Unissula Repository
Not a member yet
    32889 research outputs found

    REKONSTRUKSI PERLINDUNGAN HUKUM KEPADA PELAKU USAHA DALAM KASUS KEGAGALAN KONSTRUKSI YANG BERBASIS NILAI KEADILAN

    Full text link
    Construction services play an important role in development, considering that construction services produce final production in the form of buildings or other physical forms, both in the form of facilities and infrastructure that function to support the growth and development of various fields, especially the social and cultural economic fields to realize a just and prosperous society that is evenly distributed materially and spiritually based on Pancasila and the 1945 Constitution. This dissertation has the aim of knowing and analyzing Legal Protection to Business Actors in the Case of Construction Failure has not been based on Justice. The method in this dissertation research uses a constructivism paradigm, with a non-doctrinal research type, and a socio-legal approach, and with data collection methods carried out through field research and analysis of laws and regulations. The findings of this dissertation research are that almost 20-40% of construction failures occur in the implementation process stage and 54% of these failures are caused by unskilled labor and the remaining 12% are caused by material quality (Akinci et al., 2006). To assess the failure of the building requires the determination of a professional and certified expert appraiser. Currently, Legal Protection to Business Actors in the Case of Construction Failure has not been Based on Justice this is because in the Construction Services Law it is not clearly stipulated to what extent the construction failure in the building and so far the legal liability is fully charged to the Business Actor without first seeing the error is on the Business Actor or Construction Service User as stipulated in article 65 paragraph (1) of Law Number 2 of 2017 concerning Construction Services as for the form of legal protection provided to the injured party in the event of a construction failure is related to the type of coverage that can be agreed upon in the construction work contract which includes an advance guarantee, implementation guarantee, guarantee of the quality of the work, guarantee of coverage against building failure, and guarantee against failure of construction work, including insurance of work, materials and equipment, labor insurance, and insurance of third party claims. Building failure is a risk that does not stand alone, there is always a cause and effect that accompanies it, the responsibility should be borne together. It could be that problems arise due to nontechnical matters that result in technical failures. Poor communication between Business Actors and Construction Service Users. Therefore, it is necessary to reconstruct Article 65 paragraph (1) of Law Number 2 of 2017 concerning Construction Services, in terms that must be added at the time of making the Work Contract, among others, the obligation of payment guarantee from service users and the failure of construction work and building failure which contains provisions on the obligations of service providers and / or service users for the failure of construction work and building failure and the period of responsibility for building failure. Keywords: Construction Services, Business Actors, Building Failure

    REKONSTRUKSI REGULASI SYARAT DALAM HUKUM PERKAWINAN DI INDONESIA BERBASIS NILAI KEADILAN

    Full text link
    Salah satu perkara yang dilindungi demi kemaslahatan manusia adalah memelihara keturunan. Untuk itu Islam mengatur pernikahan dan mengharamkan zina, menetapkan siapa-siapa yang tidak boleh dikawini, bagaimana cara-cara dilakukannya perkawinan, apa syarat-syarat yang harus dipenuhi, bagaimana cara yang sah dan bercampurnya antara dua manusia yang berlainan jenis itu tidak dianggap zina, anak-anak yang lahir dari hubungan itu dianggap sah serta menjadi keturunan sah dari ayahnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis regulasi syarat dalam hukum perkawinan Indonesia dalam Undang-Undang Perkawinan Indonesia Nomor 1 Tahun 1974, Menemukan kelemahan-kelemahan regulasi syarat dalam hukum perkawinan saat ini serta membuat rekonstruksi hukum perkawinan Indonesia yang berbasis keadilan. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif yang digunakan untuk meneliti fungsi suatu norma yang meletak undang-undang sebagai instrumen yang mengatur dan mengendalikan masyarakat. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini ialah pendekatan konseptual (conceptual approach), pendekatan undang-undang (statute approach), pendekatan filosofis (philosophical approach), dan pendekatan perbandingan (comparative approach). Analisis yang digunakan dalam penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Perekawinan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 yang selama ini digunakan belum memenuhi rasa keadilan terutama bagi suami yang ingin melakukan poligami meskipun pihak istri sudah memberikan izin untuk berpoligami. Pasal 2 ayat (2) memberikan syarat khusus bagi suami yang akan berpoligami yakni adanya izin dari pengadilan, meskipun izin dari istri pertama sudah dimiliki. Hal demikian tentu sangat memberatkan bagi suami karena harus berurusan dengan pihak pengadilan yang tentunya memerlukan waktu, biaya dan tenaga. Di samping itu keikutsertaan pengadilan dalam pemberian izin berpoligami menurut promovendus adalah satu bentuk campur tangan pengadilan dalam urusan rumah tangga orang lain. Kata Kunci: Rekonstruksi Regulasi, Syarat Perkawinan, Berbasis Keadila

