Griya Jurnal UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto
Not a member yet
4412 research outputs found
Sort by
Indonesian PENERAPAN PENDEKATAN KONSTRUKSIVISME DALAM MENGOPTIMALKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS PADA PEMBELAJARAN IPAS SISWA MADRASAH IBTIDAIYAH
This research investigates the application of the constructivist approach in enhancing critical thinking skills in science learning. The subjects of this study include the principal, the 5B class teacher, and 30 students from class 5B at MIN 2 Bantul. The researchers employed a constructivist philosophical approach with a case study design. Data sources consisted of interviews, observations, documentation, and analysis of additional supporting documents. After data collection and aggregation, the data were analyzed using the interactive model by Miles, Huberman, and Saldana, which includes data condensation, data display, and conclusion drawing or verification. To ensure data validity, data triangulation was employed. The findings of this research indicate that utilizing a constructivist approach in science education enhances student engagement, fosters enthusiasm, and optimizes critical thinking skills in addressing learning challengesPenelitian ini fokus untuk mengetahui bagaimana penerapan pendekatan konstruktivisme dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis pembelajaran IPAS. Subjek dalam penelitian ini meliputi kepala sekolah, guru kelas 5B, dan siswa kelas 5B yang berjumlah 30 siswa di MIN 2 Bantul. Peneliti menggunakan pendekatan filsafat konstruktivisme dengan desain studi kasus dalam mengkaji penelitian ini. Sumber data yang digunakan berupa wawancara, observasi, dokumentasi, dan analisis dokumen penunjang lainnya. Setelah data dikumpulkan dan dikumpulkan, peneliti melakukan analisis data yang mengacu pada model interaktif milik Mils, Huberman, dan Saldana yaitu kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi data. Peneliti menggunakan triangulasi data dalam menjaga kebsahan data. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa pembelajaran IPAS yang diajarkan dengan menggunakan pendekatan konstruktivisme dapat menambah keaktifan belajar siswa, memberikan semangat, dan mengoptimalkan kemampuan berpikir kritis dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam pembelajaran
LANDASAN TEOLOGIS DAN PRAKTIK PENDIDIKAN MULTIKULTURAL
Indonesia’s diverse landscape presents challenges in creating a multicultural education system. This study explores how Islamic teachings from the Qur’an and Sunnah can enhance multicultural education in Indonesia. Using library research, the study analyzes literature for qualitative data. A descriptive-analytical approach is applied to understand the theological foundations, sourcing data from books, sacred texts, and journals. Key principles identified include equality (al-musawah), justice (al-’adl), compassion (al-rahmah), and tolerance (al-tasamuh). Verses like QS. Al-Hujurat: 13 emphasize human equality, QS. An-Nahl: 90 highlights justice and kindness, QS. Ali-Imran: 159 advocates gentleness and forgiveness, and QS. Al-Kafirun: 1-6 promotes respect for religious differences. The Prophet’s practices in Medina, including the Charter of Medina, illustrate these principles in fostering cooperation and peaceful coexistence. The research concludes that the Qur’an and the Prophet’s teachings provide a robust foundation for multicultural education in Indonesia.Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana ajaran Islam dari Al-Qur\u27an dan Sunnah dapat digunakan sebagai dasar untuk memperkuat praktik pendidikan multikultural di Indonesia. Metode deskriptif-analitis digunakan untuk menyajikan data secara komprehensif dan mengembangkan wawasan untuk menganalisis landasan teologis pendidikan multikultural. Pengumpulan data melibatkan sumber primer dan sekunder: buku, kitab suci, dan jurnal yang relevan. Hasil penelitian ini mengidentifikasi beberapa ayat Al-Qur\u27an dan praktik Nabi Muhammad sebagai dasar teologis untuk pengembangan pendidikan multikultural. Prinsip-prinsip utama meliputi kesetaraan \, keadilan, kasih sayang, dan toleransi. Misalnya, QS. Al-Hujurat: 13 menekankan kesetaraan manusia dan niat ilahi di balik keberagaman. QS. An-Nahl: 90 menyoroti keadilan dan kebaikan tanpa diskriminasi. QS. Ali-Imran: 159 menekankan pentingnya kelembutan dan pengampunan. QS. Al-Kafirun: 1-6 menekankan penghargaan terhadap perbedaan agama. Praktik Nabi di Madinah, seperti pembuatan Piagam Madinah, juga mengilustrasikan penerapan prinsip-prinsip ini dalam masyarakat yang beragam, mempromosikan kerjasama dan keberadaan damai di antara kelompok-kelompok yang berbeda.  
