Melayu Arts and Performance Journal
Not a member yet
    110 research outputs found

    Melestarikan Budaya Membaca Melalui Buku Legenda Batu Anak Daro Padang Panjang

    Full text link
    Reading is one of the ways to get information besides listening and seeing. The information gotten is the written information. Folklore is people’s authentic description that reflects local people’s behavior and culture. Folklore is a part of Indonesia culture that must be conserved, surely with the adjustment to today culture particularly how to deliver it in order to maintain Indonesia children’s interest and as the learning media of culture and local wisdom values. The narration of folklore according to its function must be accompanied by certain accentuations so the moral values contained in the folklore can be understood by children. The folklore of Legenda Batu Anak Daro (in English, the Legend of Bride’s Stone) is Padangpanjang folklore that hasn’t been recognized and conserved yet so it can be imagined that in the next generations, Legenda Batu Anak Daro will not be known anymore. Legenda Batu Anak Daro can be conserved through the writing and the digital book. The final objective of conserving this reading culture is to repopularize folklore, particularly among children. It’s expected that children are able to know folklores that exist in their surrounding so later they will love the existing folklores more.Keywords: folklore, reading, Legenda Batu Anak Daro ABSTRAK Membaca adalah salah satu cara untuk mendapatkan informasi selain dengan mendengarkan dan melihat. Informasi yang didapatkan adalah informasi tertulis. Cerita rakyat adalah gambaran otentitas masyarakat yang mencerminkan perilaku dan budaya masyarakat setempat. Cerita rakyat yang merupakan bagian dari budaya Indonesia yang harus tetap dilestarikan, tentunya dengan penyesuaian dengan budaya terkini terutama dalam cara penyampaian agar bisa tetap diminati oleh anak-anak Indonesia sebagai sarana pembelajaran budaya dan nilai-nilai kearifan lokal. Penyampaian cerita rakyat sesuai fungsinya haruslah dibarengi dengan penekanan–penekanan tertentu, hal ini menjadi perlu dilakukan agar nilai moral yang terkandung dalam cerita rakyat dapat ditangkap oleh anak. Cerita rakyat Legenda Batu Anak Daro adalah cerita rakyat Padangpanjang yang belum dikenal dan belum dilestarikan sehingga bisa dibayangkan beberapa generasi kedepan Legenda Batu Anak Daro akan hilang begitu saja. Legenda Batu Anak Daro dapat dilestarikan melalui tulisan dan dengan buku digital. Tujuan akhir dari melestarikan budaya membaca ini adalah untuk mempopulerkan kembali cerita rakyat terutama di kalangan anak-anak. Diharapkan agar anak-anak bisa tahu cerita rakyat yang ada di sekitarnya sehingga pada nantinya ia akan lebih mencintai cerita rakyat yang ada

