Journal of Authentic Research
Not a member yet
    242 research outputs found

    Pengaruh Ukuran Perusahaan, Dividen, dan Kualitas Audit terhadap Kualitas Laba pada Perusahaan Makanan Minuman di BEI 2021–2023

    No full text
    Laporan keuangan merupakan sarana komunikasi penting bagi perusahaan dalam menyampaikan informasi kepada pihak internal maupun eksternal. Informasi laba memiliki peran krusial, khususnya bagi investor, karena laba yang tinggi atau meningkat memberikan indikasi keuntungan yang diharapkan. Namun, adanya motivasi manajemen untuk menampilkan laba yang lebih baik dapat mendorong praktik manajemen laba sehingga menurunkan kualitas laba yang dilaporkan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh ukuran perusahaan, pembayaran dividen, dan kualitas audit terhadap kualitas laba pada perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2021–2023. Populasi penelitian berjumlah 71 perusahaan dengan teknik purposive sampling yang menghasilkan 14 perusahaan sebagai sampel, sehingga diperoleh 42 data observasi dalam tiga tahun penelitian. Setelah dilakukan penghapusan outlier, jumlah data akhir yang dianalisis adalah 35. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linier berganda dengan uji parsial (t), uji simultan (F), koefisien determinasi, serta uji asumsi klasik dan statistik deskriptif dengan bantuan SPSS versi 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap kualitas laba, pembayaran dividen berpengaruh positif terhadap kualitas laba, sedangkan kualitas audit tidak berpengaruh terhadap kualitas laba. Temuan ini mengimplikasikan bahwa kebijakan dividen memiliki peran penting dalam menjaga kualitas laba, sementara ukuran perusahaan dan kualitas audit belum mampu menunjukkan kontribusi signifikan dalam konteks perusahaan makanan dan minuman di Indonesia. Financial statements serve as an important communication tool for companies in delivering information to both internal and external stakeholders. Earnings information plays a crucial role, especially for investors, as higher or increasing earnings indicate expected returns. However, managerial incentives to present higher earnings may encourage earnings management practices that reduce reported earnings quality. This study aims to examine the effect of firm size, dividend payout, and audit quality on earnings quality in food and beverage companies listed on the Indonesia Stock Exchange during 2021–2023. The research population consisted of 71 companies, from which 14 were selected as samples using purposive sampling, resulting in 42 observations across three years. After outlier removal, 35 valid observations were analyzed. Data were processed using multiple linear regression analysis with partial test (t-test), simultaneous test (F-test), coefficient of determination, classical assumption tests, and descriptive statistics, supported by SPSS version 25. The results indicate that firm size has no significant effect on earnings quality, dividend payout has a positive effect on earnings quality, while audit quality has no significant effect on earnings quality. These findings imply that dividend policy plays an important role in maintaining earnings quality, whereas firm size and audit quality do not show a significant contribution in the context of food and beverage companies in Indonesia.

    Pengaruh Model Cooperative Learning TIPE Group Investigation Berbantuan Media TikTok Terhadap Kreativitas Belajar Siwa

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh model cooperative learning tipe group investigation yang berbantuan media TikTok terhadap kreativitas belajar siswa. Motode yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan desain Non-Equivalent Posttest-Only Control Group Design. Populasi pada penelitian ini ialah seluruh kelas Xl IPS di MAN 1 Mataram tahun ajaran periode 2025/2026, menggunakan simple random sampling. Setelah dilakukan penyepadanan pada guru pengampu, materi pembelajaran, jumlah siswa, hasil belajar, waktu dan jadwal pembelajaran. Sehingga terpilih Xl IPS2 kelas kontrol dan Xl IPS1 sebagai kelas eksperimen. Instrumen penelitian berupa lembar angket kreativitas yang telah diuji sehingga layak digunakan dalam penelitian, angket tersebut di isi langsung oleh siswa. Data yang telah didapatkan kemudian dianalisis menggunakan uji statistik parametrik melalui Independent sample T-Test, ketika data dinyatakan mencukupi syarat normalitas dan homogenitas. Hasil yang telah di analisis membuktikan skor rata-rata kreativitas belajar siswa kelas eksperimen (52,60) lebih tinggi daripada kelas kontrol (45,60). sehingga model Cooperative Learning Tipe Group Investigation Berbantuan Media TikTok berpengaruh terhadap kreativitas belajar sisw

