Puslit Penelitian Karet E-Journal System Portal
Not a member yet
531 research outputs found
Sort by
POTENSI PENGEMBANGAN KARET MELALUI PENGUSAHAAN HUTAN TANAMAN INDUSTRI
Tingginya minat investor untuk mengusahakan komoditas karet tidak diimbangi dengan ketersediaan lahan di wilayah tradisional karet. Selain di areal HGU, pengusahaan tanaman karet berpeluang untuk dilakukan pada areal-areal dengan status kawasan hutan yang diakomodasi dalam Hutan Tanaman Industri (HTI). Sebagai salah satu tanaman kehutanan, karet mempunyai keunggulan di antaranya sebagai penghasil kayu, penambat CO2 dan penghasil O2, serta sebagai tanaman konservasi. Selain itu, pengembangan perkebunan karet pada areal-areal HTI yang berhimpitan dengan pemukiman masyarakat juga dapat dijadikan alternatif untuk mencegah konflik antara perusahaan dengan masyarakat sekitar. Namun demikian untuk pengembangan agribisnis karet di areal HTI perlu dipertimbangkan beberapa hal terutama terkait dengan kelayakan lahan yang akan diusahakan, kesesuaian klon yang akan digunakan dan kultur teknis yang diterapkan, serta ketersediaan tenaga kerja setempat
EVALUASI TINGKAT ADOPSI KLON UNGGUL DI TINGKAT PETANI KARET PROPINSI SUMATERA SELATAN
Sekalipun total ekspor karet alam Sumatera Selatan meningkat pesat, permasalahan klasik yang masih sering terdengar bahwa produktivitas di perkebunan rakyat masih rendah. Rendahnya produktivitas perkebunan karet di Indonesia dipengaruhi beberapa faktor, diantaranya adalah tingkat penggunaan bibit karet klonal di tingkat petani karet yang masih rendah (±40%). Berbagai manfaat strategis telah diperoleh dari adanya proyek-proyek pengembangan karet rakyat terdahulu, karena itu perlu dianalisis mengenai seberapa besar perkembangan pengetahuan dan adopsi petani terhadap teknologi karet maju khususnya penggunaan klon karet unggul. Penelitian bertujuan mengetahui tingkat adopsi klon unggul berdasarkan jenis klon. Penelitian dilakukan dengan metode survei dengan memilih sampel secara purposive, yaitu daerah-daerah yang merupakan sentra karet. Pengambilan data dilakukan melalui metode Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan perangkat-perangkat desa dan diikuti wawancara dengan petani. Hasil survei menunjukkan bahwa tingkat adopsi klon karet pada daerah-daerah yang dijadikan sample di Sumatera Selatan telah mencapai 59,2% dari rata-rata areal tanaman karet yang ada. Pada tahun tanam 2010, tingkat adopsi klon mencapai 67% dari rata-rata penanaman swadaya per tahun. Jenis klon yang paling banyak dikenal dan diminati oleh petani adalah PB 260 (83%). Diterima : 14 Maret 2012; Disetujui : 16 Juli 2012How to Cite : Syarifa, L.F., Agustina, D. S, Nancy, C., & Supriadi, M. (2012). evaluasi tingkat adopsi klon unggul di tingkat petani karet Propinsi Sumatera Selatan. Jurnal Penelitian Karet, 30(1), 12-22. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/11
PENGUJIAN MUTU KRITEX SP SEBAGAI PENGGUMPAL LATEKS
