Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Not a member yet
    529 research outputs found

    Pemberdayaan Masyarakat Melalui Penggunaan Mesin Produksi dan Pemasaran Asap Cair di Gapoktan Jalijaya Talang Jali Lampung Utara

    No full text
    Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kapasitas dan kemandirian ekonomi anggota Gapoktan Jalijaya Talang Jali, Lampung Utara melalui penerapan teknologi mesin produksi asap cair dan penguatan pemasaran. Mitra menghadapi kendala berupa keterbatasan kemampuan teknis dalam mengolah limbah pertanian, rendahnya efisiensi produksi asap cair secara manual, serta minimnya strategi pemasaran yang berkelanjutan. Permasalahan tersebut menyebabkan produk tidak memiliki daya saing dan belum memberikan peningkatan pendapatan bagi anggota Gapoktan. Pemecahan masalah dilakukan melalui pendekatan partisipatif, mencakup: (1) pembuatan dan instalasi mesin produksi asap cair, (2) pendampingan standarisasi mutu, pengemasan, dan labeling, (3) pelatihan pemasaran dan branding lokal, serta (4) monitoring dan evaluasi terhadap peningkatan kapasitas produksi dan penjualan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan pada aspek teknis dan ekonomi. Kapasitas produksi meningkat dari 0 liter menjadi rata-rata 6–10 liter per produksi. Penggunaan asap cair menurunkan biaya pengendalian hama hingga 54%, mengurangi intensitas serangan hama dari 35% menjadi 18%, dan meningkatkan hasil gabah sebesar 1.130 kg/ha. Secara jangka panjang, program ini memperkuat kemandirian ekonomi Gapoktan melalui terbentuknya unit usaha berbasis pengelolaan limbah, peningkatan daya tawar produk lokal, serta peluang diversifikasi usaha berbasis teknologi pirolisis. Program ini juga mendorong praktik pengelolaan limbah yang lebih ramah lingkungan. Kegiatan ini berkontribusi langsung pada pencapaian SDG 8 (pertumbuhan ekonomi), SDG 9 (inovasi teknologi), dan SDG 12 (produksi berkelanjutan), serta menunjukkan bahwa teknologi asap cair efektif, berkelanjutan, dan dapat direplikasi di wilayah lain. Empowering Rural Communities Through Liquid Smoke Production Technology and Marketing Enhancement in Gapoktan Jalijaya Talang Jali, North Lampung Abstract This community service program aims to enhance the capacity and economic independence of members of the Jalijaya Talang Jali Farmers’ Group Association (Gapoktan) in North Lampung through the application of liquid smoke production technology and strengthened marketing strategies. The partners face several challenges, including limited technical skills in processing agricultural waste into value-added products, low efficiency in manual liquid smoke production, and the absence of effective and sustainable marketing strategies. These issues reduce product competitiveness and have not contributed to increased income for Gapoktan members. Problem-solving efforts were carried out through a participatory and applicative approach, consisting of: (1) designing and installing a liquid smoke production machine, (2) assisting in quality standardization, packaging, and labeling, (3) training in marketing and local branding, and (4) monitoring and evaluating improvements in production capacity and sales. The results show significant improvements in both technical and economic aspects. Production capacity increased from 0 liters to an average of 6–10 liters per cycle. The use of liquid smoke reduced pest control costs by up to 54%, lowered pest attack intensity from 35% to 18%, and increased rice yield by 1,130 kg/ha. In the long term, the program strengthens Gapoktan’s economic independence through the establishment of a waste-based business unit, improved product competitiveness, and new opportunities for business diversification using pyrolysis technology. It also encourages more environmentally friendly waste management practices. This program directly contributes to achieving SDG 8 (economic growth), SDG 9 (innovation and infrastructure), and SDG 12 (responsible production), demonstrating that liquid smoke technology is effective, sustainable, and replicable in other regions

