Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Not a member yet
    529 research outputs found

    Inovasi Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) Berbasis Pemanfaatan Sumber Daya Lokal Nugget Bayam Brazil Dalam Mencegah Stunting Di Kelurahan Kademangan

    No full text
    Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan praktik ibu-ibu rumah tangga dalam menyediakan makanan bergizi berbasis sumber daya lokal, sebagai upaya preventif dan kuratif stunting pada anak-anak di Kelurahan Kademangan. Permasalahan stunting di wilayah ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kemiskinan, praktik pengasuhan yang kurang optimal, serta terbatasnya akses terhadap pelayanan kesehatan dan gizi yang memadai. Metode yang digunakan adalah pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan dan pendampingan dalam memanfaatkan sumber daya lokal, seperti nugget bayam Brazil, untuk mencegah dan mengatasi stunting pada anak-anak. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan ibu-ibu rumah tangga dalam menyediakan makanan bergizi berbasis sumber daya lokal. Sebelum pelatihan, hanya 40% ibu-ibu yang memiliki pengetahuan cukup, sedangkan setelah pelatihan meningkat menjadi 85%. Selain itu, prevalensi stunting di Kelurahan Kademangan, yang sebelumnya mencapai 30%, turun menjadi 20% setelah intervensi. Kegiatan ini memberikan dampak positif bagi upaya penanggulangan stunting di wilayah Kademangan, dengan peningkatan pengetahuan sebesar 45% dan penurunan prevalensi stunting sebesar 10%. Healthy Kitchen Innovation to Overcome Stunting (DASHAT) Based on Utilization of Local Resources Brazilian Spinach Nuggets in Preventing Stunting in Kademangan Village Abstract The aim of this community service activity is to increase the knowledge and practice of housewives in providing nutritious food based on local resources, as a preventive and curative measure for stunting in children in Kademangan Village. The stunting problem in this region is caused by various factors, such as poverty, less than optimal parenting practices, and limited access to adequate health and nutrition services. The method used is community empowerment through training and assistance in utilizing local resources, such as Brazilian spinach nuggets, to prevent and overcome stunting in children. The results of the activity showed an increase in the knowledge and skills of housewives in providing nutritious food based on local resources. Before the training, only 40% of mothers had sufficient knowledge, whereas after the training this increased to 85%. In addition, the prevalence of stunting in Kademangan Village, which previously reached 30%, fell to 20% after the intervention. This activity had a positive impact on efforts to overcome stunting in the Kademangan area, with an increase in knowledge by 45% and a reduction in stunting prevalence by 10%

    Menumbuhkan Keberdayaan Komunitas Desa Wosu Kabupaten Morowali: Peningkatan Kesadaran dan Keterampilan Masyarakat dalam Menghadapi Tantangan Dunia Kerja

