Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Not a member yet
    529 research outputs found

    Implementasi Program GEMA Air untuk Pencegahan Water-Borne Disease pada Komunitas Ibu PKK Desa Sumberejo Gedangan Malang

    No full text
    Penyakit menular melalui air seperti diare, tifoid, dan leptospirosis masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat, terutama di wilayah pedesaan yang memiliki keterbatasan akses air bersih dan sanitasi yang layak. Kurangnya pemahaman di tingkat rumah tangga menjadi faktor risiko yang signifikan dalam penyebaran penyakit tersebut. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran ibu-ibu PKK Desa Sumberejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang mengenai pencegahan water-borne disease melalui Program GEMA AIR (Gerakan Masyarakat Sadar Air). Program ini juga menanggapi minimnya penggunaan pendekatan ADDIE untuk permasalahan waterborne disease pada komunitas rural. Sehingga, kegiatan ini dirancang menggunakan pendekatan ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation), yang mencakup identifikasi kebutuhan, penyusunan materi edukasi, pelaksanaan kegiatan, dan evaluasi. Sebanyak 70 peserta mengikuti rangkaian kegiatan yang meliputi penyampaian materi, demonstrasi cuci tangan, dan diskusi interaktif. Simpulan dari kegiatan ini menunjukkan bahwa program ini efektif sebagai strategi promosi kesehatan preventif berbasis komunitas, sekaligus memberikan kontribusi nyata terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3 (kehidupan sehat), SDG 6 (air bersih dan sanitasi), dan SDG 17 (kemitraan untuk tujuan). Implementation of the GEMA Air Program for the Prevention of Water-Borne Diseases among the Women’s PKK Community in Sumberejo Village Gedangan Malang Abstract Water-borne diseases such as diarrhea, typhoid, and leptospirosis remain a public health problem, especially in rural areas with limited access to clean water and proper sanitation. Lack of understanding at the household level is a significant risk factor in the spread of these diseases. This community service program aimed to improve the knowledge and awareness of the women’s PKK group in Sumberejo Village, Gedangan District, Malang Regency regarding the prevention of water-borne diseases through the GEMA AIR Program (Gerakan Masyarakat Sadar Air – Community Movement for Water Awareness). This program also responds to the minimal use of the ADDIE approach to waterborne disease problems in rural communities. So, the activities were designed using the ADDIE approach (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation), encompassing needs assessment, preparation of educational materials, implementation, and evaluation. A total of 70 participants took part in the program, which included material delivery, handwashing demonstrations, and interactive discussions. The results showed that this program was effective as a community-based preventive health promotion strategy and contributed concretely to achieving the Sustainable Development Goals (SDGs), particularly SDG 3 (good health and well-being), SDG 6 (clean water and sanitation), and SDG 17 (partnerships for the goals)

    Womenpreneur Academy: Penguatan Personal Branding dan Wirausaha Berbasis Kearifan Lokal Bagi Kelompok Populasi Kunci di Kota Denpasar

    No full text
    Kelompok Pekerja Seks Komersial (PSK) merupakan populasi kunci yang menghadapi tantangan sosial, ekonomi, dan kesehatan secara multidimensi. Di Kota Denpasar, keterbatasan akses terhadap pekerjaan formal dan stigma sosial memperburuk kondisi PSK dalam mencapai kemandirian ekonomi. Program Womenpreneur Academy hadir sebagai solusi berbasis pemberdayaan ekonomi melalui pelatihan kewirausahaan, penguatan personal branding, serta pemanfaatan teknologi sederhana dan pendekatan kearifan lokal. Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kemandirian ekonomi PSK di Kota Denpasar melalui peningkatan keterampilan kewirausahaan, penguatan personal branding, serta pengembangan usaha berbasis kearifan lokal. Metode pelaksanaan mencakup tahapan sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan intensif, dan strategi keberlanjutan program, yang melibatkan dosen, mahasiswa, serta mitra komunitas. Hasil pelaksanaan menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam kemampuan kewirausahaan peserta, termasuk peningkatan keterampilan produksi, pemasaran digital, serta pengelolaan keuangan usaha. Dampak program juga terlihat dari transformasi sosial peserta dan penguatan kolaborasi komunitas. Keberhasilan ini memberikan kontribusi nyata terhadap pencapaian SDG 1 (Tanpa Kemiskinan), SDG 5 (Kesetaraan Gender), dan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi). Temuan ini menegaskan bahwa integrasi pendekatan sosial, teknologi, dan budaya mampu menciptakan model pemberdayaan yang kontekstual dan dapat direplikasi. Program ini tidak hanya bersifat transformatif bagi peserta, tetapi juga membuka ruang pembelajaran bagi pengembangan pengabdian masyarakat berbasis komunitas marginal lainnya

