Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Not a member yet
    529 research outputs found

    Pemberdayaan Badan Usaha Milik Desa Dauh Puri Kangin Dalam Rangka Meningkatkan Ketahanan Ekonomi Masyarakat

    No full text
    Pengabdian ini bertujuan untuk memberdayakan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Dauh Puri Kangin guna meningkatkan ketahanan ekonomi masyarakat setempat. Permasalahan yang dihadapi adalah keterbatasan dalam pemasaran produk, kurangnya diversifikasi usaha, dan rendahnya pemanfaatan teknologi dalam operasional BUMDes. Pendekatan yang digunakan meliputi evaluasi produk, pelatihan strategi pemasaran, dan pengenalan platform e-commerce untuk meningkatkan akses pasar. Metode pelaksanaan melibatkan observasi lapangan, wawancara, serta pelatihan dan pendampingan intensif bagi anggota BUMDes. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan pemasaran dan operasional BUMDes, hal ini dibuktikan melalui hasil kuesioner yang menunjukkan peningkatan skor rata-rata pengetahuan anggota dari 3,2 menjadi 4,5.  Selain itu, keterampilan teknis seperti penggunaan platform e-commerce dan media sosial juga meningkat, dengan lebih dari 80% anggota mampu mengoperasikan akun Shopee dan membuat konten pemasaran yang menarik. Pemberdayaan BUMDes melalui pendekatan terpadu dan pemanfaatan teknologi dapat secara efektif meningkatkan ketahanan ekonomi masyarakat desa. Program ini juga berhasil menciptakan model best practice yang dapat diadopsi oleh BUMDes lainnya dalam upaya meningkatkan kesejahteraan ekonomi lokal. Dengan demikian, pengabdian ini tidak hanya memberikan solusi praktis terhadap permasalahan yang dihadapi BUMDes Dauh Puri Kangin, tetapi juga memberikan kontribusi penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) khususnya dalam aspek ekonomi dan inovasi industri. Empowering Village-Owned Enterprises of Dauh Puri Kangin to Enhance Community Economic Resilience Abstract This community service aims to empower the Village-Owned Enterprise (BUMDes) of Dauh Puri Kangin to enhance the economic resilience of the local community. The issues faced include limitations in product marketing, lack of business diversification, and low utilization of technology in BUMDes operations. The approach involves product evaluation, marketing strategy training, and the introduction of e-commerce platforms to improve market access. The implementation methods involve field observations, interviews, as well as intensive training and mentoring for BUMDes members. The results of this activity show a significant improvement in the marketing and operational capabilities of BUMDes, as evidenced by questionnaire results indicating an increase in the average knowledge score of members from 3.2 to 4.5. Additionally, technical skills such as the use of e-commerce platforms and social media have also improved, with over 80% of members able to operate a Shopee account and create engaging marketing content. Empowering BUMDes through an integrated approach and technology can effectively enhance the economic resilience of the village community. This program has also successfully created a best practice model that other BUMDes can adopt in efforts to improve local economic welfare. Therefore, this community service not only provides practical solutions to the problems faced by BUMDes Dauh Puri Kangin but also makes a significant contribution to the development of science and technology and the achievement of Sustainable Development Goals (SDGs), particularly in the aspects of economy and industrial innovation

    Pelatihan Manajemen Sitasi (Penggunaan Mendeley) Dalam Meningkatkan Keterampilan Menulis Karya Ilmiah Bagi Mahasiswa Tingkat Akhir

