Melayu Arts and Performance Journal
Not a member yet
    110 research outputs found

    DAMPAK TEKNOLOGI ATAS NILAI-NILAI SOSIAL PADA TRADISI BEKARANG SEBAGAI SUMBER PENCIPTAAN KARYA TARI SANGKUT DAK MENYAUH

    Full text link
    The dance work entitled "Sangkut Dak Menyauh" is inspired by the Bekarang tradition of the Muaro Jambi community. Bekarang tradition is a fishing tradition that is carried out jointly by using tangkul, lukah, jalo. Bekarang has become one of the community traditions that must be preserved, but along with the development of the times this tradition has changed, due to the capture factor that utilizes technology with various cheats to meet human interests practically so that it can damage fish habitats and the wider environment. The instructor interpreted the impact of technology on influencing social values in the Bekarang tradition as a personal expression in the form of contemporary dance with an abstract type of environmental theme that conveys social values. The methods of creation include feeling, research, exploration of the nature of the center, improvisation, formation, and evaluation. The work consists of three parts. First abstracting the behavior of humans who abuse technology against living things. Second, how technology destroys living things. These three symbols are ritual values. ABSTRAKKarya tari yang berjudul “Sangkut Dak Menyauh” terinspirasi dari tradisi Bekarang masyarakat Muaro Jambi. Tradisi Bekarang merupakan sebuah tradisi penangkapan ikan yang dilakukan secara bersama-sama dengan menggunakan tangkul, lukah, jalo. Bekarang menjadi salah satu tradisi masyarakat yang harus dilestarikan, namun seiiring dengan perkembangan zaman tradisi ini mengalami perubahan,  yang disebabkan faktor penangkapan yang memanfaatkan teknologi dengan berbagai kecurangan untuk memenuhi kepentingan manusia secara praktis sehingga dapat merusak habitat ikan dan lingkungan lebih luas. Pengkarya menginterpretasikan dampak teknologi memengaruhi nilai sosial dalam tradisi Bekarang sebagai ekspresi personal dalam bentuk tari kontemporer dengan tipe abstrak tema lingkungan yang menyampaikan nilai-nilai sosial. Metode penciptaan diantaranya merasakan, riset, eksplorasi sifat sentrum, improvisasi, pembentukan, dan evaluasi. Karya terdiri dari tiga bagian. Pertama mengabstraksikan tingkah laku manusia yang menyalahgunakan teknologi terhadap makhluk hidup. Kedua bagaimana teknologi menghancurkan makhluk hidup. Ketiga simbol nilai ritual.Kata Kunci:  sangkut dak menyauh; kontemporer; tradisi bekarang; dampak teknologi; nilai sosia

    KAJIAN KRITIS TERHADAP PESERTA LOMBA FLS2N CABANG TARI TINGKAT SMP TAHUN 2019 DI PROVINSI SUMATERA BARAT

    Full text link
    FLS2N is one of the most prestigious competency events in the West Sumatra region. The event provided a platform to continue to hone creativity and develop West Sumatra typical dances. Traditional Minangkabau values are one of the creative sources in packaging the dances that are presented in the competition stems at FLS2N. This study aims to analyze the extent to which the development of dance offerings in dance competition participants in West Sumatra Province. The focus of this research is the winners of the junior high school dance branch in 2019 in West Sumatra Province. This research is a qualitative research with a case study approach, with data collected through direct observation and interview techniques. The results of the study show that seen from critical fist, the dance performances of the winners of the competition at the West Sumatra Province level in 2019 still use motion patterns that tend to repeat old styles and forms. That is, choreologically, it tends not to be well developed. Meanwhile, there is still a tendency for many dance numbers to give less space to female dancers. It is an unfortunate fact that considering history shows that in fact female choreographers were the developers of contemporary Minangkabau dance.ABSTRAKFLS2N Cabang Tari adalah salah satu ajang kompetensi yang bergensi diwilayah Sumatera Barat. Acara tersebut memberikan sebuah wadah untuk terus mengasah kreativitas dan mengembangkan tarian-tarian khas Sumatera Barat. Nilai-nilai tradisional Minangkabau merupakan salah satu sumber kreatif dalam mengemas tari-tari yang disajikan pada tangkai lomba di FLS2N. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana perkembangan sajian tari pada peserta lomba cabang tari di Provinsi Sumatera Barat. Fokus penelitian ini adalah para pemenang dari cabang tari tingkat SMP pada Tahun 2019 di Provinsi Sumatera Barat. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus,dengan data yang dikumpulkan melalui Teknik pengamatan langsung dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dilihat dari tinjuan kritis, maka sajian tari para pemenang lomba di tingkat Provinsi Sumatera Barat Tahun 2019 masih mengunakan pola gerak yang cenderung mengulang-ulang gaya dan bentuk yang lama. Artinya, secara koreologi cenderung tidak berkembang baik. Sementara itu, masih terdapat kecenderungan banyak nomor tarian yang kurang memberi tempat pada para penari perempuan.Kata Kunci: FLS2N, Tari Minangkabau, Kajian Kritis, Koreologi, Minangkaba

