JoDA Journal of Digital Architecture
Not a member yet
64 research outputs found
Sort by
THE ROLE OF STRUCTURALISM IN TOWN PLANNING RESEARCH IN THE DIGITAL ARCHITECTURE ERA
At first, Structuralism developed rapidly in France, but structuralism was not yet known in Indonesia; even in the early 1990s, Lévi-Strauss' structuralism did not resonate with Indonesian socio-cultural scientists. In 1966 the publication of the book The Architecture of the City, authored by Aldo Rossi, provided input on architectural and urban research based on structuralism; This book teaches Typomorphology. The purpose of this study is to provide an explanation of how structuralism is used as an approach method in town planning research. There are two research methods used, the first is a literature review method to gain an understanding of structuralism and the use of structuralism in the field in the context of town planning, namely the typomorphology approach. After this understanding, followed by the second research method, namely the case study method, which is to explain the use of the structuralism method in case studies in Semarang City. The research provides an understanding of structuralism, and an understanding of the use of structuralism in the scope of architecture, particularly in town planning research. In the current era of digital architecture, the results of this study provide an overview of the important role of structuralism in contributing to the facts of all aspects that make up the city; and this is the basis for research on urban development using digital architectural technology
Editorial Paper: Peluang Penelitian Dalam Arsitektur Digital
Descartes, seorang filsuf dari Perancis, menyampaikan ungkapan yang terkenal, yakni Cogito ergo sum yang berarti: "aku berpikir maka aku ada" [1]. Keberadaan buah pikir manusia sebagai pengejawantahan dari “cinta akan hikmat” dalam peradaban manusia, merupakan wujud dari cara mencari atau cara berfilsafat. Pengetahuan dimulai dari sebuah pencarian, dimulai pula dari filsafat sampai dikristalisasi menjadi satu disiplin ilmu. Pendekatan keilmuan, dalam arsitektur sendiri selalu di awali dari buah pikir yang terus dilakukan dalam kajian filosofis, sehingga memungkinkan munculnya cabang ilmu baru dalam arsitektur ataupun pengembangan sesuai dengan IPTEKS yang terkini. Di era digital ini, menghasilkan suatu kemajuan dan tuntutan untuk setiap disiplin ilmu mengikuti dan memanfaatkannya, untuk mempermudah kehidupan manusia, tidak terkecuali bidang arsitektur. Pemikiran tentang filosofi arsitektur digital dilakukan Rudyanto Soesilo dengan judul paper “Telaah Filosofis atas Arsitektur Digital”. Dengan mengambil kasus studi Arsitektur Digital Neo-Nusantara di Ibu Kota Negara (IKN) memberikan cakrawala pemahaman terkait penerepan kajian filsafat pada arsitektur digital dengan kasus nyata, sehingga mudah dipahami dan menjadi dasar landasan bagi peluang pengembangan pemikiran kritis terhadap bidang ilmu arsitektur digital bagi masa depan. Peran dasar seorang arsitek digital adalah memberikan pandangan komprehensif tentang proses, strategi, dan berbagai proses teknologi yang dapat dikembangkan dan dimanfaatkan dalam proses desain arsitektur. Dengan demikian, pendekatan penelitian yang dilakukan oleh Albertus Sidharta, dalam kajian arsitektur digital di lingkup penelitian perencanaan kota juga dapat dilakukan dan menegaskan posisi arsitek digital sebagai penghubung antara masalah dan solusi [2]. Teknologi Digital saat ini mengarah pada penggunaan Metaverse untuk berbagai disiplin ilmu dan kehidupan manusia. Pew Research Center and Elon University’s Imagining the Internet Center melakukan jajak pendapat, untuk mengetahui harapan masyarakat terhadap metaverse di tahun 2040, dan mendapat hasil 54% mengatakan bahwa mereka berharap metaverse AKAN menjadi aspek kehidupan sehari-hari yang jauh lebih halus dan benar-benar imersif, berfungsi dengan baik untuk setengah miliar orang atau lebih di seluruh dunia. 