    No full text
    Kesenjangan keterampilan, kurangnya akses terhadap pendidikan dan pelatihan serta, kesadaran akan tantangan dunia kerja yang masih rendah, dapat menghambat masyarakat Desa Wosu untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan keterampilan khususnya pada komunitas PKK di Desa Wosu dalam menghadapi tantangan dunia kerja. Pelaksanaan kegiatan pengabdian diawali dengan tahapan persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan dengan pendekatan partisipatif dan berkelanjutan. Hasil pengabdian menunjukkan peningkatan signifikan dalam kesadaran dan keterampilan peserta. Berdasarkan hasil pre-test dan post-test, rata-rata nilai peserta meningkat dari 100,21 menjadi 175,87 dari total 200 poin, menunjukkan peningkatan sebesar 75,50%. Hasil ini menunjukkan peningkatan pemahaman dan kesiapan peserta dalam menghadapi dunia kerja setelah pelatihan. Artinya, pemberdayaan komunitas melalui program-program yang berfokus pada pendidikan, pelatihan, dan peningkatan kesadaran dapat membantu masyarakat Desa Wosu dalam mempersiapkan diri menghadapi tantangan di dunia kerja. Selain itu, strategi yang terintegrasi dengan kemitraan strategis antara pemerintah, akademisi, sektor swasta, komunitas dan masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya lokal secara efektif, akan mampu menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan ekonomi inklusif dan berkelanjutan. Empowering the Wosu Village Community in Morowali Regency: Raising Awareness and Enhancing Skills to Tackle Workforce Challenges Abstract Skills gaps, limited access to education and training, and low awareness of workforce challenges can prevent the people of Wosu Village from securing decent employment. This service activity aims to increase awareness and skills, especially within the PKK community in Wosu Village, to better equip them for the challenges of the job market. The implementation of the service activities follows a participatory and sustainable approach, beginning with preparation, followed by execution, and concluding with evaluation. The results of this program show a significant increase in participants' awareness and skills. Based on pre-test and post-test scores, the average participant score rose from 100.21 to 175.87 out of a possible 200 points, reflecting a 75.50% increase. These results indicate improved understanding and readiness among participants to face job market challenges following the training. This outcome suggests that community empowerment through education, training, and awareness programs can effectively prepare the people of Wosu Village to meet workforce demands. Additionally, an integrated strategy, leveraging partnerships between government, academics, the private sector, and local communities to make effective use of local resources, can foster an environment that supports inclusive and sustainable economic growth

    Meningkatkan Keterampilan Public Speaking dan Kemahiran Berbicara Bahasa Inggris Melalui Program English Club bagi Siswa Sekolah Menengah Pertama

    No full text
    Artikel ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan public speaking dan kemahiran berbicara bahasa Inggris melalui program English Club bagi siswa sekolah menengah pertama di SMPN 3 Majene. Program ini dirancang untuk memberikan platform latihan berbicara bahasa Inggris melalui berbagai aktivitas seperti latihan MC, pidato, dan diskusi kelompok. Kegiatan ini menerapkan pendekatan partisipatif yang menggabungkan teori dan praktik, serta berfokus pada unjuk kerja untuk membangun kepercayaan diri siswa dan meningkatkan kemampuan komunikasi verbal. Evaluasi program dilakukan melalui pre-test dan post-test, yang menunjukkan peningkatan signifikan pada keterampilan berbicara siswa. Rata-rata nilai pre-test adalah 58,5, sementara post-test menunjukkan peningkatan menjadi 76,3, dengan peningkatan kepercayaan diri berbicara di depan umum sebesar 32%. Hasil ini menegaskan bahwa English Club berkontribusi positif dalam pengembangan keterampilan berbahasa Inggris siswa, terutama dalam konteks public speaking. Improving Public Speaking Skills and English Proficiency through an English Club Program for Junior High School Students Abstract This article aims to improve public speaking skills and English proficiency through the English Club program for junior high school students at SMPN 3 Majene. The program is designed to provide a platform for practicing English speaking through various activities such as MC training, speeches, and group discussions. The activities implement a participatory approach that combines theory and practice, focusing on performance to build students' confidence and enhance their verbal communication skills. The program evaluation was conducted through pre-tests and post-tests, which showed a significant improvement in students' speaking skills. The average pre-test score was 58.5, while the post-test score increased to 76.3, with a 32% increase in public speaking confidence. These results affirm that the English Club contributes positively to the development of students' English language skills, particularly in the context of public speaking

    Penguatan Pembelajaran Karakter Melalui Permainan Edukatif di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 16 Malang

