Jurnal Penelitian & Pengembangan Pendidikan Fisika
Not a member yet
324 research outputs found
Sort by
Analisis Free Body Diagrams pada Siswa SMA dalam Menyelesaikan Tes Uraian Terstruktur
Abstract
Pre-study which was done by researcher got 66.76% students in one of high school in Garut district didn’t construct free body diagrams before completing physics problems particularly on the force matter. As a consequence, researcher has a purpose to analyze free body diagrams on high school students to solve restricted response items. The research method which was used is quantitative descriptive. Through purposive sampling technique, obtained a sample of 35 students in one of high school in Garut district. The instrument was used in this study is restricted response items so that students are directed to construct free body diagrams first before completing the test. The data obtained was processed with percentage descriptive analyses. Based on research conducted, there are three types of constructing free body diagrams. The first type, about 8.57% of students construct free body diagrams outside the object which is being observed, the second type as much as 62.85% students construct free body diagrams directly on the object which is being observed and the third type as much as 22.86% students construct free body diagrams outside and directly on the object which is being observed.
Keywords: force, free body diagrams, restricted response items
Abstrak
Studi pendahuluan yang peneliti lakukan memperoleh 66,76% siswa di salah satu SMAN di Kabupaten Garut tidak menggambar free body diagrams sebelum menyelesaikan soal fisika khususnya pada materi gaya. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis free body diagrams pada siswa SMA dalam menyelesaikan tes uraian terstruktur. Metode penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif deskriptif. Sampel diambil secara purposive sampling sebanyak 35 siswa di salah satu SMAN di Kabupaten Garut. Instrumen yang digunakan adalah tes bentuk uraian terstruktur, yang telah dikembangkan dalam pennelitian sebelumnya, yang diarahkan agar siswa menggambar free body diagrams sebelum menjawab tes secara keseluruhan. Data diolah menggunakan analisis deskriptif persentase. Hasil penelitian menginformasikan bahwa terdapat tiga tipe cara menggambar free body diagrams. Tipe pertama sebanyak 8,57% siswa menggambar free body diagrams di luar benda yang ditinjau, tipe kedua sebanyak 62,85% siswa menggambar free body diagrams langsung pada benda yang ditinjau dan tipe ketiga sebanyak 22,86% siswa menggambar free body diagrams di luar dan langsung pada benda yang ditinjau.
Kata-Kata Kunci: gaya, free body diagrams, tes uraian terstruktur
 
Penerapan Pendekatan Ilmiah Terhadap Kemampuan Merancang Percobaan dan Hasil Belajar Fisika Peserta Didik Kelas X MIA MAN 2 Model Makassar
Abstract
This research was pre experimental design (one shot case study) aimed to know the score of designing experiments ability and physics student achievement after used the scientific approach in grade X MIA MAN 2 Model Makassar. Research subject were 42 students. This research used two instruments, were the ability of designing experiments and physics student achievement. The descriptive analysis result showed that the score of the ability of designing experiment was good and the score of physics student achievement was high. The inferential analysis result showed that the ability of designing experiment and physics student achievement after used the scientific approach have reached 60 % from ideal score (α = 0.05).
Keywords: scientific approach, the ability of designing experiments, physics student achievement
Abstrak
Penelitian ini adalah Pra Eksperimen dengan desain One Shot Case Study yang bertujuan untuk mengetahui besar kemampuan merancang percobaan dan hasil belajar fisika setelah diajar menggunakan pendekatan ilmiah pada peserta didik kelas X MIA MAN 2 Model Makassar tahun ajaran 2014/2015. Subjek penelitian ini sebanyak 42 peserta didik. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yakni tes kemampuan merancang percobaan dan tes hasil belajar fisika materi suhu dan kalor. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa kemampuan merancang percobaan setelah diajar dengan menggunakan pendekatan ilmiah berada pada kategori baik dan hasil belajar fisika setelah diajar menggunakan pendekatan ilmiah berada pada kategori tinggi. Hasil analisis inferensial dengan uji hipotesis menunjukkan bahwa kemampuan merancang percobaan dan hasil belajar fisika peserta didik setelah diajar menggunakan pendekatan ilmiah telah mencapai minimal 60% dari skor ideal (skor maksimum) dengan taraf nyata 0,05.
