Melayu Arts and Performance Journal
Not a member yet
110 research outputs found
Sort by
Proses Kreatif Penciptaan Karya Tari Kontemporer Meniti Jejak Tubuh
Penelitian mengenai proses kreatif dalam tari kontemporer masih sangat jarang dituliskan di dalam karya – karya penelitian. Hal ini berdampak pada kesenjangan antara produksi praktik seni dengan produksi pengetahuan dari praktik seni itu sendiri. Oleh Karena itu, adalah sangat penting untuk menuliskan proses kreatif penciptaan karya seni sehingga dapat bermanfaat bagi produksi pengetahuan khususnya di bidang tari dan bagi peneliti dan koreografer lainnya. Penelitian ini berfokus pada karya tari Meniti Jejak Tubuh yang merupakan sebuah karya tari kontemporer dimana saya sebagai pencipta/koreografer melakukan riset terhadap perjalanan tubuh saya sendiri yang lahir dan tumbuh di Kerinci lalu melakukan proses kreatif di tengah budaya Minangkabau. Saya melakukan eksperimentasi yang kemudian mengeksplorasi persilangan budaya (cross – culture), persilangan gender (cross – gender), sejarah tubuh, tubuh tradisi, habitus dan Hybridity. Kemudian menjadi sebuah karya tari tunggal yang melibatkan ulang - alik tradisi dan kontemporer, masa lalu dan hari ini serta, Kerinci dan Minang. Penelitian ini menggunakan pendekatan autoetnografi, yaitu suatu metode penelitian yang menggunakan data autobiografi dari peneliti untuk menganalisis dan menginterpretasi asusmsi budaya mereka dalam hal ini proses kreatif yang peneliti lakukan sendiri.Kata Kunci: Meniti Jejak Tubuh; Autoetnografi; Proses AbstractResearch on the creative process in contemporary dance is rarely written about in research works. This has an impact on the gap between the production of art practice and the production of knowledge from the practice of art itself. Therefore, it is very important to write down the creative process of creating works of art so that it can be useful for the production of knowledge, especially in the field of dance and for other researchers and choreographers. This research focuses on the Meniti Jejak Badan dance work, which is a contemporary dance work in which I, as a creator/choreographer, conduct research on the journey of my own body, which was born and grew up in Kerinci and then carried out a creative process in the midst of Minangkabau culture. I did an experiment which then explored cross-culture, cross-gender, body history, body tradition, habitus and hybridity. Then it becomes a single dance work involving a shuttle between tradition and contemporary, past and present as well as, Kerinci and Minang. This study uses an autoethnographic approach, which is a research method that uses autobiographical data from researchers to analyze and interpret their cultural assumptions, in this case the creative process that the researcher does himself.Keywords: Tracing Body Tracks; Autoethnography; Creative Process
AKSARA INCUNG SEBAGAI IDENTITAS BATIK KERINCI
The Incung script is a writing system used by the Kerinci comminity. The Script of Incung as a identity in Kerinci Batik aims to identify the identity contained in the Incung Script as motif of Kerinci batik. This study use as a qualitative method with descriptive data that siscuss the data in accordance with the facts encountered in the field with aesthetic studies. Data collection done through literature study, observation, interviews and matrix of data collection. Kerinci batik have two types of batik namely, Kerinci decorative batik and Incung batik with stamp techniques. The color used in the product Kerinci batik is a type of naptol and indigosol. In addition, batik cloth Kerinci is dark inaddition, batik cloth Kerinci is bright in color. The main motif of batik Kerinci is an Incung script combined with Kerinci decorative motifs flora, fauna and heirlooms which are the identity of Kerinci.Keywords: Incung Script; Kerinci; Batik; Aesthetics; IdentityAbstrakAksara Incung merupakan sistem penulisan yang digunakan oleh masyarakat Kerinci. Aksara Incung sebagai identitas batik Kerinci bertujuan untuk mengidentifikasi identitas batik Kerinci. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan data deskriptif yang membahas tentang data sesuai fakta yang ditemui di lapangan, dengan kajian estetika. Pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka, observasi, wawancara dan matrik pengumpulan data. Batik kerinci memiliki dua jenis batik yaitu, batik ragam hias Kerinci dan batik Incung dengan teknik batik tulis dan cap. Motif utama batik Kerinci adalah aksara Incung dikombinasi dengan ragam hias Kerinci, motif flora, fauna dan benda pusaka yang merupakan identitas Kerinci.Kata Kunci: Aksara Incung; Batik; Kerinci; Estetika; Identitas
PENCIPTAAN FILM DOKUMENTER “BADABUIH” DALAM ACARA ALEK NAGARI DI PADANG PARIAMAN
The creation of the documentary film "Badabuih" is one of the films that aims to introduce the culture of the Padang Pariman region, especially the dabuih tradition in the nagari language. Documentary film is a type of film that deals with people, characters, events, or events. In this documentary "Badabuih" the author tries to see how the representation of the dabuih procession in Islamic culture in Padang Pariaman. In the process of creating the documentary film "Badabuih" the film is packaged into a series of plots in a linear manner with an approach to story and image elements with a chronological narrative structure. Listening further about the depiction or representation, many things are actually alluded to by other signs or symbols with a specific purpose. The events that occur in "Badabuih" then have a meaning between divine values and social values. These values then merge into a culture which then becomes entertainment. This film also explains how the view of dabuih that develops in the community as a means of giving thanks to Allah SWT..Keywords: Documentary Film; Badabuih; Representation; Padang PariamanABSTRAKPenciptaan film dokumenter “Badabuih” merupakan salah satu film yang bertujuan memperkenalkan kebudayaan daerah Padang Pariman khususnya tradisi dabuih dalam alek nagari. Film dokumenter merupakan jenis film yang berhubungan dengan orang-orang, tokoh, peristiwa, atau kejadian. Dalam film dokumenter “Badabuih” ini penulis mencoba melihat bagaimana representasi prosesi dabuih dalam budaya islam di Padang Pariaman. Pada proses penciptaan film dokumenter “Badabuih” film dikemas ke dalam rangkaian plot secara linier dengan pendekatan unsur cerita dan gambar dengan struktur penceritaan kronologis. Menyimak lebih jauh tentang penggambaran atau representasi, banyak hal yang sebenarnya dikiaskan dengan tanda atau simbol lain dengan maksud tertentu. Peristiwa yang terjadi dalam “Badabuih” kemudian memiliki makna antara nilai ketuhanan dan nilai sosial. Nilai-nilai tersebut kemudian menyatu menjadi suatu kebudayaan yang kemudian menjadi hiburan. Dalam film ini juga dijelaskan bagaiamana pandangan terhadap dabuih yang berkembang di tengah masyarakat sebagai salah satu sarana dalam melakukan syukur kepada Allah SWT.Kata Kunci : Film Dokumenter,Badabuih, Representasi, Padang Pariama
KHATTIL QUR’AN DAN DAUN SIRIH DALAM PENCIPTAAN KARYA SENI KALIGRAFI GRAFIS
The art work entitled "Khattil Qur'an and Betel Leaf as an Idea for Creating a Graphic Artwork", cultivates beautifully arranged pure Arabic calligraphy letters decorated with betel leaf motifs as ideas. Pure calligraphy based entirely on the principles of standard writing rules. Today's calligraphy processing often ignores the rules, where the writing of verses on paintings seems to be subject to painting, so that in the end the message that is communicated is more of appreciation. Betel leaf is a plant that propagates and rests on the trunk of another tree. The selection of betel leaf because