Puslit Penelitian Karet E-Journal System Portal
Not a member yet
    531 research outputs found

    Sampul Belakang 32 1 2014

    No full text
    Sampul Belakang 32 1 201

    PENGARUH PROSES PENCAMPURAN DAN CARA APLIKASI PUPUK TERHADAP KEHILANGAN UNSUR N

    Get PDF
    Tanaman karet membutuhkan unsur hara Nitrogen (N), Posfor (P) dan Kalium (K) dalam jumlah yang cukup dan seimbang untuk tumbuh dan menghasilkan produksi dengan baik. Dalam praktek pemupukan, pekebun seringkali belum memperhatikan efektifitas dan efisiensi serapan hara pupuk, terutama pupuk Nitrogen. Unsur hara N yang bersumber dari pupuk urea mudah menguap. Penguapan tersebut akan meningkat jika tidak mempertimbangkan proses percampuran dan aplikasi pupuk di lapang. Untuk mengetahui kehilangan unsur N telah dilakukan penelitian di laboratorium dan kebun percobaan Balai Penelitian Getas. Rancangan percobaan menggunakan rancangan acak kelompok dengan 3 ulangan. Bahan yang digunakan adalah urea berbentuk prill/tanpa coating sebanyak 250 g. Parameter yang diamati yaitu kehilangan unsur N dalam pupuk urea pada beberapa selang waktu pencampuran. Hasil percobaan menunjukkan bahwa kehilangan unsur hara N dan jumlah pupuk urea paling tinggi terdapat pada perlakuan proses percampuran selama 30 menit dengan lama simpan 15 jam dan aplikasi disebar selama 120 menit sebesar 21,5 % dan 54 g. Sedangkan kehilangan unsur hara N dan jumlah pupuk urea paling rendah dengan perlakuan pupuk urea tanpa dicampur dan aplikasi langsung disebar selama 30 menit sebesar 6,1 % dan 15 g. Â

    PELUANG BUDIDAYA ILES-ILES (Amorphophallus spp.) SEBAGAI TANAMAN SELA DI PERKEBUNAN KARET

    Get PDF
    Iles-iles merupakan umbi-umbian yang memiliki potensi ekonomi cukup tinggi. Salah satu negara tujuan ekspor hasil umbi ini adalah Jepang. Jepang membutuhkan tepung atau gaplek iles-iles lebih dari 1.000 ton/tahun. Bagian tanaman iles-iles yang dimanfaatkan adalah umbinya. Salah satu komponen penyusun umbi iles-iles adalah karbohidrat yang terdiri atas pati, glukomanan, serat kasar, dan gula bebas. Glukomanan merupakan serat larut alam (soluble fiber). Umbi iles-iles dimanfaatkan di industri non-pangan. Daerah yang telah membudidayakan tanaman iles-iles dalam skala yang luas adalah Propinsi Jawa Timur di areal konsesi tanaman jati. Kondisi agroklimat tanaman karet yang sudah berumur 4 tahun hampir sama dengan kondisi agroklimat tanaman jati. Oleh karena itu, tanaman iles-iles sesuai untuk ditanam sebagai tanaman sela di lahan perkebunan karet, dan dapat menambah pendapatan petani karet. Mulai umur 4 tahun, areal di bawah tajuk perkebunan karet sudah mulai ternaungi 50%. Hal ini sesuai dengan syarat tumbuh tanaman iles-iles yang mutlak ditanam di bawah naungan minimal 50%. Suhu udara di bawah pohon karet juga optimal untuk tanaman iles-iles (22°C - 30°C). Jika di lahan perkebunan karet dengan populasi 550 pohon per hektar, maka dapat ditanam kurang lebih 5.000 tanaman iles-iles. Umbi yang akan dihasilkan sekitar 10 ton – 15 ton per hektar pada tahun ketiga. Jika umbi dijual segar, petani karet akan memperoleh tambahan penghasilan 25 – 37,5 juta per ha pada tahun ketiga

