeliharaan kesehatan gigi anak antara yang karies dan tidak karies pada SDN 40 Pontianak Utara. Jenis penelitian ini adalah penelitian case control suatu penelitian survey analitik yang menyangkut bagaimana faktor risiko yang dipelajari. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh orang tua siswa, kelas 1 SDN 40 Pontianak Utara yang berusia 7 dan 8 tahun yang karies dan tidak karies sebanyak 78 orang. Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 60 orang dibagi menjadi 2 yaitu 30 sampel untuk anak dengan karies dan  30 sampel anak tanpa karies. Hasil dari penelitian ini didapat dari 60 responden. Didapatkan nilai p<0,05 yang berarti bahwa terdapat perbedaan yang signifikan yaitu perbedaan partisipasi orang tua antara yang karies dan tanpa karies. Anak tanpa karies dapat dikatakan partisipasi orang tua dalam memelihara kesehatan gigi anak, lebih baik dibandingkan anak dengan karies. Kesimpulan dari penelitian ini didapatkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara partisipasi orang tua terhadap pemeliharaan kesehatan gigi anak antara yang karies dan tanpa karies

    Survey of Student Knowledge About Medical and Non-Medical Waste Treatment: Survey Pengetahuan Mahasiswa Tentang Pengolahan Limbah Medis Dan Non Medis

    No full text
    Knowledge is the result of remembering something, including recalling events that have been experienced either intentionally or unintentionally and this happens after people make contact or observe a certain object. Medical waste is waste originating from medical services, dental care, pharmacy, research, treatment, care or education that uses toxic, infectious, dangerous or dangerous materials unless certain safeguards are carried out. Non-medical waste is solid waste generated from non-medical hospital activities originating from kitchens, offices, and gardens from the yard that can be reused if there is technology. The purpose of this study was to determine the knowledge of students about medical and non-medical waste treatment at the Dental Nursing Department of the Health Polytechnic of the Kupang Ministry of Health. The type of research used is a descriptive type where this method will describe students\u27 knowledge about the processing of medical waste and non-medical waste at the Dental Nursing Department Clinic, Poltekkes, Ministry of Health, Kupang. The results showed that the subject\u27s knowledge of medical waste treatment at the Dental Nursing Department Clinic, Poltekkes Kemenkes Kupang was in the medium category (62.22%). The subject\u27s knowledge of non-medical waste treatment at the Dental Nursing Department of the Health Poltekkes Kupang is in the good category (46.7%). The condition of medical and non-medical waste treatment at the Dental Nursing Department Clinic, Poltekkes, Kupang Ministry of Health is not up to standard or in poor category (35%). It is recommended that the clinic of the Department of Dental Nursing Poltekkes Kemenkes Kupang in order to further increase knowledge to students regarding the treatment of medical and non-medical waste, especially in the Clinic of the Department of Dental Nursing Poltekkes Kemenkes Kupang. Pengetahuan merupakan hasil mengingat suatu hal, termasuk mengingat kembali kejadian yang pernah dialami baik secara sengaja maupun tidak sengaja dan ini terjadi setelah orang melakukan kontak atau pengamatan suatu objek tertentu. Limbah medis adalah limbah yang berasal dari pelayanan medik, perawatan gigi, farmasi, penelitian, pengobatan, perawatan atau pendidikan yang menggunakan bahan-bahan beracun, infeksius, berbahaya atau membahayakan kecuali jika dilakukan pengamanan tertentu. Limbah non medis adalah limbah padat yang dihasilkan dari kegiatan rumah sakit diluar medis yang berasal dari dapur, perkantoran, serta taman dari halaman yang dapat dimanfaatkan kembali apabila ada teknologi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan mahasiswa tentang pengolahan limbah medis dan non medis di Klinik Jurusan Keperawatan Gigi Poltekes Kemenkes Kupang. Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian deskriptif dimana metode ini akan menggambarkan pengetahuan mahasiswa tentang pengolahan limbah medis dan limbah non medis di Klinik Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Kupang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan subjek tentang pengolahan limbah medis di Klinik Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Kupang termasuk kategori sedang (62,22%). Pengetahuan subjek tentang pengolahan limbah non medis di Klinik Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Kupang termasuk kategori baik (46,7%). Kondisi pengolahan limbah medis dan non medis di Klinik Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Kupang belum sesuai standar atau kategori buruk (35%). Disarankan agar klinik Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Kupang agar lebih meningkatkan pengetahuan kepada mahasiswa mengenai pengolahan limbah medis dan non medis terkhususnya di Klinik Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Kupang

    Caries Patterns and Knowledge Levels About Prevention of Dental Caries in Elementary School Students: Pola Karies Dan Tingkat Pengetahuan Tentang Pencegahan Karies Gigi Pada Murid Sekolah Dasar St. Arnoldus Penfui Kupang

