Puslit Penelitian Karet E-Journal System Portal
Not a member yet
531 research outputs found
Sort by
PENGARUH DINAMIKA GUGUR DAUN TERHADAP KERAGAMAN HASIL LATEKS BEBERAPA GENOTIPE KARET HARAPAN HASIL PERSILANGAN 1992 DI PENGUJIAN PLOT PROMOSI
Tanaman karet menggugurkan daun secara periodik akibat cekaman kekeringan yang terjadi pada bulan-bulan kering setiap tahunnya. Pada umumnya gugur daun di Provinsi Sumatera Utara terjadi pada bulan Januari sampai bulan Maret. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengamati keragaman hasil lateks beberapa genotipe karet harapan hasil persilangan 1992 di pengujian Plot Promosiakibat dinamika gugur daun. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus 2015 – Maret 2016 di Kebun Percobaan Balai Penelitian Sungei Putih, Pusat Penelitian Karet yang terletak di Kabupaten Deli Serdang. Materi genetik yang digunakan pada penelitian ini yaitu sebanyak 15 genotipe karet harapan berasal hasil persilangan 1992 Plot Promosi dengan 2 klon PB 260 dan RRIC 100 pada umur sebelas tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keragaman hasil lateks dipengaruhi oleh kondisi fase perdaunan sebagai akibat perubahan pola curah hujan bulanan. Genotipe nomer HP 92/542 memiliki hasil lateks paling tinggi pada semua fase perdaunan, sedangkan paling rendah terdapat pada genotipe HP nomer 92/677 dan HP 92/726. Berdasarkan kondisi fase perdaunan menunjukkan bahwa rerata hasil lateks paling tinggi terdapat pada saat tanaman dalam fase daun penuh. Penurunan hasil lateks secara nyata terjadi pada saat kondisi gugur daun total dan pembentukan daun muda. Persentase penurunan hasil lateks pada kondisi tersebut masing-masing adalah 71,46% dan 73,23% terhadap fase daun penuh
PENGUJIAN KUALITATIF TERHADAP JENIS KOAGULAN DALAM BAHAN OLAH KARET
Peningkatan mutu bahan olah karet (bokar) dapat dilakukan sejak awal proses pengolahan lateks menjadi bokar. Jenis koagulan merupakan salah satu parameter utama di dalam penentuan mutu bokar, selain tingkat kebersihan. Berdasarkan SNI bokar No. 06-2047-2002, koagulan yang dianjurkan untuk menggumpalkan lateks adalah asam format dan bahan penggumpal lain yang direkomendasikan oleh lembaga yang kredibel. Tetapi sebagian besar petani masih menggunakan koagulan non anjuran. Untuk itu perlu dilakukan suatu metode tertentu yang dapat mendeteksi bahan penggumpal bokar yang digunakan petani. Dengan metode ini, diharapkan petani akan menggunakan koagulan anjuran untuk meningkatkan mutu bokar. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan untuk mendeteksi kandungan koagulan adalah pengujian secara kualitatif. Identifikasi dilakukan dengan cara mereaksikan serum atau air rendaman koagulum dengan pereaksi-pereaksi tertentu, kemudian diamati perubahan pada campuran yang menandakan karakteristik dari ion-ion yang terkandung di dalam koagulan. Koagulan non anjuran seperti tawas, cukapara dan pupuk TSP dapat dideteksi dengan menggunakan pereaksi : 1) BaCl2, 2) campuran pereaksi NH4Cl dan NH4OH, 3) campuran pereaksi etanol dan asam sulfat dan 4) campuran pereaksi HNO3 dan ammonium molibdat. Hasil pengujian sensistivitas menunjukkan bahwa bahan penggumpal non ajuran dapat dideteksi pada dosis minimal 50 mL/L lateks (1 g/L lateks) untuk cukapara (asam sulfat), 25 mL/L lateks (0,5 g/L lateks) untuk pupuk TSP dan 75 mL/L lateks (1,5 g/L lateks) untuk tawas dengan konsentrasi masing-masing 2%. Pengujian kualitatif ini kemudian diaplikasikan untuk mengetahui kandungan ion pada koagulan “Xâ€. Hasil pengujian menunjukkan bahwa koagulan “X†mengandung ion sulfat yang diduga berasal dari asam sulfat
KOMPARASI KELAYAKAN INVESTASI KLON KARET GT 1 DAN PB 260 PADA BERBAGAI TINGKAT HARGA DAN UMUR EKONOMIS
