Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Not a member yet
529 research outputs found
Sort by
Sosialisasi Konsep dan Kegiatan Taman Hijau di Lingkungan Perumahan Sembada Griya Asri Kekalik Jaya-Mataram
Taman berfungsi sebagai pelengkap di lingkungan rumah atau perumahan yang dapat memberi nilai estetika, keindahan, penghijauan dan sebagai pemasok oksigen. Ada beberapa tahapan yang dilakukan dalam kegiatan ini yaitu persiapan yang meliputi peninjuan lokasi mitra, mengirim surat izin pengabdian ke mitra, membuat materi untuk persentasi. Pelaksanaan kegiatan pengabdian ada dua tahap yaitu menyampaikan materi konsep taman hijau di lingkungan perumahan dan tahap kedua yaitu konsultasi atau memberikan gambaran mengenai desain taman hijau untuk pekarangan lahan sempit melalui media klinik arsitektur secara online dan offline. Konsep taman hijau di pekarangan rumah tinggal ini memanfaatkan pekarangan kecil menjadi lebih asri yang memberi nilai ekonomis dan keindahan pada lingkungan perumahan sehingga kegiatan yang dilakukan Ibu ibu yang terbentuk dalam majelis taklim ini bisa berjalan dengan baik dan efektif yaitu pemanfaatan lahan pekarangan dengan konsep taman hijau yang produktif. Tim pengabdi melalui program Pengabdian Kepada Masyarakat bertujuan untuk melakukan transfer ilmu dan teknologi tentang penataan taman rumah tinggal sehingga warga dapat mengaplikasikan pada pekarangan rumah untuk lahan sempit. Metode dalam melaksanakan kegiatan pengabdian kepada Masyarakat yang digunakan adalah presentasi, diskusi dan konsultasi secara offline dan online sehingga warga yang tergabung dalam kegiatan pemberdayaan oleh Ibu-ibu Majelis Taklim sudah berhasil menerapkan konsep taman hijau di lahan sempit sebanyak 77 % di Lingkungan Perumahan Sembada Griya Asri Kekalik Mataram mendapat gambaran konsep taman hijau yang dapat di terapkan dalam penataan taman rumah dengan lahan sempit yang produktif dan dapat memberi nilai manfaat yang positif.
Socialization of Green Park Concept and Activities in the Sembada Griya Asri Residential Environment Kekalik Jaya-Mataram
Abstract
The garden functions as a complement to the home or residential environment which can provide aesthetic value, beauty, greenery and as a supplier of oxygen. There are several stages carried out in this activity, namely preparation which includes reviewing partner locations, sending service permits to partners, making materials for presentations. The implementation of service activities consists of two stages, namely conveying material on the concept of green gardens in residential areas and the second stage, namely consulting or providing an overview of green garden designs for narrow plots of land through online and offline architectural clinic media. The concept of a green garden in a residential yard utilizes a small yard to make it more beautiful, which provides economic value and beauty to the residential environment so that the activities carried out by the mothers formed in this taklim assembly can run well and effectively, namely the use of yard land with a green garden concept. productive. The service team, through the Community Service program, aims to transfer knowledge and technology about arranging residential gardens so that residents can apply it to home gardens for small areas of land. The methods used in carrying out community service activities are presentations, discussions and consultations offline and online so that residents who are involved in empowerment activities by the women of the Taklim Council have succeeded in implementing the green park concept on 77% of the narrow land in the Sembada Griya Asri Housing Area. Kekalik Mataram got an overview of the green garden concept which can be applied in arranging home gardens with narrow land that is productive and can provide positive benefits
Pemanfaatan Teknologi Shipon Terkontrol Water Level Sensor dalam Budidaya Lele Mutiara di Dusun Bakal, Argodadi, Sedayu, Bantul Yogyakarta
