Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Not a member yet
    529 research outputs found

    Pelatihan Pijat Abdomen untuk Peningkatan Pengetahuan dan Mengurangi konstipasi pada Penderita Post-stroke

    No full text
    Stroke merupakan satu dari beberapa penyakit penyebab kematian di dunia utamanya Indonesia. Selain kematian, stroke juga menimbulkan kecacatan neurologis dan beberapa komplikasi. Salah satu komplikasi yang paling sering adalah konstipasi. Penanganan konstipasi bisa dengan pemberian laksatif, namun penggunaan yang lama mengakibatkan fecal impaction dan kanker colorectal sehingga diperlukan terapi non farmakologi salah satunya adalah pijat abdomen. Tujuan kegiatan ini adalah untuk melatih keluarga penderita stroke melakukan penanganan komplikasi stroke dan pijat abdomen. Metode yang dilakukan adalah pemberian materi tentang stroke dan konstipasi, pelatihan dan role play pijat abdomen serta pendampingan pada keluarga yang merawat pasien stroke di rumah. Hasil kegiatan ini adalah meningkatnya pengetahuan keluarga tentang stroke dan komplikasinya (p=0.023) dan terjadi penurunan kejadian konstipasi (p=0.021). Kegiatan ini bermanfaat bagi penderita stroke dan keluarga yang merawat stroke sehingga bisa diterapkan dalam kegiatan posyandu lansia. Abdominal Massage Training to Improve Knowledge and Decrease Constipation in Post-Stroke  Abstract Stroke is one of the leading causes of death worldwide, particularly in Indonesia. In addition to death, stroke also causes neurological impairment and several complications. One of the most common complications is constipation. While constipation can be treated with laxatives, prolonged use can lead to fecal impaction and colorectal cancer, necessitating non-pharmacological therapies, such as abdominal massage. The purpose of this activity was to train families of stroke patients in managing stroke complications and abdominal massage. The methods used included providing educational materials on stroke and constipation, training and role-playing abdominal massage, and offering mentoring for family with stroke patient in home. The results of this activity showed an increase in family knowledge about stroke and its complications (p = 0.023) and a decrease in the incidence of constipation (p = 0.021). This activity is beneficial for stroke patients and their families, and can be implemented in elderly community health (Posyandu) activities

    Peningkatan Kapasitas Guru Sekolah Luar Biasa tentang Diet Gluten Free Casein Free (GFCF) pada Anak dengan Autism Spectrum Disorder

    No full text
    Salah satu intervensi non-farmakologis pada anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) adalah diet Gluten Free Casein Free (GFCF), namun pengetahuan guru Sekolah Luar Biasa (SLB) tentang diet ini masih sangat terbatas. Program pengabdian ini bertujuan meningkatkan pemahaman guru mengenai konsep dan implementasi diet GFCF di sekolah. Metode yang digunakan adalah pelatihan berbasis model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation) yang melibatkan 29 guru SDLB melalui pendekatan partisipatif. Evaluasi dilakukan dengan pre-test dan post-test yang dianalisis menggunakan uji paired T-test. Hasil menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada skor pengetahuan guru setelah pelatihan (p=0,021), dengan rata-rata peningkatan 4,83 poin. Analisis kualitatif juga memperlihatkan partisipasi aktif, sikap positif terhadap penerapan diet GFCF, serta kepuasan tinggi terhadap proses pelatihan. Kegiatan ini merupakan pelatihan pertama di Indonesia yang menggunakan pendekatan model ADDIE untuk meningkatkan kapasitas guru SLB dalam menerapkan diet GFCF secara terstruktur. Temuan ini menunjukkan bahwa pelatihan terstruktur efektif meningkatkan kapasitas guru dalam mendukung tatalaksana holistik anak dengan ASD, sekaligus berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan terapan di bidang pendidikan khusus dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada aspek kesehatan dan pendidikan berkualitas. Enhancing Special School Teachers’ Capacity on Gluten Free Casein Free (GFCF) Diet for Children with Autism Spectrum Disorder Abstract One of the non-pharmacological interventions for children with Autism Spectrum Disorder (ASD) is the Gluten Free Casein Free (GFCF) diet; however, teachers in special schools (SLB) still have very limited knowledge about this dietary approach. This community service program aimed to improve teachers’ understanding of the concept and implementation of the GFCF diet in schools. The method used was training based on the ADDIE model (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation), involving 29 special elementary school teachers. Evaluation was carried out using pre- and post-tests analyzed with a paired t-test. The results showed a significant increase in teachers’ knowledge scores after the training (p=0.021), with an average improvement of 4.83 points. Qualitative analysis also revealed active participation, positive attitudes toward the application of the GFCF diet, and high satisfaction with the training process. These findings demonstrate that structured training is effective in enhancing teachers’ capacity to support the holistic management of children with ASD, while also contributing to the advancement of applied science in special education and the achievement of the Sustainable Development Goals (SDGs), particularly in the areas of health and quality education

