The National Research and Innovation Agency's Ejournal Portal
Not a member yet
7815 research outputs found
Sort by
TINJAUAN BUKU: PEMBANGUNAN SOSIAL DI WILAYAH PERBATASAN KAPUAS HULU, KALIMANTAN BARAT
Judul : Pembangunan Sosial di Wilayah Perbatasan Kapuas Hulu, Kalimantan Barat Penulis : Henny Warsilah dan Dede Wardiat Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia Cetakan : Pertama Juli Tahun : 2017 Tebal : 190 Halama
MEDIA SOSIAL DAN PERKEMBANGAN DEMOKRASI DI INDONESIA : SEBUAH EKSPLORASI BIBLIOMETRIK
Media sosial mengubah peran masyarakat dari konsumen informasi yang pasif menjadi produsen dan penyebar informasi yang aktif. Hal ini mengubah dinamika politik dan memengaruhi perkembangan demokrasi, karena tiap anggota masyarakat bisa leluasa mengekspresikan pendapatnya dan terlibat langsung dalam diskursus publik. Artikel ini memaparkan kajian bibliometrika untuk memetakan riset-riset mengenai perkembangan demokrasi di tengah masyarakat yang telah menggunakan media sosial dengan intensif. Data yang menjadi objek kajian ini adalah metadata dari artikel-artikel yang terindeks Scopus yang mengandung kata-kata “social media”, “democracy”, “democratization”, dan “Indonesia”. Aplikasi VosViewer digunakan untuk memetakan tema maupun hubungan kepengarangan (co-authorship) antar-negara asal penulis, serta aplikasi LitNetwork untuk mengidentifikasi klaster-klaster dari artikel berdasarkan kemiripan kata kunci yang digunakan. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa media sosial meningkatkan partisipasi publik dalam kegiatan politik, namun partisipasi ini dapat berwujud dalam bentuk yang negatif, seperti penyebaran kebencian, disinformasi, dan politik identitas. Penyebaran media sosial secara luas tidak serta-merta mendorong demokratisasi, karena kalangan elit juga dapat melakukan inovasi-inovasi otoritarian yang sebenarnya membatasi partisipasi warga dan munculnya kekuatan alternatif dengan aturan-aturan yang baru. Peningkatan kematangan demokrasi di Indonesia juga ditentukan oleh kualitas dan keakuratan informasi yang disebar secara masif melalui media sosial
PENDEKATAN KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT PESISIR TERHADAP PEMANFAATAN SUMBER DAYA PERIKANAN BERKELANJUTAN DI KEL. LONRAE, KAB. BONE
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kearifan lokal masyarakat pesisir yang berkaitan dengan keberlanjutan sumberdaya perikanan dan untuk mengetahui efektivitas pendekatan kearifan lokal dalam upaya mewujudkan perikanan berkelanjutan di Kelurahan Lonrae, Kecamatan Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone. Penelitian dilaksanakan pada Bulan Desember Tahun 2022 pada masyarakat pesisir di Kelurahan Lonrae, Kecamatan Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone. Metode penentuan lokasi yaitu secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan daerah kawasan pesisir mayoritas masyarakatnya berprofesi sebagai nelayan, serta daerah yang memiliki beragam kearifan lokal yang berkaitan dengan aktivitas pemanfaatan sumberdaya perikanan. Terdapat beberapa tokoh masyarakat dan nelayan yang berperan sebagai key informan. Penentuan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan menetapkan kriteria sampel yakni masyarakat pesisir yang berprofesi sebagai nelayan. Populasi nelayan sebanyak 701 orang sehingga diambil responden sebesar 10% dari jumlah populasi yaitu 70 orang responden. Teknik pengambilan data yaitu observasi, wawancara, kuesioner, dan studi pustaka. Dengan analisis data menggunakan teori Miles, Huberman, and Saldana (2017) serta menggunakan Skala Likert (1932). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada beberapa kearifan lokal masyarakat pesisir yang berkaitan dengan pemanfaatan sumberdaya perikanan berkelanjutan seperti kearifan lokal mattoana tasi’, mappasonnae ri dewata, penggunaan alat tangkap ramah lingkungan, penentuan arah angin, cuaca, dan musim, larangan melaut di hari Jumat, larangan melaut di bulan Muharram, larangan melaut di bulan Taccipi’, dan larangan membunuh lumba-lumba. Adapun efektivitas kearifan lokal dalam mewujudkan pemanfaatan sumberdaya perikanan berkelanjutan sangat bervariatif tergantung dari jenis kearifan lokal tersebut yang disebabkan oleh beberapa faktor seperti pergeseran nilai-nilai budaya oleh nilai-nilai agama, pengaruh globalisasi, dan perkembangan teknologi yang mutakhir. Kearifan lokal ini harus dijaga dan dilestarikan karena menjadi harapan positif dalam menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk mewujudkan ekosistem perikanan berkelanjutan serta sebagai pengontrol dalam meminimalkan aktivitas destructive fishing yang terjadi di Kelurahan Lonrae, Kecamatan Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone.  
