Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Not a member yet
529 research outputs found
Sort by
Pemanfaatan Aplikasi Mendeley Sebagai Manajemen Referensi pada Penulisan Artikel Ilmiah
Tujuan pengabdian kemitraan masyarakat yaitu untuk memberikan pengetahuan dan pengalaman dalam pemanfaatan aplikasi mendeley sebagai manajemen referensi pada penulisan artikel ilmiah. Metode yang digunakan pada proses pengabdian ini yaitu metode demontrasi. Permasalahan yang terjadi yaitu banyak menghadapi kesulitan memahami dan menguasai fitur mendeley, yang dapat memakan waktu dan menyebabkan frustrasi. Terkadang, terjadi masalah sinkronisasi antara berbagai platform mendeley (seperti desktop, web, dan mobile), yang dapat menyebabkan kehilangan referensi atau anotasi yang telah dibuat. Data referensi yang diimpor ke mendeley memiliki kualitas yang bervariasi tergantung pada sumbernya, dan mahasiswa perlu memastikan keakuratan dan kredibilitas referensi yang mereka gunakan. Solusinya yaitu memberikan bimbingan langsung kepada mahasiswa oleh dosen atau tutor tentang penggunaan aplikasi dan manajemen referensi secara efektif dalam konteks penelitian dan penulisan ilmiah. Menyediakan panduan penggunaan mendeley yang jelas dan mudah dipahami bagi mahasiswa, yang mencakup langkah-langkah penggunaan aplikasi. Kesimpulan yaitu secara signifikan meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam mengelola referensi dan sitasi. Mahasiswa menjadi lebih kompeten dalam menggunakan alat ini, yang membantu mereka dalam menyusun artikel ilmiah dengan lebih baik. Mendeley telah terbukti meningkatkan efisiensi proses penulisan artikel ilmiah dengan mempermudah pengelolaan referensi dan pembuatan bibliografi. Hal ini juga mengurangi kesalahan dalam sitasi dan duplikasi referensi, meningkatkan akurasi dan kredibilitas karya ilmiah mahasiswa. Sehingga pada pelaksanaan aktivitas tersebut dari 100 orang yang mengikuti kegiatan 85% benar-benar pahan tentang penggunaan aplikasi mendeley, adapun sisanya 15% belum terlalu paham penggunaannya, karena yang belum paham memiliki keterbatasan yaitu belum memiliki leptop. Berdasarkan hasil tersebut aktivitas yang dilaksanakan dapat dikatakan sesuai denga harapan dalam pengabdian kemitraan masyarakat.
Utilization of Mendeley Application as Reference Management in Writing Scientific Articles
Abstract
The purpose of community service partnership is to provide knowledge and experience in utilizing the Mendeley application as a reference management in writing scientific articles. The method used in this service process is the demonstration method. The problems that occur are that many face difficulties in understanding and mastering Mendeley features, which can be time-consuming and frustrating. Sometimes, there are synchronization problems between various Mendeley platforms (such as desktop, web, and mobile), which can cause loss of references or annotations that have been made. Reference data imported into Mendeley has varying quality depending on the source, and students need to ensure the accuracy and credibility of the references they use. The solution is to provide direct guidance to students by lecturers or tutors on the use of the application and effective reference management in the context of research and scientific writing. Provide a clear and easy-to-understand Mendeley usage guide for students, which includes steps for using the application. The conclusion is that it significantly improves students' skills in managing references and citations. Students become more competent in using this tool, which helps them in compiling better scientific articles. Mendeley has been shown to improve the efficiency of the scientific article writing process by making it easier to manage references and create bibliographies. It also reduces errors in citations and duplication of references, increasing the accuracy and credibility of students' scientific work. So that in the implementation of the activity from 100 people who participated in the activity, 85% really understood the use of the Mendeley application, while the remaining 15% did not really understand its use, because those who did not understand had limitations, namely not having a laptop. Based on these results, the activities carried out can be said to be in accordance with expectations in community partnership service
