Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Not a member yet
    529 research outputs found

    Diseminasi Media Pembelajaran Materi Virus Berbasis Permainan Peran Virulent Attack bagi MGMP Biologi Kota Malang

    No full text
    Materi virus dianggap sebagai materi yang sulit untuk dipelajari di kelas 10 SMA. Kesulitan tersebut dapat diatasi dengan mengembangkan media pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan. Tujuan dari kegiatan diseminasi ini adalah untuk menyebarluaskan media pembelajaran permainan peran Virulent Attack pada materi virus, kepada peserta diseminasi melalui giat rutin Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Biologi Kota Malang. Metode yang digunakan dalam kegiatan diseminasi ini terdiri dari empat tahapan, yaitu: (1) perencanaan dengan melakukan Focus Disscussion Group (FGD) untuk mendiskusikan rincian kegiatan yang akan dilakukan, (2) persiapan dengan mempersiapkan hal-hal yang diperlukan saat tahap pelaksanaan (3) pelaksanaan dengan penyampaian materi terkait media pembelajaran yang dikembangkan, dan (4) evaluasi dengan menganalisis hasil diseminasi melalui angket respon peserta diseminasi terkait keterlaksanaan diseminasi dan produk media pembelajaran. Hasil kegiatan diseminasi menunjukkan peserta sepakat dengan persentase 100%, bahwa kegiatan diseminasi dan produk media pembelajaran memiliki kebermanfaatan yang baik. Dengan demikian, kegiatan diseminasi ini telah memberikan manfaat bagi guru biologi untuk dapat mengembangkan media pembelajaran serupa agar siswa dapat mengatasi kesulitannya dalam mempelajari materi virus. Dissemination of Learning Media on Virus Concept Based on Virulent Attack Role Play for MGMP Biology Malang City Abstract Virus concept is considered difficult to learn in grade 10th of high school. This difficulty can be overcome by developing interactive and fun learning media. The purpose of this dissemination activity is to disseminate the Virulent Attack learning media on virus concept, to dissemination participants through routine activitiy of the Malang City Biology Subject Teacher Meeting (MGMP). The method used in this dissemination activity consists of four stages: (1) planning through Focus Discussion Group (FGD) to discuss the details of the activities to be carried out, (2) preparation by preparing the things needed during the implementation stage, (3) implementation by delivering materials related to the learning media developed, and (4) evaluation by analyzing the results of dissemination through a questionnaire of dissemination participants' responses related to the dissemination activity and learning media product. The results of this dissemination activity shows participants agreed with a percentage of 100%, that dissemination activity and learning media product have good usefulness.. Thus, this dissemination activity has provided benefits for biology teachers to be able to develop similar learning media so that students can overcome difficulties in learning virus concept

    Program Kemitraan Masyarakat Pada Kelompok Pengrajin Bubut Kayu Mang Abes Kabupaten Klungkung