Peran dan Kedudukan Kalang dalam Pemerintahan Masa Kerajaan Mataram Kuno Berdasarkan Data Prasasti
Abstract. The Role and Status of the Kalang in the Administration of the Ancient Mataram Kingdom Based on Epigraphic Data. Kalang was an officer at the wanua (village) level and frequently mentioned in various inscriptions, especially regarding sīma ceremonies. The position of Kalang is associated with people whose work was related to forests and timber. Although there have been several previous studies on Kalang, discussions on the role and position of Kalang in the village administration during the Mataram Kingdom based on the details of pasĕk-pasĕk (gift) they received in ceremonies are still limited. This research aims to analyse the role and position of Kalang in the government during the Mataram Kingdom based on inscriptional data. This research uses a qualitative approach by collecting data from 29 inscriptions from 804 CE to 909 CE. The data was then subjected to processing, content analysis, and interpretation. The results of this study show that Kalang did not only stand as Kalang alone, but there were also other positions related to Kalang such as Tuha Kalang, Kalang Manguwu, Kalang Tunggu Durung, and others, which signalled the difference in their roles from one another. As for status, the results show that in some villages during the late Rakai Kayuwangi period and briefly during the Dyah Balitung period, Kalang and other Kalang-related positions occupied a high degree within the wanua bureaucracy, as seen from the number of pasĕk-pasĕk received which tended to be higher than other officials from the village that organised the ceremony.
Keywords: Kalang, Mataram Kingdom, Inscriptions, Pasĕk-Pasĕk
Abstrak. Kalang adalah jabatan di tingkat wanua (desa) dan kerap disebut dalam berbagai prasasti, utamanya mengenai upacara penetapan sīma. Posisi Kalang erat diasosiasikan dengan orang-orang yang pekerjaannya berkaitan dengan hutan dan kayu. Meski telah ada beberapa penelitian terdahulu mengenai Kalang, pembahasan mengenai peran dan kedudukan Kalang dalam bidang pemerintahan desa masa Kerajaan Mataram Kuno secara spesifik, misalnya melihat secara detail pasĕk-pasĕk (semacam hadiah) yang mereka terima dalam upacara, masihlah terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran dan kedudukan Kalang dalam pemerintahan pada masa Kerajaan Mataram Kuno berdasarkan data prasasti. Riset ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan mengumpulkan data dari 29 prasasti yang berasal dari tahun 804 M hingga 909 M. Data tersebut kemudian dilakukan pengolahan, analisis isi, dan interpretasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Kalang tidak hanya berdiri sebagai Kalang saja, namun juga ada jabatan lain terkait Kalang seperti Tuha Kalang, Kalang Manguwu, Kalang Tunggu Durung, dan lain-lain, yang menandakan perbedaan peran mereka satu sama lain. Sementara perihal kedudukan, hasil menunjukkan bahwa di beberapa desa pada masa akhir Rakai Kayuwangi dan sempat pada masa Dyah Balitung, Kalang dan jabatan lain terkait Kalang menempati derajat yang tinggi dalam birokrasi di wanua, sebagaimana dilihat dari jumlah pasĕk-pasĕk yang diterima cenderung lebih tinggi dibanding pejabat lain dari desa penyelenggara upacara.
