Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Not a member yet
529 research outputs found
Sort by
Inovasi Media 3D Holo-learning DNA pada Pembelajaran Genetika untuk Meningkatkan Literasi Digital Siswa di Era Society 5.0
Penggunaan media pembelajaran yang mampu memfasilitasi siswa dalam memahami materi khususnya genetika dan pengembangan keterampilan literasi digital siswa di era 5.0 sangat penting untuk dilakukan. Kami telah mengembangkan inovasi media pembelajaran yang berbasis hologram yaitu 3D Holo-learning DNA, dan kami desiminasikan. Tujuan dari kegiatan diseminasi ini adalah untuk memperkenalkan media pembelajaran 3D Holo-learning DNA kepada guru yang terlibat dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Biologi Madrasah Aliyah (MA) Kabupaten Malang. Metode yang digunakan dalam kegiatan diseminasi ini terdiri dari empat tahapan. Pertama, tahap perencanaan dengan melakukan Focus Disscussion Group (FGD). Kedua, tahap persiapan hal-hal yang diperlukan saat tahap pelaksanaan. Ketiga, tahap pelaksanaan yang dengan penyampaian materi dan simulasi media pembelajaran yang dikembangkan kepada peserta kegiatan. Keempat, tahap evaluasi y dengan menganalisis respon peserta kegiatan terkait dengan produk media pembelajaran. Hasil kegiatan diseminasi yang diperoleh dari angket respon peserta kegiatan menunjukkan bahwa produk media pembelajaran memiliki kebermanfaatan yang baik, yaitu sebesar 4,66 dari 5,00 untuk diterapkan dalam pembelajaran. Inovasi media 3D Holo-learning DNA ini adalah membantu memvisualisasikan struktur DNA dan kromosom secara lebih realistik, apabila dibandingkan dengan visualisasi yang berasal dari buku cetak. Pengembangan media ini diharapkan memberikan manfaat bagi guru biologi dan diharapkan menginspirasi untuk pengembangan media pembelajaran untuk mengatasi kesulitan dalam mempelajari materi genetika dan mampu mengembangkan keterampilan literasi digital di era society 5.0.
3D Holo-learning DNA Media Innovation in Genetics Learning to Improve Students' Digital Literacy in the Era of Society 5.0
Abstract
The use of learning media that can facilitate students in understanding materials, especially genetics and the development of students' digital literacy skills in the 5.0 era is very important to do. We have developed a hologram-based learning media innovation, 3D Holo-learning DNA, and we disseminated it. The purpose of this dissemination activity is to introduce 3D Holo-learning DNA learning media to teachers involved in the Biology Subject Teacher Conference (MGMP) Madrasah Aliyah (MA) Malang Regency. The method used in this dissemination activity consists of four stages. First, the planning stage by conducting a Focus Discussion Group (FGD). Second, the preparation stage of the things needed during the implementation stage. Third, the implementation stage by delivering materials and simulating the learning media developed to the participants. Fourth, the evaluation stage by analyzing the responses of activity participants related to learning media products. The results of the dissemination activities obtained from the activity participants' response questionnaires show that learning media products have good usefulness, which is 4.66 out of 5.00 to be applied in learning. The innovation of this 3D Holo-learning DNA media is to help visualize the structure of DNA and chromosomes more realistically, when compared to visualizations derived from printed books. This media development is expected to provide benefits for biology teachers
PKM Peran Keluarga Dan Sekolah Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba Di Desa Penibung Mempawah Kalimantan Barat
Peningkatan penyalahgunaan obat di kalangan remaja dan masyarakat telah menjadi masalah serius. Keluarga dan institusi pendidikan belum menjalankan peran mereka secara maksimal dalam mencegah penyalahgunaan obat, hal ini disebabkan oleh terbatasnya sumber daya dan fasilitas pendukung, serta kurangnya keterlibatan masyarakat. Program Kemitraan Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk memperkuat peran keluarga dan sekolah dalam mencegah penyalahgunaan obat. Untuk mencapai tujuan ini, program PKM akan melaksanakan penyuluhan dan pendidikan mengenai cara mengenali gejala penyalahgunaan obat serta bagaimana melakukan intervensi awal bagi masyarakat dalam menghadapi masalah terkait obat. Hasil dari kegiatan PKM menunjukkan peningkatan pengetahuan dan kesadaran di kalangan keluarga dan sekolah mengenai risiko penyalahgunaan obat dan metode pencegahannya. Selain itu, kegiatan ini juga mendorong perubahan perilaku keluarga dan sekolah dalam upaya mencegah penyalahgunaan obat, yang terlihat dari peningkatan pengawasan dan komunikasi dengan anak-anak. Program PKM ini dapat dijadikan contoh dalam memperkuat peran keluarga dan sekolah dalam mencegah penyalahgunaan obat di masyarakat.