    No full text
    Pendidikan usia dini sebagai dasar perkembangan anak maka dasar pendidikan harus sangat ditekankan pada usia-usia ini dengan penanaman nilai-nilai karakter sejak dini. Dari survei awal didapat informasi bahwa guru masih merasa kesulitan bagaimana menanamkan atau mengajarkan kedisiplinan dan juga semua karakter yang disarankan di Perpres 87 tahun 2017 pada anak-anak dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, kegiatan ini bertujuan memberikan penguatan pembelajaran karakter melalui permainan edukatif di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 16 Kota Malang. Kegiatan Pengabdian Masyarakat ini dilaksanakan di TK Aisyiyah Bustanol Athfal 16 Kota Malang. TK ABA 16 memiliki 2 kelas, 5 guru, dan 1 tenaga administrasi. Kelas A terdapat 33 siswa yang dibagi dalam 2 kelas, sedangkan kelas B terdapat 30 siswa yang dibagi dalam 2 kelas. Aktivitas dalam pengabdian ini meliputi: (1) Metode komunikasi dua arah, (2) Ceramah dan (3) Pelatihan. Dengan metode komunikasi dua arah akan ada komunikasi yang lancar antara pendamping dan mitra. Pendampingan Kegiatan ini juga dilakukan dengan memberikan penjelasan kepada para guru tentang Pendidikan Karakter. Dari metode dua arah, ceramah dan pelatihan, diketahui bahwa para guru merasa kesulitan untuk mendisiplinkan anak didik. Dengan pelatihan yang penguatan 10 dasar ketrampilan yang harus diajarkan pada anak, para guru  lebih bisa mengajar peserta didik melalui permainan edukatif yang sesuai. Para guru lebih bisa menyesuaikan APE (Alat Permainan Edukatif) yang sesuai untuk diterapkan dalam pembelajaran. Pendampingan kepada para guru juga dilakukan dengan mendampingi para guru memilih APE yang tepat untuk penguatan karakter untuk anak didik. Strengthening Character Learning Through Educational Games at TK Aisyiyah Bustanul Athfal 16 Malang Abstract Early childhood education is a basis for the development of children, and basic education must be emphasized at these ages by teaching character values from an early age. Based on the initial survey, teachers found difficulties in teaching and implementing the characteristics mentioned in Presidential Regulation Number 87 of 2017 in their daily activities. Therefore, this activity aims to provide reinforcement of character learning through educational games at TK Aisyiyah Bustanul Athfal 16, Malang. This Community Service activity was carried out at TK Aisyiyah Bustanul Athfal 16, Malang. There are five female teachers and 1 administrative staff in the school. Class A has 33 students divided into 2 classes, while Class B has 30 students divided into 2 classes. Activities in this community service include (1) two-way communication, (2) lectures, and (3) training. The two-way communication enabled flowing communication between the companion and partner. This activity is also carried out by providing explanations to teachers about Character Education. Two-way communication also allowed the teachers to share their problems related to their teaching activities, particularly in the implementation of Character Education. Lecturing and training activities assisted teachers to find a solution for students’ discipline, related to Character Education. Those activities equipped teachers with knowledge of 10 Basic Skills of Character Education that must be taught to children. Moreover, teachers were also provided with EGT (Educational Game Tool) to teach. The appropriate EGT allowed teachers to teach better. Assistance to teachers is also carried out by supporting teachers in choosing the right EGT for character strengthening for students

    Inovasi Playbook dalam Peningkatan Pengetahuan mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat pada Siswa SDN Sumbersih 01 Kabupaten Blitar