    No full text
    In school children, dental caries is an important problem because it not only causes complaints of pain, but also causes infections to other parts of the body, resulting in decreased productivity. Knowledge of prevention of dental caries in children cannot be separated from the participation of health workers, nurses and doctors, to provide counseling and motivation to parents, the role of parents in the family environment. The survey results show that the elementary school students of St. Karolus Kupang class III and IV as many as 125 children who have dental caries so this study was conducted to determine the pattern of caries and the level of knowledge about prevention of dental caries in elementary school students St. Arnold Penfui Kupang. The type of research is descriptive and the research instrument is in the form of an examination and questionnaire format. The results showed that the pattern of dental caries in grade III-IV students of St. The most common Arnoldus penfui kupang was enamel caries with a total of 34% (46 teeth) and caries reaching the roots of 28% (39 teeth). Knowledge of prevention of dental caries is included in the moderate category of 41.8%. Based on the results of the study, it can be concluded that the pattern of dental caries in grade III and IV students of St. Arnoldus Penfui Kupang mostly had enamel caries and residual root caries and the level of knowledge about their prevention was moderate. It is recommended that children further improve dental health maintenance by reducing snacks that contain carbohydrates and for health workers to be more active in collaborating with the school. Pada anak sekolah, karies gigi merupakan masalah yang penting karena tidak saja menyebabkan keluhan rasa sakit, tetapi juga menyebabkan infeksi kebagian tubuh lainnya sehingga mengakibatkan menurunnya produktivitas. Pengetahuan pencegahan karies gigi anak tidak terlepas dari peran serta tenaga kesehatan perawat dan dokter untuk memberi penyuluhan dan motivasi pada orang tua, peran orang tua murid dalam lingkungan keluarga. Dari hasil survei menunjukkan murid sekolah dasar St. Karolus Kupang kelas III dan IV sebanyak 125 anak yang memiliki karies gigi sehingga penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pola karies dan tingkat pengetahuan tentang pencegahan karies gigi pada murid sekolah dasar St. Arnoldus Penfui Kupang. Jenis penelitian deskriptif dan Instrumen penelitian berupa format pemeriksaan dan kuisoner. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa pola karies gigi pada murid kelas III-IV sekolah dasar St. Arnoldus penfui kupang yang terbanyak adalah karies email dengan jumlah 34% (46 gigi) dan karies mencapai akar 28% (39 gigi). Pengetahuan pencegahan karies gigi termasuk dalam kategori sedang 41,8%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pola karies gigi pada murid kelas III dan IV sekolah dasar St. Arnoldus Penfui Kupang yang terbanyak adalah karies email dan karies sisa akar dan tingkat pengetahuan tentang pencegahannya sedang. Disarankan agar anak – anak lebih meningkatkan pemeliharaan kesehatan gigi dengan mengurangi jajanan yang mangandung karbohidrat dan bagi tenaga kesehatan agar lebih aktif dalam bekerjasama dengan pihak sekolah

    Status Karies Gigi, Status Kebersihan Gigi dan Mulut dan Status Gingivitis Ibu Hamil Trimester I dan II

