Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Not a member yet
529 research outputs found
Sort by
Perundungan di Lingkungan Pesantren: Pencegahan dan Resiliensi
Perundungan dapat mengambil berbagai bentuk, seperti pelecehan fisik, verbal, dan psikologis yang dapat membahayakan kesehatan siswa. Program ini mencakup tindakan nyata untuk menghentikan perundungan, meningkatkan kesadaran akan efeknya, dan meningkatkan ketahanan mental santri. Ada dua aktifitas utama yang dilaksanakan yaitu pendampingan pencegahan perundungan dan resiliensi korban perundungan. Pendampingan pencegahan dilakukan dengan memberikan penyuluhan oleh narasumber untuk memberikan informasi tentang perundungan, efeknya, dan cara mencegahnya. Selain itu, narasumber melakukan pendampingan resiliensi korban perundungan. Untuk mengukur sejauh mana efektifitas kegiatan pendampingan ini, kami mengambil data berupa pre- dan post-asesmen untuk santri terkait dengan pemahaman mereka tentang perundungan, efek, dan cara mencegahnya. Hasil pre asesmen pengetahuan perilaku perundungan adalah 2,88, sedangkan hasil post asesmen naik menjadi 2,94. Hal ini menunjukkan naiknya pemahaman santri terkait perilaku perundungan meskipun tidak signifikan. Terkait dengan sikap santri terhadap perundungan juga terjadi perubahan dari 1,51 turun menjadi 1,49 yang menandakan adanya perubahan sikap setelah mengikuti kegiatan ini. Selain itu, berdasarkan kegiatan follow-up diketahui bahwa siswa yang mengalami perundungan memiliki resiliensi yang lebih baik terbukti dengan tidak lagi melakukan self-harm. Kegiatan pendampingan ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan pesantren yang aman, inklusif, dan mendukung perkembangan holistik setiap siswa. Pesantren dapat berfungsi sebagai model untuk memerangi perundungan dan menciptakan lingkungan pendidikan yang positif untuk generasi muda. Kegiatan pendampingan seperti dapat dilakukan secara berkala dalam jangka waktu panjang agar memberikan dampak yang lebih signifikan.
Bullying in Islamic Boarding School Environments: Prevention and Resilience
Abstract
Bullying can take various forms, such as physical, verbal, and psychological abuse that can harm students' health. This program included concrete actions to stop bullying, raise awareness of its effects, and improve students' mental resilience. There are two main activities that were carried out, namely bullying prevention assistance and bullying victim resilience. Prevention assistance was carried out by providing counseling to provide information about bullying, its effects, and how to prevent it. In addition, keynote speaker provided resilience assistance for bullying victims. To measure the effectiveness of this assistance activity, we took data in the form of pre- and post-assessments for students related to their understanding of bullying, its effects, and how to prevent it. The results of the pre-assessment of bullying behavior knowledge were 2.88, while the results of the post-assessment increased to 2.94. This shows an increase in students' understanding of bullying behavior, although not significant. Regarding the attitude of students towards bullying, there was also a change from 1.51 down to 1.49, indicating a change in attitude after participating in this activity. In addition, based on follow-up activities, it is known that students who experience bullying have better resilience, as evidenced by no longer committing self-harm. This mentoring activity is expected to be able to create a safe, inclusive Islamic boarding school environment that supports the holistic development of each student. Islamic boarding schools can function as a model to combat bullying and create a positive educational environment for the younger generation. Mentoring activities such as can be carried out periodically over a long period of time to provide a more significant impact
Pemberdayaan Masyarakat Desa melalui Penggunaan Media Tanam Inovatif dan Budidaya Pertanian Modern Guna Meningkatkan Produktivitas Tanaman
Lahan pertanian mengalami penurunan karena meningkatnya laju pertumbuhan penduduk hingga alih fungsi lahan dari pertanian ke pemukiman sehingga lahan terbatas dan kualitas tanah menurun untuk bercocok tanam. Kondisi ini menjadi alasan diadakannya sosialisasi untuk memperkenalkan media tanam 3in1 Agrocoota yang inovatif terbuat dari campuran cocopeat, arang sekam, dan daun mimba kepada masyarakat Desa Gondanglor, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan. Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 26 Oktober 2024 yang dihadiri oleh 21 orang dari kelompok tani Dusun Ngingkrang. Sosialisasi ini mendapat respon positif dan antusiasme dari masyarakat desa. Kegiatan ini mengajarkan cara memanfaatkan media tanam ramah lingkungan melalui sosialisasi serta dilakukan pengisian kuisioner sebagai tolak ukur. Kuisioner kemudian diolah menggunakan metode analisis statistika deskriptif yang dipilih karena penyajian informasinya lebih mudah dipahami (Sari, 2018). Metode ini disajikan dalam bentuk data kuantitatif berupa Diagram Pie. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kesadaran dan minat masyarakat sebesar 90% untuk bersedia menggunakan media tanam ini sebagai bentuk implementasi pertanian berkelanjutan pada skala rumah tangga untuk mendukung kemandirian pangan serta menjaga kelestarian lingkungan. Media tanam ini dapat digunakan secara berkelanjutan di desa Gondanglor dengan potensi ketersediaan bahan baku cocopeat sebesar 47% dan sekam padi 52% sehingga masyarakat dapat membuat media tanam ini secara mandiri.
