Puslit Penelitian Karet E-Journal System Portal
Not a member yet
    531 research outputs found

    PROSPEK PEMANFAATAN METABOLIT SEKUNDER TUMBUHAN SEBAGAI PESTISIDA NABATI UNTUK PENGENDALIAN PATOGEN PADA TANAMAN KARET

    Get PDF
    Penyakit tanaman akan terus menjadi faktor pembatas tercapainya produksi pertanian yang optimal. Hal ini menuntut para fitopatologis terus melakukan riset untuk mencari berbagai taktik pengen-daliannya. Pestisida sintetis sebaiknya tidak menjadi pengendali utama karena banyaknya efek negatif. Pemanfaatan pestisida nabati menjadi alternatif dalam pengendalian penyakit. Pestisida nabati memiliki keunggulan diantaranya ramah lingkungan, mudah terdegradasi, sumber daya lokal melimpah,murah, serta sejalan dengan konsep pertanian berkelanjutan. Artikel ini memberikan informasi mengenai jenis metabolit sekunder tanaman dan jalur pembentukannya, serta prospek pemanfaatan metabolit tersebut sebagai pestisida nabati untuk mengendalikan penyakit pada tanaman karet. Besarnya keanekaragaman hayati tumbuhan menghasilkan aneka jenis metabolit sekunder yang berpotensi sebagai pestisida nabati. Total ratusan ribu jenis tumbuhan yang sudah dikenal memiliki efek medisinal, banyak yang diteliti dan dimanfaatkan sebagai pestisida nabati. Produk pestisida nabati untuk tanaman hortikultura mulai banyak dikomersialkan. Pada tanaman karet, pemanfaatan pestisida nabati masih pada tahap penelitian,dan belum sampai tahap formulasi produk komersial. Oleh karena itu diperlukan langkah strategis dan arah yang jelas terkait penelitian pestisida nabati pada tanaman karet  diantaranya berupa eksplorasi dan pendataan pestisida nabati potensial, isolasi dan pemurnian bahan aktif pestisida nabati serta studi mekanisme kerja pestisida nabati