    Edukasi dan Manajemen Pencegahan Zoonosis di SDN 5 Penujak

    No full text
    Sekolah Dasar Negeri (SDN) 5 Penujak merupakan sekolah yang memiliki kerentanan tinggi terhadap penularan penyakit zoonosis karena lokasinya berdekatan dengan pasar hewan, minim fasilitas sanitasi, serta rendahnya pemahaman guru dan siswa mengenai bahaya zoonosis. Untuk menjawab persoalan ini, dilaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dengan metode Participatory Learning and Action (PLA) melalui pendekatan mezzo. Kegiatan meliputi sosialisasi, pelatihan, simulasi kasus rabies menggunakan teknik role playing, evaluasi melalui pre-test dan post-test, serta pendampingan dalam penguatan Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Hasil kegiatan yang melibatkan 15 siswa dan 12 guru menunjukkan peningkatan signifikan pemahaman siswa. Pada pre-test, hanya 1 siswa (6,7%) yang berada pada kategori sangat baik dan 4 siswa (26,7%) pada kategori baik, sementara sebagian besar berada pada kategori cukup (46,7%) dan kurang (20%). Setelah pelatihan, hasil post-test menunjukkan 10 siswa (66,7%) berada pada kategori sangat baik dan 5 siswa (33,3%) pada kategori baik, tanpa ada lagi siswa yang berada pada kategori cukup atau kurang. Selain itu, UKS yang semula pasif berhasil diaktifkan kembali, dan praktik perilaku hidup bersih serta sehat (PHBS) mulai diterapkan warga sekolah. Antusiasme guru dan siswa menegaskan bahwa program ini efektif, meskipun masih terdapat tantangan berupa keterbatasan sarana kesehatan yang membutuhkan dukungan pemerintah daerah. Secara keseluruhan, kegiatan PkM ini berkontribusi dalam memperkuat literasi kesehatan, manajemen pencegahan zoonosis, serta pembangunan sumber daya manusia di bidang pendidikan dan kesehatan. Kegiatan ini memperkenalkan pendekatan edukatif berbasis simulasi zoonosis dan penguatan UKS yang belum banyak diterapkan secara sistematis di sekolah dasar rawan zoonosis, sehingga memberikan kontribusi model integratif dalam manajemen kesehatan sekolah. Education and Management of Zoonosis Prevention at SDN 5 Penujak Abstract Sekolah Dasar Negeri (SDN) 5 Penujak is highly vulnerable to zoonotic disease transmission due to its proximity to a livestock market, limited sanitation facilities, and the lack of awareness among teachers and students about zoonosis. To address this issue, a Community Service Program (PkM) was implemented using the Participatory Learning and Action (PLA) method with a mezzo approach. The activities included socialization, training, a rabies case simulation through role playing, evaluation using pre-test and post-test, and mentoring to strengthen the School Health Unit (UKS). The program involved 15 students and 12 teachers, and the results showed a significant improvement in students’ understanding. In the pre-test, only 1 student (6.7%) was in the very good category and 4 students (26.7%) in the good category, while most were in the fair (46.7%) and poor (20%) categories. After the training, the post-test results indicated that 10 students (66.7%) achieved the very good category and 5 students (33.3%) were in the good category, with no participants remaining in the fair or poor categories. In addition, the previously inactive UKS was revitalized, and the practice of clean and healthy living behavior (PHBS) began to be adopted by the school community. The enthusiasm of teachers and students confirmed the program’s effectiveness, although challenges remain regarding limited health facilities requiring support from local government. Overall, this PkM activity contributes to strengthening health literacy, zoonosis prevention management, and human resource development in education and health. It introduces an educational approach based on zoonosis simulation and the revitalization of the School Health Unit (UKS), which has not been widely implemented systematically in elementary schools vulnerable to zoonosis, thereby contributing an integrative model to school health management.Sekolah Dasar Negeri (SDN) 5 Penujak merupakan sekolah yang memiliki kerentanan tinggi terhadap penularan penyakit zoonosis karena lokasinya berdekatan dengan pasar hewan, minim fasilitas sanitasi, serta rendahnya pemahaman guru dan siswa mengenai bahaya zoonosis. Untuk menjawab persoalan ini, dilaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dengan metode Participatory Learning and Action (PLA) melalui pendekatan mezzo. Kegiatan meliputi sosialisasi, pelatihan, simulasi kasus rabies menggunakan teknik role playing, evaluasi melalui pre-test dan post-test, serta pendampingan dalam penguatan Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan pemahaman siswa, di mana setelah pelatihan seluruh peserta berada pada kategori baik dan sangat baik. Selain itu, UKS yang semula pasif berhasil diaktifkan kembali, dan perilaku hidup bersih serta sehat mulai diterapkan warga sekolah. Antusiasme guru dan siswa menegaskan bahwa program ini efektif, meskipun masih terdapat tantangan berupa keterbatasan sarana kesehatan yang membutuhkan dukungan pemerintah daerah. Secara keseluruhan, kegiatan PkM ini berkontribusi dalam memperkuat literasi kesehatan, manajemen pencegahan zoonosis, serta pembangunan sumber daya manusia di bidang pendidikan dan kesehatan

