Journal of Authentic Research
Not a member yet
242 research outputs found
Sort by
Interferensi Bahasa Bima Dalam Bahasa Indonesia Pada Tuturan Siswa SMKN 1 Kempo Kabupaten Dompu
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk interferensi fonologis, leksikal, dan gramatikal bahasa Bima ke dalam bahasa Indonesia pada tuturan siswa SMKN 1 Kempo. Penelitian ini penting untuk dilakukan supaya memberikan pemahaman tentang bentuk interferensi bahasa sehingga para siswa dapat munggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Penelitian ini, termasuk penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif yang dipaparkan secara deskriptif. Data penelitian ini berupa tuturan siswa, sedangkan sumber data dalam penelitian ini, yaitu siswa SMKN 1 Kempo, Kabupaten Dompu. Metode dan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode simak dengan teknik lanjutan berupa simak bebas libat cakap, rekam, dan catat. Data yang telah terkumpul dianalisis menggunakan metode padan intralingual dengan teknik hubung banding sama (HBS). Metode padan intralingual adalah metode analisis dengan cara menghubung-bandingkan unsur-unsur yang bersifat lingual, baik yang terdapat dalam satu bahasa maupun dalam beberapa bahasa yang berbeda (Mahsun, 2007:118). Analisis data dalam penelitian ini penulis melakukan tahapan langkah berikut: mengumpulkan hasil tuturan siswa, menganalisis kata atau kalimat yang mengalami interferensi oleh bahasa daerah, mengelompokkan hasil analisis interferensi tersebut ke dalam beberapa jenis, dan kemudian menyimpulkan. Hasil analisis data pada penelitian ini menunjukkan ada tiga jenis interferensi yaitu interferensi, leksikal, dan gramatikal. Interferensi fonologis bahasa Bima ke dalam bahasa Indonesia pada tuturan siswa SMKN 1 Kempo, meliputi intereferensi penghilangan fonem konsonan akhir, interferensi penambahan fonem vokal, dan inteferensi pergantian vokal, sedangkan intereferensi leksikal berbentuk disisipkanya leksikal bahasa Bima ketika menggunakan bahasa Indonesia. Semantara itu, interferensi gramatikal hanya terjadi pada tataran sintaksis dengan bentuk kesalahan struktur kalimat. Tidak ditemukan interferensi morfologi.
This research aims to find out the phonological, lexical, and grammatical interference forms of Bima language into Indonesian language in the speech of SMKN 1 Kempo students. This research is important to do in order to provide an understanding of the form of language interference so that students can use Indonesian properly and correctly. This research, including field research with a qualitative approach that is presented descriptively. The data of this research is in the form of students' utterances, while the data sources in this research are students of SMKN 1 Kempo, Dompu Regency. The data collection methods and techniques used were the listening method with advanced techniques of free listening, recording, and note-taking. The collected data were analysed using the intralingual pairing method with the same comparative relationship technique (HBS). The intralingual parallels method is an analysis method by comparing lingual elements, both those found in one language and in several different languages (Mahsun, 2007: 118). The data analysis in this research is conducted by the author in the following steps: collecting the results of students' speech, analyzing words or sentences that experience interference by local languages, grouping the results of the interference analysis into several types, and then concluding. The results of data analysis in this study show that there are three types of interference, namely interference, grammatical, and lexical. Phonological interference of Bima language into Indonesian language in the speech of students of SMKN 1 Kempo, includes interference of final consonant phoneme omission, interference of vowel phoneme addition, and interference of vowel alternation, while lexical interference is in the form of coda mix. Meanwhile, grammatical interference only occurs at the syntactic level with sentence structure errors. No morphological interference is found
The Students’ Perception of the Use of ChatGPT as a Vocabulary Learning Medium: A Case Study of Second-Semester Students at the English Department University of Mataram
This study explored second-semester students’ perceptions of using ChatGPT as a vocabulary learning tool at the University of Mataram. Using a qualitative method through questionnaires and semi-structured interviews, data were collected from 92 students, with 15 selected for interviews. The findings showed that most students had positive perceptions of ChatGPT, citing its usefulness in understanding word meanings, receiving instant feedback, and enabling flexible, independent learning. However, challenges such as long or unclear explanations and limited internet access were reported. The most common issue was difficulty understanding complex responses (46.74%), while the least was lack of motivation (7.61%). Despite these issues, students showed strong interest in continuing to use ChatGPT. The study concluded that ChatGPT supports vocabulary acquisition but should be guided and adapted to learners' needs.
