Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Not a member yet
    529 research outputs found

    Optimalisasi Pembelajaran Sains Terapan Konteks Teknologi Ramah Lingkungan Berbasis Keterampilan Hidup Guru Sekolah Indonesia Malaysia

    No full text
    Penelitian ini mengeksplorasi optimalisasi pembelajaran sains terapan dengan fokus pada teknologi ramah lingkungan di sekolah Malaysia dengan penekanan pada pengembangan keterampilan hidup guru. Tujuan penelitian ini adalah melaksanakan pembelajaran sains terapan konteks teknologi ramah lingkungan berbasis keterampilan hidup bagi guru sekolah di Malaysia. Kegiatan berupa penguatan dan implementasi pembelajaran sains secara kontekstual sebagai upaya pengembangan keterampilan hidup guru dengan aspek yang diukur berupa social, personal, dan specific skill.  Metode yang digunakan dalam kegiatan pelatihan ini adalah metode ceramah, diskusi, tanya jawab, eksperimen dan demonstrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran sains terapan berbasis teknologi ramah lingkungan berhasil meningkatkan keterampilan social 85%, personal 90%, dan specific skill 80% dengan rata-rata peningkatan yang sangat baik setelah mengikuti implementasi pembelajaran sains secara kontekstual. Guru menjadi lebih percaya diri dalam menerapkan konsep teknologi ramah lingkungan serta lebih terampil dalam mengintegrasikan teori dan praktik di kelas.Tantangan yang dihadapi selama pelaksanaan program termasuk keterbatasan infrastruktur dan resistensi terhadap perubahan dalam metode pengajaran. Solusi yang diusulkan termasuk peningkatan infrastruktur teknologi dan pelatihan berkelanjutan yang lebih luas untuk guru, serta peningkatan sosialisasi program untuk mendukung keberhasilan dan keberlanjutan program. Optimization of Applied Science Learning in The Context of Environmentally Friendly Technology Based on The Life Skills of Indonesian School Teachers in Malaysia Abstract This research explores the optimization of applied science learning with a focus on environmentally friendly technology in Malaysian schools with an emphasis on developing teachers' life skills. The aim of this research is to implement applied science learning in the context of environmentally friendly technology based on life skills for school teachers in Malaysia. Activities include strengthening and implementing contextual science learning as an effort to develop teachers' life skills with aspects measured in the form of social, personal and specific skills.  The methods used in this training activity are lecture, discussion, question and answer, experiment and demonstration methods. The results of the research show that the implementation of applied science learning based on environmentally friendly technology succeeded in increasing social skills by 85%, personal skills by 90%, and specific skills by 80% with a very good average increase after following the implementation of contextual science learning. Teachers became more confident in applying environmentally friendly technology concepts and more skilled in integrating theory and practice in the classroom. Challenges faced during program implementation included limited infrastructure and resistance to changes in teaching methods. Proposed solutions include improved technology infrastructure and broader ongoing training for teachers, as well as increased program outreach to support program success and sustainability