Empowering Village Communities Through the Use of Innovative Planting Media and Modern Agricultural Cultivation to Increase Crop Productivity
Abstract
Agricultural land is experiencing a decline due to the increasing rate of population growth and the conversion of land from agriculture to residential areas so that land is limited and the quality of the land decreases when it is suitable for planting. This condition was the reason for holding an outreach to introduce the innovative 3in1 Agrocoota planting medium made from a mixture of cocopeat, husk charcoal and neem leaves to the people of Gondanglor Village, Sugio District, Lamongan Regency. This activity was held on Saturday, October 26 2024, and was attended by 21 people from the Ngingkrang Hamlet farmer group. This socialization received a positive and enthusiastic response from the village community. This activity teaches how to use environmentally friendly planting media through outreach and filling out questionnaires as a benchmark. The questionnaire was then processed using descriptive statistical analysis methods which were chosen because the presentation of the information was easier to understand (Sari, 2018). This method is presented in the form of quantitative data in the form of a Pie Chart. The results of the activity showed that there was an increase in public awareness and interest by 90% in being willing to use this planting medium as a form of implementing sustainable agriculture on a household scale to support food independence and preserve the environment. This planting medium can be used sustainably in Gondanglor village with the potential availability of 47% of cocopeat raw materials and 52% of rice husks so that people can make this planting medium independently
Inovasi Pembelajaran Kurikulum Nasional dengan Pendekatan Understanding by Design (UbD) di Malang
Permasalahan kompetensi guru dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka sebagai kurikulum nasional menjadi isu yang penting. Kurikulum Merdeka menuntut guru untuk memiliki pemahaman yang mendalam serta keterampilan dalam menerapkan metode pembelajaran yang berpusat pada siswa, di mana kreativitas, kolaborasi, dan keterlibatan aktif siswa menjadi prioritas. Namun, banyak guru yang masih mengalami kesulitan dalam menguasai pendekatan ini, terutama dalam hal desain pembelajaran yang fleksibel, penggunaan teknologi digital, dan evaluasi yang berbasis kompetensi. Keterbatasan dalam pemahaman konsep pedagogis baru serta kurangnya pelatihan dan pendampingan intensif bagi guru sering kali menghambat keberhasilan penerapan kurikulum ini. Oleh karena itu, pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru melalui pendekatan Understanding by Design secara efektif. Pendekatan Understanding by Design merupakan pendekatan perencanaan pembelajaran yang berfokus pada hasil belajar (desired results) dengan menempatkan pemahaman siswa sebagai tujuan utama. Pendekatan ini berbeda dengan pendekatan lain (tradisional) yang biasanya berfokus pada penyelesaian kurikulum atau penguasaan konten secara langsung tanpa menekankan transfer dan relevansi pembelajaran. Kegiatan ini melibatkan guru-guru SD di Gugus II Kec. Tirtoyudho yang telah menjadi peserta pelatihan sebanyak 19 guru. Metode pelaksanaan kegiatan ini yaitu workshop pelatihan, pendampingan dan impelementasi Pembelajaran di kelas. Dalam pendesiminasian model pembelajaran ini, tim mendampingi dan melakukan observasi. Setelah pelatihan dan pendampingan, sebanyak 85% guru mengalami peningkatan pemahaman tentang prinsip-prinsip UbD, khususnya dalam perencanaan pembelajaran yang berbasis tujuan akhir (backward design). Hasil survei menunjukkan bahwa 80% siswa merasa lebih terlibat dalam proses pembelajaran setelah guru menerapkan pendekatan UbD, yang berfokus pada pembelajaran yang interaktif dan berpusat pada pemahaman mendalam.
