Repository UNTAR (Universitas Tarumanagara)
Not a member yet
43693 research outputs found
Sort by
Penerapan Six Sigma untuk meningkatkan kualitas produk pada divisi produksi baju di PT. AB (T. Ind - 858)
PT. AB bergerak di bidang industri garmen dengan berbagai jenis pakaian khususnya untuk segmen pasar menengah ke atas. Dalam produksinya, terdapat beberapa jenis defect antara lain defect kain kotor, kain berlubang, kain tergunting dan plaket miring. Terdapat dua jenis model pakaian yang menjadi fokus utama dalam penelitian ini yaitu baju berkerah dengan persentase defect sebesar 5,4% dan baju oblong dengan persentase defect sebesar 4,6% yang melebihi batas toleransi defect pada perushaaan sebesar 3%. Metode yang digunakan untuk mengurangi defect adalah metode six sigma dengan analisis diagram fishbone, why-why analysis, dan FMEA untuk meningkatkan kualitas produk dan menurunkan jumlah defect yang terjadi, dengan tujuan penelitian yaitu mengidentifikasi jenis defect terbesar yang terjadi pada pada proses produksi, mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi defect terbesar pada proses produksi, memberikan usulan perbaikan menggunakan penerapan six sigma dengan tahapan DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control). Usulan perbaikan untuk peningkatan kualitas antara lain memberikan pelatihan pada operator mesin jahit, pembuatan check sheet dan peraturan kebersihan secara tertulis, penggantian peralatan dengan peralatan yang lebih sesuai, dan pembuatan penjadwalan pemeliharaan mesin secara rutin. Hasil implementasi dalam empat minggu menunjukkan penurunan persentase defect sebesar 0,47% pada baju berkerah dan 0,46% pada baju oblong. Selain itu terdapat kenaikan nilai sigma, pada baju berkerah diperoleh nilai sigma sebesar 3,79 dari sebelumnya yaitu 3,75
Modifikasi alas duduk dan sandaran ortopedik berbahan natural (T. Ind - 864)
Penelitian bertujuan untuk mengembangkan kursi ortopedik yang lebih terjangkau dengan memanfaatkan rotan sebagai alternatif bagi lateks yang umumnya digunakan. Penelitian ini menerapkan prinsip ergonomis berdasarkan data Antropometri, membagi produk menjadi dua bagian dengan dimensi yang sesuai. Produk yang dihasilkan memiliki ukuran 35 cm x 45 cm untuk bagian dudukan dan 30 cm x 32 cm untuk sandaran. Evaluasi produk menunjukkan bahwa kursi ini memenuhi kriteria awal dalam perancangan produk, termasuk kenyamanan, ketahanan, dan harga yang lebih terjangkau. Hal ini berpotensi membantu meningkatkan aksesibilitas terhadap alas duduk ortopedik dan meningkatkan kesadaran akan manfaatnya bagi masyarakat
Perancangan visual control chart untuk memonitor dan mengevaluasi proses produksi harian di PT. Enkei Indonesia (T. Ind - 870)
Dalam menghadapi persaingan industri yang sangat kompetitif, perusahaan seperti PT Enkei Indonesia dituntut untuk mengoptimalkan produk dan layanan yang ditawarkan kepada pelanggan. Pimpinan perusahaan memiliki peran kunci dalam mengontrol pencapaian target performance indicator, mengelola kondisi abnormalitas dalam proses produksi, dan memastikan keberlanjutan kondisi baik di lini production. Visualisasi control menjadi alat utama untuk mengelola informasi terkait Key Performance Indicators (KPI) dan mempercepat identifikasi serta penyelesaian kondisi abnormality Dalam konteks ini, penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan manajemen data produksi dan aliran informasi di PT Enkei Indonesia. Total Quality Management (TOM) menjadi pendekatan yang diadopsi untuk mengidentifikasi, mengatasi, dan mencegah masalah dalam operasi lini produksi. Shopfloor management menjadi krusial untuk memastikan kondisi di line proses terkontrol dengan baik, memungkinkan manajer untuk melihat informasi dan mengidentifikasi kondisi abnormality dengan cepat.
Penelitian ini menunjukkan bahwa perancangan Visual Control Chart (VCC) di PT Enkei Indonesia dapat meningkatkan efisiensi kinerja kerja, mendeteksi perubahan atau pergerakan data dalam proses, serta memberikan kemudahan penggunaan, pemeliharaan, dan keamanan kerja. Namun, hasil wawancara juga mengungkap kurangnya informasi dan koordinasi kontrol dalam memantau kondisi lapangan serta adanya akar masalah dalam penyampaian informasi.