    No full text
    Program Kemitraan Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas Kelompok Pengrajin Bubut Kayu Mang Abes di Kabupaten Klungkung, Bali, dengan fokus pada peningkatan pengelolaan keuangan dan kesehatan kerja. Para pengrajin menghadapi berbagai tantangan seperti kurangnya pencatatan keuangan yang baik dan risiko kesehatan akibat paparan debu kayu serta penggunaan alat berat. Program ini meliputi pelatihan manajemen keuangan sederhana, sosialisasi kesehatan kerja, dan pengadaan alat produksi yang lebih modern. Hasil pelatihan menunjukkan peningkatan yang signifikan, di mana 85% pengrajin mampu memahami pentingnya pencatatan keuangan setelah program dibandingkan 35% sebelum pelatihan. Di sisi kesehatan, kesadaran akan pentingnya penggunaan alat pelindung diri (APD) meningkat dari 25% sebelum program menjadi 70% setelah pelatihan. Pengadaan alat baru juga meningkatkan kapasitas produksi sebesar 40%, dari 50% sebelum program menjadi 90% setelahnya, serta peningkatan kualitas produk dari 55% menjadi 85%. Meskipun demikian, diperlukan pendampingan lebih lanjut untuk memastikan keberlanjutan program dan penerapan teknologi secara konsisten. Rekomendasi yang diusulkan meliputi pembinaan jangka panjang, peningkatan akses pasar, serta monitoring intensif guna mendukung daya saing dan keberlanjutan usaha kelompok pengrajin. Community Partnership Program for the Mang Abes Wood Lathe Craftsman Group, Klungkung Regency Abstract:This Community Partnership Program (PKM) aims to enhance the capacity of the Mang Abes Woodturning Craftsmen Group in Klungkung Regency, Bali, focusing on financial management and occupational health. The craftsmen face challenges such as poor financial record-keeping and health risks due to wood dust exposure and the use of heavy equipment. This program included training on basic financial management, occupational health education, and the provision of modern production tools. The training results showed significant improvements, with 85% of the craftsmen understanding the importance of financial record-keeping after the program, compared to 35% before. In terms of health, awareness of the importance of personal protective equipment (PPE) usage increased from 25% before the program to 70% after. The introduction of new equipment also enhanced production capacity by 40%, from 50% to 90%, and product quality improved from 55% to 85%. However, further assistance is needed to ensure the program's sustainability and consistent technology adoption. Recommendations include long-term mentoring, market access enhancement, and intensive monitoring to support the group's competitiveness and business sustainability

    Edukasi Pariwisata Berkelanjutan dalam Meningkatkan Daya Saing Pelaku Usaha Wisata di Desa Masaingi

    No full text
    Pelaku usaha wisata di daerah pedesaan sering menghadapi tantangan dalam mengadopsi praktik pariwisata berkelanjutan, yang berdampak pada daya saing dan keberlanjutan destinasi. Penelitian ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan implementasi pariwisata berkelanjutan di kalangan pelaku usaha wisata di Desa Masaingi. Permasalahan utama meliputi rendahnya pemahaman konsep pariwisata berkelanjutan, terbatasnya adopsi praktik ramah lingkungan, dan kurangnya pelibatan masyarakat lokal dalam pengembangan wisata. Metode pemecahan masalah menggunakan pendekatan participatory action research (PAR) dan experiential learning, melibatkan 30 pelaku usaha wisata dalam program edukasi. Program ini mencakup workshop, mentoring, dan praktik lapangan. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman konsep pariwisata berkelanjutan sebesar 44,95%, melebihi target awal 30%. Tingkat adopsi praktik berkelanjutan mencapai 78%.Program ini berdampak positif terhadap peningkatan pendapatan pelaku usaha, dengan rata-rata kenaikan sebesar 35% dalam 6 bulan setelah implementasi. Jumlah kunjungan wisatawan meningkat 25% dan rata-rata lama tinggal wisatawan bertambah dari 1,2 hari menjadi 2,5 hari.Meskipun menghadapi tantangan infrastruktur digital dan dampak pandemi COVID-19, program ini berhasil meningkatkan kapasitas dan daya saing pelaku usaha wisata. Simpulannya, pendekatan PAR dan experiential learning efektif dalam memfasilitasi adopsi pariwisata berkelanjutan di destinasi wisata pedesaan, berkontribusi signifikan terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan terkait pariwisata. Sustainable Tourism Education in Enhancing the Competitiveness of Tourism Business Operators in Masaingi Village Abstract Tourism business operators in rural areas often face challenges in adopting sustainable tourism practices, which impacts destination competitiveness and sustainability. This research aims to enhance understanding and implementation of sustainable tourism among tourism business operators in Masaingi Village. The main issues include limited understanding of sustainable tourism concepts, minimal adoption of environmentally friendly practices, and insufficient local community involvement in tourism development. The problem-solving methodology employed participatory action research (PAR) and experiential learning approaches, engaging 30 tourism business operators in an educational program. The program encompassed workshops, mentoring, and field practices. Results demonstrated a significant 44.95% improvement in understanding sustainable tourism concepts, exceeding the initial target of 30%. The adoption rate of sustainable practices reached 78%. The program positively impacted business operators' revenue, with an average increase of 35% within 6 months post-implementation. Tourist arrivals increased by 25%, and the average length of stay extended from 1.2 days to 2.5 days. Despite challenges in digital infrastructure and COVID-19 pandemic impacts, the program successfully enhanced the capacity and competitiveness of tourism business operators. In conclusion, the PAR and experiential learning approach effectively facilitated sustainable tourism adoption in rural tourism destinations, contributing significantly to achieving tourism-related Sustainable Development Goals

