Puslit Penelitian Karet E-Journal System Portal
Not a member yet
    531 research outputs found

    PEMANFAATAN LIMBAH BAN BEKAS DENGAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI PIROLISIS

    Get PDF
    Pertumbuhan industri otomotif yang semakin pesat mengakibatkan peningkatan permintaan ban kendaraan, sehingga menyebabkan peningkatan jumlah limbah ban bekas. Oleh karena ban bekas sangat sulit terdegradasi oleh alam, maka diperlukan suatu teknik untuk mengatasi permasalahan ini. Salah satu cara untuk menangani limbah ban bekas adalah dengan mendegradasi secara thermal melalui proses pirolisis. Proses pirolisis adalah degradasi thermal suatu bahan dengan sedikit atau tanpa oksigen yang  dilakukan pada temperatur tinggi sekitar  300 – 900 0C.  Limbah ban bekas yang diperoleh dari proses buffing (proses penghalusan) pada pabrik vulkanisir ban mengandung karet dan bahan kimia karet seperti : karet alam, karet sintetis, filler (pengisi) seperti Carbon Black, Sulfur, Zinc Oxide, Processing Oil, Accelators, dll. Produk dari proses pirolisis limbah ban bekas berupa fase padat, cair dan gas. Fase padat adalah berupa arang (char), sedangkan fase cair dan fase gas berupa minyak (Oil) dan senyawa yang tidak terkondensasi (Pyro-gas). Produk cairan pirolisat dapat digunakan sebagai  bahan baku dalam berbagai aplikasi industri seperti industri pelarut, resin, lem, dan dispersing agent untuk pigmen warna. Produk padat berupa arang (char) dapat digunakan sebagai bahan bakar padat atau dapat sebagai arang aktif (activated carbon) yang digunakan dalam unit pemurnian air (water purification unit), sedangkan produk gas dapat digunakan sebagai sumber bahan bakar pada proses pirolisis

    PENGARUH PENGGUNAAN STIMULAN GAS TERHADAP PRODUKSI DAN KARAKTER FISIOLOGI KLON BPM 24

    Get PDF
    Penggunaan stimulan seperti etefon atau gas etilen telah banyak diterapkan terutama pada perkebunan karet untuk meningkatkan produksi lateks. Mekanisme kerja stimulan yang berbahan aktif etefon dalam tanaman karet yakni terdekomposisi menjadi etilen, asam hidroklorit, dan asam fosfat. Stimulan dengan bahan aktif etefon berpengaruh tidak langsung, peningkatan produksi hanya mencapai kurang dari 50%. Sementara itu stimulan dengan bahan aktif berupa gas etilen diabsorbi langsung oleh batang tanaman karet dengan jumlah yang lebih banyak. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh frekuensi sistem stimulan gas terhadap produksi, karakter fisiologi, pertumbuhan vegetatif, dan kepekaan terhadap kering alur sadap. Frekuensi stimulan yang tepat dan optimum akan memberikan produksi tinggi, tanpa menimbulkan efek negatif terhadap metabolisme sel lateks. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Sembawa mulai Oktober 2010 sampai September 2011. Penelitian disusun berdasarkan Rancangan Acak Kelompok dengan 5 perlakuan sistem sadap  dan 4 ulangan, menggunakan klon BPM 24 tahun tanam 1997 berumur 13 tahun. Penyadapan telah dilakukan sejak 2002 dengan sistem sadap S/2 d3 ET2,5% 10/y(m). Perlakuan antara lain S/4 U d3 6d/7 ETG 40/y (w), S/4 U d3 6d/7 ETG 20/y (2w), S/4 U d3 6d/7 ETG 10/y (m), S/4 U d3 6d/7 ET2,5% 40/y (w), dan S/4 U d3 6d/7 ET2,5% 20/y (2w). Hasil penelitian menunjukkan dengan frekuensi stimulan gas yang tepat diharapkan, produksi tanaman karet dapat ditingkatkan tanpa menimbulkan pengaruh yang negatif terhadap kesehatan tanaman. Stimulan gas dapat meningkatkan produksi sebesar 66,1-76,2% dibanding S/4 U d3 6d/7 ET2,5% 20/y (2w). Berdasarkan hasil pengamatan terhadap produksi, kondisi fisiologis, dan kesehatan tanaman, pengisian gas ke dalam aplikator dilakukan setiap 2 minggu dan panel dipindahkan setiap 3 bulan untuk menghindari menurunnya produksi akibat “kelelahan†panel sadap. Diterima : 17 Juli 2012; Disetujui : 20 September 2012 How to Cite : Herlinawati, E., & Kuswanhadi. (2012). Pengaruh penggunaan stimulan gas terhadap produksi dan karakter fisiologi klon BPM 24. Jurnal Penelitian Karet, 30(2), 100-107. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/12