National Curriculum Learning Innovation with an Understanding by Design Approach in Malang
Abstract
The issue of teacher competence in implementing the Independent Curriculum as a national curriculum is an important issue. The Independent Curriculum requires teachers to have a deep understanding and skills in applying student-centered learning methods, where creativity, collaboration, and active student involvement are priorities. However, many teachers still have difficulty mastering this approach, especially in terms of flexible learning design, the use of digital technology, and competency-based evaluation. Limitations in understanding new pedagogical concepts and the lack of intensive training and mentoring for teachers often hinder the successful implementation of this curriculum. Therefore, this community service aims to improve teacher competence through an effective Understanding by Design approach. The Understanding by Design approach is a learning planning approach that focuses on learning outcomes (desired results) by placing student understanding as the main goal. This approach is different from other (traditional) approaches that usually focus on completing the curriculum or mastering content directly without emphasizing transfer and relevance of learning. This activity involves elementary school teachers in Cluster II, Tirtoyudho District, who have participated in the training as many as 19 teachers. The method of implementing this activity is a training workshop, mentoring and implementation of classroom learning. In disseminating this learning model, the team accompanies and conducts observations. After training and mentoring, 85% of teachers experienced an increase in understanding of UbD principles, especially in learning planning based on final goals (backward design). Survey results showed that 80% of students felt more engaged in the learning process after teachers implemented the UbD approach, which focuses on interactive and understanding-centered learning
Pelatihan dan Pendampingan Pembuatan Perangkat Pembelajaran Sains Sederhana Guru TK Gugus 4 Kecamatan Sekarbela
Pelatihan dan pendampingan pembuatan perangkat pembelajaran sains sederhana bagi guru TK Gugus 4 Kecamatan Sekarbela bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam merancang dan mengimplementasikan pembelajaran sains yang menarik dan relevan bagi anak usia dini. Kegiatan ini dilakukan dengan metode In Service Training (IST) di TK Semai Harapan Bangsa, Mataram, pada 22 Agustus 2024, dengan melibatkan 21 guru TK. Pelatihan dirancang melalui tiga tahapan, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Dalam pelaksanaannya, peserta mengikuti sesi teori, praktik langsung, dan diskusi interaktif yang difasilitasi oleh para ahli di bidang pendidikan anak usia dini. Evaluasi kegiatan dilakukan menggunakan angket untuk menilai peningkatan motivasi, dan kepercayaan diri peserta. Hasil pelatihan menunjukkan dampak positif yang signifikan, dimana guru menjadi lebih paham tentang konsep dan strategi pembelajaran sains, keterampilan dalam merancang perangkat pembelajaran seperti RPP, LKPD, dan media pembelajaran sederhana, serta motivasi tinggi untuk mengadopsi pendekatan kreatif dalam pembelajaran sains. Selain itu, kepercayaan diri guru dalam mengajarkan sains meningkat secara signifikan, dengan 71% peserta menyatakan sangat setuju untuk menerapkan hasil pelatihan di kelas masing-masing. Implikasi dari kegiatan ini menunjukkan bahwa pelatihan berbasis IST efektif dalam meningkatkan kompetensi guru dan memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut melalui program lanjutan seperti pendampingan kelas dan pelatihan integrasi teknologi. Dengan keberlanjutan program, diharapkan pembelajaran sains di tingkat TK dapat menjadi lebih inovatif dan relevan, mendukung perkembangan kognitif, sosial, dan emosional anak usia dini secara optimal.