    Pelatihan Pembukuan Sederhana Bagi Pelaku Usaha Wisata Pantai Pangi di Desa Masaingi Kabupaten Donggala

    No full text
    Desa Masaingi, Kecamatan Sindue Kabupaten Donggala memiliki potensi usaha wisata yang belum optimal karena pengelolaan yang kurang baik. Kondisi ini disebabkan oleh rendahnya pemahaman masyarakat terhadap manajemen keuangan. Dimana mayoritas pelaku usaha belum memiliki pembukuan yang memadai dan masih kurang memahami urgensi pembukuan keuangan, serta masih cenderung mengambil keputusan berdasarkan intuisi dan pengalaman. Oleh karena itu, pengabdian ini bertujuan untuk mengedukasi pelaku usaha mengenai pembukuan sederhana. Metode yang digunakan adalah Sosialisasi, diskusi, demonstrasi, serta monitoring dan evaluasi melalui tiga tahapan yaitu persiapan, pelaksanaan dan evaluasi. Hasilnya terjadi peningkatan kemampuan pelaku usaha dalam membuat pembukuan keuangan, yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan usaha Berdasarkan hasil evaluasi pelatihan, terjadi peningkatan yang signifikan dalam pemahaman dan kemampuan pelaku usaha dalam menyusun pembukuan keuangan. Hasil pre-test menunjukkan skor rata-rata 70, yang meningkat menjadi 109,51 pada post-test, dari total skor 130. Peningkatan sebesar 56,4% ini menunjukkan bahwa pelatihan telah berhasil meningkatkan pemahaman dan keterampilan pelaku usaha dalam mengelola keuangan secara lebih sistematis dan berbasis data, sehingga mendukung mereka dalam pengambilan keputusan yang lebih rasional dan terukur. Simple Bookkeeping Training for Pangi Beach Tourist Enterprises in Masaingi Village, Donggala Regency Abstract Masaingi Village in Sindue District, Donggala Regency, has tourism business potential that remains underdeveloped due to inadequate management. This situation stems from the community's limited understanding of financial management, where the majority of business owners lack adequate bookkeeping practices and do not yet recognize the importance of financial records. They often continue to make decisions based on intuition and experience. To address this, our program aims to educate business owners on basic bookkeeping. The methods employed include socialization, discussion, demonstration, along with monitoring and evaluation through three stages: preparation, implementation, and evaluation. The results show a significant improvement in the ability of business owners to maintain financial records, which can be used as a basis for business decision-making. Evaluation of the training outcomes revealed a notable increase in participants' understanding and skills in financial bookkeeping. The average pre-test score was 70, which rose to 109.51 on the post-test, out of a total score of 130. This 56.4% improvement indicates that the training successfully enhanced participants' understanding and skills in systematic and data-driven financial management, supporting them in making more rational and informed business decisions