    KERAGAAN KLON IRR SERI 300 DAN 400 DI PENGUJIAN PLOT PROMOSI

    Get PDF
    Klon karet IRR  seri 300 dan 400 merupakan hasil seleksi dari kegiatan persilangan tahun 1991 dan 1992. Klon IRR seri 300 berasal dari hasil persilangan sebanyak 25.388 persilangan yang menghasilkan 397 progeni,  sedangkan klon IRR seri  400 berasal dari hasil persilangan  sebanyak 31.120 persilangan yang menghasilkan 828 progeni F1. Semua persilangan dan pengujian plot promosi dilakukan di Balai Penelitian Sungai Putih, Pusat Penelitian Karet. Pengujian Plot Promosi merupakan salah satu metode alternatif untuk mempersingkat masa  seleksi tanaman karet yang membutuhkan waktu hampir 25-30 tahun, sehingga dengan pengujian Plot Promosi masa seleksi dapat dipersingkat 10 – 15 tahun. Materi yang digunakan dalam pengujian Plot Promosi berasal dari 1% progeni terbaik tanaman F1 di pembibitan (Seedling Evaluation Trial = SET), dengan menggunakan rancangan Simple Latice Design. Klon IRR seri 300 dibangun pada tahun 1999 sedangkan klon IRR seri 400 di bangun pada tahun 2004. Sebanyak 21  klon  IRR seri 300 dan 26 klon IRR seri 400  diuji dalam penelitian ini dengan klon pembanding PB 260, RRIC 100, dan BPM 24. Berdasarkan hasil evaluasi klon IRR seri 300  memperlihatkan bahwa klon IRR 302 , IRR 309, IRR 313, IRR 317, IRR 318  dan IRR 319  memiliki pertumbuhan lilit batang yang cukup tinggi, potensi hasil lateks > 45 (g/p/s)  dan ketahanan penyakit gugur daun (Colletrotichum, Corynespora, dan Oidium) yang cukup baik. Dengan demikian klon-klon tersebut dapat dikembangkan menjadi klon unggul harapan penghasil lateks dan lateks-kayu.   Demikian halnya dengan klon IRR seri 400, klon IRR 417 dan IRR 420 dengan potensi hasil lateks selama 2 tahun sadap > 40 (g/p/s), pertumbuhan lilit batang cukup jagur, dan ketahanan penyakit gugur daun (Colletrotichum, Corynespora, dan Oidium) yang cukup baik. Â

    APLIKASI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI (SIG) PADA PERKEBUNAN KARET

    Get PDF
    Sistem informasi Geografis (SIG) merupakan suatu komponen yang terdiri dari perangkat keras, perangkat lunak, data geografi  dan sumberdaya manusia yang bekerja bersama secara efektif untuk memasukan, menyimpan, memperbaiki, memperbaharui, mengelola, memanipulasi, mengintegrasikan, menganalisis dan menampilkan data dalam suatu informasi berbasis geografi. Teknologi SIG memungkinkan dukungan kegiatan bidang perkebunan karet secara efektif dan efisien. Terdapat beberapa keunggulan pada teknik penginderaan jauh antara lain (1) perekaman berulang, (2) faktual, dan (3) format berbentuk digital. Melihat penggunaannya di bidang lain yang cukup luas, maka pada bidang perkebunan karet berpeluang untuk diaplikasikan,antara lain untuk keperluan digitalisasi peta analog, penentuan luasan areal hiaten, penentuan tindakan kultur teknis pada berbagai kondisi topografi dan penapisan sebaran Penyakit Jamur Akar Putih (JAP)  dan status hara daun