Budidaya ikan lele Mutiara dengan menggunakan teknologi siphon termodifikasi masih dijumpai beberapa permasalahan yaitu ikan banyak yang mati dalam waktu singkat pada 2 minggu pertama karena serangan bakteri aeromonas, mitra belum memiliki pengetahuan mengenai cara menangani bakteri aeromonas, turunnya daya tahan ikan akibat air sumur yang dingin pada bulan Juli-September karena perubahan cuaca rutin tahunan, ikan banyak yang mati karena peningkatan kadar amoniak tidak seimbang dengan kadar oksigen dalam kolam disebabkan tidak adanya sirkulasi air untuk menambah kadar oksigen. Solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu penggunaan teknologi water level sensor agar terjadi aliran air kontinyu secara otomatis ke dalam kolam. Mitra kegiatan pengabdian yaitu Pokdakan Mina Mekar Jannah yang berlokasi di Dusun Bakal, Argodadi, Sedayu, Kabupaten Bantul, D.I. Yogyakarta. Kegiatan pengabdian dilaksanakan selama 6 bulan (Juni-November 2023), melibatkan satu ketua, dua anggota dosen dan lima orang anggota mahasiswa. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner dan pengukuran secara langsung bobot ikan, panjang ikan, suhu, pH, NH3. Jumlah responden yaitu 25 orang anggota Pokdakan Mina Mekar Jannah. Instrumen yang digunakan yang yaitu angket dan timbangan, penggaris, serta sensor suhu, pH, NH3. Kegiatan PkM pemanfaatan teknologi shipon terkontrol water level sensor dalam budidaya lele mutiara telah mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan. Melalui kegiatan PkM telah transfer teknologi penggunaan siphon termodifikasi, sensor suhu, pH, NH3, dan water level sensor kepada mitra. Kegiatan PkM berdampak pada peningkatan pengetahuan, kemampuan, keterampilan mitra dalam budidaya ikan lele Mutiara. Mitra sasaran memperoleh manfaat dari kegiatan PkM yang dilakukan dan berkomitmen untuk melanjutkan kegiatan budidaya ikan lele Mutiara yang telah dilakukan.
Utilization of Shipon Technology Controlled Water Level Sensor in Hygienic Pearl Catfish Cultivation in Bakal Hamlet, Argodadi, Sedayu, Bantul, Yogyakarta
Abstract: Pearl catfish farming using modified siphon technology still encountered several problems, namely, many fish died in a short time in the first two weeks due to Aeromonas bacteria attack, partners did not know how to deal with Aeromonas bacteria, decreased fish endurance due to cold healthy water in July-September due to annual routine weather changes, many fish died due to increased ammonia levels not balanced with levels Oxygen in the pool is caused by the absence of water circulation to increase oxygen levels. The solution to this problem is using water level sensor technology so that there is an automatic continuous flow of water into the pool. The partner of the service activity is Pokdakan Mina Mekar Jannah, located in Bakal Hamlet, Argodadi, Sedayu, Bantul Regency, D.I. Yogyakarta. The service activity will last six months (June-November 2023), involving one chairman, two lecturers, and five student members. Data collection techniques use questionnaires and direct fish weight, length, temperature, pH, and NH3 measurements. The number of respondents was 25 members of the Mina Mekar Jannah Pokdakan. The instruments used are questionnaires, scales, rulers, temperature sensors, pH, and NH3. PkM activities utilizing shippon technology-controlled water level sensors in pearl catfish cultivation have achieved the established success indicators. PkM has transferred technology using modified siphons, temperature sensors, pH, NH3, and water level sensors to partners through activities. PKM activities impact increasing partners' knowledge, abilities, and skills in pearl catfish farming. Target partners benefit from the PKM activities carried out and are committed to continuing the Mutiara catfish farming activities that have been carried out
Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Desa Sungai Nibung Kabupaten Kubu Raya dalam Penyediaan Tanaman Obat Keluarga