ETIKA KOMUNIKASI DI MEDIA SOSIAL: KAJIAN AL-QURAN SURAT AN-NUR AYAT 11-15
The contemporary world is vastly different from the past, particularly in the realm of communication and information. Modern advancements have facilitated seamless global communication, effectively shrinking the vast world. The internet, as a new communication medium, has had both beneficial and detrimental impacts on society. This study aims to explore the interpretation of Surah An-Nur 24:11-15, the communication ethics contained within these verses, and their application in social media interactions. Employing a qualitative library research method, data was gathered through an extensive review of relevant literature, with the Qur’an as the primary source. The communication ethics in Surah An-Nur 24:11-15 are encapsulated in three principal values: (1) speaking kindly, (2) honesty, and (3) accuracy of information (tabayyun). These ethical values are crucial for fostering peaceful and harmonious social interactions. This study highlights that these principles serve as essential guidelines for social media users, advocating for responsible and wise usage. By adhering to these values, individuals can enhance their social media interactions in accordance with Islamic teachings. The study underscores the importance of understanding and applying Islamic ethics in social media usage. Consequently, it is recommended that insights from this research be further developed and used as a reference to examine social media communication ethics from an Islamic perspective, employing diverse methodological approachesDunia modern saat ini berbeda dengan sebelumnya yang dapat dilihat dari berbagai bidang kehidupan manusia. Perkembangan di bidang komunikasi dan informasi saat ini membuat dunia yang luas ini seolah-olah kecil. Artinya manusia dapat berkomunikasi dan mendapatkan informasi secara global tanpa terbatas pada ruang dan waktu. Kehadiran internet sebagai media komunikasi baru dalam masyarakat mempunyai dampak baik dan buruk bagi kehidupan. Penelitian ini bertujuan untuk: mengetahui bagaimana penafsiran QS An-Nur/24: 11-15, mengetahui kandungan QS An-Nur/24:11-15 tentang etika komunikasi bermedia sosial dan untuk mengetahui bagaimana penerapan etika komunikasi bermedia sosial di internet dalam QS An-Nur/24:11-15. Jenis penelitian ini termasuk dalam penelitian library research dan termasuk dalam penelitian kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan menelaah referensi-referensi yang terkait dengan topik pembahasan. Dengan sumber rujukan pertama yaitu al-Qur’an karena ayatnya yang menjadi inti pembahasan dalam penelitian. Kandungan nilai-nilai etika komunikasi yang terdapat dalam QS An-Nur/24: 11-15 di dapat beberapa poin yaitu: (1) berkata baik, (2) bersikap jujur dan (3) keakurasian informasi (tabayyun). Nilai-nilai etika komunikasi pada QS An-Nur/24: 11-15 tersebut memiliki urgensi dalam kehidupan. Nilai-nilai mengantarkan pada kehidupan bermasyarakat yang damai dan harmonis dalam lingkup komunikasi. Dan penerapan nilai-nilai etika komunikasi pada QS An-Nur/24: 11-15 menjadi petunjuk bagi para pengguna media sosial agar menggunakan media sosial secara bijak. Berkata baik, bersikap jujur dan keakurasian informasi/tabayyun dalam bermedia sosial merupakan cara mengimplementasikan nilai-nilai etika komunikasi dalam QS An-Nur/24: 11-15. Penelitian tentang Etika Komunikasi Bermedia Sosial dalam al-Qur’an (Kajian Tahlili QS An-Nur/24: 11-15) ini berimplikasi pada pentingnya pemahaman tentang etika dalam bermedia sosial menurut al-Qur’an. Maka dari itu, direkomendasikan agar konsep etika komunikasi bermedia sosial dalam al-Qur’an yang telah dibahas dalam skripsi ini dapat dikembangkan pembahasannya serta dapat dijadikan rujukan dalam mengkaji masalah tentang etika komunikasi bermedia sosial perspektif al-Qur’an dengan berbagai pendekatan yang digunakan
Telaah Kritis Tafsir Shi>’ah: Analisis Justifikasi Us}u>l Madhhab al-Shi>’ah dalam Interpretasi Ayat Al-Qur’an Mufassir Shi>’ah