    PEMODELAN PRODUKSI TANAMAN KARET BERDASARKAN POTENSI KLON, TANAH, DAN IKLIM

    Get PDF
    Tiap jenis tanaman menghendaki syarat iklim dan tanah tertentu bagi pertumbuhan optimalnya. Menyangkut hubungan tanah-tanaman, terdapat hubungan erat antara keserasian tanah dengan faktor-faktor curah hujan. Walaupun pengaruh curah hujan terhadap pertumbuhan tanaman amat bergantung pada penyebaran dan tipe tanahnya, namun antara curah hujan dengan produksi tanaman terdapat hubungan umum yang kuat. Tanaman karet merupakan salah satu jenis tanaman hutan asli di lembah Amazon dengan ketinggian 200 mdpl dan dekat dengan ekuator. Daerah ini memiliki karateristik suhu antara 24 sampai dengan 28oC dengan curah hujan rerata 1500 – 2500 mm/tahun. Selama ini penentuan kualitas lahan kaitannya dengan produksi tanaman karet masih bersifat kualitatif dengan berbagai macam versi. Penelitian mengenai hubungan antara potensi klon, tanah, dan iklim dengan produksi tanaman karet secara kuantitatif belum banyak dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui model potensi produksi karet klon tertentu pada wilayah dengan karateristik tanah dan iklim tertentu (spesifik wilayah). Asumsi yang digunakan untuk menentukan nilai optimal masing-masing adalah mengunakan persamaan regresi tipe kuadratik (regression quadratic model)  Hasil penelitian menunjukkan hasil optimal untuk pertumbuhan tanaman adalah sebagai berikut yaitu 2640 mm curah hujan per tahun, 133 hari hujan pertahun, 3. bulan kering per tahun, 168 m dpl, 55 % jumlah fraksi lempung, dan drainase kriteria ke-3 atau weel drained. Hasil ini menunjukkan bahwa penggunaan persamaan matematsi dapat digunakan untuk menentukan potensi klon tertentu pada suatu wilayah dengan cepat dengan tingkat akurasi 79,19 %. Diterima : 17 April 2012; Disetujui : 11 Juli 2012How to Cite : Susetyo, I., & Hadi, H. (2012). Pemodelan produksi tanaman karet berdasarkan potensi klon, tanah, dan iklim. Jurnal Penelitian Karet, 30(1), 23-35. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/11

    POTENSI BIOCHAR DARI LIMBAH BIOMASSA PERKEBUNAN KARET SEBAGAI AMELIORAN DAN MENGURANGI EMISI GAS RUMAH KACA

    Get PDF
    Pemanasan global atau global warming disebabkan meningkatnya gas rumah kaca seperti CO2, metan, NO2 dan lain-lain.Aktivitas pertanian berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca, salah satu emisi yang bersumber dari aktivitas pertanian yakni NO2.Upaya yang dapat dilakukan dalam mengurangi emisi NO2 ini dengan meningkatkan efisiensi pemupukan khususnya pupuk nitrogen (N). Biochar merupakan hasil pembakaran tanpa oksigen dari limbah pertanian seperti kayu. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa biochar berfungsi sebagai amelioran yang mampu meningkatkan kesuburan lahan pertanian. Aplikasi biochar (arang) + 0,5 dosis rekomendasi meningkatkan kandungan nitrogen pada daun karet sebesar 4,13 % N dibandingkan dengan aplikasi tanpa biochar dan aplikasi dosis pemupukan sesuai rekomendasi yakni 2,80 % N. Sejalan dengan peningkatan efisiensi pemupukan nitrogen, maka hal ini akan mengurangi emisi NO2 dan meningkatkan pertumbuhan tanaman yang akan meningkatkan pengikatan CO2 melalui proses fotosintesis. Limbah biomassa berbasis kebun karet dinilai potensial sebagai bahan baku pembuatan biochar. Potensi limbah kebun karet dalam kegiatan peremajaan mencapai 5 % per tahun (34 juta m3), hal ini menunjukkan tingginya potensi pemanfaatan limbah biomassa kebun karet untuk dijadikan bahan baku pembuatan biochar

