Griya Jurnal UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto
Not a member yet
    4412 research outputs found

    Islamic Local Culture Commodification in Disruption Era Tourism Industrial

    No full text
    This study aims to find out how to synergize the demands of globalization - especially the commodification of the tourism industry\u27s culture - with the development of the distinctiveness of the kejawen group as part of a tourist attraction? What strategy needs to be developed so that the kejawen group as a cultural identity or local wisdom subject of its supporting community is still protected, but it is also hoped that it can accommodate the demands of economic globalization which has commodified culture? The subject in this study was the Aboge Islamic group in Purbalingga and Banyumas Regencies. This study uses ethnographic methods. Ethnographic research methods are used to find theories based on the field data obtained. The era of the global economy demands that all elements of culture can be made into commodities, eventually, the term cultural commodification was born. In other words, the commodification of culture is the process of producing cultural objects as commodities that are traded through the cultural industry by following market rules. The results of this study indicate that the Islamic Aboge group in Purbalingga and Banyumas areas has carried out cultural commodification as a strategy to maintain its existence in society. Several traditions that developed later result in new traditions to maintain the existence of the Aboge group as a cultural identity. Cultural commodification is also able to accommodate the demands of economic globalization as an entertainment art in the form of tourist attractions

    Mengungkap Penggunaan, Pelaporan, dan Akuntabilitas Alokasi Dana Desa

    No full text
    This study delves into the utilization, reporting, and accountability of Village Fund Allocation in Panciro Village. Adopting a phenomenological approach, data were collected through budget realization reports and interviews with village officials. The results reveal that Panciro Village adheres sufficiently to financial management protocols, as evidenced by proper documentation in the cash book and timely submission of reports to higher authorities. However, while current accountability mechanisms are functional, the abstract lacks an in-depth exploration of the specific strategies employed and the challenges faced in ensuring transparency and preventing fund misappropriation. Moreover, the abstract would benefit from contextualizing the findings through comparative analysis with neighboring villages or national standards. Additionally, future research could involve longitudinal studies to evaluate the sustainability of the implemented accountability measures and their long-term impact on village development.Setiap dana yang digunakan oleh desa untuk pembangunan harus dilaporkan sebagai bentuk pertanggungjawaban. Penelitian ini berusaha menggambarkan penggunaan Alokasi Dana Desa di Panciro dan mengungkap pelaporan dan pertanggungjawabannya. Desa Panciro menjadi objek dalam penelitian ini. Laporan realisasi anggaran dan informan dari perangkat desa menjadi data dalam penelitian ini. Pendekatan fenomenologi digunakan untuk mengkaji penelitian ini. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa penggunaan dana desa dalam buku kas dilakukan dengan baik dan pelaporan pengelolaan keuangan desa Panciro dilakukan tepat waktu dimana laporan realisasi semester pertama dilakukan pada bulan Juli. Kepala desa juga mengkompilasi semua laporan yang kemudian diserahkan kepada Bupati melalui Camat. Selanjutnya, pertanggungjawaban desa Panciro telah dilakukan oleh kepala desa kepada bupati setiap akhir tahun anggaran

    SISTEM PENJUALAN DENGAN PEMOTONGAN DI BAWAH HARGA PASAR MENURUT HUKUM ISLAM

    No full text
    This study aims to investigate the perspective of Islamic law on the implementation of price reduction systems in the marketing of adult and children’s clothing, as well as men’s and women’s apparel. The research explores the conditions under which discounted goods are permissible according to Islamic principles. A qualitative method was employed, analyzing relevant Islamic legal texts and contemporary market practices. The findings indicate that Islamic law permits price reduction systems, provided they meet specific conditions. The seller may set a base price and offer discounts, which must be agreed upon by both parties involved in the transaction. The process must ensure mutual consent without coercion or fraud (gharar). The transaction proceeds with a sale and purchase contract if an agreement is reached. Otherwise, the transaction does not occur. This study contributes to understanding permissible marketing strategies within Islamic economics, highlighting the importance of fairness and mutual agreement in trade practices.Salah satu bentuk strategi pemasaran yang digunakan dalam sistem pasar adalah dengan menetapkan sistem pemotongan harga pada produk-produk yang dipasarkannya. Berdasarkan hal tersebut dapat dirumuskan permasalahan bagaimana tinjauan hukum Islam terhadap sistem pemotongan harga terhadap barang dagangan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan sistem pemotongan harga yang mana pemilik barang menentukan harga dasar yang ingin dijual kemudian menawarkan harga pemotongan dengan potongan yang berfariasi tergantung barang yang dijual. Bila harga pemotongan yang ditawarkan oleh penjual mencapai kesepakatan dengan pembeli atau harga yang diwarkan oleh pembeli mencapai kesepakatan dengan penjual, maka transaksi penjualan terus berlangsung dengan melakukan akad jual beli, namun bila dalam sistem pemotongan harga dan tawar menawar harga tidak mencapai kesepakatan maka transaksi tidak berlanjut. Jual beli dengan sistem pengurangan atau pemotongan harga dari penjual atau dari pembeli dengan kesepakatan dari ke dua belah pihak penjual dan pembeli dibolehkan secara sistem ekonomi Islam. Karena inti dari transaksi dalam Islam itu kerelaan dari kedua belah pihak, tanpa ada unsur keterpaksaan dan juga tidak ada unsur penipuan (gharar). Dengan demikian sistem pemotongan harga yang dilakukan dengan cara penjual menentukan harga dasar yang ingin dijual kemudian menawarkan harga pemotongan hal tersebut dibenarkan secara sistem ekonomi Isla

