Melayu Arts and Performance Journal
Not a member yet
    110 research outputs found

    MUSIK JAZZ MELAYU DALAM KAJIAN KREATIVITAS

    Full text link
    AbstrackMusik Melayu adalah aliran musik tradisional yang bermula dan berkembang di wilayah pantai timur Sumatra, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya, musik ini biasanya dinyanyikan oleh orang-orang dari suku bangsa Melayu yang tidak jarang diiringi pula dengan tarian khas Melayu setempat misalnya tari Persembahan dalam perhelatan atau pesta adat, penyambutan tetamu kehormatan, dan dalam kegiatan keagamaan. Seiring dengan perkembangan zaman musik melayu mengalami perubahan gaya musik, misalnya seperti perpaduan dengan aliran musik pop, jazz, dan dangdut. Eksistensi dan konsistensi musik melayu diwujudkan dengan adanya proses kreativitas yang terdapat di.musik melayu tidak semata-mata bersikeras menjunjung nilai keasliannya saja, tetapi musik melayu selalu mengikuti ke mana arah perkembangan zaman. Hibriditas menjadi salah satu kekuataan musik melayu, dan membedakan jenis musik ini dengan yang lain. Musik melayu menerima segala perbedaan, bahkan musik melayu memadupadankan seluruh elemen yang ada. Dalam melihat proses yang terjadi, etnografi, metode penelitian seni dn pembacaan sejarah menjadi metode yang digunakan dalam menafsirkan fenomena yang ada

    MERANGKAI WARNA: EKSPLORASI LARAS “PELOG” DALAM PERMAINAN ‘OUD ARABIS BERBASIS GARAPAN “WORLD MUSIC”

    Full text link
    ABSTRACT This writing generally discusses the term “world music” and various musical creative approaches that have been done. This writing also descriptively reviews the composition of “Merangkai Warna” in the context of melodist’s idea, instrument, concept building, and musical practice in musical composition. The musical composition “Merangkai Warna” is a musical composition inspired from the conception of world music. This composition is a form of musical exploration, namely through a set of musical instrument ‘oud Arabis, it tried to fuse and synthesize musical idioms and aesthetics via the composition of pentatonic playing style found in the area of musical era in Asia. In this composition, there is a concept of a new rhythm play called as “hetero-poly-metric rhythmic structure,” in which the basis of rhythmical play is built on metrical 7 contra 3 pattern applied in the percussion play of kendangan Sunda and ’oud. Keywords: World music, pelog, pentatonic, hetero-poly-metric rhythmic structure  ABSTRAK Tulisan ini membicarakan secara umum tentang istilah “world music” dan berbagai pendekatan kreatif musikal yang telah dikerjakan. Tulisan ini juga mengulas secara deskriptif karya komposisi “Merangkai Warna” dalam konteks gagasan kompositoris, instrumetarium, bangunan konsep, dan praktik musikal dalam karya musik. Komposisi musik “Merangkai Warna” merupakan sebuah garapan musik berangkat dari konsepsi musik dunia (world music).  Karya ini merupakan sebuah bentuk eksplorasi musikal dimana melalui perangkat alat musik ‘oud Arabis mencoba untuk memfusikan dan mensintesiskan idiom dan estetika musik lewat garapan gaya permainan modus pentatonik yang terdapat di wilayah peradaban musik di Asia. Dalam karya komposisi ini tertuang satu konsep permainan ritme baru, yang disebut dengan “hetero-poly-metric rhythmic structure,” dimana dasar permainan ritmikal dibangun dari pola metrikal 7 kontra 3 yang dituangkan dalam permainan perkusi kendangan Sunda  dan ’oud. Kata Kunci: World music, pelog, pentatonic, hetero-poly-metric rhythmic structur

