STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Mencari Esensi dan Misi Gereja dalam Konteks Indonesia Awal Abad 21
Memiliki identitas diri adalah sesuatu yang sangat penting bila kita ingin melakukan sesuatu yang mempunyai landasan yang kokoh dan sasaran yang jauh ke depan. Dalam kaitan dengan identitas diri tersebut, penulis mengajak kita memikirkan mengenai peran yang seharusnya dimainkan oleh Gereja Tuhan di Indonesia. Peran tersebut baru menjadi jelas apabila dibarengi dengan kesadaran yang mendalam akan jati diri serta konteks yang kita hadapi pada saat ini dan di masa mendatang. Terlebih mengingat kita akan memasuki abad baru, abad yang diharapkan memunculkan kedewasaan Gereja menjelang kedatangan sang Raja Gereja, Yesus Kristus, yang semakin mendekat. Dalam tulisan ini penulis berusaha mengetengahkan apa yang menjadi esensi dan makna keberadaan Gereja dalam dunia. Sebetulnya peran seperti apa yang seharusnya dilakukan oleh Gereja dalam dunia ini? Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia saat ini, wajah dan kiprah Gereja yang seperti apakah yang kontekstual tetapi yang sekaligus tetap Alkitabiah
Kristologi Kosmik : Tinjauan Ulang dari Sudut Biblikal, Teologikal dan Historikal
Topik mengenai Kristologi Kosmik (Cosmic Christology) merupakan salah satu isu yang paling banyak diperdebatkan dalam disiplin teologi Kristen selama empat puluh tahun terakhir ini. Menurut Daniel L. Migliore: “Among the major challenges faced by Christology in our time is rethinking the relationship of the person and work of Christ to the cosmic process.” Sementara itu Allan Bailyes juga menunjukkan bahwa Cosmic Christ adalah satu dari lima doktrin Kristen dasar yang paling banyak diperdebatkan di kalangan orang Kristen, terutama antara kubu Injili dan Ekumenikal. Isu ini pantas dikaji dan dianalisis ulang secara teologis karena hal ini menyentuh “pusat syaraf” (the central nerve) kekristenan. Isu ini juga memiliki implikasi yang serius dan signifikan bagi perjalanan kekristenan di masa depan apabila tidak dipikirkan secara tepat-benar.
Artikel ini akan mencoba menelusuri secara singkat sejarah pencetusan dan perkembangan Kristologi Kosmik dalam kaitan dengan interrelasi antara kubu Injili dan Ekumenikal. Hal-hal yang berkenaan dengan dasar biblikal, termasuk berbagai isu serta perdebatan yang berkaitan dengan lingkup teologis maupun historis, akan dibahas pada bagian selanjutnya sebelum sampai pada konklusi
Stagnasi Pelayanan
Orang-orang Kristen di setiap abad mendapat julukan “homo viator,” yaitu orang yang selalu berjalan dan bergerak. “Berhenti” bagi umat Kristen berarti kemunduran. Karena itu di tengah zaman yang serba canggih dengan hi-tech dan komputerisasi kita dipacu untuk berlomba. Sambil berlomba orang akan berusaha mengukur apa saja yang dapat dipantau dengan angka. Sebab itu gereja dan persekutuan pun dipaksa untuk mengukur keberadaannya. Jika kita mengatakan “stagnasi pelayanan” berarti kita “merasakan” atau mulai “berpikir” dengan semacam ukuran bahwa apa yang kita lakukan sampai saat ini tidak bisa kita lanjutkan terus-menerus demikian saja. Apa yang telah kita lakukan sampai saat ini tidak menunjukkan dampak perubahan atau pembaharuan. Seolah-olah semuanya menunjukkan adanya kekosongan batiniah. Apa artinya segala usaha dan daya kita dalam pelayanan ini entah itu pemberitaan firman Tuhan, pembinaan, PA, konseling dan seterusnya? Pelayanan kita dirasakan tidak membawa manfaat, tidak