Puslit Penelitian Karet E-Journal System Portal
Not a member yet
531 research outputs found
Sort by
STUDI KINETIKA VULKANISASI BELERANG PADA KOMPON KARET ALAM TANPA BAHAN PENGISI
Ketiga jenis sistem vulkanisasi belerang yaitu vulkanisasi konvensional, semi-efisien, dan efisien digolongkan berdasarkan perbandingan jumlah belerang dengan bahan pencepat yang digunakan. Beberapa parameter yang berpengaruh dalam vulkanisasi diantaranya temperatur vulkanisasi, waktu pra vulkanisasi, laju vulkanisasi, dan waktu optimum proses vulkanisasi. Untuk menentukan laju vulkanisasi pada sistem vulkanisasi belerang dapat diukur dengan menggunakan alat rheometer. Data hasil pengujian rheometer dapat digunakan untuk menghitung konstanta laju reaksi dan energi aktivasi berdasarkan persamaan Arrhenius. Penelitian ini melakukan studi tentang kinetika reaksi vulkanisasi belerang pada kompon karet alam tanpa bahan pengisi untuk ketiga sistem vulkanisasi belerang pada suhu 145,150, 160, dan 1800C dengan pengamatan kinetika reaksi ditentukan pada saat nilai modulus torsi 20, 60, dan 90% proses vulkanisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa energi aktivasi terendah dicapai oleh sistem vulkanisasi efisien pada saat modulus torsi 20, 60, dan 90% berturut-turut sebesar 27,2734 kj/mol,42,2979 kj/mol,dan 53,9900 kj/mol. Diterima : 27 Februari 2013; Disetujui : 18 April 2013 How to Cite : Cifriadi, A., & Falaah, A. F. (2013). Studi kinetika vulkanisasi belerang pada kompon karet alam tanpa bahan pengisi. Jurnal Penelitian Karet, 31(2), 159-167. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/14
ALTERNATIF STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI BARANG JADI KARET DI INDONESIA
Pengembangan industri barang jadi perlu dilakukan dalam memperkokoh sistem agribisnis karet di Indonesia. Upaya tersebut dipengaruhi oleh faktor lingkungan internal dan eksternal. Dari faktor lingkungan internal, Indonesia memiliki kekuatan dalam kontinuitas produksi bahan olah karet yang dijamin dengan luas perkebunan karet terbesar di dunia. Namun demikian, Indonesia masih dihadapkan pada kenyataan akan kualitas bahan olah karet yang rendah, akses pemasaran barang jadi yang terbatas, kemampuan pembiayaan yang minim, dan penguasaan teknologi yang masih sederhana sebagai kelemahan. Sementara dari faktor lingkungan eksternal, Indonesia memiliki peluang potensi pasar dalam negeri yang besar. Jika beranjak dari pengembangan industri berbasis skala usaha kecil dan menengah saja, 60 % pasar dalam negeri masih terbuka untuk diraih. Namun demikian, Indonesia juga masih dihadapkan pada ancaman akan pesaing-pesaing besar dari luar negeri sebagai market leader, bahan dan alat penunjang yang masih impor, dan kebijakan pemerintah yang belum mendukung. Dengan kondisi faktor lingkungan internal dan eksternal saat ini, strategi pengembangan industri hilir yang relevan adalah dengan melakukan revitalisasi UKM pengolahan karet berbasis teknologi sederhana yang memfokuskan diri pada produk-produk unggulan yang kreatif dan inovatif
KETAHANAN GENETIK BERBAGAI KLON KARET INTRODUKSI TERHADAP PENYAKIT GUGUR DAUN