    No full text
    Informasi digital yang berkembang pesat, menjadi tuntutan efisiensi dalam pengelolaan literatur dan sitasi menjadi penting dalam dunia akademis. Mendeley, sebagai platform manajemen referensi dan sitasi, memberikan fasilitas penyimpanan, pengaturan referensi, serta kemudahan membuat sitasi dan daftar pustaka. Kelebihannya termasuk kemampuan sinkronisasi referensi di berbagai perangkat, plugin untuk pengolah kata, statistik literatur, identifikasi tren penelitian, dan kolaborasi antar peneliti. Dosen dan mahasiswa dituntut untuk mengikuti perkembangan sains teknologi dalam revolusi industri 4.0, di mana aplikasi seperti Mendeley menjadi keterampilan penting untuk menavigasi dunia literatur secara efektif. Perubahan signifikan terjadi dalam dunia pendidikan, di mana teknologi informasi telah menggantikan metode manual dalam penulisan daftar pustaka dan kutipan. Tujuan kegiatan pengabdian ini meningkatkan keterampilan mahasiswa Tingkat akhir pada Program Studi Di luar Kampus Utama (PSDKU) Tojo Una-Una Universitas Tadulako dalam menggunakan software Mendeley. Tahapan pelaksanaan kegiatan pengabdian ini dimulai dari koordinasi pada mitra pengabdian, kemudian mengatur jadwal pengabdian selanjutnya dilaksanakan pelatihan pada mitra sasaran. Kegiatan dihadiri 108 peserta mahasiswa yang terdiri dari 3 Program Studi, yaitu Prodi Manajemen, prodi Teknik Sipil dan Prodi Agroteknologi. Antusias peserta dalam mengikuti kegiatan ini sangat besar karena menambah wawasan baru tentang membuat karya tulis ilmiah lebih mudah. Hasil evaluasi menunjukkan kategori sangat paham sebesar 86%, sedangkan kategori paham sebesar 14%, serta cukup paham sebesar 5%. Hal ini menunjukkan bahwa persentase keterampilan peserta setelah diberikan pelatihan terjadi peningkatan. Hal tersebut sebagai acuan bahwa pelatihan ini dapat meningkatkan keterampilan peserta dalam menulis karya ilmiah bagi mahasiswa tingkat akhir. Citation Management Training (Use of Mendeley) In Improving Scientific Paper Writing Skills For Final Level Students Abstract Rapidly growing digital information, demands for efficiency in literature management and citations are important in the academic world. Mendeley, as a reference and citation management platform, provides storage facilities, reference organization, and ease of creating citations and bibliographies. Its advantages include the ability to synchronize references across devices, plugins for word processing, literature statistics, identification of research trends, and collaboration between researchers. Lecturers and students must follow the development of science and technology in the Industrial Revolution 4.0, where applications such as Mendeley become important skills to navigate the world of literature effectively. Significant changes have occurred in education, where information technology has replaced manual methods in writing bibliographies and citations. The purpose of this community service activity is to improve the skills of final-year students in the Off-Campus Study Program (PSDKU) Tojo Una-Una, Tadulako University using Mendeley software. The stages of implementing this community service activity start from coordinating with community service partners, then arranging a community service schedule, and then carrying out training for target partners. The activity was attended by 108 student participants consisting of 3 Study Programs, namely the Management Study Program, Civil Engineering Study Program, and Agrotechnology Study Program. The enthusiasm of the participants in participating in this activity was very great because it added new insights about making scientific papers easier. The evaluation results showed a very understanding category of 86%, while the understanding category was 14%, and quite understanding was 5%. This indicates that the percentage of participant skills after being given training has increased. This is a reference that this training can improve participant skills in writing scientific papers for final-year students

    Peningkatan Pengetahuan Masyarakat Desa Barengkarajan, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo Dalam Implementasi PHBS Dalam Program Percepatan ODF (Open Devecation Free) Melalui Pemberdayaan Masyarakat Mewujudkan Pencegahan Penyakit Menular Tahun 2024