Dengan kondisi harga saat ini, penanaman karet dengan klon-klon lama (seperti GT1) sudah harus digantikan dengan klon-klon unggul baru yang produksinya lebih tinggi. Apabila petani meremajakan kebun karet tuanya dengan tanaman karet klon unggul, pendapatan yang diterima dapat lebih baik dibandingkan dengan produksi yang diperoleh dari kebun karet tua rusak serta serta pengembalian biaya investasi lebih cepat. Tulisan ini menampilkan kelayakan investasi tanaman karet dengan klon GT 1 dan PB260 pada berbagai tingkat harga dan umur ekonomis tanaman. Melalui informasi ini diharapkan petani dapat meningkatkan produktivitas per siklus pengusahaan tanaman. Dari hasil analisis diketahui bahwa pengusahaan klon PB260 adalah lebih menguntungkan dibandingkan dengan pengusahaan klon GT1 apabila dilakukan sesuai dengan rekomendasi teknis yang dianjurkan
TINJAUAN PENERAPAN UNIT PENGOLAHAN DAN PEMASARAN BOKAR UNTUK MENDUKUNG GERAKAN NASIONAL BOKAR BERSIH DI SUMATERA SELATAN
Upaya perbaikan mutu bokar telah dilakukan pemerintah dengan menerbitkan peraturan menteri dan pedoman jaminan mutu karet. Pembentukan lembaga ditingkat petani yang dikenal dengan UPPB (Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar) bertujuan sebagai sarana bagi petani untuk meningkatkan mutu karetnya. Artikel ini membahas mengenai penerapan UPPB di Sumatera Selatan serta permasalahan yang terkait dengan program nasional perbaikan mutu karet alam, tindaklanjut GNBB dan terbentuknya kelompok-kelompok UPPB di beberapa wilayah sentra perkebunan rakyat. Pembentukan UPPB memberikan beberapa manfaat, diantaranya: adanya aturan yang disepakati secara musyawarah; meningkatnya mutu bokar petani melalui pemasaran bersama; meningkatkan posisi tawar bagi petani; media komunikasi petani agar dapat turut serta dalam program-program pengembangan karet rakyat. Namun masih banyak tantangan yang harus dihadapi antara lain modal usaha, komitmen anggota terhadap aturan yang berlaku, persaingan harga dengan tengkulak dan pedagang perantara, minimnya pengawasan terhadap mutu teknis pengolahan bokar, serta kurangnya pendampingan dalam pemasaran akibatnya minat petani lainnya untuk bergabung masih sedikit. Pelatihan dan pembinaan menjadi kegiatan yang sepatutnya dilakukan rutin dengan melibatkan anggota kelompok tani sebanyak mungkin. Pendampingan terhadap UPPB harus dilakukan berkelanjutan sehingga dapat menjadi agen perubahan dari berlangsungnya gernas bokar bersih. UPPB memiliki peran strategis untuk mencapai tujuan perbaikan mutu karet alam nasional melalui fungsi kelembagaan dan pemasaran yang terorganisir. Pemerintah dan lembaga penelitian diharapkan merumuskan langkah-langkah tepat sehingga peraturan daerah dapat diimplementasikan dan pemberlakuan sanksi bagi tindak pelanggaran terhadap aturan dan penerapan bokar bersih dapat dilakukan. Kajian terhadap kelangsungan program GNBB diperlukan agar pencapaian tujuan dari terbentuknya UPPB untuk mendukung pengembangan industri karet alam nasional
PENGARUH PRODUKTIVITAS TERHADAP HARGA POKOK KEBUN KARET DI JAWA TENGAH
Harga pokok sangat berpengaruh dalam daya saing dan perhitungan laba rugi perusahaan. Oleh karena itu, informasi biaya dan harga pokok sangat diperlukan untuk pengambilan keputusan di sebuah perusahaan. Dengan kondisi ekonomi yang kurang baik seperti sekarang, kenaikan biaya produksi di perkebunan karet turut berperan dalam meningkatkan harga pokok, di sisi lain harga jual karet mengalami penurunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh produktivitas terhadap harga pokok perkebunan karet. Data yang dianalisis berupa data sekunder yang bersumber dari dua belas kebun yang ada di Jawa Tengah pada tahun 2013-2015. Harga yang dimaksud adalah harga pokok riil di tingkat kebun yang telah di deflator dengan IHK. Penelitian ini menggunakan Model Regresi Linear Sederhana untuk mengetahui hubungan produktivitas terhadap harga pokok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap kenaikan produktivitas perkebunan karet sebesar 1 Kg/Ha/tahun, akan menurunkan harga pokok riil sebesar IDR 4,24,- atau harga pokok nominal IDR 5,11,-. Setiap kenaikan produktivitas kebun karet sebesar 1% akan menurunkan harga pokok riil sebesar 0,43%. Oleh karena, setiap kenaikan produktivitas perkebunan karet dapat menurunkan harga pokok, maka diperlukan upaya-upaya peningkatan produktivitas secara terus menerus