    OPTIMALISASI PRODUKSI DAN PENEKANAN BIAYA PENYADAPAN DENGAN SISTEM SADAP INTENSITAS RENDAH

    Get PDF
    Abstrak Pengusahaan perkebunan karet dewasa ini masih mengalami tekanan berat dan berkepanjangan, terutama akibat harganya yang rendah (±1 USD/kg). Solusi utama yang diharapkan yakni melalui aspek pasca panen (hilirisasi), namun dari aspek prapanen juga dituntut untuk memberikan solusi segera. Oleh karena itu perlu adanya suatu kajian yang komprehensif dan obyektif melalui analisis teknis dan ekonomis. Pemecahan masalah melalui pendekatan dua arah sekaligus (optimalisasi produksi dan penekanan biaya sadap), ternyata tidak mudah dilakukan. Kemungkinan rasional yang ditempuh adalah melalui orientasi produksi tinggi dengan komponen biaya normal, atau melalui pencapaian produksi normal dengan biaya rendah. Kajian berorientasi produksi tinggi dilakukan melalui penerapan penyadapan klon-klon QS (untuk wilayah Utara katulistiwa) dengan sistem sadap QS rekom, QS d4 dan Q-tap. Kajian berorientasi biaya rendah dilakukan melalui penerapan penyadapan klon-klon SS (untuk wilayah Selatan katulistiwa) dengan sistem sadap SS rekom, SS d4, SS ab (ancak besar) dan SS d6. Dari hasil pembandingan finansial, diperoleh informasi bahwa potensi keuntungan ketika harga Rp 13.600,- (85% FOB) pada tingkat biaya penyadapan langsung diperoleh pada semua sistem sadap. Potensi keuntungan pada biaya produksi tingkat kebun diperoleh pada semua sistem sadap, kecuali SS d6. Pada tingkat bahan baku (100% FOB), keuntungan tertinggi hingga terendah secara berurutan diperoleh pada sistem sadap Q-tap, QS rekom dan QS d4 (Rp 8.938.065–Rp 405.677), sedangkan pada klon SS mengalami kerugian. Dengan demikian, pengusahaan perkebunan karet (terutama saat kondisi harga rendah) pada wilayah dengan potensi klon QS sesuai menggunakan sistem sadap Q-tap, sebaliknya pada wilayah dengan potensi klon SS masih memungkinkan menggunakan SS d4. Sistem sadap SS ab meskipun memberi nilai yang lebih tinggi, kurang disarankan karena kurang sustainable. Agar pengusahaan tanaman karet menjadi lebih baik dan sustainable, perlu dikawal dengan penerapan LD secara langsung. Kata kunci :  Karet (Hevea brasiliensis), produksi optimal, penekanan biaya penyadapan, penyadapan intensitas rendah Abstract Bussiness of rubber plantation now is still has high pressure and continuing, mainly due to the low price (±1 USD/kg). The main solution that was expected was through the post-harvest aspects, but from the pre-harvest aspects are also required to provide solutions immidiately. Therefore needed a comprehensive and objective study through technical and economical analysis. Solving the problem through approach two directions at once (optimizing the yield and suppression of tapping cost), it was not easy to do. Rational possibility that taken is through high production with normal cost component or through achievement of normal production with low cost. High production-oriented study carried out through application of QS clones tapping (for the north of the equator area) with the tapping system are QS recom, QS d4 and Q-tap. Low cost oriented study carried out through application of SS clones tapping (for the southern of the equator area) with the tapping system are SS recom, SS d4, SS lt (large task) dan SS d6. Financial comparating result obtained the information that potential profits when the price is IDR 13.600,- (85% FOB) at level of direct costs of tapping obtained in all tapping systems. Potential profits at level of ex-factory cost obtained in all tapping systems, except SS d6. At the level of TSR material (100% FOB), the profits from the highest to the lowest respectively obtained in Q-tap, QS recom and QS d4 tapping system (IDR 9 million – IDR 400 tousand), while the SS clones having losses. Thus, cultivation of rubber plantations (especially when the conditions of low prices) in regions with the potential of QS clones appropriate to use Q-tap, otherwise in regions with the potensial of SS clones still allows using SS d4. Tapping system of SS lt although giving a higher value, less recommended due to lack sustainable.  Bussiness of rubber plantation in order to much better and sustainable, in future need to manage with the application of LD directly. Keywords: Rubber (Hevea brassiliensis), optimal production, suppression of cost, low tapping intensit

    UJI ADAPTASI BEBERAPA KLON KARET PADA ELEVASI TINGGI

    Get PDF
    Lahan yang ideal untuk pertumbuhan tanaman karet semakin terbatas sehingga banyak petani dan perusahaan mencari lahan pengembangan karet di daerah non tradisional seperti lahan pada > 500 m di atas permukaan laut (mdpl). Penelitian dilakukan di Kabupaten Muara Enim pada elevasi 760 mdpl. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan informasi pertumbuhan dan produksi beberapa klon karet pada elevasi tinggi. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan klon sebagai perlakuan dan diulang sebanyak empat kali. Klon yang diuji adalah PB 260, RRIC 100, BPM 24, GT 1 dan IRR 39. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman karet pada elevasi tinggi dengan perawatan sesuai anjuran akan mampu matang sadap pada umur lima tahun. Pertumbuhan klon karet paling cepat pada elevasi tinggi 760 m dpl secara berurutan adalah IRR 39, RRIC 100, PB 260, BPM 24 dan GT 1, sedangkan produksi paling tinggi adalah PB 260, RRIC 100, BPM 24, GT 1 dan IRR 39

    DAMPAK POLA PEREMAJAAN PARTISIPATIF TERHADAP PERKEMBANGAN PERKEBUNAN KARET RAKYAT DI KABUPATEN OGAN KOMERING ULU PROVINSI SUMATERA SELATAN