    Penerapan Inovasi dalam Pembuatan Pupuk Organik dan Produksi Makanan Lokal di Sanggar Anak Alam Yogyakarta

    No full text
    Permasalahan pengelolaan limbah organik dan ketahanan pangan yang sehat masih menjadi tantangan di banyak komunitas, termasuk di lingkungan Sanggar Anak Alam (SALAM) Yogyakarta. Untuk mengatasi hal ini, diterapkan inovasi dalam mengubah limbah menjadi pupuk ramah lingkungan dan memanfaatkan bahan lokal untuk menghasilkan makanan bergizi yang mendukung keberlanjutan. Inovasi ini menggabungkan metode ember tumpuk dan pelatihan makanan lokal berbasis sekolah Penerapan inovasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran lingkungan dan keterampilan praktis di kalangan siswa, pengelola, dan orang tua. Kegiatan ini difokuskan pada penggunaan sistem ember tumpuk untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk padat dan cair, melibatkan 50 peserta yang terdiri dari siswa, pengelola, dan orang tua. Selain itu, peserta juga diajarkan cara mengolah bahan lokal seperti singkong dan jagung menjadi makanan sehat, bergizi, dan berpenampilan modern, dengan resep yang dipraktekkan seperti Sentiling, Schotel Jagung, Madusari, dan Kroket Singkong. Hasil kegiatan ini menunjukkan peningkatan keterampilan peserta dalam menghasilkan pupuk organik dan menciptakan makanan sehat dari bahan lokal yang mendukung ketahanan pangan. Kegiatan ini berkontribusi pada pencapaian SDGs tujuan 12, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, dan tujuan 2, mengakhiri kelaparan. Hasil evaluasi menunjukkan di kategori baik 18.33% dan sangat baik 81.67%. Kegiatan ini berhasil meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengolahan limbah dan konsumsi makanan lokal yang sehat dan bergizi. Model ini dapat direplikasi di sekolah berbasis komunitas serupa. Application of Innovation in Organic Fertilizer Production and Local Food Production at Sanggar Anak Alam Yogyakarta Abstract The issue of organic waste management and food security remains a challenge in many communities, including the environment of Sanggar Anak Alam (SALAM) Yogyakarta. To address this problem, an innovation was introduced by converting organic waste into environmentally friendly fertilizer and utilizing local ingredients to produce nutritious foods that promote sustainability. This initiative integrates the stacked bucket method with school-based local food training. The implementation aims to enhance environmental awareness and practical skills among students, school managers, and parents. The program involved 50 participants consisting of students, managers, and parents, who practiced processing organic waste using the stacked bucket system to produce both solid and liquid fertilizers. In addition, participants were trained to process local ingredients such as cassava and corn into healthy, nutritious, and modern foods, with recipes including Sentiling, Corn Schotel, Madusari, and Cassava Croquettes. The results demonstrated an improvement in participants’ skills in producing organic fertilizer and preparing healthy foods from local ingredients that support food security. This activity contributes to achieving Sustainable Development Goal (SDG) 12, responsible consumption and production, and SDG 2, zero hunger. Evaluation results showed that 18.33% of participants were categorized as good and 81.67% as very good. This initiative successfully increased awareness of the importance of waste management and the consumption of healthy, nutritious local food. The model can be replicated in other community-based schools

    Pemberdayaan Guru Kimia Melalui Inovasi Pembelajaran Berbasis Green Chemistry dan Kearifan Lokal

