Melayu Arts and Performance Journal
Not a member yet
110 research outputs found
Sort by
TARI TABUT SEBAGAI MANIFESTASI BUDAYA MASYARAKAT KOTA BENGKULU
This research aims at discussing Tabut dance as the cultural manifestation of Bengkulu people. Tabut dance is a creation dance sourced from Tabut ritual, namely a ritual sourced from Syiah Islam, but it has grown and developed into the typical culture of Bengkulu people. Various rituals in Tabut were symbolically arranged into a new dance namely Tabut dance. This Tabut dance is perfomed every year in Tabut celebration and several other big events whether it’s inside the Bengkulu city or outside the city. This research is a qualitative research with descriptive and analytical natures. Result achieved in this research is that Tabut dance is the cultural manifestation of Bengkulu people based on the rituals existing on Tabut ritual that is than actualized into a creation dance.Keywords: Tabut dance, Tabut ritual, cultural manifestation, Bengkulu people.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk membahas tari Tabut sebagai manifestasi budaya masyarakat Kota Bengkulu. Tari Tabut merupakan tari kreasi yang bersumber dari ritual Tabut, yaitu suatu ritual yang berasal dari Islam Syiah, tetapi telah tumbuhdan berkembang menjadi budaya khas masyarakat Kota Bengkulu. Berbagai ritusyang ada di dalam Tabut ditata secara simbolik menjadi tarian baru, yaitu tari Tabut. Tari Tabut ini ditampilkan setiap tahunnya dalam perayaan Tabut dan beberapa event besar lainnya baik di dalam maupun di luar Kota Bengkulu. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif dan analisis. Hasil yang dicapai dalam penelitian ini adalahbahwa tari Tabut merupakan menifestasi budaya masyarakat Kota Bengkulu yangberakar dari ritus-ritus yang ada pada ritual Tabut yang diwujudkan dalam bentuktarian kreasi.Kata Kunci: Tari Tabut, ritual Tabut, manifestasi budaya, masyarakat Kota Bengkulu
PARABOLIC DRAMA: PENYANGKALAN TEORETIK TERHADAP TEATER ABSURD
ABSTRACTSamuel Beckett's Waiting for Godot is one of the dramas that Martin Esslin calls the Absurd Theater. Furthermore, For Esslin, Theater of the Absurd is not only a term but a theater theory to know conventions and understand the meaning of a drama. In this way, Esslin puts the Absurd Theater into the trajectory of the development of the world's theater arts style, as well as leading the reader or audience to a perception that the life or routine that humans live in is meaningless, pointless and futile. However, the Theater of the Absurd, in the view of Michael Y. Bennett, a term that is supported by unstructured and abstract concepts. Therefore, it is necessary to develop an alternative, a term which he calls Parabolic Drama. A more structured term in understanding Waiting for Godot and other dramas that contain parallel philosophical values. This article tries to explain the dialectic of the two theater theories above, the extent to which they can bind one drama and encompass another drama. ABSTRAKWaiting for Godot karya Samuel Beckett merupakan salah satu drama yang disebut dengan istilah Teater Absurd oleh Martin Esslin. Lebih jauh, Bagi Esslin, Teater Absurd tidak hanya suatu istilah melainkan teori teater untuk mengetahui konvensi serta memahami makna suatu drama. Dengan begitu, Esslin menempatkan Teater Absurd ke dalam lintasan perkembangan gaya seni teater dunia, sekaligus menggiring pembaca atau penonton pada suatu persepsi bahwa kehidupan atau rutinitas yang dijalani manusia tidaklah bermakna, tidak ada tujuan dan sia-sia. Namun, Teater Absurd, menurut pandangan Michael Y. Bennett, istilah yang didukung oleh konsep-konsep yang tidak terstruktur serta abstrak. Oleh karena itu, perlu dibangun suatu alternatif,istilah yang disebutnya dengan Parabolic Drama.Istilah yang lebih terstruktur dalam memahami Waiting for Godotserta drama lain yang mengandung nilai filosofis yang sejajar.Artikel ini mencoba memaparkandialektika kedua teoriteater di atas,sejauh mana keduanya dapat mengikat suatu drama dan melingkupi drama lainnya.