Kesimpulan penelitian menekankan pentingnya VCC sebagai alat manajemen kualitas untuk memonitor dan mengendalikan proses produksi. Inovasi menggunakan VCC memberikan kontribusi positif terhadap efisiensi, deteksi cepat terhadap perubahan dalam proses, dan keamanan kerja. Wawancara menunjukkan adanya kekurangan informasi dan monitoring kondisi di lini produksi, menyoroti perlunya perbaikan dalam sistem manajemen informasi dan koordinasi di PT Enkei Indonesia
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI KONSUMEN TERHADAP PRODUK KECANTIKAN TIDAK TERDAFTAR BPOM YANG BEREDAR DI E-COMMERCE: LEGAL PROTECTION FOR CONSUMERS AGAINST BEAUTY PRODUCTS NOT REGISTERED WITH BPOM DISTRIBUTING IN E-COMMERCE
Pasar Rawa Belong sebagai pusat perdagangan & wadah aktivitas masyarakat dalam pelestarian kebudayaan Betawi
Pasar Ayub Rawa Belong terletak di Jalan Ayub, Kecamatan Sukabumi Utara, Kecamatan Kebon Jeruk. Merupakan pasar promosi dan pemasaran berbagai kebutuhan seperti bahan makanan, perdagangan kuliner dan warung. Namun masih banyak permasalahan yang muncul di pasar ini yang cenderung bertentangan dengan sejarah Kampung Rawa Belong. Pada awalnya Kampung Rawa Belong identik dengan penjualan bunganya, yang sekarang ini berkembang dengan adanya Pasar Bunga Rawa Belong yang terletak di Jalan Sulaiman dan menjual berbagai jenis bunga. Kampung ini juga seharusnya mengedepankan budaya dan tradisinya. Selain itu, terlihat dari fisik bangunan dan ruang yang digunakan sebagai lokasi perdagangan, yang kini jauh dari idealnya. Selain itu, karena fungsi bangunan hanya beroperasi pada pagi hari dan tidak ada aktivitas pada siang hari, maka fasilitas bangunan tersebut belum identik dengan pasar yang berada pada daerah tersebut dimana pasar pada daerah tersebut buka selama 24 jam. Hal tersebut menyebabkan tempat itu terbengkalai dan tidak memiliki aktivitas. Oleh karena itu, Pasar Ayub di Rawa Belong memerlukan perencanaan dan perancangan yang matang untuk menghasilkan desain yang ideal. Pasar juga harus mengekspresikan identitasnya sebagai representasi budaya Asia Tenggara. Hal ini mendukung upaya pemerintah daerah untuk menghidupkan kembali pasar ini. Selama proses perencanaan, dilakukan tinjauan literatur dan studi komparatif untuk menentukan program ruang pasar yang paling tepat untuk skala layanan internasional. Untuk itu digunakan metode regionalisme kritis yang mengkaji sejarah, kebudayaan, dan kebudayaan Betawi dan Rawa Belong. Selain itu, pertimbangkan nilai kontekstual tempat yang membentuk karakteristik pasar. Proses ini menciptakan pasar dengan fasilitas pendidikan, hiburan dan komersial
Implementation of Policy Regulation on Dengue Fever Treatment Through Gene Drive of Wolbachia Bacteria
Dengue fever is an infectious disease transmitted through the bite of the Aedes
aegypti mosquito. Efforts to control this disease often face insecticide resistance and
environmental factors. One innovation that is expected to reduce the spread of DHF is the
application of gene drive by utilizing Wolbachia bacteria. This technology works by infecting
mosquito populations to reduce their ability to transmit dengue virus. This article discusses the
implementation of the policy on dengue treatment through gene drive based on Wolbachia
bacteria in Indonesia, focusing on regulatory aspects, field tests, and community acceptance of
the technology. This study used a qualitative approach with secondary data analysis from
policy documents, field trial results, and interviews with stakeholders. The results showed that
although field trials showed promising results in reducing the spread of DHF, the challenges
faced were immature regulations and public concerns regarding environmental and health
impacts. Therefore, a more integrated policy approach is needed, as well as better
communication to increase public understanding and support for this innovation
Penataan kembali kawasan Pasar Minggu dengan penerapan konsep transit oriented development
