The National Research and Innovation Agency's Ejournal Portal
Not a member yet
7815 research outputs found
Sort by
MEMASYARAKATKAN WAJIB SERAH SIMPAN KARYA CETAK DAN KARYA REKAM
Hasil karya baik bentuk cetak maupun rekam yang dipublikasikan untuk umum, menurut Undang-Undang (UU) No. 4 tahun 1990 serta Peraturan Pemerintah RI (PP) No. 70 tahun 1991 wajib dilakukan serah simpan kepada Perpustakaan Nasional RI. Pemasyarakatn UU ini perlu dilakukan oleh pihak Perpusnas sebagai penanggungjawab atas pelestarian bahan pustaka yang ada di Indonesia
Uranium Adsorption Behavior on Pacitan Bentonite
Uranium adsorption by Pacitan bentonite was investigated to evaluate its capacity for capturing uranium ions under various conditions. Before being used as an adsorbent, Pacitan bentonite was characterized in terms of pore structure, surface area, surface morphology, adsorption capacity, and chemical composition. This study aims to analyze the factors that influencing uranium adsorption on Pacitan bentonite, including contact time, pH, temperature, and the presence of ligands in solution. Both natural and acid-activated Pacitan bentonite were examined to compare their adsorption performance. The results showed that Pacitan bentonite effectively adsorbs uranium, with the highest adsorption occurring under acidic to neutral pH conditions and decreasing at higher pH levels. Acid activation reduced the uranium adsorption capacity due to structural and surface property changes. In addition, the addition of ligands such as NaCl, Na2SO4, and Na2HPO4 influenced uranium adsorption, with Na2SO4 having the most pronounced effect compared to NaCl and Na2HPO4. Overall, the results indicate that Pacitan bentonite has strong potential as a uranium adsorbent material, especially under suitable conditions to maintain ion exchange and surface adsorption. These findings provide important insights for developing adsorbent materials for nuclear waste treatment and remediation of uranium-contaminated environments.
A Review on High-Temperature Steam Oxidation Resistance of Zirconium Cladding Materials Subjected to Plasma Electrolysis
Zirconium alloys, such as Zircaloy-4 and ZIRLO, are the standard cladding materials in pressurized water reactors (PWR) due to their low neutron absorption and corrosion resistance. Yet, under loss-of-coolant accident conditions, rapid steam oxidation above 900 °C accelerates hydrogen uptake, embrittlement, and cladding failure. Plasma electrolysis (PE) has emerged as a promising surface modification strategy, directly converting the Zr surface into a ZrO₂-based ceramic layer with strong adhesion, phase stability, and enhanced oxidation resistance. This review provides a comprehensive overview of PE coating formation, emphasizing anodic oxidation, plasma microdischarge, and incorporation of electrolyte-derived elements that tailor microstructure and tetragonal ZrO₂ stabilization. Comparative assessments show that PE-coated claddings delay breakaway oxidation, suppress oxygen diffusion, and maintain structural integrity better than bare alloys or many physical vapor–deposited coatings. The influence of coolant chemistry, irradiation effects, and thermal cycling on long-term coating durability is also evaluated. Remaining challenges include controlling thickness, mitigating phase transformation, and ensuring irradiation stability. Addressing these issues will be critical to realizing PE-coated zirconium as a viable accident-tolerant fuel cladding for advanced nuclear reactors.
SITUS KAPAL KARAM JEPANG MASA PERANG PASIFIK TELUK TAHUNA KEPULAUAN SANGIHE
Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan dan merekonstruksi kapal karam di Teluk Tahuna, Kepulauan Sangihe. Selain itu, kajian ini juga mengeksplorasi upaya pelestarian yang dilakukan oleh pemerintah daerah dan masyarakat dalam mengelola situs ini sebagai objek wisata selam. Metode yang digunakan mencakup observasi bawah air dengan penyelaman SCUBA, wawancara dengan pemangku kepentingan, diskusi kelompok terarah (FGD), serta studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapal karam ini tenggelam di kedalaman 18–25 meter dengan dimensi sekitar 40 meter panjang, 5 meter tinggi, dan 7 meter lebar. Identifikasi komponen kapal seperti ruang mesin, palka, baling-baling, dan aksara kanji serta katakana pada lampu di ruang mesin mengindikasikan bahwa kapal ini milik Jepang dan diperkirakan tenggelam pada masa Perang Dunia II. Berdasarkan perbandingan dengan kapal serupa yang ditemukan di Filipina, kapal ini diduga merupakan bagian dari armada dagang Jepang yang kemudian dimodifikasi menjadi kapal logistik militer. Upaya pelestarian telah dilakukan melalui kerja sama antara pemerintah daerah, pemandu selam lokal, dan Politeknik Nusa Utara, termasuk pengembangan kawasan sebagai destinasi wisata selam. Namun, masih terdapat tantangan dalam perlindungan situs dari aktivitas pengambilan besi tua. Studi ini memberikan kontribusi bagi penelitian lebih lanjut tentang kapal karam Jepang di Indonesia dan strategi pengelolaannya sebagai warisan budaya bawah air
