Melayu Arts and Performance Journal
Not a member yet
110 research outputs found
Sort by
EKSISTENSI KESENIAN GANDANG LASUANG DI JORONG PASA LAMO KECAMATAN SASAK RANAH PASISIA KABUPATEN PASAMAN BARAT
The purpose of this study was to describe the existence seen from the use and function of the Gandang Lasuang art at a wedding ceremony in Jorong Pasa Lamo, Sasak Ranah Pasisia District, West Pasaman Regency. This research uses qualitative approach. The research conducted in Jorong Pasa Lamo. The results of the study show that the existence of the Gandang Lasuang has indeed experienced various advances from year to year. Judging from its use where this art was formerly only used as a medium for entertaining the community when pounding rice, but now it has been used as a traditional crowd event in the community who is holding wedding ceremonies and other uses as well as a welcoming ceremony or other artistic performances both in the nagari. or outside the area. The results of the research that has been done can be seen in the form of Gandang Lasuang Art as a means of entertainment, communication, cultural preservation functions and community integration functions.Keywords: existence; function; art; Gandang Lasuang; West PasamanAbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan eksistensi dilihat dari penggunaan dan fungsi kesenian Gandang Lasuang pada upacara pesta perkawinan di Jorong Pasa Lamo Kecamatan Sasak Ranah Pasisia Kabupaten Pasaman Barat. Jenis penelitian menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Lokasi penelitian dilakukan di Jorong Pasa Lamo. Hasil penelitian menunjukan bahwa eksistensi kesenian Gandang Lasuang ini memang mengalami berbagai kemajuan dari tahun ke tahun. Dilihat dari penggunaannya, kesenian ini dahulunya hanya dijadikan sebagai media penghibur bagi masyarakat pada saat menumbuk padi, tapi sekarang sudah digunakan sebagai acara keramaian adat serta dalam melangsungkan upacara pesta perkawinan. Penggunaan lainnya juga sebagai pengisi acara penyambutan atau penampilan kesenian lainnya baik dalam nagari maupun keluar daerah. Hasil penelitian yang telah dilakukan dapat dilihat beberapa berupa Kesenian Gandang Lasuang sebagai sarana hiburan, komunikasi, fungsi pelestarian budaya dan fungsi pengintegrasian masyarakat.Kata Kunci: eksistensi, fungsi, kesenian; Gandang Lasuang; Pasaman Bara
EKSPRESI BEJANA PERUNGGU KERINCI SEBAGAI PENGHIAS INTERIOR
AbstrakBejana perunggu Kerinci merupakan salah satu peninggalan dari zaman logam, ditemukan pada 1922 di Kabubaten Kerinci. Seluruh permukaan dari benda tersebut dihiasi oleh motif geometris. Bejana dan motif-motif geometris itu dijadikan sumber inspirasi dan diekspresikan ke karya kriya logam panel dalam bentuk dua dimensi untuk hiasan interior. Metode penciptaan diawali dengan eksplorasi, tahap perancangan dan tahap perwujudan. Teknik yang digunakan adalah ukir logam (tatah), grafir, dan kerawang. Finishing woodstain black, dan clear doof. Hasil karya “Ekspresi Bejana Perunggu Sebagai Penghias Interior” berupa panel yang dipajang di dinding. Adapun judul karya tersebut adalah tiga bejana Kata Kunci: Ekspresi; Bejana Perunggu Kerinci; Interior. AbstractThe Kerinci bronze vessel was one of the relics of the metal age, found in 1922 in Kerinci Regency. The entire surface of the object was decorated with geometric motifs. Vessels and geometric motifs were used as a source of creation and were expressed in metal panel crafts in two dimensions for interior decoration. The method of creation begins with exploration, the design stage and the embodiment stage. The techniques used were metal carving (inlay), engraving, and filigree. Finishing woodstain black, and clear doof. The work "Bronze Vessel Expression As Interior Decorator" was a panel that was displayed on the wall. The title of the work was three vessel, decorative lights and decorative clock Keywords: Expression; Kerinci Bronze Vessel; Interior.