Sosialisasi Penanggulangan Hama Whitefly di Desa Gondanglor Kabupaten Lamongan dengan Menggunakan Biopestisida “NaturaPest”
Salah satu tantangan yang dihadapi sektor pertanian adalah pengendalian hama tanaman (OPT). Pengendalian OPT biasanya dilakukan dengan menggunakan pestisida kimia. Penggunaan pestisida kimia yang berlebihan berdampak negatif terhadap lingkungan. Pengendalian hama yang ramah lingkungan dapat dicapai melalui penggunaan biopestisida nabati. Penggunaan pestisida nabati untuk mengendalikan serangan hama belum banyak digunakan di kalangan petani. Salah satu cara untuk memperkenalkan pestisida nabati adalah dengan melakukan sosialisasi produksi pestisida nabati yang ramah lingkungan. Kegiatan masyarakat secara langsung dilakukan di kalangan warga Desa Gondanglor Kecamatan Sugio Kabupaten Lamongan untuk memperkenalkan produk biopestisida nabati. Sosialisasi ini dilakukan dengan tujuan untuk mengenalkan warga Desa Gondanglor lebih jauh mengenai pestisida nabati yang dapat digunakan sebagai penanggulangan OPT. Tanaman yang digunakan sebagai pestisida diperoleh dari tanaman atau tumbuhan pada daerah sekitar. Tanaman yang dapat dijadikan bahan dasar pestisida nabati antara lain bawang putih, serai, daun mimba, dan daun pepaya. Tanaman yang digunakan sebagai pestisida nabati adalah daun mimba. Hal ini karena daun mimba memiliki bahan aktif azadirachtin, salanin, meliantriol, nimbin dan nimbidin sebagai hasil metabolit sekunder yang mengendalikan hama dan penyakit tanaman dengan cara mempengaruhi pertumbuhan, daya makan, reproduksi, dan oviposisi. Pestisida nabati berbahan dasar daun mimba dapat diaplikasikan pada tanaman hortikultura dan tanaman pangan seperti cabai, terong, padi, kacang hijau, dan jagung. Dengan adanya kegiatan ini para petani mampu mengetahui pestisida nabati ini dapat membantu mengurangi kecenderungan penggunaan pupuk kimia seta dapat membantu mengurangi pengeluaran biaya produksi para petani khususnya pestisida. Penggunaan pestisida nabati lebih disarankan daripada pestisida kimia dikarenakan pestisida nabati aman dan ramah lingkungan.Hasil kuisioner menunjukkan bahwa para petani di Desa Gondanglor merasa adanya manfaat dari kegiatan ini dengan presentase 90,47%. Dapat disimpulkan bahwa kegiatan ini dapat memberikan manfaat bagi petani di Desa Gondanglor terkait pemahaman tentang pestisida nabati.
Socialization of Whitefly Pest Management in Gondanglor Village, Lamongan Regency using Biopesticide "NaturaPest"
Abstract
One of the challenges the agricultural sector faces is the control of plant pests (opt). Opt control is usually performed using chemical pesticides. Overuse of chemical pesticides has a negative impact on the environment. Environmental pest control can be achieved through the use of vegetable biopestions. The use of vegetable pesticides to control pest attacks has not been widely used among farmers. One way to introduce vegetable pesticides is by performing socialization of environmentally friendly nabati pesticides. Community activities are carried out directly among the residents of the gondanglor district sugio for the release of a biochemical plant. These socialization purposes to introduce residents of the village of gondanglor further on vegetable pesticides that can be used as a treatment opt. Plants used as pesticides are obtained from plants or plants in the surrounding areas. Such crops as vegetable pesticides can be treated as garlic, lemon, leaf of mimba, and papaya. A plant used as a vegetable pesticide is a leaf of mimba. This is because the leaves of the mimba possess the active material of azadirachtin, salanins, meliantriol, nimbin and nimbidin as secondary metabolites that control pests and plant diseases by affecting growth, feeding, reproduction, and oviposition. Vegetable pesticides based on a leaf of mimbah can be applied to horticulture and such crops as chili, eggplant, rice, green beans, and corn. With this activity, farmers are able to identify this vegetable pesticide, which may help reduce the trend toward using setae chemical fertilizers to help reduce the cost of producing farmers especially pesticides. The use of vegetable pesticides is recommended more than chemical pesticides because they are safe and ecologically safe. Questionnaioners indicate that farmers in the village of gondanglor feel the benefits of this activity with a 90,47% percentage. It may be concluded that this activity could benefit farmers in the village of gondanglor regarding their understanding of vegetable pesticides
