Empiricism Journal
Not a member yet
    400 research outputs found

    Implementasi Inovasi Teknologi dalam Meningkatkan Pelayanan Administrasi Terpadu di Kantor Kecamatan Jereweh

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi inovasi teknologi dalam meningkatkan efisiensi pelayanan administrasi terpadu di Kantor Kecamatan Jereweh. Kajian ini mengisi kesenjangan literatur terkait penerapan program PATEN berbasis teknologi di tingkat kecamatan, khususnya di wilayah rural yang menghadapi keterbatasan infrastruktur dan literasi digital. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan desain studi kasus, data dikumpulkan selama tiga bulan melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan analisis dokumen terhadap 15 informan kunci. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adopsi sistem digital telah meningkatkan efisiensi internal, akurasi data, dan kecepatan layanan. Namun, dampak positif ini belum dirasakan secara merata karena masih terdapat tiga tantangan utama: keterbatasan infrastruktur dan anggaran, kapasitas SDM yang belum merata serta resistensi terhadap perubahan, dan kesenjangan literasi digital di masyarakat. Temuan ini menekankan pentingnya pendekatan ekosistemik dalam transformasi digital di level lokal, yang mengintegrasikan aspek teknologi, kapasitas kelembagaan, manajemen perubahan, dan desain layanan yang inklusif. Implikasi praktis dari studi ini adalah perlunya strategi implementasi hibrida yang memastikan layanan tetap dapat diakses oleh semua kelompok masyarakat, termasuk yang rentan secara digital. Implementation of Technological Innovation in Enhancing Integrated Administrative Services at the Jereweh District Office Abstract This study aims to analyze the implementation of technological innovation in enhancing the efficiency of integrated administrative services at the Jereweh District Office. It addresses a gap in the literature on the application of technology-based PATEN programs at the sub-district level, particularly in rural areas facing infrastructure and digital literacy challenges. Using a qualitative case study approach, data were collected over three months through in-depth interviews, direct observation, and document analysis involving 15 key informants. The findings reveal that the adoption of digital systems has improved internal efficiency, data accuracy, and service speed. However, these benefits are not yet evenly distributed due to three core challenges: limited infrastructure and budget, uneven human resource capacity with resistance to change, and digital literacy gaps among citizens. The study highlights the importance of an ecosystem-based approach to local digital transformation that integrates technology with institutional capacity, change management, and inclusive service design. The practical implication is the need for a hybrid implementation strategy that ensures accessibility for all segments of society, including digitally vulnerable groups

    Eksistensi Prinsip-Prinsip Surat Berharga Syariah Negara Sebagai Instrumen Pembiayaan

    No full text
    Perkembangan instrumen keuangan syariah di Indonesia menunjukkan potensi besar, terutama melalui Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk negara sebagai alternatif pembiayaan yang selaras dengan prinsip Islam. Meski demikian, tantangan masih muncul dari aspek regulasi, literasi keuangan, dan kepastian hukum. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis prinsip-prinsip operasional SBSN dalam perspektif hukum dan ekonomi syariah serta mengevaluasi efektivitasnya sebagai instrumen pembiayaan pembangunan nasional. Metode yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan analitis, serta sumber data berupa bahan hukum primer, sekunder, dan tersier. Hasil kajian menunjukkan bahwa SBSN dioperasikan melalui akad syariah seperti mudharabah, musyarakah, ijarah, dan istisna’, yang masing-masing memiliki basis aset riil dan mekanisme pembagian risiko yang adil. SBSN terbukti memberikan kontribusi signifikan dalam membiayai proyek infrastruktur strategis dan memperluas inklusi keuangan syariah. Namun, efektivitas implementasinya masih menghadapi kendala dalam bentuk celah regulasi, lemahnya koordinasi antar lembaga, serta rendahnya tingkat literasi publik terhadap produk investasi syariah. Simpulan dari penelitian ini menekankan pentingnya penguatan regulasi, peningkatan literasi dan kepastian hukum untuk menjamin keberlanjutan SBSN sebagai instrumen keuangan syariah yang inklusif, etis, dan produktif dalam mendukung pembangunan nasional. The Existence of the Principles of State Sharia Securities as a Financing Instrument Abstract The development of Islamic financial instruments in Indonesia shows significant potential, particularly through Sovereign Sukuk (SBSN) as a Sharia-compliant financing alternative. However, challenges remain in regulatory implementation, financial literacy, and legal certainty. This study aims to analyze the operational principles of SBSN from both Islamic legal and economic perspectives and evaluate its effectiveness as a national development financing instrument. The research employs a normative legal method using statutory, conceptual, and analytical approaches, based on primary, secondary, and tertiary legal sources. The findings indicate that SBSN is structured using Sharia contracts such as mudharabah, musyarakah, ijarah, and istisna’, all of which rely on real assets and ensure equitable risk-sharing mechanisms. SBSN has made a significant contribution to funding strategic infrastructure projects while expanding Islamic financial inclusion. Nonetheless, regulatory gaps, weak institutional coordination, and low public literacy on Sharia-based investments hinder its optimal implementation. The study concludes that strengthening regulatory frameworks, improving financial literacy, and ensuring legal certainty are essential to maintain SBSN's sustainability as an ethical, inclusive, and productive Islamic financial instrument for national development