    KOMPOSISI LASAK BALENONG TAU AGAK

    Full text link
    ABSTRACT The composition of “Lasak Balenong Tau Agak” is inspired from the phenomenon of the travel drivers who experience many ups and downs in the roadway, whether with the passenger, other drivers, and other vehicles. This phenomenon is transformed into musical composition with various considerations correlated with its musical aspects. This composition is divided into three parts. First part is “Lasak” namely the phenomenon of travel drivers stigmatized as the reckless persons who have less controlled emotion that tends to end at the quarrel and accident. That phenomenon is embodied in the concept of musical disharmony. The second part is “Balenong” namely the travel route of the travel transport that starts from the departure point and returns to the initial point while utilizing the time as effective as possible. That travel route is analogized as a circle, embodied with the mathematical concept of music. The third part is “Tau Agak” namely travel drivers’ intelligence that can predict travel situation so, with their agility and compactness, they can drive fast and manage travel time well. This situation is analogized with the improvisation in playing the music. The methods used were first exploring the phenomenon of travel drivers and then capturing its essences into various atmospheres through several instruments namely erhu, lute, mandolin, accordion, dizzy, big talempong, small talempong, percussion set, and vocal. Keywords: Lasak Balenong Tau Agak, travel driver, disharmony, improvi-sation, talempong, gandang oguang.  ABSTRAK Karya komposisi musik “Lasak Balenong Tau Agak” terinspirasi dari fenomena supir travel yang banyak mengalami suka dan duka di jalan raya, baik dengan penumpang, sesama supir, dan kendaraan lainnya. Fenomena ini ditransformasi ke dalam garapan komposisi musik dengan berbagai pertimbangan yang dikorelasikan dengan aspek musikal Karya ini dibagi menjadi tiga bagian: Pertama, “Lasak”, fenomena supir travel dicap ugal-ugalan, emosi kurang terkontrol, bisa berujung pada pertengkaran dan kecelakaan. Fenomena tersebut diwujudkan dengan konsep disharmoni musik. Kedua, “Balenong”: rute perjalanan angkutan travel berawal dari titik keberangkatan dan kembali lagi ke titik awal, memanfaatkan waktu seefektif mungkin. Rute perjalanan itu dianalogikan seperti sebuah lingkaran, yang diwujudkan dengan konsep matematis musik. Ketiga, “Tau Agak”: kecerdasan para supir travel yang bisa memprediksi situasi perjalanan, sehingga dengan kegesitan dan kekompakan, mereka bisa melaju dengan cepat dan dapat mengelola waktu perjalanan dengan baik. Situasi ini dianalogikan dengan improvisasi dalam bermain musik. Metode yang digunakan  mengeksplorasi fenomena supir travel dan menangkap esensi-esensinya, kemudian ditransformasikannya ke berbagai suasana melalui beberapa instrumen erhu, kucapi, mandolin, akordeon, dizzy, talempong besar, talempong kecil, set perkusi dan vokal

    HIASAN DAN KALIGRAFI MAKAM SHADRUL AKABIR ‘ABDULLAH DI KABUPATEN ACEH UTARA

    Full text link
    ABSTRACT The tomb of Shadrul Akabir ‘Abdullah is one of the remains of Samudra Pasai kingdom. That tomb was brought from Gujarat in the 15th century. The ornament on this tomb is the mixture of two cultures namely Hindu and Islamic cultures. The mixture of Hindu and Islam cultures on Shadrul Akabir Abdullah’s tomb can be seen on its ornament and calligraphy writing. This tomb has historical value through calligraphy writing, and it can reveal the history of Islam’s entrance to Aceh. The mixture of those two cultures leaves the cultural traces that are interesting to be revealed. This research used the qualitative method; the researcher as the main instrument collected data in the field. Data collection was conducted through observation, interview, and documentation; data analysis was done according to the focus of the research. The research result was the decoration and calligraphy writing on Shadrul Akabir ‘Abdullah’s tomb gave the sign that Hindu and Islamic cultures existed in two conceptions. Keywords: decoration, calligraphy, shadrul akabir ‘abdullah’s tomb, aceh  ABSTRAK Makam Shadrul Akabir ‘Abdullah merupakan salah satu peninggalan kerajaan Samudera Pasai. Makam tersebut didatangkan dari Gujarat sekitar abad ke-15. Ornamen pada makam ini merupakan percampuran dua kebudayaan yaitu kebudayaan Hindu dan Islam. Perpaduan antara dua kebudayaan Hindu dan Islampada makam Shadrul Akabir ‘Abdullah dapat dilihat pada ornamen dan tulisan kaligrafi.Makam ini memilikinilai sejarah melalui tulisan kaligrafi;dapat menggungkap sejarah masuknya Islam ke Aceh.Persentuhan dua kebudayaan tersebut meninggalkan jejak-jejak kebudayaan yang menarik untuk diungkapkan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif; penelitii sebagai instrumen utama mengumpulkan data di lapangan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dokumentasi; analisis data dilakukan sesuai dengan fokus penelitian. Hasil; hiasan dan tulisan kaligrafi pada makam Shadrul Akabir ‘Abdullah memberikan pertanda bahwa kebudayaan Hindu dan Islam eksis dalam dua konsepsi