    Get PDF
    Penerapan pola peremajaan karet partisipatif di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) telah berjalan lebih kurang 10 tahun. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui keberhasilan penerapan model peremajaan karet partisipatif, serta dampaknya terhadap perkembangan perkebunan karet rakyat di Kabupaten OKU. Penelitian dilakukan dengan metode survei di desa-desa yang menerapkan pola peremajaan karet partisipatif. Pemilihan responden dilakukan secara acak yaitu memilih sepuluh petani peserta program dan lima  petani non peserta program yang berada disekitar proyek di setiap desa. Selanjutnya analisis data dilakukan secara diskriptif. Dari hasil pengamatan disimpulkan bahwa proyek peremajaan partisipatif di Kabupaten OKU telah memberikan dampak positif terhadap petani peserta proyek dan lingkungan sekitarnya. Hal ini tampak dari adanya perluasan areal penanaman karet di desa, bertambahnya areal karet klonal yang dimiliki petani, meningkatnya pengetahuan dan adopsi petani peserta dan non peserta terhadap teknologi perkaretan, dan meningkatnya pengetahuan petani dalam akses perbankan. Namun demikian, petani masih memerlukan pelatihan yang lebih intensif dalam hal penyadapan dan pengendalian penyakit karet. Untuk keberlanjutan program peremajaan, pemerintah daerah setempat telah banyak memfasilitasi kebijakan program pengembangan karet melalui pembiayaan program bantuan bibit untuk kebun usaha tani dan pembibitan, serta pelatihan bagi para petugas teknis dan petani karet

    KAJIAN EKONOMI PENUNDAAN BUKA SADAP SEBAGAI SOLUSI UNTUK MENGHADAPI HARGA KARET RENDAH

    Get PDF
    Abstrak Agribisnis karet saat ini sedang mengalami kondisi yang kurang menguntungkan. Hal ini disebabkan oleh menurunnya harga karet beberapa tahun terakhir serta meningkatnya biaya produksi terutama biaya penyadapan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan dan dapat menjadi suatu pemikiran adalah dengan melakukan penundaan buka sadap tanaman karet. Tulisan ini mengkaji penundaan buka sadap tanaman karet dengan dua pendekatan yaitu: penundaan buka sadap tanaman karet dengan merubah kriteria matang sadap pohon dari 45 cm menjadi 50 cm; dan penundaan buka sadap tanaman karet dengan merubah kriteria persentase matang sadap kebun. Analisis menggunakan data percobaan Lukman (1979; 1980), Samuel et al. (2012), Hendratno dan Amypalupy (2008), dan Nugraha et al. (2015). Hasil kajian menunjukkan bahwa penundaan buka sadap dengan merubah lilit batang dari 45 cm menjadi 50 cm dapat meningkatkan produktivitas per penyadap. Penundaan buka sadap hingga lilit batang mencapai 50 cm akan ekonomis dengan pemilihan klon yang memiliki produktivitas awal yang tinggi. Untuk  menunda buka sadap dari lilit batang 45 cm menjadi 50 cm diperlukan waktu 6-12 bulan tergantung kerapatan tanaman dan jenis klon. Kriteria matang sadap kebun yang berbeda sesuai jenis klon dan perubahan harga masih menguntungkan secara ekonomis. Perlu kajian yang lebih luas mengenai penundaan buka sadap. Kata kunci: karet, buka sadap, penundaan Abstract Currently, agribusiness of rubber is experiencing unfavorable condition. This is due to the declining of rubber price in the last few years as well as increasing of cost of production especially the cost of tapping. An effort that could be done was by delaying the opening of rubber. This paper examines the delay in opening of rubber with two approaches, i.e. delaying of rubber opening by changing the criteria of tree maturity for tapping  from 45 cm to 50 cm; and delaying of rubber opening by changing the criteria for the percentage of mature tree. Analysis was conducted using the data of Lukman (1979;1980), Samuel et al. (2012), Hendratno and Amypalupy (2008), and Nugraha et al. (2015). The results showed that the delay of opening by changing the girth of 45 cm to 50 cm could increase productivity per tapper. Delaying of opening until reaching the girth of 50 cm will be economical with the selection of clones that have high initial productivity. To delay opening from the girth of 45 cm to 50 cm took 6-12 months depending on the density of the plants and clones. Criteria of field tapping maturity to suit different types of clones and price changes are still economically viable. A broader study on the delaying of rubber opening was needed. Keywords: rubber, opening, delayin