Desa Sungai Nibung terletak di pesisir Kubu Raya, ditempuh selama 2-3 jam perjalanan air, dari Pelabuhan Rasau. Akses transportasi yang cukup sulit menyebabkan perlunya dilaksanakan edukasi tentang penyediaan tanaman obat keluarga yang dapat dijadikan sebagai salah satu pertolongan pertama saat ada warga Masyarakat yang menderita penyakit. Tujuan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk mensosialisasikan pembuatan Taman Obat Keluarga sebagai usaha pengobatan mandiri dalam keluarga, dengan memanfaatkan lahan pekarangan. Hal ini secara langsung akan berdampak pada meningkatnya derajat kesehatan Masyarakat Desa Sungai Nibung. Kegiatan dihadiri sebanyak 25 orang perwakilan warga masyarakat yang terdiri dari ibu rumah tangga dan tim penggerak pendidikan kesejateraan keluarga (PKK). Kegiatan dilakukan dengan metode ceramah edukatif terkait pemanfaatan tanaman berpotensi obat yang dapat dibudidayakan di pekarangan, dilanjutkan dengan praktek pembuatan taman obat keluarga menggunakan rak bersusun 3, untuk menghindari terendamnya media tanam dengan air laut pada saat terjadinya pasang. Hasil evaluasi menunjukkan terjadinya peningkatan pemahaman masyarakat dalam menyebutkan jenis tanaman obat keluarga, khasiat, bagian tanaman yang berkhasiat dan cara mengolahnya sebelum dikonsumsi.
Empowerment of the Sungai Nibung Village Community, Kubu Raya Regency in Providing Family Medicinal Plants
Abstract: Sungai Nibung Village is located on the coast of Kubu Raya, a 2-3 hour water journey from Rasau Harbor. Access to transportation is quite difficult, which makes it necessary to carry out education regarding the provision of family medicinal plants which can be used as first aid when a member of the community suffers from illness. The aim of this community service is to socialize the creation of a Family Medicine Park as an independent medical business within the family, by utilizing yard space. This will directly have an impact on increasing the health status of the Sungai Nibung Village Community. The activity was attended by 25 representatives of community members consisting of housewives and the family welfare education team (PKK). The activity was carried out using an educational lecture method regarding the use of potentially medicinal plants that can be cultivated in the yard, followed by the practice of creating a family medicine garden using 3-tiered shelves, to avoid submerging the planting medium in sea water during high tide. The evaluation results show that there has been an increase in public understanding of the types of family medicinal plants, their properties, the parts of the plant that are useful and how to process them before consuming them
Peningkatan Kemampuan Merias Pengantin Solo Puteri, Upacara Adat Perias Pengantin di Kabupaten Gresik
Perias pengantin memiliki berbagai acam karakteristik maupun keunikannya, dalam hal ini memiliki suatu organisasi yaitu Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (HARPI MELATI) Dewan Pimpinan Cabang Kabupaten Gresik. Seperti halnya dengan sanggar lainnya, sanggar rias pengantin di Kabupaten Gresik juga mengalami pasang surut dalam melaksanakan bisnis usaha mereka. Para wirausaha sanggar rias selain memiliki perkembangan mode dalam merias, juga melakukan manajemen usaha. Dalam melaksanakan usaha para periasjuga memiliki beberapa permasalahan dalam melangsungkan usaha mereka. Tujuan dalam kegiatan ini dilaksanakan (1) Memberikan pengetahuan dan ketrampilan tata rias pengantin Solo Puteri. (2) Memberikan pengetahuan dan ketrampilan upacara adat pengantin Solo Puteri, Tujuan PKM ini adalah melatih para pengusaha tata rias pengantin di Kabupaten Gresik agar dapat mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan tentang aspek produksi tata rias pengantin terutamapengantin Solo Puteri, serta dari aspek manajemen usaha diharapkan dapat mengelola usaha mereka dengan baik dengan cara membuat laporan keuangan unit usahanya sesuai dengan prosedur yang sesuai.
