Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Not a member yet
529 research outputs found
Sort by
Digital Branding untuk Penguatan Pemasaran Produk Dodol Khas Desa Selat Karangasem sebagai Kearifan Lokal Bali
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas pemasaran produk Dodol Bhuana Sari sebagai makanan khas Desa Selat, Karangasem, melalui penerapan strategi digital branding. Permasalahan utama mitra adalah sistem pemasaran yang masih konvensional, belum adanya identitas merek yang kuat, serta keterbatasan pemanfaatan media digital. Kegiatan dilaksanakan dengan metode partisipatif yang melibatkan dosen, mahasiswa, dan pelaku usaha melalui tahapan sosialisasi, pelatihan pembuatan logo dan label kemasan, pelatihan pemasaran digital melalui media sosial, Google My Business, dan website, serta pendampingan dan evaluasi. Evaluasi dilakukan melalui observasi, wawancara, dan analisis catatan penjualan untuk memastikan validitas hasil. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan permintaan produk dari 100 kg menjadi 280 kg dalam dua bulan kegiatan serta peningkatan kemampuan mitra dalam pengelolaan promosi digital. Temuan awal menunjukkan adanya dampak positif terhadap kapasitas promosi dan permintaan produk, meskipun evaluasi lanjutan dibutuhkan untuk mengukur dampak jangka panjang.
Digital Branding to Strengthen the Marketing of Selat Village’s Traditional Dodol as Balinese Local Wisdom
Abstract
This community service activity aims to strengthen the marketing capacity of Dodol Bhuana Sari products as a typical food of Selat Village, Karangasem, through the implementation of digital branding strategies. The main problems faced by partners are the marketing system which is still conventional, the absence of a strong brand identity, and the limited use of digital media. The activity was carried out using a participatory method involving lecturers, students, and business actors through stages of socialization, logo and packaging label creation training, digital marketing training through social media, Google My Business, and websites, as well as mentoring and evaluation. Evaluation is conducted through observation, interviews, and analysis of sales records to ensure the validity of the results. The results of the activity showed an increase in product demand from 100 kg to 280 kg in two months of activity as well as an increase in partners' capabilities in managing digital promotions. Initial findings indicate a positive impact on promotional capacity and product demand, although further evaluation is needed to measure the long-term impact
Ketahanan Pangan : Simbiosis Peternakan dan Pertanian
Sebanyak 10.248,68 ton limbah peternakan per siklus panen ayam pedaging di Bojonegoro menjadi persoalan serius, karena sering tidak terkelola dan menimbulkan pencemaran. limbah ini berpotensi diolah menjadi pupuk organik melalui fermentasi. Melalui metode kesepakatan bersama, limbah diolah di peternakan oleh petani dan dimanfaatkan di lahan garapan LMDH Wono Lestari. secara teknis peternak menyediakan tempat pengolahan kompos, sedangkan petani menyediakan tenaga dan SDM, serta komitmen penerapan, pengabdian ini menghasilkan 30 ton kompos untuk lahan pertanian di wilayah hutan, kompos menjadi sekam bakar dengan penerapan aktivator M21, Molase, Tricoderma dengan tepat jumlah, waktu, metode, telah menghasilkan : Terkoneksinya antara petani dan peternak secara terpadu, penerapan strategi cleaner production, tersedianya sistem pengolahan limbah terpadu, pelatihan dan edukasi, supply chain pupuk organik, efisiensi rantai pasok, diversifikasi usaha pengomposan dan kerjasama antar petani, standarisasi kualitas, edukasi dan penerapan pertanian berkelanjutan, serta optimalisasi pemasaran, melalui pengmas ini diperkirakan menekan pembelian pupuk kurang lebih 2 - 3 juta perhektar, masyarakat terlibat aktif khususnya para petani yang memproduksinya, karena mendapatkan keuntungan saat mengakomodir kompos dalam jumlah besar, terlebih penjualan di marketplace atau online estimasi pendapatan yang diperoleh mencapai Rp 37.937.500, hal ini menjawab sumberdana untuk operasional berkelanjutan, kontribusi program ini terhadap SDGs, terutama terkait dengan ketahanan pangan serta mendorong pertanian berkelanjutan (Goal 2) dan konsumsi serta produksi yang bertanggung jawab (Goal 12), keberlanjutan program ini dapat di tingkatkan dengan integrasi dengan program pemerintah, penguatan kapasitas petani dan peternak, untuk replikasi program ini dapat di di lakukan pemetaan wilayah peternakan potensial, adaptasi teknologi inovasi, pengembangan produk turunan.