    No full text
    Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru MGMP Kimia Kabupaten Lombok Tengah dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran berbasis Green Chemistry dan kearifan lokal. Permasalahan utama yang dihadapi guru adalah rendahnya pemahaman terhadap prinsip Green Chemistry dan keterbatasan perangkat ajar inovatif yang relevan dengan potensi lokal, sehingga siswa kesulitan memahami keterkaitan konsep kimia dengan fenomena nyata. Untuk menjawab masalah tersebut, tim pengabdian menerapkan metode Participatory Action Research (PAR) melalui empat tahapan: sosialisasi dan pemetaan kebutuhan, pelatihan intensif, pendampingan pengembangan perangkat ajar, serta evaluasi dan diseminasi hasil. Instrumen yang digunakan meliputi pre-test dan post-test, rubrik validasi, lembar observasi kelas, dan kuesioner siswa. Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan signifikan pemahaman guru, dengan rata-rata skor N-Gain 0,66 (kategori sedang) dan lebih dari 90% guru mengalami peningkatan minimal kategori sedang. Validasi perangkat ajar menghasilkan rata-rata skor 86% (kategori sangat layak), sedangkan observasi keterlaksanaan pembelajaran mencapai 85,7% (baik–sangat baik). Respon siswa juga sangat positif, dengan rata-rata skor 86,2% yang menunjukkan pembelajaran berbasis Green Chemistry dan kearifan lokal mampu meningkatkan motivasi, keterlibatan, serta kesadaran lingkungan. Simpulan dari program ini adalah pendekatan kolaboratif berbasis kearifan lokal dan prinsip keberlanjutan terbukti efektif meningkatkan kapasitas guru, menghasilkan perangkat ajar yang relevan, serta mendukung pencapaian SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Empowering Chemistry Teachers through Learning Innovation Based on Green Chemistry and Local Wisdom Abstract This community service program aims to improve the competence of chemistry teachers in the MGMP (Chemistry Subject Teacher Forum) of Central Lombok Regency in designing and implementing learning based on Green Chemistry and local wisdom. The main problems faced by teachers are the low level of understanding of Green Chemistry principles and the limited availability of innovative teaching materials relevant to local potential, making it difficult for students to comprehend the connection between chemistry concepts and real-life phenomena. To address these issues, the service team applied the Participatory Action Research (PAR) method through four stages: socialization and needs assessment, intensive training, mentoring in the development of teaching materials, and evaluation and dissemination of results. The instruments used included pre-tests and post-tests, validation rubrics, classroom observation sheets, and student questionnaires. The analysis results showed a significant improvement in teachers’ understanding, with an average N-Gain score of 0.66 (medium category) and more than 90% of teachers achieving at least a medium category improvement. The validation of teaching materials produced an average score of 86% (highly feasible category), while classroom observation of implementation reached 85.7% (good to very good category). Student responses were also very positive, with an average score of 86.2%, indicating that learning based on Green Chemistry and local wisdom effectively enhanced motivation, engagement, and environmental awareness. In conclusion, this program demonstrates that a collaborative approach based on local wisdom and sustainability principles is effective in improving teacher capacity, producing relevant teaching materials, and supporting the achievement of SDG 4 (Quality Education) and SDG 12 (Responsible Consumption and Production)