    Materi Ajar Gerak Lurus Berbasis Authentic Learning Menggunakan Model Collaborative Problem Solving: Validitas Aspek

    No full text
    Kemampuan memecahkan masalah dan kolaborasi dibutuhkan dalam proses pembelajaran fisika, tetapi kurangnya sumber belajar berbasis authentic learning serta model pembelajaran yang tidak sesuai menyebabkan peserta didik kesulitan memahami materi dan menyelesaikan permasalahan secara kolaboratif. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan validitas teoritis dari produk pengembangan berupa materi ajar gerak lurus berbasis authentic learning menggunakan model collaborative problem solving. Model penelitian dan pengembangan yang digunakan adalah ASSURE. Data diperoleh melalui lembar validasi materi ajar yang dinilai oleh tiga validator. Hasil validasi menunjukkan bahwa materi ajar yang dikembangkan terkategori sangat valid dengan skor rata-rata 3,55. Dengan demikian, diperoleh simpulan bahwa materi ajar gerak lurus berbasis authentic learning menggunakan model collaborative problem solving dapat diujicobakan dalam proses pembelajaran. Hasil penelitian ini berpotensi untuk menjembatani kesenjangan antara pengetahuan teoritis dan aplikasi praktis, meningkatkan pengalaman belajar siswa dan mempersiapkan siswa untuk tantangan dunia nyata. Straight Movement Teaching Materials Based on Authentic Learning using the Collaborative Problem-Solving Model: Validity’s Aspects Abstract Problem-solving and collaboration skills are required in the physics learning process. Still, the lack of learning resources based on authentic learning and inappropriate teaching models causes students to have difficulty understanding the material and solving problems collaboratively. This research aims to describe the theoretical validity of the developed product in the form of straight-movement teaching materials based on authentic learning using the collaborative problem-solving model. The research and development model used is ASSURE. Data were obtained through the teaching material validation sheet assessed by three validators. The validation results show that the developed teaching materials are categorized as very valid with an average score of 3.55. Thus, it is concluded that the straight movement teaching materials based on authentic learning using the collaborative problem-solving model can be tested in the learning process. The results of this study have the potential to bridge the gap between theoretical knowledge and practical application, enhance student learning experiences, and prepare students for real-world challenges

    Validitas Modul Sistem Pencernaan Manusia Berbasis Problem Based Learning di MA Sirojut Tholibin Taman Sari Pamekasan

    No full text
    Penelitian ini mengkaji pengembangan modul biologi yang berfokus pada sistem pencernaan manusia, menggunakan pendekatan Problem Based Learning (PBL). Studi ini diarahkan untuk menghasilkan materi pembelajaran yang efektif dan interaktif, dengan mengadopsi metodologi Research and Development (R&D) berbasis model 4D oleh Thiagarajan, yang mencakup empat tahapan utama: Define, Design, Develop, dan Disseminate. Namun, tahap Disseminate tidak dijalankan karena keterbatasan waktu. Validasi modul dilakukan melalui penilaian dari ahli materi, ahli media, dan praktisi pendidikan (guru) untuk menjamin kualitas dan keefektifan modul. Uji coba modul dilaksanakan pada enam siswa kelas XI IPA Putri, menghasilkan feedback positif dan konstruktif terhadap kelayakan modul. Hasil validasi dari ahli materi menunjukkan persentase kelayakan sebesar 84% (Cukup Layak), ahli media dengan 95% (Layak), dan respon positif dari guru biologi sebesar 82% (Cukup Layak). Sementara itu, validasi dari siswa memberikan persentase rerata 89% dengan kriteria Sangat Baik. Temuan ini menegaskan bahwa modul PBL yang dikembangkan efektif untuk digunakan dalam pembelajaran biologi khususnya materi sistem pencernaan manusia, mendukung peningkatan pemahaman konseptual dan aplikatif siswa. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi penting terhadap pengembangan sumber belajar inovatif yang mendukung keterlibatan aktif dan pembelajaran mandiri siswa. The Validity of Human Digestive System Module Based on Problem-Based Learning at MA Sirojut Tholibin Taman Sari Pamekasan Abstract This study investigates the development of a biology module focused on the human digestive system, utilizing the Problem-Based Learning (PBL) approach. The study aims to produce effective and interactive learning materials, adopting the Research and Development (R&D) methodology based on Thiagarajan's 4D model, which includes four main stages: Define, Design, Develop, and Disseminate. However, the Disseminate stage was not conducted due to time constraints. The module's validation was conducted through assessments by subject matter experts, media experts, and education practitioners (teachers) to ensure the quality and effectiveness of the module. The module trial was carried out on six female students of the 11th grade science class, yielding positive and constructive feedback on the module's feasibility. Validation results from the subject matter expert showed a feasibility percentage of 84% (Moderately Feasible), media experts with 95% (Feasible), and positive responses from biology teachers at 82% (Moderately Feasible). Meanwhile, validation from students provided an average percentage of 89% with a Very Good criterion. These findings affirm that the developed PBL module is effective for use in biology learning, specifically on the digestive system material, supporting the enhancement of students' conceptual and applicative understanding. Thus, this study contributes significantly to the development of innovative learning resources that support active engagement and independent learning of students

