Melayu Arts and Performance Journal
Not a member yet
    110 research outputs found

    SALUKO TOK AKE: KOMPOSISI TARI PEREMPUAN SUKU ANAK DALAM ANTARA ADAT DAN EMANSIPASI PEREMPUAN

    Full text link
    The cultural phenomenon of Suku Anak Dalam especially Saluko or the rules of women in the Suku Anak Dalam, where women in Suku Anak Dalam adhere to the rules that have been built from ancestors despite sacrificing Women's Human Rights (emancipation of women), they still survive and are very obedient against the existing rules, rules for women in the Suku Anak Dalam such as: girls are prohibited from going out to the jungle, are prohibited from bathing with soap, are forbidden to learn how to read and write, may not talk to men except customary holders and their families, prohibited from using cosmetics, for women adolescents wear kemben, adult women wear clothes except when the Tomonggong is at the location of the village, this will be interpreted into a dance composition work that uses a pure type, supported by the cultivation of movements, symbols, expressions, music and artistic in order to become a whole dance composition work set in the background behind the In Sukun Anak Dalam.Keywords: Saluko Tok Ake; Anak Dalam tribe, women's emancipation; dance composition.AbstrakArtikel ini bertujuan untuk membahas fenomena perempuan Suku Anak Dalam di Merangin, Jambi yang terikat dengan aturan adat mereka dalam komposisi tari Saluko Tok Ake. Saluko adalah aturan-aturan adat untuk para perempuan pada Suku Anak Dalam di Merangin, Jambi  yang telah ditetapkan dan diwariskan oleh nenek moyang mereka. Aturan–aturan untuk anak perempuan itu berupa larangan seperti: dilarang keluar rimba, dilarang mandi pakai sabun, dilarang belajar baca tulis, tidak boleh berbicara dengan lelaki kecuali pemangku adat dan keluarga mereka, dilarang memakai kosmetik, dilarang memakai kemben bagi perempuan remaja, perempuan dewasa memakai baju kecuali ketika temenggung berada di lokasi perkampungan hanya memakai kodek ( bawahan ). Mereka tetap bertahan dan sangat patuh terhadap aturan-aturan adat itu. Fenomena  ini  ditafsirkan dalam perspektif emansipasi wanita yang tampak bertolak belakang seperti mengorbankan hak-hak perempuan ke dalam bentuk karya komposisi tari yang memakai tipe murni, didukung dengan penggarapan gerak, simbol, ekspresi, musik dan artistik berlatar belakang SAD.Kata Kunci: Saluko Tok Ake; Suku Anak Dalam; emansipasi wanita; komposisi tari

    PENERAPAN TEMATIK NYANYIAN MANTAU KE DALAM BENTUK LAGU DUA BAGIAN “MANTAU”

    Full text link
    The art of Mantau is one of the traditional music that grows and delops in the area of Bangko Subdistrict, Merangin Regency, Jambi Province in the form of traditional singing or vocal performed by one singer. In addition to possessing vocal abilities, the singer Mantau must have to ability to deliver poems arranged in the form of poetry spontaneously according to local circumstances or events. In addition, there is a unique in Mantau art which is a characteristic of Mantau melodies that tend to uses mixolidyan modes material sung with rubato and ad libitum technique. The puspose of creating this composition is to demonstrate the composition of musical composition that are processed and developed in the orchestra format. The method used in the process of creating this musical composition is exploration, impovisation, experimentation, and formation.Keyword : Mantau; Mixolidyan modes; Composition; Orchetra.AbstrakKesenian Mantau merupakan salah satu kesenian tradisi yang tumbuh dan berkembang di daerah Kecamatan Bangko Kabupaten Merangin Provinsi Jambi yang berbentuk nyanyian atau vokal tradisional yang dibawakan oleh satu orang penyanyi. Selain mempunyai vokal yang mempuni, penyanyi Mantau mesti memiliki kemampuan dalam menyampaikan syair-syair lagu yang tersusun dalam bentuk pantun secara spontan sesuai dengan keadaan atau kejadian setempat. Selain itu, terdapat keunikan dalam kesenian Mantau yang mana karakteristik dari melodi Mantau yang cenderung memakai material mixolidya modes dinyanyikan dengan teknik rubato dan ad libitum. Tujuan dari penciptaan musik yang diolah dan dikembangkan dengan format orchestra. Metode yang digunakan dalam proses penciptaan komposisi musik ini yaitu eksplorasi, improvisasi atau eksperimen dan pembentukan.Kata Kunci: Mantau, Mixolidyan modes, Komposisi, Orkestra