    Mencegah Judi Online dan Pinjol Ilegal melalui Literasi Keuangan Pemuda Banjar Bhuana Merta, Desa Tegal Harum, Kota Denpasar

    No full text
    Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan literasi keuangan di kalangan generasi muda, khususnya anggota Seka Teruna Teruni Banjar Bhuana Merta, Desa Tegal Harum, Kota Denpasar, sebagai upaya preventif terhadap meningkatnya praktik judi online dan pinjaman online ilegal. Metode pelaksanaan dilakukan dengan pendekatan partisipatif melalui tahapan persiapan, sosialisasi, pelatihan, serta evaluasi. Materi yang diberikan meliputi manajemen keuangan pribadi serta penyuluhan mengenai risiko praktik ekonomi digital ilegal. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan terhadap pemahaman peserta mengenai pengelolaan keuangan yang sehat, yang ditunjukkan melalui peningkatan skor rata-rata 20–25% dari hasil pre-test dan post-test. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan rata-rata skor literasi keuangan dari 60 (pre-test) menjadi 75 (post-test), dengan variasi peningkatan skor individu berkisar antara +3 hingga +36 poin. Sebanyak 85% peserta menunjukkan peningkatan skor di atas 15 poin, mencerminkan efektivitas metode edukatif yang digunakan. Dalam pelaksanaan kegiatan ini juga disertakan penyerahan bantuan seperti tong sampah dan seragam organisasi untuk mendukung keberlanjutan kegiatan. Selain memberikan dampak edukatif, kegiatan ini juga memperkuat peran organisasi pemuda sebagai agen perubahan dalam komunitasnya. Dengan demikian, program pengabdian ini tidak hanya meningkatkan literasi keuangan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran kolektif generasi muda terhadap bahaya praktik ekonomi ilegal, sekaligus memperkuat kapasitas kelembagaan Seka Teruna Teruni sebagai pelopor keuangan berbasis komunitas. Strengthening Youth Financial Literacy as a Preventive Measure against Online Gambling and Illegal Loans in Banjar Bhuana Merta, Tegal Harum Village, Denpasar  Abstract This community service program aimed to enhance financial literacy among young people, specifically members of Seka Teruna Teruni Banjar Bhuana Merta in Tegal Harum Village, Denpasar City, as a preventive measure against the rising prevalence of online gambling and illegal digital lending practices. The program was implemented using a participatory approach, encompassing stages of preparation, socialization, training, and evaluation. The educational content focused on personal financial management and awareness of risks associated with illegal digital economic practices. Quantitative evaluation revealed a significant improvement in participants’ financial literacy, as evidenced by an average score increase from 60 (pre-test) to 75 (post-test). Individual score improvements ranged from +3 to +36 points, with 85% of participants showing gains exceeding 15 points—indicating the effectiveness of the educational interventions. Additionally, the program included the distribution of supporting items such as waste bins and organizational uniforms to ensure sustainability. Beyond educational outcomes, the program also reinforced the role of local youth organizations as agents of change within their communities. Thus, this initiative not only improved financial literacy but also fostered collective awareness among youth regarding the dangers of illegal economic activities while strengthening the institutional capacity of Seka Teruna Teruni as a community-based financial education leader