    Pelatihan Implementasi Pembelajaran Mendalam Bagi Guru LP Ma’arif Kota Malang

    No full text
    Pembelajaran mendalam menjadi konsentrasi utama di sekolah saat ini untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Kegiatan pengabdian dilakukan terhadap 40 guru LP Ma’arif Kota Malang yang terdiri dari 22 sekolah. Kegiatan pengabdian dilaksanakan dengan metode CBR (Community-Based Research). CBR merupakan pendekatan kolaboratif untuk menjawab kebutuhan melalui metode ilmiah yang inklusif, partisipatif, serta transformatif. Pengukuran peningkatan pemahaman guru tentang pembelajaran mendalam dilaksanakan di awal sebelum pelatihan dan setelah pelatihan melalui kuesioner dengan aspek pemahaman pembelajaran, penilaian, dan pemanfatan media dalam pembelajaran. Analisis dilakukan dengan statistik deskriptif. Hasil kegiatan pelatihan guru menunjukkan peningkatan pemahaman dengan aspek media pembelajaran 86.67% menjadi 88.33%, aspek asesmen 77.33% menjadi 83.89%, serta aspek pembelajaran 64.44% menjadi 80.67%. Hasil ini sejalan dengan perubahan proses pembelajaran yang berlangsung pada saat observasi pasca pelatihan. Guru lebih siap dalam melaksanakan pembelajaran mendalam, mulai dari perangkat pembelajaran serta terlihat proses berlangsung sesuai kereangka kerja pembelajaran mendalam meskipun belum 100%. Dapat disimpulkan bahwa kegiatan pelatihan efektif dan diharapkan dapat dilaksankaan dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Kegiatan semacam ini perlu dilakukan dan direncanakan dengan berkolaborasi dengan dinas pendidikan maupun kerjasama dengan perguruan tinggi agar peningkatan kapasitas guru dalam menjamin kualitas pembelajaran dapat tercapai. Training on Implementing In-Depth Learning for Teachers at LP Ma'arif Malang City Abstract Deep learning is currently a major focus in schools to improve the quality of learning. Community service activities were carried out with 40 teachers from 22 schools at the Ma'arif Islamic Junior High School in Malang City. The community service activities were implemented using the CBR (Community-Based Research) method. CBR is a collaborative approach to address needs through inclusive, participatory, and transformative scientific methods. Measurements of teachers' understanding of deep learning were carried out before and after the training through questionnaires covering aspects of learning understanding, assessment, and media utilization in learning. Analysis was carried out using descriptive statistics. The results of the teacher training activities showed an increase in understanding of the learning media aspect from 86.67% to 88.33%, the assessment aspect from 77.33% to 83.89%, and the learning aspect from 64.44% to 80.67%. These results are in line with changes in the learning process that took place during post-training observations. Teachers are better prepared to implement deep learning, starting from the learning tools and the process appears to be taking place according to the deep learning framework, although not yet 100%. It can be concluded that the training activities were effective and are expected to be implemented in classroom learning. Such activities need to be implemented and planned in collaboration with the education office and universities to improve teacher capacity in ensuring the quality of learning

    Pendampingan Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbasis Ethno-Stem Untuk Mengoptimalkan Hasil Belajar Siswa