    No full text
    Sarana prasarana pembuangan tinja harus dimiliki setiap rumah, dari data kejadian diare pada balita Desa Barengkrajan, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo dari tahun 2020 sampai 2022 terjadi peningkatan. Jumlah kasus di tahun 2020 ada 1.147 kasus, tahun 2021 terdapat 1.164 kasus, terjadi peningkatan 43 kasus pada tahun 2022 jadi total kasus diare sebanyak 1.207. Berdasarkan survei di rumah penduduk jarak air bersih dengan sumber pencemar kurang dari 10 meter, masih banyak keluarga yang tidak memiliki jamban keluarga. Buang air besar bagi warga yang tidak memiliki jamban dilakukan di sembarang tempat. Faktor perilaku orangtua memiliki peran penting meningkatnya kasus diare. Faktor perilaku dipengerahi pengetahuan ibu rumah tangga yang masih rendah, sehingga sikap dan tindakan dalam penerapan perilaku hidup bersih dan sehat juga rendah.  Pengabdian masyarakat dilakukan di Desa Barengkrajan, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo. Peserta pengabdian masyarakat adalah masyarakat yang tidak memiliki jamban dan masuk dalam kategori PJBS yang buruk, dengan jumlah 25 orang. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah penyuluhan dan sosialisasi peningkatan pengetahuan PHBS, melakukan monitoring dan choaching dalam mengimplementasikan PHBS terutama kepemilikan jamban keluarga. Waktu pengabdian masyarakat dilaksanakan bulan Maret - Oktober 2024. Hasil evaluasi pretest dan posttest menunjukkan peningkatan pengetahuan masyarakat tentang PHBS dan penggunaan jamban sehat. Nilai rata-rata pretest adalah 41,75, sementara nilai posttest meningkat menjadi 75. Monitoring dan Coaching menunjukkan bahwa masyarakat yang telah menerima bantuan lebih aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan dan menggunakan jamban sehat. Program ini didukung oleh tenaga puskesmas dan kader kesehatan yang terus memberikan pendampingan. Secara keseluruhan, program PKM ini berhasil meningkatkan kesadaran dan perilaku hidup bersih dan sehat di Desa Barengkrajan, serta menurunkan angka kejadian diare pada balita. Program ini diharapkan dapat menjadi model bagi desa-desa lain dalam upaya meningkatkan sanitasi dan kesehatan masyarakat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memberikan kontribusi Poltekkes Kemenkes Surabaya dalam program percepatan ODF melalui pembangunan jamban sehat dan peningkatan pengetahuan masyarakat tentang jamban dan pengaruhnya bagi kesehatan manusia. Enhancing Community Knowledge in Barengkarajan Village, Krian Subdistrict, Sidoarjo Regency on PHBS Implementation in the Accelerated ODF (Open Defecation Free) Program through Community Empowerment to Achieve Infectious Disease Prevention in 2024 Abstract Every house must have faecal disposal facilities, according to data on the incidence of diarrhea among toddlers in Barengkrajan Village, Krian District, Sidoarjo Regency from 2020 to 2022 there has been an increase. The number of cases in 2020 was 1,147 cases, in 2021 there were 1,164 cases, there was an increase of 43 cases in 2022 so the total number of diarrhea cases was 1,207. Based on surveys in people's homes, the distance between clean water and sources of pollution is less than 10 meters, there are still many families who do not have a family toilet. Residents who do not have toilets defecate in any place. Parental behavioral factors play an important role in increasing cases of diarrhea. Behavioral factors are influenced by housewives' low knowledge, so attitudes and actions in implementing clean and healthy living behavior are also low. Community service is carried out in Barengkrajan Village, Krian District, Sidoarjo Regency. Community service participants are people who do not have toilets and are included in the poor PJBS category, with a total of 25 people. The methods used in this activity are counseling and socialization to increase PHBS knowledge, monitoring and coaching in implementing PHBS, especially family toilet ownership. The community service period will be carried out in March - October 2024. The results of the pretest and posttest evaluation showed an increase in community knowledge about PHBS and the use of healthy latrines. The average pretest score was 41.75, while the posttest score increased to 75. Monitoring and Coaching showed that people who had received assistance were more active in maintaining environmental cleanliness and using healthy latrines. This program is supported by community health center staff and health cadres who continue to provide assistance. Overall, the PKM program has succeeded in increasing awareness and clean and healthy living behavior in Barengkrajan Village, as well as reducing the incidence of diarrhea in toddlers. It is hoped that this program can become a model for other villages in efforts to improve sanitation and public health. This community service activity aims to contribute to the Surabaya Ministry of Health's Health Polytechnic in the ODF acceleration program through the construction of healthy latrines and increasing public knowledge about latrines and their impact on human health

    Perhitungan Harga Pokok Produksi Pada Umkm Kerupuk Kuin Utara Untuk Meningkatkan Keberlanjutan Usaha Masyarakat