    COMPARATIVE STUDY OF LEARNING RESULTS TO DRAW PERSPECTIVE USING CULTURAL AND CONVENTIONAL PEER TEACHERS LEARNING METHODS

    Full text link
    This study aims to prove the comparison of student learning outcomes in perspective drawing using peer tutoring and conventional learning methods. The population in this study were all works of students of class X IPA (3 classes) and students of class X IPS (3 classes) and the research sample was 36 students or 72 works. In this sample, two stages of action were given, namely initial sampling with the teaching and learning process using conventional learning methods. Based on the results of the study, the first test score average was 71.43 and the second test score was 82.74. The results of the mean difference test show that the average of the second value is better than the first value. Based on the results of hypothesis testing with a significance of α = 0.5 with dk 70 obtained t table = 1.6669. So the results of hypothesis testing obtained tcount 5.52> ttable 1.6669. So Ha is accepted as well as rejected by Ho, then the conclusion is that there are significant differences in the work of perspective drawing with the peer tutor learning method.Keywords: Learning Methods ; Learning Outcomes.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk membuktikan perbandingan hasil belajar peserta didik dalam  menggambar perspektif menggunakan metode pembelajaran tutor sebaya dan konvensional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karya peserta didik  kelas X IPA (3 kelas) dan peserta didik  kelas X IPS (3 kelas) dan diperoleh  sampel  penelitian  yaitu  sebanyak 36 peserta didik atau 72 karya. Pada sampel ini diberi dua tahap tindakan yaitu pengambilan sampel awal dengan proses belajar-mengajar menggunakan metode pembelajaran konvensional. Berdasarkan  hasil  penelitian  diperoleh  rata-rata  nilai tes pertama sebesar 71,43 dan nilai tes kedua 82,74. Hasil uji perbedaan  rata-rata  menunjukkan bahwa rata-rata nilai kedua lebih baik dari pada nilai pertama. Berdasarkan hasil uji hipotesis dengan signifikansi α = 0,5 dengan dk 70 didapat ttabel = 1,6669. Jadi hasil uji hipotesis diperoleh thitung 5,52 > ttabel 1,6669. Jadi Ha diterima sekaligus ditolak Ho kemudian kesimpulannya adalah terdapat perbedaan yang signifikan pada hasil karya menggambar perspektif dengan metode pembelajaran tutor sebaya.Kata Kunci: Metode Pembelajaran, Hasil Belajar.  

    MELIHAT TEKS LAKON SEBAGAI MITOS: ANALISIS DRAMA DENGAN STRUKTURALISME LEVI-STRAUSS

    Full text link
    This study describes the analysis method of play text based on Claude Levi-Strauss method, which is commonly referred as Structuralism. The research method used is a qualitative method, with a literature study data collection technique, namely by studying a thesis written by Tatang Abdullah. The analytical method applied is descriptive analysis, by finding understanding through the description of the data. The analysis stages consist of: (1) descriptions of myths and myths, which are basically similar to descriptions of the plot of the drama and the journey of the characters; (2) the codification of mythical structures, which is similar to dramatic rhythm analysis; and (3) ideological identification in myth, which is similar to the search for drama themes. The result of the research shows that the play text that departs from the richness of folklore can be treated as a myth and analyzed with Levi-Strauss structuralism. This method of analysis can be an alternative in understanding a play text, which is one of the important tasks of dramaturgy.Keywords: structuralism; Levi-Strauss; play text; drama analysis; dramaturgy.Abstrak Penelitian ini menguraikan tentang metode analisis teks lakon berdasarkan cara Claude Levi-Strauss, yang lazim dinamakan sebagai Strukturalisme. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif, dengan teknik pengumpulan data studi pustaka, yakni dengan mempelajari sebuah tesis yang ditulis Tatang Abdullah. Metode analisis yang diterapkan adalah analisis deskriptif, dengan cara menemukan pemahaman melalui uraian data. Tahapan analisis terdiri atas: (1) deskripsi mitos dan mitema, yang pada dasarnya serupa deskripsi atas alur drama dan perjalanan karakter; (2) kodifikasi struktur mitos, yang mirip dengan analisis irama dramatik; dan (3) identifikasi ideologi dalan mitos, yang mirip dengan pencarian tema drama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teks lakon yang berangkat dari kekayaan folklore dapat diperlakukan sebagai sebuah mitos dan dinalisis dengan strukturalisme Levi-Strauss. Cara analisis ini dapat menjadi alternatif dalam memahami suatu teks lakon, yang merupakan salah satu tugas penting dramaturgi.Kata Kunci: strukturalisme; Levi-Strauss; teks lakon; analisis drama; dramaturg