Hampir seluruh lateks kebun untuk produk karet ekspor harus digumpalkan sebelum diproses lanjut. Bahan penggumpal lateks yang selama ini dianjurkan adalah asam format. Dengan alasan harga yang relatif mahal dan ketersediaan yang sulit diperoleh, sebagian besar petani karet jarang menggunakan asam format dan lebih memilih menggunakan penggumpal yang tidak dianjurkan seperti pupuk SP dan TSP, berakibat menurunkan kualitas karet. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengujian terhadap kualitas Kritex SP (penggumpal alternatif berbahan aktif asam anorganik) dalam menggumpalkan lateks dan membandingkannya dengan asam format sebagai kontrol. Percobaan dilakukan pada skala laboratorium untuk mengetahui mutu krep, dan pada skala pabrik untuk mengetahui pengolahan RSS menggunakan penggumpal Kritex SP. Parameter yang diamati meliputi waktu koagulasi, spesifikasi teknis, dan sifat fisika vulkanisat krep maupun RSS. Hasil percobaan menunjukkan bahwa lama penggumpalan lateks kebun dengan larutan 2,50% Kritex SP (25,00 menit) berbeda nyata dengan lama penggumpalan larutan 7,50% Kritex SP (18,00 menit), tetapi tidak berbeda secara signifikan dibandingkan dengan lama penggumpalan larutan 5% Kritex SP (20,33 menit) dan larutan kontrol (22,33 menit). Koagulum yang dihasilkan dengan penggumpal Kritex SP bersifat lebih lembut dan lunak dibandingkan koagulum dari asam format. Spesifikasi teknis dan sifat fisika vulkanisat krep dari Kritex SP tidak berbeda nyata dengan krep dari asam format. Dosis Kritex SP yang diperlukan dalam pengolahan RSS (2,35 ml/liter lateks) lebih tinggi dibandingkan dosis asam format (1,90 ml/liter lateks). Lembaran sit basah hasil penggumpalan Kritex SP berukuran lebih panjang, lebih tipis dan kurang lebar dibandingkan sit asam format. Spesifikasi teknis dan sifat fisika vulkanisat RSS dari Kritex SP tidak berbeda nyata dengan asam format, kecuali parameter PRI yang lebih rendah (83,50%) dibandingkan kontrol (86,00%). Diterima : 11 Juli 2012; Disetujui : 2 Oktober 2012 How to Cite : Simanjuntak, M., Bachtiar., & Rachmawan, A. (2012). Pengujian mutu kritex sp sebagai penggumpal lateks. Jurnal Penelitian Karet, 30(2), 108-116. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/12
AKTIVITAS PEMULIAAN TANAMAN DALAM PERAKITAN KLON KARET UNGGUL DI INDIA
India merupakan salah satu negara penghasil karet alam di dunia. Rubber Research Institute of India (RRII) terus berusaha meningkatkan produksi karet nasional antara lain melalui peningkatan produktivitas klon. Kegiatan pemuliaan dan seleksi di lembaga penelitian ini telah dilakukan sejak tahun 1954. Beberapa kegiatan pemuliaan tanaman yang telah dan sedang dilakukan adalah hibridisasi dari tetua unggul populasi Wickham 1876, seleksi ortet dan tanaman hasil hibridisasi, pengujian genotipe unggul, identifikasi klon berdasarkan morfologi, studi propagasi tanaman, pembangunan kebun biji, studi genetika dan biologi tanaman, dan evaluasi klon-klon karet hasil introduksi. Pemanfaatan plasma nutfah karet hasil koleksi IRRDB 1981 juga menjadi kegiatan penting di lembaga penelitian ini. Hasil evaluasi dari koleksi IRRDB 1981 menunjukkan bahwa beberapa genotipe hasil seleksi memiliki pertumbuhan tanaman jagur, ketahanan biotik dan abiotik yang cukup baik seperti resisten terhadap penyakit daun, toleran terhadap cekaman suhu dingin dan kekeringan. Dari hasil pengujian klon RRII seri 400 menunjukkan bahwa klon RRII 422 dan RRII 430 memiliki potensi hasil lateks paling tinggi > 50 g/p/s. Klon tersebut juga tergolong cukup resisten terhadap penyakit daun
KAJIAN PEMBUATAN BAHAN PELUNAK KARET BERBASIS HAYATI DARI MINYAK JARAK MELALUI REAKSI HIDROGENASI