    No full text
    Program Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk membantu meningkatkan keberlanjutan usaha UMKM Kerupuk di Kuin Utara, Banjarmasin, dengan fokus pada pelatihan perhitungan harga pokok produksi (HPP). Pelatihan Perhitungan Harga Pokok Produksi telah banyak dilaksanakan untuk membantu para pelaku usaha dalam menentukan HPP secara akurat, yang kerap menyebabkan penetapan harga jual yang kurang tepat. Namun, tidak banyak pelatihan yang menyediakan evaluasi berbasis pre-test dan post-test, memberikan simulasi dalam pelatihan, menggunakan metode Participatory Action Research, serta menekankan pentingnya keberlanjutan usaha karena dapat mempengaruhi daya saing mereka. Pendekatan yang digunakan pada PkM ini ialah Participatory Action Research (PAR). Pendekatan ini berorientasi pada pemberdayaan yang mengupayakan pemenuhan kebutuhan dan penyelesaian masalah praktis, pengembangan ilmu pengetahuan, dan proses perubahan sosial. Sedangkan, metode pelatihan yang digunakan mencakup penyampaian materi, diskusi kelompok, studi kasus, dan simulasi perhitungan HPP. Tim pelaksana PkM mengukur peningkatan ini melalui serangkaian tes dan observasi langsung selama proses pendampingan. Enam kelompok UMKM (12 orang) berpartisipasi dalam kegiatan ini. Sebelum pelatihan dimulai, hasil pre-test menunjukkan bahwa hanya 17% peserta yang memiliki pemahaman dasar tentang konsep HPP dan cara menghitungnya. Setelah pelatihan, evaluasi menunjukkan perubahan yang signifikan, di mana 83% peserta berhasil memahami dan menerapkan konsep HPP dengan lebih baik. Lebih dari 80% peserta kini lebih percaya diri dalam mengelola keuangan usaha mereka sehari-hari. Hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa dengan penerapan konsep HPP yang benar, efisiensi operasional dan keberlanjutan usaha UMKM dapat meningkat. Tim pelaksana PkM berharap hasil ini dapat menjadi acuan bagi program serupa di masa mendatang, sekaligus mendorong para pelaku UMKM lainnya untuk terus belajar dan berkembang untuk keberlanjutan usaha masyarakat. Cost of Production Calculation at the Kuin Utara Cracker Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) to Improve Community Business Sustainability Abstract This Community Service Program aims to help improve the sustainability of MSME Cracker businesses in Kuin Utara, Banjarmasin, with a focus on training for calculating the cost of production (COP). This training was conducted in response to the difficulties often faced by business actors in accurately determining the COP, which frequently leads to inaccurate selling prices and can affect their competitiveness. The approach used in this Community Service Program is Participatory Action Research (PAR). This approach is oriented towards empowerment that strives to meet needs, solve practical problems, develop knowledge, and promote social change. The training methods we used include material delivery, group discussions, case studies, and COP calculation simulations. Six MSME business actors participated in this activity. Before the training began, pre-test results showed that only 17% of participants had a basic understanding of the COP concept and how to calculate it. After the training, evaluations showed a significant improvement, with 83% of participants successfully understanding and applying the COP concept better. We measured this improvement through a series of tests and direct observations during the mentoring process. The results of this activity show that with the correct application of the COP concept, the operational efficiency and sustainability of MSME businesses can increase. More than 80% of participants are now more confident in managing their business finances on a daily basis. We hope that these results can serve as a reference for similar programs in the future, while also encouraging other MSME actors to continue learning and developing for community business sustainability

    Membangun Kesadaran Masyarakat tentang Penggunaan Obat Analgesik melalui Edukasi Berbasis Leaflet dan Media Sosial