Kata-kata kunci: pendekatan ilmiah, kemampuan merancang percobaan, hasil belajar fisik
Pengembangan Media Pembelajaran Fisika Menggunakan Lectora Inspire pada Materi Usaha dan Energi SMA
Abstract
The development of instructional media aims to help students to do independent learning outside the classroom but still under the supervision of teachers. This study uses Research and Development (R & D) DDD-E type developed by Ivers and Barron. The steps of DDD-E developing method method consist of Decide, Design, Develop, and Evaluate. Decide is determination of the project objectives, design determines the structure of the media contents to be developed, develop step is developing a media that is already planned. The evaluation exist on DDD steps, so the instructional media can be controlled. The software used in this research is Lectora Inspire. Lectora Inspire used on this research because the software user friendly or easy to use.
Keywords: Lectora Inspire, media, work, energy
Abstrak
Pengembangan media pembelajaran ini bertujuan untuk membantu siswa dalam melakukan pembelajaran mandiri diluar kelas tetapi masih dalam pengawasan guru. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan atau Research and Development (R&D) tipe DDD-E yang dikembangkan oleh Ivers dan Barron. Langkah – langkah metode pengembangan DDD-E terdiri dari tahap decide, yaitu penentuan tujuan proyek, design, yaitu menentukan struktur isi dari media yang akan dikembangkan, develop adalah tahap untuk mengembangkan media pembelajaran yang sudah direncanakan. Tahap Evaluate adalah tahap evaluasi pengembangan media, dimana langkah ini terdapat pada seluruh tahapan DDD. Perangkat lunak yang digunakan adalah Lectora Inspire. Software ini dipilih karena langkah penggunaan yang user friendly atau mudah digunakan.
Kata-kata kunci:Lectora Inspire, media, usaha, energ
Profil Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa pada Pembelajaran Gerak Lurus
Abstract
This study aims to determine the effect of the application models of learning are teachers doing the problem solving ability of students. The study was conducted in one of the class X State Senior High School in Sukabumi District, West Java Province. The method used is descriptive method. Samples were taken by using purposive sampling so have two classes totaling 35 students to look at their problem-solving abilities after following study conducted by the teacher of physics on the motion of matter straight. Data collection instruments used in this study was a questionnaire responses of students to the learning process of physics that teachers, test students' problem solving skills, and interview guides. Based on the analysis conclusion, the problem solving ability of students is highest in the indicator describing the problem with the percentage of 67.14% while the lowest is in the indicators to evaluate the solution with a percentage of 20%. The average percentage of mastery of problem-solving ability is 52.57% so it concluded with the usual lesson the teacher is less to train higher level thinking skills, especially problem-solving abilities. Based on questionnaire responses and interviews can be concluded that the teacher had been teaching tend to use the same way in every meeting, the teacher explains the material then gives examples of questions and exercises so it is still quite teacher centered.