    No full text
    Derajat kesehatan masyarakat merupakan aspek penting dalam mencapai tujuan pembangunan nasional dalam bidang kesehatan. Salah satu upaya yang telah dilakukan pemerintah dalam membangun derajat kesehatan masyarakat ialah melalui program PHBS. Data Riset Kesehatan Dasar menunjukkan bahwa proporsi rumah tangga yang menerapkan PHBS di Indonesia mengalami peningkatan dalam selama sepuluh tahun terakhir. Meski terjadi peningkatan, angka tersebut berselisih cukup jauh dari target yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan yaitu 71%. Dari 22 kecamatan yang ada di Kabupaten Blitar, Kecamatan Panggungrejo memperoleh persentase akses sanitasi layak yang terendah yaitu 56,49% kepala keluarga yang memiliki akses fasilitas sanitasi yang layak. Selain itu, dari 18.997 keluarga di Kecamatan Panggungrejo, sebanyak 7.624 keluarga belum menerapkan CTPS. Rendahnya penerapan PHBS di Kecamatan Panggungrejo juga mencakup sekolah-sekolah di dalamnya. Hingga saat ini, pendidikan kesehatan belum secara masif diberikan dan ketersediaan fasilitas sanitasi belum memadai dari segi jumlah seperti yang dialami oleh SDN Sumbersih 01. Oleh karena itu, perlu adanya edukasi terkait PHBS di sekolah melalui kegiatan edukasi PHBS pada siswa dengan menggunakan media interaktif playbook PHBS. Kegiatan dilakukan dengan tahapan perencanaan, persiapan, pelaksanaan, serta evaluasi kegiatan. Berdasarkan hasil uji Wilcoxon dari data pretest dan posttest diperoleh nilai signifikansi sejumlah 0,03 dengan nilai positive ranks sejumlah 17 dari 31 data dan nilai negative ranks sejumlah 9 dari 31 dar. Nilai signifikansi yang diperoleh tersebut < 0,05 dimana menunjukkan adanya perbedaan antar variabel, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh penggunaan media playbook PHBS terhadap peningkatan pengetahuan siswa di SDN Sumbersih 01. Innovation Playbook in Enhancing Knowledge of Clean and Healthy Living Behavior among Students at SDN Sumbersih 01, Blitar Regency  Abstract The level of public health is a crucial aspect in achieving national development goals in the health sector. One of the efforts made by the government to improve public health is through the PHBS program (Kurnianingsih et al., 2023). Basic Health Research data shows that the proportion of households implementing PHBS in Indonesia has increased over the past ten years. Despite this increase, the figure is still significantly below the target set by the Ministry of Health, which is 71% (Ministry of Health RI, 2021). Among the 22 sub-districts in Blitar Regency, Panggungrejo Sub-district has the lowest percentage of households with access to adequate sanitation, with only 56.49% of households having access to proper sanitation facilities. Furthermore, out of 18,997 families in Panggungrejo Sub-district, 7,624 families have not yet practiced proper handwashing with soap (CTPS). The low implementation of PHBS in Panggungrejo Sub-district also extends to the schools within the area. To date, health education has not been widely provided, and the availability of sanitation facilities is still inadequate in terms of quantity, as experienced by SDN Sumbersih 01. Therefore, it is necessary to provide PHBS education in schools through PHBS education activities for students using an interactive PHBS playbook. The activities were carried out through planning, preparation, implementation, and evaluation stages. Based on the Wilcoxon test results from pretest and posttest data, a significance value of 0.03 was obtained, with 17 positive ranks out of 31 data points and 9 negative ranks out of 31 data points. The obtained significance value of <0.05 indicates a difference between the variables, leading to the conclusion that the use of the PHBS playbook has a significant impact on increasing students' knowledge at SDN Sumbersih 01

    Diversifikasi Olahan Ikan Haruan Dalam Upaya Program Zero Stunting Dan Peningkatan Ekonomi