    Pemberdayaan Usaha Pande Besi di Desa Sukawati Gianyar

    No full text
    Usaha pande besi merupakan usaha menempa logam khususnya besi untuk membuat berbagai perkakas untuk membantu kehidupan manusia. Desa Sukawati Kabupaten Gianyar – Bali sebagaimana halnya dengan desa di Indonesia juga terdapat usaha pande besi. Salah satu usaha pande besi yang ada di Desa Sukawati Gianyar adalah Usaha Pande Besi Bapak Pande Wayan Suanda atau Pak Balik yang memfokuskan produksi perkakas usaha kerajinan seperti gunting, luju, mata pahat, plong, bungut guak disamping juga memproduksi perkakas pada umumnya seperti pisau blakas, pisau kecil dan sabit sesuai pesanan yang diterima. Permasalahan yang dihadapi oleh usaha Bapak Pande Wayan Suanda yaitu keterbatasan alat-alat produksi, kurangnya pemahaman dan penerapan K3, pemasaran produk yang masih terbatas pesanan dan belum adanya pembukuan usaha yang baik. Oleh sebab itu, mengacu hal tersebut dirancang beberapa kegiatan untuk meningkatkan dan memberdayakan usaha mitra pada dengan menggunakan metode pelatihan dan pendampingan yaitu peningkatan alat-alat produksi, memberikan pelatihan K3, memberikan pelatihan pemasaran online dengan memanfaatkan media sosial dan memberikan pelatihan pembukuan keuangan usaha. Tujuan kegiatan ini adalah membantu peningkatan produk mitra sehingga sejalan dengan peningkatan pendapatan dari usaha mitra. Hasil evaluasi kegiatan menunjukkan bahwa adanya rak yang digunakan untuk menyimpan bahan baku, perkakas dan hasil produksi, 1 orang mitra sudah dapat menggunakan bantuan alat yang diberikan serta adanya peningkatan jumlah produksi sebanyak 50%, peningkatan pengetahuan mitra terhadap kesehatan dan keselamatan kerja pada saat proses produksi serta tersedianya alat-alat K3, adanya media sosial instagram dan marketplace, 1 orang mitra sudah dapat menggunakan pemasaran media sosial tersebut serta 1 orang mitra dapat melakukan pembukuan usaha. Empowerment of Iron Pande Business in Sukawati Village, Gianyar Abstract Blacksmithing is a business of forging metal, especially iron, to make various tools to help human life. Sukawati Village, Gianyar Regency – Bali has a blacksmithing business. One of the blacksmithing businesses in is the Blacksmith Business of Mr. Pande Wayan Suanda or Mr. Balik, which focuses on the production of craft business tools such as scissors, luju, chisels, plong, bungut guak in addition to producing general tools such as blakas knives, small knives and sickles according to orders received. The problems faced by Mr. Pande Wayan Suanda's business are limited production tools, lack of understanding and application of K3, product marketing that is still limited to orders and the absence of good business bookkeeping. Therefore, several activities have been designed to enhance and empower partner businesses by using training and mentoring methods, including the improvement of production tools, providing occupational health and safety (OHS) training, offering online marketing training using social media, and providing business financial bookkeeping training. The purpose of these activities is to help improve the partners' products, which in turn will align with increased income from their businesses. The results of the activity evaluation show that there are shelves used to store raw materials, tools and production results, 1 partner has been able to use the tools provided and there has been an increase in production by 50%, an increase in partner knowledge of occupational health and safety during the production process and the availability of K3 tools, the existence of Instagram social media and marketplaces, 1 partner has been able to use social media marketing and 1 partner can do business bookkeeping

    Edukasi Pencegahan Pernikahan Dini dan Anemia untuk Menurunkan Risiko Stunting di Desa Cikawao

    No full text
    Artikel ini melaporkan hasil dari sebuah program pengabdian masyarakat yang bertujuan untuk mengurangi risiko stunting melalui edukasi pencegahan pernikahan dini di Desa Cikawao tepatnya di SMPN 2 Pacet dengan menggunakan pendekatan partisipatif. Program ini memberikan informasi tentang dampak pernikahan dini terhadap kesehatan ibu dan anak serta menawarkan solusi untuk mengatasi masalah stunting dengan mengkonsumsi tablet Fe dan edukasi kesehatan reproduksi untuk pencegahan pernikahan dini. Penilaian dilakukan melalui survei awal dan akhir program untuk mengukur perubahan pengetahuan remaja. Dari hasil perbandingan pre-test dan post-test menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi sebesar 16.83%. Terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah penyuluhan pada siswa pada materi yang diberikan. Dengan demikian edukasi dinilai efektif dalam mengubah persepsi tentang pernikahan dini. Education on the Prevention of Early Marriage and Anemia to Reduce the Risk of Stunting in Cikawao Village Abstract This article reports the results of a community service program which aims to reduce the risk of stunting through education on preventing early marriage in Cikawao Village, specifically at SMPN 2 Pacet using a participatory approach. This program provides information about the impact of early marriage on maternal and child health and offers solutions to overcome the problem of stunting by consuming Fe tablets and reproductive health education to prevent early marriage. Assessments are carried out through surveys at the beginning and end of the program to measure changes in youth knowledge. From the results of the pre-test and post-test comparison, it shows that there is an increase in knowledge before and after education (16,83%). There is a significant difference between the level of knowledge before and after counseling students on the material provided. Thus, education is considered effective in changing perceptions about early marriage