Keywords : Problem solving ability, student responses
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran yang biasa dilakukan guru di kelas terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa. Penelitian dilakukan di kelas X salah satu Sekolah Menengah Atas Negeri di Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif. Sampel diambil dengan teknik purposive sampling sehingga dipilih dua kelas yang berjumlah 35 siswa untuk di lihat kemampuan pemecahan masalahnya setelah mengikuti pembelajaran Fisika yang dilakukan oleh guru pada materi gerak lurus. Instrumen pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah tes kemampuan pemecahan masalah siswa, angket tanggapan siswa terhadap proses pembelajaran fisika yang dilakukan guru, dan pedoman wawancara. Berdasarkan hasil analisis data penelitian diperoleh kesimpulan bahwa kemampuan pemecahan masalah siswa yang paling tinggi adalah pada indikator mendeskripsikan masalah dengan persentase 67,14% sedangkan yang paling rendah adalah pada indikator mengevaluasi solusi dengan presentase 20%. Rata-rata persentase penguasaan kemampuan pemecahan masalah adalah 52.57% sehingga disimpulkan pembelajaran yang biasa dilakukan guru kurang melatihkan keterampilan berpikir tingkat tinggi terutama kemampuan pemecahan masalah. Berdasarkan angket tanggapan dan wawancara diperoleh kesimpulan bahwa guru selama ini mengajar cenderung menggunakan cara yang sama disetiap pertemuan yaitu guru menjelaskan materi kemudian memberikan contoh soal dan latihan soal sehingga masih tergolong teacher centered.
Kata Kunci: Kemampuan Pemecahan Masalah, Tanggapan Siswa
Penerapan Strategi Metakognisi pada Cooperative Learning untuk Mengetahui Profil Metakognisi dan Peningkatan Prestasi Belajar Siswa SMA pada Materi Fluida Statis
AbstractThis research is aimed to identify the profile of the metacognitive and the enhancement of students' learning achievement that used the metacognitive strategy in cooperative learning model on student teams achievement division. The design that is used in this research is control group pre-test post-test design. The population of this research is 80 senior high school students grade X in one of senior high school in Bandung. The researcher try to find three kinds of metacognitive, there are knowledge, awareness and control. The instrument that used to identify the metacognitive of knowledge is metacognition’s questionnaire, to identify metacogniton awareness and control used questionnaire with likert scale, in order to identify the enhancement of students' learning achievement, the researcher used three tier test. The result showed that the experiment class is more able to draw and consider the completion strategy in the application in their daily life than the control class. The result of awareness metacognitive and control in class experiment class is 3,54 and 4,38 and in class control is 3,45 and 3,99. The gain score of the learning achievement in experiment class is 0,71, it is in high level and the gain score in class control is 0,35, it is in medium level. The enhancement of learning achievement is analyzed from the comprehension of the concept and the students' misconception. The comprehension of the concept in experiment class has improvement and the misconception is getting lower significantly than control class. So, the implementation of metacognitive strategy in cooperative learning is effective to enhance the metacognitive and to improve the students' learning achievement.Keywords: Metacognitive strategy, Student Teams Achievement Division, Metacognitive, Achievement