    Analisis Kategori Lingkungan Belajar Siswa Tingkat SMA Berdasarkan Analisis Rasch Model

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas lingkungan belajar di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Banjarmasin menggunakan Model Rasch. Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket dengan 25 butir soal yang mengukur variabel-variabel lingkungan belajar seperti interaksi sosial dan akses ke sumber belajar. Data dikumpulkan dari 54 siswa kelas X dan XI dan dianalisis menggunakan software Ministep versi 5.3.1.0. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki lingkungan belajar yang baik (46,3%) dan cukup (50%), dengan hanya 3,7% yang memiliki lingkungan belajar yang kurang. Analisis juga mengidentifikasi 9 siswa sebagai outlier, menunjukkan ketidakkonsistenan dalam jawaban angket. Faktor-faktor yang mempengaruhi lingkungan belajar termasuk keaktifan guru, kondisi fisik ruang kelas, serta ketersediaan alat tulis dan buku pelajaran. Temuan ini menegaskan pentingnya lingkungan belajar yang kondusif untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Model Rasch dan software Ministep terbukti efektif dalam memastikan validitas dan reliabilitas instrumen penelitian, memberikan data yang akurat dan konsisten untuk analisis lebih lanjut. Penelitian ini memberikan rekomendasi praktis untuk meningkatkan lingkungan belajar di sekolah-sekolah di Indonesia. Analysis of the Learning Environment Categories for High School Students Based on the Rasch Model Abstract This study aims to assess the quality of the learning environment at Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Banjarmasin utilizing the Rasch Model. The research instrument comprised a questionnaire with 25 items measuring variables related to the learning environment such as social interaction and access to learning resources. Data were collected from 54 students in grades X and XI and analyzed using Ministep software version 5.3.1.0. The results indicated that the majority of students experienced a positive learning environment (46.3%) and adequate (50%), with only 3.7% experiencing a less favorable learning environment. The analysis also identified 9 students as outliers, indicating inconsistencies in questionnaire responses. Factors affecting the learning environment included teacher engagement, the physical conditions of the classrooms, and the availability of stationery and textbooks. These findings underline the importance of a conducive learning environment to enhance student motivation and learning outcomes. The Rasch Model and Ministep software were effective in ensuring the validity and reliability of the research instrument, providing accurate and consistent data for further analysis. The study offers practical recommendations for enhancing the learning environment in schools across Indonesia

    Indeks Keanekaragaman Kepiting (Scylla Sp) di Pantai Cemara sebagai Dasar Penyusunan Petunjuk Praktikum Ekologi