    No full text
    Ikan Haruan (Channa striata) merupakan salah satu komoditi yang memiliki potensi secara ekonomi maupun gizi. Diversifikasi cara pengolahan pada produk lokal menjadi kebaharuan yang dituntut hadir pada produk pangan sebagai upaya mendukung perkembangan bahan lokal. Diversifikasi olahan ikan dapat bertujuan sebagai upaya menurunkan angka stunting dan mendukung peningkatan ekonomi. Pengabdian kepada masyarakat ini dibagi dalam beberapa tahap yaitu tahap persiapan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Tahap persiapan dilakukan melalui observasi dan koordinasi dengan pihak terkait. Pada tahap perencanaan dilakukan kajian dari hasil observasi. Pelaksanaan kegiatan dibagi penjadi dua tahap yaitu penyuluhan dan pelatihan. Peserta berjumlah 20 orang yang terdiri dari ibu-ibu TP-PKK Kecamatan Pahandut. Penyuluhan diadakan dengan metode penyampaian materi dan diskusi secara tatap muka. Pelatihan diawali dengan pembuatan kerupuk kulit ikan haruan, pembuatan abon daging ikan haruan, dan stik tepung tulang. Pemilihan produk olahan ini didasarkan atas pola konsumsi masyarakat yang menyukai makanan ringan dan makanan pendamping, sehingga diharapkan terjadi konsumsi secara berkala yang dapat memperbaiki status gizi untuk mencegah stunting. Selain itu, produk yang dihasilkan dapat dipasarkan sebagai produk makanan bergizi. Pada hasil pretest peserta yang mengetahui konsep diversifikasi sebanyak 2 orang, cara pengolahan produk sebanyak 11 orang, jenis produk olahan sebanyak 4 jenis dan 2 jenis manfaat mengonsumsi ikan haruan. Hasil posttest menunjukan peserta yang mengetahui tentang konsep diversifikasi sebanyak 20 orang, cara pengolahan produk sebanyak 20 orang, jenis produk olahan sebanyak 7 jenis dan 4 jenis manfaat mengonsumsi ikan haruan. Perbandingan antara hasil pretest dan posttest menunjukan peningkatan pengetahuan peserta mengenai konsep diversifikasi, cara pengolahan produk, jenis produk olahan dan manfaat mengonsumsi ikan haruan. Diharapkan adanya dukungan dari pemerintah kepada ibu-ibu TP-PKK Kecamatan Pahandut agar dapat memanfaatkan potensi ikan Haruan sebaik mungkin agar dapat mencegah terjadinya stunting dan dapat meningkatkan perekonomian. The Diversification of Processing Methods for Haruan Fish Is A Crucial Aspect of The Zero Stunting Program And Efforts to Improve The Economy Abstract The Haruan fish (Channa striata) is a commodity with significant economic and nutritional value. Implementing various processing methods for locally produced goods is an innovative approach necessary to enhance food products and promote the advancement of local resources. The diversification of fish processing has the potential to lower rates of stunting and contribute to the advancement of the economy. This community service is split into several phases, specifically including the preparation, planning, execution, and assessment phases. The preparation phase involves careful observation and coordination with relevant stakeholders. During the initial phase of the project, an investigation was conducted based on the observations' findings. The execution of activities is separated into two phases, specifically counseling and training. There were a total of 20 participants in the study, all of whom were mothers affiliated with the TP-PKK Pahandut District. Counseling sessions were conducted utilizing a combination of didactic instruction and in-person interactions. The training session commenced with the preparation of haruan fish skin crackers, the creation of haruan fish meat floss, and the production of bone meal sticks. The choice of these processed food items is influenced by the dietary preferences of individuals who enjoy snacks and accompanying dishes. It is anticipated that regular consumption of these products will contribute to improved nutritional health and aid in the prevention of stunting. Furthermore, the goods that are manufactured have the potential to be promoted and sold as nourishing food items. In the preliminary test findings, 2 participants demonstrated an understanding of diversification concepts, 11 participants exhibited knowledge of product processing techniques, 4 different types of processed products were identified, and 2 specific benefits of consuming haruan fish were recognized. The findings from the posttest illustrated that 20 participants were knowledgeable about the concept of diversification, 20 were familiar with the processing of products, there were 7 types of processed products identified, and 4 types of benefits from consuming haruan fish were recognized. The analysis of both the pretest and posttest data revealed a significant improvement in the participants' understanding of diversification, product processing techniques, various types of processed products, and the advantages of consuming haruan fish. The expectation is for governmental assistance to be extended to the TP-PKK in Pahandut Subdistrict, for them to effectively harness the potential of Haruan fish for the prevention of stunting and the enhancement of the local economy

    Peningkatan Kecerdasan Interpersonal Melalui Kegiatan Pelatihan Menggambar Pada Murid di Sekolah Alam Palembang