Training And Mentoring on The Development of Simple Science Learning Tools for Kindergarten Teachers in Cluster 4, Sekarbela Sub-District
Abstract
The training and mentoring program on developing simple science learning tools for kindergarten teachers in Cluster 4, Sekarbela Sub-district, aims to enhance teachers' competence in designing and implementing engaging and relevant science lessons for early childhood students. The activity was conducted using the In-Service Training (IST) method at TK Semai Harapan Bangsa, Mataram, on August 22, 2024, involving 21 kindergarten teachers. The training was designed in three stages: preparation, implementation, and evaluation. During the program, participants attended theory sessions, hands-on practice, and interactive discussions facilitated by experts in early childhood education. The evaluation was conducted through questionnaires to assess participants' increased motivation and confidence. The training results showed a significant positive impact, with teachers gaining a better understanding of science concepts and strategies, skills in designing learning tools such as lesson plans (RPP), student worksheets (LKPD), and simple teaching media, as well as high motivation to adopt creative approaches in science teaching. Additionally, teachers’ confidence in teaching science improved significantly, with 71% of participants strongly agreeing to implement the training outcomes in their classrooms. The implications of this activity indicate that IST-based training effectively improves teacher competencies and holds potential for further development through follow-up programs such as classroom mentoring and technology integration training. With the program's continuity, it is hoped that science learning at the kindergarten level can become more innovative and relevant, supporting the optimal cognitive, social, and emotional development of early childhood students
Pelatihan Pengolahan Sampah Plastik Berbasis Community Development untuk Meningkatkan Kreativitas Siswa SMA AL-Hamzar Tembeng Putik Lombok Timur
Pelatihan pengolahan sampah berbasis community development di SMA AL-Hamzar bertujuan untuk meningkatkan kreativitas siswa dalam mengolah limbah plastik menjadi produk fungsional yang bernilai guna. Kegiatan ini melibatkan 30 siswa kelas X yang dibagi menjadi 4 kelompok. Metode pelatihan mencakup sosialisasi, demonstrasi praktik, dan evaluasi hasil. Hasil pelatihan menunjukkan bahwa 75% siswa mampu menghasilkan kursi dari botol plastik dengan kriteria yang memenuhi standar kerapian, kekuatan, dan kreativitas desain. Sebanyak 25% siswa memerlukan pendampingan tambahan pada aspek teknis tertentu, seperti pemotongan triplek dan perekat botol. Selain itu, hasil refleksi menunjukkan peningkatan kesadaran lingkungan di kalangan siswa sebesar 85% berdasarkan survei pasca pelatihan. Program tindak lanjut berupa pembentukan bank sampah di sekolah juga dirintis sebagai langkah keberlanjutan. Pelatihan ini membuktikan efektivitas pendekatan berbasis proyek dalam meningkatkan keterampilan siswa dan kesadaran mereka terhadap pengelolaan sampah. Namun, tantangan seperti keterbatasan alat dan fasilitas tetap memerlukan perhatian untuk pengembangan program di masa depan.
Plastic Waste Management Training Based on Community Development to Enhance the Creativity of SMA AL-Hamzar Tembeng Putik Students, East Lombok
Abstract
The waste management training based on community development at SMA AL-Hamzar aimed to enhance students' creativity in transforming plastic waste into functional and valuable products. This activity involved 30 tenth-grade students divided into four groups. The training methods included socialization, practical demonstrations, and outcome evaluations. The results indicated that 75% of students successfully produced chairs from plastic bottles meeting the criteria for neatness, strength, and creative design. Meanwhile, 25% of students required additional guidance on technical aspects such as cutting plywood and bonding bottles. Reflection results revealed an 85% increase in students' environmental awareness, as evidenced by post-training surveys. A follow-up program, the establishment of a school-based waste bank, was initiated to ensure sustainability. This training demonstrated the effectiveness of project-based approaches in enhancing students' skills and awareness of waste management. However, challenges such as limited tools and facilities need to be addressed for future program improvements
Ecofarming Budidaya Sayuran di Gunung Kupang Kelurahan Cempaka Kota Banjarbaru
Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman para petani di Gunung Kupang, Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru mengenai eco-farming untuk budidaya sayuran. Sasaran PKM adalah penyuluhan kepada para petani sayuran tentang penerapan eco-farming pada sayuran di Kecamatan Cempaka Gunung Kupang untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman para petani di Kecamatan Cempaka Kota Banjarbaru. Kegiatan PKM dilaksanakan pada tanggal 26 Agustus 2023 bertempat di kawasan Gunung Kupang, Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru dengan peserta sekitar 20 orang yang terdiri dari 10 orang mahasiswa Jurusan Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat, serta lima orang petani dan lima pemuda petani Karang Taruna di Kecamatan Cempaka Kota Banjarbaru. Hasil PKM menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan pemahaman petani di Kecamatan Cempaka Kota Banjarbaru mengenai penerapan eco-farming khususnya dalam pencegahan hama lalat pemotong daun pada budidaya sayuran. Sebanyak 70% peserta mengetahui tentang eco-farming, 80% peserta dapat membedakan antara eco-farming dan pertanian organik, 80% peserta sudah memahami cara menerapkan eco-farming dalam budidaya sayuran, 75% peserta memahami prinsip dasar eco-farming, 85% peserta mengetahui tindakan eco-farming apa saja dalam budidaya sayuran yang dapat diterapkan, 85% peserta mengetahui dan familiar dengan hama lalat pemotong daun, 80% peserta mengetahui ciri-ciri tanaman yang terserang lalat pemotong daun, 90% peserta mengetahui bahan alami untuk mencegah serangan lalat pemotong daun, memotong lalat, 90% peserta mengetahui cara mencegah serangan lalat pemotong daun, dan 90% peserta mengetahui cara pengendalian hama secara terpadu.