    No full text
    Penelitian ini mengevaluasi keanekaragaman hayati kepiting bakau (Scylla sp.) di kawasan mangrove Pantai Cemara, Lombok Barat, dan menyusun petunjuk praktikum ekologi berdasarkan hasilnya. Penelitian dilakukan di tiga stasiun dengan kondisi lingkungan berbeda, mengidentifikasi empat spesies Scylla dengan total 140 individu: Scylla serrata (47 individu), Scylla tranquebarica (44 individu), Scylla paramamosain (30 individu), dan Scylla olivacea (19 individu). Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener menunjukkan keanekaragaman sedang di Stasiun I (H' = 1,217), Stasiun II (H' = 1,294), dan Stasiun III (H' = 1,326), yang mencerminkan stabilitas ekosistem mangrove namun mengindikasikan perlunya konservasi. Hasil penelitian juga digunakan untuk mengembangkan petunjuk praktikum ekologi, yang divalidasi dengan rerata skor 85% (sangat valid) untuk isi, 77% (valid) untuk bahasa, 68% (valid) untuk tampilan, dan 92% (sangat valid) untuk keterbacaan. Petunjuk ini dirancang untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang keanekaragaman hayati mangrove dan relevansinya dalam konservasi. Dengan menggunakan data lokal, petunjuk praktikum ini diharapkan dapat menghubungkan teori dengan aplikasi praktis di lapangan serta mendorong keterlibatan aktif dalam upaya pelestarian lingkungan. Diversity Index of Crabs (Scylla Sp) at Cemara Beach as a Basis for Developing an Ecology Practicum Guide Abstract This study evaluates the biodiversity of mangrove crabs (Scylla sp.) in the mangrove ecosystem of Cemara Beach, West Lombok, and develops an ecology practicum guide based on the results. Conducted at three stations with varying environmental conditions, the study identified four Scylla species totaling 140 individuals: Scylla serrata (47 individuals), Scylla tranquebarica (44 individuals), Scylla paramamosain (30 individuals), and Scylla olivacea (19 individuals). The Shannon-Wiener diversity index indicated moderate biodiversity at Station I (H' = 1.217), Station II (H' = 1.294), and Station III (H' = 1.326), reflecting ecosystem stability but also highlighting the need for conservation efforts. The study's findings were used to develop an ecology practicum guide, validated with an average score of 85% (highly valid) for content, 77% (valid) for language, 68% (valid) for visual presentation, and 92% (highly valid) for readability. This guide is designed to enhance students' understanding of mangrove biodiversity and its relevance to conservation. By utilizing local data, the practicum guide is expected to bridge theory with practical field applications and promote active engagement in environmental conservation efforts

    Dampak Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD terhadap Keterampilan Kolaborasi dan Hasil Belajar Siswa dalam Mata Pelajaran Fisika

    No full text
    Penelitian ini mengkaji dampak penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams-Achievement Divisions (STAD) terhadap keterampilan kolaborasi dan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran fisika di tingkat sekolah menengah. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus, yang melibatkan 21 siswa kelas X MAN 3 Lombok Tengah. Pada Siklus I, hasil belajar kognitif menunjukkan bahwa hanya 38% siswa yang mencapai ketuntasan dengan nilai rata-rata 57,43. Namun, setelah penerapan model STAD pada Siklus II, terjadi peningkatan signifikan dengan 86% siswa mencapai ketuntasan dan nilai rata-rata meningkat menjadi 89,62. Selain itu, keterampilan kolaborasi siswa meningkat dari 56% pada Siklus I menjadi 74% pada Siklus II. Hasil ini menunjukkan bahwa model STAD efektif dalam meningkatkan keterampilan kolaborasi dan pemahaman konsep fisika yang kompleks. Penelitian ini menegaskan pentingnya pembelajaran kooperatif dalam pendidikan fisika, serta peran guru sebagai fasilitator dalam menciptakan lingkungan belajar yang kolaboratif dan mendukung. The Impact of the STAD Cooperative Learning Model on Students' Collaboration Skills and Academic Achievement in Physics Abstract This study examines the impact of implementing the Student Teams-Achievement Divisions (STAD) cooperative learning model on students' collaboration skills and learning outcomes in high school physics. The research was conducted over two cycles, involving 21 tenth-grade science students at MAN 3 Center Lombok. In Cycle I, cognitive learning outcomes showed that only 38% of students achieved mastery with an average score of 57.43. However, after applying the STAD model in Cycle II, there was a significant improvement, with 86% of students achieving mastery and the average score increasing to 89.62. Additionally, students' collaboration skills improved from 56% in Cycle I to 74% in Cycle II. These results indicate that the STAD model is effective in enhancing both collaboration skills and the understanding of complex physics concepts. This study underscores the importance of cooperative learning in physics education and the role of teachers as facilitators in creating a collaborative and supportive learning environment

