Puslit Penelitian Karet E-Journal System Portal
Not a member yet
531 research outputs found
Sort by
PERKEMBANGAN PENELITIAN INDUKSI KALUS EMBRIOGENIK PADA JARINGAN VEGETATIF TANAMAN KARET KLONAL (Hevea brasiliensis Muell. Arg)
Perbanyakan tanaman karet (Hevea brasiliensis Muell Arg) saat ini masih menggunakan cara konvensional yaitu okulasi. Kelemahan teknik ini antara lain membutuhkan waktu yang lama, kebutuhan lahan yang luas, musim biji yang terbatas di samping juga diperlukan tenaga kerja yang cukup banyak. Permasalahan tersebut mengharuskan penelitian diarahkan pada perbanyakan bibit dengan tehnik yang lebih efisien dalam skala massal. Teknik kultur jaringan melalui embriogenesis somatik (EGS) membuka peluang tersebut. Induksi kalus embriogenik merupakan langkah awal untuk keberhasilan teknik EGS secara tidak langsung. Tulisan ini merangkum hasil penelitian induksi kalus embriogenik pada jaringan vegetatif tanaman karet klonal yang dimulai pada tahun 2008 hingga 2012. Hasil pengujian terhadap 6 klon karet (PB 260, PB 330, IRR 111, IRR 39, GT 1 dan IRR 112) menunjukkan bahwa klon IRR 112 dan PB 330 merespon pembentukan kalus embriogenik, dan membentuk fase embrio dari globular (IRR 112) hingga jantung dan torpedo (PB 330). Hasil pengujian jaringan vegetatif yang digunakan sebagai eksplan (helai daun, tangkai, ketiak tangkai, mata tunas) menunjukkan bahwa jaringan tangkai dan ketiak tangkai merespon terbentuknya kalus embriogenik. Kombinasi media dasar MS+2,4 D 5 ppm memberikan respon induksi kalus friabel terbaik dan MS+NAA 0,1 ppm+BAP 2 ppm memberikan respon kalus embriogenik terbaik, namun frekuensinya masih rendah. Tingkat browning masih tinggi yang menjadi faktor pembatas perkembangan kalus. Kalus yang bersifat embriogenik diharapkan berpotensi untuk diinduksi menjadi planlet melalui teknik embriogenesis somatik
KARAKTERISTIK MINYAK JARAK PAGAR (Jatropha curcas L) EPOKSI MURNI SEBAGAI PELUNAK VULKANISAT KARET NBR
Penggunaan bahan pelunak kelompok ftalat pada karet NBR seperti dioktil ftalat (DOP), diisononil ftalat (DINP) dan diisodecil ftalat (DIDP) mulai dibatasi, karena merusak lingkungan dan kesehatan. Salah satu bahan pelunak alternatif yang digunakan adalah minyak jarak pagar epoksi. Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemurnian minyak jarak pagar epoksi terhadap karakteristik vulkanisat karet NBR. Penggunaan minyak jarak pagar epoksi murni akan dibandingkan dengan minyak jarak pagar epoksi sebelum pemurnian dan DOP pada pembuatan kompon karet NBR. Karakteristik minyak jarak pagar epoksi murni dianalisa secara kuantitatif (nilai oksiran dan % terepoksidasi) dan kualitatif (FTIR). Karakterisasi vulkanisat karet NBR ditunjukkan melalui hasil pengujian sifat fisiknya. Hasil uji sifat fisika vulkanisat karet NBR menunjukkan bahwa minyak jarak pagar epoksi murni dapat menggantikan DOP sebagai pelunak karet NBR.     Diterima : 9 Mei 2014; Direvisi : 11 Juni 2014; Disetujui : 19 Juli 2014  How to Cite : Kinasih, N. A., & Cifriadi, A. (2014). Karakteristik minyak jarak pagar (Jatropha curcas L) epoksi murni sebagai pelunak vulkanisat karet NBR. Jurnal Penelitian Karet, 32(2), 198-205. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/16
PENGERINGAN KARET REMAH BERBASIS SUMBER ENERGI BIOMASSA