    No full text
    Pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pedagogis guru matematika dalam mengembangkan perangkat ajar berbasis Ethno-STEM yang kontekstual dan berakar pada nilai budaya lokal. Permasalahan utama yang dihadapi mitra adalah rendahnya inovasi pembelajaran dan minimnya integrasi budaya lokal dalam perangkat ajar. Kegiatan ini dilaksanakan melalui model pelatihan dual-phase yang terdiri dari pelatihan in-service dan on-service dengan pendekatan deep learning. Metode ini memungkinkan guru untuk memperoleh pemahaman teoritis sekaligus menerapkannya dalam konteks nyata. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam kualitas perangkat ajar yang dikembangkan, keterlibatan aktif guru, serta kemampuan mengintegrasikan budaya lokal dalam pembelajaran matematika. Selain itu, pendekatan Ethno-STEM juga terbukti mendorong siswa berpikir kritis, kolaboratif, dan terlibat aktif dalam proses belajar. Dampak jangka panjangnya terlihat dari peningkatan pemahaman konseptual siswa dan keberlanjutan praktik pembelajaran berbasis budaya oleh guru setelah pelatihan. Pengabdian ini memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan model pembelajaran kontekstual di tingkat SMP serta mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 dan SDG 11. Assistance in Developing Ethno-STEM-Based Learning Materials to Optimize Student Learning Outcomes Abstract This community engagement aimed to enhance mathematics teachers' pedagogical capacity in designing contextual Ethno-STEM-based learning tools rooted in local cultural values. The main issue faced by partner schools was the lack of innovation and cultural integration in lesson plans. The program was implemented through a dual-phase training model consisting of in-service and on-service training with a deep learning approach. This method allowed teachers to gain theoretical understanding while practicing it in real classroom contexts. Results indicated a significant improvement in the quality of instructional tools, active teacher engagement, and their ability to integrate local culture into mathematics learning. Furthermore, the Ethno-STEM approach encouraged students to think critically, collaborate effectively, and participate actively in the learning process. In the long term, the program fostered conceptual understanding among students and empowered teachers to continuously implement culturally responsive teaching practices.  This program provides a practical contribution to the development of contextual learning models at the secondary school level and supports the achievement of Sustainable Development Goals (SDGs), particularly SDG 4 and SDG 11

    Pemberdayaan Petani melalui Pelatihan Pembuatan Trichoderma sp. sebagai Solusi Pengendalian Penyakit Tanaman di Kecamatan Astambul

    No full text
    Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memberdayakan petani di Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar, melalui pelatihan pembuatan Trichoderma sp. sebagai agen hayati pengendali penyakit tanaman. Ketergantungan petani terhadap pestisida kimia masih tinggi akibat terbatasnya pemahaman tentang alternatif pengendalian hayati. Pelatihan yang dilaksanakan pada 9 Oktober 2025 di Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Astambul melibatkan 20 petani padi dengan pendekatan partisipatif dan metode praktik langsung. Kegiatan mencakup penyuluhan tentang hama dan penyakit tanaman padi serta demonstrasi pembuatan inokulum Trichoderma sp. menggunakan bahan lokal yang mudah diperoleh.Pelatihan ini berhasil meningkatkan pemahaman petani mengenai mekanisme kerja Trichoderma sp. dan keterampilan teknis dalam memproduksi inokulum secara mandiri. Meskipun penerapan langsung di lahan belum dilakukan, hasil diskusi menunjukkan bahwa petani mulai memahami potensi penggunaan Trichoderma sp. untuk mengurangi frekuensi penyemprotan pestisida kimia sebanyak 1–2 kali per musim tanam. Selain itu, berdasarkan referensi ilmiah, penggunaan Trichoderma sp. secara konsisten berpeluang meningkatkan kesehatan perakaran dan produktivitas tanaman padi hingga 10–20%. Program ini juga memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, Balai Penyuluhan Pertanian, dan kelompok tani sebagai langkah awal menuju penerapan biokontrol yang berkelanjutan. Untuk menjaga keberlanjutan program, diperlukan pendampingan teknis lanjutan, ketersediaan isolat berkualitas, serta pengembangan unit produksi inokulum di tingkat kelompok tani. Kegiatan ini menunjukkan potensi besar sebagai model pemberdayaan petani menuju pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Empowering Farmers through Training on the Production of Trichoderma sp. as a Solution for Plant Disease Control in Astambul District Abstract This community service program aimed to empower farmers in Astambul District, Banjar Regency, through training on the production of Trichoderma sp. as a biological agent for plant disease control. Farmers in the region remain highly dependent on chemical pesticides due to limited knowledge of alternative biological control methods. The training, conducted on 9 October 2025 at the Agricultural Extension Center of Astambul District, involved 20 rice farmers using a participatory approach and hands-on learning methods. The activities included a lecture on major pests and diseases of rice plants and a demonstration of Trichoderma sp. inoculum production using easily accessible local materials.The program successfully improved farmers’ understanding of the mode of action of Trichoderma sp. and enhanced their technical skills in producing inoculum independently. Although field application has not yet been carried out, discussions with participants indicated that farmers now recognize the potential of Trichoderma sp. to reduce the frequency of chemical pesticide applications by 1–2 times per planting season. In addition, scientific references indicate that the consistent use of Trichoderma sp. may improve root health and increase rice crop productivity by 10–20%. The program also strengthened collaboration among universities, the Agricultural Extension Center, and farmer groups as an initial step toward sustainable biocontrol implementation. To ensure long-term sustainability, continued technical assistance, access to high-quality isolates, and the development of inoculum production units at the farmer-group level are required. Overall, this program demonstrates strong potential as a model for empowering farmers and promoting environmentally friendly and sustainable agriculture