    Penguatan Usaha Teh Bunga Melati Melalui Inovasi Teknologi Dan Sertifikasi Produk Di Desa Labuan Tabu Kabupaten Banjar

    No full text
    Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing usaha teh bunga melati di Desa Labuan Tabu melalui penerapan inovasi teknologi pengeringan, pengemasan, serta fasilitasi legalitas usaha dan digitalisasi pemasaran. Kebaruan program ini terletak pada integrasi tiga aspek utama yaitu teknologi produksi sederhana, fasilitasi legalitas usaha, dan penguatan pemasaran digital; dalam satu model pemberdayaan berbasis transfer teknologi yang melibatkan mahasiswa MBKM, yang belum banyak diterapkan pada usaha teh bunga melati lokal. Metode pelaksanaan meliputi sosialisasi, pelatihan, pendampingan, dan evaluasi menggunakan observasi serta kuesioner kepada peserta. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan keterampilan mitra sebesar 100% dalam penerapan teknologi pengeringan oven (8 jam pada 60°C) dengan kadar air stabil 8–10%, peningkatan kemampuan desain kemasan dan pembukuan digital sebesar 75%, serta keberhasilan fasilitasi legalitas usaha (NIB dan sertifikasi halal) sebesar 100%. Program ini mendukung pencapaian MBKM dan IKU perguruan tinggi melalui keterlibatan mahasiswa dalam proses pemberdayaan masyarakat. Dengan adanya kegiatan ini, usaha teh bunga melati diharapkan memiliki standar kualitas yang lebih baik, akses pasar yang lebih luas, serta daya saing yang meningkat. Strengthening the Jasmine Tea Business Through Technological Innovation and Product Certification in Labuan Tabu Village, Banjar Regency  Abstrak This community service program aims to improve the competitiveness of jasmine tea businesses in Labuan Tabu Village through the application of innovative drying and packaging technologies, as well as facilitating business legality and digital marketing. The program's novelty lies in the integration of three main aspects—simple production technology, facilitating business legality, and strengthening digital marketing—in a technology transfer-based empowerment model involving MBKM students, which has not been widely implemented in local jasmine tea businesses. Implementation methods include outreach, training, mentoring, and evaluation using observations and questionnaires for participants. The results of the activity showed a 100% increase in partner skills in implementing oven drying technology (8 hours at 60°C) with a stable moisture content of 8–10%, a 75% increase in packaging design and digital bookkeeping capabilities, and a 100% successful facilitation of business legality (NIB and halal certification). This program supports the achievement of MBKM and university IKU through student involvement in the community empowerment process. With this activity, jasmine tea businesses are expected to have better quality standards, broader market access, and increased competitiveness