PKM the Role of Family and School in Preventing Drug Abuse in Penibung Village, Mempawah West Kalimantan
Abstract
The increase in drug abuse among adolescents and the community has become a serious problem. Families and educational institutions have not played their role optimally in preventing drug abuse, this is due to limited resources and supporting facilities, as well as a lack of community involvement. This Community Partnership Program (PKM) aims to strengthen the role of families and schools in preventing drug abuse. To achieve this goal, the PKM program will conduct counseling and education on how to recognize the symptoms of drug abuse and how to conduct early intervention for the community in dealing with drug-related problems. The results of the PKM activities show an increase in knowledge and awareness among families and schools regarding the risks of drug abuse and prevention methods. In addition, this activity also encourages changes in family and school behavior in an effort to prevent drug abuse, which can be seen from increased supervision and communication with children. This PKM program can be used as an example in strengthening the role of families and schools in preventing drug abuse in the community
Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan: Studi Kasus Inovasi Produk Berbasis Pisang di Desa Haya-Haya Kecamatan Limboto Barat Kabupaten Gorontalo
Desa Haya-Haya, Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo memiliki potensi besar dalam pengembangan produk olahan berbasis pisang, namun keterbatasan keterampilan dan pengetahuan masyarakat menjadi hambatan utama. Program ini bertujuan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat melalui inovasi produk pisang serta mendorong pemberdayaan perempuan dalam ekonomi lokal. Metode pelaksanaan mencakup sosialisasi, pelatihan teknis, pendampingan, penerapan teknologi sederhana, dan evaluasi berkelanjutan. Hasil program menunjukkan peningkatan rata-rata pendapatan mitra sebesar 30% dalam tiga bulan pasca-intervensi, peningkatan keterampilan teknis (rata-rata skor pelatihan naik dari 55,2 menjadi 86,5), dan pertumbuhan signifikan penjualan melalui kanal digital (peningkatan 40% dalam satu bulan). Selain itu, program berhasil mengubah pola peran sosial perempuan dan meningkatkan kapasitas kelompok untuk mengelola usaha secara mandiri. Pendekatan holistik ini berbeda dari program serupa karena mengintegrasikan pemanfaatan limbah, teknologi tepat guna, serta keterlibatan aktif kelompok rentan. Implikasi dari hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan partisipatif berbasis potensi lokal efektif dalam menciptakan transformasi ekonomi dan sosial yang berkelanjutan di wilayah pedesaan.