    No full text
    Pelatihan Menggambar yang diadakan oleh tim PkM dari Universitas Indo Global Mandiri melibatkan murid-murid di Sekolah Dasar Sekolah Alam Palembang sebagai mitra. Adapun jumlah mitra yang mengikuti pelatihan ini sebanyak 75 murid. Pelatihan ini berangkat dari permasalahan dasar, yaitu pada Jenjang awal pendidikan di Sekolah Dasar, orangtua dan guru hendaknya tidak hanya berfokus mengajarkan anak mereka untuk membaca, menulis, dan berhitung. Akan tetapi juga pengembangan kecerdasan interpersonal mereka juga harus diasah dan diperhatikan. Kecerdasan interpersonal merupakan kemampuan seseorang dalam memahami perasaan orang lain, memotivasi dan mudah memiliki hubungan sosial dengan lingkungan sekitarnya. Permasalahan lainnya, pada konteks pendidikan, di Sekolah-sekolah tidak jarang ditemui yang mengajarkan tentang bidang seni merupakan guru yang bukan bidangnya atau tidak memiliki kompetensi dibidang seni, terutama seni rupa. Pelatihan ini bertujuan untuk menambah, mengasah keterampilan, kreatifitas serta yang lebih terpenting adalah mengasah kecerdasan interpersonal mereka. Kegiatan PkM yang dilaksanakan ini menggunakan metode Survei, wawancara, sosialisasi, dan Pelatihan. Adapun hasil kegiatan menggambar untuk murid Sekolah Dasar diantaranya adalah menghasilkan karya gambar yang memiliki nilai estetik, serta sesuai dengan unsur-unsur dan kaedah pada bidang seni rupa. Peserta juga dapat pengetahuan terkait dengan bahan, alat dan teknik yang digunakan untuk menggmbar, serta yang paling terpenting adalah dapat mengasah kecerdasan interpersonal untuk peka terhadap lingkungan sekitar baik dalam bersosialisi, maupun dalam merespon benda ataupun objek disekitar untuk diadikan ide dalam menciptakan atau menghasilkan sebuah karya seni. Graphic Arts Training Using Cutting Techniques to Increase Student Skills in Palembang Abstract The Drawing Training held by the PkM team from Indo Global Mandiri University involved students at Sekolah Alam Palembang Elementary School as partners. The number of partners who took part in this training was 75 students. This training starts from the basic problem, namely that at the initial level of education in elementary school, parents and teachers should not only focus on teaching their children to read, write and count. However, the development of their interpersonal intelligence must also be honed and paid attention to. Interpersonal intelligence is a person's ability to understand other people's feelings, motivate and easily have social relationships with the surrounding environment. Another problem, in the educational context, is that in schools it is not uncommon to find teachers who teach about the arts, who are not in the field or do not have competence in the arts, especially fine arts. This training aims to increase, hone their skills, creativity and, more importantly, hone their interpersonal intelligence. The PkM activities carried out use survey, interview, outreach and training methods. The results of drawing activities for elementary school students include producing drawings that have aesthetic value, and are in accordance with the elements and rules in the field of fine arts. Participants also gain knowledge related to materials, tools and techniques used for drawing, and the most important thing is to be able to hone their interpersonal intelligence to be sensitive to the surrounding environment both in socializing, and in responding to things or objects around them to use as ideas in creating or producing a work art

    Pelatihan Pemasaran dan TKDN Produk bagi IMKM Batik Kayu Krebet Binaan PLUT-KUMKM DIY