    REKONSTRUKSI REGULASI SANKSI PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PERKEBUNAN YANG BERBASIS NILAI KEADILAN

    Full text link
    Indonesia sebagai negara agraris memiliki sumber daya alammelimpah, terdiri dari bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung dindalamnya. Potensi tersebut merupakan karunia dan amanat Tuhan YangMaha Esa, yang harus dipergunakan untuk mewujudkan kesejahteraanumum dan kemakmuran rakyat, sebagaimana amanat Pancasila danUndang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Potensisumber daya alam dimaksud, sangat penting digunakan untukpengembangan Perkebunan di Indonesia. Dalam rangka pengembangan perkebunan,telah dibentuk Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan. Regulasi Sanksi Pidana Terhadap Pelaku Tindak Pidana Perkebunan Yang Berbasis Nilai Keadilan dalam disertasi ini mengkaji dan meneliti ketentuan sanksi pidana yang tercantum dalam Pasal 103 sampai dengan Pasal 113 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 Tentang Perkebunan. Adapun tujuan Penelitian untuk menemukan dan menganalisis regulasi sanksi pidana terhadap pelaku Tindak Pidana Perkebunan belum berbasis nilai keadilan, untuk menemukan dan menganalisis kelemahan regulasi sanksi pidana terhadap pelaku Tindak Pidana Perkebunan saat ini dan untuk menemukan dan menganalisis rekontruksi regulasi sanksi pidana terhadap pelaku Tindak Pidana berbasis nilai keadilan.. Penelitian ini membahas mengenai tiga pokok permasalahan yang meliputi: Pertama, Mengapa regulasi sanksi pidana terhadap pelaku Tindak Pidana Perkebunan belum berbasis nilai keadilan. Kedua, Apa kelemahan regulasi sanksi pidana terhadap pelaku tindak pidana perkebunan saat ini. ketiga, Bagaimana rekonstruksi regulasi sanksi pidana terhadap pelaku tindak pidana berbasis nilai keadilan. Adapun jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normative yang mengkaji norma-norma hukum dalam peraturan yang mengkaji obyek penelitian. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yaitu bahan hukum primer berupa peraturan perundang-undangan yang mengatur sanksi pidana. Bahan hukum sekunder berupa literature ilmiah dan penelitian terdahulu yang membahas mengenai sanksi pidana serta bahan hukum tersier berupa kamus hukum. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, terdapat beberapa norma sanksi pidana terhadap pelaku tindak pidana perkebunan dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan belum berbasis nilai keadilan dikarenakan orientasi dari UUP ada pada pemodal besar internasionalisasi atau investor asing sehingga regulasi perkebunan bersifat liberalisasi, begitu pula dengan regulasi sanksi pidana dan pidana denda terhadap pelaku tindak pidana perkebunan masih lemah terutama sanksi korporasi, kelemahan-kelemahan dalam regulasi sanksi pidana terhadap pelaku tindak pidana perkebunan saat ini meliputi kelemahan substansi hukum, struktur hukum dan kultur hukum. Dari kelemahan ini juga terdapat kekososngan hukum dan kekaburan hukum. Adapun rekonstruksi yang ditawarkan dilakukan dengan rekonstruksi norma Pasal 103 sampai dengan Pasal 113 UU No. 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan. Kata Kunci: Sanksi Pidana, Pelaku, Tindak Pidana Perkebuna

    TANGGUNG JAWAB NOTARIS TERHADAP PEMBUATAN SURAT WASIAT PEMBERIAN ORGAN TUBUH YANG DIBUAT DIHADAPANNYA DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG JABATAN NOTARIS