Rural Community Empowerment: A Case Study of Banana-Based Product Innovation in Haya-Haya Village, West Limboto District, Gorontalo Regency
Abstract
Haya-Haya Village in West Limboto District, Gorontalo Regency, holds significant potential for developing banana-based processed products, yet limited community skills and knowledge pose major obstacles. This program aimed to improve local income and welfare through banana product innovation while promoting women's economic empowerment. The method included community engagement, technical training, mentoring, appropriate technology application, and continuous evaluation. The results showed a 30% average income increase among partners within three months, an improvement in technical skills (training scores rose from 55.2 to 86.5), and a 40% growth in digital product sales within one month. Additionally, the program fostered shifts in women's social roles and enabled the groups to manage enterprises independently. The holistic approach integrating waste utilization, simple technology, and active inclusion of vulnerable groups distinguishes it from similar initiatives. These outcomes suggest that participatory, locally rooted approaches can foster sustainable economic and social transformation in rural communities
Optimalisasi Legalitas dan Peningkatan Citra Merek UMKM Swarna Rasa Cake & Bakery Melalui Pendampingan Intensif dalam Proses Perizinan dan Rebranding
UMKM Swarna Rasa Cake & Bakery yang berlokasi di Desa Sugihwaras, Bojonegoro, merupakan usaha kuliner tradisional yang telah beroperasi dalam waktu yang cukup lama. Namun demikian, UMKM ini menghadapi permasalahan mendasar berupa ketiadaan aspek legalitas formal dan lemahnya identitas visual yang berdampak pada terbatasnya akses pasar serta rendahnya daya saing di era digital. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas pendekatan dual transformation dalam meningkatkan legalitas usaha dan memperkuat branding UMKM tradisional. Metode pelaksanaan pengabdian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain action research yang melibatkan partisipasi aktif pelaku usaha. Metode pengabdian dirancang untuk menganalisis efektivitas pendekatan dual transformation dalam meningkatkan legalitas usaha dan memperkuat branding UMKM tradisional.. Tahapan penelitian meliputi: (1) sosialisasi dan pelatihan prosedur legalitas usaha (2) pendampingan administratif dalam pengajuan Nomor Induk Berusaha (NIB) (3) rebranding identitas visual melalui diskusi kolaboratif, desain partisipatif, dan validasi visual (4) evaluasi dampak berkelanjutan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi proses transformasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa UMKM berhasil memperoleh NIB sebagai legitimasi formal usaha dan mengembangkan identitas visual baru berupa logo serta tagline yang mengintegrasikan nilai tradisional dengan pendekatan kontemporer. Indikator evaluasi berbasis data menunjukkan peningkatan pemahaman literasi hukum pemilik UMKM, terlihat dari kemampuan mereka dalam menjelaskan prosedur perizinan dan kesiapan mengurus dokumen legal lainnya secara mandiri. Selain itu meningkatnya persepsi mitra terhadap pentingnya branding, yang teramati dari antusiasme dan feedback positif terhadap implementasi identitas visual baru. Proses pendampingan terbukti efektif dalam meningkatkan literasi hukum dan kesadaran pelaku usaha terhadap pentingnya legalitas serta strategi branding dalam pengembangan bisnis berkelanjutan. Penelitian ini menghasilkan model transformasi integratif yang dapat direplikasi untuk pengembangan UMKM tradisional serupa, khususnya yang dikelola generasi senior dengan keterbatasan akses teknologi dan informasi. Temuan menunjukkan bahwa implementasi dual transformation pada aspek legalitas dan branding secara simultan dapat menjadi strategi efektif untuk memperkuat daya saing dan keberlanjutan UMKM di tingkat lokal maupun regional
Optimizing Legality and Brand Image Enhancement of Swarna Rasa Cake & Bakery Through Intensive Assistance in The Licensing and Rebranding Process
Abstract
Swarna Rasa Cake & Bakery, located in Sugihwaras Village, Bojonegoro, is a traditional culinary microenterprise that has been operating for a significant period. However, it faces fundamental challenges, namely the absence of formal legal status and a weak visual identity, both of which limit its market access and competitiveness in the digital era. This study aims to analyze the effectiveness of a dual transformation approach in improving business legality and strengthening the branding of traditional MSMEs.The community engagement method employed a qualitative approach with an action research design that involved active participation from the business owner. The intervention was structured to evaluate how the dual transformation strategy could simultaneously address legal and branding issues. The stages included: (1) dissemination and training on business licensing procedures; (2) administrative assistance in obtaining the Business Identification Number (NIB); (3) visual identity rebranding through collaborative discussion, participatory design, and visual validation; and (4) ongoing impact evaluation. Data were collected through participant observation, in-depth interviews, and documentation of the transformation process.The results indicate that the MSME successfully obtained a NIB, thereby securing formal business legitimacy, and developed a new visual identity including a logo and tagline that effectively integrate traditional values with contemporary design principles. The assistance process proved effective in enhancing the owner's legal literacy and awareness of the strategic importance of legality and branding in sustainable business development. This study presents an integrative transformation model that can be replicated for the development of similar traditional MSMEs, particularly those managed by senior generations with limited access to technology and information. The findings highlight that implementing dual transformation in both legal and branding aspects concurrently can serve as an effective strategy to boost the competitiveness and sustainability of MSMEs at both local and regional levels