    Pengentasan Wasting Melalui High Impact Imagery Booklet Bagi Peningkatan Pemahaman Pada Remaja di Kabupaten Probolinggo

    No full text
    Indeks ketahanan kesehatan Indonesia masih tergolong rendah. Hal ini salah satunya dipengaruhi oleh permasalahan gizi di Indonesia. Hingga saat ini, Indonesia masih menghadapi permasalahan gizi  salah satunya yaitu gizi buruk (wasting). Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia tahun 2022 menunjukkan terjadinya peningkatan prevalensi wasting yang semula 7,1% menjadi 7,7%. Demikian pula pada beberapa daerah di Provinsi Jawa Timur, salah satunya yaitu pada Kabupaten Probolinggo. Angka prevalensi wasting pada Kabupaten Probolinggo masih tergolong tinggi yaitu mencapai 7,4%. Salah satu penyebab tingginya angka prevalensi wasting adalah rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat mengenai gizi. Rendahnya pengetahuan mengenai gizi dapat berpengaruh terhadap status gizi yang dimiliki. Maka dari itu, diperlukan edukasi sedini mungkin terkait gizi untuk menekan angka wasting di Kabupaten Probolinggo. Era society 5.0 saat ini, pemanfaatan booklet guna meningkatkan pengetahuan dengan mengedepankan visualisasi menggunakan bantuan teknologi merupakan terobosan guna memikat sasaran. Dengan demikian, pemberian edukasi melalui pemanfaatan media booklet terkait wasting menjadi upaya yang dilakukan oleh tim pengabdian kepada SMPN 1 Leces di Kabupaten Probolinggo. Kegiatan pengabdian dibagi menjadi 4 tahap mulai dari tahap perencanaan, tahap persiapan, tahap pelaksanaan, serta tahap evaluasi. Berdasarkan hasil uji Wilcoxon dari skor pretest dan posttest diperoleh hasil p value sebesar 0,000. Kemudian, terdapat kenaikan pada rentang skor 87-74 (Baik) yang mulanya 0% pada saat pretest kemudian menjadi 19% setelah diberikan edukasi wasting. Nilai tersebut menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan dalam penggunaan media booklet wasting terhadap peningkatan pengetahuan siswa di SMPN 1 Leces mengenai wasting. Addressing Wasting Through a High Impact Imagery Booklet for Enhancing Understanding Among Adolescents in Probolinggo Regency Abstract Indonesia's health resilience index is still relatively low. This is partly influenced by nutritional problems in Indonesia. Until now, Indonesia is still facing nutritional problems, one of which is malnutrition (wasting). Based on the results of the 2022 Indonesian Nutritional Status Survey, there has been an increase in the prevalence of wasting from 7.1% to 7.7%. Likewise in several areas in East Java Province, one of which is in Probolinggo Regency. The prevalence rate of wasting in Probolinggo Regency is still relatively high, reaching 7.4%. One of the causes of the high prevalence rate of wasting is the low level of public knowledge about nutrition. Low knowledge about nutrition can affect the nutritional status of the community. Therefore, education is needed as early as possible regarding nutrition to reduce wasting rates in Probolinggo Regency. In the current era of society 5.0, the use of booklets to increase knowledge by prioritizing visualization using the help of technology is a breakthrough to attract targets. Therefore, providing education through the use of booklet media related to wasting is an effort made by the service team to SMPN 1 Leces in Probolinggo Regency. Community service activities are divided into 4 stages starting from the planning stage, preparation stage, implementation stage, and evaluation stage. Based on the results of the Wilcoxon test from the pretest and posttest scores, the p value was obtained at 0.000. Then, there was an increase in the score range of 87-74 (Good) which was initially 0% during the pretest then became 19% after being given wasting education. This value shows a significant influence in the use of wasting booklet media on increasing student knowledge at SMPN 1 Leces regarding wasting