Food Security: The Interdependence Between Livestock and Agriculture
Abstract
A total of 10,248.68 tons of livestock waste per broiler chicken harvest cycle in Bojonegoro is a serious problem, as it is often unmanaged and causes pollution. This waste has the potential to be processed into organic fertilizer thru fermentation. Thru a method of mutual agreement, waste is processed on the farm by farmers and utilized on the cultivated land of LMDH Wono Lestari. Technically, the farmers provide the composting processing area, while the farmers provide the labor and human resources, as well as a commitment to implementation. This service resulted in 30 tons of compost for agricultural land in the forest area. Composting turns rice husks into burnt rice husks with the application of M21 activator, molasses, and Trichoderma in the correct amounts, at the right times, and using the appropriate methods, resulting in: integrated connection between farmers and livestock breeders, implementation of clean production strategies, availability of an integrated waste management system, training and education, an organic fertilizer supply chain, supply chain efficiency, diversification of composting businesses and cooperation among farmers, quality standardization, education and implementation of sustainable agriculture, and optimized marketing. Thru this community service, it is estimated that fertilizer purchases can be reduced by around 2 - 3 million per hectare. The community is actively involved, especially the farmers who produce it, as they benefit from accommodating large quantities of compost. Furthermore, online sales are estimated to generate revenue of Rp 37,937,500. This addresses the source of funds for sustainable operations. The contribution of this program to the SDGs, particularly in relation to food security and promoting sustainable agriculture (Goal 2) and responsible consumption and production (Goal 12). The sustainability of this program can be enhanced by integrating it with government programs and strengthening the capacity of farmers and livestock breeders. To replicate this program, potential livestock farming areas can be mapped, innovation technology can be adapted, and derivative products can be developed
Inisiasi Permainan The Road to Future Sebagai Sarana Pendidikan Karakter Dan Upaya Eskalasi Kesadaran Remaja Akan Risiko Pernikahan Dini (Child Marriage) di Desa Gemaharjo Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek
Penelitian Pusat Kajian dan Advokasi Perlindungan dan Kualitas Hidup Anak (PUSKAPA) dengan UNICEF, Badan Pusat Statistik (BPS), dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) tahun 2022 menyebutkan sekitar 1.220.900 anak di Indonesia mengalami pernikahan dini, Sekitar 15,24 persen kasus pernikahan dini terjadi di pedesaan dan 6,28 persen terjadi di perkotaan. Disparitas kasus pernikahan dini di pedesaan yang lebih besar dibanding perkotaan, disebabkan oleh multi faktor dan yang tidak kalah penting serta memiliki peranan utama adalah tingkat pendidikan. Pernikahan dini memicu konsekuensi yang cukup serius bagi pelaku, termasuk terhambatnya pendidikan, bahaya bagi kesehatan terutama kesehatan reproduksi, risiko kekerasan rumah tangga, serta menurunnya partisipasi sosial. Untuk mengatasi permasalahan terkait diperlukan intervensi komprehensif. Salah satuya adalah pendidikan karakter dengan media yang interaktif dan menyenangkan tanpa mengabaikan esensi dari pendidikan karakter yang ingin dicapai. Oleh karena itu, pengabdian ini mengimplementasikan pendidikan karakter pada remaja menggunakan media interaktif. Kegiatan dilakukan dengan tahapan perencanaan, persiapan, pelaksanaan dan evaluasi. Kegiatan pengabdian di laksanakan di Gemaharjo Kecamatan Watulimo dengan melibatkan anggota Forum Anak Desa (FAD) sebagai sasaran. Hasil pengamatan menunjukan bahwa peserta sangat antusias dalam mengikuti seluruh rangkaian pengabdian. Hasil uji-t yang dilakukan untuk membandingkan nilai pretest dan postest, didapatkan hasil p=0,04. Nilai p lebih kecil dari tingkat signifikansi tetapan (? = 0,05), maka dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dari hasil pretest dan postest. Hal ini berarti penggunaan media permainan The Road To Future memberikan pengaruh yang signifikan dalam meningkatkan pengetahuan pada remaja.