    PERKEMBANGAN ONTOGENETIK DAUN TANAMAN KARET SEBAGAI PENANDA AWAL ADAPTASI TERHADAP CEKAMAN LINGKUNGAN DAN PATOGEN

    Get PDF
    Clonal rubber leaves vary in shape, size, morphology and anatomy. Leaves development stages can be distinguished as A, B, C and D phase. In stage A, the leaflet hang vertically toward petioles. In stage B their color are light brown green with soft texture. In stage C, the leaflets are almost fully grown with firm laminae. In stage D, the leaflets have fully developed in nearly horizontal position. Physiologically, stage A and B are sink while stage C and D are source. The shorter transition from sink to source in new leaves is important response to environmental stress and pathogen. Therefore, leaves ontogenetical development can be used as early marker of plant adaptability to environment. Similar researches are necessary to be carried out using Indonesian specific clones and environment.Â

    KAJIAN TEKNO EKONOMI PENDIRIAN INDUSTRI KARET BANTALAN JEMBATAN JENIS KARET ALAM DAN KARET KLOROPRENA

    Get PDF
    Peningkatan konsumsi domestik karet alam melalui pemanfaatan produk karet untuk mendukung pembangunan infrastruktur menjadi solusi untuk kembali memperkuat harga karet alam yang sejak akhir tahun 2011 terus mengalami pelemahan. Produk karet bantalan jembatan yang berfungsi sebagai isolator pelindung struktur jembatan dari getaran dan beban lalu lintas berpotensi untuk dikembangkan karena permintaan tinggi di pasaran. Dalam artikel ini diulas kajian tekno-ekonomi pendirian industri karet bantalan jembatan karet alam dan kloroprena dari aspek teknik hingga ekonomi. Data primer diperoleh dengan metode survei melalui teknik wawancara kepada responden yang dipilih secara sengaja, data sekunder dilakukan dengan menerapkan teknik multiplikasi dokumen dan pencatatan data dari instansi terkait lainnya. Metode pengolahan data menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil kajian diketahui potensi pasar produk karet bantalan jembatan masih terbuka sebesar 57.000 di tahun 2016 dan ditetapkan kapasitas produksi sebesar 17.000 per tahun (30%) dengan komposisi 75% karet bantalan dari karet alam dan 25% dari karet kloroprena. Ukuran karet bantalan yang diproduksi mengacu pada ukuran standar yang ditetapkan oleh kementerian PUPR Jenis 1 : 350x300x36 mm (30%), Jenis 2 : 400x350x39 mm (35%), Jenis 3 : 450x400x45 mm (35%). Hasil kelayakan finansial menunjukkan bahwa industri karet bantalan jembatan dan jalan layang layak didirikan karena memberikan nilai NPV sebesar IDR 14,22 Milyar (bernilai positif atau lebih besar dari nol), IRR sebesar 20,10% (lebih besar dari faktor diskonto 14%), B/C rasio sebesar 1,22 (lebih besar dari 1) dan PBP selama 4,78 tahun. Industri ini sangat sensitif terhadap penurunan harga jual produk dan kenaikan nilai tukar USD terhadap IDR.Kata kunci : konsumsi domestik karet alam, industri hilir karet, bantalan jembatan