    Peningkatan Keterampilan Proses Sains dan Hasil Belajar Kognitif Melalui Pembelajaran Kontekstual Berbasis Praktikum di Sekolah Menengah Pertama

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan proses sains dan hasil belajar kognitif di kalangan siswa kelas VII SMPN 1 Alas melalui penerapan pembelajaran kontekstual berbasis praktikum. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan dalam dua siklus, masing-masing terdiri dari tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah 36 siswa, dengan data dikumpulkan melalui lembar observasi dan tes kognitif. Pada Siklus I, nilai tertinggi yang dicapai adalah 90, nilai terendah 68, dengan nilai rata-rata 82. Jumlah siswa yang mencapai kriteria ketuntasan belajar adalah 27 (75% ketuntasan klasikal), yang dikategorikan sebagai tidak tuntas. Pada Siklus II, nilai tertinggi meningkat menjadi 95, nilai terendah menjadi 80, dengan nilai rata-rata 89. Jumlah siswa yang mencapai kriteria meningkat menjadi 33 (91,6% ketuntasan klasikal), yang dikategorikan sebagai tuntas. Selain itu, skor keterampilan proses sains meningkat dari 68% (Siklus I) menjadi 87% (Siklus II). Hasil ini menunjukkan bahwa pembelajaran kontekstual berbasis praktikum secara signifikan meningkatkan keterampilan proses sains dan hasil belajar kognitif siswa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa mengintegrasikan pendekatan praktikum dalam pembelajaran kontekstual secara efektif meningkatkan hasil belajar kognitif dan kinerja siswa. Improving Science Process Skills and Cognitive Learning Outcomes Through Contextual Learning Based on Practical Activities in Junior High School Abstract This study aims to enhance science process skills and cognitive learning outcomes among seventh-grade students at SMPN 1 Alas through the implementation of contextual learning based on practical activities. The research employs a Classroom Action Research (CAR) methodology, conducted over two cycles, each consisting of planning, action, observation, and reflection stages. The study involves 36 students, with data collected through observation sheets and cognitive tests. In Cycle I, the highest score achieved was 90, the lowest was 68, with an average score of 82. The number of students who met the learning criteria was 27 (75% classical completeness), which was categorized as incomplete. In Cycle II, the highest score increased to 95, the lowest to 80, with an average score of 89. The number of students meeting the criteria increased to 33 (91.6% classical completeness), categorized as complete. Additionally, the science process skills scores improved from 68% (Cycle I) to 87% (Cycle II). These results indicate that contextual learning based on practical activities significantly improves both science process skills and cognitive learning outcomes. The study concludes that integrating practical, contextual approaches in science education effectively enhances students' understanding and performance

    Meningkatkan Hasil Belajar Biologi Kelas VIII Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Rotating Trio Exchange (RTE) di SMPN 6 Kempo