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil metakognisi dan peningkatan prestasi belajar dengan menerapkan strategi metakognisi pada model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division. Desain penelitian yang digunakan yaitu control group pre-test post-test design. Sampel pada penelitian adalah 80 siswa kelas X di salah satu SMA di Bandung. Metakognisi yang diteliti terdiri dari tiga jenis metakognisi yaitu pengetahuan, kesadaran, dan kontrol. Instrumen yang digunakan untuk mengetahui metakognisi pengetahuan adalah kuesioner metakognisi, untuk pengukuran metakognisi kesadaran dan kontrol digunakan kuesioner dengan skala likert, sedangkan untuk melihat peningkatan prestasi belajar menggunakan Three Tier Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelas eksperimen lebih mampu menggambarkan dan mempertimbangkan strategi penyelesaian terkait konsep dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari dibandingkan dengan kelas kontrol. Hasil metakognisi kesadaran dan kontrol pada kelas eksperimen berturut-turut adalah 3,54 dan 4,38 sedangkan kelas kontrol adalah 3,45 dan 3,99. Nilai gain prestasi belajar kelas eksperimen sebesar 0,71 yang berada dalam kategori tinggi dan nilai gain kelas kontrol sebesar 0,35 berada dalam kategori sedang. Peningkatan prestasi belajar dianalisis juga dari pemahaman konsep dan miskonsepsi siswa. Pemahaman konsep kelas eksperimen meningkat dan miskonsepsi menurun lebih signifikan daripada kelas kontrol. Jadi, penerapan strategi metakognisi pada cooperative learning efektif untuk membangun metakognisi dan meningkatkan prestasi belajar siswa.Kata-kata kunci: Strategi metakognisi, Student Teams Achievement Division, Metakognisi, prestasi belaja
Desain Didaktis Konsep Gradien Grafik v(t) sebagai Percepatan atau Perlambatan berdasarkan Hambatan Belajar Peserta Didik Kelas X SMA
Abstract
The procces of making lesson plan should consider the response from the students. If the responses were not well anticipated, it can be a learning obstacles for the students. Therefore, teacher as one of the components in learning proscess and the responsible one in the classroom, should be able to make a didactical design wich can anticipate the emergence of these obstacles. The purpose of this research is to make a didactical design which is arranged based on epistemological obstacles (viewed from the tests of the ability of respondents) and didactical obstacles (viewed from learning process) in one of the concept in accelerated linera motion, that is gradient of v(t) charts as the acceleration or decelerated, so it can anticipate the apperence of learning obstacles. These are the resumes of didactical design for this concept. At the prainstruksional stage, teacher mentioned the characteristics of s(t) and v (t) graphs from the previous meetings, while on the instructional stage, it requared a worksheets and a moving man animation. In this section make sure the students understand that gradient on a v (t) graphs is acceleration or deceleration trough graph aproachment .This concept given with the group methods discussions followed by plenary class.
Keywords: didactical design, learning obstacle,concept of gradient on a v(t) graphs as acceleration or deceleration
Abstrak
Ketika proses pembelajaran berlangsung, respon dari peserta didik seringkali muncul. Jika respon ini tidak diantisipasi dengan baik, dapat menjadi hambatan belajar bagi peserta didik. Oleh karena itu, pendidik sebagai salah satu komponen dalam pembelajaran serta sebagai pihak yang bertanggung jawab di dalam kelas harus mampu untuk membuat suatu desain didaktis yang dapat mengantisipasi munculnya hambatan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah membuat suatu desain didaktis yang disusun berdasarkan hambatan epistemologis (dilihat dari hasil tes kemampuan responden) dan hambatan didaktis (dilihat dari proses pembelajaran berlangsung) yang ada pada salah satu konsep pada materi GLBB yaitu gradien grafik v(t) sebagai percepatan atau perlambatan sehingga dapat mengantisipasi hambatan belajar yang muncul. Desain didaktis untuk konsep ini secara singkat, yaitu sebagai berikut: pada tahap prainstruksional disinggung mengenai karakteristik dari grafik s(t) dan v(t) pada pertemuan sebelumnya, sedangkan pada bagian instruksional media yang dibutuhkan yaitu lembar kerja peserta didik dan animasi moving man. Pada bagian ini pastikan peserta didik memahami bahwa gradien pada grafik v(t) merupakan percepatan atau perlambatan melalui pendekatan grafik. Setelah itu, untuk memperdalam pemahaman peserta didik diberikan latihan berupa grafik v(t) dengan situasi yang berbeda. Konsep ini diberikan dengan metode diskusi kelompok yang dilanjutkan dengan pleno kelas.