The Road To Future Game Initiation as a Means of Character Education and Efforts to Escalate Teenagers' Awareness of the Risks of Early Marriage (Child Marriage) in Gemaharjo Village, Watulimo District, Trenggalek Regency
Abstract
Research by the Center for Studies and Advocacy for the Protection and Quality of Life of Children (PUSKAPA) with UNICEF, the Central Statistics Agency (BPS), and the National Development Planning Agency (Bappenas) in 2022 stated that around 1,220,900 children in Indonesia experienced early marriage. About 15.24 percent of early marriage cases occurred in rural areas and 6.28 percent occurred in urban areas. The disparity in cases of early marriage in rural areas, which is greater than in urban areas, is caused by multiple factors and no less important and has a major role is the level of education. Early marriage triggers serious consequences for the perpetrators, including obstruction of education, health hazards, especially reproductive health, risk of domestic violence, and decreased social participation. To address these issues, comprehensive interventions are needed. One of them is character education with interactive and fun media without ignoring the essence of character education to be achieved. Therefore, this service implements character education in adolescents using interactive media. Activities are carried out with the stages of planning, preparation, implementation and evaluation. Service activities are carried out in Gemaharjo, Watulimo District by involving members of the Village Children's Forum (FAD) as targets. The results of observations showed that the participants were very enthusiastic in participating in the entire series of services. The results of the t-test conducted to compare pretest and posttest scores, obtained the result of p = 0.04. The p value is smaller than the set significance level (? = 0.05), so it can be concluded that there is a significant difference from the pretest and posttest results. This means that the use of The Road To Future game media has a significant effect in increasing knowledge in adolescents
Pemberdayaan UMKM Lontong sebagai Kampung Wisata Berbasis Pengetahuan di Surabaya
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di kampung Lontong di Kupang Krajan, Sawahan, Surabaya, memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai kampung wisata lontong berbasis pengetahuan di Wilayah Jawa Timur. Kemampuan dalam membuat lontong yang berkualitas menjadi keunggulan dan ciri khas yang tidak dimiliki oleh warga lainnya, karenanya perlu diberdayakan agar semakin produktif dan pengetahuan tersebut dapat dilestarikan agar tidak musnah. Tim pengabdian masyarakat melakukan pemberdayaan kepada warga Kampung UMKM untuk dapat mengkodifikasikan pengetahuan tacit membuat lontongnya menjadi explicit dalam media website. Tujuan utama kegiatan pengmas adalah mejadikan para UMKM di kampung ini menjadi salah satu kampung wisata lontong di Surabaya yang berbasis pengetahuan melalui kodifikasi berupa website, sehingga pengetahuan yang dimiliki warga tentang membuat lontong, dapat lestari. Pembaruan dalam pengabdian ini yakni berupa kemandirian yang dimiliki oleh Kampung Lontong dalam mengelola website sebagai tempat untuk membagikan informasi yang dimilikinya. Adapun tahapan program ini, antara lain yang pertama, pengambilan data yaitu dengan melakukan kegiatan wawancara, observasi. Tahapan kedua, kegiatan sosialisasi yaitu dengan melakukan sesi diskusi dengan komunitas kampung Lontong. Tahap ketiga, pembuatan website mulai dari membuat konsep hingga desain website. Tahap keempat, melakukan pelatihan pengelolaan website dan kodifikasi pengetahuan. Tahap kelima, peluncuran website kampung Lontong melalui seminar bersama. Kegiatan keenam, monitoring dan evaluasi dengan memantau keaktifan warga unggahan konten pada website. Kegiatan pengmas secara keseluruhan berjalan dengan lancar, adapun output keberhasilan dari program ini per tahun 2024 tercatat CTR pada website Kampung Lontong surabaya sebesar 12.8% serta berhasil menarik sebanyak 7 kunjungan wisata.