    Tingkat Aktivitas Fisik Peserta Didik Kelas 4 SDN 2 Loktabat Utara Banjarbaru

    No full text
    Kurangnya aktivitas fisik pada anak sekolah dasar bisa berdampak buruk pada kesehatan dan perkembangan mereka. Saat ini, banyak anak lebih sering bermain gadget, menonton televisi, atau bermain di dalam rumah dibandingkan bermain di luar. Penelitian ini ingin mengungkap faktor-faktor yang memengaruhi rendahnya aktivitas fisik pada anak sekolah dasar. Dengan memahami kondisi tersebut, diharapkan hasil penelitian dapat memberikan kontribusi dalam perumusan strategi atau program yang mendukung peningkatan aktivitas fisik peserta didik secara rutin dan terarah. Penelitian ini menerapkan pendekatan kuantitatif untuk menganalisis tingkat aktivitas fisik peserta didik kelas 4 di SDN 2 Loktabat Utara Banjarbaru dengan pengumpulan data melalui kuesioner Google Forms. Diperoleh hasil penelitian tingkat aktivitas fisik peserta didik kelas 4 SDN 2 Loktabat Utara Banjarbaru, didapat bahwa tidak terdapat peserta didik yang masuk dalam kategori sangat tinggi, dengan persentase sebesar 0%. Sebanyak 5 peserta didik (29,41%) berada pada klasifikasi tinggi, sedangkan 11 peserta didik (64,71%) termasuk dalam klasifikasi sedang. Sementara itu, hanya 1 peserta didik (5,88%) yang tergolong dalam klasifikasi rendah, dan tidak ada peserta didik yang termasuk dalam klasifikasi sangat rendah. ini menunjukkan berbagai macam kegiatan yang peserta didik jalani setiap hari. Di tahun 2025, sebagian besar peserta didik cenderung menghabiskan waktu dengan bermain game online melalui ponsel dibandingkan bermain di luar ruangan. The Physical Activity Level of 4th Grade Students at SDN 2 Loktabat Utara Banjarbaru Abstract Lack of physical activity in primary school children can have a negative impact on their health and development. Nowadays, many children play gadgets, watch television, or play indoors rather than outside. This study aims to uncover the factors that influence low physical activity in primary school children. By understanding these conditions, it is hoped that the results of the study can contribute to the formulation of strategies or programmes that support the increase in physical activity of students in a routine and targeted manner. This study applied a quantitative approach to analyse the physical activity level of grade 4 students at SDN 2 Loktabat Utara Banjarbaru by collecting data through a Google Forms questionnaire. The results of the research on the level of physical activity of grade 4 students of SDN 2 Loktabat Utara Banjarbaru showed that there were no students in the very high category, with a percentage of 0%. A total of 5 students (29.41%) were in the high classification, while 11 students (64.71%) were included in the medium classification. Meanwhile, only 1 student (5.88%) was classified as low, and no students was classified as very low. this shows the wide range of activities that learners undergo every day. In 2025, most learners tend to spend time playing online games on their mobile phones rather than playing games