 
Bentuk dan Fungsi Klitika Bahasa Sasak Dialek Meno-Mene pada Masyarakat Desa Montong Tangi
Penelitian ini mengkaji bentuk, fungsi, dan distribusi klitika bahasa Sasak dialek Meno-Mene pada masyarakat desa Montong Tangi. Studi ini penting mengingat langkanya penelitian yang secara spesifik berfokus pada klitika di dialek Meno-Mene, padahal fenomena linguistik ini memiliki peran krusial dalam struktur bahasa Sasak. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, data dikumpulkan menggunakan beberapa teknik untuk memastikan kelengkapan dan keaslian. Peneliti memulai dengan observasi partisipatif, di mana mereka berinteraksi langsung dengan masyarakat di desa Montong Tangi untuk memahami konteks sosial dan budaya dari penggunaan bahasa Sasak dialek Meno-Mene. Selanjutnya, wawancara mendalam dilakukan dengan enam informan kunci, penutur asli yang berasal dari lima dusun berbeda, untuk menggali pemahaman mereka tentang klitika. Pada saat yang sama, peneliti juga melakukan rekam tuturan alami secara spontan untuk menangkap fenomena klitika dalam percakapan sehari-hari. Selama proses observasi, wawancara, dan rekaman, peneliti selalu menyertakan teknik catat dan dokumentasi. Melalui kombinasi teknik-teknik ini, peneliti berhasil mengidentifikasi dan menganalisis 35 klitika secara rinci dengan menggunakan analisis morfosintaksis Eugene Nida yaitu mengelompokkan data, melakukan analisis deskriptif, dan menginterpretasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk klitika ada tiga yaitu, klitika proklitik, klitika enklitik, dan klitika gabungan (proklitik dan enklitik) yang berupa: /k-/, /-k/, /-m/, /-n/, {-te}, {te-}, {de-}, {-de}, (k- dan -m), (k- dan -de). Secara fungsi, klitika dalam dialek ini terbagi menjadi empat kategori utama: menyatakan kepemilikan, subjek, objek, serta gabungan objek dan kepemilikan. Klitika enklitik /-k/ dan /-m/ ditemukan paling dominan dan memiliki fungsi sebagai penanda subjek, seperti pada kalimat ‘engkahk’ (berhenti aku). Dari segi distribusi, klitika enklitik dapat melekat pada berbagai kategori kata, yaitu kata kerja (verba), kata benda (nomina), kata sifat (adjektiva), dan numeralia. Sebaliknya, klitika proklitik dan gabungan memiliki distribusi yang lebih terbatas, hanya melekat pada kata kerja (verba) dan kata benda (nomina). Penelitian ini berkontribusi signifikan pada linguistik Sasak dengan menyediakan dokumentasi rinci tentang klitika pada dialek Meno-Mene. Temuan ini tidak hanya memperdalam pemahaman tentang morfologi bahasa Sasak, tetapi juga berfungsi sebagai referensi vital untuk pengajaran dan pelestarian bahasa daerah, membantu menjaga warisan linguistik ini dari kepunahan
Pengembangan E-Modul Pengayaan Keanekaragaman Mangrove Poton Bako untuk kelas X MA Darul Aitam Jerowaru Lombok Timur
Perkembangan teknologi mendorong penerapan pembelajaran mandiri dan interaktif melalui media digital, salah satunya e-modul. E-modul dalam Pendidikan Konservasi berperan strategis dalam menanamkan kepedulian lingkungan sejak dini. Hasil wawancara guru dan peserta didik di MA Darul Aitam Jerowaru, belum tersedia bahan ajar pengayaan berbasis lokal, khususnya tentang keanekaragaman mangrove, dan guru belum memanfaatkan e-modul dalam pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman mangrove di Ekowisata Bale Mangrove Poton Bako, mengetahui kelayakan e-modul sebagai bahan ajar pengayaan pada materi keanekaragaman hayati, dan mengetahui respon peserta didik terhadap pengembangan e-modul. Penelitian menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model ADDIE yang dibatasi tahap analisis, desain, dan pengembangan karena keterbatasan waktu dan biaya. Data keanekaragaman mangrove dikumpulkan secara eksploratif melalui jalur jelajah yang dimodifikasi dari metode line transect. Hasil eksplorasi menunjukkan terdapat enam spesies mangrove, yaitu Avicennia marina, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, Sonneratia