46% mengatakan bahwa mereka berharap pada tahun 2040 metaverse TIDAK AKAN menjadi aspek kehidupan sehari-hari yang jauh lebih halus dan benar-benar mendalam dan berfungsi dengan baik untuk setengah miliar orang atau lebih di seluruh dunia [3]. Hal ini merupakan hal biasa, karena masih banyak masyarakat yang belum benar-benar memahami tentang metaverse. Namun Ridwan Sanjaya telah mencoba mengungkapkan keterkaitan Metaverse ini terhadap Pengembangan Karya Arsitektur yang menarik untuk dicermati. Secara keteknikan, Arsitektur digital dapat dikembangkan dalam penelitian yang terkait dengan aspek fisika bangunan, tektonika dan permodelan dengan BIM, yang dilakukan oleh LMF Purwanto, Robert Rianto dan Hermawan. Pengembangan keilmuan ini memang sangat erat kaitannya dengan digital, yang membantu dalam menyusun perhitungan-perhitungan logaritmik dan parametrik dengan mudah melalui aplikasi software komputer. Dari hasil pandangan pemikiran berbagai penelitian di Arsitektur Digital, saat harus mulai siap masuk di era digital ini dengan kemampuan yang diharapkan berupa; kemampuan yang lebih spesifik sesuai dengan bidang ilmu yang diminati, belajar untuk menjadi penghubung antara masalah dan solusi, memiliki pola pikir analitis, untuk menganalisis semua informasi yang telah dikumpulkan dan mencoba menggunakannya untuk menghasilkan peluang dan inovasi baru, dengan memecahkan masalah dan yang tak kalah penting memiliki manajemen waktu yang baik [4].
Analisis Kenyamanan Pencahayaan Alami Pada Rumah Kos Di Sawah Lebar Baru Bengkulu
Dalam mendesain sebuah bangunan tempat tinggal manusia, tentu tidak bisa lepas dari pencahayaan. Dalam bangunan arsitektur, pencahayaan diklasifikasikan menjadi dua, yaitu pencahayaan buatan dan alami. Pencahayaan buatan berasal dari lampu, sedangkan pencahayaan alami berasal dari sinar matahari. Seperti halnya pada bangunan Rumah Kos, pencahayaan alami menjadi salah satu aspek penting. Dimana pencahayaan alami dapat menunjang kerja bangunan dan menciptakan kenyamanan pengguna didalamnya.Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisa desain bangunan rumah kos yang berada di Sawah Lebar Baru, Bengkulu sudah sesuai kriteria pencahayaan alami pada SNI Nomor 03-2396-2001 ataukah belum memenuhi. Untuk mengetahui hal tersebut penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif dengan mengolah hasil pengukuran lapangan pada proses simulasi digital. Analisa dilakukan menggunakan software Autodesk Ecotect Analysis (versi 2011). Software tersebut dapat mensimulasikan peforma bangunan meliputi pencahayaan serta penghawaan melalui permodelan 3D.Hasil dari penelitian ini membandingkan ketentuan nilai Lux SNI dan hasil data simulasi. dapat disimpulkan bahwa untuk ruang tamu dan garasi sudah sesuai standar. Namun ruang makan, ruang tidur, dapur, kamar mandi belum memenuhi standar. Adapun upaya untuk memaksimalkan pencahayaan dalam ruang tidur, dan garasi rumah kos menjadi rekomendasi desain dari penelitian ini
TELAAH FILOSOFIS ATAS ARSITEKTUR DIGITAL Kasus Studi Arsitektur Digital Neo-Nusantara di Ibu Kota Negara (IKN)
All aspects of life cannot escape the development of the times with the last phenomenon being the influence of the development of the digital world which is called the process of "digitalization". Architecture as one aspect of life certainly does not escape undergoing this digitilization process. Aim this paper discusses the process of digitalizing architecture using a philosophical point of view. The research was conducted using Desk research, from data and existing literature. The data is then filtered according to its interrelationships, validity and adjusted to its needs. Then a predictive analysis was carried out to get a (hypothetical) conception of digital architecture digital architecture in IKN Nusantara. The results of this discussion are understanding of the application of the digital ontological paradigm into the architectural process carried out at IKN Nusantara as a study case and in the context of the creative economy, which is the future of the Indonesian Economy, is very appropriate to develop a Neo-vernacular Digital Architecture in Indonesia which is hereinafter referred to as Neo-Nusantara Architecture