    PENCIPTAAN FILM “WAYANG PADANG” DENGAN PENDEKATAN FRENCH NEW WAVE

    Full text link
    ABSTRACTThe act of Wayang Padang generally tells about the threat of disintegration behind the turmoil of political world, indecision in the establishment of various regulations, disunity of a number of political parties, selective application of law, and endless corruption. These threats as if the fire in the husk, it cannot be seen from the outside but it’s on fire inside. All forms of  this turmoil are fire dots that’s getting bigger and bigger and then burnt down the pillar of this nation. Therefore, it can be concluded that Wisran Hadi through Wayang Padang  wants to rebuke and give awareness toward this nation. The process of film making done was fiction film with the style of French New Wave. Fiction film is often called as the type of second film. Fiction film should be tied to the plot and the story presented must be out of reality (scriptwriter’s imagination). Keywords: Wayang Padang, French New Wave, Film, Drama  ABSTRAKLakon Wayang Padang secara umum bercerita tentang ancaman desintegrasi dibalik kesemrawutan dunia politik, tarik ulur dalam berbagai penetapan undang-undang, perpecahan sejumlah partai, penerapan hukum yang tebang pilih, dan korupsi yang entah kapan berakhir.  Ancaman ini bagai api dalam sekam, tak tampak dari luar tapi nyala di dalam. Segala bentuk kesemrawutan itu adalah titik-titik api yang terus membesar, menjalar, dan membakar persendian bangsa. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa Wisran Hadi melalui Wayang Padang ingin menegur dan memberikan penyadaran terhadap bangsa ini. Proses penciptaan film yang dilakukan adalah film fiksi dengan gaya French New Wawe. Film fiksi sering juga disebut dengan jenis film kedua, film fiksi sebaiknya harus terikat dengan plot dan cerita yang disajikan harus diluar kenyataan (imajinasi penulis scenario). Katakunci: wayang padang, french new wave, film, dram

    PERANCANGAN PERTUNJUKAN TEATER LAKON "SENJA DENGAN DUA KELELAWAR" KARYA KIRDJOMULYO

    Full text link
    ABSTRAK Perancangan teater lakon “Senja Dengan Dua Kelelawar” karya Kirdjomulyo merupakan proses penciptaan teks lakon menuju pemanggungan atau pertunjukan teater. Proses penciptaan ini diawali dengan perancangan pertunjukan yang berisi tentang konsep, metode, dan perwujudannya diatas panggung.Perwujudan perancangan lakon Senja Dengan Dua Kelelawar karya Kirdjomulyo dalam sebuah pementasan teater diawali dengan melakukan analisis terhadap teks baik analisis struktur maupun tekstur lakon. Langkah tersebut ditindak lanjuti dengan perancangan bentuk pementasan dengan mengacu pada gaya lakon yakni gaya realisme. Gaya realisme adalah gaya dalam pertunjukan teater yang dihadirkan melalui dengan menjadikan realitas sehari-hari sebagai pijakan. Kata kunci: lakon, struktur dan tekstur, realisme  ABRSTRACT Kirdomulyo’s theatrical play called “Senja Dengan Dua Kelelawar” (translated loosely as “An Evening With A Pair Of Bats”) demostrates a creation process of play script which is translated into a theatrical performance.  The creation process started with a concept, methodology and the overall packge of theatrical performance.  The overal process of Kirdomulyo’s “Senja Dengan Dua Kelelawar” play started wtih a deep analysis on the scrript (both structural or texture of the play).  This is followed by the design formation of the overal theatrical performance with a style that put emphasize on the reality of day to day lives as a foothold  Key words: play, structure and texture, realisti