    Peningkatan Kualitas dan Marketing Produk Makanan Khas Cilacap Berbasis SDA Bahari Kelompok UMKM Mina Rasa

    No full text
    Kelompok UMKM Mina Rasa merupakan pelaku usaha mikro di Cilacap pada produksi makanan olahan berbasis SDA Bahari. Produk yang dihasilkan meliputi abon tuna, sambal, kerupuk tenggiri, ikan jambrong, ikan jambal, serta olahan laut lainnya. Prinsip produksi sehat tanpa bahan pengawet kimia menjadi identitas utama. Namun, usaha ini menghadapi tantangan besar akibat perubahan tren pasar digital, meningkatnya persaingan produk sejenis, serta daya beli konsumen yang melemah. Kendala lain adalah masa simpan produk yang hanya bertahan 3 bulan, sederhana dalam pengemasan, dan terbatasnya peralatan sterilisasi, sehingga distribusi produk menjadi terhambat. Program ini hadir sebagai solusi pada inovasi teknologi dan pemasaran. Upaya dimulai dari pembuatan pengawet alami nanochitomin, uji produk, penerapan metode sterilisasi uap, hingga penggunaan sistem vacuum untuk memperpanjang umur simpan. Inovasi pengawetan alami berbasis nanochitomin dari limbah kulit udang merupakan pendekatan baru yang belum diterapkan sebelumnya di UMKM lokal Cilacap, di mana teknologi ini mampu meningkatkan ketahanan produk, menjaga kualitas gizi, serta mendukung prinsip ramah lingkungan melalui pemanfaatan limbah perikanan. Selanjutnya, dilakukan perbaikan desain kemasan agar lebih menarik. Pada aspek pemasaran, pendampingan diberikan melalui sosialisasi digital marketing, pengelolaan media sosial, serta strategi penjualan online di marketplace. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pengetahuan peserta meningkat 55% setelah pelatihan berdasarkan hasil pre-post test. Melalui kegiatan ini, UMKM Mina Rasa diharapkan mampu meningkatkan kualitas produk, memperluas pasar, serta memperkuat posisi sebagai representasi kuliner khas bahari Cilacap yang inovatif, berdaya saing, dan berkelanjutan. Quality Improvement and Marketing of Cilacap’s Local Food Products Based on Marine Resources by UMKM Mina Rasa  Abstract The Mina Rasa MSME Group is a micro-enterprise in Cilacap in the production of processed foods based on marine natural resources. The products produced include tuna floss, chili sauce, tenggiri crackers, jambrong fish, jambal fish, and other seafood products. The principle of healthy production without chemical preservatives is the main identity. However, this business faces major challenges due to changes in digital market trends, increasing competition from similar products, and weakening consumer purchasing power. Other obstacles are the product's shelf life which only lasts 3 months, simple packaging, and limited sterilization equipment, so that product distribution is hampered. This program is presented as a solution to technological and marketing innovation. Efforts start from the manufacture of natural preservative nanochitomin, product testing, application of steam sterilization methods, to the use of a vacuum system to extend shelf life. The innovation of natural preservatives based on nanochitomin from shrimp shell waste is a new approach that has not been implemented before in local MSMEs in Cilacap, where this technology is able to increase product durability, maintain nutritional quality, and support environmentally friendly principles through the utilization of fishery waste. Furthermore, improvements to the packaging design are made to make it more attractive. In terms of marketing, mentoring was provided through digital marketing outreach, social media management, and online sales strategies in marketplaces. The training resulted in a 55% increase in participants' knowledge after the training, based on pre-posttest results. Through this activity, Mina Rasa MSME is expected to improve product quality, expand its market, and strengthen its position as a representative of Cilacap's innovative, competitive, and sustainable maritime culinary specialties.Kelompok UMKM Mina Rasa merupakan pelaku usaha mikro di Cilacap pada produksi makanan olahan berbasis SDA Bahari. Produk yang dihasilkan meliputi abon tuna, sambal, kerupuk tenggiri, ikan jambrong, ikan jambal, serta olahan laut lainnya. Prinsip produksi sehat tanpa bahan pengawet kimia menjadi identitas utama. Namun, usaha ini menghadapi tantangan besar akibat perubahan tren pasar digital, meningkatnya persaingan produk sejenis, serta daya beli konsumen yang melemah. Kendala lain adalah masa simpan produk yang hanya bertahan 3 bulan, sederhana dalam pengemasan, dan terbatasnya peralatan sterilisasi, sehingga distribusi produk menjadi terhambat. Program ini hadir sebagai solusi pada inovasi teknologi dan pemasaran. Upaya dimulai dari pembuatan pengawet alami nanochitomin, uji produk, penerapan metode sterilisasi uap, hingga penggunaan sistem vacuum untuk memperpanjang umur simpan. Selanjutnya, dilakukan perbaikan desain kemasan agar lebih menarik. Pada aspek pemasaran, pendampingan diberikan melalui sosialisasi digital marketing, pengelolaan media sosial, serta strategi penjualan online di marketplace. Melalui kegiatan ini, UMKM Mina Rasa diharapkan mampu meningkatkan kualitas produk, memperluas pasar, dan memperkuat posisi sebagai representasi kuliner khas bahari Cilaca