Improvement Of Solo Puteri Bridal Makeup Ability, Traditional Ceremonies, Bridal Makeup In Gresik Regency
Abstract: Bridal makeup has various characteristics and uniqueness, in this case it has an organization, namely the Association of Indonesian Bridal Makeup Experts (HARPI MELATI) Gresik Regency Branch Leadership Council. As is the case with other studios, bridal makeup studios in Gresik Regency also experience ups and downs in carrying out their business business. The makeup studio entrepreneurs in addition to having fashion developments in makeup, also do business management. The makeup studio entrepreneurs in addition to having fashion developments in makeup, also do business management. In carrying out business, the makeup also has some problems in carrying out their business. The objectives of this activity are carried out (1) Provide knowledge and skills in bridal makeup Solo Puteri. (2) Providing knowledge and skills of the traditional bridal ceremony of Solo Puteri, the purpose of this PKM is to train bridal makeup entrepreneurs in Gresik Regency in order to develop knowledge and skills about the production aspects of bridal makeup, especially Solo Puteri brides, and from the aspect of business management are expected to be able to manage their business well by making financial statements of their business units in accordance with appropriate procedures
Penguatan Pemahaman Masyarakat Terhadap Penggunaan Bantuan Hukum Dan Konsultasi Hukum Secara Cuma-Cuma
Bantuan hukum Cuma-Cuma adalah merupakan hak bagi setiap warga negara yang dapat digunakan kapanpun selama ketentuan yang dipersyaratkan dapat dipenuhi oleh setiap warga negara namun pada kenyataan ditengah masyarakat, hak tersebut tidak dapat terealisasi dikarenakan kurangnya pemahaman masyarakat tentang eksistensi penggunaan bantuan hukum Cuma-Cuma dan prosedur penggunaan bantuan hukum Cuma-Cuma bagi setiap masyarakat yang membutuhkan. Pemahaman tentang penerapan bantuan hukum Cuma-Cuma menjadi tanggung jawab pemerintah melalui berbagai lembaga yang ada, lembaga bantuan hukum dan lembaga pendidikan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) terkait sosialisasi Bantuan hukum Cuma-Cuma, Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) terkait sosialisasi dan edukasi masyarakat tentang penggunaan dan prosedur tahapan penggunaan bantuan hukum dan landasan hukum penerapan bantuan hukum Cuma-Cuma kepada masyarakat. Kegiatan ini dihadiri oleh sebanyak 50 orang peserta yang merupakan aparat Kelurahan, Tokoh Masyarakat dan Masyarakat dari Kelurahan Jawa, Kegiatan dilakukan dengan metode ceramah dan diskusi terkait teknis penggunaan bantuan hukum Cuma-Cuma dan prosedur pengajuan bantuan hukum cuma-Cuma pelaksanaan kegiatan menghasilkan pemahaman masyarakat tentang prosedur penyelesaian persoalan pidana dan keperdataan. Berdasarkan monitoring selama kegiatan terhadap problema masyarakat dalam memahami dan mendapatkan layanan bantuan hukum dan konsultasi hukum secara Cuma-Cuma yang dijamin oleh undang-undang dan evaluasi di akhir kegiatan menunjukkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan ini sangat tinggi, rasa keingintahuan serta keberhasilannya dalam menyimak materi yang disampaikan terindikasi pada jawaban-jawaban yang diberikan sangat memuaskan. Sebanyak 5 pertanyaan uraian yang diberikan secara tertulis mampu dijawab oleh ke 50 peserta kegiatan tersebut dan mampu dijawab secara benar.