    Implementation of Contextual Teaching and Learning for Basic Natural Sciences at Madrasah Ibtidaiyah, UNUGHA Cilacap

    No full text
    This research aims to spread the implementation of learning innovations in Basic Natural Science courses at Madrasah Ibtidaiyah (MI Basic Science) using the Contextual Teaching and Learning (CTL) method at Nahdlatul Ulama Al Ghazali University (UNUGHA) Cilacap. The research method used is a case study with a qualitative approach. The aim of this research is to assess the effectiveness of the CTL method in increasing students’ understanding of Basic Natural Sciences and the extent to which this learning innovation is implemented in the MI educational environment. Through observations, interviews, and documentation analysis, this research describes how CTL is implemented, student responses, and its impact on understanding MI Basic Science concepts. The research results show that the implementation of CTL at UNUGHA Cilacap succeeded in increasing student involvement and the relevance of the material to everyday contexts. Students show increased understanding of MI Basic Science concepts, and this method provides significant support for achieving learning objectives. In conclusion, CTL is effectively applied in educational contexts, providing a stimulative and interactive learning environment. The practical implications of this research are recommendations for continuing to apply the CTL method in the development of the MI Basic Science curriculu

    Flexing Bersedekah di Media Sosial QS. Al-Baqarah: 271 (Prespektif Tafsir Al-Azhar)

    No full text
    Kemunculan media sosial diikuti oleh berbagai tren baru di era milenial, salah satunya adalah flexing, yaitu konten yang menunjukkan kemewahan di berbagai platform media social. Fenomena flexing semakin marak seiring dengan bertambahnya jumlah crazy rich yang memamerkan barang \u27mewah\u27, bermerek terkenal, atau jarang dimiliki orang lain karena harganya sangat mahal. Saat ini, aktivitas flexing menjadi semakin beragam, mulai dari menampilkan kehidupan sehari-hari hingga kegiatan sosial, ibadah, dan sedekah yang dipamerkan di media sosial. Misalnya, sedekah yang sengaja dipamerkan untuk mendapatkan pujian dan keuntungan dari banyaknya penonton serta pengikut. Oleh karena itu, penelitian ini akan menggali bagaimana pandangan Al-Qur’an, khusunya interpretasi QS. Al-Baqarah: 271 dengan pendekatan yang dikembangkan Buya Hamka. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana islam memandang praktik flexing dalam bersedekah di era digital ini. penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menganalisis berbagai konten di platform media sosial seperti Instagram, YouTube, dan TikTok yang menampilkan flexing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa memberikan sedekah secara tertutup kepada orang-orang miskin, fakir, dan terlantar dianggap lebih baik (khair) daripada memberikannya secara terbuka, Dengan bersedekah secara diam-diam atau sembunyi-sembunyi, maka dapat menjaga kehormatan penerima sedekah. Selain itu, dengan bersedekah secara diam-diam, maka dapat terhindar dari sikap sombong atau riya dan terhindar dari timbulnya rasa dengki dari hati orang yang melihatnya. Sedekah untuk kepentingan umum seperti pembangunan institusi agama sebaiknya dilakukan secara terang-terangan, agar dapat menginspirasi dan menggerakan orang lain untuk turut berkontribusi dalam melakukan kebaikan

    Studi Komparasi Pemikiran Tasawuf Imam Al-Ghazali dan Ibn Taimiyah Perspektif Pendidikan Islam