    SENI KALIGRAFI ARAB DALAM EKSPRESI PINTO ACEH

    Full text link
    ABSTRACTPinto Aceh is one of the art objects or motifs that are famous among the people of Aceh and inspired by Pinto Khop. Pinto Aceh was created in 1935 by Mahmud Ibrahim with gold in the form of brooch jewelry. The creation of Pinto Aceh nowaday seen as the aspect of form which is still applied as the initial form from it was created. Based on this phenomenon, the author wishes to create a new form of Pinto Aceh arts and combines it with Arabic calligraphy but still retains its distinctive form. Arabic calligraphy is one of the arts which is known as its religious values created from Arabic letters by embellished writing. In hope this will be an inspiration for art connoisseurs and the people of Aceh. The instructor conduct the research through observation and interview, while the exploration, design and formation stages use the selection of materials, techniques and tools in accordance with the visual that will be created. The method was chosen with the aim that innovation and creation of Pinto Aceh continue to develops. The creation of this work of art is realized by applying Arabic calligraphy following the expression form of Pinto Aceh that have been developed. The artman presents a new form that has never existed before. The media and the tools used are a unity that support the creation of this work. ABSTRAKPinto Aceh adalah salah satu benda kriya seni ataupun motif yang terkenal dikalangan masyarakat Aceh dan terinspirasi dari Pinto Khop. Pinto Aceh diciptakan pada tahun 1935 oleh Mahmud Ibrahim dengan bahan emas berupa perhiasan bros. Penciptaan Pinto Aceh sekarang ini ditinjau dari segi bentuk masih diterapkan sama seperti bentuk awal diciptakan. Berdasarkan fenomena tersebut pengkarya berkeinginan menciptakan bentuk karya baru Pinto Aceh mengkombinasikannya dengan kaligrafi Arab tetapi tetap mempertahankan bentuk khasnya. Kaligrafi Arab merupakan salah satu seni yang identik dengan nilai religi yang dibuat dari huruf Arab dengan cara penulisan yang diperindah. Diharapkan hal ini dapat menjadi inspirasi bagi para penikmat seni dan masyarakat Aceh. Pengkarya melakukan riset melalui observasi dan wawancara, sedangkan tahap eksplorasi, perancangan dan pembentukkan menggunakan pemilihan bahan, teknik dan alat sesuai dengan visual yang akan diciptakan. Metode tersebut dipilih dengan tujuan agar inovasi dan kreasi Pinto Aceh terus berkembang. Penciptaan karya seni ini diwujudkan dengan mengaplikasikan kaligrafi Arab mengikuti ekspresi bentik Pinto Aceh yang telah dikembangkan. Pengkarya menghadirkan bentuk baru yang belum pernah ada sebelumnya. Medium dan alat yang digunakan merupakan satu kesatuan yang mendukung untuk terciptakanya karya ini

    PEWARISAN TARI RAWAS DALAM MASYARAKAT SUKU SERAWAI DI KAWASAN MANNA, KABUPATEN BENGKULU SELATAN

    Full text link
    This paper discusses the rawas dance, which is the name of a dance that lives and develops in the Serawai ethnic community in Manna, South Bengkulu Regency. Applying a qualitative research approach with descriptive analysis methods, a review of the rawas dance is conducted to see: (2) the structure of the dance; (2) the rituals that follow; and (3) the creation myth behind it. Research shows that the rawas dance is sacred by the Manna community, because it is believed to be a dance created by a mystical force. The connection with this mystical power creates a myth about the creation of the rawas dance, which describes the process of creating this dance. The inheritance of the rawas dance then goes along with the inheritance of the myths about its creation. A form of inheritance, traditionally running from one generation to the next through a unique way of learning.Keywords: Rawas dance; Serawai myth; Menjambar ritual; dance inheritanceAbstrakTulisan ini membahas tentang tari rawas, yang merupakan nama salah satu tarian yang hidup dan berkembang dalam masyarakat suku Serawai di Manna, Kabupaten Bengkulu Selatan. Menerapkan pendekatan penelitian kualitatif dengan metode analisis deskriptif, tinjauan terhadap tari rawas dilakukan untuk melihat: (2)struktur tarinya; (2) ritual yang mengikutinya; serta (3) mitos penciptaan yang melatar belakanginya. Penelitian menunjukkan bahwa tari rawas disakralkan oleh masyarakat Manna, karena diyakini merupakan sebuah tarian yang diciptakan oleh suatu kekuatan mistis. Kaitan dengan kekuatan mistis ini menciptakan suatu mitos tentang penciptaan tari rawas, yang menggambarkan proses penciptaan tari ini. Pewarisan tari rawas kemudian berjalan bersama dengan pewarisan akan mitos tentang penciptaannya itu. Suatu bentuk pewarisan, berjalan secara tradisional dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui satu cara pembelajaran yang khas.Kata Kunci: Tari Rawas; ritual; mitos Serawai; ritual Menjambar; Pewarisan Tar