Empowering Lontong MSMEs as a Knowledge-Based Tourism Village in Surabaya
Abstract
Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) in Kampung Lontong, located in Kupang Krajan, Sawahan, Surabaya, have great potential to be developed into a knowledge-based lontong tourism village in East Java. The ability to produce high-quality lontong is a competitive advantage and a distinctive trait not possessed by other communities. Therefore, it needs to be empowered to increase productivity and to ensure that the knowledge is preserved and not lost. The community service team carried out an empowerment program for MSME residents in the village to codify their tacit knowledge of lontong-making into explicit knowledge through a website platform. The main goal of this community service activity is to transform the MSMEs in this village into one of Surabaya’s knowledge-based lontong tourism villages by codifying the knowledge through a website, so that the residents' knowledge of lontong-making can be sustained. The innovation of this program lies in Kampung Lontong's independence in managing its website as a platform to share its knowledge and information. The stages of this program include: first, data collection through interviews and observations; second, socialization activities through discussion sessions with the Kampung Lontong community; third, website development starting from concept creation to design; fourth, training on website management and knowledge codification; fifth, the launching of the Kampung Lontong website through a joint seminar; and sixth, monitoring and evaluation by observing the residents' activeness in uploading content on the website. The overall community service activity ran smoothly. As for the measurable outcome of this program, by 2024 the website of Kampung Lontong Surabaya recorded a Click-Through Rate (CTR) of 12.8% and successfully attracted seven tourist visits
Penguatan Pariwisata Berbasis Komunitas melalui Literasi Digital dan Kolaborasi Multipihak di Desa Sukolilo, Malang
Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sukolilo dalam mengelola dan mempromosikan Wisata Gentong Mas secara berkelanjutan. Program dilaksanakan di Desa Sukolilo, Kabupaten Malang, dengan menggunakan metode partisipatif seperti Participatory Rural Appraisal (PRA), Focus Group Discussion (FGD), serta pelatihan dan pendampingan intensif. Kegiatan pelatihan difokuskan pada manajemen destinasi wisata, literasi digital, dan pembuatan konten promosi. Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan Pokdarwis dalam merancang kegiatan wisata, menghasilkan konten visual yang menarik, dan memperkuat kolaborasi dengan para pemangku kepentingan. Peningkatan jumlah kunjungan wisatawan sebesar 25% dan interaksi media sosial yang lebih tinggi mencerminkan efektivitas strategi pemasaran digital yang diterapkan. Selain itu, program ini berdampak positif terhadap ekonomi lokal, dengan peningkatan pendapatan UMKM sebesar 20%–40% serta terciptanya peluang kerja baru. Temuan ini membuktikan bahwa pendekatan partisipatif yang mengintegrasikan teknologi digital dan kolaborasi multi-pihak dapat mewujudkan model pariwisata berbasis komunitas yang berkelanjutan.
Strengthening Community-Based Tourism through Digital Literacy and Multi-Stakeholder Collaboration in Sukolilo Village, Malang
Abstract
This community service program aimed to enhance the capacity of the Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sukolilo in managing and promoting Gentong Mas Tourism in a sustainable manner. Conducted in Sukolilo Village, Malang Regency, the program employed participatory methods such as Participatory Rural Appraisal (PRA), Focus Group Discussions (FGDs), and a series of capacity-building workshops. Training sessions focused on tourism destination management, digital literacy, and content creation. The results showed significant improvements in Pokdarwis’ ability to design tourism activities, produce engaging visual content, and strengthen stakeholder collaboration. A 25% increase in tourist visits and enhanced social media engagement reflected the effectiveness of the digital marketing strategies implemented. Additionally, the program contributed to the local economy, with a 20%–40% income increase among SMEs and the creation of new job opportunities. These findings demonstrate that participatory approaches integrating digital technology and multi-stakeholder collaboration can foster a sustainable community-based tourism model
Pelestarian Ekosistem Mangrove Melalui Pelibatan Masyarakat Pada Kelompok Pengawas Masyarakat di Dusun Cemare Lombok Barat