Produksi karet alam Indonesia terbesar berupa karet remah yang mencapai 93,4%. Pengeringan merupakan kritikal proses yang menentukan mutu akhir produk dan salah satu tahapan yang memerlukan energi cukup besar. Energi yang digunakan dalam industri umumnya bersumber dari energi fosil. Sayangnya ketersediaan sumber energi dari fosil semakin lama cenderung menurun. Oleh karena itu perlu sumber energi alternatif yaitu biomassa dari limbah industri pengolahan produk pertanian. Salah satu contohnya adalah industri pengolahan kelapa sawit. Biomassa dari industri ini berupa tandan kosong sawit (TKS) sebesar 4,8 juta ton, cangkang 1,5 juta ton dan sekitar 1,8 juta ton berupa serabut. Dalam pengeringan karet remah, biomassa dikonversi menjadi sumber energi panas dengan teknik gasifikasi dalam sistem unit pengering. Panas dari hasil pembakaran dipindahkan ke media pengering berupa udara panas. Keuntungan meng-gunakan biomassa sebagai sumber energi adalah dapat mengurangi biaya produksi, lebih ramah lingkungan, dan tersedia dalam jumlah yang banyak sehingga lebih terjamin dalam keberlangsungannya. Biaya penggunaan biomassa sebagai bahan bakar pengeringan karet remah sekitar Rp78 per kg karet kering
PERAN SELULER ETILEN EKSOGENUS TERHADAP PENINGKATAN PRODUKSI LATEKS PADA TANAMAN KARET (Hevea brasiliensis L)
Perlakuan etilen dalam rangka meningkatkan produktifitas tanaman karet telah dilakukan secara luas di perkebunan karet sejak dekade 1970-an. Dari beberapa hasil penelitian telah terungkap bahwa etilen di dalam jaringan kulit Hevea mengatur dua jalur utama peningkatan produksi lateks yaitu: a) peningkatan sintesis karet, dan b) memperpanjang lama aliran lateks. Pada tahap awal etilen menginduksi perubahan pH di dalam sitosol menjadi lebih alkali. Perubahan pH ini memicu aktivitas beberapa enzim yang berperan di dalam jalur mevalonat, dan meningkatkan ketersediaan senyawa-senyawa adenilat dan sukrosa di dalam lateks, sebagai faktor penting di dalam biosintesis karet. Etilen eksogen menginduksi ekspresi gen aquaporin di dalam jaringan kulit sehingga suplai air di sekitar bidang penyadapan meningkat, dan etilen juga dapat mempertahankan stabilitas lateks selama aliran lateks. Faktor ketersediaan air dalam jaringan dan stabilitas lateks yang tinggi berpengaruh positif terhadap lama aliran lateks tanaman karet
BIOFUNGISIDA TRIKO COMBI SEBAGAI SALAH SATU PENGENDALI JAMUR AKAR PUTIH PADA TANAMAN KARET
Penyakit jamur akar putih yang disebabkan oleh jamur Rigidoporus microporus merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman karet di Indonesia, baik di perkebunan besar maupun rakyat. Kerugian secara finansial akibat penyakit ini sangat tinggi terutama di perkebunan karet rakyat. Pengendalian yang disarankan untuk penyakit ini adalah dengan pengendalian terpadu yaitu integrasi beberapa teknik pengendalian seperti pembongkaran tunggul, tanaman penutup tanah kacangan, seleksi bahan tanam, tanaman antagonis, biofungisida serta fungisida kimia yang diaplikasikan secara bijak. Hasil pengendalian pada umumnya masih belum memuaskan karena beberapa kendala teknis maupun non-teknis. Salah satu kendala yang cukup mengganggu yaitu mahalnya biaya, terutama bagi pekebun karet rakyat. Sebagai salah satu unsur dalam pengendalian terpadu, pengendalian secara biologi merupakan metode yang berpotensi besar. Pengendalian biologi menggunakan Trichoderma sp. sudah digunakan secara luas dan terbukti efektivitasnya. Cara tersebut tidak hanya efektif sebagai upaya preventif, tetapi juga murah, mudah diaplikasikan, dan ramah terhadap lingkungan. Triko Combi merupakan biofungisida semi-komersial yang diformulasi Balai Penelitian Getas dan memiliki empat jenis bahan