    No full text
    Swamedikasi atau pengobatan mandiri, sering dilakukan oleh masyarakat untuk mengatasi penyakit dengan gejala ringan hingga sedang menggunakan obat yang dapat dibeli tanpa resep dokter. Namun, kurangnya pengetahuan tentang penggunaan obat yang tepat dapat menimbulkan risiko kesehatan. Pengabdian menyoroti pentingnya edukasi kesehatan dalam meningkatkan pemahaman masyarakat tentang penggunaan analgesik yang aman dan rasional. Edukasi yang efektif dapat mengurangi risiko efek samping dan kesalahan penggunaan obat, serta meningkatkan kualitas pelayanan apotek. Pengabdian ini bertujuan untuk memberikan pengaruh edukasi terhadap pengetahuan masyarakat mengenai penggunaan analgesik dalam swamedikasi di Kecamatan Slahung, Ponorogo. Pengabdian dilakukan dengan participant education dan observasional yang dilakukan kepada responden yaitu Masyarakat Slahung, yang diambil sebagai subjek pengabdian. Metode yang digunakan adalah deskriptif. Subjek dalam pengabdian ini adalah pasien yang melakukan swamedikasi dan memenuhi kriteria inklusi. Tempat pengabdian berada di Apotek Wilayah Slahung Ponorogo. Waktu pengabdian dilaksanakan pada bulan Maret 2024. Hasil dari pengabdian ini menunjukkan bahwa perolehan rata-rata dari nilai pre test responden sebesar 62,37% sedangkan rata-rata nilai Post test responden sebesar 84,88%, pada nilai rata-rata pre test dan post test tersebut mengalami peningkatan sebesar 22,51% dari sebelum edukasi dan sesudah edukasi. Sedangkan hasil dari nilai N-Gain sebesar 0,57 masuk kategori sedang, hal ini menunjukkan bahwa edukasi dengan menggunakan leaflet dan media social mempunyai pengarug sedang terhadap peningkatan pengetahuan responden. Building Public Awareness About the Use of Analgesic Drugs Through Leaflet-Based Education and Social Media Abstract Self-medication or self-medication is often done by people to treat illnesses with mild to moderate symptoms using drugs that can be purchased without a doctor's prescription. However, lack of knowledge about proper use of medication can pose health risks. The service highlights the importance of health education in increasing public understanding about the safe and rational use of analgesics. Effective education can reduce the risk of side effects and medication errors, as well as improve the quality of pharmacy services. This service aims to provide an educational influence on public knowledge regarding the use of analgesics in self-medication in Slahung District, Ponorogo. Service was carried out with participant education and observation carried out on respondents, namely the Slahung Community, which was taken as the subject of service. The method used is descriptive. The subjects in this service are patients who carry out self-medication and meet the inclusion criteria. The place of service is at the Slahung Ponorogo Regional Pharmacy. The time of service was carried out in March 2024. The results of this service showed that the average score of respondents' pre-test was 62.37%, while the average post-test score of respondents was 84.88%, the average score of pre-test and The post test experienced an increase of 22.51% from before education and after education. Meanwhile, the results of the N-Gain value of 0.57 are in the medium category, this shows that education using leaflets and social media has a moderate effect on increasing respondents' knowledge

    Aksi Lingkungan: Praktek Membuat Ecobrick di Sekolah Dasar

    No full text
    Kegiatan "Aksi Lingkungan: Praktek Membuat Ecobrick di Sekolah Dasar" adalah inisiatif edukatif yang dirancang untuk meningkatkan kesadaran lingkungan di kalangan siswa Sekolah Dasar, khususnya kelas 2. Melalui kegiatan ini, siswa diperkenalkan pada konsep ecobrick sebagai solusi inovatif dalam pengelolaan sampah plastik. Kegiatan ini melibatkan 26 siswa, yang tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung dalam membuat ecobrick dari sampah plastik yang mereka kumpulkan. Proses ini mencakup pengenalan konsep, demonstrasi pembuatan, dan sesi praktek kelompok. Selain itu, terdapat 2 guru pendamping yang berperan aktif dalam membimbing siswa selama proses pembuatan, serta memastikan setiap siswa memahami dan menguasai teknik yang diajarkan. Tujuan utama kegiatan ini adalah membekali siswa dengan keterampilan praktis dalam mendaur ulang plastik, meningkatkan pemahaman mereka tentang dampak negatif sampah plastik, serta mendorong sikap proaktif dalam menjaga kebersihan lingkungan. Setelah sesi edukasi dan praktek pembuatan ecobrick, hasil post-test menunjukkan peningkatan yang sangat mencolok, yaitu sekitar 85% siswa dapat menjawab dengan benar tentang langkah-langkah pembuatan ecobrick dan 90% memahami manfaat ecobrick bagi lingkungan. Peningkatan ini tidak hanya mencerminkan pemahaman yang lebih baik terhadap materi yang diajarkan, tetapi juga menunjukkan efektivitas metode pembelajaran yang diterapkan dalam kegiatan ini. Environmental Action: Ecobrick Making Practice in Elementary School Abstract The "Environmental Action: Ecobrick Making Practice in Elementary School" activity is an educational initiative designed to raise environmental awareness among elementary school students, especially grade 2. Through this activity, students are introduced to the concept of ecobricks as an innovative solution in managing plastic waste. This activity involves 26 students, who not only learn the theory, but also gain hands-on experience in making ecobricks from the plastic waste they collect. This process includes an introduction to the concept, a demonstration of making, and a group practice session. In addition, there are 2 accompanying teachers who play an active role in guiding students during the making process, as well as ensuring that each student understands and masters the techniques taught. The main objectives of this activity are to equip students with practical skills in recycling plastic, increase their understanding of the negative impacts of plastic waste, and encourage a proactive attitude in maintaining environmental cleanliness. After the educational session and practice of making ecobricks, the post-test results showed a very striking increase, namely around 85% of students were able to answer correctly about the steps for making ecobricks and 90% understood the benefits of ecobricks for the environment. This improvement not only reflects a better understanding of the material taught, but also shows the effectiveness of the learning methods applied in this activity