    KINERJA FAKTIS COKLAT DARI MINYAK JARAK KEPYAR DALAM PRODUKSI SELANG GAS LPG

    Get PDF
    Faktis coklat merupakan hasil reaksi vulkanisasi minyak nabati (jarak kepyar) pada suhu 130-160oC. Faktis coklat utamanya berfungsi sebagai bahan bantu olah kompon dan bahan penstabil dimensi pada barang jadi karet. Bahan bantu olah dapat mempermudah pencampuran dengan cara meningkatkan laju dispersi bahan pengisi dan menurunkan energi pengkomponan. Selain itu, faktis coklat dapat mempertahankan dimensi terutama pada barang karet hasil ekstruksi. Pada penelitian akan dipelajari ujicoba faktis coklat dari minyak jarak kepyar dalam pembuatan selang gas LPG. Kompon tanpa dan dengan penambahan faktis coklat komersial digunakan sebagai pembanding. Tahapan penelitian diawali dengan penyusunan formula kompon selang gas LPG kemudian pembuatan kompon selang gas LPG dalam mesin giling terbuka. Kompon yang diperoleh diperam sebelum dibentuk menjadi selang dalam mesin ekstruder. Kompon dicuplik ±150 g untuk uji karakteristik vulkanisasi dan sisanya divulkanisasi dalam autoclave. Selang  LPG hasil vulkanisasi diuji sifat fisika sesuai dengan SNI 06-7213-2006/Amd 1:2008. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktis coklat dari minyak jarak kepyar dapat berfungsi dengan baik sebagai bahan bantu olah tetapi belum mampu mencegah terjadinya dies swell pada selang. Faktis coklat dari minyak jarak kepyar tidak berpengaruh nyata pada hasil uji karakteristik vulknisasi kompon dan sifat fisika selang gas LPG. Hal ini memperkuat fungsi faktis coklat sebagai bahan bantu olah. Secara umum, faktis coklat dari minyak jarak kepyar memiliki kinerja yang setara dengan faktis coklat komersial. Diterima : 12 Maret 2012; Disetujui : 9 Juli 2012 How to Cite : Puspitasari, S., Muslich., & Syamsu, Y. (2012). Kinerja faktis coklat dari minyak jarak kepyar dalam produksi selang gas LPG. Jurnal Penelitian Karet, 30(1), 46-53. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/12

    ANALISIS KERAGAMAN GENETIK ISOLAT CORYNESPORA CASSIICOLA (BERK & CURT) WEI. DI INDONESIA MENGGUNAKAN MARKER ISSR (INTER SIMPLE SEQUENCE REPEAT)