    Pemberdayaan Masyarakat melalui Pengembangan Kelompok Ternak Lebah Madu untuk Penguatan Ekonomi Lokal Berbasis Produk Alam : Madu

    No full text
    Pemberdayaan ekonomi lokal berbasis potensi sumber daya alam merupakan strategi penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat perdesaan secara berkelanjutan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kapasitas teknis dan manajerial kelompok ternak lebah madu KUBE Banyu Aji di Desa Welahan Wetan, Kabupaten Cilacap, melalui pengembangan madu sebagai produk unggulan desa. Program dilaksanakan selama enam bulan menggunakan pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA), meliputi identifikasi kebutuhan dan potensi lokal, pelatihan teknis budidaya lebah madu, pendampingan produksi, penguatan manajemen usaha, serta evaluasi partisipatif. Data dikumpulkan melalui pre-test dan post-test, observasi lapangan, diskusi kelompok terarah, dan survei pendapatan rumah tangga. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan keterampilan teknis peternak, dengan skor rata-rata pre-test sebesar 35–45 meningkat menjadi 75–82 pada post-test. Peningkatan terbesar terjadi pada aspek teknik panen madu higienis dan manajemen koloni lebah. Observasi lapangan mengonfirmasi perbaikan praktik pemeliharaan sarang, penggunaan alat panen berbahan stainless steel, serta pengemasan madu sesuai standar mutu. Selain itu, kelompok berhasil mengembangkan produk turunan seperti madu herbal dan salep propolis serta memperluas jaringan pemasaran melalui koperasi desa dan pelaku usaha lokal. Dampak ekonomi menunjukkan peningkatan pendapatan rumah tangga peternak sebesar 30–45%. Program ini memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat dan berpotensi direplikasi di desa lain dengan karakteristik serupa. Community Empowerment through the Development of Honey Bee Farming Groups to Strengthen the Local Economy Based on Natural Products: Honey Abstract Community empowerment based on local natural resource potential is a key strategy for strengthening sustainable rural economies. This community service program aimed to enhance the technical and managerial capacities of the honey bee farming group KUBE Banyu Aji in Welahan Wetan Village, Cilacap Regency, by developing honey as a flagship local product. The program was implemented over six months using a Participatory Rural Appraisal (PRA) approach, including needs and potential assessment, technical training in honey bee cultivation, production mentoring, business management strengthening, and participatory evaluation. Data were collected through pre-test and post-test assessments, field observations, focus group discussions, and household income surveys. Quantitative results indicated a significant improvement in participants’ technical skills, with average pre-test scores ranging from 35–45 and post-test scores increasing to 75–82. The most notable improvements were observed in hygienic honey harvesting techniques and colony management practices. Qualitative field observations confirmed better hive sanitation, use of stainless steel harvesting equipment, and standardized honey packaging. In addition, the group successfully developed value-added honey products, such as herbal honey and propolis ointment, and expanded market access through collaboration with village cooperatives and local businesses. Economic impact assessment showed an increase in household income of 30–45%. This program strengthened community economic independence and demonstrates strong potential for replication in other rural areas with similar ecological conditions

    Strategi Pencegahan Stunting melalui Edukasi Gizi dan Suplementasi Tablet Tambah Darah pada Remaja Desa Mandala Haji