Pelatihan Pembuatan Pupuk Kompos di Desa Ngestirahayu dalam Upaya Kemandirian Pertanian
Desa Ngestirahayu merupakan salah satu Desa yang terletak di Kecamatan Punggur dengan mayoritas masyarakat Desa Ngestirahayu berprofesi sebagai petani. Selama ini, petani mengalami permasalahan salah satunya adalah ketersediaan dan supply pupuk subsidi yang dibatasi. Oleh sebab itu, diperlukan alternatif pupuk yang murah dan dapat diproduksi secara mandiri. Selain itu, pupuk organik dapat memperbaiki kualitas tanah dan menyediakan nutrisi esensial bagi tanaman secara lebih berkelanjutan. Pupuk organik dapat dibuat dengan menggunakan alat dan bahan yang sederhana dan murah. Namun masyarakat desa umumnya masih belum familiar dan memahami mengenai teknik pembuatan pupuk organik. Berdasarkan hal tersebut, maka perlu dilakukan pelatihan pembuatan pupuk organik pada KWT di desa Ngestirahayu. Hasil akhir dari pelaksanaan kegiatan adalah terjadinya peningkatan pengetahuan masyarakat sebesar 91,6% mengenai pupuk, bahan, proses pembuatan pupuk organik. Manfaat kegiatan ini yaitu meningkatkan pengetahuan mitra mengenai penggunaan pupuk organik, mengetahui bahan yang digunakan dan tatacara pembuatan pupuk organik. Masyarakat perlu dilakukan pembiasaan untuk mulai memilah sampah berdasarkan jenisnya mulai dari skala rumah tangga, sehingga memudahkan untuk mengolah sampah menjadi pupuk kompos. Selain itu, perlu dilakukan produksi pupuk kompos dalam jumlah banyak untuk mencukupi kebutuhan pupuk desa, sebagai kegiatan lanjutan dari program ini.
Compost Fertilizer Production Training in Ngestirahayu Village to Achieve Agricultural Independence
Abstract
The village of Ngestirahayu is one of the villages located in the Punggur District, where the majority of the residents work as farmers. Farmers have long faced issues, one of which is the limited availability and supply of subsidized fertilizers. Therefore, there is a need for an affordable and self-produced fertilizer alternative. In addition, organic fertilizers can improve soil quality and provide essential nutrients for plants in a more sustainable manner. Organic fertilizers can be made using simple and inexpensive tools and materials. However, the village community is generally not yet familiar with or knowledgeable about organic fertilizer production techniques. Based on this, it is necessary to conduct training on organic fertilizer production for the Women's Farming Group (KWT) in the village of Ngestirahayu. The final outcome of this activity was a 91.6% increase in community knowledge regarding fertilizers, materials, and the process of making organic fertilizers. The benefits of this activity include enhancing partners' knowledge of organic fertilizer use, understanding the materials used, and learning the process of making organic fertilizers. The community needs to develop a habit of sorting waste by type at the household level, making it easier to process waste into compost. Furthermore, large-scale compost production is needed to meet the village's fertilizer needs as a follow-up activity of this program
Program Kemitraan Masyarakat: Menumbuh Literasi dan Keterampilan Mengekstrak Tanaman Obat Melalui Teknologi Sederhana Berorientasi Kearifan Lokal