PERJALANAN KREATIF KELOMPOK KANTOR TEATER JAKARTA “SEBUAH KELAHIRAN YANG SAKIT”
ABSTRAK Tulisan ini adalah studi pendahuluan atas fenomena Kantor Teater Jakarta (KTJ), sebuah kelompok teater yang menolak keberadaan sutradara dalam setiap proses kreatifnya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif untuk merekam perjalanan kreatif KTJ dalam perspektif teori habitus Pierre Bourdieu. Studi ini menggambarkan awal perjalanan kreatif KTJ yang penuh dengan 'pengalaman rasa sakit', sering mengalami keterbatasan ruang dan penolakan dari masyarakat, dan juga sering menghadapi para petugas keamanan yang kerap mengebiri kreativitas mereka. Keterbatasan ruang, keglamoran dan eksklusivitas gedung dan pertunjukan teater di Indonesia membuat mereka merumuskan konsep 'teater portabel'. KTJ menghadapi eksklusivitas keglamoran itu dengan 'melemparkan tubuh aktor keluar dari panggung' dan membuat panggung teater mereka sendiri di jalanan. Melalui cara ini KTJ dapat pentas di mana pun mereka ingin.Kata Kunci : Kantor Teater Jakarta, menolak sutradara, glamoritas, eksklusifisme, teater jalanan, habitus This paper is a preliminary study of the phenomenon of the Kantor Teater Jakarta (KTJ), a theatre group that rejects the existence of a director in every creative process. This study uses qualitative research methods to record KTJ's creative journey in the perspective of Pierre Bourdieu's habitus theory. This study describes the beginning of KTJ's creative journey that is full of 'painexperiences', often experiences limited space and opposition from the community, and also often confronts ecurity officers who often castrate their creativity. Space limitations, glamorous, and exclusivity of theatre and performances in Indonesia made them formulate the concept of 'portabletheatre'. KTJ faces this glamorous exclusivity by 'throwing the actors bodies out of the stage' and making their own theatre on the streets. In this way KTJ can perform wherever they want. Keywords: Kantor Teater Jakarta, theatre group, rejecting directors, street theatre, habitus
FOTOGRAFI ORANG GILA DI JALANAN DENGAN TEKNIK INCIDENTAL DOCUMENTARY PHOTOGRAPHY
ABSTRACT Crazy person on the street is a very obtrusive figure who becomes the center of people's attention because s/he has different attitudes and behavior such as how to dress, how to walk, and so on from normal people. This condition is the reason why the figure of crazy person on the street is very exotic to be perpetuated. One of ways to perpetuate this phenomenon is by recording all activities of crazy person on the street through photography lens. Technique used in this perpetuation was by documenting incidental or undirected phenomena. This technique would produce very natural and expressive photos. Crazy person on the street lives casualy and doesn't really care with his/her environment. This indifference required author's patience particularly while recording all activities of this crazy person by following this crazy person's footsteps on the street. Photos resulted showed that there are various expressions of crazy person on the street. All artworks would be alive when each artwork with the same phenomenon has its own message. Keywords: ABSTRAK Orang gila di jalanan merupakan sosok yang sangat menonjol dan menjadi pusat perhatian masyarakat, karena memiliki perbedaan sikap, cara berpakaian, cara berjalan dan sebagainya dengan manusia normal. Kondisi ini menjadikan sosok orang gila di jalanan sangat eksotis untuk diabadikan. Saah satu cara mengabadikan fenomena ini adalah dengan merekam semua aktifitas orang gila di jalanan lewat lensa fotografi. Teknik yang digunakan dalam pengabadian ini adalah mendokumentasikan fenomena yang bersifat indidental atau tidak disutradarai atau diarahkan. Teknik ini akan meng-hasilkan foto yang sangat natural dan ekspresif. Orang gila di jalanan hidup dengan santai dan tidak begitu peduli dengan lingkungannnya. Sikap acuh tak acuh ini membuat pengkarya harus dengan sabar merekam seluruh aktifitas dengan mengikuti langkah kaki orang gila di jalanan. Foto-foto yang dihasilkan memperlihatkan ekspresi orang gila di jalanan yang sangat beragam. Seluruh karya akan menjadi hidup dengan pesan yang masing-masingnya berdiri sendiri dengan fenomena yang sama
PEMBINAAN SASTRA DALAM PERTUNJUKAN INDANG DI NAGARI TANDIKAT KECAMATAN PATAMUAN