Penguatan Kompetensi Wasit Juri Pencak Silat Melalui Pelatihan Partisipatif Berbasis Praktik Kontekstual Di IPSI Kota Jayapura
Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas wasit juri pencak silat di bawah naungan IPSI Kota Jayapura, seiring dengan meningkatnya kembali penyelenggaraan pertandingan setelah vakum akibat pandemi. Permasalahan utama yang dihadapi mitra adalah keterbatasan jumlah wasit juri aktif serta belum meratanya pemahaman terhadap regulasi terbaru pencak silat. Kegiatan ini menggunakan metode pelatihan partisipatif melalui pendekatan experiential learning berbasis lokal yang menggabungkan ceramah interaktif, simulasi pertandingan, studi kasus, dan diskusi kelompok. Pelatihan dilaksanakan selama tiga hari dan diikuti oleh 25 peserta dari berbagai perguruan di Jayapura. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan rata-rata nilai peserta dari 81,12 (pre-test) menjadi 88,44 (post-test). Selain peningkatan kognitif, peserta juga menunjukkan kemampuan teknis dan etika yang baik selama simulasi pertandingan. Dampak langsung dari kegiatan ini adalah bertambahnya jumlah wasit juri aktif dari 15 menjadi 40 orang. Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan pelatihan berbasis praktik kontekstual efektif untuk peningkatan kapasitas perwasitan di daerah. Kegiatan ini juga memperkuat jejaring antarlembaga pencak silat dan mendorong kolaborasi dalam pembinaan sumber daya manusia olahraga. Oleh karena itu, model pelatihan ini dapat direkomendasikan sebagai solusi penguatan kelembagaan olahraga daerah yang mendukung pencapaian SDGs poin 4 dan 16.
Strengthening the Competence of Pencak Silat Referees Through a Contextual Practice-Based Participatory Training in IPSI Jayapura
Abstract
This community service program aims to improve the quality and quantity of pencak silat referees and judges under the auspices of the Indonesian Pencak Silat Association (IPSI) of Jayapura City, in line with the resurgence of competitions after a hiatus due to the pandemic. The main issues faced by the partner include the limited number of active referees and judges, as well as uneven understanding of the latest pencak silat regulations. The program employed a participatory training method through a locally based experiential learning approach, combining interactive lectures, match simulations, case studies, and group discussions. The training was conducted over three days and attended by 25 participants from various pencak silat schools in Jayapura. Evaluation results showed an increase in the participants’ average score from 81.12 (pre-test) to 88.44 (post-test). In addition to cognitive improvement, participants demonstrated good technical skills and ethics during match simulations. A direct impact of this program was the increase in the number of active referees and judges from 15 to 40. These findings indicate that a context-based practical training approach is effective for enhancing refereeing capacity at the regional level. Furthermore, the program strengthened networking among pencak silat institutions and fostered collaboration in sports human resource development. Therefore, this training model can be recommended as a solution for strengthening regional sports institutions, contributing to the achievement of SDG Goals 4 and 16
Pemanfaatan Jantung Pisang sebagai Produk Bananeat Sebagai Produk Inovatif untuk Usaha Katering Rumah Tangga
Peningkatan tren pola hidup vegan mendorong kebutuhan akan pangan alternatif yang sehat, bergizi, dan terjangkau. Jantung pisang merupakan salah satu sumber daya lokal yang mengandung serat, protein, vitamin, mineral, serta senyawa bioaktif, namun pemanfaatannya masih terbatas dan umumnya hanya digunakan sebagai sayuran tradisional. Rendahnya inovasi dalam pengolahan jantung pisang menyebabkan bahan pangan ini belum dikenal luas sebagai alternatif sumber protein nabati yang bernilai tinggi. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk mengenalkan inovasi pengolahan jantung pisang melalui pelatihan pembuatan bakso nabati bagi warga Kampung Sanan, Malang, Jawa Timur. Program dilaksanakan dengan pendekatan Asset Based Community Development (ABCD) melalui tahapan identifikasi aset lokal, pelatihan teknis, praktik langsung, serta evaluasi partisipatif. Hasil evaluasi menunjukkan respon positif, dengan 82,6% peserta menyatakan sangat puas terhadap pelatihan yang dinilai bermanfaat, jelas, dan menarik. Dengan demikian, kegiatan pelatihan ini membuka peluang usaha baru di bidang kuliner sehat seperti katering atau produk olahan nabati, sehingga berkontribusi terhadap penguatan ekonomi masyarakat.