Sistem Teknologi Bangunan Dan Mode Adaptif Ditengah Perubahan Lingkungan Post Pandemi Covid-19
Studi ini bertujuan mengeksplorasi strategi adaptif teknologi bangunan yang berpotensial untuk diterapkan di era new normal pasca pendemi Covid-19. Penelitian dilakukan melalui pendekatan kualitatif untuk mengekplorasi relevansi dan praktek teknologi bangunan pintar dan modular. Analisis potensi dilakukan dengan pendekatan deskriptif berdasarkan data sekunder yang diperoleh dari: artikel yang diakses secara online dari media internet. Diskusi kelompok kecil dengan akademisi dan praktisi lokal digunakan untuk evaluasi relevansi dan praktek (tingkat kematangan teknologi). Analisis scenario digunakan untuk memproyeksi potensi strategi. Hasil penelitian menemukan bahwa persepsi manfaat akademisi dan praktisi lokal terhadap sistem teknologi bangunan pintar dan sistem modular untuk adaptasi bangunan di tengah dinamika lingkungan post pandemi covid-19 adalah pada level sangat penting. Sistem bangunan pintar mempunyai relevansi karena potensi untuk kontrol kualitas lingkungan di tengah pandemi. Sistem modular mempunyai relevansi karena mudah untuk dikonfigurasikan ulang untuk adaptif terhadap kondisi lingkungan. Namun demikian ditinjau dari tingkat kematangan teknologi berada dalam kondisi moderate artinya kedua teknologi tersebut masih dalam tahap pengembangan. Adopsi sistem teknologi bangunan pintar dan sistem modular perlu disesuaikan dengan kondisi iklim lokal, sosial budaya dan risiko teknologi
ASPEK TEKNIS PENGEMBANGAN KARYA ARSITEKTURAL DI METAVERSE
The term Metaverse has become viral since Mark Zuckerberg introduced it when the company name changed from Facebook to Meta. The illustration video made to explain to the public has succeeded in shaping the image of Metaverse as the development of Virtual Reality technology. Although other companies have different definitions of Metaverse with Augmented Reality technology at its core, Mixed Reality technology is predicted to unite both technologies. The contents in the Metaverse also need to be prepared to fill the virtual world when the ecosystem is successfully formed. Architectural creations as one of the contents have the opportunity to be created and traded as NFT in the metaverse. This paper explores the business and technical aspects that need to be done in the development of architectural creations in the metaverse
Eksplorasi Software CBE Thermal Comfort Tool Sebagai Perhitungan Kenyamanan Termal
Dalam menjalankan aktivitas dalam sebuah ruangan, tentunya setiap orang berharap ruang yang digunakannya nyaman secara termal. Bangunan dengan fungsi peribadatan tentunya menuntut akan tercapainya kenyamanan termal salah satunya adalah bangunan Gereja dimana kenyamanan termal akan berpengaruh terhadap fokus umatnya dalam mengikuti peribadatan di dalam Gereja. Gereja Gedangan adalah salah satu Gereja di Semarang yang memiliki banyak bukaan lebar guna masuknya penghawaan alami kedalam bangunan sehingga bangunan ini cukup menarik untuk dijadikan penelitian mengenai kenyamanan termal. Dewasa ini, perhitungan kenyamanan termal sendiri sudah banyak dilakukan dan seiring berjalannya waktu, teknologi memberi kemudahan kepada manusia dalam melakukan perhitungan kenyamanan termal terutama dalam menemukan nilai PMV dan PPD karena perhitungan ini cukup rumit tanpa bantuan software. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen yaitu dengan cara mengumpulkan data yang berupa angka melalui pengukuran di lapangan kemudian akan dihitung dan dianalisis dengan CBE Thermal Comfort Tool dan jika belum tercapai kenyamanan termal maka dilakukan eksperimen agar kenyamanan termal dapat tercapai. Penelitian mengenai kenyamanan termal pada bangunan fungsi peribadatan sangat penting untuk mengetahui apakah bangunan tersebut memenuhi kenyamanan termal pengguna dan jika belum, maka bagaimanakah solusi yang dapat diambil untuk dapat mencapai kenyamanan termal tersebut. Hasil yang akan dicapai dari penelitian ini adalah mengetahui nilai PMV dan PPD pada Gereja Gedangan dan solusi yang dapat diterapkan apabila kenyamanan termal pada Gereja Gedangan belum tercapai.