alba, dan Sonneratia caseolaris. Hasil validasi pengembangan e-modul menunjukkan bahwa e-modul dinyatakan sangat layak dengan rata-rata persentase dari ahli materi 92%, ahli media 84%, ahli pembelajaran 92%, dan penilaian guru 87%. Hasil penilaian respon peserta didik terhadap e-modul mendapatkan rata-rata persentase sebesar 88%, dengan kategori 'sangat baik'. Respon peserta didik terhadap e-modul secara umum mendapatkan tanggapan yang positif. Kesimpulannya, e-modul pengayaan keanekaragaman mangrove di Ekowisata Bale Mangrove Poton Bako valid dan sangat layak digunakan sebagai bahan ajar pada tingkat SMA/MA
Pengaruh Media Peta Konsep Terhadap Hasil Belajar Kognitif Siswa Pada Materi Sistem Reproduksi Manusia Kelas XI IPA SMAN 2 Narmada
Peta konsep telah secara luas digunakan dalam proses mengajar, belajar, dan penilaian, serta membantu siswa dalam berpikir dan merepresentasikan proses berpikir mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan media peta konsep terhadap hasil belajar kognitif siswa pada materi sistem reproduksi manusia di kelas XI Ipa SMAN 2 Narmada. Jenis penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen, dengan melibatkan dua kelas, yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol, digunakan instrumen berupa pretest dan posttest dengan desain penelitian pretest-posttest control group design. Teknik pengumpulan data yaitu, tes tertulis, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data yaitu, uji prasyarat, uji normalitas, uji homogenitas, dan uji hipotesis. Nilai rata-rata hasil belajar siswa sebelum perlakuan di kelas kontrol adalah 53,29 dan meningkat menjadi 75,63 setelah pembelajaran. Sementara itu, pada kelas eksperimen, nilai rata-rata hasil belajar sebelum perlakuan adalah 59,75 dan meningkat menjadi 90,54 setelah perlakuan. Uji normalitas data pretest dan posttest pada kedua kelas menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov menunjukkan bahwa data berdistribusi normal (p > 0,05). Uji homogenitas juga menunjukkan bahwa data memiliki varians yang homogen (p > 0,05). Berdasarkan uji hipotesis menggunakan paired samples t-test pada kelas eksperimen, diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000 (< 0,05), yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara pretest dan posttest. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan media peta konsep berpengaruh positif terhadap peningkatan hasil belajar kognitif siswa pada materi sistem reproduksi manusia
Pengaruh Model Problem Based Learning dengan Analyze Case Study Terhadap Kemampuan Computational Thinking Siswa di SMAN 7 Mataram
Pembelajaran abad 21 menuntut pengembangan keterampilan tingkat tinggi yang kompleks menjadikan pembelajaran yang lebih aktif, adaptif, dan inovatif. Metode analyze case study membantu mengembangkan keterampilan berpikir kritis, analitis, dan pemecahan masalah. Latar belakang penelitian ini di dasarkan pada rendahnya hasil PISA 2022 yang menunjukkan bahwa kemampuan computational thinking siswa di Indonesia masih rendah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model Problem Based Learning dengan analyze case study terhadap kemampuan computational thinking siswa kelas X di SMAN 7 Mataram. Jenis penelitian yaitu quasi-experimental dengan desain penelitian non equivalen control group design. Populasi dalam penelitian yaitu seluruh siswa kelas X di SMAN 7 Mataram. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling berdasarkan pertimbangan tertentu yang relevan. Sehingga diperoleh 2 kelas sebagai sampel yaitu XC dan XE sebagai kelas eksperimen serta XD dan XB sebagai kelas kontrol. Kemampuan computational thinking di ukur dengan menggunakan soal essay. Uji prasyarat yang digunakan pada penelitian ini yaitu uji normalitas dan uji homogenitas serta uji hipotesis dalam penelitian ini diuji menggunakan uji analysis of covariance berbantuan SPSS 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa didapatkan nilai uji hipotesis sebesar 0,008 atau < 0,05 sehingga menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan pada penerapan model Problem Based Learning dengan analyze case study terhadap kemampuan computational thinking siswa kelas X di SMAN 7 Mataram. Hal yang dapat mempengaruhi kemampuan computational thinking siswa yaitu tahapan-tahapan dalam model Problem Based Learning dengan analyze case study memfasilitasi pengembangan pemikiran sistematis dan kritis siswa dalam konteks pemecahan masalah, yang merupakan aspek penting dari kemampuan computational thinking. Temuan penelitian ini memberikan kontribusi penting terhadap peningkatan kualitas pembelajaran, khususnya dalam mengembangkan kemampuan computational thinking siswa. Melalui penerapan model Problem Based Learning berbasis Analyze Case Study, siswa difasilitasi untuk terlibat secara aktif dalam proses analisis masalah kontekstual, sehingga mendorong penguatan keterampilan berpikir kritis, analitis, dan sistematis. Model ini berperan dalam menyiapkan siswa untuk menghadapi tantangan pembelajaran abad ke-21 yang menuntut kemampuan berpikir tingkat tinggi. Implikasi penelitian ini adalah menunjukkan pentingnya integrasi model Problem Based Learning berbasis Analyze Case Study ke dalam kurikulum pembelajaran, khususnya pada mata pelajaran Biologi. Model ini terbukti mampu meningkatkan kemampuan computational thinking siswa, yang merupakan kompetensi esensial dalam menghadapi tantangan abad ke-21. Jadi, kesimpulan penelitian ini bahwa penerapan model Problem-Based Learning berbasis Analyze Case Study memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kemampuan computational thinking siswa kelas X di SMAN 7 Mataram. Model ini terbukti efektif dalam memfasilitasi pengembangan keterampilan berpikir kritis, analitis, dan sistematis siswa melalui tahapan pembelajaran yang berpusat pada pemecahan masalah kontekstual. Dengan demikian, model ini dapat dijadikan sebagai strategi pembelajaran yang relevan dan adaptif dalam mendukung pencapaian kompetensi abad ke-21, khususnya dalam meningkatkan kualitas pembelajaran IPA di tingkat sekolah menengah
Hubungan Self Efficacy dengan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Kelas Vii Smpn 8 Mataram
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya kemampuan pemecahan masalah matematika sebagai salah satu kompetensi esensial dalam proses pembelajaran. Kemampuan ini tidak hanya mencerminkan pemahaman konsep, tetapi juga mencakup keterampilan berpikir logis dan analitis. Salah satu faktor yang diyakini berpengaruh terhadap kemampuan tersebut adalah self efficacy, yaitu keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam menyelesaikan tugas atau permasalahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self efficacy dengan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas VII di SMP Negeri 8 Mataram Tahun Ajaran 2024/2025. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan ex post facto. Populasi penelitian ini berjumlah 319 siswa kelas VII, dan sampel sebanyak 72 siswa dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan berupa angket self efficacy berdasarkan tiga aspek, yaitu pengalaman keberhasilan, pengalaman orang lain, dan keadaan emosional, serta tes kemampuan pemecahan masalah berdasarkan langkah-langkah Polya. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa sebagian besar siswa berada pada kategori sedang baik dalam hal self efficacy maupun kemampuan pemecahan masalah. Uji korelasi Pearson menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara kedua variabel dengan nilai koefisien r = 0,758. Uji koefisien determinasi menunjukkan bahwa self efficacy memberikan kontribusi sebesar 57,4% terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa. Hasil ini menunjukkan bahwa penguatan self efficacy dapat menjadi salah satu strategi penting dalam meningkatkan pembelajaran matematika
