The National Research and Innovation Agency's Ejournal Portal
Not a member yet
    7815 research outputs found

    METODE KALIBRASI TIME DIFFERENT OF ARRIVAL TDOA UNTUK SISTEM PASSIVE RADAR TRAYEKTORI ROKET

    No full text
    Design passive ranging base on radio with Time Different of Arrival TDOA (passive RADAR) have been developed for the application of tracking rocket trajectory. Calibration of the passive RADAR can be done in launching site for obtaining optimal position, however it is also require to be done in laboratory for testing the system algorithm. This article describes the calibration method of time delay calculation in laboratory using antenna cable with various of lengths. We obtain an accurate correlation results between time delay from measurement of oscilloscope and calculation TDOA with cross-correlation method. This method is practical and effective for calibration system in the development of passive RADAR. Keywords: TDOA, Passive RADAR, Trajectory rocket, Calibration method, Cross-correlation.

    MINIMALISASI LAHAN KRITIS MELALUI PENGELOLAAN SUMBERDAYA LAHAN DAN KONSERVASI TANAH DAN AIR SECARA TERPADU

    No full text
            Akibat adanya pemanfaatan sumberdaya alam yang melebihi daya dukung lingkungan dan tidak dibarengi dengan usaha konservasi tanah dan air, ternyata telah menimbulkan munculnya ketidakseimbangan lingkungan yaitu terus bertambahnya luas lahan kritis. Peningkatan luas lahan kritis ini juga semakin dipercepat dengan meningkatnya tekanan penduduk terhadap lahan, khususnya di Pulau Jawa. Akibatnya pemanfaatan lahan dieksploitasi secara terus menerus sehingga menyebabkan produktivitas lahan menjadi berkurang dan lahan miskinhara. Hal ini akan berakibat pada menurunnya produksi pertanian, semakinbesarnya erosi, sedimentasi, banjir, kekeringan, pendangkalan sungai,berkurangnya umur waduk dan masalah-masalah lingkungan lainnya.        Luas lahan kritis pada awal tahun 1974, jumlah lahan kritis secara nasional mencapai 10.751.000 ha, kemudian pada tahun 1998 dengan kriteria penetapan lahan kritis yang lebih objektif, lahan kritis di Indonesia mencapai 23.725.552 ha. Sedangkan luas lahan agak kritis sebesar 3.311.152 ha dan lahan potensial kritis seluas 8.806.758 ha, sehingga luas keseluruhan sebesar 35.852.462 ha atau 18,6% dari luas lahan di Indonesia.        Meskipun usaha rehabilitasi lahan dan konservasi tanah dan air sudahdilakukan melalui program penghijauan dan reboisasi serta usaha lainnya, namun usaha-usaha tersebut masih belum mampu mengatasi terjadinya peningkatan luas lahan kritis. Hal ini lebih disebabkan pendekatan yang dilakukan lebih berorientasi pada penanganan fisik dan kurang memperhatikan masalah sosial ekonomi dan budaya masyarakat. Untuk itulah maka untuk mencegah peningkatan laju lahan kritis tersebut perlu dilakukan secara komprehensif, terpadu dan multisektoral. dengan melibatkan peran serta masyarakat secara menyeluruh

    Analisis Kualitas Sumber Air Baku untuk Pemenuhan Kebutuhan Air Minum di Ibu Kota Nusantara