Program Kemitraan Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk meningkatkan literasi dan keterampilan masyarakat Desa Bengkaung dalam mengekstrak tanaman obat melalui penggunaan teknologi sederhana yang berbasis kearifan lokal. Pendekatan yang digunakan dalam program ini melibatkan pemanfaatan bahan-bahan lokal, seperti kayu manis, kayu gaharu, kulit kayu Bridellia micrantha, serta alat tradisional gerabah untuk proses ekstraksi tanaman obat. Program ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kemampuan praktis dalam pengolahan tanaman obat, tetapi juga untuk melestarikan dan mengembangkan kearifan lokal yang sudah ada di desa tersebut. Variabel utama yang dianalisis dalam penelitian ini meliputi peningkatan keterampilan ekstraksi, pemanfaatan bahan lokal, kesadaran terhadap pelestarian kearifan lokal, dan penggunaan alat tradisional yang ramah lingkungan. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan program ini meliputi pelatihan langsung kepada masyarakat melalui workshop dan pendampingan, serta evaluasi hasil melalui metode pre-test dan post-test. Hasil dari program ini menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dalam kemampuan masyarakat Desa Bengkaung dalam mengekstrak tanaman obat dengan alat sederhana. Para peserta pelatihan dapat mengidentifikasi dan memanfaatkan bahan-bahan lokal secara efektif untuk proses ekstraksi, serta memahami pentingnya keberlanjutan dan pelestarian kearifan lokal. Selain itu, penggunaan alat tradisional gerabah sebagai media ekstraksi juga terbukti tidak hanya efektif dalam menghasilkan produk ekstraksi, tetapi juga mendukung upaya pelestarian budaya lokal yang ramah lingkungan. Dengan demikian, PKM ini memberikan kontribusi penting dalam pemberdayaan masyarakat Desa Bengkaung, tidak hanya dalam aspek keterampilan teknis, tetapi juga dalam penguatan nilai-nilai kearifan lokal yang berbasis pada keberlanjutan dan penggunaan bahan-bahan alami. Program ini juga berpotensi menjadi model bagi pengembangan masyarakat berbasis kearifan lokal lainnya dalam rangka meningkatkan literasi dan keterampilan berbasis budaya yang berkelanjutan.
Community Partnership Program: Fostering Literacy and Skills in Extracting Medicinal Plants Through Simple Technology with a Focus on Local Wisdom
Abstract
This Community Partnership Program (PKM) aims to enhance the literacy and skills of the residents of Bengkaung Village in extracting medicinal plants using simple technology based on local wisdom. The approach employed in this program involves utilizing local materials, such as cinnamon, agarwood, and the bark of Bridellia micrantha, as well as traditional clay tools for the medicinal plant extraction process. The program not only aims to improve practical skills in processing medicinal plants but also seeks to preserve and develop the local wisdom already present in the village. The key variables analyzed in this study include the improvement of extraction skills, the utilization of local materials, awareness of preserving local wisdom, and the use of environmentally friendly traditional tools. The methods applied in the implementation of this program include direct training through workshops and mentoring, as well as evaluating the outcomes using pre-test and post-test methods. The results of the program show a significant improvement in the abilities of Bengkaung Village residents in extracting medicinal plants using simple tools. Participants were able to identify and effectively utilize local materials for the extraction process and understand the importance of sustainability and preserving local wisdom. Additionally, the use of traditional clay tools as extraction media proved not only effective in producing extraction products but also supported efforts to preserve environmentally friendly local cultural practices. Thus, this PKM has made a significant contribution to empowering the Bengkaung Village community, not only in terms of technical skills but also in strengthening values of local wisdom based on sustainability and the use of natural materials. This program also has the potential to serve as a model for other community development initiatives based on local wisdom to enhance literacy and skills in a sustainable cultural framework
Sosialisasi tentang Bahaya Narkoba pada Pelajar Kelas IX di SMP Negeri 5 Woha, Kabupaten Bima