Kawasan Pasar Minggu, yang selama ini dikenal sebagai pusat perdagangan dan transportasi penting di Jakarta, kini menghadapi degradasi signifikan akibat kondisi yang semrawut dan tidak teratur. Kesemrawutan ini tidak hanya menyebabkan penurunan kualitas lingkungan dan efisiensi kawasan, tetapi juga menghilangkan unsur pembauran yang sebelumnya menjadi ciri khas Pasar Minggu. Untuk mengatasi masalah ini, penelitian ini mengeksplorasi potensi pengembangan ulang kawasan Pasar Minggu menjadi kawasan Transit-Oriented Development (TOD). Pendekatan TOD bertujuan untuk memaksimalkan potensi kawasan dengan mengintegrasikan moda transportasi umum, meningkatkan konektivitas, serta mengoptimalkan penggunaan lahan. Melalui desain yang memperhatikan integrasi transportasi, diharapkan kawasan ini dapat menjadi lebih teratur, nyaman, dan berkelanjutan. Penelitian ini juga menekankan pentingnya studi lanjutan untuk memastikan perencanaan yang komprehensif dan implementasi yang efektif. Dengan demikian, transformasi kawasan Pasar Minggu dapat tercapai secara optimal, mengembalikan fungsi sosial dan ekonominya, serta menjadikannya contoh penerapan TOD yang berhasil di perkotaan Indonesia. Untuk mengatasi masalah ini, penelitian ini mengeksplorasi potensi pengembangan ulang kawasan Pasar Minggu menjadi kawasan Transit-Oriented Development (TOD). Pendekatan TOD bertujuan untuk memaksimalkan potensi kawasan dengan mengintegrasikan moda transportasi umum, meningkatkan konektivitas, serta mengoptimalkan penggunaan lahan. Melalui desain yang memperhatikan integrasi transportasi, diharapkan kawasan ini dapat menjadi lebih teratur, nyaman, dan berkelanjutan. Penelitian ini juga menekankan pentingnya studi lanjutan untuk memastikan perencanaan yang komprehensif dan implementasi yang efektif, sehingga transformasi kawasan Pasar Minggu dapat tercapai secara optimal, mengembalikan fungsi sosial dan ekonominya, serta menjadikannya contoh penerapan TOD yang berhasil di perkotaan Indonesia
From society to society: menghidupkan kembali identitas Candra Naya melalui narasi sosial
Suatu tempat akan memiliki makna sebagai place, jika terdapat keotentikan, keunikan, dan koneksi baik secara fisik maupun non fisik. Identitas suatu tempat terbentuk melalui aktivitas yang ada didalamnya serta dampak yang dirasakan oleh masyarakat setempat. Dalam perkembangannya, modernisasi menyebabkan suatu tempat mengalami degradasi dari aktivitas atau fisik yang dikenal dengan istilah Placeless Place. Salah satu tempat yang mengalami fenomena Placeless Place adalah Sekolah Candra Naya. Pada awalnya, eksistensi Sekolah Candra Naya sudah ada sejak tahun 1946 di Gedung Candra Naya, namun akibat pergantian tata guna lahan membuat Sekolah Candra Naya dipindahkan ke Jl. Jembatan Besi II. Sejak kepindahannya di tahun 1993 hingga eksistensinya saat ini, Sekolah Candra Naya kehilangan keotentikan, keunikan, diskoneksi dengan lingkungannya dan sense of belonging sehingga menjadikan Sekolah Candra Naya mengalami proses Placeless Place. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghadirkan kembali identitas, keunikan, ikatan historis, serta memaknai kehidupan siswa sekaligus meningkatkan kenyamanan dalam proses kegiatan belajar mengajar di Sekolah Candra Naya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan desain Arsitektur Naratif melalui pengalaman ruang dengan tahapan aktivitas Edu-Cial (Pendidikan), Society-Hub (Pelayanan), dan Historium (Sejarah) yang akan menjadi pengikat antar siswa, masyarakat setempat dengan Sekolah Candra Naya sehingga terciptanya Sense of Place dan menjadikan Sekolah Candra Naya sebagai Place kembali
Pusat komunitas budaya Jepang dengan konsep teras di Little Tokyo, Blok M
Little Tokyo yang terletak di Kawasan Blok M merupakan salah satu tempat hiburan yang digemari oleh kalangan anak muda di Jakarta. Kawasan ini memiliki latar belakang sejarah sebagai tempat bagi orang-orang Jepang di Jakarta. Komunitas Jepang tersebut memiliki budaya untuk menghabiskan waktu ke tempat hiburan setelah seharian bekerja. Budaya tersebut terbawa oleh orang Jepang yang ada Jakarta dan menjadi awal mengapa Little Tokyo ini terbentuk. Awalnya, kawasan ini didominasi oleh tempat kuliner, bar dan karaoke, kantor, dan lainnya. Namun seiring berjalannya waktu, terjadi penurunan jumlah orang asli Jepang yang masih berada di Jakarta sehingga Little Tokyo semakin kehilangan makna tempatnya. Tujuan perancangan adalah untuk menelusuri pendekatan perancangan yang dapat membangkitkan kembali Little Tokyo sebagai tempat atau wadah bagi komunitas pecinta budaya Jepang. Metode yang dilakukan adalah metode deskriptif kualitatif dengan melakukan penelusuran terhadap pengaruh budaya Jepang di kawasan Little Tokyo melalui observasi, mulai dari unsur fisik seperti bangunan sampai pada nonfisik seperti kegiatan. Penelitian ini menghasilkan penerapan konsep teras di Little Tokyo. Konsep teras dapat berhubungan dengan letak site sebagai Gate atau pintu masuk kawasan Little Tokyo. Konsep teras juga menciptakan ruang terbuka di beberapa lantai yang saling terkoneksi. Konsep teras berhubungan terhadap program aktivitas budaya orang Jepang dan sudah diterima oleh budaya orang Indonesia