Kata kunci: Kalang, Kerajaan Mataram Kuno, Prasasti, Pasĕk-Pasĕ
Mantra dalam Dua Prasasti Timah Koleksi Rumah Menapo Jambi: Indikasi Praktik Ritual Masyarakat Sumatra Kuno
Abstract. Mantras in the Two Tin Inscriptions of the Rumah Menapo Collection in Jambi: the Indication of Ritual Practice of Old Sumatran Society. Tin is the media used to write of inscriptions on Hindu and Buddhism era in Indonesia. In 2019, there were 103 tin inscription that discoreved and inventoried in Sumatra. Two of that tin inscription discovered in Jambi were inventoried in number 10/PADMA/Pb/VIII/2019 and 17/PADMA/Sn//VIII/2019. The previous researches to these inscriptions were result the limited interpretation and differs between researchers. Therefore, urgent to re-read and re-interpretating the text of inscription deeply. This research utilizes epigraphic method which consist of stages, that is: collecting of data, pre-analysis, analysis of data, and interpretation. The transliteration of these two inscriptions use standard edition method and its translation use literal method. The analysis of data consists of intern and extern analysis. The interpretation is focused to ritual aspect of its society. The result of this study explained that the tin inscription 10/PADMA/Pb/VIII/2019 contains the protection mantra. This mantra indicated the ritual of Old Sumatran society that used betels as object and offerings. Meanwhile, the tin inscription 17/PADMA/Sn/VIII/2019 contains the mantra for worshiping of Yama God. This mantra maybe was spelled when the practice of pūjā caru ritual.
Keywords: Tin Inscriptions, Mantra, Old Sumatra, Jambi
Abstrak. Timah merupakan bahan logam yang dijadikan sebagai media tulis prasasti pada masa Hindu dan Buddha di Indonesia. Pada tahun 2019, diinventarisasi sebanyak 103 prasasti berbahan timah yang ditemukan dan masih berada di wilayah Sumatra. Dua di antaranya ditemukan di Jambi bernomor inventaris 10/PADMA/Pb/VIII/2019 dan 17/PADMA/Sn//VIII/2019. Penelitian terdahulu terhadap prasasti ini menghasilkan interpretasi yang terbatas dan berbeda antarpeneliti Oleh sebab itu, perlu pengkajian ulang terhadap kedua prasasti tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian epigrafi yang terdiri dari pengumpulan data, pra-analisis, analisis, dan interpretasi. Alih aksara dilakukan dengan metode edisi standar dan alih bahasa dilakukan dengan metode harfiah. Analisis yang dilakukan adalah analisis kritis yang meliputi kritik intern dan ekstern prasasti. Sementara itu, interpretasi difokuskan pada aspek ritual masyarakat pendukungnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prasasti timah 10/PADMA/Pb/VIII/2019 berisi mengenai mantra perlindungan. Mantra ini mengindikasikan adanya ritual masyarakat Sumatra Kuno yang menggunakan media dan sesaji berupa sirih. Sementara itu, prasasti timah 17/PADMA/Sn/VIII/2019 berisi mantra pemujaan terhadap Dewa Yama. Mantra ini kemungkinan dibacakan saat pelaksanaan ritual pūjā caru.
Kata kunci: Prasasti timah, Mantra, Sumatra Kuno, Jamb
Konservasi Lingkungan dan Pemanfaatan Mata Air Pura Tirta Empul : Kajian Prasasti Manukaya
Abstract. Environmental Conservation and the Utilization of the Tirta Empul Temple Spring: A Study of the Manukaya Inscription.
Water is a vital element for all creatures on earth. Moreover, for humans, water has a function to fulfill needs both spiritually and profanely (daily needs). One of the springs used to fulfill these two needs is at Tirta Empul Temple. To fulfill spiritual needs, the spring is used as tirtha (holy water) and to carry out the melukat procession. Profane use of this spring is used for several things, such as supplying household water in Manukaya and Tampaksiring Villages, water raw materials for PDAM Gianyar, meeting the water needs of the Tampaksiring Presidential Palace, and finally, irrigating the subaks located downstream of Tirta Empul Temple. Based on this, the things studied in this paper are related to environmental conservation activities and the use of this spring as stated in the Manukaya inscription. Apart from that, it is also necessary to observe the sustainability of conservation activities carried out by local indigenous communities. The research process is divided into three stages, namely data collection (literature study, observation, and interviews), data analysis (descriptive-qualitative and cultural ecology), and finally data interpretation to draw conclusions. The results of this research show that there are environmental conservation efforts and the use of the Tirta Empul spring in the Manukaya inscription. Conservation efforts are also carried out today by indigenous peoples by maintaining the sacredness of the main pond and having awig-awig regarding the prohibition of cutting down trees around Tirta Empul Temple.