Utilization of Banana Blossoms as Bananeat Products as Innovative Products for Home Catering Businesses Sanan Malang Residents
Abstract
The growing trend of vegan lifestyles has driven the demand for healthy, nutritious, and affordable alternative foods. Banana hearts are a local resource that contain fiber, protein, vitamins, minerals, and bioactive compounds, but their use is still limited and generally only used as a traditional vegetable. The lack of innovation in processing banana hearts has meant that this food ingredient is not widely known as a high-value alternative source of plant-based protein. This community service activity aims to introduce innovations in banana heart processing through training in making plant-based meatballs for residents of Kampung Sanan, Malang, East Java. The program was implemented using an Asset-Based Community Development (ABCD) approach through the stages of local asset identification, technical training, hands-on practice, and participatory evaluation. The evaluation results showed a positive response, with 82.6% of participants stating that they were delighted with the training, which they considered valuable, clear, and engaging. Thus, this training activity opens up new business opportunities in the field of healthy cuisine, such as catering or plant-based processed products, thereby contributing to the strengthening of the community's economy.Peningkatan tren pola hidup vegan mendorong kebutuhan pangan alternatif yang sehat, bergizi, dan terjangkau. Jantung pisang merupakan salah satu sumber daya lokal yang memiliki kandungan serat, protein, vitamin, mineral, serta senyawa bioaktif, namun pemanfaatannya masih terbatas, umumnya hanya digunakan sebagai sayuran tradisional. Kegiatan pengabdian ini bertujuan mengenalkan inovasi pengolahan jantung pisang melalui pelatihan pembuatan bakso bagi warga Kampung Sanan, Malang, Jawa Timur. Program dilaksanakan dengan pendekatan Asset Based Community Development (ABCD). Hasil evaluasi menunjukkan respon positif, dengan mayoritas peserta merasa puas, menilai pelatihan bermanfaat, penjelasan jelas, menarik, serta memunculkan minat usaha. Dengan demikian, kegiatan pelatihan telah memberikan manfaat bagi peserta pelatihan untuk mengetahui potensi jantung pisang yang memiliki nilai tambah, sehat, serta dapat dijadikan peluang usaha katering atau usaha lainnya
Pengembangan Bahan Ajar Digital dan Non-Digital Pelajaran Bahasa Inggris Untuk Guru MI Miftahul Ulum 02 Putat Lor Kabupaten Malang
Saat ini guru dituntut untuk selalu kreatif dan inovatif dalam mengembangkan bahan ajar bahasa Inggris karena banyak siswa sekolah dasar yang memiliki kemampuan bahasa Inggris yang masih rendah. Guru kelas diwajibkan menguasai semua mata pelajaran termasuk bahasa Inggris, tetapi sebagian besar dari mereka masih bergantung pada lembar kerja siswa (LKS) sebagai bahan ajar utama. Masalah yang dihadapi di sekolah wilayah urban adalah minimnya akses kegiatan-kegiatan penunjang yang terkait penggunaan teknologi dalam pembelajaran dan menciptakan bahan ajar yang kreatif dan inovatif. Oleh karena itu, guru perlu mendapatkan kegiatan pelatihan dan pendampingan dalam menciptakan bahan ajar baik digital maupun non-digital. Bahan ajar digital dirancang sebagai bentuk adaptasi terhadap kemajuan teknologi yang pesat, sedangkan bahan ajar non-digital dimaksudkan untuk mendukung praktik pembelajaran yang berlangsung saat ini. Peserta dalam pelatihan ini berjumlah 20 orang guru dan tenaga kependidikan MI Miftahul Ulum 