    Pendampingan Penyusunan Naskah Akademik dan Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Badung Tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Usaha Mikro di Kabupaten Badung

    No full text
    Kegiatan pendampingan ini bertujuan untuk mendukung penyusunan Naskah Akademik dan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) yang terkait dengan perlindungan dan pemberdayaan usaha mikro di Kabupaten Badung. Metode yang digunakan mencakup pendekatan yuridis empiris yang mengombinasikan analisis hukum dengan data lapangan, yang diperoleh melalui wawancara langsung dengan 50 responden (30 pelaku usaha mikro dan 20 perwakilan instansi pemerintah). Analisis ROCCIPI (Rules, Opportunities, Capacities, Communication, Interests, Processes, Ideals) diterapkan untuk mengevaluasi berbagai faktor yang memengaruhi penerapan regulasi, sementara Regulatory Impact Assessment (RIA) digunakan untuk mengukur dampak kebijakan yang diusulkan. Hasil pendampingan menunjukkan bahwa 60% pelaku usaha mengalami peningkatan pemahaman tentang pentingnya legalitas usaha, dan 50% mulai mempertimbangkan adopsi teknologi digital untuk pemasaran. Ranperda yang disusun diproyeksikan memberikan dampak langsung berupa kemudahan akses permodalan dan perizinan bagi usaha mikro serta peningkatan daya saing di pasar lokal. Potensi jangka panjang dari Ranperda ini meliputi peningkatan kontribusi usaha mikro terhadap ekonomi lokal dan penguatan stabilitas usaha mikro di Kabupaten Badung, khususnya dalam sektor pariwisata. Assistance in the Preparation of Academic Papers and Draft Local Regulations of Badung Regency on The Protection and Empowerment of Micro Businesses in Badung Regency Abstract This mentoring activity aims to support the preparation of Academic Manuscripts and Draft Regional Regulations (Ranperda) related to the protection and empowerment of micro businesses in Badung Regency. The methods used include an empirical juridical approach that combines legal analysis with field data, obtained through direct interviews with 50 respondents (30 micro business actors and 20 representatives of government agencies). The ROCCIPI (Rules, Opportunities, Capacities, Communication, Interests, Processes, Ideals) analysis is applied to evaluate various factors affecting the implementation of regulations, while the Regulatory Impact Assessment (RIA) is used to measure the impact of the proposed policy. The results of the mentoring show that 60% of business actors have increased their understanding of the importance of business legality, and 50% are starting to consider the adoption of digital technology for marketing. The Ranperda that has been prepared is projected to have a direct impact in the form of ease