    PRODUKTIVITAS KLON KARET IRR SERI 100 DAN 200 PADA BERBAGAI AGROKLIMAT DAN SISTEM SADAP

    Get PDF
    Penggunaan klon-klon karet unggul untuk penanaman komersial di perkebunan  secara nyata dapat meningkatkan produktivitas tanaman. Berdasarkan hasil lapangan, produksi aktual selalu tidak mencapai potensi produksi klon. Hal ini disebabkan adanya pengaruh genetik lingkungan, maupun interaksi genetik dan lingkungan. Faktor lingkungan terkait dengan berbagai kondisi agroekosistem penanaman (agroklimat) serta  perlakuan manajemen tanaman. Dalam upaya optimalisasi potensi produksi klon, dilakukan observasi kinerja klon IRR seri-100 dan seri-200 pada berbagai lingkungan agroklimat dan sistem sadap. Hasil evaluasi memperlihatkan adanya respon klon yang berbeda terhadap tiga agroklimat (daerah dengan curah hujan rendah, sedang dan tinggi)  serta dua sistem penyadapan (½S d/2 dan ½S d/3. 2,5%ET). Klon terbaik dari IRR seri-100 adalah IRR 112 yang sesuai dikembangkan  untuk kondisi lingkungan agroklimat kering, sedang, dan basah dengan rata-rata produktivitas dari tiga tahun sadap antara 2.141-2.734 kg/ha/tahun dan IRR 118 sesuai untuk agroklimat kering dengan produktivitas 2.200 kg/ha/tahun. Untuk IRR seri-200, klon IRR 208 sesuai dikembangkan pada daerah agroklimat kering dan sedang, dengan  produktivitas sebesar 2.260 kg/ha/tahun, klon IRR 209 dan IRR 216 sesuai untuk agroklimat basah dengan produktivitas masing-masing 2.496 dan 2.393 kg/ha/tahun, sedangkan IRR 220 beradaptasi baik pada lingkungan agroklimat sedang dan basah dengan produktivitas 2.017-2.340 kg/ha/tahun. Klon IRR 112 dan IRR 118 memperlihatkan respon yang baik dengan penggunaan sistem sadap ½S d/2, dengan rata-rata produktivitas dari sembilan tahun sadap masing-masing adalah sebesar 2.499 dan 2.030 kg/ha/tahun. Klon IRR seri-200 yang memiliki  rata-rata produktivitas terbaik dari tujuh tahun penyadapan  dengan sistem sadap ½S d/2 adalah IRR 208 (2.273 kg/ha/tahun), IRR 212 (2.370 kg/ha/tahun) dan IRR 220 (2.304 kg/ha/tahun), dan dengan penyadapan ½S d/3. ET 2,5% adalah  IRR 202 (2.634 kg/ha/tahun) dan IRR 207 (2.096 kg/ha/tahun)

    STUDI PENDAHULUAN TERHADAP KARAKTERISTIK USAHATANI KARET DI DAERAH LINGKAR TAMBANG (STUDI KASUS DI KABUPATEN BERAU, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR)

    Get PDF
    Sektor pertambangan dan pertanian menjadi tulang punggung perekonomian Kabupaten Berau. Oleh karena itu, pengembangan budidaya karet (Hevea brasiliensis) di sekitar tambang menjadi salah satu pilihan yang tepat guna. Tanaman karet memiliki banyak kegunaan, dan hasil lateks karet laku dijual di pasaran dengan harga yang cukup baik. Dalam pengembangan karet rakyat, diawali dengan kegiatan karakterisasi wilayah. Artikel ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang karakteristik usahatani karet dan petaninya di daerah lingkar tambang Kabupaten Berau yang akan digunakan sebagai data dasar untuk menyusun program pengembangan selanjutnya. Data yang digunakan berupa data primer dari hasil wawancara dengan menggunakan kuesioner terhadap petani karet di sekitar lahan tambang dan data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat daerah lingkar tambang telah mulai mengembangkan tanaman karet. Kecamatan Teluk Bayur memiliki areal kebun karet terluas. Petani karet di daerah lingkar tambang Kabupaten Berau yang menanam seedling sejumlah 39,29%, dan OMT sejumlah 60,71%. Rata-rata pemilikan lahan per petani kurang dari 5 ha dan rata-rata umur tanaman 2-3 tahun. Adapun tingkat pengetahuan dan adopsi budidaya karet dalam hal bibit okulasi, jenis klon, dan cara okulasi masih relatif rendah, sehingga termasuk dalam kriteria daerah “belum majuâ€. Oleh karena itu, prioritas program pengembangan diarahkan pada peningkatan pengetahuan dan motivasi petani untuk menggunakan teknologi anjuran. Model pengembangan kebun karet dapat diarahkan pada Model Pengembangan Karet Partisipatif, dan program dasar pengembangan karet di daerah sekitar tambang dapat dilakukan dengan: program peningkatan pengetahuan dan motivasi petani, program pengembangan kelembagaan dan kerjasama kemitraan, dan program penyediaan sarana pembangunan terbatas.Kata kunci:    Hevea brasiliensis, partisipasi petani, karakteristik petani, daerah lingkar tambangSektor pertambangan dan pertanian menjadi tulang punggung perekonomian Kabupaten Berau. Oleh karena itu, pengembangan budidaya karet (Hevea brasiliensis) di sekitar tambang menjadi salah satu pilihan yang tepat guna. Tanaman karet memiliki banyak kegunaan, dan hasil lateks karet laku dijual di pasaran dengan harga yang cukup baik. Dalam pengembangan karet rakyat, diawali dengan kegiatan karakterisasi wilayah. Artikel ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang karakteristik usahatani karet dan petaninya di daerah lingkar tambang Kabupaten Berau yang akan digunakan sebagai data dasar untuk menyusun program pengembangan selanjutnya. Data yang digunakan berupa data primer dari hasil wawancara dengan menggunakan kuesioner terhadap petani karet di sekitar lahan tambang dan data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat daerah lingkar tambang telah mulai mengembangkan tanaman karet. Kecamatan Teluk Bayur memiliki areal kebun karet terluas. Petani karet di daerah lingkar tambang Kabupaten Berau yang menanam seedling sejumlah 39,29%, dan OMT sejumlah 60,71%. Rata-rata pemilikan lahan per petani kurang dari 5 ha dan rata-rata umur tanaman 2-3 tahun. Adapun tingkat pengetahuan dan adopsi budidaya karet dalam hal bibit okulasi, jenis klon, dan cara okulasi masih relatif rendah, sehingga termasuk dalam kriteria daerah “belum majuâ€. Oleh karena itu, prioritas program pengembangan diarahkan pada peningkatan pengetahuan dan motivasi petani untuk menggunakan teknologi anjuran. Model pengembangan kebun karet dapat diarahkan pada Model Pengembangan Karet Partisipatif, dan program dasar pengembangan karet di daerah sekitar tambang dapat dilakukan dengan: program peningkatan pengetahuan dan motivasi petani, program pengembangan kelembagaan dan kerjasama kemitraan, dan program penyediaan sarana pembangunan terbatas