ECO-FARMING VEGETABLE CULTIVATION ON GUNUNG KUPANG CEMPAKA URBAN VILLAGE, BANJARBARU CITY
Abstract: This community service aims to increase the knowledge and understanding of farmers in Gunung Kupang, Cempaka District, and Banjarbaru City regarding eco-farming for vegetable cultivation. The target audience for community service is counseling vegetable farmers about applying eco-farming to vegetables in Gunung Kupang Cempaka District to increase knowledge and understanding for farmers in Cempaka District, Banjarbaru City. The community service activity was carried out on August 26, 2023, taking place in the Gunung Kupang area, Cempaka District, Banjarbaru City, with around 20 participants consisting of 10 students from the Agroecotechnology Department, Faculty of Agriculture, Lambung Mangkurat University, and five farmers and five young farmers from Karang Taruna in the Cempaka District, Banjarbaru City. The community service results show an increase in the knowledge and understanding of farmers in Cempaka District, Banjarbaru City, regarding the application of eco-farming, especially in preventing leaf-cutting fly pests in vegetable cultivation. As many as 70% of participants know about eco-farming, 80% of participants can differentiate between eco-farming and organic farming, 80% of participants already understand how to apply eco-farming in vegetable cultivation, 75% of participants understand the basic principles of eco-farming, 85% of participants know what eco-farming actions in vegetable cultivation can be implemented, 85% of participants know and are familiar with leaf cutter fly pests, 80% of participants know the characteristics of plants attacked by leaf cutter flies, 90% of participants know natural ingredients to prevent fly attacks leaf cutters, cut flies, 90% of participants know how to prevent leaf cutter fly attacks, and 90% of participants know how to control pests in an integrated manner
Penyegaran Kompetensi Guru dalam Penyusunan Proposal Kegiatan sebagai Pengembangan Kurikulum P5 di SMAN 2 Batu
Kurikulum pelajar Pancasila menuntut keterampilan dan kompetensi guru di berbagai bidang, salah satunya adalah penulisan proposal kegiatan. Proposal kegiatan digunakan sebagai Langkah awal pembelajaran sesuai kurikulum P5. Kegiatan ini bertujuan untuk penyegaran kompetensi guru di bidang penulisan proposal kegiatan. Keterampilan penulisan proposal kegiatan ini menjadi gudang pengetahuan guru ketika menjadi pembimbing kelompok siswa. Adanya relasi antara guru dan siswa dalam kegiatan projek tersebut menjadi bagian implementasi kurikulum merdeka. Kegiatan ini didukung oleh pihak sekolah, yaitu kepala sekolah sebagai pemangku kebijakan tingkat sekolah. Kepala sekolah memiliki peran kepemimpinan dalam hal pengembangan kurikulum. Selain itu, peran guru-guru berbagai bidang pelajaran juga sangat berperan karena mereka sebagai pembimbing siswa. Hambatan atau kekuarang kegiatan ini adalah adanya pola pikir yang belum terbuka terhadap peran sumber-sumber internet sebagai penguat rasionalisasi urgensi isi proposal.