    Pelatihan Pembuatan Pakan Ikan Di Desa Bahaur Hulu Permai Kabupaten Pulang Pisau

    No full text
    Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan tema pelatihan pembuatan pakan ikan atau pelet, berbasis bahan dasar lokal di ekosistem gambut, bertujuan agar para pembudidaya mampu memiliki keterampilan dalam pengolahan pakan ikan secara mandiri, karena porsi terbesar dalam proses budidaya ikan adalah untuk pakan. Kondisi sosial ekonomi masyarakat disekitar ekosistem gambut masih bisa ditingkatkan, melalui budidaya ikan dalam kolam tanah, maupun kolam plastik/terpal, sehingga program revitalisasi ekonomi masyarakat bisa berjalan baik, dan berhasil meningkatkan perekonomian masyarakat. Ketersediaan pakan terbatas, dengan harga yang cukup tinggi, menjadi permasalahan bagi para pembudidaya ikan, baik yang dikelola dalam kolam tanah, maupun kolam plastik/terpal, khususnya di Desa Bahaur Hulu Permai Kecamatan Kahayan Kuala Kabupaten Pulang Pisau. Pelatihan pengolahan pakan ikan menjadi pilihan, karena berbahan dasar lokal yang tersedia disekitar wilayah desa Bahaur Hulu Permai, terutama tepung ikan yang bisa dibuat sendiri oleh para petani dan keluarganya, berasal dari hasil tangkapan nelayan, terutama ikan-ikan kecil, yang tidak dikonsumsi oleh masyarakat sekitar pesisir. Permasalahan utama kelompok masyarakat di Desa Bahaur Hulu Permai adalah tidak memiliki keterampilan membuat pakan secara mandiri, sehingga para pembudidaya perlu diberikan pelatihan, guna meningkatkan kemampuan, dan keterampilan dalam membuat pakan ikan sendiri, dengan pakan ikan bisa dikelola dan dibuat sendiri, maka diharapkan pembudidaya ikan tidak khawatir lagi dengan ketersediaan pakan bagi ikan yang diusahakan. Berdasarkan hasil evaluasi kegiatan bahwa program ini sangat diminati oleh peserta, terbukti 76% dari peserta mampu mengolah sendiri pakan ikan berdasarkan bahan baku lokal yang tersedia di wilayah Bahaur Hulu Permai. Pelatihan pembuatan pakan ikan berbahan baku lokal, merupakan program pengembangan perikanan budidaya, sebagai upaya untuk kehidupan, dan kesejahteraan masyarakat, serta upaya pelestarian ekosisten gambut yang berkelanjutan. Community Training on Fish Feed Making in Bahaur Hulu Permai  Village, Pulang Pisau Regency Abstract The community service activity themed "Training on Fish Feed or Pellet Production Based on Local Ingredients in Peatland Ecosystems" aims to equip fish farmers with skills to independently process fish feed, as feed accounts for the largest portion of fish farming costs. The socioeconomic conditions of communities around peatland ecosystems can be improved through fish farming in earthen ponds or plastic/tarpaulin ponds. This program is designed to support economic revitalization efforts, aiming to enhance the community's economic well-being. Limited availability and high costs of fish feed present significant challenges for fish farmers, whether in earthen or plastic/tarpaulin ponds, particularly in Bahaur Hulu Permai Village, Kahayan Kuala Subdistrict, Pulang Pisau Regency. Training on fish feed production was chosen as a solution, utilizing locally available materials in Bahaur Hulu Permai, especially fishmeal that can be produced by farmers and their families. This fishmeal is derived from the catches of local fishermen, primarily small fish that are not consumed by the coastal community. The main issue faced by the community groups in Bahaur Hulu Permai Village is their lack of skills to independently produce fish feed. Therefore, training programs are necessary to enhance their capabilities and skills in making fish feed on their own. With the ability to manage and produce their own fish feed, farmers can alleviate concerns about feed availability for their aquaculture operations. Based on evaluation results, the program was well-received, with 76% of participants successfully producing fish feed using locally available raw materials in Bahaur Hulu Permai. This training program represents an initiative in aquaculture development, aiming to improve livelihoods and community welfare while contributing to the sustainable preservation of the peatland ecosystem