ada gema yang memantul. Ini semua bukan tanpa akibat bagi kehidupan pribadi kita sebagai pekerja gereja atau persekutuan yang mendapat panggilan Allah untuk melayani-Nya dengan tugas dan tanggung-jawab yang dipercayakan kepada kita. Masih adakah perspektif yang positif untuk pelayanan kita? Apakah yang kita lakukan sampai saat ini memiliki masa depan? Bukankah ini semua menunjukkan adanya “sindrom” dari kejenuhan atau stagnasi? Di dalam artikel ini kita akan membahas mengenai dampak dari stagnasi pelayanan serta apa yang dapat dilakukan untuk mengatasinya. Tetapi sebelumnya kita akan melihat hambatan yang umumnya menghalangi orang mengenal adanya stagnasi. Dengan mendiskusikan hal ini penulis berharap para pembaca merindukan adanya suatu “pembaharuan” demi kemajuan dan berusaha untuk mempertahankan yang baik dan berani mengadakan terobosan yang baru
Memakai Terjemahan yang Tepat untuk Menyampaikan Berita yang Benar
Apakah saudara percaya bahwa Ayub menegur istrinya dengan sebutan “perempuan gila”? Apakah saudara yakin kalau Ayub membalas ketiga teman yang sudah menyusahkan hatinya dengan menyebut mereka (maaf untuk pemakaian kata yang “sopan” ini) “penghibur sialan kamu semua?” Saya percaya dan yakin kata-kata ini akan diucapkan oleh seorang jagoan dalam cerita komik. Tetapi saya tidak percaya dan tidak yakin kalau Ayub, seorang yang saleh, jujur dan takut akan Allah (Ayb. 1:1), akan mengucapkan kata-kata “sopan” seperti demikian. Ternyata “ungkapan sopan” tersebut ada dalam Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia Terjemahan Baru milik saudara dan saya. Dalam artikel yang singkat ini saya mengajak saudara untuk memperhatikan beberapa bagian Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang perlu kita teliti terjemahannya sebelum kita sampaikan beritanya. Sebagai hamba Tuhan kita dipanggil untuk menyampaikan berita yang benar. Untuk menyampaikan berita yang benar, hamba Tuhan perlu memakai terjemahan Alkitab yang tepat. Orang-orang Kristen di Indonesia mempunyai Alkitab LAI Terjemahan Baru (LAI TB 1974) yang merupakan LAI Terjemahan Lama (LAI TL 1965) yang diperbaharui, dan Alkitab dalam Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS 1995). Sebelum menyampaikan firman Tuhan, hamba Tuhan perlu melakukan pekerjaan rumah dengan membandingkan lebih dahulu beberapa terjemahan LAI di atas. Alangkah baiknya jika perbandingan versi LAI ini dibandingkan juga dengan beberapa versi bahasa Inggris, umpamanya New International Version (NIV) dan New King James Version (NKJV). Di samping itu, untuk memastikan arti dari beberapa terjemahan di atas, maka hamba Tuhan perlu melihat langsung dari Teks Masoret (TM) untuk Perjanjian Lama dan Alkitab Yunani untuk Perjanjian Baru. Jadi, memilih terjemahan yang tepat bukan sebuah pekerjaan yang mudah dan untuk menyampaikan berita yang benar seorang hamba Tuhan harus berani membayar harganya. Dalam halaman berikut, saya mencoba membandingkan beberapa ayat dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang perlu kita analisa terjemahannya. Saya memakai LAI TL, LAI TB dan BIS sebagai teks utama, NIV dan NKJV sebagai teks pembanding, TM dan Alkitab Yunani sebagai teks penuntun
Membaca Kisah Orang Samaria yang Murah Hati dengan Kacamata Psikologi Sosial