    PERKEMBANGAN INDUSTRI NANO FILLER UNTUK INDUSTRI KARET DI INDONESIA

    Get PDF
    Aplikasi teknologi nano pada industri karet dilakukan seiring dicanangkannya konsep “Ban Ramah Lingkungan (Green Tires)†pada tahun 1990an. Penggunaan teknologi nano pada industri karet dilakukan pada pembuatan bahan pengisi nano carbon black (jenis N110, N220, N330) dan silika. Namun, proses pembuatan carbon black menimbulkan emisi CO2, sehingga perlu dikembangkan material baru pensubsitusi carbon black seperti bahan pengisi nano dari lempung (clay), silika (fumed and precipitated silica), pati (starch), selulosa, dan CaCO3. Pengembangan material baru tersebut telah banyak dilakukan dan dikomersialkan. Indonesia memiliki potensi bahan baku yang besar dan peluang pasar yang semakin berkembang sehingga industri nano filler berbahan dasar ramah lingkungan berpotensi untuk dikembangkan

    STUDI KELAYAKAN INVESTASI PEMBANGUNAN PERKEBUNAN KARET DI SUMATERA SELATAN

    Get PDF
    Dengan harga karet seperti saat ini, banyak pelaku agribisnis yang tertarik untuk mengembangkan perkebunan karet. Peluang ini dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan perkebunan baik milik negara (BUMN) maupun swasta dengan mencari lahan untuk membangun atau memperluas perkebunan karet. Studi kelayakan sosial ekonomi merupakan salah satu studi yang perlu dilakukan sebelum proyek pembangunan perkebunan karet dilaksanakan oleh suatu perusahaan. Artikel ini ditujukan untuk menganalisis kelayakan investasi pembangunan perkebunan karet. Penelitian menggunakan metode studi kasus di Sumatera Selatan dengan mengumpulkan data primer dari Kebun Percobaan Balai Penelitian Sembawa dan data sekunder dengan beberapa asumsi. Analisis kelayakan menggunakan indikator NPV, IRR, B/C ratio, dan Payback Period. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara finansial investasi pembangunan kebun karet di Sumatera Selatan dengan luas 3000 ha dengan kesesuaian lahan S3 dan harga US 2,55perkgsertatingkatdiskonto11 2,55 per kg serta tingkat diskonto 11% layak untuk dilaksanakan dengan nilai Net Present Value (NPV) Rp 209,4 milyar;  IRR 16%;  B/C ratio 1,43; dan Payback Period 11 tahun 10 bulan. Demikian juga pada kondisi yang kurang menguntungkan dimana harga karet alam turun hingga  US 2,4 per kg dan kenaikan biaya produksi sebesar 5% dari kondisi normal yang direncanakan, proyek ini masih layak dilaksanakan. Diterima : 3 Desember 2013; Direvisi : 17 Februari 2014; Disetujui : 23 Mei 2014  How to Cite : Syarifa, L. F. (2014). Studi kelayakan investasi pembangunan perkebunan karet di Sumatera Selatan. Jurnal Penelitian Karet, 32(2), 148-156. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/16