    No full text
    Salah satu IMKM yang berada di wilayah Yogyakarta adalah Sentra Kerajinan Batik Kayu Krebet. Dalam menjalankan bisnis usahanya, masih terdapat beberapa kendala yang dihadapi mengenai pemasaran melalui digital dan kurangnya pemahaman mengenai Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) produk dalam pengadaan barang/ jasa, Sehingga kegiatan PkM yang dilakukan yaitu Pelatihan Pemasaran dan TKDN Produk dengan tujuan yaitu memberikan tambahan wawasan kepada para pelaku IMKM Batik Kayu Krebet tentang konsep digital marketing untuk memasarkan produk yang lebih luas, melatih dan mensimulasikan penggunaan media digital Sibakul Jogja. Selain itu juga memberikan pengetahuan dan keterampilan untuk memahami konsep, prosedur, manfaat penerapan, dan perhitungan TKDN di sektor industri kecil. Tahapan pelaksanaan meliputi: Persiapan, Pengkajian, Pelaksanaan, Evaluasi, Penyusunan Laporan dan Publikasi. Kegiatan pengabdian diikuti oleh 38 peserta yang merupakan IMKM atau sanggar-sanggar yang berada di Krebet binaan PLUT-KUMKM DIY. Kegiatan berhasil terlaksana dengan baik dan sesuai dengan tujuan awal berdasarkan indikator keberhasilan dari segi teori (pengetahuan) dan keterampilan yang dinilai melalui peningkatan persentase pemahaman pada hasil pre-test dan post test serta evaluasi kegiatan yang diisi oleh peserta. Semua pertanyaan mengalami peningkatan persentase untuk indikator “Sangat Memahami” dan “Memahami” setelah post-test, sebaliknya terjadi penurunan persentase untuk indikator “Sangat Tidak Memahami” dan “Tidak Memahami” untuk semua pertanyaan. Dapat disimpulkan bahwa ada dampak yang signifikan dirasakan oleh peserta dari segi pengetahuan dan keterampilan dengan tingkat keberhasilan tinggi mencapai 100%. Secara keseluruhan kegiatan tingkat kepuasan peserta tinggi (Sangat Puas 18,9%, Puas 75,7%, dan Tidak Puas 5,4%). Marketing and TKDN Product Training for the Batik Wood SMEs of Krebet Assisted by PLUT-KUMKM DIY Abstract One of the MSMEs in the Yogyakarta area is the Krebet Wooden Batik Craft Center. In conducting its business, there are still several obstacles faced regarding digital marketing and a lack of understanding about the Domestic Content Level (TKDN) in the procurement of goods/services. Therefore, the Community Service Program (PkM) conducted was Marketing and TKDN Product Training with the aim of providing additional insights to the MSME Krebet actors about the concept of digital marketing to market products more broadly, training, and simulating the use of the Sibakul Jogja. Additionally, the program provided knowledge and skills to understand the concept, procedures, benefits of implementation, and calculation of TKDN in the small industry sector. The implementation stages included: Preparation, Assessment, Implementation, Evaluation, Report Preparation, and Publication. The community service activity was attended by 38 participants from MSMEs or workshops in Krebet guided by PLUT-KUMKM DIY. The activity was successfully carried out in accordance with the initial objectives, based on success indicators in terms of theory (knowledge) and skills, as assessed through the increase in understanding percentages from pre-test and post-test results, and activity evaluations filled out by the participants. All questions showed an increase in the percentage of the "Very Understanding" and "Understanding" indicators after the post-test, while there was a decrease in the percentage for the "Very Not Understanding" and "Not Understanding" indicators for all questions. It can be concluded that there was a significant impact felt by the participants in terms of knowledge and skills, with a high success rate reaching 100%. Overall, the activity had a high level of participant satisfaction (Very Satisfied 18.9%, Satisfied 75.7%, and Not Satisfied 5.4%)

    Membangun Fondasi Bisnis yang Kokoh dengan Menerapkan Laporan Keuangan yang Tepat, Pemasaran yang Terarah, dan Branding yang Menarik Bagi Pengusaha Kue Sagon