    No full text
    The change of Indonesia's capital from Jakarta to The Capital City of Nusantara (IKN) impacts population movement and must be supported by fulfilling basic needs. One of the basic needs is the availability of good quality clean water. This research aims to analyze the quality of raw water sources that will be used to provide the needs of IKN. Water quality analysis was carried out using the pollutant index method at 4 sampling locations along the Sepaku River, namely Lokdam Bridge (T1), Upstream Intake (T2), Sepaku VI Bridge (T3), and PDAM Intake (T4). The water quality parameters analyzed include pH, Dissolved Oxygen (DO), and Total Dissolved Solid (TDS). The pollutant index values at T1 (2.006), T2 (3.882), and T3 (3.849) are categorized as lightly polluted, so they require additional processes that they can be used as a raw water source, especially to fulfill the Central Government Core Area (KIPP) of IKN. Different results were shown at sampling locations along the Tengin River. Even though T4 (1.055) is included as lightly polluted, the pollutant index value decreased at T5 (0.802) and T6 (0.862) due to the self-purification ability. Thus, the Tengin River is considered to have met the requirements as a raw water source for drinking water. However, efforts are still required to maintain water quality in the future. Abstrak Pergantian Ibukota Indonesia dari Jakarta ke Ibu Kota Nusantara (IKN) berdampak pada perpindahan penduduk dan harus disertai dengan pemenuhan kebutuhan pokok salah satunya ketersediaan air bersih dengan kualitas yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas sumber air baku yang akan digunakan untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat di IKN. Analisis kualitas air dilakukan menggunakan metode indeks pencemar pada 6 lokasi sampling di sepanjang Sungai Sepaku yaitu Jembatan Lokdam (T1), hulu intake (T2), Jembatan Sepaku VI (T3), Tengin Kanan (T4), Tengin Kiri (T5), dan intake PDAM (T5). Parameter kualitas air yang dianalisis mencakup pH, dissolved oxygen (DO), dan total dissolved solid (TDS). Nilai indeks pencemar pada T1 (2,006), T2 (3,882), dan T3 (3,849) dikategorikan tercemar ringan sehingga memerlukan proses pengolahan tambahan agar bisa dijadikan sebagai sumber air baku khususnya untuk pemenuhan Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN. Hasil yang berbeda ditunjukkan pada lokasi sampling di sepanjang aliran Sungai Tengin. Walaupun T4 (1,055) termasuk kategori tercemar ringan, nilai indeks pencemar mengalami penurunan pada T5 (0,802) dan T6 (0,862) akibat kemampuan untuk melakukan penjernihan sendiri (self-purification). Sehingga aliran Sungai Tengin dianggap telah memenuhi syarat sebagai sumber air baku air minum. Meskipun demikian, tetap memerlukan upaya untuk menjaga kualitas airnya di masa mendatang

    KETERKAITAN PERIODISITAS CURAH HUJAN DI DAERAH PESISIR DAN PEGUNUNGAN PROVINSI JAWA TIMUR DENGAN VARIABILITAS CUACA SKALA GLOBAL DAN REGIONAL

    No full text
    Jawa Timur merupakan wilayah yang memiliki variasi curah hujan yang dipengaruhi oleh fenomena cuaca global dan regional seperti Dipole Mode, El Nino Southern Oscillation (ENSO), Intertropical Convergence Zone, Madden Julian Oscillation, dan monsun. Topografi yang beragam juga menjadi faktor yang memengaruhi curah hujan di daerah Jawa Timur. Berbagai indeks digunakan untuk melihat aktivitas-aktivitas fenomena cuaca tersebut, seperti DMI untuk aktivitas Dipole Mode, NINO 3.4 untuk aktivitas ENSO, Indeks RMM untuk aktivitas MJO, WNPMI dan, AUSMI untuk aktivitas monsun. Pada penelitian ini digunakan analisis spektral dengan menggunakan metode Fast Fourier Transform untuk melihat periodisitas indeks masing-masing terhadap periodisitas curah hujan dari data 11 pos hujan yang terbagi menjadi 6 pos hujan daerah pesisir dan 5 pos hujan daerah pegunungan. Hasil dari penyeragaman periodisitas fenomena cuaca dengan curah hujan antara lain Dipole Mode (periodisitas 18 bulan), ENSO (periodisitas 18 dan 40 bulan), dan MJO (periodisitas 2 dan 3 bulan). Fenomena yang memengaruhi curah hujan di daerah pesisir maupun pegunungan secara dominan adalah fenomena monsun dengan diikuti ITCZ. Fenomena lain yang memengaruhi di daerah pesisir antara lain dominan MJO, serta fenomena ENSO dan Dipole Mode yang memengaruhi daerah Lamongan, Bunder, dan P3GI dengan kecenderungan lebih kuat pada fenomena Dipole Mode. Sementara itu, fenomena yang memengaruhi hujan di daerah pegunungan secara dominan adalah ENSO. Adapun fenomena lain yang memengaruhi hujan di daerah pegunungan antara lain fenomena MJO di daerah Tosari, serta daerah Kebon Teh Wonosari yang memiliki kecenderungan dipengaruhi oleh fenomena Dipole Mode meskipun pengaruhnya tidak signifikan

    PENGARUH PROPAGASI MADDEN JULIAN OSCILLATION (MJO) DI BENUA MARITIM INDONESIA (BMI) TERHADAP SIKLUS DIURNAL DINAMIKA ATMOSFER DAN CURAH HUJAN DI PROVINSI LAMPUNG TAHUN 2018