    No full text
    Stunting masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di Indonesia yang berimplikasi pada kualitas generasi mendatang. Salah satu faktor penyebabnya adalah anemia pada remaja putri yang dapat berlanjut hingga masa kehamilan. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan gizi remaja serta kepatuhan konsumsi tablet tambah darah (TTD) sebagai upaya pencegahan stunting. Kegiatan dilaksanakan di Desa Mandala Haji pada 162 remaja melalui diskusi interaktif, games, diskusi kelompok, pembagian leaflet, dan pendampingan konsumsi TTD. Hasil pengukuran keberhasilan kegiatan diukur dengan kuesioner pre test dan post test yang kemudian dianalisis dengan uji t yang menunjukkan peningkatan pengetahuan gizi sebesar 45% dan kepatuhan konsumsi TTD sebesar 75%. Program ini efektif meningkatkan kesadaran gizi remaja dan mendukung upaya pencegahan stunting berbasis teman sebaya. Upaya ini memberikan gambaran bahwa kader remaja efektif dalam promosi kesehatan pada remaja. Stunting Prevention Strategy through Nutrition Education and Iron Supplementation for Adolescents Mandala Haji Village Abstract Stunting remains a public health problem in Indonesia, impacting the quality of future generations. One contributing factor is anemia in adolescent girls, which can persist into pregnancy. This community service program aims to improve adolescent nutritional knowledge and adherence to iron supplementation (IBT) consumption as a stunting prevention measure. The program was conducted in Mandala Haji Village with 162 adolescents through interactive discussions, games, group discussions, leaflet distribution, and iron supplementation support. The success of the program was measured using pre- and post-test questionnaires, which were then analyzed using a t-test, showing a 45% increase in nutritional knowledge and a 75% increase in iron supplementation compliance. This program effectively increases adolescent nutritional awareness and supports peer-based stunting prevention efforts. These efforts demonstrate the effectiveness of youth cadres in promoting health among adolescent

    Pendampingan Implementasi Pembelajaran EMKONTAN Untuk Penguatan Literasi Perubahan Iklim di SMP Muhammadiyah Kota Batu

    No full text
    Sustainable Development Goal bidang 13 (SDG 13) mengenai perubahan iklim menekankan pentingnya peningkatan literasi perubahan iklim secara komprehensif. Seluruh lapisan masyarakat, termasuk sekolah dan siswa, memiliki tanggung jawab terhadap perubahan iklim yang terjadi secara global. Untuk memperkuat tanggung jawab tersebut, diperlukan pembelajaran yang sistematis dan komprehensif melalui model EMKONTAN. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan di SMP Muhammadiyah 2 dan SMP Muhammadiyah 8 Kota Batu, dengan serangkaian tahapan meliputi sosialisasi, pelatihan, workshop, pendampingan, monitoring, dan evaluasi. Sosialisasi dilakukan melalui ceramah mengenai peningkatan kualitas pembelajaran dengan mengimplementasikan model EMKONTAN. Selanjutnya, workshop diselenggarakan untuk merancang implementasi model ini, diikuti dengan pendampingan dalam proses penerapan di kelas. Monitoring dan evaluasi dilakukan untuk menilai efektivitas implementasi, yang kemudian diakhiri dengan refleksi mengenai hasil pembelajaran EMKONTAN serta peningkatan literasi perubahan iklim pada siswa. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa guru partisipan telah menguasai model EMKONTAN dan mampu menerapkannya dalam pembelajaran secara efektif. Model EMKONTAN melalui implementasi sintaksnya secara konsisten mampu berkontribusi pada peningkatan literasi perubahan iklim, karena meningkatnya aktivitas belajar siswa. Selain itu, terdapat peningkatan literasi perubahan iklim pada siswa yang berpartisipasi dalam program ini, menunjukkan bahwa model pembelajaran EMKONTAN dapat menjadi strategi yang efektif dalam meningkatkan kesadaran dan pemahaman siswa mengenai perubahan iklim. Mentoring the Implementation of EMKONTAN Learning to Strengthen Climate Change Literacy at Muhammadiyah Middle School, Batu City Abstract Sustainable Development Goal 13 (SDG 13) on climate change emphasizes the importance of comprehensively improving climate change literacy. All levels of society, including schools and students, have a responsibility towards climate change that is occurring globally. To strengthen this responsibility, systematic and comprehensive learning is needed through the EMKONTAN model. This community service activity was carried out at SMP Muhammadiyah 2 and SMP Muhammadiyah 8 Batu City, with a series of stages including socialization, training, workshops, mentoring, monitoring, and evaluation. Socialization was carried out through lectures on improving the quality of learning by implementing the EMKONTAN model. Furthermore, a workshop was held to design the implementation of this model, followed by mentoring in the implementation process in the classroom. Monitoring and evaluation were carried out to assess the effectiveness of the implementation, which then ended with a reflection on the results of EMKONTAN learning and improving climate change literacy in students. The results of the community service showed that participating teachers had mastered the EMKONTAN model and were able to apply it in learning effectively. The EMKONTAN model through its consistent syntax implementation is able to contribute to increasing climate change literacy, due to increased student learning activities. In addition, there was an increase in climate change literacy among students participating in this program, indicating that the EMKONTAN learning model can be an effective strategy in increasing students' awareness and understanding of climate change