Penyakit gugur daun Corynespora cassiicola, Colletotrichum gloeosporioides dan Oidium heveae pada karet merupakan penyakit utama yang secara signifikan menurunkan produktivitas kebun. Serangan yang luas penyakit gugur daun tersebut banyak terjadi di berbagai negara penghasil karet alam seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Sri Langka, India dan beberapa negara lain di Afrika. Penelitian lapangan dan laboratorium dengan metode uji cakram dilakukan untuk mengetahui tingkat resistensi beberapa klon introduksi terhadap penyakit gugur daun karet, menggunakan Rancangan Acak Lengkap, tiga ulangan dan dua puluh perlakuan (klon). Klon introduksi yang diuji terdiri dari klon asal Malaysia (PB 260, PB 217, PB 254, PB 312, PB 314, PB 330, PB 340, PB 350, PB 359, PB 366, RRIM 901, RRIM 908, RRIM 911, RRIM 921, RRIM 937), asal Sri Langka (RRIC 100, RRIC 102, RRIC 110), dan asal India (RRII 105, RRII 176). Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan resistensi klon yang diuji terhadap patogen dari C. cassiicola, C. gloeosporioides dan O.heveae. Klon yang tergolong resisten terhadap C. gloeosporioides adalah RRIC 100, moderat resisten (PB 254, PB 260, PB 312, PB 314, PB 340, PB 366, RRIM 911, RRIM 921, RRIC 102), moderat (PB 330, PB 350, PB 359, RRIM 901, RRIM 908, RRIC 110, RRII 105, RRII 176), dan moderat rentan (PB 217, RRIM 937). Tidak ada klon yang diuji tergolong resisten terhadap O. heveae, sedangkan yang tergolong moderat resisten adalah PB 260, PB 217, PB 254, PB 312, PB 314, PB 350, PB 359, RRIM 908, RRIM 911, RRIM 921, RRIM 937, RRIC 100, RRIC 110, RRII 105, RRII 176, moderat (PB 330, PB 366, RRIM 901, RRIC 102) dan moderat rentan (PB 340). Klon yang tergolong resisten terhadap C. cassiicola adalah PB 260 dan RRIC 100, moderat resisten (PB 217, PB 254, PB 312, PB 314, PB 330, PB 340, PB 350, PB 366, RRIM 901, RRIM 908, RRIM 921, RRIM 937, RRIC 102, RRIC 110, RRII 105, RRII 176) dan moderat (PB 359, RRIM 911). Klon-klon yang resisten dapat dikembangkan dalam program pemuliaan karet untuk merakit klon unggul penghasil lateks tinggi dan tahan penyakit gugur daun. Diterima : 25 April 2013; Disetujui : 15 Mei 2013  How to Cite : Daslin, A. (2013). Ketahanan genetik berbagai klon karet introduksi terhadap penyakit gugur daun. Jurnal Penelitian Karet, 31(2), 79-87. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/13
PERBANYAKAN BAHAN TANAM KARET JUVENIL DI CHINA
China merupakan konsumen karet alam terbesar di dunia. Meskipun demikian, China juga menghasilkan karet alam dalam jumlah yang kecil. Budidaya karet di China umumnya dapat dikembangkan di wilayah selatan yang memiliki iklim tropis dengan suhu udara masih memungkinkan untuk pertumbuhan karet. Tanaman karet dijumpai di provinsi Hainan, Guangdong, Guangxi, dan Fujian. Kondisi alam yang kurang optimal menyebabkan tidak semua klon yang diintroduksi dapat berkembang di China. Klon yang banyak dibudidayakan umumnya yang relatif tahan terhadap serangan angin seperti GT 1 dan PR 107 serta beberapa klon lokal (Heiken 1 dan Heiken 2). Penelitian terus dilakukan secara intensif oleh lembaga-lembaga penelitian, perguruan tinggi maupun sekolah-sekolah teknik untuk mendapatkan jenis klon dan bahan tanam yang sesuai dengan kondisi iklim setempat. Salah satu hasil penelitian yang telah mendapat pengakuan dari pemerintah dan dunia adalah perbanyakan bahan tanam karet juvenil. Perbanyakan dilakukan dengan sangat dini saat umur batang bawah 15-20 hari dan entres menggunakan planlet dari hasil kultur anther. Perbanyakan dengan cara ini memiliki tingkat keberhasilan yang cukup tinggi sekitar 70%, juga memudahkan dalam transportasi (terutama entres). Bahan tanaman juvenil yang dihasilkan mempunyai daya tumbuh yang lebih cepat, pertumbuhan batang seperti seedling, dan produkstivitas 20% di atas tanaman asalnya