    No full text
    Program Kemitraan Masyarakat (PKM) dengan tema "Membangun Fondasi Bisnis yang Kokoh dengan Menerapkan Laporan Keuangan yang Tepat, Pemasaran yang Terarah, dan Branding yang Menarik bagi Pengusaha Kue Sagon" bertujuan untuk memberdayakan pengusaha kue sagon di komunitas lokal melalui peningkatan kompetensi dalam pengelolaan bisnis. Kegiatan ini meliputi pelatihan tentang penyusunan laporan keuangan yang sederhana dan efektif, penerapan strategi pemasaran yang terarah, serta pengembangan branding yang menarik untuk meningkatkan daya saing produk. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan program terdiri dari sosialisasi, pelatihan, pendampingan, dan evaluasi. Hasil yang diperoleh menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam mengelola laporan keuangan, merancang strategi pemasaran, dan menciptakan identitas merek yang kuat. Kendala yang dihadapi selama pelaksanaan program, seperti perbedaan tingkat pemahaman peserta dan keterbatasan waktu, juga diidentifikasi, disertai dengan masukan untuk perbaikan program di masa mendatang. Diharapkan, melalui program ini, pengusaha kue sagon dapat membangun fondasi bisnis yang lebih kokoh, yang tidak hanya mendukung keberlanjutan usaha mereka, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan ekonomi lokal secara keseluruhan

    Literasi Lingkungan dan Pendirian Bank Sampah di Lingkungan Pendidikan Usia Dini Berbasis Digital dan Sosiopreneur Untuk Mengurangi Darurat Sampah di Yogyakarta

    No full text
    Di tengah tantangan pengelolaan sampah yang semakin kompleks, TK IT Mekar Insani Yogyakarta menghadapi permasalahan terkait implementasi kebijakan pengelolaan sampah yang baru. Pentingnya literasi lingkungan pada anak-anak usia dini tidak dapat diabaikan, terutama dalam membentuk kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan. Oleh karena itu, dua inisiatif utama dari Program Kemitraan Masyarakat (PKM) dirancang: pendirian Bank Sampah berbasis digital dan sosiopreneur, serta kegiatan literasi lingkungan yang melibatkan anak-anak, orang tua, dan guru. Bank Sampah berfungsi untuk mengelola sampah yang memiliki nilai ekonomi, menggunakan sistem pencatatan digital yang efisien. Sementara itu, kegiatan literasi lingkungan bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran siswa serta orang tua mengenai pentingnya pengelolaan sampah. Hasil dari pelaksanaan program ini menunjukkan peningkatan pengetahuan sebesar 60% pada peserta. Evaluasi awal menunjukkan bahwa hanya 50% peserta yang memiliki dasar pengetahuan tentang pengelolaan sampah, sedangkan setelah pelatihan, angka ini meningkat menjadi 85%. Pada kegiatan literasi lingkungan, pemahaman siswa juga meningkat signifikan, dengan skor rata-rata peserta meningkat dari 5 menjadi 9 poin. Pengelolaan Bank Sampah yang juga melibatkan unsur sosiopreneur diharapkan dapat mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Environmental Literacy and Waste Bank using Digital and Sociopreneur-Based for Early Childhood Education Environment to Reduce the Waste Emergency in Yogyakarta Abstract Amid increasingly complex waste management challenges, TK IT Mekar Insani Yogyakarta faces issues related to the implementation of a new waste management policy. The importance of environmental literacy for early childhood cannot be overlooked, especially in shaping awareness and care for the environment. Therefore, two key initiatives of the Community Partnership Program (PKM) were designed: the establishment of a digital and sociopreneur-based Waste Bank, and environmental literacy activities involving children, parents, and teachers. The Waste Bank functions to manage waste with economic value, utilizing an efficient digital recording system. Meanwhile, the environmental literacy activities aim to improve students' and parents' understanding and awareness of the importance of waste management. The program's results showed a 60% increase in participants' knowledge. Initial evaluations revealed that only 50% of participants had basic knowledge of waste management, which increased to 85% after the training. In the environmental literacy activities, students' understanding also significantly improved, with the average participant score increasing from 5 to 9 points. The management of the Waste Bank, which also involves sociopreneurial elements, is expected to reduce the amount of waste sent to landfills, while providing economic benefits to the community

    0

    full texts

    529

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