    FUNGSI MUSIK PADA TRADISI POTANG BALIMAU DI PANGKALAN KOTO BARU KABUPATEN LIMAPULUH KOTA

    Full text link
    ABTRACT Potang balimau is self-purifying tradition or ritual namely taking a bath by using potpourri and lime water. This ritual is conducted one day before entering fasting month or Ramadhan and started after Dzuhur salat until before Magrib azan. Potang balimau is people’s tradition in Pangkalan Koto Baru, Lima Puluh Kota district. In its implementation, potang balimau tradition involves several competitions such as qasidah, reading Quran, and decorating mimbau competitions. Mimbau is the combination of two sampans decorated with various kinds of form such as tiger, traditional house, warplane, and so on. Specifically, each mimbau prepares a set of talempong gondang oguang equipped with jimbe, tambourine, drum, and sarunai. Music is played on the mimbau as the part of potang balimau tradition. This research objective is to reveal the function of music in potang balimau tradition in Pangkalan Koto Baru. The method used was the qualitative method; the data collection was conducted through observation and observing potang balimau tradition especially music performance related to the ceremony, audio-visual documentation, and the interview with a number of customary and public figures. This research data was analyzed with Merriam’s theory of function. Keywords: potang balimau tradition, mimbau, function, music, Pangkalan Koto Baru    ABSTRAK Potang balimau adalah tradisi atau ritual mensucikan diri, mandi dengan bunga rampai dan air perasan jeruk nipis. Ritual ini dilaksanakan sehari sebelum memasuki bulan puasa Ramadhan dimulai setelah shalat dzuhur hingga sebelum adzan magrib berkumandang. Potang balimau adalah tradisi masyarakat Pangkalan Koto Baru, Kabuaten Lima Puluh Kota. Dalam pelaksanaannya tradisi potang balimau melibatkan beberapa perlombaan, seperti lomba qasidah, mengaji, dan menghias mimbau. Mimbau adalah gabungan dua buah sampan yang dihiasi dengan berbagai macam bentuk seperti harimau, rumah adat, dan pesawat tempur, dan lain sebagainya. Secara khusus, masing-masing mimbau mempersiapkan seperangkat talempong gondang oguang dan ditambah dengan jimbe, tamburin, drum, dan sarunai. Musik dimainkan di atas mimbau sebagai bagian dari tradisi potang balimau. Tujuan penelitian ini adalah mengungkap fungsi musik dalam tradisi potang balimau di Pangkalan Koto Baru. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif, pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan mengamati tradisi potang balimau,  khususnya pertunjukan musik yang terkait dengan upacara, dokumentasi audio dan visual serta wawancara dengan sejumlah tokoh adat dan masyarakat. Penelitian ini dianalisis dengan teori fungsi oleh Merriam