it is a type of medicinal plant and can be synchronized with the theme of prayer in the work, and has the same benefits for health. The method used in the creation of this graphic art works through several systematic stages, namely the exploration, experimentation, and design stages. This work was done using graphic art media with high printing techniques. Media selection is based on the concern for calligraphers, as well as providing solutions or alternatives in terms of reproducing or printing a design manually before and during the MKQ competition.Keywords: khattil qur'an; betel leaf; calligraphy; high print graphics.AbstrakKarya seni berjudul “Khattil Qur’an dan Daun Sirih sebagai Ide Penciptaan Karya Seni Grafis”, mengolah huruf kaligrafi Arab murni yang dihiasi dengan motif daun sirih sebagai ide atau gagasan. Kaligrafi murni didasarkan sepenuhnya pada prinsip-prinsip atau kaidah menulis yang baku. Pengolahan seni kaligrafi masa sekarang seringkali mengabaikan kaidah, dimana tulisan ayat pada lukisan seolah-olah tunduk pada lukisan, sehingga akhirnya pesan yang terkomunikasikan lebih kepada apresiasi. Daun sirih dipilih karena merupakan jenis tanaman obat dan dapat disinkronkan dengan tema shalat pada karya, dan memiliki kesamaan manfaat untuk kesehatan. Metode yang digunakan dalam penciptaan karya seni grafis ini melalui beberapa tahapan sistematis, yakni tahap eksplorasi, eksperimentasi, dan perancangan. Karya ini digarap menggunakan media seni grafis dengan teknik cetak tinggi. Pemilihan media didasarkan pada bentuk kepedulian terhadap kaligrafer, sekaligus memberikan solusi atau alternatif dalam hal memperbanyak atau mencetak suatu desain dengan cara manual sebelum dan saat perlombaan MKQ.Kata Kunci: khattil qur’an; daun sirih; kaligrafi; grafis cetak tingg
KONSEP GARAPAN ANDUNG HU: SEBUAH TAFSIR MUSIKAL ATAS RATAPAN KEMATIAN MASYARAKAT BATAK TOBA
This article discusses the musical concept of an orchestral piece entitled Andung Hu, which in Batak language means my lament. Andung Hu’s work departs from the reinterpretation of the Andung tradition, a lamentation of sorrow in the context of the death committed by the Toba Batak people. Applying the method of transformation, with the concept of transit and transition, this paper is intended as a form of elaboration of the concept of Andung Hu’s work. The data collected from the work process by Della Rosa Pangabean, which was analyzed critically-reflectively, by viewing the work process as a form of artistic research. The results of the analysis show that the transformation process from the Andung tradition in the Toba Batak society to the Andung Hu Orchestra takes three key stages, namely: interpretation; orchestration; and improvisation. The materials and tools used in the stages of the creation process are: scales; atonal technique; motive; development techniques; and taganing motifs. The result of the work is a composition in the form of a program music entitled Andung Hu.Keywords: lamentation; Toba Batak; musical concept; Andung Hu; orchestraAbstrakTulisan ini membicarakan tentang konsep musikal dari sebuah karya orkestra berjudul Andung Hu, yang dalam Bahasa Batak berarti ratapanku. Karya Andung Hu berangkat dari reinterpretasi atas tradisi Andung, sebuah ratapan kesedihan dalam konteks kematian yang dilakukan oleh masyarakat Batak Toba. Menerapkan metode transformasi atau alih wahana, dengan konsep transit dan transisi, tulisan ini dimaksudkan sebagai bentuk penjabaran konsep garapan dari karya Andung Hu. Data-data dihimpun dari proses berkarya oleh Della Rosa Pangabean, yang dianalisis secara kritis-reflektif, dengan memandang proses berkarya tersebut sebagai suatu bentuk penelitian artitik. Hasil analisis menunjukkan bahwa proses transformasi dari tradisi Andung dalam masyarakat Batak Toba menjadi karya Orkestra Andung Hu, menempuh tiga tahapan kunci, yakni: interpretasi; orkestrasi; dan improvisasi. Adapun bahan dan alat yang digunakan dalam tahapan proses penciptaan itu adalah: tangga nada; teknik atonal; motif; teknik pengembangan; dan motif taganing. Adapun hasil karya adalah sebuah komposisi dengan bentuk musik programa yang diberi judul Andung Hu.Kata Kunci: ratapan kematian; Batak Toba; konsep musikal; Andung Hu; orkestras