Strengthening Community Understanding of the Use of Free Legal Aid and Legal Consultation
Abstract
Free legal aid is a right for every citizen which can be used at any time as long as the required provisions can be fulfilled by every citizen, but in reality in society, this right cannot be realized due to a lack of public understanding about the existence of the use of free legal aid and procedures for using free legal assistance for every person in need. Understanding the implementation of free legal aid is the responsibility of the government through various existing institutions, legal aid institutions and educational institutions. Community service activities (PKM) related to the socialization of free legal aid. Community service activities (PKM) related to the socialization and education of the public regarding the use and procedures for the stages of using legal aid and the legal basis for implementing free legal aid to the community. This activity was attended by 50 participants who were Village officials, Community Leaders and the Community from Java Village. The activity was carried out using lecture and discussion methods related to the technicalities of using free legal aid and procedures for applying for free legal aid. Based on monitoring during the activity and evaluation at the end of the activity, it showed that community participation in this activity was very high, their curiosity and success in listening to the material presented was indicated by the answers given which were very satisfying. A total of 5 descriptive questions given in writing were able to be answered by the 50 participants in the activity
Pembentukan Kader RANTING (Pemberdayaan Masyarakat Anti Stunting) sebagai Upaya Penanganan Stunting di Desa Pagersari, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang
Kabupaten Malang menjadi salah satu kabupaten yang memiliki angka prevalensi stunting cukup tinggi dimana pada tahun 2022 yakni berada di angka 23%. Desa Pagersari merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang yang menjadi penyumbang angka stunting tersebut. Dari pendataan rutin di salah satu posyandu dusun Gombong, tercatat ada 6 dari 32 balita yang mengalami stunting. Tujuan dari adanya pemberdayaan dengan membentuk Kader RANTING (Pemberdayaan Masyarakat Anti Stunting) adalah menurunkan angka prevalensi stunting dan menjadi desa tanggap stunting. Metode yang digunakan adalah dengan cara pembentukan kader yang beranggotakan masyarakat di Desa Pagersari. Dari pembentukan Kader RANTING ini, akan berfokus dalam penanganan masalah stunting di Desa Pagersari. Hasil didapati bahwa telah dibentuknya tim stunting yang terdiri dari 25 kader posyandu dan 37 kader remaja bertugas untuk mengawasi permasalahan stunting dan menyosialisasikan permasalahan Stunting dan nantinya akan diberikan pelatihan mengenai Stunting hingga perencanaan menu PMT (Pemberian Makanan Tambahan). Pembentukan Kader Ranting terdiri dari beberapa struktur organisasi yang melibatkan stakeholder terkait. Stakeholder yang terlibat antara lain Bidan Desa Pagersari, Perawat Desa Pagersari, Kepala Sekolah, serta guru SMP Negeri 4 Ngantang Satu Atap yang memiliki peran terhadap perkembangan kader kesehatan balita dan remaja di Desa Pagersari. Dengan adanya pembentukan kader ini, masyarakat Desa Pagersari dapat memahami mengenai permasalahan Stunting dan nantinya kedepannya angka stunting di Desa Pagersari tidak semakin meningkat.