Pengelolaan Manajemen Risiko Terintegrasi Dalam Tahapan Siklus Hidup Proyek Konstruksi Di Indonesia
Penelitian ini bertujuan mengkaji integrasi manajemen risiko pada siklus hidup proyek konstruksi di Indonesia melalui metode tinjauan literatur. Analisis dilakukan terhadap berbagai jurnal, artikel, buku, dan laporan teknis yang membahas praktik manajemen risiko mulai dari tahap perencanaan, desain, konstruksi, hingga operasi dan pemeliharaan. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa sekitar 60% literatur menekankan tahap perencanaan sebagai fase paling kritis terkait risiko biaya dan keterlambatan, sedangkan risiko teknis dan keselamatan dominan pada tahap konstruksi. Metode yang paling sering digunakan dalam identifikasi dan evaluasi risiko antara lain Risk Breakdown Structure (RBS), House of Risk (HOR), serta penerapan Building Information Modelling (BIM) untuk mitigasi risiko berbasis digital. Selain itu, keterlibatan pemangku kepentingan sejak tahap awal terbukti menjadi faktor kunci dalam mengurangi dampak risiko. Penelitian ini memberikan kontribusi konseptual dengan menawarkan kerangka integratif manajemen risiko yang relevan untuk diterapkan pada proyek konstruksi berisiko tinggi di Indonesia.
This study aims to examine the integration of risk management across the construction project life cycle in Indonesia through a literature review method. The analysis covers journals, articles, books, and technical reports discussing risk management practices from the planning, design, construction, to operation and maintenance phases. The findings indicate that approximately 60% of the literature emphasizes the planning phase as the most critical stage in terms of cost and schedule risks, while technical and safety risks are more dominant during the construction phase. The most frequently applied methods for risk identification and evaluation include the Risk Breakdown Structure (RBS), House of Risk (HOR), and the use of Building Information Modelling (BIM) for digital-based mitigation. Furthermore, the active involvement of stakeholders from the early stages is proven to be a key factor in reducing the overall impact of risks. This study provides a conceptual contribution by offering an integrative risk management framework that is relevant for high-risk construction projects in Indonesia.
Analisis Struktur Atas Jembatan Rangka Baja Tipe Warren Kelas A60 (Studi Kasus: Jembatan Marsedan Kabupaten Kapuas Hulu Kalimantan Barat)
Pembangunan infrastruktur transportasi memerlukan perencanaan jembatan yang tidak hanya aman, tetapi juga efisien dan ekonomis guna mendukung kelancaran mobilitas masyarakat serta distribusi barang. Salah satu tipe jembatan yang banyak digunakan adalah jembatan rangka baja tipe Warren kelas A60, yang dipilih karena memiliki keunggulan dalam efisiensi distribusi beban, kekakuan tinggi untuk bentang panjang, serta ketahanan terhadap beban dinamis. Penelitian ini bertujuan menganalisis kinerja struktur atas Jembatan Marsedan yang direncanakan di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, dengan fokus pada kapasitas momen lentur, gaya geser, gaya aksial, serta lendutan struktur terhadap kombinasi pembebanan sesuai standar. Analisis dilakukan menggunakan perangkat lunak SAP2000 dengan acuan SNI 1725:2016 untuk pembebanan, SNI 2833:2016 untuk beban gempa, serta SNI 1729:2020 untuk perencanaan struktur baja. Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh elemen struktur memiliki kapasitas yang memadai dalam menahan beban rencana. Namun, lendutan yang terjadi melebihi batas izin, sehingga diperlukan penerapan sistem lawan lendut (camber system) untuk menjaga kinerja layanan jembatan. Secara keseluruhan, desain jembatan dinyatakan aman, andal, serta layak direalisasikan sebagai bagian dari pembangunan infrastruktur strategis daerah.