Indonesia memiliki hutan mangrove terluas di dunia. Akan tetapi, setiap tahunnya Indonesia diduga kehilangan 13.000 – 52.000 ha hutan mangrove, sehingga diperlukan kegiatan konservasi. Kegiatan konservasi mangrove berbasis masyarakat banyak dilakukan, namun sebagian besar berfokus pada kawasan formal atau program nasional. Kondisi tersebut menyebakan minimnya dokumentasi dan informasi mengenai pelestarian mangrove berbasis inisiatif lokal, terutama di pesisir Dusun Cemare, Oleh karena itu, kegiatan ini dipelukan untuk memperoleh dokumentasi dan informasi keterlibatan masyarakat dalam pelestarian mangrove secara lokal. Tujuan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah mendeskripsikan keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pelestarian mangrove di wilayah pesisir Dusun Cemare, Desa Lembar Lombok Barat. Kegiatan ini bersifat kualitatif, sehingga menggunakan metode PRA (Participatory Rural Appraisal) untuk mengakomodasi perbedaan perspektif peneliti dan masyarakat, serta validitas pengetahuan lokal. Jumlah responden yang terlibat adalah 90 responden. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah Focus Group Discussion (FGD), Participatory Mapping dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif. Hasil kegiatan pelestarian mangrove menunjukkan bahwa sebanyak 90 responden yang mewakili masyarakat di lokasi penelitian, 73,33% telah berpartisipasi dalam kegiatan konservasi mangrove. Latar belakang keterlibatan masyarakat sebagian besar dilakukan secara sukarela (63,33%). Keterlibatan masyarakat bersifat bottom-up, mulai dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, pemanfaatan, hingga monitoring dan evaluasi. Keterlibatan bottom-up ini telah berhasil melaksanakan kegiatan konservasi mangrove dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Model pelibatan ini penting untuk direplikasi, terutama di Kawasan pesisir yang terdegradasi, namun belum tersentuh oleh program formal/pemerintah. Jadi, untuk melaksanakan kegiatan konservasi di kawasan yang terdegradasi, masyarakat setempat perlu dilibatkan dalam kegiatan monitoring dan evaluasi kegiatan.
Preservation of Mangrove Ecosystems Through Community Involvement in Community Monitoring Groups in Cemare Village, West Lombok
Abstract
Indonesia has the largest mangrove forest in the world. However, each year, Indonesia is estimated to lose 13,000 to 52,000 hectares of mangrove forest, necessitating conservation activities. Community-based mangrove conservation activities are widely conducted, but most focus on formal areas or national programs. This condition has resulted in a lack of documentation and information regarding the preservation of mangroves based on local initiatives, especially in the coastal area of Dusun Cemare. Therefore, this activity is needed to obtain documentation and information on community involvement in local mangrove preservation. The aim of this community service activity is to describe community involvement in mangrove preservation activities in the coastal area of Dusun Cemare, Lembar, West Lombok. This activity is qualitative in nature, using the Participatory Rural Appraisal (PRA) method to accommodate the differing perspectives of researchers and the community, as well as the validity of local knowledge. The number of respondents involved is 90. The data collection techniques used are Focus Group Discussions (FGD), Participatory Mapping, and documentation. The data analysis technique used is descriptive analysis. The results of the mangrove preservation activities show that out of 90 respondents representing the community in the research location, 73.33% have participated in mangrove conservation activities. The background of community involvement is mostly voluntary (63.33%). Community involvement is bottom-up, starting from planning, implementation, utilization, to monitoring and evaluation. This bottom-up involvement has successfully carried out mangrove conservation activities and provided benefits to the community. This model of involvement is important to replicate, especially in degraded coastal areas that have not yet been touched by formal/government programs. Therefore, to carry out conservation activities in degraded areas, local communities need to be involved in monitoring and evaluating these activities
Pelatihan Sistem Informasi Manajemen Bengkel Di SMKN 1 Lingsar Lombok Barat Nusa Tenggara Barat
Penerapan sistem informasi manajemen bengkel yang efektif memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah menengah kejuruan, terutama dalam membentuk kompetensi siswa dan profesionalisme guru. Namun, di SMKN 1 Lingsar, Lombok Barat, praktik manajemen bengkel belum terdokumentasi secara sistematis melalui Standar Operasional Prosedur (SOP). Selain itu, pengelolaan material, bahan baku, perawatan mesin, pencatatan kerusakan, dan pengolahan limbah masih belum berjalan secara optimal. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memberikan pelatihan kepada siswa dan guru mengenai penerapan sistem informasi manajemen bengkel yang terstruktur. Metode pelaksanaan terdiri dari tiga tahapan, yaitu observasi langsung, penyuluhan, dan evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa materi pelatihan dapat dipahami dengan baik dan memberikan manfaat nyata bagi peserta. Peningkatan terlihat dalam aspek pengetahuan, keterampilan, serta motivasi guru dan siswa dalam mengelola bengkel secara lebih efektif dan efisien. Pelatihan ini juga mendorong kesadaran pentingnya dokumentasi SOP sebagai upaya peningkatan mutu pembelajaran vokasional.