aktif, yaitu Trichoderma viride, Trichoderma koningii, Trichoderma harzianum dan satu strain lokal Trichoderma sp. Pada percobaan dengan infeksi buatan Rigidoporus microporus di pembibitan polibeg menunjukkan adanya penekanan intensitas penyakit oleh perlakuan kombinasi empat jenis Trichoderma spp. tersebut dibandingkan bibit tanpa perlakuan, maupun bibit dengan aplikasi fungisida kimia. Hasil yang signifikan juga diperoleh melalui pengujian penghambatan langsung miselium Rigidoporus microporus secara in-vitro di laboratorium
PERKEMBANGAN RISET DAN PENGGUNAAN MINYAK NABATI TEREPOKSIDASI SEBAGAI BAHAN PEMLASTIS KARET DAN PLASTIK
Penggunaan bahan pemlastis dalam pembuatan barang jadi karet dan plastik digunakan untuk meningkatkan fleksibilitas polimer dan pendispersian bahan pengisi di dalam matrik. Terdapat beberapa jenis bahan pemlastis yang digunakan dalam pembuatan produk karet dan plastik antara lain adalah: bahan pemlastis golongan parafinik, aromatik, naftenik, ftalat, dll. Pemlastis golongan ftalat yang banyak digunakan pada karet NBR dan plastik PVC saat ini mulai dibatasi karena dapat mengakibatkan efek karsiogenik dan mencemari lingkungan, sehingga penelitian tentang bahan pemlastis untuk substitusi bahan pemlastis golongan ftalat telah banyak dilakukan. Minyak nabati terepoksidasi merupakan salah satu bahan yang berpeluang untuk mensubtitusi bahan pemlastis golongan ftalat. Sintesis minyak nabati terepoksidasi dilakukan melalui reaksi epoksidasi minyak nabati yang salah satu sintesisnya menggunakan asam perkarboksilat. Dalam reaksi ini, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi hasil diantaranya: jumlah dan jenis katalis, jumlah dan jenis pereaksi, jenis minyak nabati, waktu, suhu, dan kecepatan pengadukan selama berlangsungnya reaksi. Nilai bilangan iod dan oksiran merupakan pengujian yang digunakan untuk mengamati derajat konversi pembentukan minyak nabati terepoksidasi. Tulisan ini memaparkan reaksi pembentukan minyak nabati terepoksidasi, aplikasi penggunaannya, dan peluang pengembangan industri minyak nabati terepoksidasi
URGENSI SENSUS LILIT BATANG SEJAK TBM 1 SEBAGAI STRATEGI MENINGKATKAN KERAGAAN DAN KESERAGAMAN TANAMAN KARET
Kecepatan tanaman karet memasuki matang sadap sangat dipengaruhi oleh tingkat pertumbuhan pada saat fase tanaman belum menghasilkan (TBM). Pengukuran lilit batang merupakan parameter yang sering digunakan dalam mengevaluasi pertumbuhan TBM. Pada umumnya pengukuran lilit batang pada saat TBM 1 sampai dengan TBM 3 dilakukan secara sampling, sedangkan pada TBM 4 dan 5 dilakukan secara sensus. Pengukuran lilit batang secara sampling seringkali kurang mencerminkan keadaan tanaman sebenarnya. Hal tersebut disebabkan ada subjektivitas dalam pengambilan sampel. Dampak yang sering terjadi adalah hasil evaluasi TBM 1 – 3 dinilai memiliki lilit batang standar dan keragaan tanaman digolongkan baik bahkan superior. Setelah dilakukan sensus lilit batang pada TBM 4 dan 5, keragaan tanaman hasil penilaian kadang berbalik menjadi kurang baik dan persentase tanaman dengan lilit batang di bawah standar lebih banyak. Metode sensus sejak akhir TBM 1 dimaksudkan untuk mengidentifikasi setiap individu tanaman dan mengetahui kondisi tanaman secara lebih valid. Tanaman yang memiliki laju pertumbuhan kurang baik dapat segera diketahui dan dapat ditindaklanjuti melalui tindakan agronomis secara khusus dan selektif. Melalui tindakan tersebut, keragaan pada tanaman yang awalnya terhambat diharapkan menjadi lebih baik, sehingga persentase tanaman siap sadap semakin ditingkatkan dan waktu buka sadap tidak tertunda