OPTIMALISASI SENI MUSIK DALAM PENDIDIKAN ISLAM
This paper describes the optimization of art in Islamic education. The source of the idea comes from various journal literature. By using a literature study approach, this research shows that the position of art in Islam has a very important role, because art is a part of culture that cannot be separated from education. Therefore, in the context of Islamic education, especially in Islamic educational institutions, art must continue to be preserved through various creative activities. An ideal extensionist at least masters the map of da'wah, understands the characteristics of the community and is rich in da'wah methodologies. So that the message conveyed to the people is easy to accept and succeed. The characteristics of the majority community in Indonesia are, they like all things that smell like art from the young to the old. Da'wah wrapped in art has been widely used by preachers, for example, music, puppets, theater, and many others. There is a lot of evidence of the success of art in da'wah methods such as music, this da'wah method is suitable for all people from the young to the young, this da'wah method is very popular with Preacher because it brings a cheerful and fun atmosphere and is easily absorbed by listeners in Islamic values that contained in the song that is sung. The brain development approach is an important concern in the care and development of early childhood because as it has been previously known that the brain controls human life. This study aims to determine the urgency of art learning in optimizing early childhood learning in field observation studies. Individuals engaged in art can increase spontaneity and self-expression, control limited inhibitory effects, and produce creative work
PEMBENTUKAN KARAKTER PENARI MELALUI KESENIAN YANG DIMILIKI SUATU DAERAH
Identitas merupakan penanda kehadiran kelompok dalam masyarakat. Identitas budaya termasuk dalam kategori identitas yang memudahkan komunikasi antar budaya disekelilingnya. Penentuan Identitas budaya diukur dari pola perilaku sosial yaitu berupa pola persepsi, berpikir, perasaan, dan struktur sosialnya. Jati diri yang dimiliki seseorang merupakan sebuah identitas yang diperoleh sejak lahir, kemudian melalui proses interaksi dalam kehidupan yang dilakukan setiap hari dan membentuk suatu pola khusus yang mendefinisikan tentang karakter seseorang tersebut. Melalui budaya tebentuk cara hidup yang berkembang dan dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Penggabungan istilah identitas budaya memiliki pengertian sebagai pembedakan antara satu kebudayaan dengan kebudayaan yang lain karena identitas budaya tersebut merupakan suatu karakter khusus yang melekat dalam suatu kebudayaan. Pembentukan karakter budaya yang ada dilandasi oleh kreativitas yang dimiliki oleh setiap manusianya. Kreativitas merupakan jalan keluar seseorang mengeluarkan berbagai ide yang didorong oleh kebutuhan berekspresi. Seseorang dapat berkreasi menciptakan benda seni yang unik dan bernilai tinggi dalam lingkup dunia seni sehingga mampu memiliki identitas kekhasan. Berbagai seni timbul karena kemampuan manusia untuk menggali pandangan yang tajam dari pengalaman hidupnya. Proses kreatif tersebut merupakan suatu tangkapan inderawi, perasaan apa yang dirasakan, eksplorasi pengamatan dan perasaan, hubungan imajinatif dari pengalaman yang tersimpan, yang akhirnya kemudian membentuk suatu produk baru. Produk yang dihasilkan merupakan wujud dari sebuah pendidikan karakter yang dimiliki oleh berbagai daerah.Kata kunci: Identitas; Pendidikan Karakter; Kreatifitas AbstractIdentity is a marker of the presence of a group in society. Cultural identity is included in the category of identity that facilitates communication between the surrounding cultures. Cultural identity is determined by patterns of social behavior, namely patterns of perception, thinking, feeling, and social structure. A person's identity is obtained from birth through a process of interaction in life that is carried out every day and forms a unique pattern that defines that person's character. Through culture, a way of life is formed that develops, is owned by a person or group of people, and is passed down from generation to generation. The