    Pelatihan Tes dan Pengukuran Fisik Dominan Pemain Sepak Bola Tanah Laut

    No full text
    Persetala Tanah Laut adalah klub sepak bola yang telah berpartisipasi dalam berbagai kejuaraan nasional, seperti Liga 3 Nasional dan Piala Suratin. Untuk memastikan efektivitas program latihan, dilakukan pelatihan tes dan pengukuran fisik dominan bagi pelatih dan pemain. Pelatihan ini melibatkan 5 pelatih dan 15 pemain dengan fokus pada lima aspek fisik utama: VO2max, kekuatan otot tungkai, kelincahan, kecepatan, dan kelentukan. Kegiatan dimulai dengan sosialisasi teori tes pengukuran, dilanjutkan dengan praktik lapangan sesuai prosedur standar. Hasil pelatihan menunjukkan peningkatan signifikan pada rata-rata skor fisik pemain, dari 55 pada tes awal menjadi 80 pada tes akhir. Tes VO2max mengungkapkan peningkatan kapasitas aerobik pemain, sedangkan pengujian kekuatan otot tungkai menggunakan leg dynamometer menunjukkan peningkatan kemampuan maksimal otot kaki. Tes kelincahan, seperti Illinois Agility Test, mencatat perbaikan signifikan dalam kemampuan pemain untuk bergerak cepat dan berubah arah. Dalam tes kecepatan, rata-rata waktu sprint 20 meter menunjukkan percepatan yang lebih baik, dan tes kelentukan mencatat peningkatan fleksibilitas tubuh pemain. Implikasi dari pelatihan ini adalah penyediaan data objektif untuk mengevaluasi kondisi fisik dan kebutuhan spesifik pemain. Data ini memungkinkan pelatih untuk merancang program latihan yang lebih terarah, meningkatkan performa pemain di lapangan, serta meminimalkan risiko cedera. Selain itu, pelatihan ini memperkuat kolaborasi antara akademisi olahraga dan pelatih lokal, yang berkontribusi pada pengembangan pendekatan berbasis ilmiah dalam pengelolaan tim. Dengan pelatihan yang berkelanjutan, Persetala Tanah Laut dapat meningkatkan standar kompetitifnya dan menjadi model bagi pengelolaan tim sepak bola di tingkat lokal. Training Test and Dominant Physical Measurement of Tanah Laut Football Players Abstract Persetala Tanah Laut is a football club that has participated in various national championships, such as the National League 3 and Suratin Cup. To ensure the effectiveness of its training program, a dominant physical measurement and testing training was conducted for coaches and players. The training involved 5 coaches and 15 players, focusing on five key physical aspects: VO2max, leg muscle strength, agility, speed, and flexibility. The activity began with the socialization of measurement test theory, followed by field practice conducted in accordance with standardized procedures. The results of the training showed a significant improvement in the players' average physical test scores, rising from 55 in the initial test to 80 in the final test. The VO2max test demonstrated increased aerobic capacity, while the leg muscle strength test using a leg dynamometer indicated an improvement in maximal muscle strength. Agility tests, such as the Illinois Agility Test, recorded significant progress in the players' ability to move quickly and change direction. The speed test, involving a 20-meter sprint, showed enhanced acceleration, and the flexibility test noted better overall body flexibility among the players. The implications of this training include the provision of objective data to evaluate the physical condition and specific needs of players. This data enables coaches to design more targeted training programs, enhance on-field performance, and minimize injury risks. Additionally, the training fostered collaboration between sports academics and local coaches, contributing to the development of a scientific approach to team management. With continuous training, Persetala Tanah Laut can elevate its competitive standards and serve as a model for local football team management

    Pengolahan Minyak Jelantah Menjadi Lilin Aromaterapi Guna Meningkatkan Jiwa Kewirausahaan bagi Masyarakat Desa Pabean Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo

    No full text
    Minyak jelantah merupakan limbah dari kegiatan menggoreng dengan mempergunakan minyak nabati. Hampir setiap hari masyarakat menghasilkan limbah minyak jelantah namun tisdak semua paham bagaimana konsekuensinya terhadap kesehatan dan dampak terhadap lingkungan jika dibuang sembarangan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pada masyarakat sebanyak 30 orang peserta yang dilaksanakan di Desa Pabean Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo; terutama dalam memahami dan mengimplementasikan pengelolaan minyak jelantah yang baik, salah satunya dengan pengolahan menjadi produk lilin aromaterapi yang berdaya guna dan dapat dikelola sebagai produk wirausaha. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan pengabdian ini adalah: ceramah, diskusi, dan mempraktekkan langsung proses pengolahan minyak jelantah menjadi lilin aromaterpi. Dengan dilaksanakan kegiatan ini dapat meningkatkan pengetahuan peserta, dengan nilai peningkatan terendah sebesar 50% terkait penyediaan bahan baku pembuatan, sedangkan nilai peningkatan tertinggi mencapai 183% terkait keuntungan yang dapat diperoleh dari pembuatan lilin aromaterapi. The Processing of Used Cooking Oil into Aromatherapy Candles in Order to Improve Household Entrepreneurship for the Villagers in Pabean, Dringu District, Probolinggo Regency Abstract: Used cooking oil is a waste residue from frying activities using vegetable oils. Almost every day, people produce used cooking oil waste, but not everyone understands the consequences for health and the impact on the environment if it is thrown away carelessly. This community service activity was carried out with the aim of increasing the knowledge and skills to 30 villagers of Pabean Village, Dringu District, Probolinggo Regency; especially in understanding and implementing good management of used cooking oil, one of which is by processing it into aromatherapy candles that is effective way of waste management, and can be used as an entrepreneurial product. The methods in carrying out this service were by using: lectures, discussions, and direct practice of the process used cooking oil into aromatherapy candles. By carrying out this activity, there was an increase in knowledge obtained by participants, with the lowest increase value of 50% related to the provision of manufacturing raw materials, while the highest increase value reached 183% related to the profits that could be obtained by making aromatherapic candles