Keywords: Pura Tirta Empul, Conservation, Prasasti Manukaya, Water Spring
Abstrak. Air merupakan unsur yang sangat vital bagi seluruh makhluk di bumi. Selain itu, bagi manusia, air memiliki fungsi untuk memenuhi kebutuhan baik secara spiritual maupun profane (kebutuhan sehari-hari). Salah satu sumber air yang dimanfaatkan untuk memenuhi kedua kebutuhan tersebut adalah di Pura Tirta Empul. Untuk memenuhi kebutuhan spiritual, sumber air tersebut dimanfaatkan sebagai tirtha (air suci) dan untuk melaksanakan prosesi melukat. Pemanfaatan profane sumber air ini dimanfaatkan untuk beberapa hal, seperti penyediaan air rumah tangga di Desa Manukaya dan Desa Tampaksiring, bahan baku air untuk PDAM Gianyar, pemenuhan kebutuhan air Istana Kepresidenan Tampaksiring, dan terakhir, pengairan subak yang terletak di hilir Pura Tirta Empul. Berdasarkan hal tersebut, maka hal-hal yang dikaji dalam tulisan ini terkait dengan kegiatan pelestarian lingkungan dan pemanfaatan sumber air ini sebagaimana tercantum dalam prasasti Manukaya. Selain itu, perlu juga dicermati keberlanjutan kegiatan pelestarian yang dilakukan oleh masyarakat adat setempat. Proses penelitian dibagi menjadi tiga tahap, yaitu pengumpulan data (studi pustaka, observasi, dan wawancara), analisis data (deskriptif-kualitatif dan ekologi kultural), dan terakhir interpretasi data untuk menarik simpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya upaya pelestarian lingkungan dan pemanfaatan mata air Tirta Empul pada prasasti Manukaya. Upaya pelestarian juga dilakukan saat ini oleh masyarakat adat dengan menjaga kesakralan kolam utama dan memiliki awig-awig tentang larangan menebang pohon di sekitar Pura Tirta Empul.
Kata kunci: Pura Tirta Empul, Konservasi, Prasasti Manukaya, Mata Ai
Assessing the Performance of Deterministic Precipitation Nowcasting Algorithms with Weather Radar Data and Multimetric Verification
This study assesses the performance of four deterministic radar-based nowcasting algorithms—LINDA, SPROG, ANVIL, and Extrapolation—using C-band weather radar data located at Tangerang. Forecasts were generated with the pysteps library and verified up to +96 minutes using spatial inspection, ROC analysis, and Taylor/Target diagrams. At short lead times (+8 to +24 minutes), all algorithms achieved high discrimination skill (AUC > 0.90), with SPROG and LINDA reaching peak AUC values of 0.96 and 0.95, respectively. Beyond +56 minutes, LINDA maintained the highest AUC (0.64), while SPROG and Extrapolation dropped below 0.60. Statistical verification showed that LINDA consistently preserved rainfall structure with correlation coefficients ≥ 0.80 at short range and ~0.65 at +80 minutes. Target diagrams indicated low bias (< ±0.1) and uRMSD stability for LINDA, while SPROG exhibited increasing overdispersion and structural error. Spatially, LINDA captured convective growth and peak intensities more realistically than other methods. These results demonstrate that LINDA offers the most balanced and skillful performance across metrics, especially in maintaining accuracy during medium-range forecasts. The findings support its operational suitability for nowcasting convective rainfall in tropical regions
TEA PLANTATION MAPPING USING UAV MULTISPECTRAL IMAGERY
Tea is one of Indonesia’s most famous commodities, which is dominantly planted on the Java Island of Indonesia. Tea is one of the leading sources of exports, and the Indonesian government is very concerned about the stability of their export commodity sustainability. Therefore, monitoring and evaluating its sustainability and availability become necessary. One of the solutions to the tea plantation monitoring and management program is mapping through remote sensing and GIS. In this study, high-resolution multispectral imageries are captured from a UAV and used to map the tea plantation with three vegetation indexes (VIs). An Object-Based Image Analysis (OBIA) is used to classify the tea field’s condition based on spectral characteristics. The results of this study are: (i) high-resolution multispectral imageries can be used to map the tea plantation with different VIs, and (ii) SAVI is the best VI to map the tea plantation since it has the lowest RMSE value with observed data. Hopefully, this study can support the government program on their export commodity with valuable baseline information on the tea plantation