    Analisis Spasial Daerah Rawan Banjir Di Desa Sumber Rejeki

    No full text
    Desa Sumber Rejeki merupakan salah satu wilayah di Kecamatan Watubangga, Kabupaten Kolaka, yang sering mengalami banjir akibat curah hujan tinggi dan kondisi topografi yang bervariasi. Permasalahan utama desa ini adalah belum tersedianya data spasial seperti peta administrasi dan peta daerah rawan banjir yang dapat digunakan untuk mitigasi dan perencanaan pembangunan. Berbeda dari pendekatan responsif sebelumnya, kegiatan ini menerapkan metode pemetaan partisipatif berbasis GIS untuk menghasilkan peta rawan banjir dan peta administrasi terbaru sebagai dasar mitigasi preventif di wilayah yang minim data spasial. Metode pelaksanaan meliputi empat tahap, yaitu: (1) persiapan dengan pengumpulan data sekunder; (2) survei lapangan berbasis partisipatif untuk memperoleh data primer dan informasi lokal; (3) analisis dan pemetaan menggunakan metode skoring dan overlay dalam perangkat lunak ArcGIS; serta (4) validasi hasil peta bersama pemerintah dan masyarakat desa. Pengetahuan lokal warga berdasarkan pengalaman historis terhadap banjir memberikan informasi penting mengenai lokasi rawan, kedalaman, durasi, dan penyebab banjir yang sering kali tidak terdeteksi oleh teknologi konvensional. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa wilayah Desa Sumber Rejeki terdiri atas tiga tingkat kerawanan banjir, yaitu tidak rawan (±70%), cukup rawan (±19%), dan rawan (±11%). Peta yang dihasilkan tidak hanya berguna untuk mitigasi bencana, tetapi juga untuk perencanaan pembangunan desa yang lebih aman, partisipatif, dan berkelanjutan. Kegiatan ini menegaskan bahwa pendekatan pemetaan partisipatif berbasis SIG mampu memperkuat ketahanan masyarakat melalui pengelolaan risiko berbasis lokal, dan dapat dijadikan model bagi desa lain yang memiliki risiko banjir serupa. Spatial Analysis Of Flood-Prone Areas In Sumber Rejeki Village  Abstrak Sumber Rejeki Village is one of the areas in Watubangga Subdistrict, Kolaka Regency, which often experiences flooding due to high rainfall and varied topography. The main problem facing this village is the lack of spatial data, such as administrative maps and flood-prone area maps, which can be used for mitigation and development planning. Unlike previous responsive approaches, this activity applies a GIS-based participatory mapping method to produce the latest flood-prone maps and administrative maps as a basis for preventive mitigation in areas with minimal spatial data. The implementation method consists of four stages, namely: (1) preparation by collecting secondary data; (2) participatory field surveys to obtain primary data and local information; (3) analysis and mapping using scoring and overlay methods in ArcGIS software; and (4) validation of map results with the government and village community. Local residents' knowledge based on historical experiences of flooding provides important information about vulnerable locations, depth, duration, and causes of flooding that are often undetectable by conventional technology. The results of the activity show that the Sumber Rejeki Village area consists of three levels of flood vulnerability, namely not vulnerable (±70%), moderately vulnerable (±19%), and vulnerable (±11%). The resulting map is not only useful for disaster mitigation, but also for planning safer, more participatory, and sustainable village development. This activity confirms that a participatory GIS-based mapping approach can strengthen community resilience through local risk management, and can serve as a model for other villages facing similar flood risks.Abstrak: Desa Sumber Rejeki menghadapi permasalahan serius terkait bencana banjir yang berulang akibat faktor topografi dan curah hujan tinggi, diperparah oleh ketiadaan data spasial yang memadai untuk mitigasi bencana. Kebijakan penanganan banjir yang ada selama ini cenderung bersifat responsif setelah kejadian. Tujuan dari kegiatan pengabdian ini adalah untuk menghasilkan peta daerah rawan banjir dan peta administrasi desa yang akurat guna mendukung perencanaan pembangunan dan upaya mitigasi yang preventif. Metode pelaksanaan kegiatan ini meliputi empat tahap utama: persiapan dengan studi literatur dan pengumpulan data sekunder, pengambilan data primer melalui survei lapangan dan wawancara, analisis dan pemetaan menggunakan perangkat lunak ArcGIS, serta penyusunan laporan akhir dan hasil peta yang divalidasi oleh perangkat desa. Hasil utama dari kegiatan ini adalah tersedianya peta rawan banjir yang mengklasifikasikan tingkat risiko serta peta administrasi desa dan dusun yang telah diperbarui. Simpulannya, peta-peta ini menjadi alat bantu vital bagi pemerintah desa untuk beralih ke strategi penanganan bencana yang preventif, merencanakan penggunaan lahan, dan membangun infrastruktur secara lebih terarah untuk mengurangi risiko kerugian di masa depan. Kata kunci: Pengabdian Masyarakat, Banjir, Pemetaa

