Puslit Penelitian Karet E-Journal System Portal
Not a member yet
531 research outputs found
Sort by
INTERAKSI GENOTIPE X MUSIM KARAKTER FISIOLOGI LATEKS DAN DAYA HASIL BEBERAPA GENOTIPE KARET HASIL PERSILANGAN TAHUN 1992
Latex physiology characters and yield potential of rubber tree (Hevea brasiliensis) are determined by genetic factor, environments, and genotype x environment interaction. The environmental conditions greatly influence latex physiology characters and latex yield potential are the monthly rainfalls. The objective of the research was to get information about the performance of latex physiology characters and yield potential of some promising rubber genotypes of crossing results in 1992 in dry and wet months period. The experimental design used was randomize completely design (RCD) with two factors and three replications. The first factor was genotypes consisted of 15 genotypes and 2 control clones of PB 260 and RRIC 100. The second factor was season consisted of the wet months period (August - November 2015) and dry months period (January - March 2016) based on classification of Oldeman. The research result showed that the genotype x season interaction effect was significant to sucrose content, inorganic phosphate content, thiol content, latex flow rate, plugging index, yield index, and latex yield potential. Genotype HP 92/542 was a more tolerant to seasonal changes and this genotype had high latex yield and more stable. The genotype can be developed as a new genetic material of superior rubber clone. Genotype HP 92/726 was also tolerant to seasonal changes but the genotype had low latex yield. The genotype HP 92/838 was intolerant to seasonal changes and the genotype had low latex yield and unstable
PERKEMBANGAN EKOSISTEM DAN POTENSI KARET UNTUK REKLAMASI LAHAN BEKAS TAMBANG BATUBARA
Kegiatan pertambangan batubara terbuka menimbulkan degradasi lahan yang berat dan merubah komposisi ekosistem. Artikel ini merangkum beberapa studi mengenai perkembangan ekosistem dan upaya revegetasi lahan bekas tambang batubata di kawasan Asia. Reklamasi biologis dalam jangka pendek bermanfaat untuk mengurangi erosi, dan dalam jangka panjang berguna mengembalikan keseimbangan ekologis antara lahan bekas tambang dan wilayah sekitarnya. Jenis rumput-rumputan umumnya mendominasi tahap awal suksesi kemudian akan digantikan oleh jenis tumbuhan semak dan pohon pada tahap akhir suksesi. Bebebapa family dominan ditemukan di lokasi bekas tambang batubara antara lain: Apocynaceae, Fabaceae, Moraceae, Poaceae, Euphorbiaceae, Asteraceae dan Lamiaceae. Tumbuhan asli daerah setempat dapat digunakan untuk mempercepat proses perkembangan ekosistem dan memfasilitasi suksesi tanaman secara alami. Perkembangan ekosistem dipengaruhi jenis tanah, iklim, dan spesies indigenous sekitar yang beragam. Studi mengenai perkembangan ekosistem di wilayah yang memiliki karakteristik spesifik diperlukan untuk meningkatkan keberhasilan reklamasi. Karet memiliki potensi untuk revegetasi lahan bekas tambang batubara, melalui proses perbaikan ekosistem tanah untuk membentuk lingkungan tumbuh yang mendukung pertumbuhan tanaman karet.Â
UJI ADAPTASI SORGUM MANIS SEBAGAI TANAMAN SELA DI ANTARA TANAMAN KARET BELUM MENGHASILKAN
Lahan di antara tanaman karet belum menghasilkan (TBM) memiliki potensi untuk peningkatan produksi sorgum manis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh tanaman sela sorgum terhadap pertumbuhan tanaman karet dan mempelajari beberapa parameter agronomi sorgum. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Sembawa dari bulan Juni sampai Oktober 2013. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan tiga ulangan. Faktor perlakuan meliputi tiga belas genotipe sorgum yaitu : Patir-1, Patir-2, Patir-3, Patir-4, Patir-5, Patir-6, Patir-7, Patir-8, Patir-9, Patir-10, Patir-11, Patir-12, Patir-13, Pahat, Kawali dan Mandau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sorgum sebagai tanaman sela memiliki efek positif terhadap pertumbuhan tanaman karet. Hasil uji adaptasi sorgum manis menunjukkan bahwa genotipe Patir-5, Patir-9, dan Kawali nyata memiliki diameter batang, berat batang, dan kandungan nira lebih tinggi. Genotipe Patir-5, dan Kawali nyata memiliki berat biji per malai, berat 100 biji, dan hasil biji lebih tinggi