KAJIAN SEMIOTIKA TIPOLOGI TANDA PADA TEPAK SIRIH DAN BALE DI MEDAN DELI
This study aims to determine how the understanding of Tepak Sirih and Bale Melayu is assessed based on the symbolic aspects, the relationship between the representamen and the object, and the interpretant. The method used is a descriptive qualitative method, applying Charles Sanders Peirce's semiotic theory to provide a clear description of the meaning of the typology of signs found in tepak sirih and bale Melayu in Medan Deli District. The study results explain that the presence of tepak sirih and Malay bale is a sensory representation or sign. In relation to representation and object, the company of tepak sirih and bale Melayu refers to a form or container to place something, namely betel and its perencah (tepak) and rice side dishes (malay bale). Based on the interpretation, the understanding of the tepak sirih and the Malay bale is another equivalent sign, namely as a Malay custom or culture.Keywords: Semiotics; Charles Sanders Peirce; betel palm; Malay bale AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pemahaman terhadap Tepak Sirih dan Bale Melayu dikaji berdasarkan aspek representamen, hubungan representamen dengan objek, dan interpretan. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif, dengan penerapan teori semiotika Charles Sanders Peirce, untuk memberikan gambaran secara jelas mengenai pemaknaan tipologi tanda yang terdapat pada tepak sirih dan bale Melayu di Kecamatan Medan Deli. Hasil penelitian menjelaskan bahwa kehadiran tepak sirih dan bale Melayu merupakan suatu representamen atau tanda yang bersifat indrawi. Dalam hubungan representamen dengan objek, kehadiran tepak sirih dan bale Melayu mengacu pada suatu bentuk atau wadah untuk menempatkan sesuatu, yaitu sirih dan perencahnya (tepak) serta nasi dan lauk pauk (bale Melayu). Berdasarkan interpretan, pemahaman terhadap tepak sirih dan bale Melayu merupakan tanda lain yang ekuivalen, yaitu sebagai adat istiadat atau budaya Melayu.Kata Kunci: Semiotika; Charles Sanders Peirce; tepak sirih; bale Melayu
KREASI SULAMAN SUJI CAIA MENGGUNAKAN TEKNIK KERANCANG TIMBUL UNTUK PAKAIAN PEREMPUAN MINANGKABAU
The creation of “Suji Caia's embroidery creations using engineering techniques. Embossed for Minangkabau Women's Clothing” is a collaboration of Suji Caia with a manual draft embossed using gold / silver thread metallic. This Suji Caia embroidery creation is applied to Minangkabau women's clothing in the form of a veil, baju kurung and a bag. The form of this is the creation with the concept of expressing personal art as a symbol of the author's personal expression of Suji Caia. This creation is a work of textile art which is applied to Minangkabau women's clothing using rose and saik galamai motifs. In this work, the use of sequins, swarosvky and crystal crest are additional techniques used to add beauty value to the work. There are several stages in creating this artwork method, including exploration, design and embodiment stages. As a result, five works were created, the Minangkabau women's clothing set paired with Pandai Sikek songket.Keywords: Suji Caia Embroidery; Embroidery; Design, Minangkabau; Women's ClothingAbstrakPenciptaan karya seni “Kreasi Sulaman Suji Caia menggunakan Teknik Kerancang Timbul untuk Pakaian Perempuan Minangkabau” merupakan kolaborasi Suji Caia dengan kerancang manual berbentuk timbul menggunakan benang emas/ perak metalik. Kreasi Sulaman Suji Caia ini di terapkan pada pakaian