combination of the term cultural identity has a meaning as a distinction between one culture and another because cultural identity is a unique character inherent in the culture. The formation of existing cultural character is based on the creativity of every human being. Creativity is a way for someone to issue various ideas driven by the need for expression. For example, a person can be creative in creating unique art objects of high value within the scope of the art world so that they can have a distinctive identity. Various arts arise because of the human ability to dig sharp insights from life experience. The creative process is a sensory capture of what feelings are felt, exploration of observations and feelings, and imaginative relationships from stored experiences, which eventually form a new product. The resulting product is a form of character education owned by various regions.Keywords: Identity; Character Education; Creativit
TATA KELOLA FESTIVAL WARGA: MENATA RANGKA KERJA KOLEKTIF
This article presents the results of research on various Festival Warga management in several places in Indonesia. Festival Warga is a concept that is growing and developing today as part of the cultural literacy movement, as part of the ideals of sustainable cultural development. The purpose of research is to describe and analyze the development model of the Festival Warga, as a reference for the development of community-based festivals, with an emphasis on the development of the Festival Warga ecosystem. The research was conducted qualitatively, with primary data from involved observations and literature studies. The results of the research are presented in a descriptive analysis method, containing an offer of concepts and basic principles of developing Festival Warga. The results of the study indicate that there are three basic principles in the development of the Festival Warga: (1) Sense of Ownership and Involvement in the Festival; (2) Principles of Cadre in the Development of Production Teams; and (3) the Mutual Cooperation Pattern as an Indicator of Implementation Success.Keywords: management; festival warga; a sense of ownership; cultural ecosystem; mutual cooperation AbstrakArtikel ini menyajikan hasil penelitian tentang berbagai Tata Kelola Festival Warga di beberapa tempat di Indonesia. Festival Warga adalah sebuah konsep yang tumbuh dan berkembang dewasa ini sebagai bagian dari gerakan literasi budaya, sebagai bagian cita-cita pembangunan kebudayaan berkelanjutan. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis model pengembangan Tata Kelola Festival Warga, sebagai referensi bagi pembangunan festival berbasis masyarakat, dengan empasis pada pembangunan ekosistem festival warga. Penelitian dilakukan secara kualitatif, dengan data primer hasil observasi terlibat dan studi pustaka. Hasil penelitian disajikan dengan metode analisis deskriptif, memuat tawaran konsep dan prinsip-prinsip dasar pengembangan festival warga di Nusantara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga prisip dasar dalam pembangunan Festival Warga, yakni: (1) Rasa Kepemilikan dan Keterlibatan dalam Festival; (2) Prinsip Pengkaderan dalam Pembangunan Tim Produksi; dan (3) Pola Gotong Royong sebagai Indikator Keberhasilan Pelaksanaan.Kata Kunci: tata kelola; festival warga; rasa kepemilikan; ekosistem budaya; gotong royon
KEHIDUPAN KAMPUNG NELAYAN SEBAGAI OBJEK PENCIPTAAN FOTOGRAFI
Membuat karya fotografi bukan hanya sekedar menangkap atau merekam suatu kejadian saja tetapi juga harus memperhatikan dan menerapkan unsur-unsur estetika dari subjek yang akan dipotret. Pada intinya menampilkan sesuatu yang menarik dan unik untuk diapresiasi. Kampung nelayan Belawan merupakan tempat para nelayan hidup diantara kehidupan perkotaan dan ini membuat kampung nelayan Belawan kurang dipandang. Kurangnya perhartian dan kepedulian dari masyarakat dan pemerintah membuat kampung ini kurang diapresiasi. Letak tatanan struktur bangunan, kegiatan manusia, serta lingkungan alam yang masih dikategorikan sangat sederhana membuat kampung nelayan Belawan ini memiliki keestetikannya sendiri dalam lensa fotografi. Dengan lensa fotografi mampu mengungkapkan sisi kehidupan sosial, bentuk visual tatanan objek, setting alam, serta lingkungan kampung nelayan Belawan. Hal-hal ini tentu menarik untuk divisualkan sebagai karya yang berestetika dan mengandung banyak makna dalam karya seni fotografi