02, kabupaten Malang, Indonesia. Metode yang digunakan meliputi pelatihan, pendampingan, implementasi dan evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa 52,9 % peserta yang awalnya belum pernah mengikuti pelatihan pengembangan bahan ajar baik digital dan non-digital, kini 75 % peserta merasa mendapat pengetahuan terkait pembuatan bahan ajar. Selain itu, 82,4% peserta fokus menggunakan LKS dalam pembelajaran, kini 100% peserta mempunyai satu bahan ajar digital, satu bahan ajar non-digital. Pellatihan ini menunjung pembeljaran yang kontekstual berbasis teknologi di sekolah dasar wilayah rural.
Development of English Lesson Digital and Non-Digital Teaching Materials for Teachers at MI Miftahul Ulum 02 Putat Lor, Malang Regency
Abstract
Currently, teachers are required to be creative and innovative in developing English language teaching materials because many elementary school students have low English skills. Classroom teachers are required to master all subjects, including English, but most of them still rely on student worksheets (LKS) as the main teaching material. A problem faced in urban schools is the limited access to supporting activities related to the use of technology in learning and creating creative and innovative teaching materials. Therefore, teachers need training and mentoring in creating both digital and non-digital teaching materials. Digital teaching materials are designed as a form of adaptation to rapid technological advances, while non-digital teaching materials are intended to support current learning practices. Participants in this training were 20 teachers and educational staff from MI Miftahul Ulum 02, Malang Regency, Indonesia. The methods used included training, mentoring, implementation, and evaluation. The results of the activity showed that 52.9% of participants who had not previously participated in training on developing digital and non-digital teaching materials, now 75% of participants felt they had gained knowledge related to creating teaching materials. In addition, 82.4% of participants focused on using LKS in learning, now 100% of participants have one digital teaching material, one non-digital teaching material. This training supports technology-based contextual learning in elementary schools in rural areas
Boosting Online Visibility and Brand Awareness for Tarahan Village MSMEs via Google Business Profile and Hands-On Digital Literacy Support
This program set out to help micro and small enterprises in Tarahan Village, South Lampung become easier to find, understand, and contact online by strengthening their Google Business Profile (GBP) presence and everyday branding habits. The core challenge was low discoverability on search/maps, inconsistent brand identity, and limited practical digital skills that kept market reach narrow despite growing internet use. Guided by brand salience and digital discoverability concepts (i.e., making the brand easier to notice, recognize, and retrieve in local search moments), we used a participatory, hands-on design: a rapid needs scan, co-designed training modules, live GBP demonstrations, guided implementation on each participant’s profile, and short-cycle follow-ups. This intervention combines GBP optimization with live mentoring and cultural storytelling, a rarely combined method in rural MSME digital capacity building, constituting the study’s novelty. Capacity gains were measured with pre/post tests, while profile progress and customer intent were tracked using GBP Insights (views, direction clicks, calls). After the training, participants claimed and completed their listings (core fields, photos, first posts) and activated reviews/messaging. Over May–October 2025, Insights recorded 88 views and 64 interaction events, mostly direction requests (61), with a September peak. Knowledge and confidence rose by ~17–22 points for every participant, indicating effective transfer of skills such as posting, photo curation, review replies, and reading Insights. We conclude that a lightweight, GBP-centered intervention—explicitly designed to heighten brand salience and reduce search friction—can deliver early, measurable gains in local discovery and establish routines to sustain them, with constraints (device/network variability and verification delays) manageable through periodic troubleshooting and shared visual assets
Pelatihan Tata Rias Inklusif sebagai Upaya Pemberdayaan Wirausaha Mandiri bagi Penyandang Disabilitas di Surabaya
Pelatihan tata rias inklusif merupakan salah satu pendekatan strategis dalam meningkatkan kapasitas dan kemandirian ekonomi penyandang disabilitas. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan bekerja sama dengan Fira Modelling Disabilitas (FMD) Surabaya, yang menghadapi kendala berupa keterbatasan fasilitas, ketiadaan kurikulum pelatihan, serta minimnya media dokumentasi karya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pelatihan tata rias inklusif, menganalisis peningkatan keterampilan peserta, serta menilai dampaknya terhadap kesiapan wirausaha mandiri. Metode yang digunakan adalah participatory learning melalui tahapan analisis kebutuhan, penyusunan materi, pelaksanaan pelatihan, integrasi teknologi pembelajaran, serta evaluasi berkelanjutan. Hasil pelaksanaan menunjukkan peningkatan signifikan pada kemampuan teknis peserta dalam menerapkan teknik rias dasar hingga lanjutan, pemahaman higienitas alat, serta kemampuan dokumentasi visua
Pelatihan tata rias inklusif merupakan salah satu pendekatan strategis dalam meningkatkan kapasitas dan kemandirian ekonomi penyandang disabilitas. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan bekerja sama dengan Fira Modelling Disabilitas (FMD) Surabaya, yang menghadapi kendala berupa keterbatasan fasilitas, ketiadaan kurikulum pelatihan, serta minimnya media dokumentasi karya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pelatihan tata rias inklusif, menganalisis peningkatan keterampilan peserta, serta menilai dampaknya terhadap kesiapan wirausaha mandiri. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-experimental tipe one-group pretest–posttest melibatkan 40 peserta dari berbagai ragam disabilitas. Instrumen yang digunakan mencakup tes keterampilan tata rias, skala kepercayaan diri, dan skala kesiapan wirausaha. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada kemampuan keterampilan tata rias setelah pelatihan, dari skor rata-rata 56,3 menjadi 82,7. Uji paired t-test menunjukkan perbedaan signifikan antara nilai pretest dan posttest (t = 12,84; p < 0,001). Kepercayaan diri peserta juga meningkat dari nilai rerata 62,1 menjadi 88,5 (t = 10,47; p < 0,001), sedangkan kesiapan berwirausaha meningkat dari 58,9 menjadi 85,2 (t = 11,03; p < 0,001). Temuan ini mengindikasikan bahwa pelatihan tata rias inklusif mampu meningkatkan kompetensi teknis sekaligus aspek psikososial penyandang disabilitas. Dengan demikian, program ini berpotensi menjadi model pemberdayaan ekonomi berbasis keterampilan yang efektif dan berkelanjutan di Surabaya.