    Pemberdayaan Masyarakat Melalui Eco-Enzyme untuk Pengelolaan dan Degradasi Limbah Cair Industri Tempe di Desa Sukorejo Trenggalek

    No full text
    Limbah cair industri tempe memiliki beban organik tinggi (COD, BOD, TSS) yang berpotensi menurunkan kualitas lingkungan jika dibuang tanpa pengolahan. Sebagian besar pelaku UMKM tempe di pedesaan belum memiliki akses terhadap teknologi pengolahan yang murah dan sederhana, sehingga diperlukan pendekatan alternatif berbasis partisipasi masyarakat. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan memberdayakan warga Desa Sukorejo, Trenggalek dalam pengelolaan limbah cair menggunakan eco-enzyme hasil fermentasi sampah organik rumah tangga. Berbeda dari pendekatan konvensional, kegiatan ini menerapkan model partisipatif dengan pembuatan dan penerapan eco-enzyme berbasis rumah tangga yang terintegrasi dengan monitoring masyarakat, sebuah pendekatan yang belum umum diterapkan pada pengelolaan limbah tempe skala kecil. Metode meliputi pemetaan pelaku usaha, sosialisasi, pelatihan pembuatan eco-enzyme (rasio 3:1:10; fermentasi ±90 hari), penyusunan SOP aplikasi (1–5% v/v), dan pendampingan uji sederhana (pH, bau, kekeruhan). Program diikuti 18 peserta dan menghasilkan kelompok pengelola serta unit percontohan. Observasi menunjukkan penurunan bau dan kekeruhan dalam 24–48 jam serta peningkatan pengetahuan peserta. Evaluasi respon peserta menunjukkan kategori sangat baik (rata-rata >90%). Kegiatan ini efektif meningkatkan kapasitas masyarakat dan menunjukkan potensi eco-enzyme sebagai solusi awal pengolahan limbah cair tempe yang murah dan berkelanjutan. Community Empowerment Through Eco-Enzymes for the Management and Degradation of Liquid Waste from Tempeh Industries in Sukorejo Village, Trenggalek Abstract Liquid waste from tempeh production contains high organic loads (COD, BOD, TSS) that can degrade environmental quality if discharged without proper treatment. Most small-scale tempeh producers in rural areas lack access to simple and low-cost treatment technologies, necessitating an alternative approach grounded in community participation. This Community Service Program (PKM) aims to empower residents of Sukorejo Village, Trenggalek in managing liquid waste using eco-enzymes produced from the fermentation of household organic waste. Unlike conventional approaches, this program adopts a participatory model involving the household-based production and application of eco-enzymes integrated with community monitoring—an approach that is rarely implemented for small-scale tempeh wastewater management. The methods included stakeholder mapping, awareness-building activities, training on eco-enzyme production (3:1:10 ratio; ± 90-day fermentation), preparation of application SOPs (1–5% v/v), and facilitation of simple testing (pH, odor, turbidity). The program involved 18 participants and resulted in the formation of a management group and a pilot demonstration unit. Observations indicated reductions in odor and turbidity within 24–48 hours, alongside improved participant knowledge. Participant response evaluations showed excellent results (average >90%). This program effectively enhanced community capacity and demonstrated the potential of eco-enzymes as a low-cost and sustainable preliminary solution for treating liquid waste from tempeh production.Limbah cair industri tempe memiliki beban organik tinggi (COD, BOD, TSS) yang berpotensi menurunkan kualitas lingkungan jika dibuang tanpa pengolahan. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan memberdayakan warga Desa Sukorejo, Trenggalek—khususnya pelaku UMKM tempe—untuk mengelola limbah cair menggunakan eco-enzyme berbasis fermentasi sampah organik rumah tangga yang murah dan mudah diterapkan. Metode pelaksanaan meliputi pemetaan pelaku usaha dan titik pembuangan, sosialisasi dampak limbah, pelatihan pembuatan eco-enzyme (rasio 3:1:10; fermentasi ±90 hari), penyusunan SOP aplikasi (dosis awal 1–5% v/v), pendampingan uji sederhana (pH, bau, kekeruhan), serta rencana uji laboratorium (COD, BOD, TSS) sesuai SNI. Program diikuti 18 peserta dan menghasilkan kelompok pengelola, jadwal produksi eco-enzyme, serta unit percontohan pada bak limbah. Observasi awal menunjukkan penurunan bau dan kekeruhan dalam 24–48 jam pasca aplikasi serta peningkatan pengetahuan peserta berdasarkan pre–post test. Kolaborasi dengan pemerintah desa dibangun untuk keberlanjutan (integrasi bank sampah organik dan iuran operasional). Kegiatan ini menunjukkan bahwa eco-enzyme layak sebagai pendekatan awal pengolahan limbah cair tempe yang partisipatif dan berbiaya rendah. Ke depan, evaluasi kuantitatif COD/BOD/TSS dan kombinasi dengan biofilter/kolam aerob-anaerob direkomendasikan untuk peningkatan kinerja. Keberhasilan pelatihan ini dievaluasi baik pelaksanaannya maupun hasilnya. Evaluasi tersebut dilakukan dengan menggunakan angket respon peserta pelatihan terhadap pelaksanaan kegiatan pelatihan. Hasil angket respon dari 18 peserta menunjukkan bahwa pemahaman terhadap materi mencapai 91% (sangat baik), kesesuaian materi 89% (baik), kebermanfaatan pelatihan 94% (sangat baik), kualitas penyampaian instruktur 95% (sangat baik), fasilitas dan perlengkapan 90% (sangat baik), serta kecukupan waktu pelatihan 88% (baik). Hasil persentase skor lembar respon secara keseluruhan menunjukkan kategori sangat baik, dengan hanya beberapa aspek yang masih berada pada kategori baik, khususnya pada kesesuaian materi dan kecukupan waktu pelatihan. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan PKM pelatihan pembuatan dan penerapan eco-enzyme berjalan efektif serta mendapat respon positif dari masyarakat

    Pelatihan Strategi Fundraising Digital bagi Pengurus Masjid: Implementasi Participatory Action Research di FORSIMMA Bekasi