    PERUBAHAN TEKS PASAMBAHAN DARI RITUAL ADAT KE PERTUNJUKAN TARI PENYAMBUTAN TAMU

    No full text
    ABSTRACT Pasambahan is a negotiation through the art of speech in order to deliver an intention and objective in various traditional ceremonies of Minangkabau people. The art of arranging words in pasambahan is presented with the order of manners attended by the public  figures and  the  customary  figures;  and text  uttered  is  in  the form  of  simile or metaphor, pantun, prose, and synonim. Pasambahan is conducted by two groups namely alek (guest) and sipangka (host). Dialogue between alek and sipangka becomes an important part in every pasambahan. Pasambahan consists of several styles of negotiation theme according to the problem negotiated. Pasambahan undergoes expansion in the context of presentation, performer, and text delivered namely it doesn’t follow the main principles of pasambahan anymore such as pasambahan in the performance of Pasambahan dance. Pasambahan for performance is done one-way without dia- logue/negotiation; it doesn’t follow the structure, customary context, and rule of pasambahan anymore. This article aims at discussing the changes of pasambahan used for the performance in Pasambahan dance or for welcoming guests. Research results show that the change of text and the way of presenting pasambahan in dance performance undergo significant changes that tend to result on superficiality. Keywords: pasambahan, change, Pasambahan dance   ABSTRAK Pasambahan adalah beruding melalui seni tutur kata menyampaikan sesuatu maksud dan tujuan dalam berbagai upacara adat pada masyarakat Minangkabau. Seni merangkai kata dalam pasambahan disajikan dengan tatanan adab sopan santun, menghadirkan tokoh masyarakat, tokoh adat, dan teks yang diucapkan dalam bentuk tamsilan atau metafora, pantun, prosa, dan sinonim. Pasambahan dilakukan oleh dua kelompok, yaitu alek (tamu) dan sipangka (tuan rumah). Dialogantara alek dan sipangkamenjadi bagian penting dalam setiap pasambahan. Pasambahan terdiri atas beberapa ragam tema perudingan sesuai dengan masalah yang diperundingkan. Pasambahan mengalami perluasan pada konteks penyajian, pelaku, dan teks yang disampaikan, yaitu tidak lagi mengikuti prinsip-prinsip utama pasambahan, seperti pasambahan untuk pertunjukan tari Pasambahan. Pasambahan untuk pertunjukan dilakukan satu arah tanpa dialog/ berunding, tidak lagi mengikuti: struktur, konteks adat, dan aturan mainnya. Artikel ini bertujuan membahas perubahan pasambahan yang digunakan untuk pertunjukan pada tari Pasambahan atau untuk menyambut tamu. Hasil   penelitian menunjukkan bahwa perubahan teks dan cara menyajikan pasambahan pada pertunjukan tari mengalami perubahan yang signifikan, cenderung menjadi pen- dangkalan

    PERKEMBANGAN KESENIAN WARAK DUGDER DI KOTA SEMARANG MELALUI APROPRIASI BUDAYA

    No full text
    Penelitian ini mengkaji bentuk kesenian Warak Dugder yang bersumber dari tradisi Dugderan di Kota Semarang. Tujuan penelitian yakni untuk menunjukkan bentuk apropriasi budaya sebagai upaya perkembangan kesenian Warak Dugder. Kesenian Warak Dugder merupakan hasil apropriasi, meskipun secara teks Tari Warak Dugder merupakan hasil dari kreativitas maskot hewan rekaan Warak Ngendhog yang ada pada prosesi Dugderan. Adapun bentuk apropriasi yakni berupa pemunculan gerak-gerak Warak yang dibuat lebih variatif dan mementingkan unsur-unsur keindahan tari, properti yang digunakan dalam kesenian warak dugder juga bervariatif. Apropriasi yang dilakukan oleh pencipta maskot binatang rekaan Warak Ngendhog merupakan bentuk akulturasi dan kesetaraan budaya yang diadopsi dan diadaptasi secara kreatif, selektif, dan atraktif, tetapi masih bisa dikenali. Dengan demikian Tari Warak Dugder dapat dikatakan sebagai hasil dari proses apropriasi, berupa produk baru yang bersumber dari tradisi Dugderan di Kota Semarang