Kata kunci: desain didaktis, hambatan belajar, konsep gradien grafik v(t) sebagai percepatan atau perlambata
Peningkatan Keterampilan Proses Sains Siswa melalui Context Based Learning
AbstractRigid object equilibrium is a material that needs well rule and process aplication viewed from tranlation and rotation concept. This phenomenon related to material aplication was much found in daily life. This material instruction requires the development of Saintific Process Skills (SPS). Based on the observation result in MAN Cisewu, this material was considered difficult for the student. The teacher taught the material with mathematical formulas wihthout practicing the saintific process. One of the efforts to solve the problem by using model Context Based Learning (CBL). CBL connects content and contex. It helps the students to be more creative informing concept individually and improves the saintific process skills. Through one grup pretest-posttest design in pre experiment method, the research aims finding out the use of CBL model by using observation sheet and improving students’ saintific process skills measured by multiple choices. The result shows percentage of teacher activity 87,00% (good) and students 85,22% (good). The improvement of students’ saintific process skills showed 0,58% (medium) for N-gain means. The indicator of saintific process skills communicate of the lowest N-Gain (0,06) and the highest N-Gain (0,73) apperead on the indicator of interpretation. Hyphothetical test showed by Wilcoxon match pairs, it is found that Zcount (5,70) > Ztable (1,69). It can be concluded that Context Based Learning can improve saintific process skills of students in material rigid object equilibrium.Keywords: CBL, SPS, rigid object equilibrium
AbstrakKeseimbangan benda tegar merupakan materi yang memerlukan penerapan aturan dan proses baik ditinjau dari konsep tranlasi maupun rotasi. Fenomena dan aplikasi yang berkaitan dengan materi ini banyak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari Pembelajaran materi ini menuntut pengembangan Keterampilan Proses Sains (KPS). Berdasarkan hasil observasi di MAN Cisewu materi ini dianggap sulit bagi siswa. Guru mengajarkannya dengan cara perumusan matematis dan kurang melatihkan proses sains. Salah satu upaya untuk mengatasinya dengan menerapkan model Context Based Learning (CBL). CBL menghubungkan konten dengan konteks, dapat membantu siswa kreatif dalam membentuk sebuah konsep secara mandiri dan meningkatkan keterampilan proses sains. Melalui metode pre-eksperimen dengan desain one-group pretest-posttest, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterlaksanaan model CBL yang diamati dengan menggunakan lembar observasi dan peningkatan keterampilan proses sains siswa yang diukur menggunakan soal pilihan ganda. Hasil penelitian menunjukkan persentase keterlaksanaan aktivitas guru 87,00% (baik) dan siswa 85,22% (baik). Peningkatan keterampilan proses sains siswa diperoleh rata-rata nilai N-Gain sebesar 0,58 (sedang). Indikator keterampilan proses sains mengkomunikasikan memperoleh N-Gain terendah (0,06) dan N-Gain tertinggi (0,73) pada indikator menafsirkan. Hasil uji hipotesis menggunakan uji Wilcoxon match pairs diperoleh Zhitung (5,70) > Ztabel (1,69). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model Context Based Learning dapat meningkatkan keterampilan proses sains siswa pada materi keseimbangan benda tegar.Kata-kata kunci: CBL, KPS, keseimbangan benda tega
Pengukuran Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa Rekayasa Diploma 4 Politeknik Negeri Bandung melalui Percobaan Momen Inersia
AbstractPoliteknik Negeri Bandung is one of the colleges that provides vocational education in science and technology emphasizing on its application capabilities. The applicability of education can be achieved either with critical thinking skills. The instruments of assessment through experiment of Moment of Inertia by using indicators capabilities through 4 levels of thinking, i.e.knowledge, comprehension, application, and analysis have been made to measure students' critical thinking skills. Assessment was conducted on student worksheets, i.e.the preliminary project, experiments, data processing, and reporting/journal writing. The questionnaires were used to assess the students' perceptions on Moment of Inertia module. It has been tested for validity and reliability. The entire statements have a validity coefficient greater than 0.3 r-critical, so all items statement can be used as a measuring tool in this research. While the value of reliability statement on that questionnaire is greater than 0.6. These results show that all statements on the questionnaire are reliable to measure the variables. The assessment results shows critical thinking skills of students with an average level of knowledge is 84%, comprehensive is 84%, application is 98%, and for the analysis is 68%. In this study, the Diploma 4 students have a good knowledge, good comprehension, have a high education applicapability and also good at analytical thinking.Keywords: critical thinking, moment of inertia, student worksheets