ABSTRACT Indang art in Pariaman continues to undergo development. Therefore, the language used in indang must be developed too particularly for anticipating today era. Indang language is literary language, particularly Minangkabau literature. Hence the coaching of language development for indang group particularly for tukang dikie and tukang karang must be conducted. The objective of this service is to coach and give suggestion or input toward an indang group about how important the literary language is.As the traditional art that respects nature as its teacher, indang always follows the changes that occur in its surrounding environment. It tries to put itself in the nature that undergoes the changes. The traditional people see nature as a system that’s conformable and previously arranged by a power beyond human’s power and these people are in that balance system. Indang art can last until today because it has the mechanism that enables these changes to occur. Therefore on one side, the system or stability is not shaken but on the other side, changes or renewals occur. The changes and renewals that occur in indang piaman thus will also be seen as the part of harmony in the existing system. Therefore the changes and renewals are not only a process that occurs because of the external factor but also the internal factor. Keywords: indang, tukang karang, tukang dikie ABSTRAK Kesenian indang di Pariaman terus mengalami perkembangan. Untuk itu bahasa yang ada dalam indang juga harus meningkat, terutama menyikapi zaman hari ini. Bahasa indang adalah bahasa sastra, terutama sastra Minangkabau. Maka pembinaan pengembangan bahasa terhadap kelompok indang, terutama tukang dikie dan tukang karang perlu diadakan. Tujuan dari pengabdian ini adalah membina dan memberikan masukan terhadap satu kelompok indang, pentingnya bahasa sastra.Sebagai kesenian tradisional yang menghargai alam sebagai gurunya, indang selalu mengikuti perubahan yang terjadi pada alam lingkungannya tersebut. Mereka berusaha menempatkan diri dalam alam yang mengalami perubahan. Masyarakat tradisional melihat alam sebagai suatu tatanan yang selaras dan telah diatur oleh suatu kekuatan di luar kekuatan manusia dan mereka berada dalam tatanan keseimbangan itu.Kesenian indang bisa bertahan sampai hari ini karena memiliki mekanisme yang memungkinkan perubahan-perubahan itu terjadi, sehingga pada satu pihak tatanan atau stabilitas tidak terguncang tapi pada pihak lain perubahan atau pembaharuan terjadi. Perubahan dan pembaharuan yang terjadi pada indang piaman dengan demikian akan dilihat juga sebagai bagian dari keselarasan dalam tatanan yang ada. Perubahan dan pembaharuan dengan demikian pula tidak hanya suatu proses yang terjadi karena pengaruh dari luar akan tetapi juga dari dalam
KOMPOSISI BAKONSI ATE KOWO
Karya komposisi “Bakonsi Ate Kowo” terinspirasi dari fenomena sosial Bakonsi yang merupakan kegiatan gotong royong atau kerja sama dalam membersihkan ladang dan perkebunan di nagari Koto Tuo Kecamatan Sungai Tarab Kabupaten Tanah Datar. Kegiatan ini dilakukan oleh wanita-wanita paruh baya yang beranggotakan lima sampai dengan sepuluh orang. Hingga saat ini bakonsi menjadi mata pencaharian bagi mereka, adapun wanita-wanita paruh baya ini memiliki suka duka dalam menjalani kehidupan. Hal ini yang mendorong para pelaku bakonsi saling berkomunikasi dengan berbalas pantun sambil berdendang pada saat kegiatan membersihkan ladang dan perkebunan. Apapun dendang yang mereka nyanyikan, mereka menyebutnya dengan dendang Ate Kowo dan pantun-pantun yang mereka lantunkan berisikan tentang parasaian iduik. Berdasarkan dari kegiatan bakonsi ini maka dapatlah suatu prinsip kerja yang hadir dalam kegiatan tersebut
PAYAH LALOK: KOMPOSISI MUSIK ALEATORIC DALAM FORMAT ORKESTRA