    Perbedaan Kecenderungan Body Dysmorphic Disorder Siswa yang Tinggal di Asrama dan Luar Asrama Pada SMAK St. Gregorius Reo Kabupaten Manggarai

    No full text
    Ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh menjadi fenomena yang semakin sering dijumpai di kalangan remaja, yang dalam konteks psikologi dikenal sebagai Body Dysmorphic Disorder (BDD). Kondisi ini dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis dan hubungan sosial remaja, terutama dalam lingkungan dengan pola kehidupan yang berbeda seperti asrama dan non-asrama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat kecenderungan Body Dysmorphic Disorder antara siswa yang tinggal di asrama dan siswa yang tinggal di luar asrama pada SMAK St. Gregorius Reok, Kabupaten Manggarai. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik cluster sampling dan melibatkan 217 siswa, terdiri atas 88 siswa yang tinggal di asrama dan 129 siswa yang tinggal di luar asrama. Analisis data dilakukan menggunakan uji Independent Sample T-Test. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan signifikan kecenderungan Body Dysmorphic Disorder antara kedua kelompok (p = 0.001; p < 0.05; T = -15.828). Temuan ini mengindikasikan bahwa lingkungan tempat tinggal berperan dalam membentuk persepsi dan kepuasan siswa terhadap tubuhnya. Oleh karena itu, pihak sekolah dan pengelola asrama disarankan untuk memberikan dukungan psikologis dan edukasi mengenai citra tubuh yang positif kepada seluruh siswa. The Difference in the Tendency of Body Dysmorphic Disorder Among Boarding and Non-Boarding Students at SMAK St. Gregorius Reo, Manggarai Regency Abstract Body dissatisfaction has become an increasingly common phenomenon among adolescents, known in psychology as Body Dysmorphic Disorder (BDD). This condition can affect adolescents’ psychological well-being and social interactions, particularly in different living environments such as dormitories and non-dormitories. This study aims to examine the differences in the tendency of Body Dysmorphic Disorder between students living in dormitories and those living outside dormitories at SMAK St. Gregorius Reok, Manggarai Regency. This research employed a quantitative method with a cluster sampling technique involving 217 students, consisting of 88 dormitory students and 129 non-dormitory students. Data were analyzed using the Independent Sample T-Test. The results showed a significant difference in the tendency of Body Dysmorphic Disorder between the two groups (p = 0.001; p < 0.05; T = -15.828). These findings indicate that living environment plays an important role in shaping students’ body perception and satisfaction. Therefore, schools and dormitory administrators are encouraged to provide psychological support and education on developing a positive body image among students

    Gambaran Pemeriksaan IgG dan IgM Demam Berdarah Dengue pada Pasien di Rumah Sakit Umum Pancaran Kasih Kota Manado