    Pelatihan Copywriting untuk Mendukung Pemberdayaan Anggota PKK Kampung Dukuh RW 3 Kelurahan Magelang, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang di Bidang Kewirausahaan

    No full text
    Kewirausahaan merupakan salah satu upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Anggota PKK Kampung Dukuh RW 3 Kelurahan Magelang, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang memiliki potensi besar dalam berwira usaha dengan membuat produk sabun cuci piring menggunakan limbah jelantah. Namun demikian, kurangnya kemampuan dalam menulis konten pemasaran (copywriting) melalui media digital, terutama sosial media, menjadi tantangan utama. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan literasi pemasaran digital melalui copywriting untuk mendukung pemberdayaan anggota PKK melalui pelatihan. Pelatihan ini mencakup dasar-dasar, teknik, dan praktik penulisan konten pemasaran melalui media sosial seperti Instragram, Whatsapp, dan TikTok. Evaluasi program diukur melalui observasi untuk melihat keterampilan copywriting peserta, serta melalui kuesioner untuk mengetahui tingkat kepuasan peserta. Hasil pelatihan menunjukkan bahwa 89.8% peserta dapat menunjukkan penguasaan keterampilan menulis konten pemasaran yang menarik di media sosial. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini berhasil meningkatkan keterampilan copywriting dan memberikan dampak positif terhadap kemampuan pemasaran melalui media sosial

    Pendampingan Implementasi Model Project-based Learning untuk Peningkatan Kompetensi Siswa SMP Muhammadiyah 02 Batu

    No full text
    SMP Muhammadiyah 02 Kota Batu pada tahun ajaran 2022-2023 mulai menerapkan Kurikulum Merdeka dengan opsi mandiri belajar, yang dimulai pada mata pelajaran IPA dan Matematika. Pada tahap awal, hanya guru IPA dan Matematika yang mengembangkan modul ajar, sementara mata pelajaran lainnya tetap menggunakan Kurikulum 2013. Pada tahun ajaran 2023-2024, penyusunan modul ajar telah berhasil dilakukan untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, IPS, dan Seni Budaya (Seni Rupa) di kelas 7. Dokumen modul ajar menunjukkan penerapan Project-based Learning (PjBL), namun hanya satu modul yang secara jelas mendeskripsikan tahapan PjBL. Analisis terhadap modul ajar menunjukkan bahwa sebagian besar guru belum konsisten dalam menyusun modul ajar sesuai dengan tahapan PjBL, yang disebabkan oleh pemahaman yang kurang mendalam terhadap model pembelajaran ini serta keterbatasan sumber daya. Oleh karena itu, pendampingan dalam implementasi PjBL sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kompetensi siswa dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Metode pengabdian ini meliputi pelatihan dan pendampingan, dengan 16 guru dan Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah 02 Kota Batu sebagai peserta. Hasil pelatihan menunjukkan pemahaman yang baik dengan rata-rata nilai posttest adalah 9, serta pelaksanaan PjBL yang benar pada enam mata pelajaran yang dipilih. Mentoring the Implementation of the Project-based Learning Model to Improve the Competence of Students at SMP Muhammadiyah 02 Batu Abstract SMP Muhammadiyah 02 Kota Batu in the 2022-2023 academic year began implementing the Merdeka Curriculum with independent learning options, starting in Science and Mathematics subjects. In the initial stage, only Science and Mathematics teachers developed teaching modules, while other subjects continued to use the 2013 Curriculum. In the 2023-2024 academic year, the preparation of teaching modules has been successfully carried out for the subjects of Indonesian, Social Studies, and Arts and Culture (Fine Arts) in grade 7. The teaching module documents show the implementation of Project-based Learning (PjBL), but only one module clearly describes the stages of PjBL. Analysis of the teaching modules shows that most teachers are not consistent in compiling teaching modules according to the stages of PjBL, which is caused by a lack of deep understanding of this learning model and limited resources. Therefore, assistance in implementing PjBL is needed to improve student competence in the cognitive, affective, and psychomotor domains. This service method includes training and mentoring, with 16 teachers and the Principal of SMP Muhammadiyah 02 Batu City as participants. The training results showed a good understanding with an average score of 9, as well as the correct implementation of PjBL in six selected subjects