    Sosialisasi Peraturan Pertandingan dan Perwasitan Cabang Olahraga Sepak Takraw

    No full text
    Tujuan dari pengabdian kepada masyarakat ini yaitu untuk meningkatkan pemahaman dalam sosialisasi peraturan pertandingan dan perwasitan cabang olahraga sepak takraw. Permasalahan yang mungkin dihadapi oleh mitra dalam sosialisasi yaitu mengalami keterbatasan dalam jumlah tenaga ahli yang dapat diikutsertakan dalam sosialisasi, seperti pelatih berpengalaman atau wasit berlisensi. Sumber daya fisik seperti fasilitas pelatihan atau peralatan yang memadai bisa menjadi kendala jika tidak tersedia dalam jumlah atau kualitas yang sesuai. Mitra sering kali menghadapi masalah pendanaan yang membatasi kemampuan mereka untuk menyelenggarakan sosialisasi secara efektif, termasuk biaya untuk narasumber, materi pelatihan, dan transportasi. Mengatasi permasalahan yang dihadapi dalam sosialisasi peraturan pertandingan dan perwasitan cabang olahraga sepak takraw, serta mencapai target yang diinginkan, solusi dan langkah-langkah berikut dapat diterapkan yaitu menyediakan pelatihan intensif dan sertifikasi untuk wasit dan pelatih guna meningkatkan kualitas dan jumlah tenaga ahli. Ini bisa melibatkan pelatih dari luar daerah atau ahli nasional yang berpengalaman. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa peserta memahami peraturan dengan baik setelah sosialisasi. Sebagian besar peserta dapat menerapkan pengetahuan tersebut dalam latihan dan pertandingan. Ada peningkatan dalam penerapan peraturan dan teknik perwasitan dalam pertandingan yang diadakan setelah sosialisasi, dengan pengamatan adanya keputusan yang lebih konsisten dan adil. Survei menunjukkan bahwa 90% peserta menyatakan puas dengan materi pelatihan, kualitas narasumber, dan fasilitas yang disediakan selama program. Dari jumlah tersebut, 60% menyatakan sangat puas, sementara 30% merasa cukup puas. Sebaliknya, 10% peserta merasa belum sepenuhnya memahami materi yang disampaikan dan membutuhkan penjelasan lebih lanjut. Socialization of Match Regulations and Refereeing Sepak Takraw Sports Branch  Abstract The purpose of this community service is to improve understanding in the socialization of the rules of the match and refereeing of the sepak takraw sport. Problems that partners may face in socialization are experiencing limitations in the number of experts who can be included in the socialization, such as experienced coaches or licensed referees. Physical resources such as adequate training facilities or equipment can be obstacles if they are not available in the appropriate quantity or quality. Partners often face funding issues that limit their ability to conduct socialization effectively, including costs for resource persons, training materials, and transportation. To overcome the problems faced in the socialization of the rules of the match and refereeing of the sepak takraw sport, and to achieve the desired targets, the following solutions and steps can be applied, namely providing intensive training and certification for referees and coaches to improve the quality and number of experts. This can involve coaches from outside the region or experienced national experts. The evaluation results showed that participants understood the rules well after the socialization. Most participants were able to apply this knowledge in training and matches. There was an increase in the application of the rules and refereeing techniques in matches held after the socialization, with observations of more consistent and fair decisions. Satisfaction surveys showed that around 90% of participants were satisfied with the training materials, speakers, and facilities provided. And 10% did not really understand the material explained. Many participants felt that the socialization met their needs and provided added value

    Pelatihan Kebun Gizi Organik Sebagai Upaya Pengenalan Mandiri Pangan Pada Mahasiswa Pendidikan Biologi UNDIKMA