    No full text
    Madden Julian Oscillation (MJO) merupakan osilasi gelombang submusiman di wilayah tropis yang berpropagasi ke arah timur dari Samudera Hindia melewati Benua Maritim Indonesia (BMI) hingga Samudera Pasifik. Propagasi MJO dapat meningkatkan konvektivitas dan curah hujan pada wilayah yang dilewatinya. Lampung merupakan salah satu wilayah di BMI bagian barat yang berbatasan dengan Samudera Hindia sebagai tempat awal kemunculan MJO. Posisi Lampung tersebut menyebabkan perbedaan insolasi antara daratan dan lautan secara diurnal sehingga siklus diurnal ikut berperan dalam pembentukan cuaca. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh propagasi MJO dari Fase 3-5 pada tahun 2018 terhadap siklus diurnal dinamika atmosfer dan curah hujan di Lampung. Siklus diurnal dianalisis dengan membagi empat periode waktu yaitu dini hari (00.00-06.00 LT), pagi hari (06.00-12.00 LT), siang hari (12.00-18.00 LT) dan malam hari (18.00-00.00 LT). Berdasarkan rata-rata komposit data Reanalysis ECMWF, GSMaP, dan curah hujan observasi didapatkan bahwa selama penjalarannya MJO menguat ketika Fase 3-4 dan melemah ketika Fase 5. Secara diurnal konvektivitas yang kuat dan curah hujan tinggi terjadi di perairan pada dini hari hingga pagi hari, di daerah pesisir pada siang hari, dan di daratan pada malam hari yang meningkat dari Fase 3-4 dan melemah pada Fase 5. Hujan menjalar dari Lampung bagian barat menuju Lampung bagian tengah dengan jeda waktu selama 2-5 jam ketika Fase 3, 4-7 jam ketika Fase 4, dan 1-2 jam ketika Fase 5. Pada Fase 3-5 hujan terjadi di Lampung bagian timur dengan perbedaan waktu 1-3 jam dari Lampung bagian tengah

    RESPON CURAH HUJAN DIURNAL TERHADAP MADDEN-JULIAN OSCILLATION AKTIF DI BENUA MARITIM BERBASIS GSMAP GAUGE-CALIBRATED V7 Article Sidebar

    No full text
    Keberadaan pergeseran puncak curah hujan diurnal (DR) terhadap Madden-Julian Oscillation (MJO) aktif di Maritime Continent (MC) masih diperdebatkan sehingga studi ini bertujuan untuk menginvestigasi perubahan tersebut. Selain itu, intensitas rata-rata dan amplitudo DR juga dikaji dalam penelitian ini berbasis GSMaP Gauge-Calibrated V7. Komposit anomali intensitas rata-rata (Ra), amplitudo (Rax) DR MJO aktif dan perbandingan fase puncak DR MJO aktif terhadap klimatologinya (Pax-Pm) pada periode Desember-Januari-Februari (DJF), Maret-April-Mei (MAM), Juni-Juli-Agustus (JJA) dan September-Oktober-November (SON) digunakan dalam tulisan ini dengan uji-z 80%. MJO aktif berbasis rekonstruksi outgoing longwave radiation (OLR) dari kedua indeks realtime multivariate MJO (RMM). Hasil memperlihatkan bahwa MJO aktif memodulasi peningkatan intensitas rata-rata dan amplitudo DR di lautan dan mempengaruhi pergeseran puncak DR menjadi lebih cepat 1 jam dari klimatologi musimannya

    TREN CURAH HUJAN BERBASIS DATA SINOPTIK BMKG DAN REANALISIS MERRA-2 NASA DI PROVINSI SULAWESI TENGAH

    No full text
    Perubahan iklim dapat mempengaruhi perubahan pola dan intensitas curah hujan. Kajian iklim di Provinsi Sulawesi Tengah sangat penting dilakukan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan di bidang pertanian dan sektor lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tren perubahan total curah hujan dan kejadian hujan ekstrem di Provinsi Sulawesi Tengah berdasarkan data dari stasiun sinoptik BMKG dan model reanalisis The Modern-Era Retrospective Analysis for Research and Applications Version 2 dari The National Aeronautics and Space Administration (MERRA-2 NASA) periode 1980-2017. Hasil menunjukkan bahwa kedua data memiliki kemiripan pola musim hujan dan hubungan korelasi positif yang signifikan dengan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,59-0,78 kecuali kota Palu dengan R2 = 0,14. Hal ini menunjukkan bahwa data MERRA-2 berpotensi untuk mengisi data kosong yang terdapat pada stasiun sinoptik BMKG di masa lalu. Selain itu, kedua data menunjukkan tren peningkatan total curah hujan, tren penurunan jumlah hari hujan <5 mm/hari, dan tren peningkatan jumlah hari hujan >50 mm/hari (ekstrem) per tahun. Tren peningkatan total hujan tahunan berkisar antara 4,68-52,40 mm/tahun dengan tren tertinggi terjadi di Kabupaten Poso, sebagian Kabupaten Sigi, Tojo Una-Una, Morowali Utara dan Morowali. Sedangkan tren terendah terjadi di Kabupaten Banggai, Banggai Kepulauan dan Banggai Laut. Tren peningkatan curah hujan bulanan tertinggi terjadi pada bulan April di Poso (4,8 mm/tahun), bulan Januari di Toli-Toli (3,6 mm/tahun) dan bulan Juni di wilayah Luwuk Banggai (2,8 mm/tahun) serta Palu (4,1 mm/tahun). Informasi ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam kebijakan terkait adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di Provinsi Sulawesi Tengah