    Full text link
    Objek wasiat yang jadi penelitian disini yakni organ tubuh yang diwariskan, maka mengacu pada teori hukum benda yang ada dalam KUHPer yang menjadi objek wasiat adalah jenis benda yang termasuk di dalam buku II Kitab Undangundang Hukum Perdata, dalam Pasal 499 disebutkan bahwa kebendaan ialah tiap – tiap hak yang dapat dikuasai oleh hak milik. Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis tata cara atau prosedur pembuatan surat wasiat pemberian organ tubuh, pembuatan surat wasiat pemberian organ tubuh yang dibuat dihadapan notaris yang dibatalkan ahli waris pasca pemberi wasiat meninggal dunia dan tanggung jawab Notaris terhadap pembuatan surat wasiat pemberian organ tubuh. Metode Pendekatan terhadap permasalahan yang akan dipergunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan yuridis Normatif, yaitu suatu penelitian yang ditinjau dari menganalisa data sekunder. Pisau analisis dalam penelitian ini menggunakan teori tanggung jawab dan teori kepastian hukum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata cara dan prosedur pembuatan surat wasiat organ tubuh belum diatur secara eksplisit dalam peraturan perundangundangan. Dalam hal pembuatannya masih mengacu pada Pasal 1320 KUHPerdata dimana wasiat pemberian organ tubuh tersebut dapat dilaksanakan sepanjang sesuai dengan syarat sahnya perjanjian. Wasiat organ tubuh tersebut tidak dapat dibatalkan oleh Ahli Waris karena Ahli Waris tersebut telah menyetujui dan menandatangani surat wasiat tersebut, selain itu Ahli Waris tidak memiliki kewenangan untuk membatalkan karena yang berhak untuk membatalkan adalah si pemberi wasiat. Tanggung jawab Notaris dalam pembuatan akta wasiat juga harus diperhatikan agar tidak mengalami kesalahan atau kerugian bagi pembuat wasiat yang meliputi: tanggung jawab Notaris terhadap proses pembuatan akta wasiat, tanggung jawab Notaris terhadap isi wasiat, tanggung jawab Notaris terhadap pembuat surat wasiat, dan tanggung jawab Notaris dalam mengurus pembuatan akta wasiat salah satunya bertanggung jawab atas pelaporan wasiat. Kata Kunci: Notaris; Wasiat; Organ Tubuh

    COMPARATIVE STUDY OF LEGAL REQUIREMENTS FOR BEING A NOTARY AND DUTIES & AUTHORITY OF A NOTARY IN INDONESIA AND MALAYSIA

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk Menganalisis Perbandingan Hukum Terhadap Syarat Menjadi Notaris dan Tugas & Wewenang Notaris Di Indonesia Dan Malaysia. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan hukum Normatif dengan Spesifikasi penelitian deskriptif. Kesimpulan dalam penelitian ini ada 2, yaitu 1)Bahwa syarat menjadi notaris di Indonesia yang paling utama adalah merupakan Sarjana Hukum & lulusan Magister Kenotariatan yang telah magang selama 2 tahun dan lulus ujian penerimaan notaris yang diangkat oleh Kementerian Hukum dan HAM, kemudian tidak boleh merangkap sebagai PNS maupun advokat. Sedangkan di Malaysia syarat menjadi Notary Public cukup Sarjana Hukum yang telah menjadi advokat minimal 15 tahun berterusan yang diangkat oleh State Attorney General di bawah Kementerian Kehakiman & Kejaksaan dan di Malaysia tidak dibuka pendaftaran umum untuk menjadi Notary Public, namun langsung dipilih oleh Kerajaan melalui Kementerian Kehakiman di setiap Negara Bagian/Wilayah Persekutuan/federasi atas dasar kemampuan dan kredibilitas selama dia bekerja menjadi advokat senior. 2) Tugas & Wewenang Notaris menurut Undang-Undang Notaris (UUJN) Indonesia dan Notaries Public Act 1959 (Revised 1973) in Laws of Malaysia, yang mana di Indonesia terletak pada berlakunya UUJN untuk seluruh Wilayah Negara, sedangkan di Malaysia setiap Negara bagian/Wilayah Persekutuan/federasi memiliki undang-undang turunan notarisnya sendiri-sendiri sesuai demografi dan kebutuhannya masingmasing. Dan Novelty dalam penelitian ini Notary Public di Malaysia telah merespon perkembangan teknologi informasi dengan sistem Cyber Notary & Digitalization World berupa Akta Elektronik, selain itu sistem kontrak internasionalnya melibatkan sistematika kontrak yang lengkap, fleksibel dan memperhatikan kemauan para klien tanpa mengabaikan banyak sisi hukum internasional. Katakunci: Internasional; Notaris; Perbandingan; Syarat; Wewenang

