Puslit Penelitian Karet E-Journal System Portal
Not a member yet
531 research outputs found
Sort by
PENGGUNAAN PISAU SADAP Bi-Cut UNTUK MENUNJANG EFEKTIVITAS DAN EFISIENSI PADA PERKEBUNAN KARET
Lateks tanaman karet dipanen melalui proses penyadapan. Penyadapan dilakukan dengan cara mengiris kulit menggunakan pisau sadap dengan sistem tertentu. Produksi tanaman karet selain ditentukan oleh potensi genetik masing-masing klon juga sangat ditentukan oleh sistem eksploitasi. Dalam sistem eksploitasi, kualitas penyadapan berkaitan dengan luka kayu maupun konsumsi kulit yang memperpanjang umur ekonomis sehingga produksi karet dalam satu siklus dapat lebih tinggi. Konsumsi kulit yang terkendali mempengaruhi umur ekonomis karet menjadi lebih lama sehingga produksi karet satu siklus dapat lebih tinggi. Pada 10 tahun terakhir perusahaan perkebunan mengalami kesulitan mendapatkan penyadap terampil. Upaya mengatasi hal tersebut sangat diperlukan rancangan pisau sadap yang mampu mengendalikan konsumsi kulit dan luka kayu. Tim peneliti Balai Penelitian Sungei Putih sejak tahun 2016 telah berhasil merancang pisau sadap ergonomis yang diberi nama pisau sadap Bi-cut untuk penyadapan panel sadap bawah (BO). Berdasarkan hasil pengujian pisau tersebut dapat dilihat bahwa kecepatan penggunaan prototipe pisau sadap Bi-cut lebih lambat dibandingkan penggunaan pisau sadap konvensional yaitu sebesar 4.69 detik per pohon. Konsumsi kulit menggunakan pisau sadap konvensional lebih tebal yaitu sebesar 2,73 mm dibandingkan dengan pisau sadap ergonomis yaitu sebesar 1,40 mm, namun tidak berbeda nyata terhadap produksi lateks. Keunggulan pisau sadap Bi-cut ini adalah dapat mencegah pelukaan kayu dan tebal irisan sadapan lebih tipis. Bi-cut mampu menyadap satu panel sadap BO selama 7,74 tahun/panel sadapan atau sekitar 30,96 tahun selama siklus produksi
IDENTIFIKASI KLON-KLON KARET BERDASARKAN VARIASI KARAKTERISTIK DAUN
Identifikasi klon sejak awal dimulai dari entres, bibit polibeg dan tanaman muda, yang berfungsi untuk mendapatkan tanaman yang murni dan asli secara genetik.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi klon berdasarkan karakteristik daun dengan teknik komputer dan leafgram serta mengetahui konsistensinya di beberapa daerah yang berbeda. Penelitian terdiri dari tiga seri pengujian, yaitu: 1) mempelajari pengaruh klon dan stadia pertumbuhan terhadap variabilitas karakteristik daun karet pada 5 klon (PB 260, IRR 118, IRR 42, BPM 1, PB 330) di pembibitan. 2) teknik pengukuran (Digital dan Leafgram) pada 7 klon (IRR 5, IRR 104, IRR 112, PB 217, PB 340, BPM 107, BPM 109), dan 3) konsistensi karakter daun di tiga daerah berbeda (Sungei Putih, Tanah Besi dan Parau Sorat, Provinsi Sumatera Utara) klon PB 260. Data dianalisis dengan rancangan petak tersarang dan acak kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik daun dipengaruhi oleh interaksi klon dan stadia pertumbuhan. Karakteristik daun suatu klon berbeda diantara stadia pertanaman, kecuali P/TL, TL/TP, vena alami, dan A/B layang, karena diduga tidak dipengaruhi lingkungan tumbuh. Teknik identifikasi klon secara â€digital†dapat digantikan dengan teknik “leafgramâ€. Parameter-parameter alami yang diamati terlihat tidak berbeda nyata diantara kedua teknik tersebut. Pengamatan di tiga daerah yang berbeda terlihat menunjukkan karakteristik daun yang sama
BEBERAPA SISTEM SADAP ALTERNATIF PADA KLON BPM 24