    Get PDF
    Abstract: Dental Caries Status, Status of Dental and Oral Hygiene and Gingivitis Status of Pregnant Women Trimester I and II. Pregnancy is an event that is often encountered in a woman\u27s life because pregnant women are one group that is vulnerable to dental and oral diseases. The purpose of this study: to determine the status of dental caries, the status of dental and oral hygiene, and the status of gingivitis for first and second-trimester pregnant women in Tarus Health Center, Kupang Regency. The research method used is descriptive. sampling with an accidental sampling technique totaling 73 pregnant women who came to the health center Tarus. The results of the study in the first trimester - the average pregnant woman experienced 4 carious teeth included in the medium category, and the second trimester the average pregnant woman had 4 carious teeth including the moderate category. The level of dental and oral hygiene of trimester I and II pregnant women includes moderate criteria with an average of 2.2, the status of gingivitis for first-trimester pregnant women (38.7%) who have moderate gingivitis, and trimester II has mild gingivitis (45, 2%). the frequency of brushing teeth twice a day but the time used is still not right and the average pregnant woman never uses dental floss. While gargling habits use more cold water, and for a balanced diet consume more acidic foods and pregnant women trimester I and II control the health of their teeth and mouth only when sick. It was concluded that the dental caries status of pregnant women trimester I and II included in the moderate category, the status of dental and oral hygiene criteria of moderate and gingivitis status of pregnant women for trimester I including moderate inflammation and trimester II mild inflammation, and maintenance of dental and oral health of pregnant women was not optimal because there are still many pregnant women who ignore oral and dental hygiene. Abstrak: Status Karies Gigi, Status Kebersihan Gigi dan Mulut dan Status Gingivitis Ibu Hamil Trimester I dan II. Kehamilan merupakan suatu peristiwa yang sering di jumpai dalam kehidupan seorang wanita, sebab wanita hamil merupakan salah satu kelompok yang rentan terhadap penyakit gigi dan mulut. Tujuan penelitian : untuk mengetahui status karies gigi, status kebersihan gigi dan mulut  dan status gingivitis ibu hamil trimester I dan II di Puskesmas Tarus Kabupaten Kupang. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif. pengambilan sampel dengan teknik accidental sampling berjumlah 73 ibu hamil yang datang di Puskesmas Tarus. Hasil penelitian pada trimester I rata – rata ibu hamil mengalami 4 gigi berkaries termasuk kategori sedang, dan trimester II rata – rata ibu hamil mengalami 4 gigi berkaries termasuk kategori sedang. Tingkat kebersihan gigi dan mulut ibu hamil trimester I dan II termasuk kriteria sedang dengan rata – rata 2,2, status gingivitis ibu hamil trimester I sebanyak (38,7%) yang mengalami gingivitis sedang, dan trimester II mengalami gingivitis ringan sebanyak (45,2%). frekuensi menyikat gigi 2 kali sehari tetapi waktu yang digunakan masih belum tepat dan rata – rata ibu hamil tidak pernah menggunakan benang gigi. Sedangkan kebiasaan berkumur lebih banyak menggunakan air dingin, dan untuk diet seimbang lebih banyak mengkonsumsi makanan yang bersifat asam dan ibu hamil trimester I dan II mengontrol kesehatan gigi dan mulutnya hanya ketika sakit. Disimpulkan bahwa status karies gigi ibu hamil trimester I dan II termasuk kategori sedang, status kebersihan gigi dan mulut kriteria sedang dan status gingivitis ibu hamil untuk trimester I termasuk inflamasi sedang dan trimester II inflamasi ringan, serta pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut ibu hamil belum maksimal karena masih banyak ibu hamil yang mengabaikan kebersihan gigi dan mulut

    Motivasi Berobat Gigi pada Pasien yang Berkunjung ke Poli Gigi

    Get PDF
    Abstract: Motivation for dental treatment in patients visiting dental poly. Motivation is an impulse arising from within or from outside a person or individual that causes the person or individual to want to do something activity to achieve the goal. Motivation is also said to be an incentive to give strength in taking action for self-interest as we know it around us, most people are not aware that it is important to take care of health, especially dental and oral health, especially when they have to go to a health center or other health services. From the results of research at the Tarus Public Health Center in Kupang Tengah Subdistrict, Kupang Regency, there are several motivational criteria, namely intrinsic motivation, extrinsic motivation and a combination of intrinsic motivation and extrinsic motivation which results in dental treatment motivation of patients visiting the Tarus Public Health Center Dental Clinic in Kupang Tengah District, Kupang Regency. Where this motivation is drawn based on the percentage shown in the diagram. Intrinsic motivation is 90% and extrinsic motivation is 73%. And the motivation for dental treatment is 77%. Other extrinsic motivational factors that support the treatment of patients in the Dental Clinic of Tarus Public Health Center, Kupang Tengah District, Kupang Regency include supporting facilities, as well as the presence of dentists who are very instrumental in making decisions in diagnosing and curative, rehabilitative measures. As for health insurance such as BPJS, KIS, ASKES, National Health Insurance (JKN), thus supporting patient motivation for treatment, especially teeth and mouth. Abstrak: Motivasi Berobat Gigi pada  Pasien yang Berkunjung ke Poli Gigi. Motivasi merupakan suatu dorongan yang timbul dari dalam diri maupun dari luar diri seseorang atau individu yang menyebabkan orang atau idividu tersebut mau melakukan sesuatu kegiatan guna mencapai tujuan. Motivasi juga dikatakan sebagai pendorong untuk memberikan kekuatan dalam melakukan suatu tindakan untuk kepentingan diri seperti yang kita ketahui disekitar kita, sebagian besar masyarakat belum sadar bahwa pentingnya  menjaga kesehatan khususnya kesehatan gigi dan mulut, apalagi sampai harus berobat ke puskesmas  atau  pelayanan kesehatan lainya. Dari hasil penelitian di Puskesmas Tarus Kecamatan Kupang Tengah Kabupaten Kupang, ada beberapa kriteria motivasi yakni motivasi intrinsik, motivasi ekstrinsik serta gabungan dari motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik dimana menghasilkan motivasi berobat gigi pasien yang berkunjung pada Poli Gigi Puskesmas Tarus Kecamatan Kupang Tengah Kabupaten Kupang. Dimana motivasi ini tergambar berdasarkan persentase yang di tunjukkan pada diagram. Motivasi intrinsik 90% dan motivasi ekstrinsik 73%.serta motivasi berobat gigi sebesar  77%. Adapun faktor pendorong motivasi ekstrinsik lainnya yang mendukung pengobatan pasien pada Poli Gigi Puskesmas Tarus Kecamatan Kupang Tengah Kabupaten Kupang di antaranya, fasilitas yang mendukung, serta keberadaan dokter gigi yang sangat berperan dalam pengambilan keputusan dalam mendiagnosa maupun tindakan kuratif, rehabilitatif. Adapun jaminan kesehatan seperti BPJS, KIS, ASKES, Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), sehingga mendukung motivasi pasien untuk melakukan pengobatan khususnya gigi dan mulut. &nbsp