perempuan Miunangkabau berupa kerudung, baju kurung dan tas. Bentuk karya ini merupakan hasil kreasi pengkarya dengan konsep ekspresi personal seni sebagai lambang ekspresi pribadi pengkarya terhadap Suji Caia. Kreasi ini merupakan karya seni tekstil yang diaplikasikan pada pakaian perempuan Minangkabau menggunakan motif mawar dan motif Saik Galamai. Dalam karya ini pemasangan payet, swarosvky dan jambul Kristal merupakan teknik tambahan yang dipakai untuk menambah nilai keindahan karya. Metode dalam penciptaan karya kriya seni ini melalui beberapa tahap, antaranya tahap eksplorasi, perancangan, dan perwujudan. Karya yang diciptakan berjumlah lima set pakaian perempuan minang yang dipasangkan dengan songket Pandai Sikek.Kata Kunci: Sulaman Suji Caia; Bordir, Kerancang; Pakaian Perempuan; Minangkabau
PERANCANGAN MOTIF BURUNG MURAI DENGAN TEKNIK ECOPRINT KOMBINASI SULAM UNTUK OUTWEAR
Textile dyeing in this modern era, many industries use synthetic materials which will have a negative impact on the environment. To overcome this, start making textile coloring using environmentally friendly substances or even with natural dyes. One example is ecoprint. Ecoprint is widely known as a textile dyeing method using plants as a substitute for synthetic dyes. The resulting motifs are leaves, flowers, or other plant parts that can produce color. Exploration of motifs can still be developed again by processing leaves into other motifs. This design aims to create a new innovation in presenting the novelty of ecoprint motifs by processing leaves to form new motifs. This new motif will later add to the appeal of ecoprint products. The formation of this ecoprint motif can be done by taking a form that can be applied in the ecoprint technique. The shape should not be arbitrary because it can affect how the ecoprint results will be. The process of making this ecoprint needs to go through several stages that have been explained by S.P Gustami's theory, namely: exploration, design and embodiment which will lead to the design of products that have new ideas and developments from previous designs.Keywords: Ecoprint; embroidery; motif; outwear AbstrakPewarnaan tekstil pada zaman modern ini banyak industri yang menggunakan bahan sintetis yang akan berdampak buruk terhadap lingkungan. Untuk mengatasi hal tersebut mulailah dibuat pewarnaan tekstil menggunakan zat yang ramah lingkungan atau bahkan dengan pewarnaan alam. Salah satu contohnya adalah ecoprint. Ecoprint ini sudah banyak dikenal adalah metode pewarnaan tekstil dengan memanfaatkan tumbuh-tumbuhan sebagai pengganti zat warna sintetis. Motif yang dihasilkan adalah daun, bunga,atau bagian tumbuhan lain yang dapat menghasilkan warna. Eksplorasi motif masih dapat dikembangkan lagi dengan mengolah daun menjadi bentuk motif lain. Dalam perancangan ini bertujuan untuk membuat sebuah inovasi baru dalam menghadirkan kebaruan motif ecoprint dengan mengolah daun agar membentuk motif baru. Motif baru ini nantinya akan menambah daya tarik pada produk ecoprint. Pembentukan motif ecoprint ini dapat dilakukan dari mengambil sebuah bentuk yang dapat diaplikasikan dalam teknik ecoprint. Bentuk tidak boleh sembarangan karena dapat mempengaruhi bagaimana hasil ecoprint nanti. Proses membuat ecoprint ini perlu melewati beberapa tahapan yang sudah dijelaskan oleh teori S.P Gustami yaitu: eksplorasi, perancangan dan perwujudan yang akan mengantarkan perancangan pada produk yang memiliki kebaruan ide dan perkembangan dari perancangan sebelumnya.Kata Kunci: Ecoprint; sulam; motif; outwea
COCONUT HUSK AS A BATIK COLORING MATERIAL