    No full text
    Demam berdarah dengue merupakan infeksi virus dengue yang di tularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk aedes aegypti dan aedes albopictus yang di temukan di daerah beriklim tropis dan subtropik. Menurut Badan Pusat Statistik Sulawesi Utara tahun 2024, Kota Manado menduduki urutan ke empat dalam jumlah kasus Demam berdarah dengue terbanyak. Penyakit ini dapat di tegakkan berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan laboratorium. Salah satu pemeriksaan laboratorium yakni Pemeriksaan Serologis Immunoglobin G (IgG) dan Immunoglobulin M (IgM) anti dengue. Penelitian bertujuan untuk menggambarkan pemeriksaan IgG dan IgM pada pasien demam berdarah dengue di Rumah Sakit Umum Pancaran Kasih Kota Manado. Jenis penelitian adalah penelitian kuantitatif deskriptif dengan desain penelitian cross sectional-study. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh pasien yang dilakukan pemeriksaan IgG dan IgM anti dengue dalam periode januari – desember 2024 yang berjumlah 151 pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan lebih banyak dilakukan pemeriksaan IgG dan IgM anti dengue berjumlah 80 orang (53,0%) dengan mayoritas hasil pemeriksaan IgG + IgM – ( 33 orang) mengindikasikan infeksi sekunder, sedangkan laki laki 71 orang (47,0%) dengan hasil pemeriksaan yang paling dominan adalah hasil IgG – IgM – (38 orang) mengindikasikan infeksi awal. Kelompok usia 6-9 tahun memiliki jumlah yang paling dominan, berjumlah 44 orang (29,1% ) dan kelompok usia 19-59 berjumlah 43 orang (28,5%). Mayoritas pasien pada kedua kelompok usia ini memiliki hasil IgG – IgM –. Kelompok Usia 6-9 tahun (19 orang) dan kelompok usia 19-59 (25 orang). Description of IgG And IgM Examination for Dengue Hemorrhagic Fever in Patients at Pancaran Kasih General Hospital, Manado City Abstract Dengue fever is a dengue virus infection transmitted to humans through the bites of Aedes aegypti and Aedes albopictus mosquitoes, found in tropical and subtropical climates. According to the North Sulawesi Central Statistics Agency (BPS) in 2024, Manado City ranked fourth in terms of the number of dengue fever cases. This disease can be diagnosed based on clinical symptoms and laboratory tests. One of the laboratory tests is the serological examination of anti-dengue immunoglobulin G (IgG) and anti-dengue immunoglobulin M (IgM). This study aimed to describe IgG and IgM testing in dengue fever patients at Pancaran Kasih General Hospital, Manado City. This study was a descriptive quantitative study with a cross-sectional design. The sample consisted of all 151 patients who underwent anti-dengue IgG and IgM testing between January and December 2024. The results showed that females (80) underwent anti-dengue IgG and IgM testing more frequently, with the majority of IgG + IgM – results (33) indicating secondary infection. Males (71) were male, with the most dominant IgG – IgM – results (38) indicating primary infection. The 6-9 age group had the highest number of patients, with 44 (29.1%), and the 19-59 age group had 43 (28.5%). The majority of patients in both age groups had IgG – IgM – results. Age group 6-9 years (19 people) and age group 19-59 (25 people)

    Efektivitas Pendidikan Kewarganegaraan dalam Penguatan Identitas Kebangsaan Mahasiswa Perguruan Tinggi Teknik