    ANALISIS TEKNO-EKONOMI PELUANG PEMBANGUNAN INDUSTRI PENGOLAHAN SPECIALTY NATURAL RUBBER JENIS KARET ALAM TERHIDROGENASI

    Get PDF
    Konsep Green Polymer telah menjadi perhatian bagi para pelaku industri polimer yang dibuktikan dengan dikembangkannya berbagai tipe specialty natural rubber. Salah satunya adalah karet alam terhidrogenasi (HNR). HNR memiliki keunggulan ketahanan terhadap proses oksidasi termal sehingga diharapkan dapat mensubstitusi karet sintetik berbasis petroleum tipe EPDM, CR, dan IRR. Pusat Penelitian Karet berhasil memperoleh teknologi pengolahan HNR pada skala semi pilot. Artikel ini mengulas peluang pendirian pabrik pengolahan HNR ditinjau dari aspek tekno-ekonomi. Metode untuk memperoleh data primer dilakukan dengan cara survei dan wawancara, sedangkan data sekunder diperoleh dengan teknik multplikasi dokumen dan pencatatan dari lembaga terkait. Data diolah secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil analisis diketahui bahwa potensi pasar dalam negeri industri HNR cukup terbuka mencapai 18 ribu ton per tahun. Industri HNR direncanakan akan didirikan di Kawasan Industri Kendal, Kendal, Jawa Tengah dengan kapasitas produksi sebesar 3600 ton per tahun (20% dari potensi pasar). Penentapan kapasitas produksi turut didukung oleh kemampuan pasok bahan baku lateks pekat sebesar  4500 ton per tahun. Teknologi proses yang diterapkan untuk memproduksi HNR skala industri akan mengadopsi proses pengolahan karet konvensional jenis Crepe. Hasil analisis kelayakan finansial menunjukkan bahwa industri HNR layak untuk didirikan. Industri ini memberikan nilai NPV sebesar IDR 25,3 M, IRR sebesar 18,63, B/C ratio sebesar 1,16, dan PBP selama 5,63. Sementara berdasarkan hasil analisis sensitivitas diketahui bahwa industri ini sangat sensitif terhadap kenaikan nilai tukar USD terhadap IDR dan penurunan harga jual karet alam terhidrogenasi

    KOMBINASI SISTEM SADAP FREKUENSI RENDAH DAN PENGGUNAAN STIMULAN UNTUK OPTIMASI PRODUKSI DAN PENURUNAN BIAYA PENYADAPAN DI PANEL BO

    Get PDF
    Fluktuasi harga karet sering terjadi di bisnis karet. Kondisi tersebut menjadi masalah apabila harga karet rendah namun tidak diimbangi dengan kenaikan produksi dan penurunan biaya produksi. Penelitian ini bertujuan mendapatkan kombinasi sistem sadap terbaik yang menurunkan biaya penyadapan dan meningkatkan produksi. Upaya penurunan biaya produksi dilakukan melalui penerapan frekuensi sadap (d3, d4, d5 dan d6) dengan perbedaan konsentrasi stimulan (ET 2.5%, 3.0%, 4.0% dan 5.0%) disadap pada panel B0-2 secara SKB. Rancangan penelitian yang digunakan RAKL dengan 10 pohon dan diulang 3 kali. Penelitian dilaksanakan mulai Oktober 2015 hingga Oktober 2016 di Kebun Batujamus, Afdeling Kedung Sumber, PTPN IX.Klon yang digunakan PB 260, tahun tanam 2000 jarak tanam 6x3 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi pada penyadapan d3 stimulan 2.5%  dan 4.0%  memiliki produktivitas lebih tinggi, dibandingkan kontrol. Meskipun demikian hasil uji statistik menunjukkan tidak beda nyata. Kombinasi frekuensi sadap rendah dan perlakuan stimulan dapat diterapkan ketika harga karet rendah dan kesulitan tenaga sadap. Semakin rendah frekuensi sadap maka semakin rendah biaya penyadapan. Frekuensi sadap d6 merupakan sistem sadap yang paling rendah biayanya dan menurunkan biaya 58-59% dari kontrol (d2). Untuk aplikasi di lapangan, sebaiknya mempertimbangkan produktivitas yang diperoleh dari berbagai sistem sadap, karena produktivitas berpengaruh terhadap pendapatan dan keuntungan kebun. Seperti halnya frekuensi sadap d3, meskipun hanya mampu menurunkan biaya 25-28% dari d2, namun mampu menghasilkan produksi tertinggi dibandingkan dengan frekuensi sadap lainnya. Sedangkan frekuensi sadap d4 potensial diterapkan pada perkebunan karet dengan permasalahan kelangkaan tenaga sadap, karena memiliki produksi lebih tinggi dan biaya lebih rendah dibandingkan kontrol