Perdagangan Internasional: Pengaruhnya Terhadap Perubahan Sistem Nilai Budaya Orang Maluku
Keterlibatan Orang Maluku dalam percaturan perdagangan internasional dan perjumpaan dengan berbagai pedagang asing telah membawa perubahan dalam peradaban Orang Maluku. Dari para pedagang asing ini para Sultan dan raja-raja memperoleh pengetahuan tentang: agama, perdagangan, pelayaran maupun berbagai teknologi baru. Perdagangan internasional membawa dampak yang cukup penting bagi kehidupan sosial budaya Maluku, karena menjadi ruang perjumpaan berbagai Negara dengan latar budaya yang berbeda-beda dan berpengaruh terhadap budaya asli Maluku, namun identitas Maluku tetap terjaga, yakni ciri kebudayaan monodualitas. Dalam kebudayaan monodualistis kedua kelompok harus tetap ada dan satu harus memberikan kemungkinan kepada yang lain untuk tetap hidup, sebab kalau satu tidak ada maka keberadaan yang lain tidak berarti. Dalam waktu bersamaan juga tumbuh ikatan-ikatan persaudaraan yang didasarkan pada nilai tolong menolong antar sesama. Hal ini lahir sebagai upaya penegakan keseimbangan baru dalam perbedaan untuk peredam kekerasan dan keinginan untuk hidup berdampingan secara damai
Nilai-Nilai Sosial dan Religi dalam Tradisi Megalitik di Sulawesi Selatan
South Sulawesi is a region which has a several culture and megalith tradition that spread in various locations. Of those various forms and kinds of that megalith monument, there are important values that can be reinvented for the society. The purpose is to determine the social dan religious value of megalithic culture in South Sulawesi. In order to recognize those values, a research with an ethnoarchaeological approach has been done through direct observations and surveys in the society which still have megalith tradition, and focused to identify its values and functions in society. This research found that this tradition was developed since the 2nd AD until the 10th to 13th AD. During that period, the settlement system was composed of small communities that occupying highland and lowland. That small community was called wanua which spread across South Sulawesi peninsula. At the present time, that megalith tradition is still found in Torajan community, and in several ritual practices among communities in Enrekang and Soppeng regency, South Sulawesi. Generally, that megalith tradition is endorsing several values such like cooperation and spiritual.
Sulawesi Selatan merupakan suatu daerah yang memiliki beberapa bentuk budaya dan tradisi megalitik (kebudayaan batu besar) yang tersebar di berbagai wilayah. Dari berbagai bentuk dan jenis megalitik itu tentunya memiliki nilai-nilai yang dapat diterapkan dalam masyarakat. Tujuannya adalah untuk mengetahui nilai sosial dan religi dari kebudayaan megalitik di Sulawesi selatan. Dalam pencapaiannya digunakan pendekatan etnoarkeologi dengan cara melakukan survei di beberapa daerah di Sulawesi Selatan yang memiliki peninggalan megalitik. Selanjutnya dilakukan wawancara dan pengamatan langsung di masyarakat yang masih menggunakan kebudayaan megalitik untuk mengetahui fungsi dalam masyarakat. Penelitian selama ini menunjukkan bahwa kebudayaan ini berawal sekitar abad ke-2 Masehi dan terus berlanjut pada abad ke-10 hingga abad ke-13 Masehi. Sistem permukiman pada masa itu merupakan kelompok-kelompok komunitas yang menempati wilayah ketinggian dan dataran rendah. Pada awal terbentuknya populasi disebabkan adanya berbagai daerah otonom kecil yang disebut wanuwa yang terdapat di beberapa daerah di seluruh semenanjung Sulawesi Selatan. Budaya ini masih berkesinambungan hingga sekarang pada masyarakat Toraja, atau dalam praktek ritual seperti di Enrekang dan Soppeng, Sulawesi Selatan. Pada umumnya kebudayaan megalitik mengandung nilai-nilai kerjasama dan gotong royong serta religi yang menonjol
Jejak Budaya Paleolitik di Pulau Seram: Kajian Migrasi Manusia Awal di Wilayah Indonesia Timur
Provinsi Maluku yang terdiri beberapa kepulauan (salah satunya Pulau Seram) merupakan salah satu wilayah di Indonesia Timur yang mempunyai peranan penting dalam mengungkap sejarah kehidupan masa lalu. Secara geografis, posisi keletakannya yang sangat strategis di antara Pulau Irian dan benua Australia merupakan jalur lintasan migrasi bagi manusia dan fauna. Salah satu tujuan untuk mengetahui proses kedatangan awal manusia di wilayah ini adalah melalui tinggalan budayanya, yaitu alat-alat Paleolitik. Budaya Paleolitik (paleo = tua; litik/lithos = batu) adalah perkakas dari batu yang diduga digunakan oleh manusia awal (Homo erectus) sejak munculnya di muka bumi pada Kala Pleistosen. Tinggalan budaya Paleolitik di Pulau Seram selama ini sangat jarang sekali informasinya, namun hasil penelitian yang dilakukan oleh Puslit Arkenas pada tahun 2012 telah membuktikan adanya temuan alat-alat batu tua di wilayah ini. Bukti-bukti temuan ini menunjukkan bahwa Pulau Seram mempunyai peranan yang penting sebagai jalur migrasi manusia awal dan budayanya di wilayah Indonesia Timur. Kajian budaya paleolitik ini mempergunakan metode eksploratif-komparatif (kontekstual) dan pengamatan teknologis