    JANGAN SEBUT ITU “BATIK PRINTING” KARENA BATIK BUKAN PRINTING

    Full text link
    ABSTRACT Batik is a culture in the history that proceeds in accordance with its civilization. Batik is a cultural history then becoming a world culture that want to be owned by many new civilizations. If Batik can be explained with the various basis of knowledge, then batik is a science in which there is special technique and process; Batik is Literature in which there are many stories, mantras, and beautiful prayers; Batik is a creativity which its every design is present individually; and Batik is an economy which is a clothing commodity plus art in one package. However Batik is not a printing, because Batik is a technique and process that together in it there is a motif/pattern with the produced artistic value and economic value. Therfore Batik should be seen in the form of  historical science (History), in the form of Arts and Creativity, even in the form of an unique marketing science. Keywords: batik, printing, printing batik, not batik, not printing  ABSTRAK Batik adalah sebuah budaya dalam sejarah yang masih berjalan sesuai dengan peradabannya. Batik adalah sebuah sejarah budaya yang mejadi budaya dunia yang ingin dimiliki banyak peradaban baru. jika Batik itu dapat dijelaskan dengan berbagai dasar ilmu, maka batik adalah sebuah Ilmu Pengetahuan yang di dalamnya terdapat teknik dan proses yang khusus, Batik adalah Sastra yang di dalam nya banyak kisah, mantra dan, doa yang indah, Batik adalah Kreatifitas yang setiap rancangannya hadir secara individual, dan Batik adalah perekonomian yang merupakan komoditi sandang dengan seni dalam satu kemasan. Tetapi batik bukan printing, karena Batik adalah sebuah teknik dan proses yang bersama di dalam nya ada motif /  pola dengan nilai seni yang dihasilkan, dan bernilai ekononi. Jadi batik seharus nya kita lihat dalam bentuk ilmu Sejarah, dalam bentuk Ilmu Seni dan Kreatifitas, bahkan dalam bentuk ilmu pemasaran yang unik

    KEBERADAAN TARI BARABAH MANDI PADA MASYARAKAT JORONG SUNGAI DADOK KENAGARIAN KOTOTINGGI KECATAN GUNUNG OMEH KABUPATEN LIMAPULUH KOTA

    No full text
    ABSTRACT This study aims at discussing about the exsistense of ‘Barabah Mandi’ dance in Lima Puluh Kota on mount omeh in Sungai Dadok, Kototinggi village, Gunung Omeh sub-district, Lima Puluh Kota district. The method used in this research was qualitative research, specifically, descriptive analysis. All data obtained, both written data and data from the field, has been collected and described, then analyzed according to the research problems that have been formulated. Theories used in this research refer to the existing theory by Y. Sumandiyo Hadi and thefunctional theory by Molinowski. The ‘Barabah Mandi’ dance still exists within its local community, and is often performed by women aged fifty until sixty five years and above. Keywords : Existence, Barabah Mandi dance, movement, Sungai Dadok   ABSTRAK Penelitian  ini  bertujuan  untuk  membahas  tentang    Keberadaan  tari  Barabah Mandi di Jorong Sungai Dadok Kenagarian Kototinggi Kecamatan Gunung Omeh Kabupaten Lima Puluh Kota. Metode yang di gunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif analisis, yaitu seluruh data yang diperoleh baik  data  tertulis  maupun  data  di  lapangan  dihimpun  dan  dijabarkan  kemudian dianalisis sesuai dengan permasalahan penelitian yang telah dirumuskan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini merujuk pada teori keberadaan oleh Y Sumandiyo Hadi, Selanjutnya teori fungsi oleh Molinowski. Tari Barabah Mandi sampai sekarang masih tetap eksis di tengah masyarakat pendukungnya, yang ditarikan oleh ibu-ibu berumur lima puluh sampai enam puluh lima tahun ke atas. Kata Kunci: Keberadaan, Tari Barabah Mandi, gerak, Sungai Dadok