Vocational Workshop Management Training at SMKN 1 Lingsar, West Lombok, West Nusa Tenggara Province
Abstract
The implementation of an effective workshop management information system plays a strategic role in improving the quality of learning in vocational high schools, particularly in shaping student competencies and teacher professionalism. However, at SMKN 1 Lingsar, West Lombok, workshop management practices have not yet been systematically documented through Standard Operating Procedures (SOPs). In addition, aspects such as material management, raw material usage, machine maintenance scheduling, damage reporting, and waste management have not been optimally executed. This community service activity aimed to provide training for students and teachers on the structured implementation of a workshop management information system. The method consisted of three main stages: direct observation, counseling sessions, and evaluation. The results indicate that the training materials were well understood and provided significant benefits for the participants. Improvements were observed in knowledge, skills, and motivation among both teachers and students in managing the workshop more effectively and efficiently. This training also raised awareness of the importance of SOP documentation as an effort to enhance the quality of vocational learning
Pelatihan Manajemen Pengelolaan Media Sosial Instagram sebagai Sarana Promosi untuk Membangun Branding pada Akun @beranda_14
Media sosial, khususnya Instagram, telah berkembang menjadi sarana strategis dalam membangun citra dan branding digital bagi komunitas kreatif. Namun, keterbatasan pemahaman dalam manajemen media sosial sering menjadi kendala dalam mengoptimalkan potensi promosi digital. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kapasitas pengelolaan akun Instagram @beranda_14 sebagai media promosi dan branding digital bagi komunitas kreatif muda “Beranda 14” yang bergerak di bidang literasi dan seni visual di Kabupaten Garut. Kegiatan ini melibatkan 30 peserta aktif yang terdiri atas pengelola dan anggota komunitas. Metode pelaksanaan meliputi pelatihan intensif, diskusi partisipatif, praktik langsung, dan evaluasi berbasis indikator keberhasilan pelatihan. Materi yang diberikan mencakup strategi perencanaan konten, visual branding, pemanfaatan fitur Instagram (reels, story, dan insight), serta teknik peningkatan engagement audiens. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman peserta terhadap konsep branding digital, yang ditunjukkan oleh kenaikan skor evaluasi pemahaman dari rata-rata 65% pada pre-test menjadi 90% pada post-test. Selain itu, kualitas pengelolaan akun mengalami peningkatan yang tercermin dari konsistensi unggahan konten sebanyak minimal tiga kali per minggu, peningkatan jumlah konten visual terkurasi sebesar 40%, serta peningkatan interaksi audiens berupa jumlah suka, komentar, dan jangkauan akun sebesar 35% dalam dua minggu pascapelatihan. Temuan ini menunjukkan bahwa pelatihan berkontribusi signifikan dalam memperkuat kapasitas manajerial media sosial mitra dan mendukung kemandirian komunitas dalam mengelola identitas digital secara profesional dan berkelanjutan.