    SINTESIS BAHAN OLAH KOMPON KARET SECARA REAKSI VULKANISASI DARI PERPADUAN MINYAK NABATI SEMI PENGERING DAN PENGERING

    Get PDF
    Faktis cokelat merupakan salah satu bahan kimia karet terpenting yang berfungsi sebagai bahan bantu olah kompon karet. Mutu faktis cokelat dipengaruhi oleh pemilihan jenis minyak nabati sebagai bahan baku utama, konsentrasi sulfur, dan suhu reaksi. Reaksi vulkanisasi antara minyak nabati dengan sulfur pada pembentukan faktis cokelat umumnya dilakukan pada suhu 140-190oC. Minyak nabati harus memiliki bilangan iod yang tinggi minimal 80-110 g iod/100 g minyak. Pada penelitian ini dipelajari peluang pembuatan faktis cokelat dari kombinasi minyak jarak kastor dengan minyak nabati lain golongan semi pengering (sawit, jarak pagar) dan pengering (kedelai, jagung, kanola) pada rasio minyak sebesar 80 : 20 dengan penambahan 24 bsm sulfur dan 150oC. Hasil percobaan menunjukkan bahwa faktis cokelat dapat disintesis dari kombinasi antar minyak nabati tersebut pada kondisi reaksi vulkanisasi yang telah ditetapkan. Berdasarkan hasil karakterisasi diperoleh faktis cokelat dengan tingkatan mutu setara dengan faktis cokelat komersial kelas 3. Kombinasi minyak nabati yang menghasilkan faktis cokelat terbaik diperoleh dari campuran antara minyak jarak kastor dengan minyak sawit. Diterima : 14 April 2014; Direvisi : 20 Mei 2014; Disetujui : 12 Juli 2014 How to Cite : Puspitasari, S., Cifriadi, A., Nurgilis, E. L., & Arif, Z. (2014). Sintesis bahan olah kompon karet secara reaksi vulkanisasi dari perpaduan minyak nabati semi pengering dan pengering. Jurnal Penelitian Karet, 32(2), 189-197. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/16

    Sampul Depan 32 2 2014

    No full text
    Sampul Depan 32 2 201

    PERKEMBANGAN DAN UPAYA PENGENDALIAN KERING ALUR SADAP (KAS) PADA TANAMAN KARET (Hevea brasiliensis)

    Get PDF
    Salah satu penyebab menurunnya produksi karet (Hevea brasiliensis) adalah gangguan Kering Alur Sadap (KAS). Hampir semua negara penghasil karet mengalami gangguan KAS. KAS telah ditemukan di perkebunan karet sejak tahun 1920. Penyebab kejadian ini adalah over exploitation yang memicu peningkatan senyawa radikal yang menyebabkan koagulasi lateks di dalam pembuluh lateks dan pembentukan sel tilasoid. Luka kayu juga menjadi penyebab terjadinya KAS pada panel bawah. KAS dapat ditemukan baik di kulit perawan (BO-1 dan BO-2) maupun kulit pulihan (BI-1 dan BI-2) bahkan di panel HO. Potensi terjadinya KAS meningkat seiring pertambahan umur tanaman. Intensitas KAS diklasifikasikan tinggi bila mencapai 7,3 % untuk klon slow starter, dan 9,2 % untuk klon quick starter dengan potensi kehilangan produksi berturut-turut mencapai 114,74 kg/ha/t dan 183,05 kg/ha/th. Tanaman terserang KAS memiliki kandungan unsur hara makro dan mikro yang lebih rendah baik di dalam lateks maupun kulit dibandingkan dengan tanaman sehat. Pengendalian preventif dapat dilakukan dengan kultur teknis seperti pemeliharaan optimal, penerapan sistem eksploitasi sesuai tipologi klon, dan monitoring gejala awal KAS secara rutin melalui diagnosa lateks. Pengendalian secara kuratif dapat dilakukan dengan teknik bark scraping, aplikasi formula NoBB, atau antico F-96

    365

    full texts

    531

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Puslit Penelitian Karet E-Journal System Portal
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