Penyadapan yang tidak benar akan menghasilkan kulit pulihan yang buruk dan rendah produksinya. Beberapa alternatif sistem sadap perlu diteliti antara lain aplikasi stimulan, sistem sadap ganda, dan irisan sadap pendek. Â Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh beberapa alternatif sistem sadap terhadap karakter fisiologi, pertumbuhan, dan produksi klon BPM 24. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Sembawa, menggunakan klon BPM 24, dan rancangan acak kelompok dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa irisan ganda (S/4 U d3 ET2.5% Ga1 9/y (m) + S/2 d3 dan S/4 U d3 ET 2.5% Ga1 9/y (m) + S/4 d3 ET2.5% 9/y (m)) tidak mampu meningkatkan produksi dibanding sistem konvensional (S/2 d3). Kombinasi antara irisan pendek dan stimulasi justru menurunkan produksi karet kering. Irisan ganda menurunkan kadar karet kering (KKK) dan pertumbuhan lilit batang
THE INNATE IMMUNITY RESPONSES IN RUBBER TREE
Plant innate immunity system consists of two branches: pathogen associated molecular patterns (PAMPs) -triggered immunity (PTI) and effector-triggered immunity (ETI). Two typical pathogen-associated molecular patterns flg22 and chitin from bacteria and fungi were used as inducers to detect the rubber tree immunity response by rubber tree mesophyll protoplast transient expression system. Our data showed that flg22 and chitin induced activation of mitogen-activated protein kinases, generation and accumulation of reactive oxygen species, and transcription of defense genes such as HbPR1 and HbPR5, but not HbMPK3 and HbMPK6. On the other hand, RNA-Seq was used to analyse the transcript abundance in rubber tree after treatment with SA. Based on the KO analysis results, genes encoding BKK1 and FLS2 (flagellin-sensitive 2) which were typical PRR protein and upstream components of the PTI pathway, were rapidly induced. The genes encoding signalling transduction components of the PTI pathway, such as MEKK1, MKKs and some WRKYs, were also upregulated at 6-12 h. The expression of the homologue of PBS1, which functions as a receptor-like cytoplasmic kinase that interacts with the NB-LRR type R protein RPS5 to initiate the advanced ETI response in Arabidopsis was induced quickly. These results indicated that SA can enhance disease resistance in rubber tree by activating both the PTI pathway and PBS1-RPS5-mediated ETI which was analogous to that in Arabidopsis.Keywords: rubber tree, innate immunity, PTI, ETI, salicylic acid, hevea, disease resistance, gene, signal transduction, SA, chitin, flagelli
PRODUCTION SYSTEMS TO MINIMIZE THE COST OF LATEX HARVESTING
Rubber tree cultivation is faced with the problem of excessive cost of latex harvesting related to tapping labor which is rare, low-skilled and unstable. One way to solve this problem is to use production systems that minimize the cost of latex harvesting, characterized by a reduction in tapping intensity and compensated by an increase in hormonal stimulation. To this end, a study was conducted for nine years on production systems that minimize the cost of latex harvesting in southwestern Côte d'Ivoire with clones IRCA 130, GT 1 and PB 217 of Hevea brasiliensis. These production systems characterized by low tapping frequencies (d4, d5 and d6) and compensated by an increase in stimulation in compared to the standard d3 tapping. The results showed that production systems that minimize the cost of latex harvesting admittedly resulted in losses of rubber yield per hectare by 1 to 37%, but improved the yield per tree and tapping as well as the productivity of the tapper by 20 to 46%. Moreover, these systems contributed to the improvement of the vegetative growth of trees and kept the rate of dry trees in low level (less than 7%). Furthermore, they also helped to reduce the cost of tapping labor by 1 to 50%, as well as operating costs by 2 to 47% compared to the standard d3 tapping. Finally, in the context of a shortage of tapping labor, these systems help increase the farmer’s profit margin from 26% to 113%, as well as the tapper’s income from 26% to 89%. They thus appear as a solution to solve the problem of latex harvesting cost and unavailability of tappers in rubber cultivation.Keywords: Côte d'Ivoire, cost of harvesting, Hevea brasiliensis, latex harvesting system, profit margin, radial vegetative, reduced tapping frequency, stimulation, rubber production, growth, tapping panel dryness, tapping labo