    No full text
    Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pengurus masjid FORSIMMA Bekasi dalam mengimplementasikan strategi fundraising digital sebagai upaya memperkuat pendanaan masjid yang berkelanjutan. Latar belakang kegiatan ini didasarkan pada rendahnya literasi digital dan minimnya kemampuan teknis pengurus masjid dalam mengelola media sosial serta sistem donasi digital, padahal digitalisasi filantropi telah menjadi tren utama dalam pengelolaan dana keagamaan. Pelatihan dirancang menggunakan metode partisipatif deskriptif berbasis community-based training dengan tahapan analisis kebutuhan, penyusunan materi, pelatihan teori dan praktik, evaluasi post-test, serta tindak lanjut. Instrumen kuesioner disusun berdasarkan indikator Digital Philanthropy dan Technology Acceptance Model (TAM), dan divalidasi oleh dua ahli sebelum digunakan. Pelatihan dilaksanakan selama satu hari di bawah koordinasi FORSIMMA Bekasi, bertempat di Masjid Al-Kahfi Bunut, Bekasi, dengan melibatkan 13 peserta dari berbagai masjid dan musholla. Hasil analisis menunjukkan bahwa peserta memiliki persepsi positif terhadap relevansi dan kemanfaatan materi, khususnya dalam pemanfaatan media sosial dan sistem pembayaran digital untuk penggalangan dana. Meskipun demikian, ditemukan variasi pemahaman antara peserta muda dan senior, serta adanya hambatan berupa keterbatasan perangkat digital dan resistensi jamaah terhadap metode donasi elektronik. Data post-test menggambarkan peningkatan persepsi, namun tidak dapat memastikan perubahan kompetensi secara faktual karena tidak adanya pre-test. Secara keseluruhan, kegiatan pelatihan ini berkontribusi pada peningkatan literasi digital dan kesiapan awal implementasi fundraising digital di lingkungan masjid, sekaligus menghasilkan model pelatihan yang dapat direplikasi dalam konteks pengembangan ekonomi keumatan berbasis teknologi. Digital Fundraising Strategy Training for Mosque Administrators: Implementation of Participatory Action Research at FORSIMMA Bekasi Abstract This community service program aims to enhance the capacity of FORSIMMA Bekasi mosque administrators in implementing digital fundraising strategies to strengthen sustainable mosque financing. The background of this activity lies in the low level of digital literacy and limited technical skills among mosque administrators in managing social media and digital donation systems, despite the growing trend of digital philanthropy in religious financial management. The training was designed using a descriptive-participatory method based on a community-based training approach, consisting of needs assessment, material preparation, theoretical and practical sessions, post-test evaluation, and follow-up actions. The questionnaire instrument was developed using indicators from Digital Philanthropy and the Technology Acceptance Model (TAM), and validated by two experts prior to its use. The one-day training was conducted under the coordination of FORSIMMA Bekasi at Masjid Al-Kahfi Bunut, Bekasi, involving 13 participants from various mosques and prayer rooms. The analysis indicates that participants expressed positive perceptions regarding the relevance and usefulness of the material, particularly in the use of social media and digital payment systems for fundraising. Nevertheless, variations in understanding were found between younger and older participants, along with challenges such as limited access to digital devices and resistance from congregants toward electronic donation methods. The post-test data reflects an increase in participant perceptions, although it cannot confirm actual competency improvement due to the absence of a pre-test. Overall, this program contributes to improving digital literacy and the initial readiness for implementing digital fundraising in mosque environments, while also generating a replicable training model for the development of technology-based Islamic community economic empowerment

    Pelatihan Pengembangan Bahan Ajar Digital Bermuatan Literasi Hukum dalam Memitigasi Bullying di Sekolah Dasar Kota Palangka Raya

    No full text
    Permasalahan bullying di sekolah dasar masih menjadi tantangan serius yang berdampak pada kesejahteraan psikologis dan iklim belajar siswa. Kurangnya pemahaman guru dan siswa terhadap aspek hukum membuat penanganan kasus sering tidak efektif. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas guru dalam mengembangkan bahan ajar digital bermuatan literasi hukum untuk memitigasi bullying di SDN 6 Langkai Kota Palangka Raya. Kegiatan dilakukan melalui lima tahap, yaitu sosialisasi, pelatihan pembuatan bahan ajar digital, penerapan di kelas, pendampingan dan evaluasi, serta penguatan keberlanjutan program di sekolah. Instrumen evaluasi dalam kegiatan ini dilakukan dengan lembar observasi dan angket kemudian analisis dilakukan adalah analisis statistik sederhana. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada pemahaman guru tentang literasi hukum (dari 33,3% menjadi 100%) dan kemampuan membuat media digital interaktif (dari 16,7% menjadi 94,4%). Selain itu, terjadi penurunan kasus bullying hingga 60% dalam satu semester serta peningkatan partisipasi siswa sebagai agen perubahan anti-bullying. Hasil ini menunjukkan dampak awal yang signifikan, meskipun evaluasi jangka panjang masih dibutuhkan untuk menilai keberlanjutan pengaruh program secara menyeluruh. Training on Developing Digital Teaching Materials Incorporating Legal Literacy for Mitigating Bullying in Elementary Schools in Palangka Raya Abstract Bullying in elementary schools remains a serious challenge, impacting students' psychological well-being and learning environment. Teachers' and students' lack of understanding of legal aspects often makes case handling ineffective. This program aims to improve teachers' capacity in developing digital teaching materials containing legal literacy to mitigate bullying at SDN 6 Langkai, Palangka Raya City. The program is carried out in five stages: outreach, training in creating digital teaching materials, classroom implementation, mentoring and evaluation, and strengthening the program's sustainability in schools. The evaluation instruments used were observation sheets and questionnaires, followed by simple statistical analysis. The results showed a significant increase in teachers' understanding of legal literacy (from 33.3% to 100%) and their ability to create interactive digital media (from 16.7% to 94.4%). Furthermore, there was a 60% decrease in bullying cases within one semester, as well as an increase in student participation as anti-bullying change agents. These results indicate a significant initial impact, although long-term evaluation is still needed to assess the program's overall sustainability

    0

    full texts

    529

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