Payah Lalok merupakan sebuah karya seni musik yang terispirasi dari fenomena sosial Insomnia. Insomnia merupakan suatu gejala kelainan dalam tidur yang membuat sipenderita susah atau sulit untuk tidur. Insomnia juga sering disebabkan oleh adanya suatu penyakit atau akibat adanya permasalahan psikologis. Gejala yang dirasakan oleh sipenderita seperti kesulitan untuk tidur, gangguan emosional (Kecemasan, Kegelisahan dan Depresi). Berdasarkan defenisi imsomnia diatas pengkarya tertarik untuk menciptakan sebuah karya musik Aleatoric dengan menggunakan teknik komposisi musik avand garde yang menjadikan alat musik barat sebagai media penyampaian isian karya. Metode penciptaan dilakukan dengan beberapa pengelompokan kerja: Metode pengembangan konsep (observasi, wawancara, pengumpulan data dan perumusan konsep) dan metode mewujudkan konsep (eksplorasi, eksperimentasi, dan aplikasi). Dalam penggambaran ekspresi dan sisi emosional penderita Insomnia, karya komposisi musik ini dibuat kedalam bentuk empat bagian, yang masing-masing diberi judul Nio Lalok, Talayang, Naiak Darah dan Lalok. Selanjutnya komposisi ini disajikan dengan harapan agar mengetahui dan menyadari fenomena umum yang terjadi didalam kehidupan masyarakat serta memberi tawaran berupa terapi musik untuk meditasi tidur
Struktur dan Perkembangan Motif Pinto Aceh
Pinto aceh motif is one of crafts that has existed as the ornament and rapidly evolves in Aceh. Pinto aceh motif is formed of the flora and fauna elements sourced from the wealth of Aceh sea and the geometrical motif element. Overall, the pattern of pinto aceh motif is symmetrical. The creation of pinto aceh motif evolves by experiencing the stylization of basic form into creation one. Its usage is not only on brooch and pendant but also on various textile media, wood, concrete, and metal. This article aims at discussing the structure and development of pinto aceh motif until becoming the ornaments. This study used the descriptive qualitative method. The data collection was conducted through observation, interview, and photo documentation to analyze the details of the structure and development of pinto aceh motif. The structure of pinto aceh motif was analyzed by using the theory of form and structure; while its development was analyzed by using the theory of creativity. The research results show that pinto aceh motif is made in the symmetrical pattern, its stuffing is sourced from the flora and fauna, its basic frame is inspired from pinto khop building, and its development has been widely applied on various crafts. Therefore its structure has been largely created.Keywords: structure, pinto aceh motif, development, flora and fauna, symmetricalAbstrakMotif pinto aceh merupakan salah satu seni kriya yang telah berwujud menjadi ornamen yang berkembang pesat di Aceh. Motif pinto aceh terbentuk dari unsur flora, fauna yang bersumber dari kekayaan laut Aceh, dan unsur motif geometris. Secara keseluruhan pola motif pinto aceh adalah simetris. Penciptaan motif pinto aceh berkembang mengalami stilisasi dari bentuk dasar menjadi kreasi. Penggunaannya tidak hanya pada bros dan liontin saja, namun juga pada berbagai media tekstil, kayu, beton, dan logam. Artikel ini bertujuan membahas struktur dan perkembangan motif pinto aceh hingga menjadi ornamen. Kajian ini menggunakan metode kualitatif bersifat deskriptif. Pengumpulan data dilakuan melalui pengamatan, wawancara, dan dokumentasi foto untuk menelaah detail struktur dan perkembangan motif pinto aceh. Struktur motif pinto aceh dianalisis dengan teori bentuk dan struktur, sedangkan perkembangannya dianalisis dengan teori kreativitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, motif pinto aceh dibuat dalam pola simetris, isiannya bersumber dari flora dan fauna, kerangka dasar terispirasi dari bangunan pinto khop, dan perkembangan motif pinto aceh telah banyak diterapkan pada berbagai hasil kerajinan, sehingga strukturnya telah banyak dikreasikan
STRATEGI PENGELOLAAN ORGANISASI SENI Studi Kasus: Young Musical Fantasy
ABSTRACT This research aims at knowing the internal and external factors of the condition of art organization that becomes the medium of musical learning in Young Musical Fantasy in order to become the basis of arranging the alternative of management strategy in this organization. The method used in this research was the descriptive qualitative method with the approach of the case study. The analysis unit of this research was the staff management of Young Musical Fantasy, and the technique of data collection in this research was by doing the interview with interviewees believed to be able to give accurate information. Researcher also conducted the field study. Data were processed by using table IFE & EFE Matrix, SWOT Matrix, and IE Matrix obtained through the analysis of