Strengthening Digital Branding through Instagram Management Training for the “@beranda 14” Creative Community
Abstract
Social media, particularly Instagram, has become a strategic platform for building digital branding and public image for creative communities. However, limited understanding of social media management often constrains the optimization of digital promotion potential. This community service program aimed to enhance the capacity of managing the Instagram account @beranda_14 as a medium for digital promotion and branding for the youth creative community “Beranda 14,” which operates in the fields of literacy and visual arts in Garut Regency. The program involved 30 active participants consisting of account managers and community members. The implementation methods included intensive training, participatory discussions, hands-on practice, and evaluation based on predefined training success indicators. The training materials covered content planning strategies, visual branding, utilization of Instagram features (reels, stories, and insights), and audience engagement techniques. The results indicated a substantial improvement in participants’ understanding of digital branding concepts, as reflected by an increase in evaluation scores from an average of 65% in the pre-test to 90% in the post-test. Furthermore, improvements in account management quality were evidenced by consistent content posting of at least three uploads per week, a 40% increase in curated visual content, and a 35% rise in audience interaction, including likes, comments, and reach, within two weeks after the training. These findings demonstrate that the training significantly strengthened the partners’ social media management capacity and supported the community’s independence in managing its digital identity in a professional and sustainable manner
Program Kemitraan Masyarakat pada BUMDes Puspa Harum Sejahtera
Program Kemitraan Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan BUMDes Puspa Harum Sejahtera melalui intervensi terstruktur di bidang perpajakan, akuntansi, hukum usaha, dan pengelolaan pasar. Permasalahan utama yang dihadapi mitra meliputi rendahnya literasi perpajakan, belum tertatanya sistem pembukuan, lemahnya pemahaman kontraktual, serta kurangnya fasilitas pendukung untuk menciptakan lingkungan pasar yang tertib dan bersih. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif melalui pelatihan, pendampingan teknis, dan pemberian produk teknologi tepat guna. Hasil program menunjukkan adanya peningkatan kemampuan mitra dalam melakukan pencatatan keuangan sederhana, pelaporan pajak mandiri menggunakan sistem Coretax, penyusunan kontrak kerja sama yang sah, serta tata kelola pasar yang lebih profesional. Berdasarkan hasil pre-test dan post-test, tingkat pengetahuan mitra meningkat antara 15–25% pada berbagai indikator utama. Dampak sosial yang diidentifikasi mencakup peningkatan literasi digital, kolaborasi internal, dan kesadaran hukum; sedangkan dampak ekonomi terlihat pada efisiensi operasional, transparansi keuangan, dan peningkatan daya saing. Program ini selaras dengan SDG 8 (pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi) melalui penguatan tata kelola dan keberlanjutan usaha desa, sekaligus menunjukkan bahwa pemberdayaan berbasis teknologi dan partisipasi komunitas dapat menjadi pendekatan efektif dalam memperkuat tata kelola BUMDes secara berkelanjutan.
Community Partnership Program at BUMDes Puspa Harum Sejahtera
Abstract
This Community Partnership Program (PKM) aims to strengthen the institutional capacity of BUMDes Puspa Harum Sejahtera through structured interventions in taxation, accounting, business law, and market management. The main problems faced by the partner include low tax literacy, the absence of a proper bookkeeping system, limited understanding of contractual agreements, and inadequate supporting facilities to create an orderly and clean market environment. The implementation method employed a participatory approach through training, technical assistance, and the provision of appropriate technology products. The results of the program indicate an improvement in the partner’s ability to conduct basic financial recording, independently submit tax reports using the Coretax system, prepare legally valid cooperation contracts, and implement more professional market governance. Based on pre-test and post-test results, partner knowledge increased by 15–25% across various key indicators. Identified social impacts include improved digital literacy, stronger internal collaboration, and greater legal awareness; while economic impacts are reflected in enhanced operational efficiency, financial transparency, and increased competitiveness. This program aligns with SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) by strengthening governance and business sustainability at the village level, demonstrating that technology-based empowerment combined with community participation can be an effective approach to reinforcing BUMDes governance in a sustainable manner