Establishment of RANTING (Anti-Stunting Community Empowerment) Cadre as an Effort to Overcome Stunting in Pagersari Village, Ngantang District, Malang Regency
Abstract
Malang Regency is one of the districts that has a high stunting prevalence rate, which in 2022 will be at 23%. Pagersari Village is one of the villages located in Ngantang Sub-district, Malang Regency which contributes to the stunting rate. From routine data collection at one of the posyandu in Gombong hamlet, it was recorded that 6 out of 32 toddlers were stunted. The purpose of empowerment by forming RANTING (Anti-Stunting Community Empowerment) cadres is to reduce the prevalence of stunting and become a stunting response village. The method used is by forming cadres consisting of community members in Pagersari Village. From the formation of this RANTING Cadre, it will focus on handling stunting problems in Pagersari Village. The results showed that a stunting team consisting of 25 posyandu cadres and 37 youth cadres has been formed to monitor the problem of stunting and socialize the problem of stunting and will later be given training on stunting to planning PMT (Supplementary Feeding) menus. The formation of the Branch Cadre consists of several organizational structures involving related stakeholders. The stakeholders involved include the Pagersari Village Midwife, Pagersari Village Nurse, Principal, and teachers of SMP Negeri 4 Ngantang Satu Atap who have a role in the development of toddler and adolescent health cadres in Pagersari Village. With the formation of this cadre, the people of Pagersari Village can understand the problem of stunting and in the future the stunting rate in Pagersari Village will not increase
Pendampingan Pengembangan Modul Ajar Kurikulum Merdeka Dan Pelaksanaannya di SMP Muhammadiyah 2 Kota Batu
SMP Muhammadiyah 2 Kota Batu sudah melaksanakan Kurikulum Merdeka secara mandiri dengan memilih opsi mandiri belajar yang didampingi Universitas Muhammadiyah Malang. Masalah yang dihadapi adalah belum semua guru matapelajaran dapat mengembangkan modul ajar Kurikulum Merdeka dan belum semua guru matapelajaran terampil melaksanakan pembelajaran berdasarkan Kurikulum Merdeka. Kegiatan ini bertujuan untuk mendampingi guru matapelajaran dalam mengembangkan modul ajar Kurikulum Merdeka dan agar guru terampil melaksanakan pembelajaran berdasarkan Kurikulum Merdeka. Kegiatan ini dilaksanakan dengan mekanisme pelatihan dan pendampingan. Masalah diatasi dengan solusi berupa melalui FGD, dengan menerapkan kurikulum merdeka mandiri belajar dalam mengembangkan modul ajar tanpa membuat silabus dan alur tujuan pembelajaran (ATP) dan semua guru mempraktikkan modul ajar yang sudah dibuat. Kegiatan pengabdian dapat berlangsung sesuai target, ditunjukkan dengan hasil bahwa semua guru dapat mengembangkan modul ajar Kurikulum merdeka dan guru terampil melaksanakan pembelajaran berdasarkan kurikulum merdeka berupa video pembelajaran.
Assistance in the Development of the Independent Curriculum Teaching Module and Its Implementation at SMP Muhammadiyah 2 Batu City
Abstract
SMP Muhammadiyah 2 Batu City has implemented the Independent Curriculum independently by choosing the independent study option accompanied by the University of Muhammadiyah Malang. The problem faced is that not all subject teachers can develop Independent Curriculum teaching modules and not all subject teachers are skilled in implementing learning based on the Independent Curriculum. This activity aims to assist subject teachers in developing Independent Curriculum teaching modules and so that teachers are skilled in implementing learning based on the Independent Curriculum. This activity is carried out with training and mentoring mechanisms. The problem was overcome with a solution in the form of FGD, by implementing an independent independent learning curriculum in developing teaching modules without creating a syllabus and learning objective flow (ATP) and all teachers practicing the teaching modules that had been created. Service activities can take place according to targets, shown by the results that all teachers can develop independent curriculum teaching modules and skilled teachers carry out learning based on the independent curriculum in the form of learning videos
Program Kemitraan Masyarakat: Pelatihan Budidaya Tanaman Obat Keluarga Masyarakat Desa Bengkaung
Pemanfaatan tanaman obat keluarga (TOGA) di lingkungan pekarangan kantor desa menjadi strategi terencana untuk menggabungkan pengetahuan lokal dengan upaya meningkatkan literasi masyarakat tentang tanaman obat di Desa Bengkaung, Kecamatan Batu Layar. penanaman TOGA tidak hanya berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan, tetapi juga memberdayakan masyarakat dalam upaya preventif dan promosi kesehatan yang berkelanjutan. Desa Bengkaung, sebagai daerah kaya sumber daya alam dengan warisan tradisional penggunaan tanaman obat, menunjukkan potensi pendekatan partisipatif efektif dalam meningkatkan kesehatan masyarakat. Dampak negatif yang ditimbulkan oleh penggunaan obat kimia menjadi dasar masyrakat mulai beralih keobat herbal. Budidaya tanaman obat penting keluarga penting untuk dilakukan untuk menjadi benteng pertahanan masyrakat ditengah meningkatnya penyakit yang menyerang imun tubuh. Program kemitraan masyrakat ini dilaksnakan dengan teknik PRA (Participatori Rural Appraisal) dimana dalam pelaksanaannya melibatkan masyarakat sekitar dalam seluruh kegiatan dan stakeholder setempat. Penggunaan teknik ini bertujuan agar masyarakat dapat saling berbagi dan meningkatkan pengetahaun mereka tentang kondisi dan kehidupan masyarakat, membuat rencana dan bertindak. Berdasarkan hasil evaluasi kegiatan setelah penaman selama 1 bulan tanaman obat tumbuh dengan baik. Bukti ini menunjukkan proses pengomposan dan metedo penanaman berjalan sesuai dengan harapan. Literasi masyrakat tentang obat juga meningkat ini tercermin dari rasa ingin tahu dan variasi tanaman obat yang terus bertambah ditaman obat Desa bengkaung.