STUDI PENDAHULUAN PENERAPAN TEKNOLOGI STIMULAN GAS ETILEN (C2H4) DI TANAMAN KARET PADA SAAT HARGA RENDAH
Salah satu inovasi untuk meningkatkan produksi karet adalah penerapan teknologi stimulan gas etilen (C2H4).Pada kondisi harga jual karet yang rendah dan stimulan gas etilen relatif mahal, diperlukan kajian dari segi agronomis dan finansial terhadap penerapan teknologi tersebut.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan teknologi stimulan gas etilen terhadap produksi karet dan analisis finansialnya ketika harga karet rendah.Penelitian telah dilakukan pada bulan Oktober 2013 hingga Januari 2014 di Perkebunan Kalimas, PT Karyadeka Alam Lestari.Analisis data menggunakan uji t berpasangan (paired t-test) terhadap perolehan produksi sebelum dan setelah perlakuan.Selanjutnya dilakukan analisis finansial dengan indikator BEP dan R/C ratio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan stimulan gas etilen mampu meningkatkan produktivitas sangat signifikan (481,0% terhadap kontrol), yang awalnya hanya 34,7 gram/pohon/sadap menjadi 166,9 gram/pohon/sadap. Dengan asumsi harga karet rendah yaitu US1,14/kilogram). Syarat BEP juga dapat dicapai jikabiaya komponen investasi alat dan bahan gas etilen senilai Rp21.300 pohon/tahun
FENOMENA GUGUR DAUN SEKUNDER DI WILAYAH SUMATERA UTARA DAN PENGARUHNYA TERHADAP PRODUKSI KARET
Fenomena gugur daun sekunder dialami kebun-kebun di wilayah Sumatera pada tahun 2017. Studi ini bertujuan untuk mengetahui penyebab fenomena gugur daun berulang serta dampaknya terhadap produksi. Data diperoleh melalui survei lapangan, pengamatan di laboratorium serta analisis data curah hujan dan produksi bertujuan dari 35 titik pengamatan pada areal tanaman menghasilkan dari 20 kebun di wilayah Sumatera Utara yang dilaksanakan bulan September – Oktober 2017. Curah hujan yang tinggi pada bulan Maret diduga menjadi pemicu serangan penyakit gugur daun secara luas karena pada periode ini tanaman sedang membentuk daun baru. Colletotrichum dan Fusicoccum merupakan penyakit yang dominan yang dijumpai, sedangkan Oidium ditemukan dalam skala kecil. Klon PB 260 merupakan klon yang paling banyak mengalami serangan. Serangan juga dijumpai pada klon PB 330, PB 340, RRIM 712, RRIM 911, dan RRIM 937. Penurunan produksi sebesar 1,3% dijumpai pada serangan Colletotrichum dan 2,7% akibat Fusicoccum. Penurunan produksi tertinggi terjadi pada PB 330 (14,4%) kemudian disusul berturut-turut pada klon klon BPM 1 (14,0%), PB 340 (10,8%), RRIM 712 (9,9%), dan RRIM 937 (1,5%). Teknis pencegahan dan penanggulangan serangan penyakit gugur daun mendesak untuk disosialisasikan kepada pekebun. Di samping itu, penelitian mengenai spesies dan ras baru patogen gugur daun perlu dilakukan terutama Fusicoccum mengingat penyakit ini tergolong baru di Indonesia dan belum banyak terpublikasi
ANALISIS KELAYAKAN EKONOMI BERBAGAI SISTEM SADAP PADA PANEL BO TANAMAN KARET (STUDI KASUS KEBUN BATUJAMUS JAWA TENGAH)