    No full text
    Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan keterampilan mahasiswa bercocok tanam, sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan gizi organik secara mandiri. Mahasiswa, sebagai agen perubahan pemimpin masa depan, memiliki peran strategis dalam mewujudkan kemandirian pangan melalui kegiatan kebun gizi. Melalui kegiatan ini mahasiswa tidak hanya memperoleh keterampilan praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga mendapat manfaat jangka panjang berupa terbentuknya generasi yang peduli terhadap ketahanan pangan dan lingkungan. Pelatihan ini diikuti oleh 10 mahasiswa Pendidikan Biologi UNDIKMA semester 7. Kegiatan terdiri dari empat tahapan yakni: sosialisasi, persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Sosialisasi merupakan tahap awal perkenalan mengeani gambaran kegiatan. Tahap persiapan yaitu menyiapkan alat, bahan dan materi yang digunakan dalam pelatihan. Adapun Bahan-bahan yang digunakan berasal dari sumberdaya lingkungan sekitar. Pelaksanaan kegiatan kebun gizi organik menggunakan teknik permakultur, meliputi kegiatan pemberian nutrisi tanah, pembuatan bedengan, pembibitan dan pembuatan pupuk organik cair. Evaluasi di lakukan setelah praktek dilaksanakan dan selama kegiatan monitoring kebun gizi. Hasil evaluasi kegiatan menunjukkan bahwa kehadiran dan partisipasi aktif mahasiswa tergolong tinggi ditandai dengan jumlah kehadiran 100%, serta antusias yang tinggi ditandai dengan semua peserta aktif bekerja dalam praktek kebun gizi. Selain itu hasil post test menunjukkan rentang nilai yang didapatkan adalah 90-98, hal ini menunjukkan mahasiswa telah berhasil memahami materi serta praktek yang dilakukan. Hasil monitoring menunjukkan benih yang disemai berhasil tumbuh, berkembang dan dirawat  dengan baik. Dengan demikian kegiatan telah mampu meningkatkan keterampilan, pengetahuan, dan kesadaran mahasiswa akan pentingnya ketahanan pangan mandiri.  Organic Nutrition Garden Training as an Effort to Introduce Food Resilience to Biology Education Students of UNDIKMA  Abstract This training aims to increase students' awareness and skills in gardening, so that they can meet their organic nutritional needs independently. Students, as agents of change for future leaders, have a strategic role in realizing food resilience through nutritional garden activities. Through this activity, students not only gain practical skills that can be applied in everyday life, but also get long-term benefits in the form of a generation that cares about food security and the environment. This training was attended by 10 of the 7th semester Biology Education students of UNDIKMA. The activity consists of four stages, i.e. socialization, preparation, implementation, and evaluation. Socialization is the initial stage of introduction regarding the description of the activity. The preparation stage is to prepare the tools, materials and materials used in the training. The materials used come from the surrounding environmental resources. The implementation of organic nutritional garden activities uses permaculture techniques, including the activities of providing soil nutrients, making beds, nurseries and making liquid organic fertilizers. Evaluation is carried out after the practice is carried out and during the nutritional garden monitoring activities. The results of the activity evaluation showed that the presence and active participation of students were relatively high, marked by 100% attendance, and high enthusiasm marked by all participants actively working in the nutritional garden practice. In addition, the post-test results showed a range of scores obtained of 90-98, this indicates that students have succeeded in understanding the material and the practices carried out. The monitoring results showed that the seeds that were sown successfully grew, developed and were well cared for. Thus, the activity has been able to improve students' skills, knowledge, and awareness of the importance of food resilience security

    Pencegahan Stunting Melalui Pelatihan Pemantauan Pertumbuhan Anak Pada Kader Kesehatan di Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar

    No full text
    Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) hingga tahun 2023, prevalensi stunting pada balita di Indonesia masih di atas batas WHO (<20%), dan Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan kasus terbanyak. Salah satu intervensi kemenkes yang belum mencapai target adalah pemantauan pertumbuhan balita, yang baru mencapai 79,2% dari target 85%. Rendahnya kualitas pemantauan pertumbuhan balita menjadi salah satu penyebab. Hanya 33,8% kader yang mampu mencatat hasil penimbangan dengan benar, hanya 1,5% kader yang mampu menginterpretasikan hasil penimbangan dengan tepat, dan hanya 3% penimbangan balita oleh kader yang dianggap akurat. Untuk mengatasi masalah ini, dilaksanakan pelatihan pemantauan pertumbuhan anak bagi kader kesehatan. Tujuan pelatihan adalah (1) meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader kesehatan dalam memantau pertumbuhan secara akurat dan (2) mendukung program intervensi spesifik Kemenkes untuk menurunkan stunting. Kegiatan dilaksanakan dalam tiga tahapan: (1) koordinasi dengan mitra, (2) pelaksanaan pelatihan dengan penyampaian materi dan praktik, dan (3) evaluasi pretest-posttest. Peserta pelatihan adalah 40 kader kesehatan dari 11 desa/kelurahan di Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar. Analisis data hasil evaluasi menggunakan statistik deskriptif. Pelatihan ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader kesehatan dalam mengenal stunting dan mengukur pertumbuhan anak. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan rerata nilai dari 55,65 (kategori cukup) menjadi 77,15 (kategori baik). Peningkatan tersebut dapat berimplikasi pada (1) kemampuan kader dalam pelayanan posyandu sehingga mengurangi kesalahan dalam pencatatan data dan interpretasi hasil pemantauan pertumbuhan, (2) memperkuat peran kader dalam pengumpulan data yang lebih akurat untuk program-program kesehatan masyarakat, dan (3) mendukung ketercapaian intervensi spesifik Kemenkes dalam menurunkan stunting. Stunting Prevention Through Child Growth Monitoring Training for Health Cadres in Sutojayan District, Blitar Regency Abstract Based on the 2023 Indonesia Nutrition Status Survey (SSGI), the prevalence of stunting in children under five in Indonesia remains above the WHO threshold of 20%, with East Java having one of the highest rates. One of the Ministry of Health's interventions that has not met its target is child growth monitoring, which has reached only 79.2% of the 85% target Poor quality of growth monitoring is a key issue, as only 33.8% of health cadres record weight measurement results correctly, 1.5% can interpret them accurately, and only 3% of weight measurements taken by cadres are considered accurate. To address this, a training program on child growth monitoring was implemented for health cadres. The training aimed to (1) improve the knowledge and skills of health cadres in accurately monitoring growth, and (2) support the Ministry of Health's specific interventions to reduce stunting. The activity was carried out in three stages: (1) coordination with partners, (2) training delivery including theory and practice, and (3) pre-test and post-test evaluations. The training involved 40 health cadres from 11 villages in Sutojayan Sub-district, Blitar Regency. Data analysis was performed using descriptive statistics. The training successfully improved the cadres' knowledge and skills in identifying stunting and measuring growth. The evaluation results showed an average score increase from 55.65 (moderate category) to 77.15 (good category). This improvement has several implications: (1) better accuracy in posyandu services, reducing errors in data recording and interpretation, (2) stronger roles in collecting more accurate data for public health programs, and (3) supporting the achievement of the Ministry of Health's stunting reduction targets

    Skrining Makanan dan Pendaftaran Sertifikat Halal Gratis (SEHATI) sebagai Upaya Pembentukan Kantin Halal di MTs Negeri I Lombok Timur