    DISAIN PENCIPTAAN FILM PAKASIAH BABIOLA

    Full text link
    Minang Creating the fictional film "Pakasiah Biola" departs from several parts of the film's elements, where the film, when viewed from a genre perspective, is divided into three parts, namely fiction films, documentary films, and experimental films. The choice of the fiction genre that the author makes here is because films with that genre have a very wide space in transforming ideas and space to realize the imaginative thoughts that the author gets when analyzing the script "Pakasiah Biola" either visually/cinematically or narratively. In the concept of the work of Pakasiah Biola that will be made, the artist creates a film based on Bazin's thinking, and there are 7 things that become elements of the realist film structure, which include: relatively simple stories, reallocation, real setting unprofessional actors, deep-focus, long-take and minimize editingKeywords: Pakasiah Violin; Fiction Movies; Fiction Genre.AbstrakMenciptakan film fiksi “Pakasiah Biola”, berangkat dari beberapa bagian unsur film, dimana film apabila ditinjau dari segi genre dibagi menjadi tiga bagian yaitu film fiksi, film dokumenter dan film experimental. Pilihan terhadap genre fiksi yang pengkarya lakukan disini karena dalam film dengan genre tersebut memiliki ruang yang sangat luas dalam mentransformasikan ide-ide dan ruang untuk merealisasikan pemikiran-pemikiran imajinatif yang pengkarya peroleh ketika menganalisa naskah “Pakasiah Biola” baik secara visual/cinematic ataupun secara naratif.Pada konsep garapan karya film Pakasiah Biola yang akan dibuat, pengkarya menciptakan film berdasarkan pemikiran Bazin terdapat 7 hal yang menjadi elemen struktur film realis, yang meliputi: relative simple strories, real location, real setting unprofessional actors, deep-fosus, longtake, dan minimize editingKata Kunci: Pakasiah Biola; Film Fiksi; Genre Fiksi.

    SIMBOL KASAB SEBAGAI GAGASAN PENCIPTAAN KARYA TIRAI KALIGRAFI

    Full text link
    The creation of the work entitled "Curtain Calligraphy" raised the Kasab symbol as the object of the invention, which focused on Kasab's values about the advice of a leader's life, which was expressed through calligraphy art sourced from the Qur'an. Kasab is a traditional object belonging to the people of South Aceh used in every implementation of conventional ceremonies, one of which is marriage. Creating this work goes through several stages—exploration, experimentation, reflection, and formation. The primary material used is Surian wood. The selection of the wood medium used has a density to be carved using a Scroll Jigsaw machine. The technique used is the filigree carving technique. The finishing technique uses black, gold, and transparent paint. There are five items created with a two-dimensional appearance. The visualization of the work is expression calligraphy becomes an ornament to fill the fields of the tongue. Based on the work of art created to proselytize, emphasis is placed on the clarity of calligraphy art.Keywords: Kasab; Calligraphy Art; Conservation; Da'wahAbstrakPenciptaan karya yang berjudul “Tirai Kaligrafi” mengangkat simbol Kasab sebagai objek penciptaan yang terfokus pada nilai Kasab tentang nasihat kehidupan pemimpin yang diekspresikan melalui seni kaligrafi bersumber dari Al-Qur'an. Kasab adalah benda adat milik masyarakat Aceh Selatan yang digunakan dalam setiap pelaksanaan upacara adat salah satunya pernikahan. Metode penciptaan karya ini melalui beberapa tahap. Tahap eksplorasi, eksperimen, perenungan dan pembentukan. Bahan dasar yang digunakan yaitu kayu surian. Pemilihan medium kayu yang digunakan memiliki kepadatan agar dapat diukir menggunakan mesin Scrool Jigsaw. Teknik pengerjaan yang digunakan yaitu teknik ukir kerawang. Tenik finishing menggunakan cat hitam, emas dan clear. Karya yang diciptakan berjumlah lima item, dengan rupa dua dimensi. Visualisasi karya merupakan ekspresi kaligrafi yang menjadi ornamen pengisi memenuhi bidang lidah-lidah. Berdasarkan karya seni yang diciptakan bertujuan sebagai dakwah penekanan bentuk lebih mengutamakan kejelasan bentuk seni kaligrafi.Kata Kunci: Kasab; Seni Kaligrafi; Konservasi; Dakwa