Sosialisasi bahaya narkoba sangat penting dilakukan, selain meningkatkat pengetahuan juga, pelajar dapat mengidentifikasi dan menghindari lingkungan yang berpotensi menjadi tempat penyalahgunaan Napza. Permasalahan Narkoba bersifat urgent dan sangat kompleks. Penyalahgunaan Narkoba dapat mengakibatkan kerugian dalam berbagai hal, mulai dari individu yang menggunakannya hingga merusak suatu bangsa. Hal tersebut karena Narkoba sangatlah berbahaya dan memiliki efek samping berupa penurunan kesadaran hingga Kematian. Metode yang digunakan dalam Pengabdian ini adalah: 1. Survei Dilakukan untuk memilih dan menetapkan lokasi pelaksanaan Kegiatan, dan dipilih Pelajar Kelas IX di SMP Negeri 5 Woha 2. Edukasi dan Diskusi. Edukasi yang akan dilakukan adalah dengan melakukan Pre-Test sebelum edukasi dan Post Test setelah diberikan Edukasi untuk mengetahui apakah materi yang diberikan jelas ditangkap. Kegiatan Pengabdian dilakukan di Mushollah SMP Negeri 5 Woha. Hasil dari pengabdian ini adalah didapatkan nilai rata-rata pengetahuan siswa/siswi sebelum diberikan penyuluhan adalah 33.33 namun setelah diberikan penyuluhan tentang tentang bahaya narkoba, rata-rata pengetahuan siswa/siswi meningkat menjadi 68.89 dengan nilai P Value 0.000 (P<0.005). Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat selisih atau perbedaan nilai pre-test dan post test dengan selisih 37.78.
Tsosialization about the Dangers of Drugs to Jonior High School Students Class IX in Bima
Abstract
Socializing the dangers of drugs is very important, apart from increasing knowledge, students can identify and avoid environments that have the potential to become places of drug abuse. The drug problem is urgent and very complex. Drug abuse can cause The drug problem is urgent and very complex. Drug abuse can cause harm in various ways, starting from the individual who uses it to harming a nation. This is because drugs are very dangerous and have side effects in the form of decreased consciousness and even death. The methods used in this service are: 1. Survey carried out to select and organize the location for the activity, and Class IX students at SMP Negeri 5 Woha were selected. 2. Education and discussion. The education that will be carried out is by carrying out a Pre-Test before the education and a Post Test after the education is given to find out whether the material provided is clearly captured. Service activities were carried out in the Mushollah at SMP Negeri 5 Woha. The result of this service was that the average value of students' knowledge before being given counseling was 33.33, but after being given counseling about the dangers of drugs, the average knowledge of students/girls increased to 68.89 with a P value of 0.000 (P<0.005). So it can be concluded that there is a difference or difference in the pre-test and post-test scores with a difference of 37.78
Pelatihan Pengolahan Kukis Berbasis Pangan Lokal Daun Kelor Sebagai Snack MPASI Guna Menurunkan Prevalensi Stunting
Desa Wonorejo menjadi desa prioritas percepatan penanganan stunting di Kabupaten Malang. Salah satu faktor yang menyebabkan tingginya prevalensi stunting adalah pemberian MPASI yang tidak adekuat karena rendahnya pengetahuan akan pemenuhan gizi anak. Tujuan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah meningkatkan keterampilan terkait pembuatan MPASI berupa kukis dengan memanfaatkan bahan pangan lokal Desa Wonorejo yakni daun kelor karena mengandung nutrisi yang dapat mencegah malnutrisi. Hal ini sebagai upaya peningkatan keterampilan ibu terkait pemberian MPASI yang bernutrisi, sehingga dapat mencegah kejadian stunting. Metode yang dilakukan diantaranya koordinasi dengan mitra, percobaan dan penyusunan resep kukis, penyusunan media, dan pelaksanaan kegiatan yang dilaksanakan dengan mempraktikkan langsung cara pembuatan kukis kelor kepada 30ia, dan pelaksanaan kegiatan yang kegiatan.a,BERBAHAN KELOR, SEHINGGA BUTUH DIJADIKAN SNACK YANG MANISrjausui dan waktu luai s ibu yang memiliki balita di Desa Wonorejo serta sosialisasi terkait menu MPASI menggunakan bahan lokal guna menurunkan angka stunting di Desa Wonorejo. Seluruh peserta menyambut baik dan antusias dalam mengikuti rangkaian kegiatan dari awal hingga akhir.