    No full text
    Terjadinya banyak tindakan penyimpangan sosial yang dilakukan oleh siswa, salah satunya karena kurangnya pendekatan kepada Sang Pencipta. Dari hal itu, perlu adanya motivasi spiritual yang ditanamkan oleh masing-masing pendidik.  Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan pemikiran tasawuf Imam Al-Ghazali dan Ibn Taimiyah dari perspektif pendidikan Islam. Jenis penelitian ini adalah studi pustaka dengan teknik pengumpulan data berdasarkan buku, artikel, atau sumber lain yang relevan dengan topik pembahasan yang kemudian peneliti analisis berdasarkan isi dan penarikan kesimpulan selanjutnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran tasawuf Imam Al-Ghazali tidak jauh berbeda dengan pemikiran Ibn Taimiyah. Hanya saja perbedaannya terletak pada mahqamat dan ahwal kedua tokoh tersebut. Mahqamat Imam Al-Ghazali terdiri dari taubat, zuhud, sabar, tawakal, khauf, ar-raja\u27, sedangkan Ibn Taimiyah terdiri dari taubat, tawakal, zuhud, ridha, kesabaran, ibadah, khauf dan ar-raja\u27. Ahwal Imam Al-Ghazali terdiri dari muraqabah dan mahabbah, sedangkan Ibnu Taimiyah hanya mencakup mahabbah. Dari beberapa mahabbah dan ahwal baik pemikiran Imam Al-Ghazali maupun Ibn Taimiyah berimplikasi pada pendidikan Islam yang sama-sama berusaha membentuk pembelajar yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunna

    Living Qur’an sebagai Solusi Penguatan Pendidikan Akhlak terhadap Siswa: Perspektif Teori Thomas Lickona (Studi Kasus MTs Pesantren El-Madani Rawalo)

    No full text
    Abstract Currently, the Living Qur\u27an is dominated by the scope of social research, namely the scope of the community in wider society. Formal education, especially in secondary schools, still rarely incorporates and preserves the Al-Qur\u27an in it, whether it is for the development of children\u27s character, moral and spiritual values. In fact, the "spirit" of Islamic education lies in efforts to embody the Koran and practice it well in the school and community environment. In this research the author analyzes Lickona\u27s educational theory of thought as "reinforcing research results". Namely, the study of the living Qur\u27an includes moral feeling, moral coming and moral acting in MTs educational institutions. The research writer used a qualitative approach, using the case study method with the research object at MTs Pesantren El-Madani Rawalo. The sources for this research are primary and secondary, participation from the resource persons, namely Mr. Abdul Basit (Principal of the school), Mr. Ahsin (Tahfiz teacher), Mrs. Khilya and students in grades 7-8. Data collection using individual in-depth interviews. With field research and conclusions drawn. According to the results obtained, the analysis of the living Qur\u27an at Mts from a lickon perspective is emphasized for students from grades 7 - 8, namely there are three most important aspects: understanding, knowing and applying it by students in everyday life. Therefore, students do not just carry out Islamic teachings but also become aware of knowledge, experience and appreciation.   Keywords: Living Quran, Students, Spiritual Education, Thomas Lickona.   Abstrak Living Qur’an dimasa ini di dominasikan dalam ruang lingkup penelitian sosial, yakni lingkup komunitas di masyarakat luas. Pendidikan formal terutama di pendidikan sekolah menengah masih jarang membumikan dan melestarikan Al-qur’an di dalamnya, entah terhadap pengembangan nilai karakter, moral dan keruhanian anak. Padahal “ruh” pendidikan Islam terdapat pada pengupayaan penjiwaan al-qur’an dan mempraktikan secara baik di lingkungan sekolah serta masyarakat. Dalam penelitian ini penulis menganalisis teori pendidikan pemikiran Thomas lickona sebagai “penguat hasil penelitian”. Yaitu kajian living qur’an meliputi moral feeling, moral knowing serta moral acting di lembaga pendidikan MTs, penulis meneliti dengan menggunakan pendekatan kualitatif, menggunakan metode studi kasus dengan objek penelitian di MTs Pesantren El-Madani Rawalo. Sumber dari penelitian ini adalah primer serta sekunder, partisipasi dari narasumber yakni bapak abdul basit (Kepala sekolah), bapak ahsin (Guru tahfiz),  ibu khilya, dan siswa kelas 7-8. Pengumpulan data dengan wawancara mendalam secara individual, dengan penetian lapang dan ditarik menggunakan kesimpulan. Sesuai hasil yang didapatkan bahwanya analisa living qur’an di MTs Pesantren El Madani Rawalo  dari perspektif lickon akan ditekankan pada siswaa sejak kelas 7 sampai selesai,  ada tiga aspek terpenting di dalamnya yaitu: menghayati, mengetahui serta diterapkan oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari . Oleh karen itu siswa tidak sekedar menjalankan ajaran Islam saja melainkan kesadaran pengetahuan, pengalaman dan penghayatan.   Kata Kunci :  Living Qur’an, Siswa, Pendidikan Ruhani, Thomas Lickkon