    REALIST ACTING APPROACH USING STANISLAVSKI CONSTANTIN ACTING METHOD IN EXTRACURRICULAR THEATER IN MAN 1 PALEMBANG

    Full text link
    The purpose of this study was to identify and describe the approach of realist acting with Konstantin Stanislavski's acting method. In this study conducted at MAN 1 Palembang with the number of students who actively participate in extracurricular theater, this study uses a qualitative research method with a descriptive approach. The data collection technique in this research is by observing, documenting, interviewing data to the supervisor and students. This study examines whether the theater extracurricular has applied a realist acting approach with Konstantin Stanislavski's acting method. The results of this study after observing this extracurricular application quite well with a realist acting approach with Konstantin Stanislavski's acting method, can be seen when students carry out the role training process seriously. into the roles they play.Keywords: Stanislavski's Acting Method; Theater Extracurricular; Realist Approach to ActingAbstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan pendekatan akting realis dengan metode akting Konstantin Stanislavski.  Penelitian ini dilakukan di MAN 1 Palembang dengan sejumlah siswa yang aktif mengikuti ekstrakurikuler teater. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan mengamati, mendokumentasikan, serta mewawancarai dosen pembimbing dan mahasiswa. Penelitian ini mengkaji apakah ekstrakurikuler teater telah menerapkan pendekatan akting realis dengan metode akting Konstantin Stanislavski. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan ekstrakurikuler ini cukup baik dengan pendekatan akting realis dengan metode akting Konstantin Stanislavski, dapat dilihat ketika siswa melaksanakan proses pelatihan peran dengan sungguh-sungguh ke dalam peran yang mereka mainkan.Kata Kunci: Metode Akting Stanislavski; Ekstrakurikuler Teater; Pendekatan Realis untuk Aktin

    ANTROPOSENTRISME DALAM ANIMASI PRINCESS MONONOKE KARYA HAYAO MIYAZAKI

    Full text link
    This study analyzes the ethics of anthropocentrism contained in the animated film Princess Mononoke. The destruction of nature contained in the film is done by the antagonists, namely Miss Eboshi, Jiko-Bou, and their followers. The research method used is Roland Barthes' semiotic analysis which looks at three stages of significance, namely denotation, connotation, and myth. The stage of film analysis begins with identifying the form of oppression in the form of the selected scene, then the data is analyzed through the interpretation of denotative and connotative meanings to find myths. The results of this study indicate that this film represents the exploitation and ethics of anthropocentrism towards nature and the Shintoism gods who protect nature so that it triggers conflict between humans and the gods. The exploitation occurs because the antagonists want to conquer nature and the gods for personal interests and ambitions to gain profit and wealth without thinking about the ethics and moral status of nature, animals and non-humans in the film Princess Mononoke.Keywords: Anthropocentrism; Exploitation of nature; Animated Film; Princess Mononoke.ABSTRAKPenelitian ini menganalisis etika antroposentrisme yang terdapat dalam film animasi Princess Mononoke. Kerusakan alam yang terdapat dalam film dilakukan oleh para tokoh antagonis yaitu Nona Eboshi, Jiko-Bou, dan para pengikut mereka.  Metode penelitian yang digunakan analisis semiotika Roland Barthes yang melihat pada tiga tahapan signifikasi yaitu denotasi, konotasi, dan mitos. Tahapan analisis film dimulai dengan mengidentifikasi bentuk penindasan berupa scene yang telah dipilih, kemudian data tersebut dianalisismelalui interpretasi makna denotasi dan konotasi untuk menemukan mitos. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa film ini merepresentasikan terjadinya eksploitasi dan etika antroposentrisme terhadap alam dan dewa-dewa Shintoisme yang menjaga alam sehingga memicu konflik antara manusia dan para dewa. Eksploitasi tersebut terjadi karena para tokoh antagonis ingin menaklukan alam dan dewa-dewa untuk kepentingan dan ambisi pribadi untuk mendapatkan keuntungan dan kekayaan tanpa memikirkan etika dan status moral alam, hewan dan yang non-manusia dalam film Princess Mononoke.Kata Kunci: Antroposentrisme; Eksploitasi alam; Film Animacasi; Princess Mononoke