    KELAYAKAN FINANSIAL UNIT PENGOLAHAN KARET DENGAN CREPER MINI (STUDI KASUS DI DESA PULAU HARAPAN, KABUPATEN BANYUASIN)

    Get PDF
    ABSTRACTThe low quality of raw rubber materials produced by farmers is a classic problem. Farmers cultivate only hereditary sap crops into the clot, printed in the freezer and the results tub-shaped “slab†in various sizes. Prices received is relatively low, due to the weak bargaining position that would otherwise be beneficial to make a clean “bokarâ€. A factory units with creper mini is a business opportunity for farmers – traders who have sufficient capital investment. Creper mini machine is used to process the material rubber into blankets. Processing alternatives be blanketed capable to improving the quality and the price at the farm level. However, the lack of capital will hinder business continuity, while the production capacity should remain unfulfilled. This article is a reviews of case studies in factory units with creper mini on Banyuasin district, South Sumatera. The study analyzes were conducted to understand the financial aspects of the operations with financial eligibility criteria NPV, B/C ratio, IRR and PP. NPV results Rp. 1.225.200.360,-, B/C Ratio 1,02, IRR 32%, and PBP 2,1 years or 25 months. Business continuity rubber processing factory units with mini creper is feasible. Efforts to provide value-added is a large capital investment, as well as potential raw materials to meet the production capacity. ABSTRAK Rendahnya mutu bahan olah karet yang dihasilkan oleh petani menjadi problema klasik yang terjadi hingga saat ini. Biasanya petani karet hanya mengolah lateks hasil kebun yang dicetak dalam bak pembeku dan hasilnya berbentuk slab dengan berbagai ukuran. Hal ini mengakibatkan harga yang diterima petani relatif rendah, karena lemahnya posisi tawar yang seharusnya dapat ditingkatkan apabila membuat bokar bersih. Keberadaan unit pengolahan karet creper mini dapat menjadi bagian dari upaya peningkatan mutu bokar, sekaligus peluang usaha bagi petani-pedagang yang memiliki modal untuk berinvestasi. Mesin creper mini berfungsi untuk mengolah bokar atau slab tipis menjadi blanket. Alternatif pengolahan bokar menjadi blanket di unit pabrik pengolahan karet creper mini diharapkan akan meningkatkan mutu dan harga di tingkat petani. Tulisan ini adalah ulasan dari studi kasus pada unit pabrik pengolahan karet creper mini yang berada di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Kajian dilakukan untuk mengetahui kelayakan finansial dari kegiatan usaha pengolahan karet dengan creper mini. Indikator kelayakan finansial yang digunakan adalah NPV, B/C ratio, Internal Rate of Return, dan PBP. Hasil perhitungan NPV sebesar Rp. 1.225.200.360,- , B/C ratio 1,02, IRR 32% dan PBP 2,1 tahun atau 25 bulan. Dengan demikian, usaha Unit Pengolahan Karet dengan Creper Mini dinilai layak untuk dilakukan. Upaya pengembangan usaha untuk memberikan nilai tambah yang lebih besar adalah dengan modal investasi yang besar, serta menjamin ketersediaan bahan baku secara berkelanjutan guna memenuhi kapasitas produksi creper mini.Â

    365

    full texts

    531

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Puslit Penelitian Karet E-Journal System Portal
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