    IMPLIKASI YURIDIS TERHADAP NOTARIS YANG MELAKUKAN MALPRAKTEK PEMBUATAN AKTA OTENTIK DI KABUPATEN KENDAL

    Full text link
    Notaris yang merupakan pejabat berwenang yang memiliki kewenangan untuk membuat akta otentik dapat dituntut terkait tindak malpraktek pembuatan akta, tuntutan terhadap notaris yang melakukan kelalaian atau tindakan malpraktek ini dapat dilaporkan dan diajukan kepada Majelis Kehormatan Notaris (MKN) dan juga kepolisian. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui dan juga menganalisa akibat yang ditimbulkan dan juga tanggung jawab notaris terhadap tindakan malpraktek yang dilakukannya, penelitian ini juga akan menganalisis perlindungan hukum yang didapatkan notaris apabila diduga melakukan malpraktek dalam proses pembuatan akta otentik. Metode Pendekatan penelitian yang digunakan dalam tesis ini adalah metode penelitian hukum yuridis sosiologis. Spesifikasi penelitian ini menggunakan deskriptif analisis. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer, data sekunder dan data tersier serta data sekunder berisi buku-buku dan dokumen pendukung lainnya. Pengumpulan data penelitian dengan teknik wawancara atau bahan pustaka. Akibat yang terjadi saat tindak malpraktek pembuatan akta ini terjadi adalah notaris akan menerima dampak hukum di persidangan yang berupa membayarkan ganti rugi yang dituntutkan, selain itu seorang notaris yang melakukan malpraktek juga dapat dicabut jabatannya sebagai notaris secara hormat, tidak hormat, ataupun sementara oleh Kemenkumham, secara sosial notaris tidak lagi mendapat kepercayaan masyarakat. Kata Kunci : Notaris. Tindak Malpraktek, Tanggung Jawab Notari

    ANALISIS YURIDIS PERALIHAN HAK ATAS TANAH MELALUI AKTA JUAL BELI PADA ANAK

    Full text link
    Peralihan hak atas tanah melalui akta jual beli pada anak di bawah umur membahas implementasi perwalian terhadap anak di bawah umur dalam pelaksanaan peralihan hak atas tanah karena jual beli. Penelitian ini menyoroti syarat materiil dan syarat formil peralihan hak atas tanah oleh anak di bawah umur, serta konsekuensi hukumnya. Anak di bawah umur tidak dapat melakukan sendiri peralihan hak tanah dan memerlukan wali serta izin dari penetapan pengadilan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mengetahui analisis yuridis dan hambatan serta solusi di terhadap peralihan hak atas tanah melalui akta jual beli pada anak. Penelitian tesis ini menggunakan penelitian hukum empiris atau sosiologis yang mencakup kepastian hukum dan tanggungjawab. Penelitian ini diperoleh melalui data hukum primer atau data yang diperoleh langsung dari narasumber dan bahan pustaka sebagai data pendukung. Hasil penelitian disimpulkan: 1) Anak yang masih dibawah umur yakni apabila anak yg masih dibawah umur memiliki tanah atas namanya kemudian tanah milik anak tersebut hendak dijual maka secara hukum perbuatan tersebut harus dilakukan oleh wali yang sah dari anak tersebut berdasarkan penetapan pengadilan. Prosedurnya yaitu, prosedur PPAT, prosedur Badan Pertanahan Nasional (BPN), dan prosedur izin dari pengadilan. Berdasarkan kenyataannya untuk beberapa syarat dari PPAT meminta agar klien yang ingin memohon untuk penetapan atas melakukan perwalian dalam hal ini dari pengadilan negeri supaya dilakukan peralihan mengenai hak tanah. 2) Dalam hal peralihan hak atas tanah melalui akta jual beli pada anak dapat menimbulkan beberapa hambatan dan memerlukan solusi yang cermat. Secara umum masyarakat belum memahami tentang pertanahan, perwalian, serta prosedur peralihan hak peralihan hak atas tanah melalui akta jual beli pada anak. Sehingga diperlukannya suatu sosiliasi atau edukasi terhadap masyarakat melalui koordinasi yang baik antara pemerintah, kantor pertanahan, dan masyarakat lainnya untuk memastikan proses peralihan hak milik atas tanah berlangsung dengan lancar. Kata Kunci: Peralihan Hak, Perwalian, Ana

    PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEMILIK HAK ATAS TANAH DALAM PROSES BALIK NAMA PASCA TERBAKARNYA KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN BREBES

    Full text link
    Peristiwa kebakaran mengakibatkan berkas-berkas pertanahan menjadi musnah. Seperti yang terjadi di Kantor BPN Brebes bencana kebakaran terjadi menyebabkan kerusakan pada sertipikat Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) 2023 yang siap diserahkan kurang lebih 6000 berkas yang sedang dikerjakan. Akibat dari peristiwa kebakaran di Kantor BPN Brebes akan menyebabkan adanya terhambatnya pelayanan pertanahan dan meningkatnya eskalasi sengketa konflik pertanahan, Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perlindungan hukum terhadap pemilik hak atas tanah dalam proses balik nama pasca terbakarnya Kantor Pertanahan Kabupaten Brebes dan upaya dari kantor pertanahan untuk pemilik hak atas tanah. Penelitian ini merupakan penelitian empiris. Ditinjau dari jenis datanya pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Penelitian ini menggunakan jenis dan sumber data primer yang didukung dengan data sekunder. Teknik analisa data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menyatakan bahwa perlindungan hukum pemilik tanah pasca kebakaran Kantor Pertanahan Brebes melibatkan pemulihan sertipikat dan buku tanah oleh BPN berdasarkan Perkaban Nomor 6 Tahun 2010. Proses balik nama dapat dibantu oleh ahli hukum atau notaris, dengan pemilik tanah menyertakan dokumen penting dan berkoordinasi dengan pihak terkait. Kantor Pertanahan Brebes melakukan pemulihan data sertipikat tanah pasca kebakaran, meskipun sistem negatif pendaftaran tanah memiliki kelemahan. Pemulihan mengikuti Peraturan Kepala Badan Nomor 6 Tahun 2010 terkait penanganan bencana dan pengembalian hak masyarakat atas aset tanah di wilayah bencana. Kata Kunci: Perlindungan Hukum, Hak atas Tanah, Balik Nam

    PENGARUH VIDEO BERBASIS SELF CARE MANAGEMENT TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN PENCEGAHAN KEKAMBUHAN HIPERTENSI

    Full text link
    Latar Belakang : Hipertensi adalah penyakit degenerative dan penyakit tidak menular ditandai sebagai peningkatan tekanan darah yang menetap 140/90 mmHg. Hipertensi seperti yang sudah disebutkan adalah penyakit kronis yang memerlukan manajemen perawatan diri atau self care management, dengan manajemen diri, mengharuskan penderita hipertensi dapat mengelola penyakitnya, mengendalikan dan mencegah komplikasi. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode penelitian Pre-Eksperiment dengan teknik yang digunakan adalah One Group Pre Test-Post Test. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 17 responden di Wilayah Kerja Puskesmas Bangetayu Semarang. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik non probality sampling dengan metode Purposive Sampling. Dengan kriteria inklusi dari populasi yang menjadi sampel penelitian; pasien dengan hipertensi yang berulang, bersedia menjadi responden, bersedia mengikuti edukasi yang berupa video berbasis self care management dari awal hingga akhir. Hasil : Hasil uji wilcoxon, terbukti bahwa p value pada kelompok intervensi 0,000 (<0,05). Hal ini berarti bahwa ada pengaruh dalam pemberian edukasi yang diberikan dengan media video edukasi berbasis self care management terhadap tingkat pengetahuan pencegahan kekambuhan hipertensi. hal ini bisa dikatakan bahwa edukasi dengan media video edukasi berbasis self care management efektif dalam meningkatkan tingkat pengetahuan pencegahan kekambuhan hipertensi pada kelompok intervensi penderita hipertensi di Puskesmas Bangetayu Semarang. Simpulan : Edukasi dengan media video berbasis self care management efektif meningkatkan tingkat pengetahuan pada pasien hipertensi. Kata Kunci : Edukasi, Self care management, Hipertens