Interpretation of the Qur\u27an is oftenly become a land of contestation over scientific discourse, from fiqh to theology. So, there are times when the verses of the Qur\u27an are only used as a tool to legitimize a thought, whereas this is not allowed in the interpretation principles. Because of this, the experts formulated the al-as}i>l wa al-dakhi>l theory as a measuring tool (mi\u27ya>r) to examine various interpretations so that the distinction between a valid and weak interpretations become distinguishable, this theory can be used to analyze infiltration in interpretation, both in the form of narrative (bi al-ma\u27thu>r) and reason based interpretation (bi al-ra\u27yi). This article elaborates on the main doctrine of Shi>\u27ah (us}u>l madhab al-Shi\u27ah), such as the concept of al-ima>mah, \u27is}mat al-ima>m, taqiyyah, al-mahdiyyah wa al-gaibah, al-raj\u27ah, al-z}uhu>r, al-bada\u27 and \u27aqi>dat al-t}i>nah and then traces its arguments in Shi\u27ah tafsir works. This material object is then communicated with its formal object, the theory of al-as}i>l wa al-dakhi>l. So, that this research aims to produce a classification of Shi>\u27ah tafsir based on its validity and prove if fanaticism can affect the authenticity of an interpretation. This research is a qualitative study based on literature review, so all the data comes from sources that are literature documents. This study shows that Shi\u27ah tafsir works such as the tasfir of Nu\u27ma>n b. H{ayyu>n, al-T{abarsi>, al-\u27Ayya>shi> and al-Qummi> in some places interprete verses to legitimize the opinions of their madhab, although for that they must use ta\u27wi>l fa>sid as well as problematic narratives which contradicts with the rules and principles of interpretation
Al-Bayan Fii Ma’rifati Ma’ani al-Qur’an Karya Shodiq Hamzah Usman: Sejarah Penulisan, Karakteristik, Format Penulisan, Metode dan Corak Penafsiran
Al-Qur\u27an, sebagai kitab suci utama dalam Islam, memegang peran penting dalam membimbing umat Muslim dalam aspek spiritual dan moral. Dalam upaya untuk memahami dan menginterpretasi pesan-pesan al-Qur\u27an, para cendekiawan Islam telah menghasilkan berbagai karya tafsir. Salah satu karya penting adalah "Al-Bayan Fii Ma’rifati Ma’ani al-Qur’an" karya Shodiq Hamzah Usman. Artikel ini bertujuan untuk mengungkap dan menganalisis sejarah penulisan tafsir "Al-Bayan Fii Ma’rifati Ma’ani al-Qur’an" karya Shodiq Hamzah Usman, mengeksplorasi karakteristik dan format penulisannya, menganalisis metode yang digunakan dalam penafsiran al-Qur\u27an, serta memahami corak penafsiran yang terkandung dalam karyanya. Studi ini menggunakan metode analisis historis untuk mengkaji sejarah penulisan karya Shodiq Hamzah Usman. Selain itu, metode analisis teks digunakan untuk memeriksa karakteristik, format, metode, dan corak penafsiran yang terdapat dalam "Al-Bayan Fii Ma’rifati Ma’ani al-Qur’an." Penelitian ini memberikan kontribusi signifikan dalam pemahaman lebih mendalam tentang salah satu karya tafsir al-Qur\u27an modern, yaitu "Al-Bayan Fii Ma’rifati Ma’ani al-Qur’an" karya Shodiq Hamzah Usman. Hasil penelitian ini akan membantu dalam mengungkap sejarah penulisan karya tersebut, karakteristik dan format penulisannya, metode penafsiran yang digunakan, serta corak penafsiran al-Qur\u27an yang terkandung di dalamnya
Keistimewaan Rasm al-Mus{h{af (Rasm ‘Uthma>ni>) sebagai Bentuk Penulisan al Qur’an
Mushaf ‘Uthma>ni> mendapat perhatian yang sangat luar biasa dari berbagai kalangan, salah satu di antaranya karena ia memiliki pola penulisan yang berbeda dengan model penulisan Arab konvensional. Sacara umum, dalam model penulisan Arab konvensional berlaku kaidah bahwa apa yang tertulis harus menggambarkan secara persis apa yang diucapkan. Jika pengucapannya panjang, maka tertulis panjang, begitu juga sebaliknya. Kaidah ini tidak berlaku dalam rasam ‘uthma>ni> karena dalam beberapa bentuk tulisan ‘uthma>ni> tidak secara persis menggambarkan yang terucap/terbaca sehingga dalam bentuk tertentu tulisannya pendek tapi bacaannya panjang. Pola penulisan al-Qur’an tersebut