Training on Processing Cookies Based on Local Food Moringa Leaves as MPASI Snacks to Reduce the Prevalence of Stunting
Abstract: Wonorejo Village is a priority village for accelerating the handling of stunting in Malang District. One of the factors causing the high prevalence of stunting is inadequate complementary feeding due to low knowledge of child nutrition fulfillment. The purpose of this community service activity is to improve skills related to making complementary food in the form of cookies by utilizing local food ingredients in Wonorejo Village, namely Moringa leaves because they contain nutrients that can prevent malnutrition. This is an effort to improve mothers' skills related to providing nutritious complementary foods, so as to prevent stunting. The methods used included coordination with partners, experimentation and preparation of cookie recipes, preparation of media, and implementation of activities carried out by practicing directly how to make moringa cookies to 30 mothers who have toddlers in Wonorejo Village and socialization related to the complementary food menu using local ingredients to reduce stunting rates in Wonorejo Village. All participants welcomed and were enthusiastic in participating in the series of activities from start to finish
Pemanfaatan Limbah Batang Pisang Menjadi Banana Stem Chips (Banechips) Sebagai Pemberdayaan PKK Masyarakat Kelurahan Amen Kabupaten Lebong
Kelurahan Amen merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Lebong yang memiliki potensi besar pada pohon pisang. Hampir setiap pekarangan, sudut lapangan atau setiap sudut kebun atau sawah tumbuh pisang. Pemanfaatan pelepah batang pisang oleh masyarakat belum optimal, karena keterbatasan pengetahuan dan keterampilan masyarakat. Batang pisang yang belum dimanfaatkan masyarakat Kelurahan Amen dapat menjadi limbah organik. Oleh karena itu tim dosen dari FKIP pendidikan Biologi Universitas Bengkulu melakukan serangkaian kegiatan pemberdayaan PKK masyarakat Kelurahan Amen melalui pelatihan pembuatan Banana Stem Chips (Banechips). Pelatihan pembuatan Banechips yang dihasilkan mempunyai manfaat yang sangat banyak terhadap kehidupan masyarakat Kelurahan Amen. Melihat potensi yang besar dari desa ini, maka perlu dilaksanakan program peningkatan kesadaran masyarakat akan potensi batang pisang dan mensosialisasikan pemanfaatan batang pisang sebagai bahan makanan alternatif berupa makanan ringan atau jajanan seperti keripik (banchips) yang menyehatkan karena berasal dari bahan alami. Program pelatihan pembuatan Banechips ini merupakan program tentang pengolahan pemanfaatan batang pisang akan menjadi peluang usaha yang sangat besar bagi perkembangan perekonomian masyarakat Kelurahan Amen. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pengetahuan masyarakat tentang cara pemanfaatan limbah organik untuk dijadikan produk makanan ringan Banechips yang bermanfaat sebesar 81,11 % dan tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelatihan banechips sebesar 79,44% dengan kategori baik. Melalui pengabdian ini diharapkan dapat meningkatkan kesehatan lingkungan dan kesejahteraan keluarga melalui pengolahan sampah organik dan mengaplikasikan hasilnya pada pembangunan ekonomi keluarga masyarakat Kelurahan Amen
Penguatan Scientific Branding SMP MBS Jombang Untuk Meningkatkan Daya Saing Sekolah Muhammadiyah
SMP MBS Jombang merupakan sekolah milik Persyarikatan Muhammadiyah, dikoordinasi Majelis DIKDASMEN PDM Jombang, telah terakreditasi A/Unggul. Pimpinan sekolah berkomitmen mengembangkan kemampuan ilmiah para guru, berupa penelitian tindakan kelas, penulisan, dan publikasi ilmiah sebagai scientific branding sekolah. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan penguatan scientific branding SMP MBS Jombang untuk meningkatkan daya saing dan promosi sekolah Muhammadiyah. Kegiatan dilakukan pada bulan November-Desember 2023 dalam bentuk kegiatan pelatihan (pemberian materi-informasi), pendampingan (membersamai peserta dalam implementasi IPTEK yang ditransfer), dan praktik langsung (implementasi IPTEK oleh peserta secara riil sesuai rencana dan target). Jumlah peserta kegiatan adalah 25 orang guru dan siswa. Adapun gambaran kegiatan yang dilakukan adalah (1) diskusi ulang dengan pihak sekolah; (2) pelatihan penelitian dan publikasi; (3) pelatihan pembuatan rilis; dan (4) pelaksanaan kegiatan branding sekolah. Semua kegiatan terlaksana sesuai target dan menghasilkan luaran sebagaimana yang ditetapkan. Pihak sekolah berhasil mempublikasi berbagai kegiatan yang dilakukan sebagai upaya branding dan terdapat guru yang berhasil menjadi juara kompetisi ilmiah tingkat nasional. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kegiatan pengabdian masyarakat ini memberikan penguatan scientific branding bagi SMP MBS Jombang untuk meningkatkan daya saing dan promosi sekolah.