PROTEIN LATEKS HEVEA BRASILIENSIS SEBAGAI FUNGISIDA UNTUK PENGENDALIAN PENYAKIT TANAMAN
Serum lateks tanaman karet mengandung berbagai jenis protein yang berkaitan dengan protein pertahanan terhadap patogen. Pemanfaatan protein-protein lateks tersebut sebagai produk pengendali jamur patogen masih terkendala oleh metode isolasi protein serum lateks yang memerlukan peralatan dan biaya yang mahal. Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan metode isolasi protein lateks yang lebih sederhana dan menguji daya hambat protein-protein lateks tersebut terhadap pertumbuhan beberapa spesies jamur patogen pada tanaman pangan dan perkebunan. Pemisahan serum tertinggi diperoleh dari lateks yang dikoagulasikan dengan 37,5 mL asam format 5% tiap 1 liter lateks. Aseton, amonium sulfat dan Trichloric Acid (TCA) cukup efektif mempresipitasikan protein-protein di dalam serum lateks. Aseton dan amonium sulfat mempresipitasi protein masing-masing sebanyak 7,78 mg/mL dan 9,2 mg/mL serum, dan lebih tinggi dibandingkan TCA yaitu 5,56 mg/mL serum. Aktivitas enzimatik superoksid dismutase (SDO) protein hasil presipitasi dengan aseton dan amonium sulfat lebih tinggi dibandingkan protein hasil presipitasi dengan TCA, meskipun aktivitas SOD spesifik masing-masing perlakuan tidak berbeda nyata. Protein lateks memiliki daya hambat in vitro yang luas terhadap spesies jamur patogen yaitu 13,70% hingga 33,18% terhadap kontrol. Fusarium oxysporum, Collectrotichum capsici dan Rigodoporus microporus merupakan jamur patogen yang peka terhadap aktivitas protein-protein lateks
GUGUR DAUN TANAMAN KARET AKIBAT PENYAKIT PHYTOPHTHORA SPP. DI PERKEBUNAN KARET JEMBER, JAWA TIMUR
Renteng and Banjarsari field is a part of PT. Perkebunan Nusantara XII, located in Jember with major commodity of rubber plant. Since December 2013, leaf fall occurred in Renteng field Afdeling Sidomulyo (year of planting 1996) and Banjarsari field Afdeling Karang Nangka (year of planting 1993). The study was conducted in January to March 2014. Identification of the leaf fall was used macroscopic, microscopic and continued with Koch's postulates. The results showed that yellowing of leaf that's accompanied by leaf fall in Afdeling Sidomulyo (year of planting 1996) and Afdeling Karang Nangka (year of planting 1993) caused pathogen Phytophthora spp. This study has been proved that Phytophthora spp. causes the leaf fall in Indonesia after the last report in 1977
RESPON PERTUMBUHAN TANAMAN KARET (HEVEA BRASILIENSIS) BELUM MENGHASILKAN TERHADAP PEMBERIAN PUPUK MAJEMUK TABLET
Pupuk majemuk tablet merupakan salah satu jenis pupuk majemuk yang dapat dijadikan sebagai alternatif pemupukan pada perkebunan karet. Tujuan penelitian adalah mempelajari pengaruh pupuk majemuk tablet (16:12:17) terhadap pertumbuhan tanaman karet belum menghasilkan. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Sembawa pada tanaman karet klon PB 260 berumur 3 tahun (TBM 3), pada tanah tipe Ultisol. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan lima perlakuan dan empat ulangan. Jenis perlakuan meliputi A = dosis umum pupuk tunggal (250 g/pohon/tahun Urea, 250 g/pohon/tahun SP 36, 200 g/p/th KCl, dan 100 g/pohon/tahun Kieserit), B = 600 g/pohon/tahun majemuk tablet (setara 75% pupuk tunggal), C = 400 g/pohon/tahun majemuk tablet (setara 50% pupuk tunggal), D = 200 g/pohon/tahun majemuk tablet (setara 25% pupuk tunggal), E = 120 g/pohon/tahun majemuk tablet (setara 15% pupuk tunggal). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan hara nitrogen di tanaman karet TBM yang menggunakan pupuk majemuk tablet lebih tinggi dibandingkan dengan yang menggunakan pupuk tunggal. Pengaruh perlakuan terhadap pertumbuhan lilit batang tanaman tidak dijumpai perbedaan yang nyata antara perlakuan pupuk majemuk tablet dengan pupuk tunggal. Dosis pupuk majemuk tablet yang lebih rendah dibandingkan dengan pupuk tunggal menunjukkan bahwa pemupukan menggunakan pupuk majemuk tablet lebih efisien dibandingkan dengan penggunaan pupuk tunggal