KERAGAAN MATERI GENETIK KLON KARET HASIL PERSILANGAN TAHUN 2001-2003
Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan progeni tanaman karet terbaik berdasarkan karakteristik potensi produksi lateks dan kayu dari hasil persilangan tahun 2001-2003. Analisis secara statistik dilakukan terhadap parameter lilit batang, tebal kulit, jumlah cincin pembuluh lateks, diameter cincin pembuluh lateks, produksi karet kering dan produksi kayu. Intensitas seleksi yang digunakan untuk memilih progeni tersebut yaitu 10% dan 1% terhadap 1013 tanaman hasil persilangan (F1) umur 9 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat variasi yang cukup tinggi dari beberapa parameter diantaranya: produksi karet kering (99,03%), produksi kayu (74,98%), lilit batang (32,06%) dan jumlah cincin pembuluh lateks (25,27%). Besarnya keragaman materi genetik yang terbentuk ini memberikan peluang diperolehnya klon unggul baru. Hasil evaluasi berdasarkan pola distribusi populasi menunjukkan nilai koefisien kemiringan produksi karet kering sebesar 2,09 yang mengindikasikan bahwa sebagian besar potensi produksi karet kering rendah. Hal yang sama juga ditunjukan oleh karakter potensi produksi kayu dengan nilai koefisien kemiringannya sebesar 1,28. Jumlah progeni yang terpilih berdasarkan karakter lilit batang (10% = 116 tanaman, 1% = 16 tanaman), produksi karet kering (10% = 86 tanaman, 1% = 34 tanaman), produksi kayu (10% = 132 tanaman, 1% = 34 tanaman), jumlah cincin pembuluh lateks (10% = 94 tanaman, 1% = 22 tanaman). Hasil seleksi juga menunjukkan bahwa beberapa genotipe terseleksi berdasarkan lebih dari satu karakter
EMISI GAS RUMAH KACA DI PERKEBUNAN KARET
Carbon dioxide (CO2) and nitrous oxide (N2O) and methane (CH4) are three of the major greenhouse gas (GHG). Agricultural sector accounts for 10-14% of global athropogenic GHGs. The research of GHGs in rubber plantation has been started in several rubber producer countries including Indonesia however the progress is not as fast as in other agricultural commodities. Carbon stock and carbon balance in rubber plantation is the trending research topic. Biometric and eddy coveriance are the two methods that are used for investigating carbon emission. The results of some study using those two methods indicate that the similar result i.e. the amount carbon that is released by rubber plantation ecosystem is tended to be smaller than carbon absorption. The amount of CO2 that absorbed by rubber plantation is approximately 29-40 tons CO2 ha/year. Commonly the previous studies are mostly conducted in establish area, which mean the study is not designed with some treatments such as fertilizer and organic matter dosage, time of application, soil tillage. The deeply study of carbon emission, related to field management to carry out the best management practices and environmental friendly is still needed. The similar study concerning other gas like N2O in rubber plantation is also important to be conducted. It is due to the application of nitrogen fertilizer and organic matter in rubber plantation is high enough. There are some opportunities to conduct research consortium with other research institutions and universities in order to solve the high cost in GHGs research
KEUNGGULAN KLON KARET IRR 220 dan IRR 230