Strengthening Scientific Branding of JHS of MBS Jombang to Increase the Competitiveness of Muhammadiyah Schools
Abstract: JHS of MBS Jombang is a school belonging to the Muhammadiyah Association, coordinated by the DIKDASMEN PDM Jombang, and has been accredited A/Excellent. School leaders are committed to developing the scientific abilities of teachers, in the form of classroom action research, writing and scientific publications as the school's scientific branding. This activity aims to strengthen the scientific branding of JHS of MBS Jombang to increase the competitiveness and promotion of Muhammadiyah schools. Activities will be carried out in November-December 2023 in the form of training (providing information materials), mentoring (cooperating with participants in the implementation of transferred science and technology), and direct practice (real implementation of science and technology by participants according to plans and targets). The number of activity participants was 25 teachers and students. The description of the activities carried out is (1) repeated discussions with the school; (2) research and publication training; (3) release creation training; and (4) implementation of school branding activities. All activities are carried out according to targets and produce outputs as specified. The school succeeded in publicizing various activities carried out as a branding effort and there were teachers who succeeded in becoming champions of national level scientific competitions. Thus, it can be concluded that this community service activity strengthens scientific branding for JHS of MBS Jombang to increase the school's competitiveness and promotion
Transfer Teknologi Pengomosan Cepat Dan Pemanfaatan Produk Kompos Pada Tanaman Pakchoy
Di desa Sukadana, dusun Montong Tekot, kecamatan Pujut, Lombok Tengah, masalah utama adalah jumlah limbah kotoran sapi yang sangat banyak, dengan populasi sapi mencapai 36.466 ekor yang menyumbang sekitar 55% dari total limbah di kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Kondisi minimnya pengetahuan dan pengalaman masyarakat mitra dalam mengelola limbah kotoran sapi menjadi kompos pupuk kandang menjadi alasan utama dilakukannya pengabdian ini. Kegiatan ini bertujuan memberikan pengetahuan kepada kelompok tani mitra tentang pengolahan limbah kotoran sapi menjadi kompos pupuk kandang dengan metode pengomposan cepat dan memberikan pengetahuan kepada kelompok tani mitra tentang cara memanfaatkan dan menerapkan kompos pupuk kandang pada tanaman pakchoy. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini melibatkan kelompok tani dan mahasiswa MBKM. Rangkaian kegiatan telah dilaksanakan sesuai rencana dan tujuan yang telah ditetapkan. Melalui kegiatan penyuluhan, petani meningkatkan pengetahuan mereka tentang pengolahan limbah ternak menjadi produk yang bermanfaat. Melalui workshop pengomposan cepat, petani memahami pentingnya penggunaan bioaktivator seperti M-11 dan konsorsium BPF untuk mempercepat proses pengomposan. Dari hasil menunjukkan bahwa bioaktivator M-11 lebih efektif dalam menguraikan limbah organik dibandingkan konsorsium BPF, hal ini terlihat dari perubahan nilai pH yang lebih rendah pada bioaktivator M-11. Melalui pendampingan dalam budidaya pakchoy, petani menyadari manfaat kompos limbah ternak sebagai pupuk penyubur tanah dan tanaman. Petani tetap memerlukan kegiatan semacam ini, terutama berkaitan dengan transfer teknologi untuk menjaga kesuburan tanah dan meningkatkan pertumbuhan tanaman dengan biaya produksi yang lebih terjangkau.