    Pemberdayaan RANTING (Masyarakat Anti Stunting) melalui Kader Posyandu dan Remaja di Desa Pagersari Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, Jawa Timur

    No full text
    Prevalensi stunting di Desa Pagersari masih tergolong tinggi. Hal tersebut dilatarbelakangi kurangnya pengetahuan berbagai aspek elemen masyarakat mengenai pentingnya mencegah stunting guna mempersiapkan generasi emas 2045 mendatang. Pemberdayaan masyarakat ini bertujuan memberdayakan masyarakat dari berbagai elemen usia agar menjadi RANTING (Masyarakat Anti Stunting) sehingga dapat memutus mata rantai stunting kedepannya. Pemberdayaan RANTING menggunakan metode participatory approach dan RKTL. Metode participatory approach yang digunakan yakni pendekatan partisipatif masyarakat dengan cara mengajak secara luas dan bebas elemen masyarakat untuk berkolaborasi dan memecahkan berbagai masalah yang ada mengenai stunting. Sedangkan RKTL tertuang dalam buku rencana kerja keberlanjutan pada kader RANTING. Analisis data yang digunakan dalam pemberdayaan ini adalah analisis kualitatif berdasarkan hasil observasi, pretest, dan posttest yang kemudian data tersebut dilakukan interpretasi dan kesimpulan mengenai pengetahuan akan stunting. Hasil didapati bahwa pemberdayaan ini diikuti oleh 25 kader posyandu dengan latar belakang sebagai ibu rumah tangga, petani, dan peternak dengan membuat menu pemberian makanan tambahan (PMT) serta 38 remaja di SMPN 4 Satu Atap mengenai tumbuh kembang remaja, dan kesehatan reproduksi remaja. Dalam pelaksanaan RANTING, semua elemen masyarakat sangat antusias dalam kegiatan sehingga hal ini menjadi langkah awal masyarakat menyebarkan ilmu mengenai pencegahan stunting. Dengan adanya pemberdayaan ini, dapat disimpulkan program pelatihan dapat menambah wawasan kader terkait pencegahan stunting dan penangananya. Praktek perencanaan menu juga menambah wawasan kader terkait menu sehat dari olahan lokal. Begitu juga dengan proses tanya jawab, elaborasi, dan RKTL mampu untuk keberharapan pada keberlanjutan program. Empowerment of RANTING (Masyarakat Anti Stunting) through Posyandu Cadres and Teenagers in Pagersari Village, Ngantang District, Malang Regency, East Java Abstract: The prevalence of stunting in Pagersari Village is still relatively high. This is motivated by the lack of knowledge of various aspects of the community elements regarding the importance of preventing stunting in order to prepare the next golden generation of 2045. This community empowerment aims to empower people from various age elements to become RANTING (Anti-Stunting Community) so that they can break the chain of stunting in the future. RANTING empowerment uses a participatory approach and RKTL method. The participatory approach method used is a community participatory approach by widely and freely inviting elements of society to collaborate and solve various problems that exist regarding stunting. The data analysis used in this empowerment is qualitative analysis based on the results of observations, pretests, and posttests, then the data is interpreted and conclusions are made about knowledge of stunting. The results showed that this empowerment was attended by 25 posyandu cadres with backgrounds as housewives, farmers, and breeders by making supplementary feeding menus (PMT) and 38 adolescents at SMPN 4 Satu Atap regarding adolescent growth and development, and adolescent reproductive health. In the implementation of RANTING, all elements of the community were very enthusiastic in the activity so that this was the first step for the community to spread knowledge about stunting prevention. Likewise, the process of question and answer, elaboration, and RKTL is able to hope for the sustainability of the program