strength, weakness, opportunity, and threat. The result of this research shows that by looking at the position of Young Musical Fantasy through SWOT analysis, it shows Hold and Maintain, and generic strategy that must be applied by Young Musical Fantasy is the stability strategy in which the community maintains its community size and its existing products for its consumers.Keywords: external and internal analysis, SWOT analysis, generic strategy, and strategy variation ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor internal dan eksternal kondisi dari organisasi seni yang menjadi wadah pembelajaran musik pada Young Music Fantasy sebagai dasar dalam menyusun alternatif strategi pengelolaan pada organisasi ini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus.Unit analisis penelitian ini adalah staff management dari Young Musical Fantasy dan teknik pengumpulan data dalam penelitian ini, yaitu dengan melakukan wawancara kepada narasumber yang dipercaya dapat memberikan informasi yang akurat.Peneliti juga melakukan penelitian lapangan. Data diproses dengan menggunakan tabel IFE & EFE Matrix, SWOT Matrix dan IE Matrix yang diperoleh melalui analisis kekuatan, kelemanan, peluang dan ancaman.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dengan melihat posisi Young Musical Fantasy melalui analisis SWOT menunjukkan Hold and Maintain(pertahankan dan pelihara), strategi generik yang mestinya dijalankan Young Musical Fantasy adalah strategi stabilitas, dimana komunitas mempertahankan ukuran komunitasnya dan mempertahankan produk yang telah ada kepada konsumennya
TRANSFORMASI ORNAMEN RUMOH ACEH TEUNGKU CHIK AWEE GEUTAH PADA RAPA’I ACEH
ABSTRACT The ornament of Rumoh Aceh (Aceh’s house) Teungku Chik Awee Geutah is one of the cultural legacies in the form of carving that has been rare to be found on mediums. Based on that phenomenon, the interest of transforming the ornaments on rapa’i has become an idea in the creation of an artwork (craft artwork). The aim of this artwork creation is the personal’s or craftsmen’s and rapa’i art performer’s understanding/realization that the concept of transformation in the cultural treasury is very broad and it’s always available to be studied further for creative work. Besides that, it also develops a cultural heritage by offering the beautiful values of rapa’i and ornament so it can be owned and fancied more by Aceh people. The methods used in the concept of creation consisted of several stages namely the exploration stage, the designation stage, and the embodiment stage. The materials used consisted of tualang wood, bamboo, goatskin, and parchment cowskin. The techniques used in this artwork were bubut technique, low-carving technique, middle-carving technique, and finishing melamine system. The form of artwork created was three-dimensional artwork namely percussion instrument carved with the ornaments of Rumoh Aceh Teungku Chik Awee Geutah transformed on the baloh (frame wall) of rapa’i. Keywords: ornament, rumoh aceh teungku chik awee geutah, rapa’i aceh, transformation ABSTRAK Ornamen rumoh Aceh Teungku Chik Awee Geutah merupakan salah satu warisan budaya berupa ukiran yang telah langka ditemukan di media-media. Berdasarkan fenomena tersebut ketertarikan untuk metrasformasikan ornamen pada rapa’i telah menjadikan suatu ide dalam penciptaan sebuah karya seni (seni kriya). Tujuan penciptaan karya adalah untuk memahami/menyadari secara personal maupun para kriawan dan pelaku seni rapa’i bahwa konsep tranformasi pada khasanah budaya sangat luas dan selalu tersajikan untuk ditela’ah dalam berkarya. Selaras dengan itu juga mengembangkan suatu warisan budaya dengan menawarkan nilai keindahan rapa’i dan ornamen untuk dapat lebih dimiliki dan digemari oleh masyarakat Aceh. Metode yang digunakan dalam konsep penciptaan yaitu melalui beberapa tahap, tahap eksplorasi, tahap perancangan, dan tahap perwujudan. Bahan yang digunakan yaitu terdiri dari kayu tualang, bambu, kulit kambing, dan kulit sapi perkamen. Teknik yang digunakan pada karya ini yaitu teknik bubut, teknik ukir rendah, ukir sedang, dan finishing melamine system. Bentuk karya yang diciptakan merupakan karya tiga dimensi yaitu alat musik perkusi yang terukir ornamen Rumoh Teungku Chik Awee Geutah yang ditransformasi pada baloh (dinding frame) rapa’i