This study aims to describe how the process of making the color of batik made from coconut husk and to analyze the results of coloring batik made from coconut husk. In the research method to find out how the long effect of immersion in the color solution which will be able to produce color and also find out how the process of making the color is, researchers used descriptive qualitative research methods. After collecting data through observation research instruments, interviews and documentation. The making of natural colors in batik must be meticulous and correct, the results of the research show that the process is very influential on the final result. The results obtained at intervals of 5 hours, 10 hours, 15 hours and those that were dyed dry repeatedly for 7 times of dyeing, became a color difference that did not really affect the results obtained, the researchers concluded if the cloth was soaked in a 10 hour color solution. and above it will be the same result, based on the density of the color that will be obtained. The color produced from the coconut husk extract on the fixation of alum becomes light brown, then on the fixation it turns dark brown and on the fixation of lime it becomes yellowish brown.Keywords: coloring; coconut coir; fixation.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana proses pembuatan warna batik berbahan sabut kalapa dan menganalisis hasil dari pewarnaan batik berbahan sabut kelapa. Dalam metode penelitian untuk mengetahui bagaimana pengaruh lama dalam perendaman larutan warna yang akan dapat menghasilkan warna dan juga mengetahui bagaimana proses pembuatan warna tersebut, peneliti menggunakan metode penelitian Kualitatif Deskriptif. Setelah dilakukan pengumpulan data melalui instrumen penelitian observasi, wawancara dan dokumentasi. Pembuatan warna alami pada batik harus dengan teliti dan benar, hasil penelitian menunjukkan bahwa pada proses sangat berpengaruh pada hasil akhirnya. Hasil yang diperoleh pada interval waktu 5 jam, 10 jam, 15 jam dan yang dicelup kering berulang-ulang sebanyak 7 kali pencelupan, menjadi perbedaan warna yang tidak begitu begitu berpengaruh pada hasil yang di dapatkan, peneliti menyimpulkan jika kain direndam dalam larutan warna 10 jam keatas itu akan menjadi hasil yang sama saja, berdasarkan kepekatan warna yang akan didapatkan. Warna yang dihasilkan dari ekstrak sabut kelapa pada Fiksasi tawas menjadi warna coklat terang, kemudian pada Fiksasi tunjung menjadi coklat tua dan pada Fiksasi kapur menjadi coklat kekuningan.Kata Kunci: pewarnaan; sabut kelapa; fiksasi
VISI DRAMATIK SOEKARNO DALAM DRAMA RAINBOW: POETRI KENTJANA BOELAN
This research aims to uncover the vision behind the writing and performance of the drama Rainbow: Poetri Kentjana Boelan. The case in question in this research is how is Soekarno's dramatic vision in the drama Rainbow: Poetri Kentjana Boelan? This study uses a theater history study approach with qualitative research methods. The theoretical framework chosen to answer the research questions is the concept of dramatic vision. Some of the conclusions generated from this research are through the drama Rainbow: Poetri Kentjana Boelan, Soekarno provides education and raises awareness and establishes communication and designs struggles to realize Indonesian independence.Keywords: Soekarno, Rainbow: Poetri Kentjana Boelan, Dramatic VisionAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengungkap visi yang melatarbelakangi penulisan dan pementasan drama Rainbow: Poetri Kentjana Boelan. Kasus yang dipertanyakan dalam penelitian ini adalah bagaimana visi dramatik Soekarno dalam drama Rainbow: Poetri Kentjana Boelan? Penelitian ini menggunakan pendekatan kajian sejarah teater dengan metode penelitian kualitatif. Kerangka teoritis yang dipilih untuk menjawab pertanyaan penelitian adalah konsep visi dramatik. Beberapa kesimpulan yang dihasilkan dari penelitian ini adalah melalui drama Rainbow: Poetri Kentjana Boelan, Soekarno memberikan edukasi dan menumbuhkan kesadaran serta menjalin komunikasi dan merancang perjuangan untuk mewujudkan kemerdekaan IndonesiaKata Kunci: Soekarno, Rainbow: Poetri Kentjana Boelan, Visi Dramatik