Griya Jurnal UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto
Not a member yet
4412 research outputs found
Sort by
Konsep Kota Suci Mekah dalam Al-Qur’an (Kajian Semantik Lafadz Bakkah dan Makkah)
Penelitian mengenai lafadz Bakkah dan Makkah dalam Al-Qur’an merupakan upaya untuk menggali kedalaman dan keindahan bahasa dalam wahyu Allah SWT. Dengan memahami nuansa makna dan penggunaan kedua lafadz tersebut, akan dapat membuka pintu pemahaman baru terhadap pesan-pesan Al-Qur’an dan memperkaya apresiasi terhadap keagungan bahasa dan Al-Qur’an. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan deskriptif-analitis dengan metode kualitatif. Adapun analisis datanya melalui pendekatan semantik Al-Qur’an Toshihiko Izutsu untuk memahami makna dan kaitan kedua lafazh serta pandangan dunianya/weeltanschauung dalam konteks Al-Qur’an. Kajian ini menghasilkan; Pertama, makna dasar kata Bakkah adalah tempat tersembunyi dan makna dasar kata Makkah adalah nama dari kota Mekah itu sendiri. Kedua, makna relasional sintagmatik ditemukan sebagai Rumah/Bangunan dan juga sebagai Pusat Kota. Adapun secara paradigmatik, mempunyai kesamaan makna dengan Umm Al-Quro, Baldatun, Al-Ka’batu serta Al-Masjid Al-Haram dan tidak memiliki makna yang berlawanan. Ketiga, aspek historis masa pra-qur’anik dimaknai sebagai Ka’bah dan kota Mekah. Adapun masa Al-Qur’an turun keduanya sama-sama dimaknai sebagai pusat kota di Mekah. Selanjutnya masa pasca-qur’anik, dimaknai sebagai lahan tempat berdirinya Ka’bah dan kota Mekah secara fisik. Keempat, weltanschauungnya adalah tempat yang suci, mulia dan diberkahi yang dijadikan tempat ibadah bagi seluruh umat manusia sebagai simbol kesatuan sekaligus transformasi spiritual umat manusia untuk mensucikan diri
Mental Health Para Remaja di Era Society 5.0 dalam Perspektif Al-Qur’an (Kajian Tafsir Mauḍū‘ī)
Society 5.0 adalah sebuah fase di mana teknologi terintegrasi dengan kehidupan masyarakat. Di era ini ketergatungan terhadap teknologi semakin pesat, termasuk media sosial. Selain dampak positif, fenomena ini juga memberikan dampak negatif. Di antaranya adalah menurunnya kualitas mental health para remaja. Islam sebagai agama yang sempurna, memberikan banyak solusi untuk permasalahan ini di dalam Al-Qur’an. Berangkat dari fenomena tersebut, penelitian ini hadir untuk menjawab pertanyaan bagaimana dampak dari penggunaan media sosial terhadap mental health remaja di era Society 5.0, dan bagaimana respon Al-Qur’an terhadap masalah tersebut. Artikel ini menggunakan pendekatan library search dan metode tafsir mauḍū‘ī dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an. Dan peneliti mendapatkan beberapa dampak dari penggunaan media sosial terhadap mental health remaja, yaitu fenomena seperti social comparison, cyberbullying, fear of missing out, kurangnya interaksi sosial, hingga kecanduan konten-konten negatif menyebabkan peningkatan terhadap gangguan mental di kalangan remaja. Lalu ditemukan bahwa Al-Qur’an memberikan solusi dari masalah tersebut berupa penguatan iman, melatih kesabaran, penguatan spiritual seperti dzikir, meresapi makna-makan Al-Qur’an dan salat, meningkatkan sikap tawakal dan ketakwaan, dan menghindari hal-hal yang sia-sia
Merawat Toleransi: Dinamika Hubungan Antaragama di Dunia Melayu Kontemporer: Dinamika Hubungan Antaragama di Dunia Melayu Kontemporer
Malay is actually similar to a nation or a group of ethnic groups that adhere to the same religion and use the same language. Then there were also foreign descendants such as Arab, Persian, Chinese and Indian in addition to descendants from other Nusantara techniques. Where in one nation does not only consist of one religion. This manuscript was written using the concept of historical research to see the dynamics of Islam in the Malay world to examine and maintain tolerance between religions. To examine and maintain tolerance for religion in the Malay region, the right theory to study it is the response and challenge theory from Arnold Toyenbe which states that every historical movement arises because of a stimulus so that a reaction appears that gives birth to change. The result of this discussion is that in the contemporary era, the Malay