    Optimalisasi Penelitian Mahasiswa Tugas Akhir Dengan Pelatihan Analisis Data Berbasis SmartPLS

    No full text
    Mahasiswa tingkat akhir sering mengalami kendala dalam menganalisis data kuantitatif yang kompleks dalam penyusunan tugas akhir. Partial Least Squares–Structural Equation Modeling (PLS-SEM) merupakan pendekatan statistik yang sesuai untuk menangani model dengan variabel laten, namun belum banyak dikuasai mahasiswa karena minimnya pelatihan praktis. Kegiatan ini merupakan program pengabdian kepada masyarakat berupa pelatihan penggunaan SmartPLS, yang bertujuan meningkatkan literasi metodologis mahasiswa Universitas Sjakhyakirti. Pelatihan dilaksanakan selama dua hari secara luring dan melibatkan 42 mahasiswa tingkat akhir yang belum pernah mengikuti pelatihan serupa. Metode pelatihan disusun dalam lima tahap: sosialisasi dan instalasi perangkat lunak, penyampaian teori PLS-SEM, praktik analisis data menggunakan studi kasus, evaluasi menggunakan pre-test dan post-test, serta diskusi reflektif. Evaluasi hasil menunjukkan bahwa pemahaman teoritis meningkat dari 66,7% menjadi 100%, sementara kemampuan teknis dalam penggunaan SmartPLS meningkat dari 11,1% menjadi 83,3%. Hasil angket menunjukkan tingkat kepuasan peserta mencapai 90%, dengan penilaian positif terhadap kombinasi materi teori dan praktik. Temuan ini menunjukkan bahwa pelatihan berbasis aplikasi dapat secara efektif meningkatkan keterampilan analisis data mahasiswa. Pelatihan ini juga memperkuat kesiapan mereka dalam menyusun penelitian berbasis model kuantitatif. Artikel ini merekomendasikan integrasi pelatihan serupa dalam kurikulum metode penelitian, serta pengembangan lanjutan untuk mendukung kualitas akademik dan implementasi pengabdian berbasis peningkatan kapasitas. Optimizing Undergraduate Thesis Research through SmartPLS-Based Data Analysis Training Abstract Final-year students often face challenges in conducting complex quantitative data analysis during their thesis preparation. Partial Least Squares–Structural Equation Modeling (PLS-SEM) is a suitable statistical approach for analyzing latent variable models, yet many students lack proficiency due to limited access to practical training. This community engagement initiative provided SmartPLS training aimed at improving methodological literacy among students at Universitas Sjakhyakirti. The training was conducted in person over two days, involving 42 final-year students who had not previously participated in similar programs. The training was organized into five stages: software installation and orientation, theoretical sessions on PLS-SEM, hands-on data analysis using case studies, evaluation through pre- and post-tests, and reflective discussion. The evaluation showed a significant increase in theoretical understanding from 66.7% to 100%, and technical proficiency using SmartPLS from 11.1% to 83.3%. Participant satisfaction reached 90%, with positive feedback on the integration of theory and practical application. These findings suggest that application-based training is effective in enhancing students’ data analysis skills and preparedness for conducting quantitative research. The activity also supports student confidence and academic readiness in completing data-driven theses. The article recommends that similar training be integrated into research methodology curricula and expanded as part of sustained academic capacity-building programs through community service