    KAJIAN BANJIR BANDANG MASAMBA JULI 2020, TINJAUAN METEOROLOGIS

    No full text
    Banjir bandang dan tanah longsor telah melanda kawasan Masamba, Kabupaten Luwu Utara Sulawesi Selatan, pada Senin 13 Juli 2010. Sedikitnya puluhan warga meninggal dunia dan ratusan orang luka serta belasan ribu orang mengungsi dan kehilangan harta benda. Data satelit menunjukkan adanya titik-titik longsor yang cukup banyak di wilayah hulu Sungai Sabbang, Sungai Radda, dan Sungai Masamba. Pemerintah menyebutkan bahwa bencana banjir bandang dan tanah longsor di Masamba adalah akibat curah hujan yang tinggi yang dipicu oleh adanya pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb). Analisis lebih detail menunjukkan bahwa beberapa hari sebelumnya daerah Sulawesi Selatan bagian tengah (termasuk juga wilayah Masamba dan sekitarnya) hampir selalu tertutupi oleh tutupan awan jenis Cumulus Congestus. Namun demikian dari analisis TRMM, wilayah Masamba bukan merupakan pusat curah hujan tertinggi. Curah hujan tertinggi berada di wilayah pantai timur Sulawesi Tengah. Adanya kejadiah hujan selama beberapa hari dan struktur tanah yang tidak mendukung memungkinkan permukaan tanah menjadi cepat jenuh, sehingga diduga menyebabkan terjadinya tanah longsor

    PREDICTION OF CUMULONIMBUS (CB) CLOUD BASED ON INTEGRATED FORECAST SYSTEM (IFS) OF EUROPEAN MEDIUM-RANGE WEATHER FORECAST (ECMWF) IN THE FLIGHT INFORMATION REGION (FIR) OF JAKARTA AND UJUNG PANDANG

    No full text
    This study was focused on cumulonimbus (Cb) cloud prediction based on Integrated Forecast System (IFS) European Medium-Range Weather Forecast (ECMWF) model in the Flight Information Region (FIRs) Jakarta and Ujung Pandang. The Cb cloud prediction was calculated using convective cloud cover (CC) of the precipitation product. The model predictability was examined through categorical verification. The Cb cloud observation was based on brightness temperature (BT) IR1 and brightness temperature difference (BTD) IR1-IR2. The results showed that CC 50%' predictor was the best predictor to estimate the Cb cloud. The study in the period other than 2019 is suggested for the next research because Indian Ocean Dipole (IOD) is extreme that may affect the Cb cloud growth in the study area

    PERANAN CROSS EQUATORIAL NORTHERLY SURGE TERHADAP DINAMIKA ATMOSFER DI WILAYAH INDONESIA BAGIAN BARAT

    No full text
    Pada saat monsun dingin Asia berlangsung pada Oktober hingga Maret, sebagian wilayah Indonesia mengalami peningkatan curah hujan yang signifikan dibandingkan saat periode April hingga September. Selain dari pengaruh monsun, cuaca di wilayah Indonesia juga dipengaruhi oleh sirkulasi skala global dan regional yang terjadi secara simultan. Hal ini dapat memengaruhi dinamika atmosfer di sebagian wilayah Indonesia. Pada penelitian ini, dikaji aktivitas cross equatorial northerly surge yang terjadi pada skala regional serta dampaknya terhadap dinamika atmosfer di wilayah Indonesia bagian barat khususnya Laut China Selatan bagian selatan hingga Laut Jawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cross equatorial northerly surge pada tahun 2013 terjadi paling kuat pada saat bersamaan dengan cold surge, dan memengaruhi pola divergensi, transpor kelembapan, dan omega, terutama di wilayah utama pada penelitian ini yaitu perairan Laut China Selatan hingga Laut Jawa, yang berpotensi mendukung terjadinya cuaca buruk di wilayah Bangka Belitung dan Jawa bagian barat. Â&nbsp

    7

    full texts

    7,815

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    The National Research and Innovation Agency's Ejournal Portal
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