EVALUASI PENGOLAHAN DAN MUTU BAHAN OLAH KARET RAKYAT (BOKAR) DI TINGKAT PETANI KARET DI SUMATERA SELATAN
Salah satu upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah dalam rangka meningkatkan daya saing karet nasional adalah dengan mengeluarkan Peraturan Menteri Pertanian No. 38/Permentan/OT.140/8/2008 dan Peraturan Menteri Perdagangan No. 53/M-DAG/PER/10/2009 yang diimplementasikan dalam bentuk Gerakan Nasional Bokar Bersih (GNBB), dengan tujuan menghasilkan bokar bersih dan bermutu sesuai dengan standar mutu yang berlaku. Penelitian dilakukan untuk mengevaluasi penerapan peraturan-peraturan tersebut terhadap sistem pengolahan dan mutu bokar di tingkat petani. Penelitian dilakukan dengan metode survey dengan memilih sampel secara purposive, yaitu daerah-daerah yang merupakan sentra karet. Pengambilan data dilakukan melalui metode Focus Group Discussion (FGD) dan wawancara dengan petani serta pengamatan visual terhadap mutu bokar yang dihasilkan petani. Hasil survei menunjukkan bahwa penerapan Permentan dan Permendag belum dilaksanakan sepenuhnya di tingkat petani. Permasalahan pengolahan dan pemasaran karet yang menyebabkan rendahnya mutu bokar dan pendapatan petani masih banyak terjadi di beberapa wilayah di Sumatera Selatan yang masih memerlukan perhatian serius. Hal ini terlihat dari jenis pembeku, tingkat kebersihan bokar, dan cara penyimpanan bokar yang sebagian besar tidak memenuhi standar berlaku. Diterima : 16 Oktober 2012; Disetujui : 26 April 2013  How to Cite : Syarifa, L. F., Agustina, D. S., & Nancy, C. (2013). Evaluasi pengolahan dan mutu bahan olah karet rakyat (bokar) di tingkat petani karet di Sumatera Selatan. Jurnal Penelitian Karet, 31(2), 139-148. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/14
BEBERAPA ASPEK PENTING PADA PENYADAPAN PANEL ATAS TANAMAN KARET
Secara konvensional, penyadapan panel atas dilakukan ketika kulit pada panel bawah sudah disadap selama 2 periode (perawan dan pilihan), pada ketinggian 130 cm ke atas hingga ketinggian 260 cm dari kaki gajah. Panel atas tanaman karet memiliki potensi yang besar dalam eksploitasi karet. Masalah utama dalam penyadapan panel atas adalah mutu sadapan yang kurang baik dan kehilangan produksi diperkirakan mencapai 30% sebagai akibat aliran lateks yang keluar dari alur sadap. Aspek teknis penyadapan seperti ketinggian, arah, kemiringan, dan kedalaman sadap perlu diterapkan  untuk mengoptimalkan produksi lateks sekaligus meminimalkan pengaruh negatif terhadap kesehatan tanaman. Sadapan dengan irisan pendek (S/4) ke arah atas dikombinasikan dengan stimulan yang efektif diharapkan dapat mengoptimalkan produksi pada panel atas
SINTESIS DAN APLIKASI FAKTIS COKLAT DARI MINYAK JARAK PAGAR (JATROPHA CURCAS) PADA PEMBUATAN VULKANISAT SELANG GAS LPG