    Pendampingan Pengelolaan Laboratorium IPA SMP Muhammadiyah Kota Malang Untuk Memfasilitasi Keterampilan Proses Sains Siswa

    No full text
    Pengelolaan laboratorium IPA harus didayagunakan secara efektif dan efisien untuk mendukung kegiatan kurikuler secara optimal. Pengelolaan laboratorium IPA yang optimal dapat mendukung tercapainya keterampilan proses sains siswa ketika menggunakan laboratorium pada proses pembelajaran. Namun demikian, tidak semua sekolah sudah memiliki sumber daya yang memadai dan pengelolaan laboratorium IPA yang baik. Seperti halnya yang terjadi di beberapa SMP Muhammadiyah di kota Malang yang mengalami kendala dalam pengelolaan laboratorium IPA di sekolah, seperti belum adanya etiket dan label pada alat bahan, belum adanya Standart Operational Procedure setiap alat, dan juga penataan alat bahan yang tidak aturan. Agar mampu memfasilitasi siswa untuk dapat memiliki keterampilan proses sains, sekolah memang perlu melakukan pengelolaan laboratorium IPA secara optimal untuk mendukung kegiatan akademik maupun non akademik siswa. Pengelolaan laboratorium yang baik akan memudahkan proses pembelajaran laboratorium, sehingga kegiatan pembelajaran praktik dilaboratorium dapat lebih maksimal. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memberikan pendampingan dalam pengelolaan laboratorium IPA di SMP Muhammadiyah kota Malang. Kegiatan pengelolaan laboratorium ditujukan pada pihak sekolah yang terdiri dari pejabat struktural dan guru mata pelajaran yang berkaitan dengan kegiatan praktikum dalam laboratorium IPA. Kegiatan pengabdian tersusun atas: 1) observasi kondisi laboratorium IPA yang ada di sekolah; 2) sosialisasi dan workshop tentang standar pengelolaan laboratoium IPA; dan 3) pelaksanaan perbaikan managemen pengelolaan laboratorium IPA. Hasil kegiatan pengabdian ini adalah adanya peningkatan pengetahuan guru dalam pengelolaan laboratorium yang sesuai standar dan telah dilakukan perbaikan managemen pengelolaan laboratorium dengan melengkapi SOP yang ada di laboratorium. Lebih lanjut lagi, di laboratorium setiap sekolah mitra telah terdapat poster tatacara praktikum, SOP, etiket dan labelling alat bahan. Dengan demikian kegiatan pengabdian ini akan mewujudkan pengelolaan laboratorium IPA yang memadai untuk mendukung kegiatan akademik dan non akademik siswa yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran di SMP Muhammadiyah Malang. Assistance in Managing Science Laboratories at Muhammadiyah Junior High Schools in Malang City to Facilitate Students' Scientific Process Skills Abstract The management of science laboratories must be utilized effectively and efficiently to optimally support curricular activities. Optimal management of science laboratories can support the achievement of students' scientific process skills when using the laboratory in the learning process. However, not all schools have adequate resources and good science laboratory management. This is the case in several Muhammadiyah Junior High Schools in Malang city, which face challenges in managing their science laboratories, such as the lack of labels and etiquette on equipment and materials, the absence of Standard Operating Procedures for each piece of equipment, and the disorganized arrangement of equipment and materials. To facilitate students in acquiring scientific process skills, schools indeed need to manage their science laboratories optimally to support both academic and non-academic student activities. Good laboratory management will facilitate the laboratory learning process, making practical learning activities in the laboratory more effective. This community service activity aims to provide assistance in managing science laboratories at Muhammadiyah Junior High Schools in Malang city. The laboratory management activities are aimed at school personnel, including structural officials and subject teachers involved in laboratory practical activities. The community service activities consist of: 1) observing the current condition of science laboratories in the schools; 2) socialization and workshops on standard science laboratory management; and 3) implementing improvements in laboratory management. The results of this community service activity include an increase in teachers' knowledge in managing laboratories according to standards, and improvements in laboratory management by completing the existing SOPs in the laboratories. Furthermore, each partner school's laboratory now has posters on practical procedures, SOPs, etiquette, and labeling of equipment and materials. Thus, this community service activity will result in adequate science laboratory management to support both academic and non-academic student activities, aiming to improve the quality of the learning process at Muhammadiyah Junior High Schools in Malang city