ditetapkan oleh ‘Uthma>n bersamaan dengan dibukukannya al-Qur’an pada masa pemerintahannya yang disebut sebagai rasm al-mushaf atau rasm ‘uthmany. Model penulisan yang khas itu melahirkan perdebatan panjang di kalangan ulama’, baik menyangkut statusnya, apakah ia tawqi>fi> atau ‘sekedar’ hasil ijtihad para sahabat pada masa itu, maupun menyangkut urgensi/keistimewaannya, dan lain-lain. Penelitian ini akan mengkaji tentang keistimewaan rasm al-mushaf tersebut dengan menggunakan metode deskriptif-analitis dengan mengacu pada data-data kepustakaan. Dari hasil penelitian, ditemukan bahwa pola penulisan tersebut terkait dengan adanya ragam qira’at dalam al-Qur’an. Beberapa keistimewaan model penulisan ‘uthma>ni adalah, bahwa satu bentuk penulisan dapat menampung lebih dari satu ragam qira’at; dapat menyiratkan makna tertentu; menunjukkan makna yang berbeda; serta mendorong umat Islam untuk belajar kepada guru yang ahli
Analisis Nilai-Nilai Kearifan Lokal Program Sekolah Budaya Sebagai Penunjang Projek Profil Pelajar Pancasila dalam Kurikulum Merdeka di SDN Kaliwining 07 Rambipuji Jember
In Indonesia, the curriculum has changed several times in line with the change of ministers and the needs of students. Recently it has been intensified in relation to the independent curriculum initiated by the Ministry of Education and Culture. The Merdeka curriculum promotes a comfortable, happy and structured learning atmosphere for students and educators. To achieve the expected competencies in the implementation of the independent curriculum, a project was designed to strengthen the profile of Pancasila students as a curricular activity to support competency achievement in the learning process. To support the achievement of the competencies expected in the Pancasila student profile project, Kaliwining 07 State Elementary School implemented a cultural school program, where students while in the school environment were listened to by national and regional songs, as well as traditional games. The approach used in this research is a qualitative approach with a descriptive type. While the data collection technique uses three stages, namely observation, interviews, and documentation. The data analysis used is Miles and Huberman\u27s interactive analysis, namely data reduction, data presentation and drawing conclusions. Test the validity of the data using source triangulation and technique triangulation. So as to produce research results that, the application of the cultural school program at SDN Kaliwining 07 Rambipuji Jember which grows and develops colors the quality of life in schools which also contributes to instilling local wisdom values. in the Pancasila student profile project, where students are expected to be able to understand and apply Pancasila values in everyday life. One way to achieve this goal is to integrate local wisdom values into learning activities in the school environment through the Cultural School program. Thus, students can understand that Pancasila is not just a concept or ideology, but also includes local wisdom values that are part of the culture and character of the Indonesian natio
Penguatan Nilai-Nilai Aswaja dalam Membangun Karakter An-Nahdliyah Mahasiswa Pendidikan Islam Anak Usia Dini Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penguatan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) dalam membangun karakter An-Nahdliyah mahasiswa program studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto. Maka dari itu, Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif jenis studi kasus dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi yang mendeskripsikan bagaimana penguatan nilai-nilai aswaja dalam membangun karakter an-nahdliyah mahasiswa. Penelitian ini memanfaatkan metode analisis data model interaktif Miles dan Huberman berupa pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, uraian, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Penguatan nilai-nilai Aswaja dalam membangun karakter An-Nahdliyah Mahasiswa Pendidikan Islam Anak Usia