Kata Kunci: Profil Pelajar Pancasila; proposal; pelatihan
Refreshing Teacher Competencies in Preparing Activity Proposals as P5 Curriculum Development at SMAN 2 Batu
Abstract: The Pancasila student curriculum requires teacher skills and competencies in various fields, one of which is writing activity proposals. Activity proposals are used as the first step in learning according to the P5 curriculum. This activity aims to refresh teacher competence in the field of writing activity proposals. The skill of writing proposals for this activity becomes a repository of knowledge for teachers when they become student group supervisors. The relationship between teachers and students in the project activities is part of the implementation of the independent curriculum. This activity is supported by the school, namely the principal as a school-level policy maker. The principal has a leadership role in terms of curriculum development. In addition, the role of teachers in various fields of study is also very important because they are student mentors. The obstacle or prohibition of this activity is the existence of a mindset that has not been open to the role of internet sources as a reinforcement of the rationalization of the urgency of the proposal content
Pelatihan Penulisan Sastra Profetik untuk Siswa SMA Muhammadiyah 1 Malang
Kumpulan cerita pendek yang berbasis nilai agama merupakan luaran pelatihan penulisan sastra profetik yang diselenggarakan bagi siswa SMA Muhammadiyah 1 Malang. Metode pelatihan yang digunakan adalah pertama, menyadarkan siswa akan pentingnya nilai agama dalam kehidupan dan penulisan karya sastra; ke-dua, pelatihan menulis terstruktur dengan menerapkan teknik sastra; ke-tiga, pendampingan dan pembimbingan dengan memberikan umpan balik; ke-empat, koreksi silang dengan sesama peserta pelatihan; ke-lima, penilaian dan refleksi diri. Kegiatan ini dilakukan secara luring dan dilakukan secara sistematis sesuai dengan tahapan penulisan karya sastra cerita pendek. Kegiatan dilaksanakan selama empat pertemuan, dilajutkan dengan proses kreatif siswa yang dipantau secara daring. Setiap pertemuan memiliki tujuan yang berbeda namun memiliki kesinambungan dengan tujuan utama penulisan karya sastra. Kegiatan ini mengaplikasikan model pembelajaran berbasis project dan dengan metode kooperatif-kritis. Program ini berdampak pada peningkatan kreativitas siswa dalam menuangkan ide kreatif dalam bentuk cerpen yang dilandasi dengan nilai agama. Kreativitas ini dikemas dalam bentuk buku kumpulan cerpen yang nantinya dapat menjadi bekal siswa dalam pengembangan kreativitas di masa mendatang.
Training in Prophetic Literature Writing for Students of SMA Muhammadiyah 1 Malang
Abstract
A collection of short stories based on religious values ??is the output of prophetic literature writing training held for students of SMA Muhammadiyah 1 Malang. The training methods used are first, making students aware of the importance of religious values ??in life and writing literary works; second, structured writing training using literary techniques; third, mentoring and mentoring by providing feedback; fourth, cross-correction with fellow trainees; fifth, self-assessment and reflection. This activity is carried out offline and carried out systematically in accordance with the stages of writing a short story literary work. The activity was carried out over four meetings, followed by the students' creative process which was monitored online. Each meeting has a different aim but is in continuity with the main aim of writing literary works. This activity applies a project-based learning model and a critical-cooperative method. This program has an impact on increasing students' creativity in expressing creative ideas in the form of short stories that are based on religious values. This creativity is packaged in the form of a book of short stories which can later become a provision for students in developing creativity in the future
Pelatihan Pembuatan Donat Labu Kuning Untuk Pemberdayaan Ibu-Ibu PKK
Banyak ibu rumah tangga yang mempunyai waktu luang namun tidak bekerja karena kurangnya pengetahuan dan keterampilan. Oleh karena itu adanya pelatihan yang diikuti peserta ibu-ibu PKK di Desa Sungelebak, Kecamatan Karanggeneng, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan untuk mengisi waktu luang sehingga mampu membuka usaha pembuatan donat labu kuning sebagai usaha sampingan. Metode kegiatan pelatihan ini menerapkan 4 tahapan yang meliputi: tahap pertama survey dengan metode studi literatur, wawancara dan observasi langsung; tahap kedua pemaparan materi dengan metode pembelajaran langsung atau ceramah dan tanya jawab; tahap ketiga pelatihan dengan metode praktek secara langsung; dan tahap keempat pendampingan dengan metode pengamatan langsung. Hasil dari pengabdian yang pertama meningkatkan kesadaran di kalangan ibu-ibu PKK akan pentingnya perbaikan struktur usaha bagi perekonomian pedesaan. Kedua memanfaatkan pelatihan kewirausahaan untuk meningkatkan kemampuan membuat donat labu kuning. Berdasarkan nilai akhir yang diperoleh yaitu 92% untuk aspek antusias, 88% untuk aspek pengetahuan, dan 90% untuk aspek keterampilan. Dari aspek kompetensi, secara umum kegiatan ini dapat dikatakan tergolong berhasil, peserta antusias mengikuti pelatihan, memahami materi yang disampaikan, dan mampu terampil menerapkan materi pelatihan. Pelatihan ini mendapat tanggapan positif sehingga harus terus dikembangkan dan perlu ada kegiatan lanjutan yang terorganisir.