The development of transportation infrastructure requires bridge planning that is not only safe, but also efficient and economical to support the smooth mobility of people and the distribution of goods. One type of bridge that is widely used is the Warren type A60 steel truss bridge, which is chosen because it has advantages in load distribution efficiency, high stiffness for long spans, and resistance to dynamic loads. This study aims to analyze the performance of the superstructure of the Marsedan Bridge planned in Kapuas Hulu Regency, West Kalimantan, with a focus on the capacity of bending moments, shear forces, axial forces, and deflections of the structure against standard loading combinations. The analysis was carried out using SAP2000 software with reference to SNI 1725:2016 for loading, SNI 2833:2016 for earthquake loads, and SNI 1729:2020 for steel structure planning. The results of the analysis indicate that all structural elements have adequate capacity to withstand the design loads. However, the deflection that occurs exceeds the permitted limit, so the application of a camber system is required to maintain the bridge's service performance. Overall, the bridge design was declared safe, reliable, and worthy of being realized as part of the regional strategic infrastructure development.
Analysis of English Teacher’s Classroom Language Use in Islamic Junior High Schools of Kabar
Dalam konteks EFL Indonesia, ruang kelas merupakan salah satu dari sedikit lingkungan di mana siswa terpapar masukan bahasa Inggris autentik karena bahasa tersebut jarang digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Oleh karena itu, bahasa guru di kelas memainkan peran penting dalam memberikan paparan yang bermakna dan mengembangkan kompetensi komunikatif siswa. Namun, penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa guru EFL Indonesia cenderung menggunakan bahasa Inggris secara terbatas—terutama untuk memberikan instruksi atau menjelaskan tata bahasa—sementara mengabaikan komunikasi interaktif dan spontan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kategori bahasa kelas yang paling umum digunakan oleh guru EFL dan menganalisis pada tahap mana bahasa Inggris digunakan dalam proses belajar mengajar. Penelitian ini mengisi kesenjangan yang ada dengan menggabungkan kerangka kerja fungsi bahasa kelas Salaberri dengan tahapan pengajaran Willis, yang menawarkan wawasan kuantitatif dan kualitatif. Dengan menggunakan desain kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi kelas, rekaman audio, dan dokumentasi di dua SMP Islam di Kabar yang melibatkan dua guru bahasa Inggris yang mengajar siswa kelas VIII. Untuk menganalisis data, ujaran ditranskripsi, dikodekan, dan dianalisis berdasarkan frekuensi dan penggunaan kontekstual. Temuan penelitian menunjukkan bahwa di MTs Baiturrahim Kabar, Interaksi Sosial (36,8%) merupakan kategori yang paling sering digunakan, sementara di MTs Sa'adatuddarain NW Kabar, Instruksi Sederhana (41,7%) mendominasi. Kedua guru menggunakan bahasa Inggris terutama pada tahap pembukaan dan pengembangan pelajaran, tetapi membatasi penggunaannya dalam kerja berpasangan/kelompok dan situasi spontan. Hasil ini menyiratkan perlunya guru untuk mendiversifikasi bahasa Inggris di kelas guna meningkatkan interaksi komunikatif dan memaksimalkan paparan siswa terhadap bahasa target