    No full text
    Keamanan pangan merupakan upaya untuk menjaga mutu dan kualitas makanan dan minuman dari kemungkinan cemaran biologis, kimia dan benda lain yang menyebabkan timbulnya penyakit. Skrining dalam produk halal ialah pendataan bahan, proses produksi, pengecekan dapur tempat produksi, dan pengisian sistem jaminan produk halal oleh pelaku usaha. Program SEHATI merupakan program sertifikat halal gratis sebagai bentuk dukungan pemerintah dalam menyelenggarakan kewajiban sertifikat halal bagi pelaku usaha kecil dan menengah. Kantin halal merupakan perwujudan upaya menjaga kemanan pangan bagi anak dilingkungan sekolah yang merupakan kelompok rentan keracunanan makanan karena rasa penasaran dan ingin mencoba yang cukup tinggi tanpa mengetahui bahaya dari konsumsi makanan, sehingga diperlukan adanya penjaminan mutu dan kemanan pangan bagi siswa di sekolah melalui pengelola kantin di lingkungan sekolah. Pengabdian ini bertujuan untuk memberikan edukasi wajib dan standar halal bagi pelaku usaha yang menjual produk makanan dan minuman hasil olahan di kantin sekolah, melakukan pendampingan SEHATI dan outputnya berupa terbentukanya Kantin Halal di MTs Negeri I Lombok Timur. Metode pengabdian dimulai dari perencanaan, pelaksanaan berupa edukasi kewajiban dan standar halal, skrining makanan, verifikasi dan validasi dan pascakegiatan berupa pendaftaran, penerbitan sertifikat dan outputnya berupa pembentukan kantin halal. Hasil Pre-test dan Post-test menunjukkan peningkatan pengetahuan baik dari 35% menjadi 90% setelah dilakukan edukasi tentang kemanan pangan dan standar halal. Terdapat 18 dari 20 pelaku usaha dengan jenis produk berupa Kerupuk, kripik dan sejenisnya, Pengolahan buah dan sayur, Roti dan kue, Kue basah, Mie, macaroni, Gorengan, Minuman, Masakan olahan yang telah diverifikasi dan validasi dan dalam proses pendaftaran. Food Screening and Free Halal Certificate Registration (SEHATI) For Halal Canteen at MTs Negeri I East Lombok Abstract Food safety is an effort to maintain the quality and quality of food and drinks from possible biological, chemical and other contamination that causes disease. Screening for halal products is the collection of data on ingredients, production processes, checking the kitchen at the production site, and filling out the halal product guarantee system by business actors. The SEHATI program is a free halal certificate program as a form of government support in carrying out halal certificate obligations for small and medium businesses. Halal canteens are an embodiment of efforts to maintain food safety for children in the school environment who are a group vulnerable to food poisoning because their curiosity and desire to try is quite high without knowing the dangers of food consumption, so it is necessary to guarantee the quality and safety of food for students at school through the canteen management at school environment. This service aims to provide mandatory education and halal standards for business actors who sell processed food and beverage products in school canteens, provide SEHATI assistance and the output is the establishment of a Halal Canteen at MTs Negeri I East Lombok. The service method starts from planning, implementation in the form of education on halal obligations and standards, food screening, verification and validation and post-activity in the form of registration, issuance of certificates and the output is the establishment of a halal canteen. Pre-test and post-test results show an increase in good knowledge from 35% to 90% after education about food safety and halal standards. There are 18 out of 20 business actors with product types in the form of crackers, chips and the like, fruit and vegetable processing, bread and cakes, wet cakes, noodles, macaroni, fried foods, and drinks, processed food that have been verified and validated and are in the registration process

    Pemberdayaan Masyarakat Desa Tabongo Timur Melalui Pengolahan Produk Berbasis Kelapa dan Sacha Inchi untuk Mendukung Pencapaian SDGs

    No full text
    Program pemberdayaan masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan masyarakat desa Tabongo Timur dalam pengolahan produk berbasis kelapa dan Sacha Inchi. Permasalahan utama yang dihadapi masyarakat adalah rendahnya nilai tambah produk, keterbatasan teknologi, dan kurangnya akses pasar. Untuk meningkatkan nilai tambah produk dilakukan kegiatan dengan metode pelatihan berbasis praktik, transfer teknologi sederhana seperti fermentasi dan sentrifugasi untuk Virgin Coconut Oil (VCO) digunakan untuk memisahkan minyak murni dari kelapa, serta metode cold pressing untuk memastikan kualitas omega 3 minyak sacha Inchi. Program ini melibatkan 20 peserta dari berbagai kelompok masyarakat, termasuk kelompok tani, PKK, BUMDes, dan pemuda desa. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan, ketrampilan dan pendapatan. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman dan ketrampilan rata-rata skor post-test sebesar 35%, kualitas produk yang memenuhi standar pasar karena sudah ada hasil uji dan sertifikat PIRT, dan peningkatan pendapatan masyarakat hingga 30%. Temuan ini mendukung pencapaian tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), seperti pengentasan kemiskinan, pekerjaan layak, dan konsumsi serta produksi yang bertanggung jawab. Program ini menjadi best practice yang relevan untuk direplikasi di komunitas lain dengan potensi serupa. Empowering the Tabongo Timur Community Through Coconut and Sacha Inchi Processing to Support Sustainable Development Goals (SDGs) Abstract This community empowerment program aims to improve the skills and knowledge of the East Tabongo village community in processing coconut-based products and Sacha Inchi. The main problems faced by the community are low added value of products, limited technology, and lack of market access. To increase the added value of the product, activities were carried out with practice-based training methods, simple technology transfer such as fermentation and centrifugation for Virgin Coconut Oil (VCO) used to separate pure oil from coconut, as well as cold pressing methods to ensure the quality of omega 3 sacha Inchi oil. The program involved 20 participants from various community groups, including farmer groups, PKK, BUMDes, and village youth. The results showed an increase in knowledge, skills and income. The evaluation results showed an increase in understanding and skills of the average post-test score by 35%, product quality that meets market standards because there are already test results and PIRT certificates, and an increase in community income by 30%. These findings support the achievement of Sustainable Development Goals (SDGs), such as poverty alleviation, decent work, and responsible consumption and production. This program is a relevant best practice to be replicated in other communities with similar potential