    No full text
    Studi ini menganalisis efektivitas Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dalam memperkuat identitas kebangsaan pada mahasiswa teknik dengan membandingkan dua jenjang pendidikan tinggi: Sarjana (S1) dan Diploma 3 (D3). Desain penelitian menggunakan survei kuantitatif-deskriptif dengan stratified random sampling pada populasi 160 mahasiswa (n = 32; proporsional S1–D3). Variabel bebas adalah intensitas pembelajaran PKn, sedangkan variabel terikat adalah tingkat nasionalisme yang diukur melalui kuesioner 20 butir mencakup empat indikator (cinta tanah air, penghargaan keberagaman, kepatuhan aturan, partisipasi kebangsaan). Validitas isi ditinjau melalui expert judgement; reliabilitas internal memadai. Analisis regresi linier sederhana dilakukan terpisah per jenjang. Hasil menunjukkan hubungan positif dan signifikan pada S1 dengan persamaan Y = 0,994 + 0,912X, mengindikasikan bahwa intensifikasi PKn selaras dengan peningkatan nasionalisme yang tercermin pada partisipasi, toleransi, dan komitmen simbol negara. Sebaliknya, pada D3 ditemukan hubungan negatif dan signifikan dengan persamaan Y = 51,6 ? 0,615X; temuan ini menandakan bahwa pendekatan PKn yang cenderung normatif-teoretis kurang relevan dengan orientasi vokasional sehingga memunculkan kejenuhan dan resistensi. Implikasi praktis menekankan diferensiasi pedagogi: pendekatan diskursif-reflektif dan project/experiential learning untuk S1, serta desain berbasis praktik lapangan dan service learning teknis untuk D3. Riset lanjutan disarankan memperluas sampel lintas institusi, menggunakan desain longitudinal/kuasi-eksperimental, serta menguji moderasi–mediasi guna menghasilkan rekomendasi kebijakan yang lebih presisi. Effectiveness of Civic Education in Strengthening National Identity of Engineering College Students Abstract This study examines the effectiveness of Citizenship Education (PKn) in strengthening national identity among engineering students by comparing two higher education tracks: Bachelor (S1) and Diploma (D3). A quantitative descriptive survey with stratified random sampling was applied to a population of 160 students (n = 32; proportional S1–D3). The independent variable was the intensity of PKn instruction, and the dependent variable was nationalism, measured via a 20-item questionnaire covering four indicators (patriotism, appreciation of diversity, rule compliance, civic participation). Content validity was established through expert judgment; internal consistency was adequate. Simple linear regressions were run separately by track. Results revealed a positive and significant association for S1 (Y = 0.994 + 0.912X), indicating that higher PKn intensity aligns with increased nationalism reflected in participation, tolerance, and commitment to national symbols. Conversely, D3 showed a negative and significant association (Y = 51.6 ? 0.615X), suggesting that predominantly normative–theoretical approaches are less relevant to vocational orientations, potentially inducing fatigue and resistance. Practical implications underscore pedagogical differentiation: discursive–reflective and project/experiential learning for S1, and field-based, technically oriented service learning for D3. Future research should expand samples across institutions, employ longitudinal/quasi-experimental designs, and test moderation–mediation mechanisms to derive more precise policy and instructional recommendations.Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) memiliki peran strategis dalam membentuk identitas kebangsaan dan menanamkan nilai-nilai nasionalisme pada mahasiswa. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas pembelajaran PKn dalam memperkuat identitas kebangsaan mahasiswa perguruan tinggi teknik, dengan fokus perbandingan antara mahasiswa S1 dan D3. Menggunakan pendekatan kuantitatif-deskriptif melalui survei dengan kuesioner skala sikap, penelitian ini menemukan bahwa pembelajaran PKn berhubungan positif signifikan dengan nasionalisme pada mahasiswa S1, sementara pada mahasiswa D3 justru menunjukkan hubungan negatif. Hasil ini mengindikasikan perlunya inovasi metode pembelajaran, kurikulum kontekstual, dan integrasi nilai-nilai multikultural agar PKn dapat berfungsi efektif dalam memperkuat civic engagement mahasiswa. Implikasi penelitian ini penting bagi pengembangan strategi pendidikan kebangsaan di era globalisasi

    Strategi Pengembangan Usaha Tani (On Farm) Kopi Robusta di Kecamatan Gunung Raya Kabupaten Kerinci