period faces various challenges and they must respond quickly so that they are not left behind. Proven by the existence of driving organizations as a place to express aspirations/opinions.Melayu sebenarnya Mirip dengan bangsa atau kumpulan etnik-etnik yang serumpun yang menganut agama yang sama dan menggunakan bahasa yang sama. Kemudian masuk pula penduduk keturunan asing seperti Arab Persia, Cina dan India di samping keturunan dari teknik Nusantara lain. Dimana dalam satu bangsa tidak hanya terdiri dari satu agama saja. Naskah ini ditulis menggunakan konsep penelitian sejarah untuk melihat dinamika islam di dunia melayu untuk menelaah dan menjaga toleransi antar beragama. Untuk menelaah dan menjaga toleransi untuk beragama di wilayah Melayu tersebut teori yang tepat untuk mengkajinya yaitu teori respon and challenge dari Arnold toyenbe yang mengungkapkan bahwa setiap gerakan sejarah timbul karena adanya stimulus sehingga muncul reaksi yang melahirkan perubahan. Hasil dari pembahasan ini adalah pada era kontemporer, masa Melayu menghadapi berbagai tantangan dan mereka harus merespon dengan cepat agar mereka tidak tertinggal. Dibuktikan dengan adanya organisasi-organisasi penggerak untuk tempat mengeluarkan aspirasi-aspirasi/ pendapat
Kerukunan dalam Ruang Digital: Representasi Toleransi Beragama dalam Youtube Habib Ja\u27far Podcast "Class of Religion": Representation of Religious Tolerance in Youtube Habib Ja\u27far Podcast "Class of Religion"
This study aims to analyze how the Class of Religion podcast, hosted by Habib Ja\u27far, represents the values of harmony and tolerance between religions in the context of a digital society. This study is motivated by the growing use of new media in religious practices and the need to foster social harmony amid Indonesia\u27s religious pluralism. The method employed is a qualitative approach, utilizing case studies and critical discourse analysis of relevant podcast content. The results of the study show that the Class of Religion not only conveys religious messages but also builds a space for interfaith dialogue through an inclusive, egalitarian, and contextual da\u27wah narrative. The podcast leverages the power of popular culture and the logic of digital media to convey religious values in a relaxed, humorous, and participatory approach, making it more accessible to young audiences. These findings reflect the process of mediatization of religion, namely the shift in religious practices that are increasingly influenced by the structure and format of the media, as well as the transformation of religious authority into digital public figures. Podcasts are an effective alternative medium in building a new public space that accommodates more open and dialogical religious discourse. This study concludes that the Class of Religion is a real example of how digital da\u27wah can play a strategic role in strengthening religious harmony in the era of digital communication.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana podcast Class of Religion yang dipandu oleh Habib Ja’far merepresentasikan nilai-nilai kerukunan dan toleransi antarumat beragama dalam konteks masyarakat digital. Kajian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya penggunaan media baru dalam praktik keberagamaan serta urgensi penguatan harmoni sosial di tengah pluralitas keagamaan Indonesia. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi kasus dan analisis wacana kritis terhadap konten podcast yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Class of Religion tidak hanya menyampaikan pesan-pesan keagamaan, tetapi juga membangun ruang dialog lintas iman melalui narasi dakwah yang inklusif, egaliter, dan kontekstual. Podcast ini memanfaatkan kekuatan budaya populer dan logika media digital untuk menyampaikan nilai-nilai keagamaan dengan pendekatan yang santai, humoris, dan partisipatif, yang lebih dapat diterima oleh audiens muda. Temuan ini mencerminkan proses mediatisasi agama, yakni pergeseran praktik keagamaan yang semakin dipengaruhi oleh struktur dan format media, serta transformasi otoritas religius ke figur publik digital. Podcast menjadi medium alternatif yang efektif dalam membangun ruang publik baru yang menampung wacana keberagamaan yang lebih terbuka dan dialogis. Studi ini menyimpulkan bahwa Class of Religion merupakan contoh nyata dari bagaimana dakwah digital dapat memainkan peran strategis dalam memperkuat kerukunan umat beragama di era komunikasi digital