    Sosialisasi dan Pelatihan Pemanfaatan Limbah Pertanian Sebagai ECO Enzyme Sebagai Upaya Mendukung Pertanian Berkelanjutan

    No full text
    Limbah pertanian merupakan sisa hasil kegiatan pertanian yang dimulai dari proses produksi hingga panen. Pentingnya penanganan dan pengelolaan limbah di dasari atas sistem pertanian berkelanjutan sehingga dapat menghemat biaya produksi dan menjaga kelestarian lingkungan. Salah satu cara pengelolaan limbah pertanian adalah dengan pembuatan eco enzyme. Tujuan pengabdian kepada masyarakat ini yaitu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam mengolah limbah pertanian menjadi produk tepat guna yaitu eco enzyme. Pengabdian kepada masyarakat ini dibagi dalam beberapa tahap yaitu survey, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Pada tahap survey dilakukan pengumpulan data, identifikasi permasalahan dan diskusi dengan mitra untuk menyesuaikan kebutuhan mitra serta berkoordinasi mengenai potensi yang dapat dikembangkan. Tahap perencanaan dilakukan untuk persiapan materi serta koordinasi dengan mitra mengenai waktu dan tempat pelaksanaan serta bahan yang perlu dipersiapkan. Tahap pelaksanaan dibagi menjadi sosialisasi dan pelatihan. Sosialisasi dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan peserta mengenai eco enzyme. Pelatihan berguna untuk memberi pengalaman langsung mengenai pembuatan eco enzyme. Hasil evaluasi menunjukan adanya peningkatan tingkat pengetahuan peserta sebesar 72% setelah dilakukannya sosialisasi. Hasil kuisioner evaluasi kegiatan menunjukan semua peserta menyatakan bahwa kegiatan ini telah sesuai kebutuhan (100%), memiliki kebermanfaatan yang tinggi (100%) dan peserta merasa puas selama kegiatan berlangsung (100%). Minat penggunaan eco enzyme setelah sosialisasi dan pelatihan mengalami peningkatan dari 80% peserta menjadi 100% peserta. Diharapkan adanya peningkatan pengelolaan limbah pertanian di kebun Oibama untuk mendukung sistem pertanian berkelanjutan dari segi penggunaan bahan organik pada proses budidaya dan menjaga kelestarian lingkungan. SOCIALIZATION AND TRAINING OF AGRICULTURAL WASTE AS ECO ENZYME TO SUPPORT SUSTAINABLE AGRICULTURE Abstract Agricultural waste is the remaining results of agricultural activities starting from the production process to harvest. The importance of handling and managing waste is based on a sustainable farming system to save production costs and maintain environmental sustainability. One way to manage agrarian waste is by making eco enzymes. The objective of this community service initiative is to enhance the expertise and proficiency of farmers in the conversion of agricultural waste into suitable products, specifically eco enzymes. This community service is divided into several stages, namely survey, planning, implementation, and evaluation. During the survey stage, data is gathered, problems are identified, and discussions are held with partners to align their needs and collaborate on potential development opportunities The planning phase involves preparing materials and coordinating with partners about the timing and location of implementation, as well as the necessary materials. The implementation stage is divided into socialization and training. Socialization is carried out to increase participants' knowledge about eco enzymes. Training is beneficial for gaining hands-on experience in producing eco enzymes. The assessment findings demonstrated a 72% increase in participant knowledge levels following the socialization activity. The results of the activity evaluation questionnaire showed that all participants stated that this activity was by their needs (100%), had high benefits (100%) and participants were satisfied during the activity (100%). After the process of socialization and training, the percentage of participants expressing interest in utilizing eco enzyme rose from 80% to 100%. The expectation is for an enhancement in the handling of agricultural waste within the Oibama garden, to promote a sustainable approach to farming through the utilization of organic materials in the cultivation process and the maintenance of environmental sustainability

    Implementasi Flavoured Liquid Syrup Maker (FLASER) sebagai Upaya Pemanfaatan Buah Salak menjadi Flavoured Liquid Syrup di Kecamatan Padangsidimpuan Utara