    FILM DOKUMENTER “BENA NA NA PIA NA NA NA’A” PADA TRADISI MEMBANGUN RUMAH SUKU BENA

    Full text link
    Bena tribe which originally from Nusa Tenggara Timur is one of the tribe that survive with its own tradition until today. One of their belief is a symbol of their house as a human. Thus, their houses have given name. Every house represents female or male. Since they start to design the house up to finalize the building process, it has 17 steps. Every step has its particular ritual, if they do mistake on the development  process, Bena Belief they will experience the disaster. Their custom is never well- documented, therefore Bena Na Na Pia Na Na Na’a as a documentary film  is designed as a visual archive in the form of video. The artistic research methods using qualitative approach. The data collection used ethic and emic observation, semi structured interview, and visual recording data. The result was analyzed and interpreted as a script, then collaborated using visual data to be a documenter film which inform the ritual, belief and development process of Bena Traditional House.Keywords: Documentary Film entitled Bena, Bena builds house, bena tribe.AbstrakSuku Bena dari Nusa Tenggara Timur merupakan suku yang masih mempertahankan tradisi leluhur hingga saat ini. Salah satunya adalah kepercayaan mengenai rumah sebagai wujud perlambangan manusia. Sehingga rumah di Suku Bena mempunyai nama yang berbeda. Setiap rumah dapat mewakili kaum perempuan maupun kaum laki-laki. Sejak rumah mulai dirancang hingga selesai dibangun terdapat 17 tahapan. Setiap tahapan mempunyai ritual khusus, jika terdapat kesalahan pada ritual, suku Bena percaya bahwa akan terjadi bencana. Adat yang telah diturunkan dari satu generasi ke generasi selanjutnya terutama dalam konteks membangun rumah dengan segala macam ritual dan kepercayaannya belum pernah didokumentasikan dengan baik secara visual. Oleh karena itu film dokumenter Bena Na Na Pia Na Na Na’a dirancang sebagai arsip visual dalam bentuk video. Metode penelitian artistik ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi emik dan etik, wawancara semi terstruktur serta pendokumentasian secara visual dalam bentuk video. Hasil yang didapat dilakukan analisis dan diterjemahkan menjadi naskah, kemudian dikolaborasikan dengan data visual sehingga menjadi sebuah film dokumenter yang dapat menginformasikan mengenai ritual, kepercayaan dan proses membangun rumah di suku Bena.Kata Kunci: Film Dokumenter Bena, Membangun rumah suku bena, Suku Ben

    FENOMENA SOSIAL ANAK TUNGGAL DALAM PENCIPTAAN KOMPOSISI MUSIK NUSANTARA “NYAK TUNGGA”

    Full text link
    This work aims to discuss the phenomenon that occurs in the social life of a single child. The only child is a child with no siblings. Based on the results of observations and research on several children who are reviewed from internal (family) and external (environmental) factors, the fact that they have problems in living life at the age of 6 to 21 years, is called Epifani. Epiphany is a moment or experience whose effect can be positive and negative. The works are attracted to the experiences experienced by the single child, and the works relate to the empirical experience of their own works. The focus of this work is on intimidation, psychological impact and maturity created into three pieces of work. This phenomenon concerns the concept of "extravagrisical" which has an analogy structure, interpretation and clear Re-interpretation using several media (instruments) according to the function and needs of the garage. The purpose of this work is to convey the social reality faced by a single child.Keywords:Singlechildren; extramusical; NyakTunggaAbstrakKarya ini bertujuan untuk membahas fenomena yang terjadi pada kehidupan sosial anak tunggal. Anak tunggal adalah anak yang tidak mempunyai saudara kandung. Berdasarkan dari hasil observasi dan riset terhadap beberapa anak tunggal yang ditinjau dari faktor internal (keluarga) dan eksternal (lingkungan), faktanya mereka mempunyai permasalahan dalam menjalani kehidupannya pada usia 6 sampai 21 tahun, itupun disebut dengan Epifani. Epifani merupakan momen atau pengalaman yang efeknya bisa positif dan negatif. Pengkarya tertarik kepada pengalaman-pengalaman yang dialami oleh anak tunggal, dan pengkarya kaitkan dengan pengalaman empiris pengkarya sendiri. Fokus dari karya ini yaitu tentang intimidasi, dampak psikologis dan kedewasaan yang diciptakan menjadi tiga bagian karya. Hal yang menyangkut pada fenomena ini adalah konsep “ekstramusikal” yang mempunyai struktur analogi, interpretasi dan Re-interpretasi yang jelas dengan menggunakan beberapa media (instrumen) sesuai dengan fungsi dan kebutuhan garapnya. Tujuan dari karya ini yaitu ingin menyampaikan realitas sosial yang dihadapi oleh seorang anak tunggal.Kata Kunci: Anak Tunggal, Ekstramusikal, Nyak Tungg