The Effect of VAK (Visualization, Auditory, Kinesthetic) Learning Model Assisted by Baamboozle Game on the Mathematical Communication of Grade VIII Students at SMP Negeri 2 Sumpiuh
This research was conducted because it was motivated by the low mathematical communication skills of class VIII students of SMP Negeri 2 Sumpiuh. With this low mathematical communication skills of class VIII students, based on the preliminary test conducted, a solution is needed. The purpose of this study was to determine whether there was an effect of the VAK (Visualization, Auditory, Kinesthetic) learning model assisted by the Baamboozle Game on the mathematical communication of grade VIII students at SMP Negeri 2 Sumpiuh. This study used quantitative experimental design research. This experimental design uses a quasi-experiment. This study has a population of 271. The research sample was class VIII D as the experimental class and class VIII B as the control class. The analysis of this study used the N-Gain test and the t-test. The results of this study indicate that the experimental class obtained an average N-Gain value of 0.6491, which means that the learning model in the experimental class is quite effective, while the control class obtained an average N-Gain value of 0.3661, which means that the learning model used is not effective. Then, based on the t-test calculation, on the N-Gain value between the two sample classes, a significant value of 0.000 <0.05 was obtained. It can be concluded that there is a difference in the average N-Gain value of the experimental class and the control class. so that there is an effect of the VAK (Visualization, Auditory, Kinesthetic) learning model assisted by the Baamboozle Game on the mathematical communication of grade VIII students at SMP Negeri 2 Sumpiu
Teachers’ Experiences with Students’ Learning Obstacles in Geometric Thinking: Insights from the van Hiele Framework
Understanding geometric concepts is often a challenge for students because it requires spatial thinking and deductive reasoning skills that develop gradually. This study aims to describe the barriers to student learning in geometric thinking based on teacher perceptions using van Hiele\u27s theoretical framework. The research approach used was qualitative with a phenomenological design, involving 49 junior high school mathematics teachers from 35 schools across seven districts. Data were collected through questionnaires and in-depth interviews, then analyzed thematically. Interview data was collected from only six teachers selected through purposive sampling. The results of the study showed that students\u27 learning barriers increased as their geometric thinking level increased. At level 0 (Visualization), the barriers were low (58.63%) because students were still able to recognize shapes visually. At level 1 (Analysis), the barriers increased to 64.61% (high category) because students had difficulty finding relationships between the properties of shapes. At level 2 (Informal Deduction), the barriers reached 72.48% (high category), especially in the use of formal mathematical language and the preparation of logical arguments. In addition, the results showed that epistemological barriers were related to weak mastery of basic concepts, ontological barriers were related to misclassification of geometric objects, and didactic barriers stemmed from external factors such as learning strategies and learning motivation. Overall, these results emphasize the need for contextual, tiered, and exploratory geometry learning designs to reduce learning barriers at every level of student thinking
Eksplorasi Makna Gharīb al-Qur’ān: Studi Kritis atas Kontribusi Ibn al-Ḥāʾim dalam al-Tibyān fī Tafsīr Gharīb al-Qur’ān