    TRANSKULTURASI MUSIK ANTARAGAMELAN JAWA, ANGKLUNG, DAN MUSIK TRADISI THAILAND

    Full text link
    Javanese gamelan and angklung to Thailand music gives the impact on the development of Thailand traditional music. That musical transculturation exists in the musical instrument of angklung and the musical concept of Javanese gamelan that are then mixed with the system of Thailand traditional music involving gamut (tuning system), presentment method, and its function in society. This transculturation shows the understanding of cultural relation between Thailand traditional music that has the background of Buddhism philosophy and Gamelan that has the background of Kejawen syncretism. These two kinds of music have formed the new characteristic and identity of Thailand music. Angklung played with the concept of Javanese gamelan called as angklung Thailand that then becomes Thailand traditional music. The article aims at revealing the transculturation of Javanese gamelan and angklung into the traditional music and its impact on the development of Thailand traditional music. This research used qualitative method with the accentuation in field research that involved researcher with the material object to delve various musical experiences by participating as the player of those two musical instruments. The transculturation of Javanese gamelan and angklung with Thailand traditional music has given the new development in Thailand traditional music. Keywords: Transculturation, Javanese gamelan, angklung, and Thailand traditional music  ABSTRAKTranskulturasi gamelan Jawa dan angklung ke Thailand memberikan dampak pada perkembangan musik tradisi Thailand. Transkulturasi musik itu berwujud pada alat musik angklung dan konsep musikal gamelan Jawa, kemudian bercampur dengan sistem musik tradisi Thailand, yang mencakup pada tangga nada (tuning system), carapenyajian, dan fungsinya dalam masyarakat. Transkulturasi inimemunculkan pemahaman relasi kebudayaan antara musik tradisi Thailand yang berlatar belakang filosofi Buddhisme dan gamelan yang berlatar belakang sinkretis kejawen. Kedua musik ini telahmembentuk ciri dan identitas baru musik Thailand.Angklung yang dimainkan dengan konsep gamelan Jawa yang disebut angklung Thailand selanjutnya menjadi musik tradisi Thailand. Artikel bertujuan mengungkap transkulturasi gamelan Jawa dan angklung ke musik tradisi serta dampaknya pada perkembangan musik tradisi Thailand. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan penekanan pada penelitian lapangan yang melibatkan peneliti dengan objek materialuntuk menggali berbagai pengalaman musikal dengan ikut serta bermain kedua musik itu. Transkulturasi gamelan Jawa dan angklung dengan music tradisi Thailand telah memberikan perkembangan baru pada musik tradisi Thailand. Kata kunci: transkulturasi, gamelan Jawa, angklung, dan musik tradisi Thailand

    PERANCANGAN TYPEFACE ITIAK PULANG PATANG

    Full text link
    The motif of itiak returns to patang is a sublime cultural heritage of Minangkabau. In Minangkabau society, there are three kinds of carvings that are inspired by nature. seen in the life of the Minangkabau people which still exist and are maintained until now. This idea was then developed into a concept for designing a visual typeface based on the back-to-back carving that has anatomical characters and the construction process is based on the rules in the typeface, so that this adaptation appears in Italic font. From engraved form to phonetic (single letter) its application as a font on a computer. After research and design, these ready-to-use fonts are socialized in the local area, prioritized at the education and government levels, which are used for the benefit of regional heads. The purpose of this design is to discuss and interpret the philosophical meaning contained in the carving, which reflects the life patterns of the Minangkabau people. This phenomenon is poured into the basic idea in creating an invincible typeface with the basic principles of typeface. This research method uses descriptive qualitative to reveal facts and circumstances by presenting what actually happened in the Minangkabau community. The approach used is a semiotic approach. ABSTRAKMotif itiak pulang patang merupakan warisan budaya luhur Minangkabau. Dalam masyarakat Minangkabau dikenal tiga macam jenis ukiran yang terinspirasi dari alam. terlihat dalam kehidupan masyarakat Minangkabau yang masih ada dan dipertahankan sampai sekarang. Ide ini kemudian dikembangkan menjadi sebuah konsep rancang visual typeface berbasis ukiran itiak pulang patang yang memiliki karakter anatomi dan proses konstruksi pembuatannya didasarkan pada kaidahkaidah dalam typeface, sehingga adaptasi ini muncul dalam rupa font Italic. Dari bentuk ukiran menjadi fonetik (huruf tunggal) aplikasinya sebagai font di komputer. Setelah penelitian dan perancangan, kemudian typeface yang siap pakai ini disosialisasikan di area lokal, diprioritaskan pada tingkat pendidikan dan pemerintahan, yang pada penggunaannya untuk kepentingan headline. Tujuan perancangan ini untuk membahas dan menginterpretasikan makna filosofis yang terkandung dalam ukiran itiak pulang patang yang mencerminkan pola kehidupan masyarakat Minangkabau. Fenomena ini dituangkan menjadi ide dasar dalam pembuatan typeface yang disesuaikan dengan prinsip dasar dalam typeface. Metode  penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif untuk mengungkapkan fakta dan keadaan yang ada dengan menyuguhkan apa yang sebenarnya terjadi dalam masyarakat Minangkabau. Adapun pendekatan yang digunakan adalah pendekatan semiotik.Kata kunci: typeface, itiak pulang patang, font Italic