Transfer of Fast Composting Technology and Utilization of Compost Products in Pakchoy Plants
Abstract
Sukadana village, Montong Tekot hamlet, Pujut subdistrict, Lombok Tengah, faces a significant challenge in managing the vast amount of cattle manure generated by its 36,466 cattle, accounting for 55% of the total waste in Lombok Tengah Regency, West Nusa Tenggara. Limited knowledge and experience among local farmers in composting cattle manure into organic fertilizer necessitates this community service initiative. Empower local farmer groups with the knowledge and skills to convert cattle manure into organic fertilizer using a rapid composting method. Educate farmer groups on the effective utilization of cattle manure compost in pakchoy cultivation. Collaboration between farmer groups and MBKM students in community service activities. Successful execution of planned activities and goal achievement. Enhanced knowledge among farmers regarding livestock waste management into valuable products. Understanding of bioactivator usage (M-11 and PSB consortium) to expedite the composting process. Superior effectiveness of bioactivator M-11 in decomposing organic waste compared to PSB consortium, evident in lower pH values. Recognition of cattle manure compost's benefits as a soil and plant fertilizer through pakchoy cultivation guidance. Continuous demand for technology transfer initiatives to maintain soil fertility and promote cost-effective crop growth
Pelatihan Metodologi Riset Sebagai Upaya Implementasi Program Madrasah Riset Bagi Guru Madrasah di Kabupaten Paser
Dalam program madrasah riset, guru pembimbing memiliki peran dalam mengarahkan dan memotivasi siswa dalam mewujudkan kreatifitas dan inovasinya dalam kegiatan riset. Sebagai upaya implementasi program madrasah riset pada madrasah di Kabupaten Paser penting untuk dilakukan pelatihan metodologi riset untuk dapat meningkatkan kemampuan guru dalam membimbing riset siswa dan sebagai bukti profesionalisme pada bidang keilmuan yang diampu. Tujuan kegiatan ini yaitu untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guru dalam melakukan riset. Kegiatan pelatihan metodologi riset, dilaksanakan dengan pendekatan andragogi dengan tahapan kegiatan meliputi observasi, perencanaan dan persiapan kegiatan, pelaksanaan kegiatan dan evaluasi kegiatan. Berdasarkan hasil survei diketahui bahwa 84,87% peserta sangat setuju dengan pelaksanaan kegiatan pelatihan metodologi riset, dan dapat dikatakan bahwa pelatihan tersebut telah berhasil dengan indikator bahwa kegiatan pelatihan telah sesuai sasaran, materi yang disampaikan juga relevan dengan kebutuhan peserta pelatihan, yang cakupan materinya sesuai dengan tujuan dan sasaran pelatihan serta sesuai dengan perkembangan ilmu dan Pendidikan.
Training in Research Methodology to Implement a Research Madrasah Program for Teachers in Paser District
Abstract
As an attempt to implement the research madrasah programme in Paser district, it is important to conduct training in research methodology in order to improve the teacher's ability to guide students' research and as proof of professionalism in the field of science. The purpose of this activity is to improve the knowledge and skills of teachers when conducting research. Research methodology training activities are carried out with an andragogic approach, with stages of activities including observation, planning and preparation of activities, implementation activities, and evaluation activities. Based on the results of the survey, it is known that 84.87% of participants strongly agree with the implementation of training activities and the and the methodology of research, and it can be said that the training has been successful with indicators that training activities have been targeted. The material submitted is also relevant to the needs of the training participants, whose coverage matters in accordance with the purposes and objectives of training as well as in line with the progress of science and education