    Evaluasi Metode Penyuluhan Gizi Dalam Pencegahan Anemia Pada Remaja Putri Di Wilayah Puskesmas Bandarharjo Kota Semarang

    No full text
    Anemia remaja putri di Indonesia dan khususnya wilayah Bandarharjo Kecamatan Semarang Utara Kota Semarang masih diatas 20 % yaitu sebanyak 29,59 %.  Dampak dari anemia pada remaja putri adalah menurunnya konsentrasi belajar, kurang produktif dan jangka panjangnya adalah kehamilan yang kurang sehat sehingga bisa melahirkan anak risiko stunting dan BBLR. Selama ini diwilayah Bandarharjo sudah dilakukan pendidikan gizi tetapi belum dilakukan evalusi tingkat pengetahuan dan sikap tentang anemia. Pendidikan gizi yang dilakukan di Wilayah Bandarharjo yaitu dengan metode Penyuluhan. Peserta penyuluhan sebanyak 49 orang.  Penyuluhan dengan metode ceramah tanya jawab dengan media PPT, dan pembagian leaflet. Nara sumber Penyuluhan adalah Dosen Program Studi S1 Gizi Universitas Muhammadiyah Semarang.  Pengukuran pengetahuan dan sikap dengan melakukan pre test sebelum penyuluhan dan post test sesudah penyuluhan. Hasil metode penyuluhan, rata-rata tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah mengalami kenaikan sebesar 23,13 %,  dari 58,22 % menjadi 81,35 % dan nilai p = 0,00.  Rata-rata sikap juga mengalami peningkatan dari 30,49 % menjadi 32,33 % dengan nilai p = 0,001,  Jadi metode penyuluhan dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap remaja putri tentang anemia secara signifikan. Evaluation Of Counseling Methods for Adolescent Women in Preventing Anemia At Bandarharjo Health Center Semarang City Anemia of young women in the Bandarharjo area, North Semarang District, Semarang City is still above 20% which is 29.59%. The impact of anemia is decreased concentration in studying, less productive and in the long term is an unhealthy pregnancy that can give birth to children at risk of stunting and low birth weight. So far, nutrition education has been carried out in the Bandarharjo area, but there has not been an evaluation of the level of knowledge and attitudes about anemia. The nutrition education carried out by Counseling method. The counseling participants were 49 people. Counseling with PPT media, and leaflets. Counseling facilitators were Lecturers of the Undergraduate Nutrition Study Program, Muhammadiyah University of Semarang. Measurement of knowledge and attitudes by conducting pre-test and post-test after counseling. The results of the counseling method, the average level of knowledge before and after increased by 23.13%, from 58.22% to 81.35% and p = 0.00. The average attitude also increased from 30.49% to 32.33% with a value of p = 0.001. So the counseling method can significantly increase the knowledge and attitudes of young women about anemia

    0

    full texts

    529

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