    KOMPOSISI MUSIK GAMAT SEBAGAI BENTUK PENGEMBANGAN KESENIAN MELAYU MINANGKABAU

    Full text link
    ABSTRACT  Gamat is one of the types of Minangkabau traditional music that flourishes in the west coast area, Sumatera Barat. This music is born as the result of assimilation among Minangkabau indigenous culture and western culture (acculturation), that until today still lives in Minangkabau society, especially Padang city. Even though gamat music is born from the acculturation of indigenous culture and western culture but for the people of Padang city, that music is already considered as the possession and part of their tradition so there is the responsibility of those people to conserve it. The ensemble form of gamat music consists of the combination of vocal and instrumental, that traditionally uses violin, accordion, guitar, gendang, and bass as its instruments. Vocal has a role as song carrier that its lyric is in the form of metaphorical Minangkabau pantuns. However, in the research of this artwork, gamat is turned into the composition by using the approach of the conventional musical technique presented in the form of the orchestra. Keywords: gamat music, the composition of gamat music, the performance of gamat music  ABSTRAK Gamat adalah salah satu jenis musik tradisional Minangkabau yang berkembang  di daerah pantai barat, Sumatera Barat. Musik ini lahir akibat perbauran antara budaya pribumi Minangkabau dan budaya Barat (akulturasi), yang sampai sekarang tetap hidup dalam masyarakat Minangkabau, khususnya di Kota Padang. Walaupun musik gamat lahir dari akulturasi budaya pribumi dan budaya Barat, tetapi bagi masyarakat Kota Padang musik tersebut sudah dianggap sebagai milik dan bahagian dari tradisi mereka, sehingga ada rasa tanggung jawab bagi masyarakat tersebut untuk melestarikannya.   Bentuk ensambel musik gamat terdiri atas gabungan vokal dan instrumental, yang secara tradisional menggunakan biola, akordeon, gitar, gendang, dan bas sebagai instrumennya. Vokal berperan sebagai pembawa lagu yang  liriknya berupa pantun-pantun Minangkabau yang bersifat metafor (kiasan). Akan tetapi, dalam penelitian karya seni ini, gamat diubah menjadi komposisi dengan menggunakan pendekatan teknik musik konvensional yang disajikan dalam bentuk Orkestra

    KOMPOSISI MUSIK LAREH NAN BUNTA: PERSILANGAN LAREH KOTO PILIANG DAN LAREH BODI CANIAGO

    Full text link
    ABSTRACT  This writing discusses lareh system in Minangkabau. Lareh in Minangkabau language is the customary law aegis applied in every village. There are four larehs that evolve in Minangkabau namely Lareh Nan Panjang, Lareh Koto Piliang, Lareh Bodi Caniago, and Lareh Nan Bunta. Lareh Nan Bunta is not yet known in Minangkabau. It’s hard to find the sources about Lareh Nan Bunta, even its note is often the opposite of what happens in the field. There are three concepts that become the main point of implementation of the governmental system of Lareh Nan Bunta namely bapucuak bulek, baurek tunggang, and tan di langik rajo di sandi. Those three concepts contain the philosophical values of Minangkabau custom summarized in the packet of thick Islamic law. This thing is then interpreted into the composition of archipelagic music by using methods such as research (library research and field research), interview and data collection, studio work, and evaluation. Keywords: lareh, nan panjang, koto piliang, bodi caniago, nan bunta.    ABSTRAK Tulisan ini membahas tentang sistem kelarasan di Minangkabau. Kelarasan atau lareh dalam bahasa Minangkabau merupakan payung hukum adat yang dipakai tiap nagari. Ada empat kelarasan yang berkembang di Minangkabau, yaitu: Lareh Nan Panjang, Lareh Koto Piling, Lareh Bodi Caniago, dan Lareh Nan Bunta. Lareh Nan Bunta belum begitu dikenal di Minangkabau. Sulit menemukan sumber mengenai Lareh Nan Bunta bahkan catatannya sering berseberangan dengan apa yang terjadi di lapangan. Ada tiga konsep yang menjadi pokok utama pelaksanaan sistem pemerintahan Lareh Nan Bunta, yaitu bapucuak bulek, baurek tunggang, dan tan di langik rajo di sandi. Tiga konsep tersebut mengandung nilai-nilai falsafah adat Minangkabau yang terangkum dalam bingkisan hukum Islam yang kental. Hal ini kemudian diinterpretasaikan ke dalam bentuk komposisi musik Nusantara dengan menggunakan metode di antaranya: riset (studi literatur dan studi lapangan), wawancara dan pengumpulan data, kerja studio, dan evaluasi

    95

    full texts

    110

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Melayu Arts and Performance Journal
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