CALLIGRAPHY DECORATION ANALYSIS IN TERMS OF SHAPE PATTERNS, COLORS AND FONTS
Penelitian ini dilakukan karena peneliti merasa banyaknya ditemukan masalah pada karya kaligrafi disanggra Kaligrafi Annida Medan. diantaranya yaitu sebagian kaligrafer tidak menggunakan pola bentuk yang kurang sesuai dan pemilihan warna yang variatif, pemilihan jenis kaligrafi yang kurang tepat, dan karya kaligrafi tidak menggunakan konsep warna. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari, mengetahui, menggambarkan, menguraikan dan menganalisa pemilihan pola bentuk, warna dan jenis huruf pada karya kaligrafi golongan dekorasi di sanggar Kaligrafi Annida Medan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif sebagai acuan. Subjek dari penelitian ini adalah kaligrafi golongan dekorasi karya kaligrafi peserta didik di Sanggar Kaligrafi Annida Medan ditinjau dari pola bentuk, warna dan jenis huruf. sebanyak 8 karya kaligrafi dekorasi. Hasil keseluruhan dalam penelitian ini menjelaskan bahwa karya kaligrafi golongan dekorasi dinilai dari pola bentuk, warna dan jenis huruf dinilai cukup baik.Kata Kunci: Kaligrafi Dekorasi; Pola Bentuk; Warna; Jenis Huru
STRATEGI PEMBELAJARAN KESENIAN ULU AMBEK PADA MASA PANDEMI DI PARIAMAN
This article discusses the ulu ambek art learning strategy during the Covid-19 pandemic in Pariaman, which faces a new problem, namely the prohibition of gathering activities. This situation is certainly very risky for every cultural unit if it is not strong in defending itself. Ulu ambek art inevitably has to try to find alternatives to learning strategies to respond to the pandemic, one of which is to try online learning by utilizing digital technology media. The results of the analysis show that online learning strategies are difficult to apply to the ulu ambek. Because, the art of ulu ambek as an important part of Pariaman culture, holds the values and perceptions of the Pariaman people, especially the value of the leadership of the penghulu. Ulu ambek art is defined as a manifestation of the abstraction of the penghulu in Pariaman, including ideas, behaviors, and results of behavior. Both values and perceptions relate to the psychological aspects of ulu ambek supporters, which are important in directing their behavior, which are difficult to internalize through online learning strategies.Keywords: pandemic; strategy; learning; Pariaman; ulu ambek AbstrakTulisan ini membicarakan tentang strategi pembelajaran kesenian ulu ambek pada masa pandemi Covid-19 di Pariaman, yang menghadapi persoalan baru yaitu dilarangnya kegiatan berkumpul. Keadaan ini tentunya sangat berisiko bagi setiap unit kebudayaan jika tidak kuat dalam mempertahankan dirinya. Seni ulu ambek mau tidak mau harus berusaha untuk menemukan alternatif dari strategi pembelajaran guna menyikapi pandemi, salah satunya adalah mencoba pembelajaran daring dengan memanfaatkan media teknologi digital. Hasil analisis menunjukkan bahwa strategi pembelajaran daring sulit diterapkan atas ulu ambek. Sebab, seni ulu ambek sebagai bagian penting kebudayaan Pariaman, menyimpan nilai-nilai dan persepsi masyarakat Pariaman, terutama atas nilai kepemimpinan penghulu. Seni ulu ambek didefinisikan sebagai wujud dari abstraksi penghulu di Pariaman, mencakup gagasan, kelakuan, dan hasil kelakuan. Baik nilai-nilai maupun persepsi, berkaitan dengan aspek-aspek kejiwaan para pendukung ulu ambek, yang penting artinya dalam mengarahkan tingkah laku mereka, yang sulit diinternalisasikan melalui trategi pembelajaran daring.Kata Kunci: pandemi; strategi; pembelajaran; Pariaman; ulu ambe
MIDI SEBAGAI INOVASI DAN ALTERNATIF MUSIK IRINGAN TARI DI MASA PANDEMI