    Dari Lisan ke Literasi: Meningkatkan Kapasitas Belian Sasak dengan Pendekatan Riset dan Teknologi

    No full text
    Belian Sasak merupakan penjaga utama praktik pengobatan tradisional di Lombok yang diwariskan secara lisan dan berbasis kearifan lokal. Namun, modernisasi dan perubahan lingkungan mengancam keberlanjutan pengetahuan tersebut. Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas Belian Sasak melalui pelatihan berbasis riset mengenai pemanfaatan tanaman obat, terutama dalam penanganan penyakit seperti tuberkulosis. Sebanyak 20 peserta mengikuti kegiatan ini. Evaluasi dilakukan melalui pretest dan posttest untuk mengukur peningkatan pemahaman peserta. Hasil pretest menunjukkan rata-rata skor sebesar 56,3, sedangkan hasil posttest meningkat secara signifikan menjadi 84,7, dengan selisih peningkatan 28,4 poin atau peningkatan relatif sebesar 50,4%. Pelatihan meliputi identifikasi morfologi tanaman, pengenalan bagian tanaman yang mengandung senyawa aktif, serta teknik pengeringan berbasis ilmu pengetahuan modern. Ditemukan bahwa sebagian belian telah mengadopsi metode ilmiah, namun masih terdapat variasi signifikan dalam praktik pengeringan dan penggunaan media, yang menunjukkan adanya kesenjangan pengetahuan. Oleh karena itu, kolaborasi partisipatif antara sains modern dan kearifan lokal menjadi kunci untuk pelestarian budaya, penguatan literasi kesehatan, dan perlindungan pengetahuan komunal. Program ini menegaskan pentingnya dokumentasi dan integrasi pengetahuan tradisional agar pengobatan tradisional tetap relevan, adaptif, dan berbasis bukti ilmiah. From Oral to Literacy: Increasing Sasak Purchasing Capacity with Research and Technology Approaches Abstract Belian Sasak are the main guardians of traditional healing practices in Lombok that are passed down orally and based on local wisdom. However, modernization and environmental changes threaten the sustainability of this knowledge. This Community Service Program (PKM) aims to increase the capacity of Belian Sasak through research-based training on the use of medicinal plants, especially in treating diseases such as tuberculosis. A total of 20 participants took part in this activity. Evaluation was carried out through pretests and posttests to measure the increase in participants' understanding. The pretest results showed an average score of 56.3, while the posttest results increased significantly to 84.7, with a difference of 28.4 points or a relative increase of 50.4%. The training included identification of plant morphology, recognition of plant parts containing active compounds, and drying techniques based on modern science. It was found that some belian had adopted scientific methods, but there were still significant variations in drying practices and media use, indicating a knowledge gap. Therefore, participatory collaboration between modern science and local wisdom is key to preserving culture, strengthening health literacy, and protecting communal knowledge. This program emphasizes the importance of documenting and integrating traditional knowledge to keep traditional medicine relevant, adaptive, and evidence-based