    Deep Learning: Kerangka Kerja Mendalam Untuk Membangun Pemecahan Masalah Secara Kolaboratif

    No full text
    Pengajaran dan pembelajaran harus bergeser dari pembelajaran surface learning ke deep learning. Deep learning memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencapai hasil pembelajaran yang tinggi. Deep learning menuntut pendidik meningkatkan kemampuan pedagogik. Kemampuan pedagogik diharapkan dapat meningkatan keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS). Selain ilmu pengetahuan, siswa belajar soft skills: komunikasi, kerja tim, motivasi, problem solving, berpikir kritis, antusiasme, dan kepercayaan. Kemampuan kognitif siswa Indonesia menyelesaikan butir soal HOTS dalam kategori rendah dibandingkan dengan negara lain. Hal ini dapat terlihat dari hasil PISA pada tahun 2022. Skor kemampuan Membaca sebesar 482 dengan kategori Lower Order Thinking Skills (LOTS), skor kemampuan Matematika sebesar 480 dengan kategori LOTS, dan skor kemampuan Sains sebesar 491 dengan kategori LOTS. Solusi yang dapat dilakukan adalah meningkatkan mutu pendidik melalui pendekatan deep learning. Tujuan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) adalah membantu pendidik SMP IT Al-Khairaat Jakarta Utara melalui tema penerapan pendekatan deep learning di kelas dengan framework: Deeper Framework for Scaffolding Collaborative Problem Solving (DFSCPS). Berdasarkan teori dan PkM sebelumnya, belum ada PkM framework DFSCPS yang menggambarkan proses pemecahan masalah secara kolaboratif dengan model Pembelajaran Berbasis Proyek melalui 6 tahapan pembelajaran. Metode pelatihan meliputi: pemaparan teori deep learning, penerapan deep learning di kelas, dan diskusi. Keberhasilan kegiatan PkM diukur melalui presentasi penulisan skenario pembelajaran pada kegiatan inti melalui 6 tahapan DFSCPS dengan skor total 100%. Hasil presentasi 2 pendidik dapat disimpulkan penerapan deep learning di kelas sebesar 50% mampu menyusun skenario pembelajaran DFSCPS dan 8 pendidik lainnya dapat memahami namun terbatas waktu. Implikasi hasil PkM, pendidik dapat menerapkan DFSCPS. Deep Learning: A Comprehensive Framework for Building Collaborative Problem Solving Abstract Teaching and learning must shift from surface learning to deep learning. Deep learning provides opportunities for students to achieve high learning outcomes. Deep learning requires educators to improve pedagogical skills. Pedagogical skills are expected to increase higher order thinking skills (HOTS). In addition to knowledge, students learn soft skills: communication, teamwork, motivation, problem solving, critical thinking, enthusiasm, and trust. Indonesian students' cognitive ability to solve HOTS questions is low compared to other countries. This can be seen from the PISA results in 2022. The Reading score was 482 with Lower Order Thinking Skills (LOTS) category, Math score was 480 with LOTS category, and Science score was 491 with LOTS category. The solution that can be done is to improve the quality of educators through a deep learning approach. The purpose of the Community Service (PkM) is to help educators of Al-Khairaat IT Junior High School North Jakarta through the theme of implementing a deep learning approach in the classroom with the framework: Deeper Framework for Scaffolding Collaborative Problem Solving (DFSCPS). Based on the theory and previous PkM, there has been no PkM on the DFSCPS framework that describes the process of collaborative problem solving with the Project-Based Learning model through 6 stages of learning. The training methods include: presentation of deep learning theory, application of deep learning in class, and discussion. The success of PkM activities is measured through the presentation of writing learning scenarios in core activities through 6 stages of DFSCPS with a total score of 100%. The results of the presentation of 2 educators can be concluded that the application of deep learning in the classroom is 50% able to develop DFSCPS learning scenarios and 8 other educators can understand but are limited in time. The implication of the PkM results is that educators can implement DFSCPS