Klon IRR 220 dan IRR 230 merupakan hasil persilangan tahun 1985 s.d 1990. Berasal dari 37.525 persilangan dan menghasilkan sebanyak 657 tanaman F1 (genotipe baru). Pengujian dilakukan dibeberapa agroekosistem di Sumatera Utara dan Balai Penelitian Sembawa.  Klon IRR 220 dan IRR 230 tumbuh jagur dan dapat disadap umur  4 tahun. Ketahanan terhadap penyakit daun (Corynespora, Colletotrichum) dan bidang sadap (KAS) dikelompokkan kedalam kelompok resisten. Potensi produksi lateks IRR 220 yaitu 115% diatas PB 260, respon terhadap stimulan sedang dan pada kelompok klon metabolisme tinggi. Sedangkan untuk IRR 230  potensi produksi sama dengan PB 260,  respon stimulan ± 122% dan klon metabolisme sedang.  Potensi produksi kayu yang dihasilkan klon IRR 220 sebesar 0,61 m3/ph dan total volume kayu 0,89 m3/ph dan IRR 230 yaitu 0,76 m3/ph dengan total volume kayu 1,17 m3/ph pada umur 20 tahun. Tebal kulit klon IRR 220 cukup tebal pada kulit murni maupun kulit pulihan, disamping jumlah pembuluh pada kulit murni lebih banyak dibanding klon pembanding PB 260. Sedangkan tebal kulit murni klon IRR  230 sama dengan klon PB 260, jumlah pembuluh pada kulit murni juga tidak jauh berbeda dibanding klon pembanding PB 260.  Ketahanan penyakit daun  (Corynespora, Colletotrichum) dan bidang sadap (KAS) kedua klon tsb diatas pada kelompok resisten. Batang tegak, lurus dan halus permukaannya. Keunggulan IRR 220 dan IRR 230 sebagai klon lateks-kayu dan adaptabilitasnya pada daerah dengan curah hujan tinggi (basah) sampai rendah (kering). Klon tersebut telah mendapatkan Hak Perlindungan Varietas Tanaman dari Pusat Perlindungan Varietas Tanaman Dan Perizinan Pertanian dan SK Pelepasan Varietas Unggul dari Menteri Pertanian, masing-masing Sertifikat Nomor : 00302/PPVT/T/2014 ; SK Nomor : 77/Kpts/KB.020/1/2016 (IRR 220) dan Sertifikat Nomor 00303/PPVT/T/2014 ; SK Nomor : 74/Kpts/KB.020/1/2016 (IRR 230) No. 00 302 / PPVT / T / 201
PENGARUH INTERVAL PENGENDALIAN GULMA DAN APLIKASI HERBISIDA TERHADAP PERTUMBUHAN GULMA DAN TANAMAN KARET TBM
Metode pengendalian gulma yang tidak efektif akan menyebabkan dinamika gulma ke jenis yang lebih sulit dikendalikan dan tertundanya matang sadap 2-3 tahun. Penelitian ini untuk mengkaji pertumbuhan gulma dan tanaman karet akibat pengaruh berbagai interval pengendalian dan aplikasi herbisida pada kebun karet TBM. Penelitian dilaksanakan dari Januari 2013 sampai Juni 2014. Rancangan penelitian Split Plot, petak utama adalah perlakuan interval pengendalian gulma dan perlakuan herbisida sebagai anak petak dengan ulangan 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan gulma daun lebar lebih dominan (SDR 52,76%) dari gulma sempit (SDR 47,24%) di awal penelitian (pra perlakuan). Bobot kering dan penutupan gulma lebih rendah, pada interval pengendalian lebih singkat. Bobot kering gulma antar petak perlakuan berbeda nyata pada Juni dan Desmber 2013. Bobot kering dan penutupan gulma terendah pada perlakuan glifosat + metil metsulfuron yang tertinggi pada perlakuan ditebas dan kontrol. Bobot kering dan penutupan gulma selalu berbeda nyata antara perlakuan glifosat + metil metsulfuron dengan perlakuan ditebas dan kontrol. Perlakuan herbisida campuran parakuat + metil metsulfuron menghasilkan pertumbuhan lilit batang karet lebih baik (17,9 cm) dibanding perlakuan glifosat + metil metsulfuron (16,9 cm). Pertumbuhan lilit batang tanaman karet sangat dipengaruhi bobot kering gulma dengan nilai koefisien diterminasi R2  = 0,82. Dapat disimpulkan bahwa perlakuan herbisida glifosat + metil metsulfuron lebih efektif menekan pertumbuhan gulma dan pertumbuhan lilit batang karet sangat dipengaruhi bobot kering gulma yang membentuk pola hubungan pertumbuhan negatif
PERTUMBUHAN TANAMAN KARET BELUM MENGHASILKAN DI LAHAN PESISIR PANTAI DAN UPAYA PENGELOLAAN LAHANNYA (Studi Kasus: Kebun Balong, Jawa Tengah)