Community Partnership Program: Training on Cultivating Family Medicinal Plants for the Residents of Bengkaung Village
Abstract
The utilization of family medicinal plants (TOGA) in the village office yard is a planned strategy to combine local knowledge with efforts to enhance community literacy about medicinal plants in Bengkaung Village, Batu Layar District. The cultivation of TOGA not only contributes to environmental sustainability but also empowers the community in sustainable preventive and health promotion efforts. Bengkaung Village, rich in natural resources with a traditional heritage of medicinal plant use, demonstrates the potential of an effective participatory approach to improving public health. The negative impacts of chemical medicines have prompted the community to shift towards herbal remedies. Cultivating essential family medicinal plants is crucial to fortify the community amidst the rise of diseases that compromise immune health. This community partnership program is implemented using the PRA (Participatory Rural Appraisal) technique, involving the local community and stakeholders in all activities. The use of this technique aims to facilitate knowledge sharing among community members about their conditions and lifestyles, enabling them to plan and take action. Based on the activity evaluation results, one month after planting, the medicinal plants have grown well. This evidence indicates that the composting process and planting methods met expectations. Community literacy about medicinal plants has also increased, as reflected in the growing curiosity and variety of medicinal plants in Bengkaung Village's medicinal garden
Pelatihan Pembuatan Surat Menyurat Menggunakan Mail Merge Untuk Efektifitas Kinerja Administrasi
Aplikasi atau program Mail Merge telah banyak digunakan untuk mengerjakan dokumen atau laporan, terutama dalam bidang administrasi. Fitur ini mempermudah pembuatan dokumen seperti surat, sertifikat, amplop, dan dokumen serupa dengan sedikit perbedaan data (misalnya nama atau alamat) yang dapat diintegrasikan melalui database organisasi. Metode pelatihan melibatkan beberapa tahapan: Analisis Awal, Koordinasi, Persiapan, Pelaksanaan, dan Evaluasi. Hasil dari kegiatan pengabdian masyarakat di KB PAUD Permata Bangsa Mataram menunjukkan peningkatan pemahaman yang signifikan. Berdasarkan pre-test, hanya 14% peserta yang memahami cara kerja Mail Merge. Setelah pelatihan, post-test menunjukkan peningkatan hingga 97%. Seluruh peserta (100%) menyatakan bahwa mereka mampu menggunakan Mail Merge untuk membuat dan memperbanyak dokumen administratif. Dengan demikian, pelatihan ini terbukti efektif dalam meningkatkan keterampilan administrasi peserta, mempercepat waktu pengerjaan dokumen, dan meningkatkan efisiensi kerja.