AbstrakPoliteknik Negeri Bandung adalah salah satu perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam sejumlah bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dengan mengutamakan kemampuan penerapannya. Kemampuan penerapan dapat dicapai salah satunya dengan kemampuan berpikir kritis. Untuk mengukur kemampuan berpikir kritis mahasiswa, telah dibuat instrumen penilaian melalui percobaan Momen Inersia dengan menggunakan indikator kemampuan melalui 4 tingkatan berpikir yaitu pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehensive), aplikasi (application), dan analisis (analysis). Penilaian dilakukan terhadap penilaian lembar kerja siswa (LKS) berupa tugas pendahuluan, pelaksanaan praktikum, pengolahan data, dan pembuatan laporan/jurnal praktikum. Untuk menilai persepsi mahasiswa terhadap percobaan Momen Inersia digunakan kuisioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Seluruh item pernyataan memiliki koefisien validitas yang lebih besar dari r-kritis 0,3, sehingga item-item tersebut layak digunakan sebagai alat ukur dalam penelitian dan nilai reliabilitas butir pernyataan pada kuesioner yang diteliti lebih besar dari 0,6. Hasil ini menunjukkan bahwa butir-butir pernyataan pada kuesioner andal untuk mengukur variabelnya. Hasil penilaian menunjukkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa dengan rata-rata tingkat pengetahuan 84%, pemahaman 84%, aplikasi 98%, dan analisa 68%. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa Diploma 4 memiliki pengetahuan dan pemahaman yang baik, dan memiliki kemampuan aplikasi yang tinggi serta daya analisis yang baik.Kata-kata kunci: berpikir kritis, momen inersia, LK
Penerapan Scientific Approach untuk Meningkatkan Literasi Saintifik dalam Domain Kompetensi Siswa SMP pada Topik Kalor
AbstractScientific Literacy (SL) is a person's ability to use knowledge and scientific process to understand scientific phenomena in solving a problem or making a decision. However it is known that the SL of Indonesian students are in low grade. There is an indication that the SL is less facilitated in science learning. Capabilities that it is seen difficult associated with evaluating and designing scientific investigations, as well as making the questions for investigation. Quasy-experimental research with one group pretest and posttest design applied in one of the schools in Bandung city through purposive sampling, which consist of 32 students which aim to get the result of the SL after being applied scientific approach to the topic of heat. The instrument uses 20 essays with a reliability of 0.83. N-gain analysis showed an increase in the domain of competence, that is a competence in explaining scientific phenomena, competence in evaluating and designing of scientific research, as well as the competence to interpret the data and scientific evidence.. Learning with applying scientific approach has been able to increase the competency in the medium category.Keywords: scientific approach, scientific literacy, heat
AbstrakLiterasi Saintifik (LS) merupakan suatu kemampuan seseorang dalam menggunakan pengetahuan dan proses sains untuk memahami fenomena ilmiah dalam memecahkan suatu masalah atau mengambil keputusan. Namun diketahui bahwa LS siswa Indonesia masih rendah. Terdapat indikasi bahwa LS ini kurang terfasilitasi di dalam pembelajaran sains. Kemampuan yang dipandang sulit terkait dengan mengevaluasi dan merancang penyelidikan ilmiah, serta membuat pertanyaan penyelidikan. Penelitian quasy-eksperimen dengan desain one group pretest and posttest diterapkan di salah satu sekolah di kota Bandung melalui purposive sampling dengan jumlah sampel 32 siswa yang bertujuan untuk mendapatkan hasil LS setelah diterapkan scientific approach pada topik kalor. Instrumen menggunakan 20 soal essay dengan reliabilitas 0,83. Analisis N-gain menunjukkan peningkatan pada domain kompetensi yaitu kompetensi menjelaskan fenomena ilmiah, kompetensi mengevaluasi dan merancang penelitian ilmiah, serta kompetensi menginterpretasikan data dan bukti ilmiah. Pembelajaran dengan scientific approach telah dapat meningkatkan domain kompetensi dalam kategori sedang.Kata-kata kunci: scientific approach, literasi saintifik, kalo