This paper discusses MIDI innovation for dance accompaniment needs. MIDI or Musical Instrument (with) Digital Interface, is a revolution in the development of music. Presentation of dance accompaniment using MIDI has several advantages in a technological update. MIDI innovations in this study are discussed using descriptive analysis methods. The dance accompaniment in question is a dance accompaniment that usually uses gamelan devices can be denoted in software in a system called MIDI. This topic is taken from the phenomenon that occurs in the Pandemic period. With MIDI, a composer can relatively simple listen to his work that has been written using music notation software on his computer. The large number of choreographers who need accompaniment during working digitally, allows the availability of insufficient human resources. Therefore, MIDI can be an alternative innovation to fill or correct these deficiencies.AbstrakTulisan ini membahas tentang inovasi MIDI untuk kebutuhan iringan tari. MIDI atau Musical Instrument (with) Digital Interface, merupakan revolusi dalam perkembangan musik. Penyajian iringan tari menggunakan MIDI memiliki beberapa kelebihan dalam sebuah pembaharuan teknologi. Inovasi MIDI dalam kajian ini dibahas menggunakan metode deskriptif analisis. Iringan tari yang dimaksud adalah iringan tari yang biasanya menggunakan perangkat gamelan dapat dinotasikan pada software dalam sebuah sistem yang disebut MIDI. Topik ini diambil dari fenomena yang terjadi di masa Pandemi Covid-19. Dengan MIDI, seorang komposer bisa secara relatif sederhana mendengarkan hasil karyanya yang sudah ditulis memakai software music notation di komputernya. Banyaknya koreografer yang membutuhkan pengiring saat berkarya secara digital, memungkinkan ketersediaan sumber daya manusia yang tidak mencukupi. Oleh karena itu, MIDI dapat menjadi sebuah inovasi alternatif untuk mengisi atau memperbaiki kekurangan tersebut.Kata Kunci: MIDI; gamelan, software music notation; musik iringan; seni tari
ALUR DRAMATIK KESENIAN TRADISIONAL SIDALUPA DI ACEH BARAT
Sidalupa art, on the one hand, is a form of dance without a particular pattern or technique accompanied by serunee and rapa'i music. On the other hand, sometimes it is also made into a form of theatrical performance, marked by the presence of actors, musicians, costume makers, and directors in the process. Today, Sidalupa's art is also packaged with cinematic techniques. This article aims to describe the dramatic flow of Sidalupa art produced by the Datok Rimba and Buraq Lam Tapa art studios in West Aceh which has been produced cinematically based on the ideas of Gustav Freytag; exposition, complication, climax, resolution, and conclusion. This research approach is qualitative with descriptive-analytical method. The techniques applied are video-analysis, observation, content-analysis, literature study, and interviews. The result was that Sidalupa's artistic creation, produced by the Datok Rimba Art Studio, contained quite complex dramatic elements, as did Freytag's idea. Likewise, the chain of events presented shows a coherent series of causes and effects. Meanwhile, the work of the Buraq Lam Tapa group seems to tend to disguise stories and characters as elements that drive events. In other words, it does not contain the complex dramatic elements as stated by Freytag.Keywords: Dramatic Plot; Sidalupa Art; West Aceh.AbstrakKesenian Sidalupa, di satu sisi, ialah sebentuk tarian tanpa pola atau teknik tertentu yang diiringi musik serunee dan rapa’i. Di lain sisi, terkadang juga digarap menjadi sebentuk pertunjukan teater, ditandai dengan adanya aktor, pemusik, pembuat kostum, dan sutradara dalam proses garapannya. Dewasa ini, kesenian Sidalupa dikemas pula dengan teknik sinematik. Artikel ini bertujuan memaparkan alur dramatik kesenian Sidalupa produksi Sanggar Seni Datok Rimba dan Buraq Lam Tapa di Aceh Barat yang digarap secara sinematik berlandaskan pada gagasan Gustav Freytag; eksposisi, komplikasi, klimaks, resolusi, dan konklusi. Pendekatan penelitian ini ialah kualitatif dengan metode deskriptif-analitis. Teknik yang diterapkan adalah video-analisis, observasi, konten-analisis, studi pustaka, dan wawancara. Hasil yang didapati ialah garapan kesenian Sidalupa produksi Sanggar Seni Datok Rimba memuat unsur dramatik yang cukup kompleks, sebagaimana gagasan Freytag. Begitu pula dengan jalinan peristiwa yang dihadirkan, menunjukkan rangkaian sebab-akibat yang runtut. Sedangkan garapan kelompok Buraq Lam Tapa, terkesan cenderung menyamarkan cerita dan tokoh sebagai unsur penggerak peristiwa. Dengan kata lain, tidak memuat unsur dramatik yang kompleks sebagaimana dikemukakan Freytag.Kata Kunci: Alur Dramatik; Kesenian Sidalupa; Aceh Bara