    No full text
    Pengabdian ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat desa dalam penerapan teknologi pengolahan buah salak menjadi sirup cair yang hasilnya dapat dikemas dengan baik sehingga memiliki daya saing di pasar. Tim pengabdian memberikan Solusi dengan mendesain dan membuat luaran dalam bentuk teknologi tepat guna ‘Mesin FLASER” yang bisa membantu mitra dan petani salak membuat produk olahan sirup dari buah salak. Mitra pengabdian ini adalah Pemuda Tani Cabang Kota Padang Sidimpuan. Hasil pengabdian ini memberikan peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani salak Bersama pemuda tani untuk mengolah buah salak menjadi sirup dengan komposisi bahan baku dan bahan tambahan yang ideal menggunakan mesin FLASER. Berdasarkan kegiatan yang dilakukan, terdapat perbedaan rata – rata secara sginifikan sebelum dan sesudah dilakukan pelatuhan Flaser dengan nilai t hitung sebesar 12,093. Artinya terjadi peningkatan pemahaman peserta setelah mengikuti pelatihan Flaser sebelum dan sesudah dilakukan pendampingan. Skor mean pre-test peserta pelatihan sebesar 41,68 dan setelah diberi materi pelatihan Flaser skor mean post-test meningkat menjadi 75,6 sehingga peningkatan sebelum dan sesudah pelatihan sebesar 81,38%. Berdasarkan survey kepuasan peserta PKM didapatkan bahwa nilai capaian rata - rata peserta sebesar 92%. Peserta mengakui bahwa seluruh materi yang disampaikan oleh tim dosen bermanfaat bagi masyarakat, dan mereka mendukung apabila kegiatan pelatihan teknis ini ditindaklanjuti dengan bimbingan teknis secara berkala. Implementation of Flavored Liquid Syrup Maker (FLASER) as an Effort to Utilize Salak Fruit into Flavored Liquid Syrup in Padangsidimpuan Utara District Abstract This service aims to empower village communities in the application of salak fruit processing technology into liquid syrup whose results can be packaged properly so that they have competitiveness in the market. The service team provides solutions by designing and making outputs in the form of appropriate technology “FLASER Machine” which can help partners and salak farmers make processed syrup products from salak fruit. This service partner is the Youth Tani Branch of Padang Sidimpuan City. The results of this service provide an increase in knowledge and skills of salak farmers together with farmer youth to process salak fruit into syrup with the ideal composition of raw materials and additives using the FLASER machine. Based on the activities carried out, there is a significant average difference before and after the Flaser training with a t value of 12,093. This means that there is an increase in the understanding of participants after attending Flaser training before and after assistance. The mean score of the pre-test of the trainees was 41.68 and after being given the Flaser training material, the mean score of the post-test increased to 75.6, so the increase before and after training was 81.38%. Based on the satisfaction survey of PKM participants, it was found that the average achievement value of participants was 92%. Participants recognized that all the material presented by the lecturer team was useful for the community, and they supported if this technical training activity was followed up with regular technical guidance

    Inovasi Kemasan Saset untuk Meningkatkan Penjualan Produk Cabai Hiyung di Kelompok Tani Karya Baru

    No full text
    Karya Baru merupakan kelompok tani di desa Hiyung tapin yang bergerang dalam budidaya cabai Hiyung dan pengolahan produk turunananya. Kelompok tani ini mengelola sekitar 450 ha lahan pertanian cabai Hiyung dan telah menghasilkan berbagai produk turunan yang dijual secara komersil seperti benih, cabai kering, saos dan aneka jenis sambal. Cabai Hiyung merupakan komoditi unggulan di Kabupaten Tapin yang memiliki tingkat kepedasan 17 kali lebih pedas dari cabai pada umumnya. Namun demikian kelompok tani Karya Baru menghadapi tantangan dalam proses pemasarannya. Produk yang saat ini dijual dalam kemasan botol ukuran 100mL belum mampu menjangkau pasar yang luas terutama untuk kalangan konsumen yang baru ingin mencoba dan ibu rumah tangga yang menginginkan ukuran yang ekonomis. PkM ini dilakukan melalui serangkaian kegiatan yang terdiri dari survey awal, sosialisasi, pelatihan dan penerapan teknologi serta pendampingan dan evaluasi. Seluruh peserta telah menghasilkan desain kemasan saset untuk produk sambal. Seluruh peserta juga telah mampu menerima proses alih teknologi yang tercermin dari kemapuan dalam mengoperasikan mesin pengemas saset otomatis. Hasil penerapan PkM ini telah mampu meningkatkan 53.11% penjualan produk sambal di kelompok tani Karya Baru pada periode Juli-Agustus 2024. Innovative Saset Packaging to Enhance Sales of Hiyung Chili Products from Karya Baru Farmers Group Abstract Karya Baru is a farmer group in Hiyung Tapin village that cultivates Hiyung chili and processes its derivative products. This farmer group manages around 450 ha of Hiyung chili farming land. It has produced various derivative products sold commercially, such as seeds, dried chili, sauce and various types of chili sauce. Hiyung chili is a superior commodity in Tapin Regency, exhibiting a spiciness intensity 17 times more than typical chili. However, the Karya Baru farmer group faces challenges in its marketing process. The product, presently available in 100mL bottles, has not attained a broad market presence, particularly among consumers experiencing it for the first time and homemakers seeking an economical size. This PkM was carried out through a series of activities consisting of an initial survey, socialization, training and application of technology, mentoring, and evaluation. Training has been conducted, and a packaging design for chili sauce items has been created. In addition, technology transfer has been carried out using an automatic sachet packaging machine. Training has been conducted on utilizing the Shopee e-commerce platform for sales and Instagram for product promotion. Implementing PkM has increased chili sauce product sales in the Karya Baru farmer group