PENGGUNAAN LINDI HITAM SEBAGAI BAHAN PELUNAK DALAM KOMPON KARET ALAM
Sifat fisika vulkanisat dan karakteristik kematangan kompon karet alam yang mengandung lindi hitam dan analisis spektrometri FTIR dari lindi hitam telah dikaji untuk mengevaluasi penggunaan lindi hitam sebagai bahan pelunak. Bahan pelunak jenis aromatik digunakan sebagai bahan pelunak kontrol. Bahan pelunak dari lindi hitam dibuat dengan perlakuan berdasarkan jenis bahan pembasa yang ditambahkan pada lindi hitam serta jumlah kadar padatannya. Hasil pengujian spektrometri FTIR dapat menyimpulkan gugus fungsi yang terikat pada struktur molekul lindi hitam dan hasil interpretasi spektra FTIR menunjukkan bahwa lindi hitam mengandung senyawa cincin aromatik pada struktur molekulnya dan mengandung gugus fungsi –OH, -C-O, serta –C=O. Berdasarkan hasil pengujian karakteristik kematangan kompon menunjukkan bahwa kompon karet yang mengandung bahan pelunak lindi hitam tanpa perlakuan ataupun dengan perlakukan penambahan bahan pembasa NH4OH dan NaOH memiliki waktu masak optimum (t90) dan waktu scorch (t2) yang lebih cepat dari pada kompon karet yang mengandung bahan pelunak kontrol (Minarex).  Hasil pengujian sifat fisika vulkanisat menunjukkan bahwa vulkanisat yang mengandung lindi hitam tanpa perlakuan penambahan bahan pembasa dengan kadar padatan sebesar 60% memiliki kinerja yang setara dengan vulkanisat yang mengandung bahan pelunak kontrol.   Diterima : 15 Februari 2013; Disetujui : 25 Mei 2013 How to Cite : Cifriadi, A. (2013). Penggunaan lindi hitam sebagai bahan pelunak dalam kompon karet alam. Jurnal Penelitian Karet, 31(1), 20-29. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/13
PENILAIAN BEBERAPA SISTEM EVALUASI LAHAN YANG TELAH EKSISTING UNTUK TANAMAN KARET
Keberhasilan pengembangan agribisnis karet ditentukan oleh persyaratan teknis yaitu kesesuaian lahan yang sangat dibutuhkan sebelum pengambilan keputusan. Beberapa sistem evaluasi lahan telah dikembangkan Pusat Penelitian Karet diantaranya oleh Pangudijatno tahun 1983 (GP), Sugiyanto tahun 1987 (SG), Sugiyanto et al. tahun 1998 (SE) dan Thomas tahun 2008 (TW). Penelitian ini membandingkan beberapa sistem evaluasi lahan berdasarkan data sekunder dari Pusat Penelitian Karet pada delapan lokasi di seluruh Indonesia. System yang dibandingkan terdiri dari lima system empat diantaranya yang dikembangan oleh Pusat Penelitian Karet dan satu dari Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat yang dikembangkan pada tahun 1997 (PT). Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa PT vs. GP dan PT vs. TW menunjukkan korelasi sedang dengan nilai koefisien 0.27 dan 0.44. Korelasi yang kuat terjadi pada PT vs. SG, PT vs. SE, GP vs. SE, GP vs. TW and SE vs. SG dengan koefisien korelasi berturut-turut 0.54, 0.63,0.63, 0.72 dan 0.73. Uji korelasi antara SG vs. GP, TW vs. SG dan TW vs. SE menunjukkan korelasi yang sangat kuat dengan nilai koefisien 0.76, 0.77 dan 0.82. Dari seluruh uji korelasi antar beberapa sistem tersebut hanya uji korelasi GP vs SG, SG vs TW dan SE vs TW yang menunjukkan hasil yang signifikan (P < 5%). Diterima : 29 April 2013; Disetujui : 5 September 2013  How to Cite : Nugroho, P., & Istianto. (2013). Penilaian beberapa sistem evaluasi lahan yang telah eksisting untuk tanaman karet. Jurnal Penelitian Karet, 31(2), 88-101. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/13