    GEMA DI WAKTU SUBUH

    Full text link
    ABSTRACTGema di Waktu Subuh (in English, it’s translated into Echo at the Dawn Time) is the work of multimedia music with the method of sound exploration in the form of sound-design composition. This composition consists of manipulative sounds that describe the atmosphere occurring at the time of Subuh prayer in Salayo Tanang Bukit Sileh, Lembang Jaya sub-district, Solok district. This composition includes in illustration music that explores the sounds of nature at dawn such as river sound, cicada’s sound, rooster’s sound, vehicle sound, the sound of people’s reciting verses in Quran, and Shalawat Tahrim as the sign of the entrance of Subuh prayer time. Gema di Waktu Subuh was processed through the application of Digital Audio Workstation (DAW) cubase5 with the assistance of Virtual Sound Technology (VST) namely Waves 9, processed with producing 3d sound. Keywords: Multimedia Music, Manipulation, Exploration, Breaking Dawn Echo.  ABSTRAKGema di Waktu Subuh merupakan karya musik multimedia dengan metode eksplorasi bunyi dalam bentuk penggarapan Sound Design. Karya ini merupakan suara-suara manipulasi yang menggambarkan suasana yang terjadi ketika akan masuknya waktu sholat subuh di daerah Salayo Tanang Bukit Sileh Kecamatan Lembang Jaya Kabupaten Solok .Karya ini termasuk musik ilustrasi mengeksplorasi suara-suara Alam diwaktu  subuh, seperti: bunyi sungai, bunyi jangkrik, bunyi ayam berkokok, bunyi kendaraan, bunyi orang yang membacakan Tilawah ayat suci Al-Qur’an, dan Shalawat Tahrim sebagai penanda masuknya waktu sholat Subuh.Gema di Waktu Subuh diolah melalui sarana pengaplikasian Digital Audio Workstation (DAW) cubase5 dengan bantuan Virtual Sound Technology (VST) yaitu Waves 9, diolah dengan menghasilkansuara 3d sound. Kata kunci: Musik-Multimedia, Manipulasi, Eksplorasi, Gema-Shubuh.

    PENCIPTAAN FILM BABAN GALA: REPRESENTASI EKSPRESI PERSONAL SEBAGAI PANGHULU DI MINANGKABAU

    Full text link
    ABSTRACTBaban Gala isan audio visual workrelatedto personal expressionof a panghulu honorary title in Minangkabau. The title Panguluor Datuakis a hereditary title according to the Minangkabau customary Tambo based on maternal line age (matrilineal). Panghulu for the Minangkabau community has a great responsibility in managing their nephew in particular and the nagari (region) community in general. Carrying an honorary degree without being equipped with disciplines about customs, is a mental burdenon the environment. Based on that the author creates an audio visual artwork of fiction film type with the application of the concept of "representation" as a expressionof personal expression. The work manship method use sthe principle of filmmaking in general, namely the stages of pre-production (preparation process), production (manufacturing process), and post-production (packaging or preparation). ABSTRAKBaban Gala merupakan sebuah karya audio visual terkait ekspresi personal terhadap sebuah gelar kehormatan seorangpanghulu di Minangkabau. Gelar Pangulu atau Datuak adalah gelar turun temurun menurut Tambo adat Minangkabau berdasarkan garis keturunan ibu (matrilineal). Panghulu bagi masyarakat Minangkabau memiliki tanggung jawab besar dalam mengatur anak kemenakannya secara khusus dan masyarakat nagari (wilayah) secara umum. Menyandang gelar kehormatan tanpa dibekali disiplin ilmu tentang adat istiadat, adalah suatu beban mental terhadap lingkungan. Berdasarkan hal itu penulis menciptakan sebuah karya seni audio visual jenis film fiksi dengan penerapan konsep “representasi” sebagai wujud pengungkapan ekspresi personal. Metode garapan karya menggunakan prinsip pembuatan film pada umumnya, yaitu dengan tahapan pra produksi (proses persiapan), produksi (proses pembuatan), dan paska produksi (pengemasan atau penyusunan)

    95

    full texts

    110

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Melayu Arts and Performance Journal
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