    Perbedaan Tingkat Kejadian Karies Gigi (DMF-T) antara Laki-Laki dan Perempuan Usia 12-14 Tahun

    Get PDF
    Abstract: Differences in the incidence rate of dental caries (DMF-T) between men and women aged 12-14 years. Dental and oral health is the well-being of the oral cavity which enables a person to communicate effectively, enjoy various foods, be confident, and improve a better quality of life. Poor dental and oral health can result in disruption of masticatory function due to tooth malfunction. One form of tooth decay is dental caries. The purpose of this study was to determine the incidence of dental caries (DMF-T) between men and women in children aged 12-14 years at SMPN 10 Kota Kupang. This study uses a descriptive study that describes the incidence of dental caries between men and women aged 12-14 years in SMP Negeri 10 Kota Kupang. A sample of 66 people was taken 100% of the population. The results showed as many as 66 children as respondents consisting of 33 male respondents as many as 18 children affected by caries with very low criteria, while 33 female respondents were only 13 children with moderate criteria. It was concluded that the incidence rate of dental caries in boys was very low and the rate of dental caries in girls was moderate. Abstrak: Perbedaan Tingkat Kejadian Karies Gigi (DMF-T) antara Laki-Laki dan Perempuan Usia 12-14 Tahun. Kesehatan gigi dan mulut adalah kesejahteraan rongga mulut yang memungkinkan seseorang untuk berkomunikasi secara efektif, menikmati berbagai makanan, percaya diri dan meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik. Kesehatan gigi dan mulut yang buruk dapat mengakibatkan terganggunya fungsi pengunyahan yang disebabkan karena tidak berfungsinya gigi. Salah satu bentuk dari kerusakan gigi adalah karies gigi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kejadian karies gigi (DMF-T) antara laki-laki dan perempuan pada anak usia 12-14 tahun di SMPN 10 Kota Kupang. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif yaitu menggambarkan tingkat kejadian karies gigi antara laki-laki dan perempuan usia 12-14 tahun di SMP Negeri 10 Kota Kupang. Sampel berjumlah 66 orang diambil 100% dari populasi. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 66 anak sebagai responden yang terdiri dari 33 responden laki-laki sebanyak 18 anak terkena karies dengan kriteria sangat rendah, sedangkan 33 responden perempuan hanya 13 anak dengan kriteria sedang. Disimpulkan bahwa tingkat kejadian karies gigi pada anak laki-laki termasuk kriteria sangat rendah dan tingkat kejadian karies gigi pada anak perempuan termasuk kriteria sedang. Kesehatan gigi dan mulut adalah kesejahteraan rongga mulut yang memungkinkan seseorang untuk berkomunikasi secara efektif, menikmati berbagai makanan, percaya diri dan meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik. Kesehatan gigi dan mulut yang buruk dapat mengakibatkan terganggunya fungsi pengunyahan yang disebabkan karena tidak berfungsinya gigi. Salah satu bentuk dari kerusakan gigi adalah karies gigi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kejadian karies gigi (DMF-T) antara laki-laki dan perempuan pada anak usia 12-14 tahun di SMPN 10 Kota Kupang. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif yaitu menggambarkan tingkat kejadian karies gigi antara laki-laki dan perempuan usia 12-14 tahun di SMP Negeri 10 Kota Kupang. Sampel berjumlah 66 orang diambil 100% dari populasi. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 66 anak sebagai responden yang terdiri dari 33 responden laki-laki sebanyak 18 anak terkena karies dengan kriteria sangat rendah, sedangkan 33 responden perempuan hanya 13 anak dengan kriteria sedang. Disimpulkan bahwa tingkat kejadian karies gigi pada anak laki-laki termasuk kriteria sangat rendah dan tingkat kejadian karies gigi pada anak perempuan termasuk kriteria sedang.   &nbsp

    48

    full texts

    89

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Dental Therapist Journal
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