Dini Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto dilakukan melalui tujuh langkah strategis yaitu: pemahaman aswaja sebagai landasan karakter, pengintegrasian nilai aswaja dalam kurikulum PIAUD, implementasi nilai aswaja melalui aktivitas keseharian, pembinaan karakter melalui keteladanan, penguatan melalui kegiatan ekstrakurikuler dan keagamaan, penyusunan modul dan bahan ajar berbasis aswaja, dan penggunaan teknologi dalam penyebaran nilai aswaja. Pemahaman yang mendalam dan implementasi yang konsisten terhadap nilai-nilai Aswaja membantu mahasiswa menjadi individu berkarakter An-Nahdliyah, yang tidak hanya kuat dalam aspek keilmuan dan spiritualitas, tetapi juga memiliki sikap yang inklusif, moderat, dan toleran
Negotiating Islamic Law: The Practice of Inheritance Distribution in Polygamous Marriages in Indonesian Islamic Courts
This research attempts to look at the allocation of inheritance in polygamous marriages, as adjudicated by the Indonesian Islamic courts, commonly known as the Religious Courts. In a polygamous marriage, the inheritance distribution often faces more complex challenges. This research is grounded in an analysis of decisions from the Religious Courts, including both first-instance and appellate court rulings. The findings indicate that inheritance distribution in polygamous marriages relies not just on the Islamic Law Compilation, but also on the Indonesian Civil Code. Moreover, the judges employed two approaches to resolve disputes: Islamic jurisprudence (fiqh) and the Islamic Law Compilation, which is the codified Islamic law in Indonesia. When the judges referred to the classical texts of Islamic jurisprudence, they allocated the entirety of the inherited properties among the heirs. Negotiation occurred when judges opted for the Islamic Law Compilation instead of classical fiqh, leading them to consider the concept of joint property and distinguish it from the estates. Ultimately, the Appellate Court judges appeared more progressive, taking into account the Indonesian context and ensuring justice for wives in polygamous marriages
Reevaluating the Legal Status of Monosodium Glutamate Consumption: The Indonesian Ulema Council’s Fatwas and Maqāṣid al-Sharī’ah
This article examines the consistency of the MUI Fatwa regarding Monosodium Glutamate (MSG) from a Maqāṣid al-Sharī’ah standpoint. The legal issue addressed in this research arises from the ongoing debate regarding the consumption of MSG. The Indonesian Ulema Council (MUI) has issued a fatwa declaring that MSG consumption is permissible (halal), provided that it is produced from halal ingredients and is processed, packaged, marketed, distributed, and served in compliance with Islamic law. However, numerous studies have highlighted the adverse effects associated with MSG consumption. This research employs a normative-empirical approach to Islamic law. The primary normative data consists of the MUI fatwa concerning flavoring products, specifically monosodium glutamate, which contains amino acids, as well as various sources discussing Maqāṣid al-Sharī’ah. The primary empirical data is derived from interviews with MUI board members regarding their perspectives on the relevant fatwa. Additionally, non-legal sources, including scientific literature on MSG, are utilized. Through this methodological approach, the research yielded several key findings. Although the MUI has declared MSG consumption as halal, individuals must still adhere to the safety guidelines established by the WHO and the Indonesian Ministry of Health. The MUI further advises against excessive or prolonged consumption of MSG due to its harmful effects on one’s well-being, including the soul, mind, reproductive system, beliefs, and property, all of which Islamic law mandates to be safeguarded. Consequently, the research concludes that the MUI fatwa, along with the explanations provided by its members, aligns closely with the principles of Maqāṣid al-Sharī’ah, as the prevention of harm takes precedence over the pursuit of benefits