Indonesia sebagai negara kepulauan masih terbuka kesempatan yang besar dalam memanfaatkan lahan pesisir pantai untuk dikelola menjadi lahan tanaman yang produktif. Lahan pesisir pantai biasanya dicirikan oleh sifat fisik, kimia mapun biologi tanah yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan dan hasil tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan tanaman karet belum menghasilkan (TBM) di lahan pesisir pantai dan upaya pengelolaannya. Penelitian menggunakan metode survei dengan pengambilan sampel tanah dan pengamatan kondisi tanaman. Pengambilan sampel tanah dilakukan pada dua lokasi, yaitu berjarak ± 500 m dan > 1000 m dari bibir pantai. Hasil analisis tanah menunjukkan bahwa tekstur tanah pada jarak 500 m dan > 1000 m dari garis pantai didominasi fraksi pasir yaitu > 70%. Secara umum kesuburan tanahnya tergolong rendah dicirikan C-organik tanah tergolong rendah hingga sangat rendah, hara makro (N dan K) tergolong rendah hingga sangat rendah tetapi hara P tersedia pada jarak ± 500 m dan > 1000 m umumnya tergolong sangat tinggi yaitu 45-140 ppm. Keasaman tanah tergolong agak masam berkisar pada pH 6,00-6,42 atau dapat dikatakan pH tersebut sesuai untuk pertumbuhan tanaman karet. Hasil pengamatan pertumbuhan tanaman karet pada daerah tepi pantai jarak ± 500 m menunjukkan pertumbuhan yang kurang baik, sebaliknya pada jarak > 1000 m dari bibir pantai pertumbuhan tanaman karet cukup baik. Pengelolaan lahan yang dilakukan untuk pertumbuhan tanaman karet di lahan pesisir pantai yaitu pemberian bahan organik, pemberian mulsa atau penanaman LCC, pemberian pembenah tanah, penanaman tanaman pemecah angin (windbreaker) serta penggunaan klon adaptif
KOROSIVITAS KOAGULAN ASAM SULFAT PADA PERALATAN DI PABRIK PENGOLAHAN KARET ALAM
Salah satu tahapan penting dalam pengolahan karet alam adalah proses penggumpalan (koagulasi) yang memerlukan bahan penggumpal (koagulan). Survei yang dilakukan di Provinsi Sumatera Selatan menunjukkan bahwa koagulan yang paling banyak digunakan petani adalah asam sulfat. Penggunaan asam sulfat sebagai koagulan karet alam dapat memicu terjadinya korosi pada peralatan di pabrik pengolahan karet alam karena sifatnya yang korosif. Aplikasi asam sulfat 2% sebagai koagulan meningkatkan laju korosi logam baja yang paling banyak digunakan sebagai bahan utama peralatan di pabrik pengolahan karet alam. Laju korosi logam baja dalam lingkungan asam sulfat tergolong korosi yang buruk/jelek. Untuk mengurangi dampak negatif yang disebabkan dari proses korosi logam baja perlu dilakukan tindakan pencegahan dan pengendalian korosi. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengendalikan serangan korosi antara lain menggunakan koagulan tidak korosif, menggunakan peralatan dengan material khusus yang tahan terhadap serangan korosi dan menggunakan senyawa inhibitor yang mampu menghambat proses korosi
FAKTOR-FAKTOR PENENTU YANG MEMPENGARUHI PETANI MENANAM TANAMAN SELA DIANTARA KARET DI SUMATERA SELATAN
Kebiasaan menanam tanaman sela telah lama dilakukan oleh petani. Namun, pada saat pendapatan petani meningkat karena harga karet tergolong tinggi petani karet masih membudayakan menanam tanaman sela. Oleh karena itu penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor dominan yang mempengaruhi petani konsisten menanam tanaman sela. Penelitian dilakukan di Desa Pangkul (Kabupaten Muara Enim), Desa Lubuk Bandung (Kabupaten Ogan Ilir) dan Desa Marta Jaya (Kabupaten Ogan Komering Ulu). Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode survei melalui wawancara secara terstruktur. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive dengan jumlah sampel 43 responden. Pengolahan data menggunakan analisis regresi stepwise. Variabel yang berpengaruh kuat tersebut yaitu pendapatan tanaman sela, pengalaman berkebun, pendidikan petani, tujuan menanam tanaman sela dan pekerjaan pokok petani dengan masing-masing nilai koefesien adalah 0,000001 ; 0,003 ; -0,03 ; 0,16 ; -0,07. Variabel bebas yang berpengaruh positif terhadap perilaku menanam tanaman sela adalah pendapatan tanaman sela, pengalaman berkebun dan tujuan menanam tanaman sela. Sedangkan variabel bebas lainnya berpengaruh negatif. Diterima : 4 Agustus 2015 / Direvisi : 4 Februari 2016 / Disetujui : 16 Maret 2016 How to Cite : Nugraha, I., Alamsyah, A., Agustina, D., & Syarifa, L. (2016). Faktor-faktor penentu yang mempengaruhi petani menanam tanaman sela diantara karet di Sumatera Selatan. Jurnal Penelitian Karet, 34(1), 77-88. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/21