Inclusive Makeup Training as an Effort to Empower Independent Entrepreneurship for Persons with Disabilities in Surabaya
Abstract
Inclusive makeup training represents a strategic approach to enhancing the capacity and economic independence of persons with disabilities. This community service program was carried out in collaboration with Fira Modelling Disabilitas (FMD) Surabaya, which faces several challenges, including limited facilities, the absence of a structured training curriculum, and minimal documentation of participants’ work. This study aims to describe the implementation of inclusive makeup training, analyze participants’ skill improvement, and assess its impact on their readiness for independent entrepreneurship. The method employed was participatory learning, consisting of needs analysis, material development, training implementation, integration of learning technology, and continuous evaluation. The results indicate a significant improvement in participants’ technical abilities, including the application of basic to advanced makeup techniques, understanding of tool hygiene, and visual documentation skills through digital portfolios. Additionally, participants demonstrated increased self-confidence, motivation, and readiness to promote makeup services through social media. The establishment of the “Inclusive MUA FMD” group signifies the sustainability of the program and opens opportunities for broader business networking. Overall, this training has proven effective in bridging the competency gap faced by the partner institution while strengthening empowerment and entrepreneurial readiness among persons with disabilities in Surabaya.l melalui portofolio digital. Selain itu, peserta menunjukkan peningkatan kepercayaan diri, motivasi berkarya, dan kesiapan mempromosikan jasa rias melalui media sosial. Pembentukan kelompok “MUA Inklusif FMD” menandai keberlanjutan program dan membuka peluang jejaring usaha. Secara keseluruhan, pelatihan ini terbukti efektif dalam menjembatani kesenjangan kompetensi yang dihadapi mitra, sekaligus memperkuat pemberdayaan dan kesiapan wirausaha mandiri bagi penyandang disabilitas di Surabaya
Ecobrick Sebagai Upaya Pengelolaan Sampah Plastik Di SDN Gerintuk Praya
Permasalahan sampah plastik di lingkungan sekolah menjadi isu yang memerlukan penangan serius, termasuk di SDN Gerintuk Praya. Berdasarkan hasil observasi, sekitar 70% sampah disekolah tersebut merupakan sampah plastik yang belum dikelola secara efektif, dan sering kali dibakar, sehingga menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan dan lingkungan sekitar. Sebagai solusi, tim pengabdian UNDIKMA menerapkan program Ecobrick sebagai solusi pengelolaan sampah plastik. Metode ini dilakukan melalui tiga tahap, yakni sosialisasi, pelaksanaan, pemanfaatan. Sosialisasi bertujuan untuk memberikan edukasi tentang pentingnya pengelolaan sampah plastik dan pembuatan ecobrick. Tahap pelaksanaan melibatkan mahasiswa dan siswa secara aktif dalam proses pengumpulan dan pengelolaan sampah plastik kedalam botol hingga padat. Hasil akhir dari program ini berupa produk yang bernilai guna berupa meubeler seperti meja dan kursi dari ecobrick yang dapat dimanfaatkan dilingkungan sekolah, yaitu sebagai pojok baca di lingkungan sekolah. Program ini tidak hanya berdampak pada pengurangan volume sampah plastik, tetapi juga meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab siswa terhadap kebersihan lingkungan. Program ini memiliki keberlanjutan karena mendorong penerapan kebiasaan pengelolaan sampah oleh warga sekolah secara konsisten, serta memberikan dampak sosial jangka panjang melalui terbentuknya budaya peduli lingkungan dan meningkatnya kerja sama antara sekolah dan masyarakat. Penerapan ecobrick terbukti efektif sebagai solusi ekologis sekaligus edukatif dalam membangun budaya peduli lingkungan di sekolah.
Ecobricks as an Effort for Plastic Waste Management at Gerintuk Public Elementary School, Praya
Abstract
The problem of plastic waste in the school environment has become an issue that requires serious handling, including at SDN Gerintuk Praya. Based on observations, about 70% of the waste in that school is plastic waste that has not been managed effectively and is often burned, causing negative impacts on health and the surrounding environment. As a solution, the UNDIKMA service team implements the Ecobrick program as a plastic waste management solution. This method is carried out in three stages: socialization, implementation, and utilization. The socialization stage aims to educate about the importance of plastic waste management and the creation of ecobricks. The implementation stage actively involves students and students in the process of collecting and managing plastic waste into bottles until solid. The final result of this program is a useful product in the form of furniture such as tables and chairs made from ecobrick that can be utilized in the school environment, specifically as a reading corner. This program not only impacts the reduction of plastic waste volume but also increases students' awareness and responsibility towards environmental cleanliness. This program demonstrates sustainability as it encourages the consistent practice of waste management among school members and generates long-term social impacts through the development of an environmentally conscious culture and increased collaboration between the school and the community. The application of ecobrick has proven effective as both an ecological and educational solution in fostering a culture of environmental care in schools