Studi terhadap gharīb al-Qur’ān—yakni kosakata asing, jarang, atau sulit dipahami dalam Al-Qur’an—merupakan bidang penting dalam tradisi tafsir klasik. Di antara tokoh yang berperan dalam pengembangan bidang ini adalah Ibn al-Ḥāʾim melalui karyanya al-Tibyān fī Tafsīr Gharīb al-Qur’ān. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara kritis kontribusi dan pendekatan Ibn al-Ḥāʾim
dalam menafsirkan kosa kata gharīb, serta mengevaluasi bagaimana pendekatan interdisipliner yang digunakannya mencerminkan keluasan wawasan keilmuan Islam klasik. Latar belakang kajian ini didasarkan pada pentingnya pemahaman terhadap makna leksikal dalam Al-Qur’an sebagai bagian dari upaya pemeliharaan makna teks suci dan penguatan metodologi tafsir. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka (library research) dengan pendekatan deskriptif-kualitatif dan analisis isi (content analysis). Sumber utama yang digunakan adalah teks al-Tibyān, sementara referensi sekundernya mencakup karya-karya tafsir klasik dan literatur filologi Arab. Analisis dilakukan menggunakan teori linguistik klasik dan pendekatan semiotik Al-Qur’an, dengan perhatian khusus pada keterkaitan antara istilah Qur’ani dan berbagai disiplin ilmu seperti fikih, gramatika, morfologi, retorika, logika, dan teologi. Pendekatan Ibn al-Ḥāʾim dalam menafsirkan kosa kata dilakukan melalui kutipan langsung maupun tidak langsung dari para ulama sebelumnya, meskipun metode sitasinya kerap tidak konsisten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontribusi Ibn al-Ḥāʾim dalam al-Tibyān mencerminkan tradisi tafsir multidisipliner yang berakar pada kerangka keilmuan Islam klasik. Tafsir terhadap istilah gharīb dilakukan bukan hanya secara leksikal, tetapi juga dikaitkan dengan fungsi semantis dan kontekstual dalam kerangka ilmu-ilmu Islam. Penelitian ini menegaskan pentingnya al-Tibyān sebagai referensi dalam studi tafsir modern, khususnya dalam bidang leksikografi Qur’ani dan pengembangan metodologi tafsir interdisipliner
Konsep Toleransi Sesama Muslim dalam Tinjauan Interpretasi Ma‘nā cum Magzhā (Studi QS. Al-Ḥujurāt [49]:10): Bahasa Indonesia
Toleransi merupakan problem yang sering terjadi, sikap tidak menghargai antara sesama muslim dengan aliran yang berbeda sering dijumpai. Dalam QS. Al-Ḥujurāt [49]: 10 ditegaskan bahwa orang beriman adalah saudara dan jika terjadi peselisihan maka diharuskan adanya perbaikan hubungan. Kenyataan yang terjadi pada umat Islam sekarang, berbeda jauh dengan nilai moral yang terkandang dalam ayat ini. Berdasar pada problematika tersebut, kajian tentang toleransi menjadi relevan jika diteliti lebih lanjut. Penelitian ini bukan berfokus pada masalah toleransi antar umat yang berbeda agama, melainkan berfokus pada toleransi antara aliran dalam internal agama Islam, terlebih dalam konteks ke-Indonesiaan. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan dengan menggunakan teori hermenautika yang digagas Sahiron Syamsuddin, interpretasi ma‘nā cum magzhā sebagai pisau dalam menganalisis QS. Al-Ḥujurāt [49]: 10. Setelah dilakukan analisis ayat ini menunjukkan adanya pesan utama, yaitu penegasan tentang kesetaraan dan keadilan dalam status sosial yang tidak dibatasi oleh suku, ras, nasab dan jabatan. Berangkat dari maghzā ayat ini, maka konsep toleransi antara sesama muslim bisa dirumuskan sebagaimana berikut: pertama, toleransi berdasar persaudaraan agama. Kedua, kesadaran tentang lebih kuatnya ikatan agama dari pada ikatan nasab. Ketiga, perbedaan adalah keniscayaan dan toleransi adalah keharusan. Keempat, tanggung jawab dalam menjaga persatuan di antara saudara. Jika toleransi sesama muslim dengan empat konsep di atas disadari dan diaplikasikan maka hidup secara harmonis akan didapatkan
Penguatan Merek Madrasah Melalui Pengelolaan Program Kurikulum di Madrasah Ibtidaiyah Darul Hikmah Bantarsoka