Bahan bantu olah digunakan secara luas oleh industri barang jadi karet. Salah satu kelompok bahan bantu olah adalah bahan pelunak (plasticizer). Saat ini, bahan pelunak utamanya disintesis dari bahan baku yang bersumber pada minyak bumi misalnya minyak parafinik. Minyak jarak berpotensi digunakan sebagai bahan baku pembuatan bahan pelunak karet berbasis hayati menggantikan bahan pelunak sintetik. Dalam tulisan ini diuraikan potensi bahan pelunak karet berbasis hayati yang dibuat melalui reaksi hidrogenasi minyak jarak. Reaksi hidrogenasi minyak jarak dengan senyawa diimide akan mengadisi ikatan rangkap C=C dalam minyak tersebut. Senyawa diimid  dihasilkan melalui reaksi oksidasi hidrasin hidrat oleh hidrogen peroksida menggunakan katalis logam. Pada reaksi transfer hidrogenasi terbentuk hasil samping berupa gas N2 dan air. Air harus dipisahkan agar diperoleh minyak terhidrogenasi yang murni. Mutu minyak jarak terhidrogenasi yang tinggi diperoleh dari hasil reaksi transfer hidrogenasi yang optimal. Mutu minyak jarak terhidrogenasi diklasifikasikan terutama berdasarkan bilangan iod minyak tersebut. Minyak terhidrogenasi tipe I mempersyaratkan bilangan iod sebesar 0-5 sedangkan tipe II sebesar 55-80. Minyak jarak terhidrogenasi memiliki rantai molekul lurus yang menyerupai minyak parafinik sehingga cocok digunakan untuk jenis karet sintetik seperti EPDM dan II
EVALUASI PENGUJIAN LANJUTAN KLON KARET IRR SERI 120-140
Program pemuliaan dan seleksi tanaman karet dilakukan secara bertahap dari mulai seleksi progeni, uji plot promosi dan pendahuluan serta uji lanjutan dan adaptasi. Dari hasil uji pendahuluan telah dihasilkan beberapa genotipe yang potensial sebagai penghasil lateks serta memiliki sifat-sifat sekunder penting yang baik. Untuk mendapatkan informasi yang lebih luas, sebanyak 17 genotipe terpilih dari uji pendahuluan diregistrasi menjadi klon IRR seri 120-140 dan diuji pada tahap lanjutan di lokasi kebun percobaan Sungei Putih. Percobaan dibangun pada tahun 1997, menggunakan rancangan acak kelompok. Pengamatan produksi karet kering dilakukan dua kali sebulan, lilit batang mulai umur dua tahun, tebal kulit murni dan jaringan pembuluh lateks pada umur lima tahun, fisiologi aliran lateks, intensitas serangan penyakit gugur daun Colletotrichum, Oidium, dan Corynespora serta karakter sekunder lainnya. Dari hasil evaluasi, IRR 132 dan IRR 133 merupakan klon yang memiliki penampilan terbaik sebagai klon penghasil lateks dan memiliki sifat sekunder yang baik. Rata-rata produksi karet kering kg/ha/th selama delapan tahun penyadapan, klon IRR 132 (2.088 kg) dan IRR 133 (2.006 kg), 15-20% lebih tinggi dari PB 260 (1.739 kg). Ukuran lilit batang pada umur empat tahun berkisar 42,8-43,6 cm dengan rata-rata pertambahan sebelum penyadapan 7,1-10,9 cm/th dan setelah penyadapan 3,0-3,8 cm/th, rata-rata tebal kulit murni 6,5-6,7 mm serta tergolong moderat resisten sampai dengan resisten terhadap penyakit gugur daun Colletotrichum, Oidium, dan Corynespora. Klon IRR 131 dan IRR 140 sesuai dikembangkan sebagai penghasil lateks dan kayu (volume kayu total 0,99-1,03 m3/ph), dengan produksi karet kering kg/ha/th berkisar 1.610-1.638 kg. Diterima : 21 Maret 2012; Disetujui : 12 Juli 2012 How to Cite : Daslin, A. (2012). Evaluasi pengujian lanjutan klon karet IRR seri 120-140. Jurnal Penelitian Karet, 30(2), 65-74. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/12