    “JIKA DINDING BISA BERBICARA?” STREET ART DAN REPRESENTASI PEREMPUAN DALAM KARYA-KARYA STENSIL DIGIE SIGIT

    Full text link
    This research examines Digie Sigit’s stencil works in Yogyakarta. This paper focuses on explaining and understanding the material and immaterial aspects of Digie Sigit’s stencil works along with analyzing women’s representation form which is portrayed in his works. In collecting the research data, the researcher did observation by examining Digie Sigit’s stencil works directly and doing deep interviews. Throughout his works, Digie Sigit wants to show appreciation and resistance of mothers as a heroine. He tries to create a possibility space where the public can see and directly meet his works. Women figures are chosen as power representation in earning money for living. They do not care when they are often ostracized and even do not get working assurance from the government. The public space is made as nowadays’ city representation along with as critics about life, especially for the young generation of this countryAbstrakPenelitian ini mengkaji karya-karya stensil Digie Sigit di Yogyakarta. Tulisan ini berikhtiar menjelaskan dan memahami aspek-aspek material dan imaterial karya-karya stensil Digie Sigit sekaligus menganalisis bentuk representasi perempuan yang digambarkan dalam karya stensil Digie Sigit. Dalam pengumpulan data penelitian, penulis melakukan observasi dengan mengamati karya-karya stensil Digie Sigit secara langsung dan melakukan wawancara mendalam. Melalui karyanya, Digie Sigit ingin menunjukkan apresiasi dan resistensi ibu-ibu sebagai pahlawan. Ia mencoba menciptakan ruang kemungkinan di mana publik bisa melihat dan bertemu langsung dengan karyanya. Figur perempuan dipilih sebagai representasi kekuatan dalam mencari nafkah tak peduli ia kerap dikucilkan bahkan tak diberikan jaminan kerja oleh pemerintah. Ruang publik dijadikannya sebagai representasi kota saat ini sekaligus sebagai kritik tentang kehidupan, terutama untuk anak-anak muda di negeri ini.Kata kunci: Digie Sigit, Grafiti, Ruang Publik, Stensil, Street Ar

    PERMAINAN ALAT MUSIK VIUL DALAM KESENIAN KRINOK DI MUARO BUNGO PROVINSI JAMBI DITINJAU DARI TEORI POSKOLONIAL

    Full text link
    ABSTRACTThis article discusses the playing of the viul musical instrument in the krinok art in Muaro Bungo, Jambi Province, which is one of the provinces in Indonesia that was once occupied by a colonial nation. The research was directed to show the impact of the colonization in the form of traces that are still remaining today, in this case in the context of the krinok art. Applying qualitative research methods, the data is carried out through observation and interviews of one of the traditional artists, namely Zulkarnain, one of the viul players. Making use of concepts from postcolonial theory, which shows the impact of the impact of the meeting of different cultures, which produces a new space with an identity that is hybrid and ambivalent. ABSTRAKArtikel ini membahas tentang permainan alat musik viul dalam kesenian krinok di Muaro Bungo Provinsi Jambi, yang merupakan salah satu propinsi di Indonesia yang pernah diduduki oleh bangsa penjajah. Penelitian diarahkan untuk menunjukkan dampak penjajahan tersebut berupa jejak-jejak yang masih tersisa hingga sekarang, dalam hal ini pada konteks kesenian krinok. Menerapkan metode penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara terhadap salah satu seniman tradisi yaitu Zulkarnain sebagai salah satu pemain viul. Memanfaatkan konsep-konsep dari teori poskolonial, penelitian menunjukkan adanya dampak dari bertemunya budaya-budaya yang berbeda, yang menghasilkan suatu ruang yang baru dengan munculnya identitas yang baru yang bersifat hibrid dan ambivalen.

    KEBERADAAN PENARI LAKI-LAKI PADA TARI JOGI

    Full text link
    This article discusses the existence of male dancers in the presentation of the Jogi dance. Jogi dance is a dance originating from Batam, where the presentation of the dance movements is dominated by the technique of shaking the shoulders and noticeable hip movements. The variety of movements in the Jogi dance is referred to as duplicate related to the daily activities of the Batam people as fishermen. Applying a qualitative research method with interviewing techniques for Jogi dancers and observing the events of the Jogi performance, the discussion in this article covers the beginning of the appearance of male dancers and their development in supporting the choreography and function of Jogi dance in society. The analysis is carried out on the adaptation process carried out by male dancers in adjusting the motives of the movements of the female dancers that already exist first. The results show that the presence of male dancers in the choreography of the Jogi dance encourages new forms of presentation while finding new functions as part of a form of social action.Keywords: Jogi Dance; Presentation Form; choreography; dance functionsAbstrakArtikel ini membahas tentang keberadaan penari laki-laki dalam penyajian tari Jogi. Tari Jogi merupakan sebuah tari yang berasal dari Batam, yang penyajian gerak tarinya didominasi oleh teknik goyang bahu dan pergerakan pinggul yang kentara. Ragam gerak dalam tari Jogi disebut sebagai rangkap yang berkaitan dengan kegiatan sehari-hari masyarakat Batam sebagai nelayan. Menerapkan metode penelitian kualitatif dengan teknik wawancara terhadap para penari Jogi dan observasi atas peristiwa pertunjukan Jogi, pembahasan dalam artikel ini meliputi awal mula kemunculan penari laki-laki dan perkembangannya dalam mendukung aspek koreografi serta fungsi tari Jogi di masyarakat. Analisis dilakukan atas proses adaptasi yang dilakukan oleh para penari laki-laki dalam menyesuaikan motif gerak-gerak penari perempuan yang sudah ada terlebih dahulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan penari laki-laki dalam koreografi tari Jogi mendorong bentuk penyajian baru sekaligus menemukan fungsinya yang baru sebagai bagian dari bentuk tindakan sosial.Kata Kunci: Tari Jogi; Bentuk Presentasi; koreografi; fungsi tar