Brand dan Digital dalam Aspek Perancangan Arsitektur
Sebagai bidang ilmu seni terapan, Teori Arsitektur berkembang tidak hanya kepada desain perancangan bangunan saja melainkan isu lingkungan sosial yang berkolaborasi dengan disiplin ilmu Manajemen yakni brand dan konsep “branding”. Tuntutan pasar Global menjadikan Arsitektur sebagai sebuah kebutuhan karena kemampuannya dalam menuangkan gagasan ke dalam sebuah bentuk serta perkembangannya di bidang Digital. Hal ini membuat arsitektur mampu membaur dengan disiplin ilmu Manajemen dalam konteks Brand. Namun muncul pertanyaan, apakah konsep perancangan Arsitektur mampu mewadahi sebuah Brand tanpa kehilangan esensi dasar dalam mendesain? Artikel ini menjadi tahap awal dalam melihat keterkaitan antara Arsitektur, kemajuan Teknologi Digital dan konsep Brand. Studi Kepustakaan diperlukan untuk mengawali proses identifikasi agar dapat menguraikan masing-masing bagian sehingga ditemukan aspek-aspek penting yang diperlukan dalam perancangan yang diduga saling berkaitan dan dapat menjadi konsep perancangan yang mendukung proses branding
Peran Artifical Intelligence dalam Tahap Perencanaan dan Perancangan Desain Arsitektur
Perkembangan teknologi informasi di masa modern ini menyetuh setiap sendi-sendi kehidupan yang membuat segalanya menjadi lebih mudah dan praktis. Situasi ini juga menggambarkan apa yang terjadi dalam bidang arsitektur yang menuntut peningkatan kompleksitas desain yang lenih tinggi dengan waktu yang lebih cepat dari masa-masa sebelumnya. Penggunaan teknologi digital di masa modern dalam bidang arsitektur perlahan-lahan mulai menggeser cara-cara tradisional dalam proses perencanaan dan perancangan arsitektur. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji peran teknologi digital dengan menggunakan Artificial Intellegence dalam proses perencanaan dan perancangan arsitektur di masa kini sehingga menjadikan proses desain menjadi lebih cepat, mudah, dan praktis serta memberikan pilihan-pilihan yang lebih beragam bagi arsitek untuk menentukan keputusan desain. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah dengan menganalisa literature dari beberapa penelitian terkait tentang teori perencanaan dan perancangan serta serta Artificial Intellegence. Dengan perkembangan yang cukup eksponensial, penggunaan Artificial Intelligence dalam bidang arsitektur dimungkinkan bukan hanya sebagai alat perpanjangan tangan dari arsitek tetapi juga perpanjangan otak yang dapat mengeksplorasi desain dengan lebih banyak pilihan dalam waktu yang lebih cepat secara efektif dan efisien
Augmented Reality dalam Proses Desain Arsitek Masa Depan
Dunia arsitektur sedang mengalami sebuah tekanan terkait hasil karya dari para arsitek yang secara kuantitas sudah banyak namun dinilai kurang secara kualitas. Hal ini disebabkan karena dalam proses desain yang dilakukan oleh arsitek ditemukan gap yang cukup lebar antara konsep dengan praktek perancangannya. Oleh karena itu banyak arsitek yang mulai melirik dunia digital terutama augmented reality sebagai media yang dapat membantu proses mendesain. Augmented Reality memang memiliki kelebihan dalam menyajikan visual 3D yang sangat berguna bagi dunia arsitektur yang juga bermain dengan visual. Namun hingga sekarang augmented reality masih hanya diaplikasikan sebagai media informasi digital pada bangunan yang telah terbangun. Padahal jika melihat perkembangannya teknologi ini mampu untuk bermanfaat lebih dari itu. Sehingga tujuan dari penelitian ini adalah menganalisa dan mengindikasikan potensi penggunaan augmented reality pada proses desain seutuhnya. Metode yang digunakan adalah literature review dengan mencari literatur yang relevan kemudian melakukan sintesi analisanya. Dan pada akhir penelitian ditemukan bahwa augmented reality tidak hanya berfungsi sebagai media informasi dari hasil desain akan tetapi dapat ditempatkan dalam semua tahapan desain yaitu analisa, sintesis dan evaluasi