Minyak jarak pagar berpotensi digunakan sebagai bahan baku faktis coklat. Faktis coklat disintesis melalui reaksi vulkanisasi minyak nabati dengan sulfur (10-30%) pada suhu 130-150oC. Terbentuknya gel faktis coklat ditandai dengan terjadinya kenaikan suhu reaksi, timbulnya gas H2S, dan perubahan warna serta fasa pereaksi. Sintesis faktis coklat dilakukan dalam reaktor batch yang dilengkapi dengan pengaduk mekanis, jaket pemanas, dan alat pengendali suhu. Komposisi pereaksi dan kinerja reactor berpengaruh terhadap mutu faktis coklat. Faktis coklat bermutu tinggi akan berfungsi dengan baik sebagai bahan bantu olah kompon karet terutama untuk barang ekstruksi. Penelitian ini bertujuan mempelajari kinerja reaktor dalam pembuatan faktis coklat dari minyak jarak pagar pada skala pilot kemudian mengujicobakan faktis coklat dalam pembuatan selang gas LPG. Penelitian diawali dengan pembuatan faktis coklat dalam reaktor skala pilot berkapasitas 10-15 kg minyak/batch pada berbagai dosis penambahan ZnO. Faktis coklat yang diperoleh selanjutnya dikarakterisasi. Faktis coklat dengan karakteristik terbaik diujicobakan dalam pembuatan kompon dan vulkanisat selang gas LPG. Kompon selang gas LPG diuji karakteristik vulkanisasi sedangkan vulkanisat selang gas LPG diuji sifat fisika berdasarkan SNI 06-7213-2006. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktis coklat dengan spesifikasi mutu terbaik diperoleh pada kondisi reaktor berkapasitas 10 kg minyak jarak pagar/batch dan 0,5 bsm ZnO. Namun faktis coklat tersebut tidak mempengaruhi karakteristik vulkanisasi kompon dan sifat fisika vulkanisat selang karet secara signifikan. Diterima : 12 April 2012; Disetujui : 9 Juli 2012 How to Cite : Puspitasari, S., Jannah, P. U., & Syamsu, Y. (2012). Sintesis dan aplikasi faktis coklat dari minyak jarak pagar (jatropha curcas) pada pembuatan vulkanisat selang gas LPG. Jurnal Penelitian Karet, 30(1), 54-64. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/12
POTENSI KAYU KARET HASIL PEREMAJAAN DI TINGKAT PERUSAHAAN PERKEBUNAN
Kayu karet merupakan salah satu produk dari pohon karet di samping getah karet dan biji karet. Sejalan dengan berkembangnya teknologi pemanfaatan kayu karet dan semakin terbatasnya kayu yang berasal dari hutan alam, maka permintaan kayu karet meningkat setiap tahunnya karena bertambahnya jumlah penduduk dunia. Nilai ekonomi kayu karet yang meningkat dapat digunakan sebagai modal untuk peremajaan kebun karet. Dalam pemanfaatan kayu karet tua sebagai bahan baku industri berbasis kayu ada beberapa hal yang perlu diketahui yaitu distribusi potensi kayu karet menurut pengusahaan perkebunan dan berapa volume kayu karet per hektar yang dapat dihasilkan dari karet tua. Hal ini penting untuk menentukan kontinuitas penyediaan bahan baku industri pengolahan kayu karet
PERTUMBUHAN DAN PRODUKTIVITAS AWAL TANAMAN KARET BERBATANG BAWAH BANYAK
Sejak tahun 2005 penggunaan bahan tanam karet berbatang bawah banyak dengan tujuan mempersingkat masa TBM telah berkembang di tingkat petani. Model pembibitan tersebut terus  berkembang dan bibit diperjualbelikan oleh penangkar antara lain di Kabupaten Muara Enim, Tanjung Jabung Barat, Sarolangun, Madina, Taput, Provinsi Bengkulu, Aceh, Jambi, Sumatera Barat (Damas Raya dan Solok Selatan). Bahan tanam karet berbatang bawah banyak secara logika akan mendorong pertumbuhan batang karet karena mempunyai banyak akar untuk penyerapan air dan hara.  Informasi teknis tentang perkembangan pertumbuhan dan produksi bibit karet berbatang bawah ganda perlu disebarluaskan agar tidak terjadi kekeliruan dikemudian hari.  