    No full text
    Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Gunung Raya, yang merupakan sentra utama produksi kopi robusta di Kabupaten Kerinci, dengan tujuan untuk mengidentifikasi kondisi eksisting dan tantangan utama dalam pengembangan kopi robusta, menganalisis faktor internal dan eksternal yang memengaruhi daya saing usahatani, serta merumuskan prioritas strategi pengembangan berkelanjutan berbasis hasil analisis SWOT dan AHP. Penentuan responden dilakukan secara purposive dengan teknik snowball sampling menggunakan data primer dan sekunder yang dianalisis secara deskriptif, SWOT, dan AHP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun usahatani kopi robusta di Kecamatan Gunung Raya masih didominasi oleh petani kecil dengan lahan rata-rata 0,5–2 hektar dan sistem produksi tradisional, terdapat potensi besar untuk pengembangan melalui penguatan kelembagaan petani, peningkatan kualitas pascapanen, dan perluasan akses pasar. Analisis SWOT dan AHP mengidentifikasi tiga strategi prioritas, yaitu peningkatan kapasitas petani melalui pelatihan budidaya dan manajemen usaha tani, pengembangan kemitraan dengan pihak swasta dan koperasi untuk memperkuat rantai nilai kopi, serta promosi kopi robusta Gunung Raya sebagai produk unggulan daerah berbasis indikasi geografis. Implikasi kebijakan dari hasil penelitian ini menekankan pentingnya dukungan pemerintah daerah dalam penyediaan infrastruktur pertanian, program pembinaan petani, serta fasilitasi sertifikasi mutu dan pemasaran agar kopi robusta Gunung Raya mampu bersaing di pasar nasional dan internasional. Development Strategy of Robusta Coffee Farming (On-Farm) in Gunung Raya District, Kerinci Regency Abstract This study was conducted in Gunung Raya District, the main center of robusta coffee production in Kerinci Regency, with the objectives of identifying the existing conditions and key challenges in the development of robusta coffee, analyzing internal and external factors affecting the competitiveness of coffee farming, and formulating priority strategies for sustainable development based on SWOT and AHP analyses. Respondents were selected purposively using the snowball sampling technique, and both primary and secondary data were analyzed descriptively using SWOT and AHP methods. The results indicate that although robusta coffee farming in Gunung Raya District is still dominated by small-scale farmers with an average land area of 0.5–2 hectares and traditional production systems, there is great potential for development through strengthening farmer institutions, improving post-harvest quality, and expanding market access. The SWOT and AHP analyses identified three priority strategies: enhancing farmers’ capacity through training in cultivation and farm management, developing partnerships with private sectors and cooperatives to strengthen the coffee value chain, and promoting Gunung Raya robusta coffee as a regional superior product with geographical indication. The policy implications highlight the importance of local government support in providing agricultural infrastructure, farmer development programs, and facilitating quality certification and marketing so that Gunung Raya robusta coffee can compete effectively in national and international markets

    Etnopedagogi Pemanfaatan Tanaman Obat dan Pangan Baduy sebagai Sumber Belajar Kontekstual Literasi Biodiversitas di Sekolah Dasar untuk Mendukung Pencapaian SDGs

    No full text
    The local knowledge of the Outer Baduy community in Leuwidamar District, Lebak Regency, Banten, regarding the use of medicinal and food plants faces conservation challenges amidst social change and the decline in the inheritance of ecological values ????between generations. This study aims to identify the diversity of medicinal and food plants utilized by the Baduy community and analyze their potential as ethnopedagogical learning resources in elementary schools to support the achievement of Sustainable Development Goals (SDGs). This study uses a descriptive qualitative approach through field observations, in-depth interviews with traditional leaders and key informants, and documentation of taxonomically verified specimens. The results of the study found 52 plant species from 31 families, with a dominance of Zingiberaceae and Asteraceae, most of which function as medicinal plants. From the 52 species, 12 priority species were generated which were recommended for the development of contextual learning in elementary schools based on pedagogical criteria. In addition, ethnopedagogical practices of Baduy community biodiversity conservation were obtained in the form of pikukuh karuhun, such as the prohibition of cutting down forests, the use of natural fertilizers, and storing harvests in leuit, as well as the seven pillars of nature management. These results confirm that the ethnobotanical knowledge of the Baduy community has high pedagogical value and great potential to be used as a learning resource and integrated into contextual science learning to strengthen biodiversity literacy and ecological character of elementary school students, as well as support the achievement of SDG 4 (Quality Education) and SDG 15 (Terrestrial Ecosystems).Pengetahuan lokal masyarakat Baduy Luar di Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, mengenai pemanfaatan tanaman obat dan pangan menghadapi tantangan pelestarian di tengah perubahan sosial dan menurunnya pewarisan nilai ekologis antar generasi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi keanekaragaman tanaman obat dan pangan yang dimanfaatkan masyarakat Baduy serta menganalisis potensinya sebagai sumber belajar etnopedagogis di sekolah dasar untuk mendukung pencapaian Sustainable Develovment Goals (SDGs). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan tokoh adat dan informan kunci, serta dokumentasi spesimen yang diverifikasi secara taksonomi. Hasil penelitian menemukan 52 spesies tanaman dari 31 famili, dengan dominasi Zingiberaceae dan Asteraceae, yang sebagian besar berfungsi sebagai tanaman obat. Dari 52 spesies dihasilkan 12 spesies prioritas yang direkomendasikan untuk pengembangan pembelajaran kontekstual di SD berdasarkan kriteria peadogis. Selain itu diperoleh etnopedagogis praktik konservasi biodiversitas Masyarakat Baduy berupa pikukuh karuhun, seperti larangan menebang hutan, penggunaan pupuk alami, dan penyimpanan hasil panen di leuit, serta tujuh rukun pengelolaan alam. Hasil ini menegaskan bahwa pengetahuan etnobotani masyarakat Baduy memiliki nilai pedagogis tinggi dan berpotensi besar untuk dijadikan sumber belajar dan diintegrasikan ke dalam pembelajaran sains kontekstual untuk memperkuat literasi biodiversitas dan karakter ekologis siswa sekolah dasar, serta mendukung pencapaian SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 15 (Ekosistem Daratan)