    Pelatihan dan Sertifikasi Kompetensi Batik untuk Guru Seni Budaya di Yogyakarta

    No full text
    Guru memiliki peran penting dalam mendidik generasi muda tentang seni dan budaya, termasuk batik. Oleh karena itu, meningkatkan kompetensi guru dalam bidang batik akan memiliki dampak yang signifikan dalam mengembangkan pemahaman dan apresiasi siswa terhadap seni dan budaya. Tujuan diadakannya kegiatan PkM ini yaitu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan membuat batik tulis dan desain batik berbasis kompetensi, melatih guru dalam yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Seni Budaya di Yogyakarta, dan mendapatkan sertifikat kompetensi batik BNSP. Tahapan yang dilakukan dalam kegiatan: 1) Tahap Persiapan, bersama mitra berupa perencanaan program, bahan materi, pendaftaran, dan seleksi peserta sesuai dokumen kelengkapan yang dikirimkan meliputi biodata, surat keterangan pengalaman, dan surat tugas sekolah. 2) Tahap Pelaksanaan, mengacu kepada Modul Kompetensi & Buku Kerja sesuai Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yaitu rumusan kemampuan kerja yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, dan/ atau keahlian serta sikap kerja. 3) Tahap Evaluasi berupa Pre-test, Post-Test, Sertifikasi Uji Kompetensi oleh LSP, dan Evaluasi Kegiatan. Hasil olah data statistik antara nilai pre-test dan post-test menggunakan uji hipotesis Paired t-test diperoleh nilai p sangat kecil (jauh di bawah 0.05), menunjukkan bahwa pelatihan dan sertifikasi kompetensi batik pada skema pembatik tulis dan skema gambar motif secara signifikan efektif dalam meningkatkan kemampuan peserta. Hasil uji kompetensi sesuai target keberhasilan bahwa 19 dari 20 peserta atau 95% dinyatakan sudah “Kompeten” dan mendapatkan sertifikat BNSP. Hasil evaluasi untuk aspek materi, fasilitator, fasilitas dan kelengkapan kegiatan, dan proses sertifikasi menunjukkan bahwa kegiatan memiliki kualitas yang baik dan tingkat kepuasan peserta yang tinggi (50% Puas dan 50% Sangat Puas). Batik Training and Competency Certification for Arts and Culture Teachers in Yogyakarta Abstract Teachers have an important role in educating the younger generation about arts and culture, including batik. Therefore, improving teachers' competencies of batik will have a significant impact on developing students' understanding and appreciation of art and culture. The purpose of this community service program (PkM) is to enhance knowledge and skills in batik-making and design based on competency, train teachers who are members of the Yogyakarta Arts and Culture Subject Teachers Association (MGMP), and obtain BNSP batik competency certificates. The activities were carried out in several stages: 1) Preparation Stage: This included program planning, material preparation, participant registration, and selection based on submitted documents such as biodata, experience certificates, and school assignment letters. 2) Implementation Stage refers to the Competency Module and Workbook according to the Indonesian National Work Competency Standards (SKKNI), which encompass the formulation of work abilities including aspects of knowledge, skills, and/or expertise, as well as work attitudes. 3) Evaluation Stage: This involved pre-tests, post-tests, competency certification by the Professional Certification Institute (LSP), and activity evaluation. The results met the success target, with 19 out of 20 participants (95%) being declared "Competent" and receiving BNSP certificates. Statistical data analysis using the Paired t-test hypothesis test between pre-test and post-test scores yielded a very small p-value (well below 0.05), indicating that the batik training and competency certification in the batik-making and motif design schemes were significantly effective in improving participants' skills. The evaluation results for aspects of material, facilitators, facilities and activity completeness, and the certification process showed high quality and a high level of participant satisfaction (50% Satisfied and 50% Very Satisfied)

    0

    full texts

    529

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