Teknik perbanyakan tanaman berbatang bawah banyak dan pertumbuhannya selama di polibeg telah dilaporkan secara lengkap oleh Siagian pada tahun 2006 dan pada tahun 2010 dilaporkan pertumbuhan tanaman sampai dengan umur 4 tahun di lapangan. Penelitian lanjutan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengevaluasi pengaruhnya terhadap pertumbuhan, persentase pohon matang sadap pada umur 4,5 tahun dan produksi 3 tahun sadap tanaman karet di lapangan.   Penelitian dilakukan di kebun percobaan Balai Penelitian Sungei Putih yang disusun menggunakan rancangan acak kelompok faktorial. Setiap unit percobaan menggunakan sebanyak 50 tanaman dan ulangan tiga kali. Faktor pertama yang diuji adalah jumlah batang bawah yang disambung/jumlah akar tunggang yaitu dua (S2), tiga (S3), empat (S4) dan kontrol tidak disambung atau hanya satu batang bawah/akar tunggang (S1). Faktor kedua adalah jenis klon yang diokulasikan yaitu klon PB 260 dan klon IRR 118. Dengan demikian terdapat sebanyak 8 kombinasi perlakuan. Penanaman di lapangan menggunakan bahan tanam polibeg dua payung, dilakukan pada akhir bulan Mei tahun 2006. Peubah yang diamati adalah produksi karet kering (gram per pohon per sadap), lilit batang pada umur 4,5 tahun dan 7,5 tahun, persentase tanaman yang memenuhi kriteria matang sadap, tebal kulit, jumlah dan diameter pembuluh lateks, kadar hara N, P,K, Mg dan Ca daun pada umur 7,5 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masa TBM pada tanaman berbatang bawah dua, tiga dan empat hampir setara dengan masa TBM pada tanaman berbatang bawah satu (kontrol), yaitu 4,5 tahun. Penggunaan bahan tanam berbatang bawah banyak (dua, tiga, maupun empat) untuk tujuan mempersingkat masa TBM belum terbukti sebagaimana dianggap sebelumnya. Pengamatan selama 3 tahun sadap menunjukkan bahwa rataan produksi karet kering per pohon per sadap pada tanaman yang berbatang bawah dua, tiga dan empat tidak lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol (berbatang bawah satu). Diterima : 9 September 2013; Direvisi : 15 Oktober 2013; Disetujui : 12 November 2013  How to Cite : Siagian, N., & Siregar, T. H. S. (2012). Pertumbuhan dan produktivitas awal tanaman karet berbatang bawah banyak. Jurnal Penelitian Karet, 32(1), 10-20. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/14
JUVENILITAS SUMBER MATA OKULASI DAN PENGELOLAAN KEBUN ENTRES
Target produktivitas tanaman karet nasional pada tahun 2025 adalah 1200-1500 kg karet kering/ha/tahun. Target tersebut hanya akan tercapai jika 85% dari total areal karet di Indonesia telah menggunakan klon unggul terbaru dengan kualitas bahan tanam (batang atas dan batang bawah yang prima). Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kebun entres untuk memperoleh bahan tanam karet yang prima adalah: 1) kebun entres menggunakan bahan tanam okulasi yang batang bawahnya masih muda dan batang atasnya sesuai klon anjuran; 2) kebun entres dapat dipertahankan maksimal sampai umur 10 tahun, baru kemudian dilakukan peremajaan. Umur kebun entres yang paling ideal adalah ≤ 5 tahun; 3) pemangkasan terhadap kebun entres yang belum dimanfaatkan kayu okulasinya harus selalu dilakukan setiap tahun; 4) cabang entres yang baik digunakan sebagai sumber mata okulasi adalah cabang primer dan sekunder yang diambil dari kebun entres;5) pada okulasi batang bawah berumur 6-12 bulan, jenis mata okulasi yang dianjurkan adalah mata daun (mata prima); 6) pemurnian klon di kebun entres harus tetap dilakukan maksimal setiap 3 tahun dan 7) kebun entres dipelihara sesuai anjuran