    PEMBELAJARAN MENGGAMBAR MOTIF BATIK PADA SISWA KELAS VIII DI SMP NEGERI 3 TANJUNG RAJA

    Full text link
    The purpose of this study was to determine the learning process of drawing batik motifs in grade VIII students at SMP Negeri 3 Tanjung Raja. The method used in this research is descriptive qualitative, which is a research method that seeks to describe a symptom, event, event, which is happening at the present time. The research objects in this study were teachers and students, namely teachers of the arts and culture subjects at SMP Negeri 3 Tanjung Raja and grade VIII students at SMP Negeri 3 Tanjung Raja. Data collection techniques in this study were observation, interviews, and documentation. Based on the evaluation activities that have been carried out, it can be concluded that the learning activities take place very well, it can be seen from the student learning outcomes achieved. The appropriate learning method is very learning activities to make students more ready to take part in learning to draw batik motifs.ABSTRAKTujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui proses pembelajaran menggambar motif batik pada siswa kelas VIII di SMP Negeri 3 Tanjung Raja. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah deskriftif kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang berusaha mendeskriftifkan suatu gejala, peristiwa, kejadian, yang terjadi pada saat sekarang. Objek penelitian dalam penelitian ini adalah guru dan siswa yaitu guru mata pelajaran seni budaya di SMP Negeri 3 Tanjung Raja dan siswa kelas VIII di SMP Negeri 3 Tanjung Raja. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan kegiatan evaluasi yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa kegiatan pembelajaran berlangsung dengan sangat baik dapat dilihat dari hasil belajar siswa yang dicapai. Metode pembelajaran yang tepat sangat kegiatan pembelajaran membuat siswa lebih siap dalam mengikuti pembelajaran menggambar motif batik.Kata Kunci: Pembelajaran; Menggambar Motif Bati

    STUDI ANALISIS: KONSEP MUSIKAL RANDAI KUANTAN DI TELUK KUANTAN-RIAU MELALUI TEORI SEMIOLOGI MUSIK

    Full text link
    ABSTRAKRandai Kuantan adalah kesenian tradisional masyarakat Kuantan yang komunikatif, lahir dan berkembang di tengah-tengah masyarakat Kuantan. Randai Kuantan membawakan suatu cerita yang sudah disusun sedemikian rupa dengan dialog dan pantun logat Melayu Kuantan, disertai lagu-lagu Melayu Kuantan sebagai peningkah babak-babak cerita. Pertunjukan kesenian Randai kuantan tidak bisa lepas dari iringan musik yang dibawakan dalam suatu pertunjukan randai, karena musik sangat berperan penting dalam peningkah babak cerita. Gesekan Piul-Biola, hentakan pukulan gendang dan tiupan lapri (serunai), diiringi langkah tari merupakan siri khas tersendiri dari Randai Kuantan. Biola gaya Melayu Riau (Kuantan Singingi), merupakan instrumen yang sangat dominan dimainkan dalam Musik Randai Kuantan. Tujuan penelitian ini adalah mengungkap konsep musikal musik Randai Teluk Kuantan. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif, pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan mengamati tradisi Randai Kuantan, khususnya musik randai, dokumentasi audio dan visual serta wawancara dengan sejumlah tokoh adat dan masyarakat. Penelitian ini dianalisis dengan teori semiologi musik

    Malam Baretong Sebagai Sumber Penciptaan Komposisi “Night Of Baghetong”

    Full text link
    ABSTRAK Malam baretong merupakan salah satu kegiatan gotong royong, sumbang-menyumbang dalam pesta perkawinan yang dilakukan pada saat menghitung uang dari para tamu yang hadir pada malam terakhir atau malam penutupan perelatan di Pariaman Limau Purut. Berdasarkan pandangan positif dan negatif yaitu pada nilai social yang terjadi, memberikan dampak solusi dalam segi menilai kebudayaan. Sehingga pesan dari komposisi musik yang diwujudkan dari hal-hal ekstramusikal digarap dengan menggunakan konsep bentuk analogi musikal melalui instrument konfensional dan non konfensional secara berdialog dan eksperimental bunyi dengan garapan re-interpretasi tradisi. Kata kunci : Baretong, Positf, Negatif, Ekstramusikal, Analogi Musikal

    95

    full texts

    110

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Melayu Arts and Performance Journal
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