    Get PDF
    Penyakit Gugur Daun Corynespora (PGDC) yang disebabkan oleh patogen Corynespora cassiicola (Berk & Curt) Wei., merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman karet (Hevea brasiliensis). Klon-klon karet yang semula bersifat moderat terhadap serangan jamur ini, setelah beberapa tahun menjadi rentan dan terserang hebat. Hal tersebut diduga karena evolusi patogen menghasilkan ras baru yang lebih merusak. Oleh karena itu, informasi yang berkaitan dengan variabilitas patogen sangat diperlukan. Bahan yang dipakai dalam penelitian ini adalah isolat Corynespora cassiicola dari 7 daerah sentra perkebunan karet Indoneia yaitu Lampung, Bengkulu, Sumatera Selatan, Jambi, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, dan Jawa Tengah. Prosedur kerja dalam penelitian ini meliputi penyiapan kultur isolat, ekstraksi DNA Corynespora cassiicola menggunakan metode modifikasi CTAB berdasarkan Situmorang (2002),  analisis PCR dengan Inter Simple Sequence Repeat (ISSR), analisis data menggunakan UPGMA dalam program NTSYS, dan uji kelayuan daun menggunakan metode Nghia et al. (2007). Hasil analisis keragaman genetik isolat Corynespora cassiicola asal 7 wilayah sentra karet di Indonesia menggunakan marker ISSR menghasilkan 4 kelompok (4 ras) C. cassiicola, kelompok A (Ras 1) yaitu isolat asal Bengkulu, kelompok B (Ras 2) meliputi isolat asal Lampung dan Sumatera Utara, kelompok C (Ras 3) meliputi isolat asal Kalimantan Barat, Sumatera Selatan dan Jambi, dan kelompok D (Ras 4) yaitu isolat asal Jawa Tengah. Hasil uji kelayuan daun menunjukkan bahwa isolat-isolat Corynespora yang berada pada kelompok yang sama berdasarkan hasil analisis genetik, juga mempunyai tingkat infeksi (patogenitas) yang sama terhadap beberapa daun karet yang diuji. Isolat asal Jawa tengah (CJT) mempunyai rata-rata tingkat infeksi (patogenitas) tertinggi dibandingkan isolat yang lainnya. Tingkat infeksi terendah dari 7 isolat adalah pada klon RRIM 712 dan IRR 5, sedangkan tingkat infeksi 7 isolat Corynespora tertinggi terdapat pada klon BPM 24 dan PR 255. Diterima : 9 Juli 2012; Disetujui : 20 September 2012 How to Cite : Munir, M., Suryaningtyas, H., & Kuswanhadi. (2012). Analisis keragaman genetik isolat corynespora cassiicola (berk & curt) wei. Di indonesia menggunakan marker ISSR (inter simple sequence repeat). Jurnal Penelitian Karet, 30(2), 86-99. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/125Â

    Sampul Depan 32 1 2014

    No full text
    Sampul Depan 32 1 201

    PERBANYAKAN TANAMAN KACANGAN PENUTUP TANAH Mucuna bracteata MELALUI BENIH, STEK BATANG DAN PENYUSUAN

    Get PDF
    Di perkebunan karet, sejak sepuluh tahun terakhir ini dikembangkan kacangan penutup tanah (LCC) Mucuna bracteata. Dibandingkan dengan LCC konvensional, Mucuna bracteata mempunyai keunggulan antara lain : laju pertumbuhan cepat, produksi biomassa tinggi, tahan terhadap naungan, tidak disukai ternak, toleran terhadap serangan hama dan penyakit, dapat berkompetisi dengan gulma dan pengendali erosi tanah secara baikKendala yang dihadapi para pekebun dalam mengembangkan M. bracteata adalah terbatasnya ketersediaan benih karena harus diimport dan harga benih cukup mahal. Pertanyaan yang sering disampaikan oleh para pekebun adalah bagaimana teknik memperbanyak tanaman M. bracteata, sehingga memberikan keberhasilan hidup yang tinggi.  Di dalam tulisan ini diuraikan secara lengkap  pembiakan M. bracteata  dengan cara stek batang, cara penyusuan serta dengan benih.  Biaya untuk membuat satu bibit polibeg M. bracteata dengan ketiga cara tersebut diatas adalah hampir sebanding yakni Rp 574,- (dengan biji), Rp 582,- (dengan stek) dan Rp 533,- (melalui penyusuan).  Dengan asumsi bahwa keberhasilan stek dan penyusuan adalah sama yaitu masing-masing 60%, maka jumlah tanaman polibeg yang dihasilkan dengan cara stek adalah mencapai 90.000 polibeg/ha sementara dengan cara penyusuan hanya 12.000 polibeg. Untuk penanaman baru, per hektar tanaman di lapangan dibutuhkan sebanyak 600 polibeg M. bracteata (termasuk bahan penyisip 10%). Dengan asumsi daya kecambah sekitar 63%, maka satu kilogram benih M. bracteata dapat memenuhi 7 ha tanaman karet di lapangan

    365

    full texts

    531

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Puslit Penelitian Karet E-Journal System Portal
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