    Hilirisasi Prototype Diversifikasi Pangan Fungsional Berbasis Koro Lokal dalam Upaya Pengembangan Produk Pangan Sehat Dan Ekonomi Hijau di Sumenep

    No full text
    Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan hilirisasi prototipe diversifikasi pangan fungsional berbasis kacang koro lokal dalam rangka pengembangan produk pangan sehat dan ekonomi hijau di Sumenep. Program ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan Triple Helix yang melibatkan tiga komponen utama: Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai pemegang inovasi, Kemendikbudristek sebagai pemberi dana, dan mitra industri rumah tangga (IRT) di Sumenep, yaitu CV Bunga Anggrek dan CV Akancatani, sebagai penerima manfaat utama. Sinergi antara akademisi, pemerintah, dan industri ini bertujuan untuk mendorong inovasi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan ekonomi hijau. Kegiatan hilirisasi ini dilakukan melalui Focus Group Discussion (FGD), sosialisasi, dan pendampingan intensif oleh tim UMM kepada mitra IRT, dengan fokus pada peningkatan kualitas dan kuantitas produk berbasis koro. Selain itu, pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Grujugan, Sumenep, turut memperkuat upaya ini dengan program kerja yang mengembangkan potensi desa dan memperluas akses pasar produk koro. Secara keseluruhan, kegiatan ini tidak hanya mendukung keberlanjutan usaha IRT berbasis koro, tetapi juga memperkuat daya saing produk di pasar yang lebih luas, mendukung ekonomi lokal dengan adanya peningkatan pendapatan, dan membangun keterampilan masyarakat dalam pengelolaan bisnis yang berkelanjutan. Kegiatan ini juga dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan ekonomi hijau di wilayah lain di Madura dan Indonesia. Downstreaming of Functional Food Diversification Prototype Based on Local Koro in an Effort to Develop Healthy Food Products and a Green Economy in Sumenep Abstract This activity aims to downstream a prototype of functional food diversification based on local koro beans in order to develop healthy food products and a green economy in Sumenep. This program is implemented using the Triple Helix approach involving three main components: the UniversitAS Muhammadiyah Malang (UMM) as the innovation holder, the Ministry of Education, Culture, Research and Technology as the funder, and home industry partners (IRT) in Sumenep, namely CV Bunga Anggrek and CV Akancatani, as the main beneficiaries. The synergy between academics, government, and industry aims to encourage innovation that can improve community welfare through the development of a green economy. This downstream activity is carried out through Focus Group Discussions (FGD), socialization, and intensive mentoring by the UMM team to IRT partners, with a focus on improving the quality and quantity of koro-based products. In addition, the implementation of the Real Work Lecture (KKN) in Grujugan Village, Sumenep, also strengthens this effort with a work program that develops village potential and expands market access for koro products. Overall, this activity not only supports the sustainability of koro-based IRT businesses, but also strengthens product competitiveness in the wider market, supports the local economy with the increase in income, and builds community skills in sustainable business management. This activity can also be an inspiration for the development of a green economy in other regions in Madura and Indonesia

    0

    full texts

    529

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