doi:https://doi.org/10.36312/e-s Pembuatan Pestisida Nabati dari Daun Pepaya sebagai Alternatif Pengendalian Hama Ramah Lingkungan Di Desa Bluluk
Program pengabdian masyarakat di Desa Bluluk dilaksanakan untuk merespons tingginya ketergantungan petani terhadap pestisida kimia yang menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan, lingkungan, dan keberlanjutan produksi pertanian. Kegiatan ini berfokus pada pemanfaatan daun pepaya (Carica papaya L.) sebagai bahan dasar pembuatan pestisida nabati, dengan tujuan mengedukasi dan memberdayakan petani agar mampu mengembangkan alternatif pengendalian hama yang ramah lingkungan, ekonomis, dan berkelanjutan. Metode pelaksanaan meliputi penyuluhan mengenai bahaya pestisida kimia dan potensi pestisida nabati, pelatihan praktik intensif pembuatan pestisida berbahan daun pepaya yang dimodifikasi dengan sabun cair sebagai perekat, serta pendampingan lapangan untuk memastikan keberlanjutan penerapan. Evaluasi dilakukan menggunakan instrumen pre-test dan post-test yang divalidasi oleh ahli, melibatkan 35 peserta yang terdiri dari petani dan anggota Kelompok Wanita Tani. Hasil analisis menunjukkan peningkatan signifikan kapasitas peserta. Nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 45,67 (kategori Kurang) menjadi 88,00 (kategori Sangat Baik), dengan kenaikan 42,33 poin atau setara 92,69%. Indikator keterampilan produksi mencatat peningkatan tertinggi sebesar 112,5%. Uji lapangan juga menunjukkan efektivitas pestisida nabati daun pepaya dalam menurunkan intensitas serangan hama pada tanaman hortikultura tanpa meninggalkan residu berbahaya. Program ini berhasil meningkatkan kapasitas kognitif dan keterampilan teknis petani sekaligus mendukung pertanian organik serta pengurangan penggunaan pestisida kimia di tingkat desa. Kegiatan ini menerapkan pendekatan partisipatif dalam produksi pestisida organik berbasis potensi lokal, yang belum banyak diterapkan di wilayah pertanian desa dengan orientasi ekologi berkelanjutan.
Production of Botanical Pesticide from Papaya Leaves as an Environmentally Friendly Pest Control Alternative in Bluluk Village
Abstract
The community service program in Bluluk Village was carried out to address farmers’ high dependency on chemical pesticides, which pose serious risks to human health, the environment, and the sustainability of agricultural production. This initiative focused on utilizing papaya leaves (Carica papaya L.) as the main ingredient for botanical pesticides, aiming to educate and empower farmers to develop environmentally friendly, cost-effective, and sustainable pest control alternatives. The implementation involved three main stages: counseling on the hazards of chemical pesticides and the potential of botanical alternatives, intensive hands-on training in producing papaya leaf-based pesticides modified with liquid soap as an adhesive, and field mentoring to ensure continuity of practice. Evaluation was conducted using validated pre-test and post-test instruments, engaging 35 participants consisting of local farmers and members of the Women Farmers’ Group. The results revealed a substantial improvement in participants’ capacity. The average knowledge score increased from 45.67 (Poor category) to 88.00 (Very Good category), representing a 42.33-point rise or 92.69%. The production skills indicator recorded the highest improvement, reaching 112.5%. Field application further demonstrated that papaya leaf-based botanical pesticides effectively reduced pest infestations in horticultural crops without leaving harmful residues. The program successfully enhanced both cognitive capacity and technical skills among farmers while simultaneously supporting organic farming practices and reducing the reliance on chemical pesticides at the village level. This activity adopted a participatory approach in producing organic pesticides based on local resources, which has not been widely applied in rural agricultural areas with a sustainable ecological orientation.Pengabdian masyarakat di Desa Bluluk bertujuan mengedukasi dan memberdayakan petani dalam pembuatan pestisida nabati dari daun pepaya sebagai alternatif pengendalian hama yang ramah lingkungan. Permasalahan utama adalah tingginya penggunaan pestisida kimia yang berdampak negatif terhadap kesehatan dan lingkungan. Metode yang diterapkan meliputi penyuluhan, pelatihan pembuatan pestisida nabati, serta pendampingan praktik langsung di lapangan. Hasil pengabdian menunjukkan peningkatan signifikan pengetahuan dan keterampilan berpikir petani dalam membuat dan mengaplikasikan pestisida nabati, yang dibuktikan dengan peningkatan skor rata-rata post-test dibanding pre-test. Selain itu, pestisida nabati daun pepaya efektif menurunkan intensitas serangan hama secara signifikan tanpa residu kimia berbahaya. Kesimpulannya, pengabdian ini berhasil memperkenalkan teknologi pengendalian hama yang berkelanjutan dan ekonomis, dengan potensi besar untuk dikembangkan lebih luas demi mendukung pertanian organik dan pengelolaan sumber daya alam secara lestari