    FUNGSI GANDANG TASA DALAM PERAYAAN MAULUIK GADANG DI NAGARI SICINCIN KABUPATEN PADANGPARIAMAN

    Full text link
    This research is aimed to discuss the function of gandang tasa performance which is performed in Mauluik Gadang event (Maulid Besar) in Sicincin District, Padang Pariaman Regency. The description is focused on how Gandang Tasa performs in Mauluik Gadang context.  Mauluik Gadang event starts from decision-making consensus led by all the chief of Adat society (Ninik Mamak) as tribe leaders, scholar of Islam, elite figure of society in Sicincin District. In the beginning of this event, there are Malamang activity, serving meals, variety of local authentic foods and prays held together as celebration. The main ritual of Mauluik Gadang is showing Bungo Lado, hand-made trees which are decorated some stick money. These tresses are also called Tabuik. Bungo Lado/tabuik appears in street parade from any part of villages in Sicincin District to the main mosque/ Masjid Raya Nagari Sicincin. Gandang Tasa has function to accompany the street parade gloriously and entertained.   Keywords: mauluik gadang; gandang tasa; function; ritual; tabuikAbstrakPenelitian ini bertujuan membahas fungsi pertunjukan gandang tasa yang terkait dengan perayaan mauluik gadang (maulid besar) di Nagari Sicincin,Kabupaten Padang Pariaman. Deskripsi difokuskan bentuk pertunjukan dan fungsi gandang tasa dalam kontkes mauluik gadang. Mauluikgadang dimulai dari mufakat antara niniak mamak (pimpinan kaum/suku), alim ulama dan pemuka masyarakat di Kenagarian Sicincin. Pelaksanaanmauluik gadang diawali dengan kegiatan malamang, maanta paminum kopi, bajamba dan badikie. Puncak ritual mauluik gadang adalah mengarak bungo lado, yaitu berupa benda-benda arakan yang ditempeli sejumlah uang yang sering pula disebut tabuik. Bungo lado/tabuik diarak dari berbagai arah yang berasal dari korong (kampung) yang ada di Nagari Sicincin ke Masjid Raya Nagari Sicincin/ masjid utama nagari yang selalu diiringi oleh gandang tasauntuk membangun suasana menjadi meriah.Kata kunci:mauluik gadang, gandang tasa, fungsi,bungo lado, tabuik

    PERKEMBANGAN TEATER MODERN BERBASIS TRADISI DI KOTA PADANGPANJANG

    Full text link
    Research on the development of modern theatre based tradition in Padangpanjang City, is an effort to examine how the modern theatre development is based in Padangpanjang City and what are the factors that led to modern theater based Tradition develops. The effort to do the following research begins by researching two modern theatre communities that make a tradition as a stage in the Padang city and study the factors that led to the development of modern-based theatre Traditions of the two communities. The research continued by conducting surveys to the 2 active theatre communities at this time in the city of Padangpanjang and the sources that have been watching or seeing modern theater-based performances of traditions and concluded against the responses Give the speakers. Research is written with the results of the survey in accordance with the facts. Keywords: modern theatre-based traditions, developments, city of Padangpanjang. AbstrakPenelitian terhadap perkembangan teater modern berbasis tradisi di kota Padangpanjang,merupakan upaya untuk meneliti bagaimana perkembangan teater modern berbasis tadisi dikota Padangpanjang dan apa factor-fator yang menyebabkan teater modern berbasis tradisi berkembang. Upaya untuk melakukan penelitian berikut diawali dengan meneliti dua komunitas teater modern yang menjadikan tradisi sebagai pijakannya di kota padang panjang dan melakukan kajian atas  factor-faktor yang menyebabkan perkembangan teater modern berbasis tradisi pada dua komunitas tersebut. Penelitian dilanjutkan dengan melakukan survei kepada 2 komunitas teater yang aktif pada saat ini di kota Padangpanjang dan narasumber yang pernah menonton atau melihat pertunjukan teater modern berbasis tradisi dan menyimpulkan terhadap tanggapan yang di berikan para narasumber tersebut. Penelitian ditulis dengan hasil survei tersebut sesuai dengan fakta.Kata Kunci: Teater Modern berbasis tradisi; Perkembangan; Kota Padangpanjang

    95

    full texts

    110

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Melayu Arts and Performance Journal
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