    Peningkatan Physical health dalam Menunjang Performa Belajar

    No full text
    Permasalahan rendahnya konsentrasi belajar siswa kerap dikaitkan dengan kurangnya perhatian terhadap kesehatan fisik. Artikel ini membahas intervensi peningkatan physical health sebagai upaya menunjang performa belajar siswa di SMK Negeri 2 Gorontalo. Melalui metode Participatory Action Research (PAR), program pengabdian masyarakat dilaksanakan selama empat minggu dalam bentuk senam pagi yang menyenangkan dan rutin. Kegiatan ini melibatkan guru PJOK, 269 siswa, serta tim dosen dan mahasiswa, dengan frekuensi dua kali per minggu. Evaluasi dilakukan melalui angket konsentrasi belajar yang diisi saat pretest dan posttest. Hasil menunjukkan peningkatan skor rerata pada empat indikator utama: pemusatan perhatian (2,91 menjadi 3,52), sikap aktif (3,03 menjadi 3,46), minat belajar (3,03 menjadi 3,52), dan pemahaman materi (3,05 menjadi 3,49). Intervensi ini terbukti efektif dalam membentuk kebiasaan hidup sehat serta meningkatkan kesiapan mental dan kognitif siswa dalam proses pembelajaran. Artikel ini merekomendasikan integrasi aktivitas fisik ringan dalam rutinitas sekolah sebagai strategi peningkatan kualitas pendidikan menengah. Improving Physical health to Support Learning Performance Abstract Low student concentration is often linked to insufficient attention to physical health. This article discusses an intervention aimed at improving students' physical health to support learning performance at SMK Negeri 2 Gorontalo. Using the Participatory Action Research (PAR) method, a four-week community service program was conducted in the form of enjoyable and regular morning exercise sessions. The program involved Physical Education (PJOK) teachers, 269 students, and a team of lecturers and university students, with sessions held twice a week. Evaluation was carried out using a learning concentration questionnaire administered as pretest and posttest. The results showed improvements in four key indicators: attention focus (from 2.91 to 3.52), active behavior (from 3.03 to 3.46), learning interest (from 3.03 to 3.52), and material comprehension (from 3.05 to 3.49). This intervention proved effective in fostering healthy lifestyle habits while enhancing students' mental and cognitive readiness for learning. The article recommends integrating light physical activity into school routines as a strategy to improve the quality of secondary education

    Pendampingan UMK Kelompok Pengerajin Sokasi di Desa Sulahan, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli

    No full text
    Abstrak: Sokasi adalah salah satu kerajinan tangan masyarakat Bali yang terbuat dari bambu yang dianyam dengan teknik tertentu sehingga menghasilkan bentuk dan corak khas, lengkap dengan hiasan dan aksesori. Di Bali, sokasi sering digunakan sebagai prasarana untuk persembahyangan, khususnya sebagai wadah banten atau sesajen upacara. Salah satu sentra pengrajin bambu berada di Desa Sulahan, Kabupaten Bangli, dengan jumlah penduduk 2.853 orang (1.455 laki-laki dan 1.398 perempuan). Mayoritas mata pencaharian penduduk adalah pertanian, dengan kerajinan anyaman bambu, khususnya sokasi, sebagai usaha utama. Produk-produk yang dihasilkan memiliki keunikan baik dari segi desain, kualitas bahan baku, maupun teknik pembuatan yang masih mempertahankan cara-cara tradisional. Kelompok pengrajin sokasi Keben Asri adalah salah satu kelompok pengrajin bambu yang ada di desa Sulahan. Jumlah anggota kelompoknya adalah sebanyak 15 orang, yang Sebagian besar adalah ibu-ibu rumah tangga.Mereka biasanya mengerjakan kerajinan setelah selesai melakukan kegiatan rumah tangga dan sebagian besar mereka hanya tamatan SMP. Masalah utama yang dihadapi para pengrajin meliputi keterbatasan pemasaran, manajemen usaha yang masih sederhana, minimnya literasi digital, serta kesulitan mengakses permodalan untuk pengembangan usaha. Kegiatan pengabdian masyarakat ini memiliki tujuan spesifik untuk meningkatkan kapasitas pemasaran digital, memperkuat manajemen keuangan, dan memperluas akses pengrajin terhadap sumber-sumber pembiayaan formal. Untuk menjawab berbagai tantangan yang dihadapi oleh kelompok pengrajin di Desa Sulahan, kegiatan pengabdian masyarakat dirancang dengan metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif berbasis pendampingan intensif, melibatkan 15 orang pengrajin yang merupakan anggota kelompok pengrajin sokasi Keben Asri, dengan durasi kegiatan selama tiga bulan. Pendekatan ini meliputi pelatihan pemasaran digital, manajemen keuangan, serta pendampingan penyusunan proposal kredit ke lembaga keuangan. Hasil dari kegiatan PKM menunjukkan bahwa pelatihan dan pendampingan yang dilakukan oleh tim pengabdian efektif dalam meningkatkan keterampilan teknis manajemen usaha dan pemasaran digital anggota kelompok pengrajin sokasi. Hal ini bisa dilihat dari hasil skor pada masing-masing bidang mengalami peningkatan setelah dilakukan pendampingan, seperti pada bidang manajemen usaha, sebelum dilakukan pendampingan nilai skor nya diperoleh sebesar 1,06 dan setelah dilakukan pendampingan nilai skornya naik menjadi 3,13. Sedangkan pada bidang pemasaran digital, sebelum dilakukan pendampingan nilai skornya sebesar 1,1 dan setelah dilakukan pendampingan nilai skornya naik menjadi 3,06. Implikasi dari kegiatan ini menunjukkan bahwa pemberdayaan berbasis teknologi dan literasi keuangan dapat meningkatkan daya saing UMK berbasis kerajinan tradisional di Bali. Program ini berpotensi direplikasi di sentra-sentra kerajinan lain untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal. Empowerment Program for MSMEs: Sokasi Craftsmen Group in Sulahan Village, Susut District, Bangli Regency Abstract Sokasi is one of Bali’s traditional handicrafts made from woven bamboo using specific techniques to produce distinctive shapes and patterns, often adorned with decorations and accessories. In Bali, sokasi is commonly used as a ceremonial item, particularly as a container for banten or offerings in religious ceremonies. One of the centers of bamboo artisans is located in Sulahan Village, Bangli Regency, which has a population of 2,853 people (1,455 men and 1,398 women). The majority of the residents work in agriculture, with bamboo weaving, particularly sokasi production, serving as their primary business. The products stand out for their unique designs, quality raw materials, and traditional manufacturing techniques that are still preserved today. The Keben Asri sokasi artisan group is one of the bamboo crafting groups in Sulahan Village. This group consists of 15 members, most of whom are housewives who typically work on their crafts after completing their household chores, and most of them have only completed junior high school. The main challenges faced by these artisans include limited marketing reach, basic business management skills, low digital literacy, and difficulties in accessing financial capital for business development. This community service program specifically aims to enhance digital marketing capacity, strengthen financial management, and expand artisans’ access to formal financing sources. To address these challenges, the program was designed using a participatory approach with intensive mentoring, involving 15 artisans from the Keben Asri group over a three-month period. The approach included training in digital marketing, financial management, and assistance in preparing loan proposals for financial institutions. The results of the program show that the training and mentoring activities provided by the community service team were effective in improving the artisans’ technical skills in business management and digital marketing. This is evident from the increased scores in each area after the mentoring process. In business management, the score improved from 1.06 before the program to 3.13 afterward. Similarly, in digital marketing, the score increased from 1.1 to 3.06 after the intervention. These findings imply that technology-based empowerment combined with financial literacy can enhance the competitiveness of traditional craft-based MSMEs in Bali. This program holds potential for replication in other craft centers to stimulate the growth of creative economies rooted in local wisdom

    0

    full texts

    529

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