    Tinjauan Epistemologis terhadap Pengetahuan Petani Kopi di Lombok dalam Menerapkan Pertanian Berkelanjutan

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara epistemologis bentuk, sumber, dan penerapan pengetahuan petani kopi di Lombok dalam konteks pertanian berkelanjutan. Latar belakang kajian ini berangkat dari pemahaman bahwa pengetahuan petani tidak hanya berupa keterampilan teknis, tetapi merupakan sistem pengetahuan yang kompleks dan dinamis yang dibentuk oleh pengalaman, interaksi sosial, dan kesadaran ekologis. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan (library research) dengan menelaah literatur teoretis dan temuan empiris terkait pengetahuan lokal dan epistemologi petani. Hasil kajian menunjukkan bahwa pengetahuan petani kopi di Lombok memiliki karakter empiris, ekologis, sosial, dan reflektif, yang bersumber dari pengalaman langsung, pewarisan budaya, interaksi sosial, serta pendampingan lembaga eksternal. Penerapan pengetahuan tersebut selaras dengan konsep epistemologis dalam filsafat ilmu, terutama empirisme, rasionalisme praktis, dan epistemologi sosial. Kesimpulannya, pengetahuan petani kopi berfungsi sebagai basis epistemik yang penting dalam membangun praktik pertanian yang berkelanjutan, adaptif, dan kontekstual di wilayah Lombok. Epistemology of Coffee Farmers’ Knowledge in Sustainable Agriculture Practices in Lombok Abstract This study aims to analyze epistemologically the forms, sources, and applications of coffee farmers’ knowledge in Lombok within the context of sustainable agriculture. The background of this review is grounded in the understanding that farmers’ knowledge is not merely technical skills, but a complex and dynamic knowledge system shaped by experience, social interaction, and ecological awareness. This research employs a library research method by reviewing theoretical literature and empirical findings related to local knowledge and farmer epistemology. The results indicate that the knowledge of coffee farmers in Lombok is characterized by empirical, ecological, social, and reflective dimensions, derived from direct experience, cultural transmission, social interaction, and institutional support. The application of this knowledge aligns with key epistemological concepts in the philosophy of science, particularly empiricism, practical rationalism, and social epistemology. In conclusion, coffee farmers’ knowledge serves as an important epistemic foundation for developing sustainable, adaptive, and context-specific agricultural practices in Lombok.Penelitian ini bertujuan untuk meninjau secara epistemologis bentuk, sumber, dan penerapan pengetahuan petani kopi di Lombok dalam praktik pertanian berkelanjutan. Kajian ini didasari oleh pandangan bahwa pengetahuan petani bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan sistem pengetahuan yang kompleks dan dinamis, yang terbentuk dari pengalaman, interaksi sosial, dan kesadaran ekologis. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan dengan menelaah berbagai literatur dan hasil penelitian terkait. Hasil kajian menunjukkan bahwa pengetahuan petani kopi di Lombok memiliki karakter empiris, ekologis, sosial, dan reflektif. Sumber pengetahuan mereka berasal dari pengalaman langsung, pewarisan budaya, interaksi sosial, dan pendampingan lembaga eksternal. Penerapan pengetahuan tersebut mencerminkan dimensi epistemologis dalam filsafat ilmu, terutama empirisme, rasionalisme praktis, dan epistemologi sosial. Dengan demikian, pengetahuan petani kopi berperan sebagai basis epistemik dalam mewujudkan pertanian yang berkelanjutan, adaptif, dan kontekstual di wilayah Lombok