    Islamic Parenting Sebagai Pendidikan Keluarga: Konsep Pendidikan Anak Usia 0 Tahun Sampai 12 Tahun Sesuai Metode Nabi SAW

    No full text
    Pendidikan keluarga adalah pendidikan pertama dan paling utama dalam pembentukan kepribadian seorang anak. Untuk itu dalam proses mendidik anak kedua orang tua seharusnya memiliki ilmu dan wawasan terkait berbagai cara terbaik dalam mendidik anak terutama metode mendidik yang merujuk sesuai ajaran pada Nabi SAW. Karena untuk membentuk generasi muslim yang shaleh tidak akan terlepas dari dua pondasi Islam yaitu yang utama adalah Al - Quran dan hadis. Oleh karena itu, fokus masalah kajian ini tertuju pada bagaimana mendidik anak sesuai ajaran Nabi yang dapat mewujudkan generasi muslim yang rebbani. Oleh karena itu, fokus masalah kajian ini tertuju pada bagaimana cara keluarga mendidik anak usia 0 tahun sampai usia 12 tahun sesuai dengan ajaran Nabi SAW. Paparan kajian ini dianalisis secara kualitatif melalui hasil studi kepustakaan atau library research. Hasil kajian menunjukkan bahwa : 1) konsep pendidikan Nabi adalah konsep pendidikan yang bersumber dari Wahyu Allah yaitu Al - Quran dan dinilai mampu mencetak generasi muslim yang sholeh baik secara individu maupun sosial, 2) Pendidikkan sesuai cara Nabi terdiri dari beberapa tahapan yang harus dipenuhi orang tua atau seorang pendidik. Untuk penentuan keberhasilannya para orang tua maka dituntut agar mendidik anak Sesuai dengan perkembangan dan perbedaan karakter yang mereka miliki, 3) Pendidikan sesuai metode Nabi SAW merupakan metode terbaik untuk mempersiapkan dan membentuk aspek moral spiritual dan sosial anak. Hal ini dikarenakan kepribadian Nabi SAW merupakan uswah dalam segala hal baik dalam aspek ibadahnya, perkataannya, maupun perbuatannya

    The Educational Challenges of Muslim Youths in A Muslim Community

    No full text
    The education of Muslim youths in a Muslim community is facing significant challenges that hinder the academic and socio-economic progress of the youths despite the government\u27s efforts to improve access to education. Muslim youths in various Muslim communities continue to experience low enrolment, high dropout rates, and poor academic performance. Lack of access to quality education is a major issue for Muslim youths which is serving as the basis for this article. The article used a mixed-methods approach and qualitative data collection methods to gather information from key stakeholders, including Muslim youths, parents, teachers, community leaders, and education experts. Findings from the research revealed that Muslim youths are capable of acquiring knowledge to the extent of becoming teachers and obtaining higher positions in society. Nevertheless, the community has done very little to ensure the effective participation of their children and Muslim youths in the acquisition of knowledge. Analysis revealed that the current situation of education is susceptible to breakdown, due to a plethora of challenges, and many inhabitants have renounced education as fruitless. Community-based interventions, Policymakers formulating policies and programs that prioritize education for marginalized groups, and innovative educational models, such as e-learning and mobile learning can help to improve access to quality education for Muslim youths. These recommendations can be used to curb the situation and put it on track, as well as create awareness of the need for the acquisition of secular education, especially among Muslim youth

    The Influence of Fake News, Personality of Muslim Customers and Anger Against Hateful Behavior of Muslim Consumers at Brands Halal Products With Religiosity As Moderation Variable

    No full text
    This study aims to determine the role of religiosity in moderating the influence of fake news variables, the personality of Muslim customers, and anger towards the hateful behavior of Muslim consumers towards halal product brands. Primary data collection was carried out by purposive sampling with a total sample of 340 response questionnaires collected from consumers of fast food restaurant outlets (Kentucky Fried Chicken, McDonald\u27s, and Pizza Hut) domiciled in Purwokerto, Tegal, Yogyakarta, Surakarta, and Semarang. The relationship between fake news variables, Muslim customer personality, and anger towards hateful behavior towards brands were analyzed using Structural Equation Modeling from the Warp Partial Least Squares regression program package. Empirical research shows the influence of fake news, Muslim personality, and anger on brand hatred. The test results show that religiosity can be a moderating variable between fake news, Muslim personalities, and anger towards brand hate for halal products. Hatred about the brand can be suppressed if the company provides information quickly regarding the products offered, and this news can be quickly verified through social media; the information provided is straightforward to understand, and consumers are always optimistic and able to provide good perceptions so consumers do not feel they hate food and beverages and can ensure a halal product

    619

    full texts

    4,412

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Griya Jurnal UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