    No full text
    Penelitian ini menyelidiki efektivitas model Pembelajaran Kooperatif Tipe Rotating Trio Exchange (RTE) dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII pada mata pelajaran biologi di SMPN 6 Kempo. Observasi awal mengungkapkan rendahnya kinerja siswa dengan nilai rata-rata 58,5 dan tingkat ketuntasan klasikal sebesar 60%. Masalah utama adalah kurangnya keterlibatan siswa dan bimbingan guru yang tidak memadai. Pada Siklus I, hasil belajar siswa sedikit meningkat dengan nilai rata-rata 68,75 dan tingkat ketuntasan 87,5%. Namun, aktivitas siswa dan partisipasi dalam diskusi perlu ditingkatkan. Pada Siklus II, terjadi peningkatan signifikan: nilai rata-rata meningkat menjadi 77,5 dan tingkat ketuntasan mencapai 100%. Hasil ini menunjukkan bahwa strategi pengajaran yang efektif dan bimbingan yang tepat sangat mempengaruhi hasil belajar. Motivasi belajar siswa juga meningkat, dari 64,8% pada Siklus I menjadi 73,9% pada Siklus II, menunjukkan kemajuan yang penting. Penelitian ini menegaskan pentingnya mengintegrasikan strategi kolaboratif dan interaktif dalam pendidikan biologi. Model RTE secara efektif meningkatkan keterlibatan siswa, memperdalam pemahaman konsep biologi, dan menciptakan lingkungan belajar yang positif. Kesimpulannya, model RTE secara signifikan meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa, memberikan wawasan berharga untuk meningkatkan praktik pendidikan di kelas biologi. Enhancing Eighth-Grade Biology Learning Outcomes through the Cooperative Learning Type Rotating Trio Exchange (RTE) Model at SMPN 6 Kempo Abstract This study investigates the effectiveness of the Cooperative Learning Type Rotating Trio Exchange (RTE) model in enhancing student learning outcomes in eighth-grade biology classes at SMPN 6 Kempo. Initial observations revealed low student performance, with average scores of 58.5 and a classical completeness rate of 60%. The primary issues were student disengagement and insufficient teacher guidance. During Cycle I, student learning outcomes improved slightly, with an average score of 68.75 and a completeness rate of 87.5%. However, student activity and discussion participation needed enhancement. In Cycle II, significant improvements were observed: the average score increased to 77.5, and the completeness rate reached 100%. These results indicate that effective teaching strategies and proper guidance significantly impact learning outcomes. Student motivation also improved, rising from 64.8% in Cycle I to 73.9% in Cycle II, demonstrating important gains. The study underscores the importance of integrating collaborative and interactive strategies in biology education. The RTE model effectively increased student engagement, deepened understanding of biological concepts, and created a positive learning environment. In conclusion, the RTE model significantly enhanced student motivation and learning outcomes, offering valuable insights for improving educational practices in biology classes

    Pengaruh Pendekatan Saintifik terhadap Peningkatan Keterampilan Berpikir Kreatif Siswa Sekolah Menengah

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pendekatan saintifik terhadap keterampilan berpikir kreatif siswa kelas VII di SMPN 16 Mataram. Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimen dengan model post-test only control group design. Sampel penelitian terdiri dari dua kelas, yaitu kelas eksperimen (28 siswa) yang diajar menggunakan pendekatan saintifik dan kelas kontrol (28 siswa) yang diajar dengan metode konvensional. Data keterampilan berpikir kreatif dikumpulkan melalui tes uraian yang mencakup empat indikator utama: fluency, flexibility, originality, dan elaboration. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa rata-rata nilai post-test keterampilan berpikir kreatif di kelas eksperimen mencapai 72,32, sedangkan di kelas kontrol hanya 62,67. Uji-t yang dilakukan menunjukkan thitung? sebesar 3,28 lebih besar dari ttabel? sebesar 1,67 pada taraf signifikansi 0,05, yang mengindikasikan adanya perbedaan signifikan antara kedua kelompok. Hasil ini menegaskan bahwa pendekatan saintifik secara signifikan lebih efektif dalam meningkatkan keterampilan berpikir kreatif siswa dibandingkan dengan metode pengajaran konvensional. Berdasarkan temuan ini, disarankan agar pendekatan saintifik diintegrasikan lebih luas dalam kurikulum pendidikan untuk mengembangkan keterampilan berpikir kreatif siswa secara lebih efektif. The Impact of the Scientific Approach on Enhancing Creative Thinking Skills of Middle School Students Abstract This study aims to analyze the impact of the scientific approach on the creative thinking skills of seventh-grade students at SMPN 16 Mataram. The research employed a quasi-experimental design with a post-test only control group model. The sample consisted of two classes: an experimental class (28 students) taught using the scientific approach and a control class (28 students) taught using conventional methods. Creative thinking skills data were collected through essay tests covering four main indicators: fluency, flexibility, originality, and elaboration. Statistical analysis revealed that the average post-test score of creative thinking skills in the experimental class reached 72.32, compared to 62.67 in the control class. The t-test results indicated a tcount? of 3.28, which is greater than the ttable? of 1.67 at a 0.05 significance level, suggesting a significant difference between the two groups. These findings confirm that the scientific approach is significantly more effective in enhancing students' creative thinking skills compared to conventional teaching methods. Based on these results, it is recommended that the scientific approach be more widely integrated into the educational curriculum to more effectively develop students' creative thinking skills

    0

    full texts

    242

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Journal of Authentic Research
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