Kisah orang Samaria yang murah hati (Lukas 10:25-35) merupakan salah satu perumpamaan Yesus yang populer. Salah satu sebabnya adalah tema yang diangkat dalam kisah ini--yaitu menolong orang lain-–sangat akrab dengan kehidupan sehari-hari para pendengarnya. Dengan demikian para pendengarnya tidak akan mengalami banyak kesulitan untuk memberikan penilaian moral kepada tokoh-tokoh yang terlibat dalam kisah tersebut. Mereka juga akan lebih mudah untuk memahami arti perumpamaan ini dan mengingatnya. Karena perumpamaan ini berbicara tentang hubungan seseorang dengan orang lain (sesama), maka akan sangat relevan dan menarik apabila kisah ini juga disoroti dari sudut pandang psikologi sosial
Evaluasi Kritis Terhadap Doktrin Gereja dari Teologi Pembebasan
Dalam dekade terakhir ini banyak orang membicarakan Teologi Pembebasan, bukan saja di Amerika Latin tempat asal teologia ini, tetapi juga di Asia dan Afrika. Walaupun Teologi Pembebasan timbul di manamana, namun yang secara “vokal” dan sistematis berbicara tentang Teologi Pembebasan adalah yang berasal dari Amerika Latin. Oleh karena itu, penulisan artikel ini secara khusus akan meninjau pandangan Gustavo Gutierrez, yang merupakan pelopor dan pencetus dasar pemikiran Teologi Pembebasan. Meskipun bermunculan juga teolog yang lain, tetapi dapat dikatakan bahwa Gutierrez-lah pelopor dan pencetus utamanya. Di dalam artikel ini akan disajikan pemahaman dasar Teologi Pembebasan (mulai dari latar belakang munculnya teologi tersebut sampai metode yang digunakan). Secara khusus akan dipaparkan juga pandangan Teologi Pembebasan Gustavo Gutierrez tentang gereja, mengingat cukup banyak gereja tradisional di Indonesia (khususnya di mana hamba-hamba Tuhannya terdidik dengan pola teologi tertentu) yang memegang pandangan-pandangan Teologi Pembebasan. Sebelum melihat sumbangsih Teologi Pembebasan bagi konteks pergumulan orang Kristen di Indonesia, penulis akan memberikan tinjauan terhadap pandangan Teologi Pembebasan berdasarkan Alkitab terlebih dulu
The book of Judges as prophetic : a reconsideration of the book's purpose
Thesis (Th. M.)--Calvin Theological Seminary, 2000
Kota Allah : Sebuah Interpretasi Teologis dan Filosofis terhadap Sejarah
Salah satu keunikan kekristenan terletak pada kesadarannya tentang sejarah. Sejarah hidup manusia dilihat sebagai perjalanan di dalam ruang dan waktu dan juga dimengerti sebagai lintasan peristiwa-peristiwa yang memiliki awal dan akhir. Kesadaran semacam ini menjadikan kekristenan mampu eksis dan hidup secara dinamis, terus bergerak maju menuju tujuan akhirnya. Ironisnya, pada masa kini nampak banyak gereja yang tidak mengerti apalagi menekankan kesadaran sejarah yang demikian, sehingga sering terdengar banyak gereja yang menjadi pasif, tidak memiliki visi dan misi yang jelas, tidak bertumbuh secara maksimal, tidak berpengharapan dan tidak sedikit yang menjadi apatis terhadap masalahmasalah dunia yang ada di sekitarnya. Tulisan ini berusaha menggugah kembali kesadaran gereja Tuhan terhadap sejarah melalui interpretasi, baik secara teologis maupun filosofis, yang dilakukan oleh Agustinus, salah satu teolog klasik terbesar pada abad keempat, dalam karyanya Kota Allah (The City of God). Karyanya ini telah menjadi pengajaran standar gereja Kristen selama berabad-abad mengenai sejarah yang dilihat dari perspektif iman Kristen. Melalui usaha menggugah kesadaran sejarah ini diharapkan gereja dapat lebih memahami keberadaan, tugas dan tanggung jawabnya dalam sejarah, serta lebih serius mengisi ruang dan waktu yang melintas ini dengan kegiatan dan peristiwa pembangunan kerajaan Allah secara progresif dan konstruktif