One of the main challenges to the sustainability of private educational institutions has been their ability to attract student interest, as private schools are often perceived as a second-choice option. The ability of madrasahs to manage their brand effectively remains a significant challenge to the sustainability of private madrasahs. Madrasah Ibtidaiyah Darul Hikmah Bantarsoka is one such private madrasah in Purwokerto that has succeeded in maintaining its institutional brand through effective curriculum management. This study aims to provide an overview of the brand strengthening process of the madrasah through the curriculum management program at Madrasah Ibtidaiyah Darul Hikmah Bantarsoka. Employing a qualitative approach with a case study design, data were collected through interviews and document analysis. The findings of this study reveal that brand strengthening at Madrasah Ibtidaiyah Darul Hikmah Bantarsoka is carried out through the reinforcement of brand identity by implementing an Islamic education curriculum based on the values of Ahlusunnah Wal Jamaah. Furthermore, the madrasah fosters a positive brand experience by collaborating with parents in the implementation of curriculum programs. The madrasah also builds a positive brand image through digital marketing of its curriculum programs. The final effort in maintaining brand performance involves the effective allocation of teaching staff resources in the implementation of curriculum programs. A limitation of this study is that the perspective is solely from the madrasah as the service provider, without involving the parents of the students
Tata kelola pendidikan seni berbasis komunitas dan kontribusinya terhadap pembangunan budaya dan pendidikan berkelanjutan"
This study examines how community-based arts education governance at Sanggar Juju in Semarang contributes to the achievement of Sustainable Development Goals (SDGs) 4 (Quality Education) and 11 (Sustainable Cities and Communities) through cultural preservation. Utilizing qualitative methods, data were collected via observations, in-depth interviews, and documentation. Data analysis included reduction, presentation, and verification, with triangulation used to ensure validity. The findings reveal that the success of Sanggar Juju in managing its programs and growing its membership to 125 students over six years is underpinned by governance practices such as a policy framework, organizational values, participatory principles, and accountability systems. The studio promotes SDG 4 by offering culturally relevant and inclusive learning opportunities in traditional dance and supports SDG 11 by preserving intangible cultural heritage, strengthening social cohesion, and boosting community-based tourism in Kandri Village. Despite these successes, the organization still employs a centralized leadership model, which limits transparency and participation, posing risks to its sustainability and external funding opportunities. The study recommends adopting a collaborative governance model to improve accountability mechanisms, ensuring long-term organizational resilience and enhancing its contribution to the SDGs.Penelitian ini menganalisis bagaimana tata kelola pendidikan seni berbasis komunitas di Sanggar Juju Semarang berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) 4 (Pendidikan Berkualitas) dan 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui upaya pelestarian budaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Analisis data meliputi reduksi, penyajian, dan verifikasi data, dengan triangulasi digunakan untuk menjamin keabsahan temuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan Sanggar Juju dalam mengelola program serta mengembangkan keanggotaan hingga mencapai 125 siswa dalam kurun waktu enam tahun didukung oleh praktik tata kelola yang mencakup kerangka kebijakan, nilai-nilai organisasi, prinsip partisipatif, dan sistem akuntabilitas. Sanggar ini berkontribusi pada pencapaian SDG 4 dengan menyediakan kesempatan belajar yang inklusif dan relevan secara kultural dalam bidang tari tradisional, serta mendukung SDG 11 melalui pelestarian warisan budaya takbenda, penguatan kohesi sosial, dan pengembangan pariwisata berbasis masyarakat di Desa Kandri. Meskipun demikian, organisasi ini masih menerapkan model kepemimpinan yang tersentralisasi, yang membatasi transparansi dan partisipasi, sehingga berpotensi menghambat keberlanjutan dan peluang pendanaan eksternal. Penelitian ini merekomendasikan penerapan model tata kelola kolaboratif untuk memperkuat mekanisme akuntabilitas, memastikan ketangguhan organisasi dalam jangka panjang, serta meningkatkan kontribusinya terhadap pencapaian SDGs