Fluktuasi harga karet merupakan fenomena yang tidak dapat dihindari, namun pebisnis karet senantiasa berusaha bertahan agar biaya produksi rendah dan produktivitas kebun meningkat. Salah satu usaha yang dilakukan adalah penurunan frekuensi sadap. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan ekonomi berbagai sistem sadap di panel BO dengan variasi frekuensi sadap dan stimulansia yang diharapkan mampu menurunkan biaya penyadapan dan penggunaan tenaga penyadap. Penelitian dilaksanakan di Kebun Batujamus milik perusahaan negara mulai Oktober 2015 hingga Oktober 2016. Penelitian disusun dengan Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan 11 perlakuan sistem sadap dan 3 ulangan. Analisis anggaran parsial digunakan untuk menilai kelayakan ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem sadap yang layak untuk diterapkan adalah sistem sadap S/2d3.ET2.5%.Ga.1.m/3, S/2 d3.ET2.5%.Ga.1.2w, S/2 d3.ET4.0%.Ga.1.2w, S/2 d4.ET4.0%.Ga.1.2w dan S/2 d4.ET5.0%.Ga.1.2w. Adapun sistem sadap S/2 d3.ET5.0%.Ga.1.2w, frekuensi sadap d5 dan d6 tidak layak secara ekonomi
RESISTENSI TANAMAN KARET KLON IRR SERI 300 TERHADAP PENYAKIT GUGUR DAUN CORYNESPORA
Penyakit gugur daun Corynespora yang disebabkan oleh cendawan Corynespora cassiicola (C. cassiicola) merupakan salah satu penyakit daun penting yang dapat menyebabkan penurunan produksi lateks pada perkebunan karet. Salah satu tahapan penting untuk melepaskan klon karet baru adalah mengidentifikasi karakter sekunder seperti resistensi terhadap penyakit. Pengujian resistensi klon karet IRR seri 300 dilakukan di laboratorium dan rumah kaca dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dua faktor yaitu faktor jenis (genotipe) klon (26 jenis klon) dan isolat C. cassiicola (3 isolat). Selain itu, pengamatan serangan penyakit secara langsung juga dilakukan pada tanaman belum menghasilkan di lapangan. Hasil pengujian menunjukkan semua isolat C. cassiicola berpengaruh nyata terhadap resistensi 26 klon IRR seri 300 baik di laboratorium maupun di rumah kaca. Hasil pengamatan pada tiga kegiatan menunjukkan bahwa 13 klon karet yaitu IRR 301, IRR 302, IRR 303, IRR 304, IRR 305, IRR 307, IRR 308, IRR 309, IRR 312, IRR 315, IRR 316, IRR 318, dan IRR 323 memiliki tingkat resistensi tinggi terhadap penyakit gugur daun Corynespora
DISAIN PISAU SADAP MANUAL UNTUK MENGOPTIMALKAN PRODUKSI TANAMAN KARET (HEVEA BRASILIENSIS)
Pisau sadap untuk eksploitasi tanaman karet yang digunakan di perkebunan karet di Indonesia belum dilakukan standardisasi secara nasional. Kualitas pisau sadap ditentukan dengan pemilihan material logam yang tepat dan dimensi pisau sadap yang sesuai dengan penyadap. Hasil pengamatan di berbagai wilayah perkebunan karet memperlihatkan bahwa pisau sadap memiliki bentuk, dimensi dan material yang sangat bervariasi. Penelitian ini mempelajari kriteria ideal pisau sadap manual yang dapat digunakan oleh penyadap di seluruh perkebunan karet. Penelitian dilakukan dengan metode survei melalui pengamatan dan pengukuran langsung di beberapa Kebun dalam Lingkup PT. Perkebunan Nusantara yang beroperasi di Wilayah Jawa dan Sumatera. Berdasarkan hasil pengamatan diketahui bahwa faktor utama yang menjadi pertimbangan pemilihan pisau sadap oleh penyadap adalah pisau sadap dapat diasah, berat 120-190 g, ketajaman bertahan 2-3 kali pemakaian (3 ancak), genggaman tangan sesuai penyadap, bentuk sudut paritan dan pengikat antara tangkai besi dan gagang harus kuat. Dari hasil penelitian ini juga diperoleh bahwa sudut mata pisau yang membentuk alur atau paritan sadap sekitar 45-50 derajat untuk tanaman yang baru buka sadap dan 60 derajat untuk tanaman muda. Persyaratan lain desain pisau sadap yang ideal antara lain panjang tangkai sesuai dengan tinggi panel sadap dan tinggi postur tubuh penyadap, serta tebal gagang besi minimal 2 mm agar tidak terjadi getaran atau fibrasi pada saat menyadap