Training on Correspondence Using Mail Merge for Administrative Work Efficiency
Abstract
The Mail Merge application or program has been widely used for working on documents or reports, especially in the field of administration. This feature simplifies the creation of documents such as letters, certificates, envelopes, and similar documents with slight differences in data (such as names or addresses), which can be integrated through the organization’s database. The training method involves several stages: Initial Analysis, Coordination, Preparation, Implementation, and Evaluation. The results of the community service activity at KB PAUD Permata Bangsa Mataram showed a significant increase in understanding. Based on the pre-test, only 14% of participants understood how Mail Merge works. After the training, the post-test showed an increase to 97%. All participants (100%) reported that they were able to use Mail Merge to create and reproduce administrative documents. Therefore, this training was proven effective in enhancing participants' administrative skills, speeding up document processing time, and improving work efficiency
Implementasi Global Think Local Act Pada Wisata Kesehatan Tradisional Bali Husada Melalui Pemanfaatan Online Social Media
Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat dengan mitra Tanah Hyang Healing Centre bertujuan untuk mengatasi masalah yang dihadapi khususnya kurangnya akses promosi melalui media online dan prasarana pendukung sebagai implementasi konsep "Global Think Local Act." Program ini berfokus pada menguraikan masalah yang dihadapi Tanah Hyang Healing Centre dengan memanfaatkan media sosial online. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah sosialisasi berbasis partisipatif peserta. Metode ini melibatkan masyarakat secara langsung dalam setiap tahap, mulai dari pemetaan masalah hingga implementasi. Masyarakat tidak hanya berperan sebagai penerima informasi, tetapi juga sebagai mitra aktif yang ikut dalam diskusi dan pemberian umpan balik. Setelah pelaksanaan program pengabdian, terjadi peningkatan dalam pemahaman pemanfaatan sosial media, yang diukur melalui hasil post-test. Rata-rata skor hasil post-test untuk tingkat pemahaman mitra Tanah Hyang Healing Centre tentang penggunaan media sosial untuk promosi adalah 3,64 yang berarti bahwa setelah adanya sosialisasi dan pendampingan dari tim pengabdian masyarakat, pengelola dan staf Tanah Hyang Healing Centre telah memahami cara memanfaatkan media sosial untuk promosi. Hal ini menunjukkan efektivitas sosialisasi dalam meningkatkan pemahaman anggota tim, yang sebelumnya terbatas. Hasil dari kegiatan PKM ini menunjukkan peningkatan kapasitas peserta sosialisasi dalam mengelola sosial media untuk usaha yang dimiliki. Tanah Hyang Healing Centre diharapkan dapat memiliki posisi yang lebih kuat sebagai destinasi wisata kesehatan yang unggul, dengan model pemberdayaan yang dapat direplikasi di berbagai tempat lain.
Implementation of Global Think Local Act in Bali Husada Traditional Health Tourism Through the Utilization of Online Social Media
Abstract
Community Partnership Empowerment with partner Tanah Hyang Healing Center aims to overcome the problems faced, especially the lack of access to promotion through online media and supporting infrastructure as an implementation of the concept of “Global Think Local Act.” This program focuses on outlining the problems faced by Tanah Hyang Healing Centre by utilizing online social media. The method used in this activity is participatory participant-based socialization. This method involves the community directly in every stage, from problem mapping to implementation. The community not only acts as recipients of information, but also as active partners who participate in discussions and provide feedback. After the implementation of the service program, there was an increase in the understanding of the use of social media, as measured by the post-test results. The average score of the post-test results for the level of understanding of Tanah Hyang Healing Centre partners about the use of social media for promotion is 3.64, which means that after socialization and assistance from the community service team, managers and staff of Tanah Hyang Healing Centre have understood how to use social media for promotion. This shows the effectiveness of socialization in increasing the understanding of team members, which was previously limited. The results of this PKM activity show an increase in the capacity of socialization participants in managing social media for their businesses. Tanah Hyang Healing Center is expected to have a stronger position as a superior health tourism destination, with an empowerment model that can be replicated in various other places