    IMPLIKASI YURIDIS TERHADAP KETIDAKSESUAIAN HASIL PEKERJAAN PENINGKATAN JALAN BANTARSARI-CIKERANG DENGAN ISIS PERJANJIAN PEMBORONGAN PEKERJAAN PADA ANGGARAN PENDAPATAN BELANJA DAERAH TAHUN ANGGARAN 2019 DI KABUPATEN CILACAP

    Full text link
    Proses pengadaan barang/jasa pemerintah yang dilaksanakan secara kontraktual, tidak jarang terjadi ketidakpuasan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) atas pelaksanaan kontrak oleh penyedia barang/jasa. Ketidakpuasan tersebut dapat berujung pada pemutusan kontrak secara sepihak oleh Pejabat Pembuat Komitmen yang diikuti dengan tindakan lainnya. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menganalisis: 1) Implikasi yuridis terhadap ketidaksesuaian hasil pekerjaan peningkatan jalan Bantarsari-Cikerang dengan isi perjanjian Pemborongan pekerjaan pada anggaran pendapatan belanja daerah tahun 2019 di Kabupaten Cilacap. 2) Tanggung jawab hukum terhadap ketidaksesuaian hasil pekerjaan peningkatan jalan Bantarsari-Cikerang dengan isi perjanjian Pemborongan pekerjaan pada anggaran pendapatan belanja daerah tahun 2019 di Kabupaten Cilacap Jenis penelitian ini termasuk lingkup penelitian yuridis sosiologis. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan kualitatif.. Jenis data menggunakan data primer dan data sekunder yang diperoleh melalui wawancara dan studi pustaka. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan secara kualitatif. Hasil penelitian disimpulkan : 1) Implikasi yuridis terhadap ketidaksesuaian hasil pekerjaan peningkatan jalan Bantarsari-Cikerang dengan isi perjanjian Pemborongan pekerjaan pada anggaran pendapatan belanja daerah tahun 2019 di Kabupaten Cilacap adalah Pihak PPK dapat melakukan pemutusan kontrak secara sepihak, dikarenakan penyedia jasa telah terbukti melakukan wanprestasi atas perjanjian kerja. Dalam hal pemutusan kontrak dilakukan pada masa pelaksanaan karena kesalahan penyedia jasa, maka jaminan pelaksanaan dicairkan, sisa uang muka harus dilunasi oleh penyedia jasa atau jaminan uang muka dicairkan, penyedia jasa dikenakan sanksi daftar hitam. 2) Tanggung jawab hukum terhadap ketidaksesuaian hasil pekerjaan peningkatan jalan Bantarsari-Cikerang dengan isi perjanjian Pemborongan pekerjaan pada anggaran pendapatan belanja daerah tahun 2019 di Kabupaten Cilacap maka Penyedia Jasa atau PT. ETT harus bertanggungjawab secara hukum. Selain masuk sebagai penyedia jasa di daftar hitam, PT. ETT juga harus melakukan ganti rugi dengan melunasi sisa uang muka atau jaminan yang dicairkan. Mengenai sanksi yang diberikan ini haruslah dapat dibuktikan bahwa sebenar-benarnya telah terjadi wanprestasi yang mengakibatkan kerugian salah satu pihak. Adapun mengenai ganti rugi tersebut haruslah dapat diperhitungkan secara materil dan mengenai hal-hal yang dapat dipertanggung jawabkan oleh pihak yang dinyatakan wanprestasi. Kata Kunci: Implikasi Yuridis, Perjanjian, Peningkatan Jala

    28,115

    full texts

    32,889

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Unissula Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