Training In Making Pumpkin Donuts To Empower PKK Women
Abstract
Many housewives have free time but do not work due to lack of knowledge and skills. Therefore, the training attended by PKK women participants in Sungelebak Village, Karanggeneng District, Lamongan Regency, East Java can increase their knowledge and skills to fill their free time so they can open a business making pumpkin donuts as a side business. This training activity method applies 4 stages which include: the first stage is a survey using literature study methods, interviews and direct observation; the second stage is presentation of the material using direct learning methods or lectures and questions and answers; the third stage of training uses direct practical methods; and the fourth stage is mentoring using direct observation methods. The results of the first service increased awareness among PKK women of the importance of improving business structures for the rural economy. Second, take advantage of entrepreneurship training to improve your ability to make pumpkin donuts. Based on the final score obtained, namely 92% for the enthusiasm aspect, 88% for the knowledge aspect, and 90% for the skills aspect. From the competency aspect, in general this activity can be said to be classified as successful, participants were enthusiastic about taking part in the training, understood the material presented, and were able to skillfully apply the training material. This training received a positive response so it must continue to be developed and there needs to be organized follow-up activities
Pelatihan Pembuatan Sistem Penyiraman Tanaman Otomatis Pada Taman Alun-Alun Desa Drajat
Pengabdian ini bertujuan untuk memudahkan warga Desa Drajat dalam melakukan perawatan tanaman di taman alun-alun desa secara otomatis sehingga lebih efektif dan efisien. Sistem penyiraman tanaman otomatis yang dirancang juga bertujuan untuk menghemat energi serta memastikan penyiraman yang teratur dan merata. Kegiatan pengabdian dilakukan melalui sosialisasi dan pelatihan terkait penggunaan Timer Relay untuk membangun sistem penyiraman tanaman otomatis. Sasaran dari kegiatan ini adalah warga Desa Drajat, dengan peserta yang terdiri dari pelajar, nelayan, dan karyawan, berjumlah lebih dari 15 orang. Pelatihan ini meningkatkan pengetahuan warga tentang sistem penyiraman otomatis berbasis Timer Relay hingga 70%. Penerapan sistem ini diharapkan dapat mengatasi permasalahan penyiraman manual yang tidak konsisten dan meningkatkan efisiensi dalam perawatan taman alun-alun. Selain itu, kegiatan ini bertujuan untuk memperluas pengetahuan warga tentang teknologi modern yang dapat mempermudah aktivitas sehari-hari. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan bahwa sistem penyiraman otomatis yang dikembangkan berhasil diimplementasikan, memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar, dan memungkinkan warga untuk merawat tanaman secara lebih efisien.
Training on the Creation of an Automatic Plant Watering System in the Drajat Village Square Park
Abstract
This community service aims to facilitate the residents of Drajat Village in automatically maintaining plants in the village square park, making the process more effective and efficient. The automatic plant watering system is also designed to save energy and ensure regular and even irrigation. The service activities were conducted through socialization and training on the use of Timer Relay to build an automatic plant watering system. The target audience was the residents of Drajat Village, with participants including students, fishermen, and employees, totaling more than 15 people. This training increased the residents' knowledge of the automatic watering system using Timer Relay by up to 70%. The implementation of this system is expected to resolve the inconsistency of manual watering and improve efficiency in maintaining the village square park. Additionally, the activity aimed to broaden the community's knowledge of modern technology that can simplify daily tasks. The results showed that the automatic watering system was successfully implemented, providing benefits to the surrounding environment and enabling residents to maintain the plants more efficiently