    Hubungan Edukasi Gizi Seimbang Melalui Media Video Animasi Dengan Tingkat Pengetahuan Remaja di SMPI Rahmatullah Al-Ma’arif Darek Kecamatan Praya Barat Daya

    No full text
    Anak usia sekolah merupakan sasaran yang tepat untuk memberikan intervensi edukasi gizi seimbang karena perkembangan sel-sel organ otak mulai terbentuk pada masa ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan edukasi gizi seimbang melalui media video animasi terhadap tingkat pengetahuan tentang gizi seimbang pada remaja. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pre-experimental pre-test, post-test design. Jumlah populasi dari penelitian ini sebanyak 166 orang remaja dengan total sampel penelitian sebanyak 117 orang remaja sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil analisisi bivariat dan univariat pada sampel penelitian ini sebelum diberikan intervensi edukasi gizi seimbang menunjukan bahwa tingkat pengetahuan remaja termasuk dalam karakteristik tingkat rendah dengan nilai 82,91%, setelah di berikan intervensi edukasi gizi seimbang melalui media video animasi, tingkat pengetahuan remaja mengalami peningkatan dengan nilai 88,89% kemudian hasil dari analisis bivariat dilakukan uji korelasi dengan menggunakan komputer aplikasi (SPSS), setelah dilakukan uji korelasi pada penelitian ini hasil menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kedua variabel dapat dilihat dari nilai p-value = 0,001 (a<0,05) dan perolehan hasil perhitungan rs= 0.455 artinya terdapat hubungan yang kuat antara edukasi gizi seimbang melalui media video animasi dengan tingkat pengetahuan tentang gizi seimbang pada remaja di SMPI Rahmatullah Al-Ma’arif Darek  Abstrak: Anak usia sekolah merupakan sasaran yang tepat untuk memberikan intervensi edukasi gizi seimbang karena perkembangan sel-sel organ otak mulai terbentuk pada masa ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan edukasi gizi seimbang melalui media video animasi terhadap tingkat pengetahuan tentang gizi seimbang pada remaja. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pre-experimental pre-test, post-test design. Jumlah populasi dari penelitian ini sebanyak 166 orang remaja dengan total sampel penelitian sebanyak 117 orang remaja sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil analisisi bivariat dan univariat pada sampel penelitian ini sebelum diberikan intervensi edukasi gizi seimbang menunjukan bahwa tingkat pengetahuan remaja termasuk dalam karakteristik tingkat rendah dengan nilai 82,91%, setelah di berikan intervensi edukasi gizi seimbang melalui media video animasi, tingkat pengetahuan remaja mengalami peningkatan dengan nilai 88,89% kemudian hasil dari analisis bivariat dilakukan uji korelasi dengan menggunakan komputer aplikasi (SPSS), setelah dilakukan uji korelasi pada penelitian ini hasil menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kedua variabel dapat dilihat dari nilai p-value = 0,001 (a<0,05) dan perolehan hasil perhitungan rs= 0.455 artinya terdapat hubungan yang kuat antara edukasi gizi seimbang melalui media video animasi dengan tingkat pengetahuan tentang gizi seimbang pada remaja di SMPI Rahmatullah Al-Ma’arif Darek. Intervensi gizi seimbang melalui media video animasi sangat mempengaruhi peningkatan pengetahuan remaja tentang gizi seimbang di SMPI Rahmatullah Al-Ma’arif Darek.

    0

    full texts

    400

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Empiricism Journal
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