    Pembersihan Sampah Di Pantai Lagunci Dan Pengaruhnya Terhadap Kepedulian Lingkungan Pemuda Usia SMP Di Desa Bahari III Kabupaten Buton Selatan

    No full text
    Pantai Lagunci di Desa Bahari III, Kabupaten Buton Selatan, merupakan destinasi wisata bahari yang memiliki potensi besar bagi perekonomian lokal memiliki tantangan dalam keberadaan sampah plastik. Sampah yang berasal dari kunjungan wisatawan dan hanyutan laut tidak hanya mengganggu estetika, tetapi juga mengancam keberlanjutan ekosistem pesisir dan kesehatan masyarakat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kepedulian lingkungan pada pemuda usia Sekolah Menengah Pertama melalui aksi pembersihan sampah di Pantai Lagunci yang dikombinasikan dengan edukasi lingkungan. Menggunakan desain one-group posttest-only , kegiatan melibatkan 25 siswa SMP yang terlibat aktif dalam pembersihan pantai dan sesi sosialisasi tentang bahaya mikroplastik, pemilahan sampah, dan peran generasi muda dalam konservasi pesisir. Data kuantitatif diperoleh melalui tes lisan pasca-kegiatan dan dianalisis menggunakan One-Sample T-Test, menunjukkan peningkatan pemahaman yang signifikan dibandingkan kriteria ketuntasan minimal (t(24) = 7,619, p < 0,001). Data kualitatif mengungkap perubahan sikap positif, antusiasme tinggi, niat untuk mengubah perilaku, serta munculnya rasa memiliki terhadap lingkungan pesisir. Hasil kegiatan membuktikan bahwa pendekatan berbasis aksi nyata efektif dalam menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini. Kegiatan ini tidak hanya berdampak pada kebersihan fisik pantai, tetapi juga menjadi langkah strategis dalam membangun budaya peduli lingkungan yang berkelanjutan di masyarakat pesisir. Hasil ini dapat menjadi model edukasi lingkungan di daerah pesisir lain. Trash Cleanup at Lagunci Beach and Its Impact on Environmental Concern Among Junior High School Youth in Bahari III Village, South Buton Regency Abstract Lagunci Beach in Bahari III Village, South Buton Regency, a marine tourism destination with significant potential for the local economy, faces the challenge of plastic waste. Waste from tourist visits and seawater not only disrupts the aesthetics but also threatens the sustainability of coastal ecosystems and public health. This community service activity aims to increase environmental awareness among junior high school youth through a trash cleanup at Lagununci Beach combined with environmental education. Using a one-group posttest-only design, the activity involved 25 junior high school students who actively participated in the beach cleanup and a socialization session on the dangers of microplastics, waste sorting, and the role of the younger generation in coastal conservation. Quantitative data obtained through a post-activity oral test and analyzed using a One-Sample T-Test showed a significant increase in understanding compared to the minimum completion criteria (t(24) = 7.619, p < 0.001). Qualitative data revealed positive changes in attitudes, high enthusiasm, intentions to change behavior, and a growing sense of ownership of the coastal environment. The results of the activity demonstrate that an action-based approach is effective in instilling environmental awareness from an early age. This activity not only impacts the physical cleanliness of the beach but also serves as a strategic step in building a culture of sustainable environmental awareness in coastal communities. This result can be a model for environmental education in other coastal areas

    0

    full texts

    529

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